Workshop Bareng Bang Barry Kusuma dan Marischka Prudence #1

Hai hai, semua. Sebagai seorang backpacKeren atau travelista, kalian tentunya tahu dong sama Barry Kusuma atau Marischka Prudence. Hah? Apa? Kalian nggak tahu? Ckckck, kebangetan. Lihat blog mereka di sini dan di sini, gih!

Oke, lanjut ke cerita gue. Nah, hari Sabtu, 27 Juli kemarin, gue berkesempatan untuk bisa ikutan workshop bareng mereka. Workshop travelblogging dan photoblogging ini digagas oleh @intimatamagz dan @dlajahmagz. Gue dapet informasi event ini juga dari twitter, dan langung gue putuskan buat ikutan. Dengan cuma berinvestasi Rp 50.000,00, gue udah bisa ketemu dua orang traveller beken idola gue. Yihaaa!

Buat panitia, akan ada beberapa masukan dari gue di sini demi kinerja yang lebih baik di kesempatan mendatang. Jadi, mohon pengertiannya 😀

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gue hampir saja salah inget jam, untung jam setengah dua siang gue tersadar dan langsung cuzzz ke TKP (macam tempat kejadian kriminal aja nih). Dari informasi yang ada di twitter, acara diselenggarakan di Jl. Kyai Gede Utama 12. Nggak ada nama gedung atau nama cafe yang disebutkan. Kayaknya sih tempatnya cuma rumah biasa, macem basecamp gitu mungkin. Dari hasil di Google Maps, gue mendapati jalan Kyai Gede Utama ini adalah sebuah anak jalan di deket RS Santo Borromeus. Gue tinggal naik angkot Cicaheum-Ciroyom sampai simpang, dan lanjut dengan angkot Kalapa-Dago. Ternyata jalannya berada tepat persis di depan RS Santo Borromeus.

Gue menyusuri Jl. Kyai Gede Utama itu yang lengang, diapit pepohonan jangkung dan rumah-rumah elit di kedua sisinya. Dugaan gue benar. Bangunan bernomor 12 itu adalah sebuah bangunan yang sekilas tak ada bedanya dengan bangunan-bangunan rumah di sekelilingnya. Gue melangkah pede menghampiri front desk. Udah ada beberapa peserta yang udah dateng, duduk-duduk santai di depan rumah. Setelah mengisi lembar kehadiran, gue diberi sebuah SD card dan dua lembar kertas HVS berisi “kupon” makan dan rundown acara. Ehem, kesan pertama yang kurang menarik sih. Bisa diganti dengan material yang lebih berbobot ya, batako misalnya. Berbobot banget tuh. Terus, bisa dikasih modul juga, berisi hand-out dari materi kedua pembicara.

Beberapa menit menunggu, peserta diminta untuk berkumpul dan diberi pengarahan untuk langsung praktek. Tugasnya adalah berburu foto di sekitar Jl. Kyai Gede Utama itu untuk nanti dipresentasikan. Fyuh, untung gue bawa laptop dan punya smartphone dengan kamera lumayan. Gue udah mikir sebelum berangkat. Ini ‘kan workshop, pasti ada sesi prakteknya. Ada beberapa peserta yang nggak bawa kamera sama sekali. Kamera hape pun tidak. Nggak salah, karena memang tidak ada follow up dari panitia. Sebaiknya beberapa hari sebelum pelaksanaan, peserta di-follow up secara personal via SMS atau email. Sekedar untuk mengingatkan dan memberikan briefing mengenai apa saja yang harus dipersiapkan.

And the hunting begin! Cerita tentang perburuan gue bisa dibaca di postingan sebelumnya.

Peserta diberi waktu sekitar satu jam sampai pukul 15.00. Gue udah kembali sebelum satu jam, dan segera menyerahkan hasil jepretan gue. Tak lama kemudian, peserta digiring masuk ke dalam rumah karena acara akan segera dimulai, dan… Surprise! Tempatnya outdoor!

Tempat workshop-nya outdoor!

Tempat workshop-nya outdoor!

Rumah itu seperti sebuah gedung sekolah kecil atau sebuah kost-kostan dengan bentuk persegi, menyisakan sebuah halaman terbuka di tengah-tengah. Halaman itulah yang dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan workshop.
Sebuah panggung kecil berdiri di ujung halaman, menghadapi deretan kursi-kursi berwarna biru yang tertata rapi. Hiasan-hiasan handmade dipajang untuk sedikit memberikan keindahan pada panggung, berupa miniatur gedung-gedung dari kardus (setidaknya, ini yang gue tangkap) di tengah dedaunan kering yang dikumpulkan, kardus-kardus berbentuk awan, dan ornamen-ornamen khas Dayak (bener nggak nih). Benda-benda teknologi yang berada di area panggung adalah satu set speaker aktif sebagai output suara dan beberapa televisi sebagai media penampil. Rambu-rambu sederhana berbunyi “I am travelblogger” atau “Wonderful Indonesia” dipajang di sekeliling halaman. Sang MC mengatakan, peserta boleh foto-foto di sekitar rambu-rambu itu. Sayang nggak ada yang tertarik kayaknya. Mungkin bisa dibuat lebih spektakuler lagi rambu-rambunya, dikasih hiasan bulu mata anti badai ala Syahrini, misalnya.

Saat itu cuaca cerah. Peserta memilih untuk duduk di deretan kiri yang lebih teduh. Bahkan beberapa peserta cuma duduk-duduk di belakang, tepat di bawah naungan atap koridor, bebas dari serangan sinar ultraviolet. Banyak bapak-bapak fotografer yang dateng, gue ragu ada anak travelblogger yang dateng. Well, di tengah cuaca Bandung yang labil kayak gini, kadang panas kadang ujan seharian, bukanlah pilihan bijak untuk mengadakan sebuah acara di luar ruangan. Apalagi ini adalah sebuah acara workshop. Saya sarankan kepada panitia untuk memilih tempat yang lebih aman di acara selanjutnya nanti.

Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah hujan tiba-tiba turun? Dan bagaimanakah acara workshop ini akan berlangsung? Tunggu cerita selanjutnya dalam Insert Investigasi postingan berikutnya. Cheers!

Iklan

One thought on “Workshop Bareng Bang Barry Kusuma dan Marischka Prudence #1

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s