Workshop Bareng Bang Barry Kusuma dan Marischka Prudence Part 2

Bang Barry pun dipersilakan untuk segera memulai sesi workshop photoblogging oleh mas-mas MC yang selalu mengerutkan jidatnya itu. Haha, kepanasan kayaknya. Tapi coba tetep rileks, kang 🙂

Bang Barry udah mulai ngomong, berdiri di ruang kosong yang membelah kedua barisan kursi. Seorang panitia meminta peserta untuk duduk merapatkan diri menghadap sisi kiri, sementara layar display dipindahkan di situ. Sebenarnya tujuannya bagus, agar workshop dapat berjalan dengan lebih nyaman. Tapi mungkin lebih baik permisi dulu ke bang Barry. Misalnya, “Mas, punten, pesertanya dikondisikan dulu menghadap ke samping.” Soalnya yang terjadi malah bang Barry terkesan dicuekin. Dia udah mulai berbicara, tapi peserta malah sibuk menata kursi dengan cukup berisik. Maaf ya evaluasi lagi, panitia. Tapi ini demi kebaikan kalian juga.

Bang Barry menyampaikan materi dari koridor

Bang Barry menyampaikan materi dari koridor

Sejatinya banyak ilmu yang gue dapet dari bang Barry Kusuma ini, secara gue masih awam banget dalam hal Fotografi. Ada sih mata kuliah Fotografi di tahun pertama kuliah, tapi gue nggak menyerap ilmu dengan baik saat itu. Bang Barry kasih materi tentang apa aja yang harus dibawa selama travelling dan tips memotret untuk acara festival, untuk lanskap / arsitektur, dsb. Yang paling gue inget ya tips mengambil gambar lanskap itu. Karena gue emang paling suka ambil foto arsitektur dan lanskap, misalnya adalah foto jalanan kota. Sayang gue belum punya kamera DSLR dan belum nampak juga tanda-tanda gue akan memilikinya dalam waktu dekat ini. Bahkan kamera poket pun nggak ada, hiks.. Padahal gue doyan jeprat-jepret.

Yoyo & Cici Emoticons 3

Masuk sesi tanya jawab, gue diam tak berkutik. Bingung mau tanya apa, gyahahaha. Seorang bapak di sebelah gue aktif banget bertanya. Tapi sebenernya beberapa pertanyaan yang dia lontarkan udah dijelasin bang Barry sebelumnya, kayak pertanyaan berapa jumlah kamera yang dibawa selama travelling, pakai lensa apa aja, yang aslinya udah dijelasin bang Barry di awal-awal.

Sambutan dari Ibu Ratna dari Kementerian Pariwisata menjadi bridging sebelum masuk ke sesi workshop travelblogging oleh kak Marischka. Beliau mengungkapkan betapa banyak langkah yang ingin dilakukan Kementerian untuk memajukan industri pariwisata Indonesia. Sayangnya mereka juga nggak bisa bergerak sendiri. Untuk memperbaiki akses menuju objek wisata misalnya, harus menunggu tindakan dari Perhubungan. Gue dukung banget tindakan Kementerian meminta pada para maskapai penerbangan dan para pengusaha reservasi hotel (kayak Rajakamar atau Wego) untuk setidaknya menyediakan satu kamar dan satu penerbangan gratis tiap satu bulan ke Indonesia bagian Timur agar semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang menjelajahi negerinya sendiri, bukan malah sibuk jalan-jalan ke negara lain.  Well, itu boleh banget buat menambah wawasan, tapi jangan sampai lupa negeri kita punya objek-objek wisata bagaikan surga. Sip, Bu! Gue dukung banget! Gue pribadi pengen banget ke Lombok, Flores, Derawan,  Wakatobi, Taka Bonerate, Halmahera, dan tentunya Raja Ampat. Sejauh ini hanya bisa terus berharap dan berusaha.

Ini nih Ibu Ratna

Ini nih Ibu Ratna

Masuk ke sesi “pesan sponsor” dari W-stor, peserta diminta untuk kembali duduk menghadap panggung karena cuaca yang sudah teduh. Sebenernya, malah agak mendung sih. Guess what? Turun hujan! Emang nggak deres-deres banget, tapi cukup untuk mengganggu pelaksanaan workshop itu. Duta W-stor harus mau memberikan kampanye produknya kepada peserta yang duduk di koridor, mengelilingi area workshop.

Masih hujan, kak Marischka dipersilakan untuk memulai sesinya. Peserta kembali diminta untuk merapatkan diri di sisi kiri area workshop, berlindung di bawah naungan atap koridor. Sebagian besar yang disampaikan adalah hal-hal yang udah gue ketahui sih. Misalnya, apa itu travelwriter, apa isi dalam sebuah liputan perjalanan, menjadi seorang travelwriter yang unik, dll. Gue sudah mempelajari itu semua secara otodidak, blogwalking dari satu travelblog ke travelblog yang lain, termasuk bagaimana meningkatkan jumlah aktivitas di blog kita.

