Desa Kinahrejo: Mengubah Petaka Menjadi Wisata

Siapa sangka, letusan Gunung Merapi yang meluluhlantahkan desa ini 3 tahun lalu justru membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.

Nama Desa Kinahrejo yang berada di Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini sejatinya sudah cukup dikenal sebagai sebuah desa wisata. Letaknya di kaki Gunung Merapi membuat desa ini memiliki panorama alam yang menyejukkan hati. Wisatawan yang ingin menuju puncak Merapi biasa melalui desa Kinahrejo ini, sehingga desa ini menjadi pintu masuk dalam pendakian menuju Gunung Merapi.

Nggak hanya menyajikan atraksi pemandangan alam yang memukau, desa Kinahrejo juga (dulunya) menyajikan atraksi wisata seni dan budaya berupa upacara tradisional Labuhan Merapi. Labuhan adalah sebuah upacara yang dilakukan setiap 30 Rajab oleh pihak Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati Jumenengan Ndalem (naik tahta) Sri Sultan Hamengku Buwono ke-X. Selain atraksi Labuhan, masih ada beberapa atraksi kebudayaan lain seperti Jathilan, kethoprak, wayang kulit, dan sholawatan.

Namun, semua itu harus lenyap saat Merapi meletus dengan dahsyat pada tahun 2010 lalu, menciptakan “wedhus gembel” yang melumat habis segala yang dilaluinya. Desa Kinahrejo menjadi salah satu wilayah terparah dampak kemarahan Merapi. Sang “wedhus gembel” mengubah desa indah itu menjadi tak lebih dari sebuah kota mati. Semuanya hilang, berubah menjadi butiran-butiran halus berwarna putih yang menyelimuti desa. Bahkan Mbah Maridjan, bapak juru kunci Merapi pun harus menemui akhir hidupnya di hadapan “wedhus gembel”.

Desa Kinahrejo yang hancur. Sumber: http://juliussumant.files.wordpress.com, terima kasih 😀

Tapi bukan berarti desa Kinahrejo lantas ditinggalkan begitu saja sekarang.

Seperti media cetak yang sekarang mulai berubah ke dalam bentuk digital tanpa kehilangan identitasnya, desa Kinahrejo pun mengubah dirinya menjadi sebuah objek wisata “lava tour” tanpa meninggalkan titelnya sebagai desa wisata. Kita bisa tetap mengunjungi desa ini, dan menyaksikan langsung bagaimana dahsyatnya amukan si “wedhus gembel”. Sebuah keindahan dari sudut pandang yang berbeda 🙂

Untuk mencapai desa Kinahrejo ini tidak terlalu sulit, karena rutenya cukup mudah. Dari kota Yogyakarta, tinggal bergerak ke arah utara sampai masuk ke Jalan Kaliurang. Susuri aja terus Jalan Kaliurang itu, sampai akhirnya masuk ke wilayah Cangkringan. Untuk lebih jelasnya, bisa bertanya kepada warga sekitar, dengan sedikit bantuan dari Google Maps :D. Lama tempuh perjalanan sekitar satu jam aja kok. Biaya masuknya adalah Rp 7.000,00 untuk sepeda motor dan Rp 15.000,00 untuk mobil (kalau belum ada perubahan, hehe). Belum ada angkutan umum yang dapat mengantarkan pengunjung menuju desa Kinahrejo ini, harus pakai kendaraan pribadi. Nah, Daihatsu Terios adalah pilihan yang tepat! Dengan bodinya gagah dan segala spesifikasinya, menjadikan Terios sebagai sahabat petualang. Mau jalanan mulus, jalanan berbatu, sampai jalan kenangan sekali pun, nggak masalah!!!

Daihatsu Terios, gagah dan kinclong! 😀 Sumber: hargahargamobil.com

Sayangnya untuk naik ke atas nggak bisa pakai kendaraan pribadi. Bisa jalan kaki, pakai ojek dengan tarif sekitar Rp 20.000,00 dan motor-cross Rp 50.000,00 / jam, sewa jeep, atau bahkan sepeda gunung #gempor. Nggak ada sewa odong-odong, nggak bakal bisa dipake buat trekking ke desa Kinahrejo. Nah, ada setidaknya 3 rute yang bisa dipilih untuk menjelajahi desa Kinahrejo, atau dengan kata lain: menikmati “lava tour”.

  1. Ke bekas rumah Mbah Maridjan, Rp 50.000,00 selama 30 menit
  2. Ke bekas rumah Mbah Maridjan, desa Gumuk Duwur, dan kali Adem, Rp 150.000,00 selama 2 jam
  3. Sampai desa Gumuk Petung, makam mbah Maridjan, Glagah Sari, dan Gendol, Rp 250.000,00 selama 3 jam. Mantap!!!

Meski udah nggak lagi hijau, tapi pengunjung tetap bisa menikmati panorama Gunung Merapi yang berdiri gagah di sudut utara. Jangan lupa dokumentasikan bekas rumah mbah Maridjan yang hanya tinggal menyisakan puing-puing dan debu vulkanik, dengan sebuah mobil yang hangus terbakar berdiri teronggok di depannya. Ada sebuah warung oleh-oleh di depan rumah Mbah Maridjan dengan harga bervariasi, lumayan buat buah tangan keluarga atau temen-temen yang biasanya bawel minta oleh-oleh. Andai bisa trekking pakai kendaraan pribadi, bisa banget tuh pake Daihatsu Terios!

Mobil ikonik Desa Kinahrejo. Sumber: http://www.indonesia.travel, makasih yes 😀

Gunung Merapi dan desa Kinahrejo. Sumber: yogyakarta.panduanwisata.com, matur nuwun 😀

Akhirnya, petaka itu justru berubah menjadi tempat wisata yang baru, sampai-sampai desa Kinahrejo ditetapkan sebagai satu dari Terios 7 Wonders bersama dengan Pantai Sawarna, Tengger Bromo, Ombak Plengkung Alas Purwo (G-Land), Desa Sade Rambitan Lombok, Dompu NTB, dan Pulau Komodo. Nggak nyangka banget ya! Bikin gue makin pengen buat jalan-jalan ke sana, biar bisa kasih hasil jepretan gue sendiri dan liputan yang lebih detil dan personal buat blog ini. Tujuan gue buat travelling sendiri bukan buat jalan-jalan, tapi buat belajar. Belajar kehidupan sosial budaya di tempat lain yang meliputi kearifan lokalnya, gaya hidupnya, budayanya, dan tentu saja alamnya. Mudah-mudahan banget gue bisa menang, bisa jalan-jalan ke semua destinasi 7 Wonders itu untuk memuaskan semangat travelling dan fotografi gue.

Cheers!

Bahan referensi: kotajogjacom, gudegnet, jalanblog, kompas travel, dan detikcom

Iklan

7 thoughts on “Desa Kinahrejo: Mengubah Petaka Menjadi Wisata

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s