Marischka Prudence in action

Marischka Prudence in action

Adzan maghrib berkumandang, sesi travelwriting dihentikan sejenak untuk memberikan kesempatan peserta berbuka puasa. Panitia membagikan air mineral gelas, sebotol Mizone, dan dua macam cemilan untuk berbuka puasa. Lumayan banget sneknya hehe.

Sementara peserta asyik menikmati menu berbuka puasanya, beberapa panitia datang membawa sebuah kue ulang tahun dengan iringan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Oh iya, hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Marischka Prudence. Kue tart itu datang menghampiri si Neng Geulis, dan peserta sontak berlomba-lomba menyalami dia,  termasuk gue tentunya. Kapan lagi bisa salaman sama Marischka Prudence, bo? Gyahahaha!

Dapet momen tepat setelah lilin ditiup

Dapet momen tepat setelah lilin ditiup

Sesi travelwriting sebentar dilanjutkan sementara peserta menikmati santapan berbuka. Tak lama kemudian, peserta dipersilakan mengambil makan malam. Gue akui konsepnya unik. Setiap peserta mendapat kupon yang berbeda. Ada yang mendapat kupon makan, ada yang mendapat kupon minum. Yang memiliki kupon makan akan menerima dua buah menu makan malam berupa sate ayam plus lontongnya dan siomay komplit. Sementara peserta yang mendapat kupon minuman akan berhak mendapatkan dua gelas es buah. Dengan konsep yang meniru salah satu adat sebuah suku di Indonesia ini, panitia mengharapkan seluruh peserta untuk saling membaur dan berkenalan. Peserta harus mencari satu pasangan untuk mau berbagi item dengannya. Well, it works. Suasana tegang mulai mencair saat para peserta saling membaur. Es buahnya juga oke banget, isinya banyak dan macem-macem. Kayaknya bikinan sendiri sih.

Acara lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk Marischka Prudence yang sebelumnya belum berjalan optimal, cuma menampung sebuah pertanyaan dari seorang peserta. Gue!

Sedikit selingan, panitia memutar sebuah video yang berisi perjalanan misi mereka jalan-jalan di Maluku yang dinamakan proyek #barondaMaluku. Setelah itu, masuklah sesi storytelling yang ternyata cuma memilih 3 orang peserta. Yah, kirain semua. Padahal gue udah ambil banyak foto dan udah nyiapin kata-katanya juga. Gue udah pede aja tadi, merasa sebagai peserta yang berpetualang paling jauh dengan objek yang unik, nggak sekedar foto pohon atau jalanan. Sepertinya ada sedikit kesalahan persepsi di sini. Minta tolong panitianya untuk lain kali memberikan instruksi yang jelas agar tidak terjadi kesalahan persepsi pada peserta, terutama peserta idealis kayak gue hahaha. Dari 3 orang peserta yang terpilih dengan 2 peserta tambahan, ada 2 orang peserta yang kurang komunikatif. Sori, sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, gue agak kritis di sini. Yah, mereka berbicara dengan membelakangi penonton. Bahkan salah satunya terlihat susah banget menyampaikan gagasannya dengan kata-kata. Menurut gue, sebaiknya seluruh peserta diberikan kesempatan untuk presentasi, baru kemudian dipilih 3 atau 5  terbaik. Bukan hanya dinilai dari aspek foto, tapi juga dari aspek story-telling itu sendiri dengan melihat bagaimana dia mempresentasikan fotonya.

Karena ini adalah sebuah acara bertajuk workshop, gue berharap ada sesi konseling langsung dan personal dengan narasumber, seperti workshop lain yang pernah gue ikuti. Kalau perlu, dan mungkin memang sebaiknya begini, sesi praktek dan konsultasi dibedakan menjadi 2 kelas: kelas travelphotoblogging dengan bang Barry dan kelas travelwriting dengan kak Marischka. Misalnya, untuk kelas travelwriting, peserta diminta untuk membuat sebuah cerita perjalanan yang kemudian dinilai oleh kak Marischka sambil diberi saran dan kritik. Misalnya dari segi pemberian judul, pengembangan  paragraf, komposisi tulisan, dsb. Dengan begitu, peserta akan mendapatkan ilmu secara lebih optimal.

Akhirnya acara ditutup dengan foto bareng. Thanks God gue dapet tempat persis di samping kak Marischka hehe. Tak berlama-lama di situ, karena juga nggak ada yang kenal, gue memutuskan untuk pulang. Sebenernya pengen foto bareng kak Marischka, tapi sayang hape ini nggak akan bisa menghasilkan gambar yang bagus dalam kondisi minim cahaya seperti itu. Mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi masukan ya buat penyelenggara, nggak ada maksud buat sok-sokan atau menjelek-jelekkan. Cheers!

Pulangnya, gue salah naik angkot Onion Head Emoticons 30

2 thoughts on “Workshop Bareng Bang Barry Kusuma dan Marischka Prudence Part 2

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s