Curhat-Curhit Pemilu Presiden 2014

Di bawah langit Bandung yang mendung senja itu, dua orang pejalan bertemu. Sebuah cafe bernama Warung Laos di bilangan Cihampelas didapuk sebagai tempat untuk berbagi rasa, membangkitkan asa, membunuh masa. Obrolan demi obrolan bergulir. Melebur di atas meja, seperti parutan keju yang lumer di atas seloyang Pizza Peuyeum yang kami nikmati. Hangat, seperti segelas teh jahe yang duduk anggun menebar aroma wangi. Dari kehidupan pribadi, cerita perjalanan, hingga curhatan tentang peristiwa besar tingkat nasional yang terjadi hari itu — Pemilu Presiden 2014.

Kami berdua bernasib sama. Gue dan kak Olive, sama-sama gagal menggunakan hak pilih kami di salah satu hari paling bersejarah Republik Indonesia. Kami bukan tanpa perjuangan, kami bahkan sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan uang, agar goresan samar berwarna ungu itu terpoles di ujung jemari kami.

 

Bandung basah kuyup pagi itu. Iya, basah kuyup diguyur cahaya matahari pagi yang bersinar dengan cerah. Sesudah bangun dengan agak kesiangan dan melakukan tralala-trilili lainnya, temen satu kost gue ngajak buat download formulir A5 dari internet untuk selanjutnya bergerak ke TPS di daerah kami. Dua anak perantauan yang baru sadar bahwa tidak seharusnya mereka golput. Di sisa waktu yang ada, kami berharap masih ada asa untuk kami menggunakan hak pilih kami.

Download formulir A5, done. Print A5, done. Fotokopi KTP, done. Tanya orang rumah buat cari tahu nomor TPS di sana, juga done. Kami beringsut menuju salah satu TPS di kawasan Babakan Jeruk, Kotamadya Bandung. Seorang petugas TPS dengan sigap menyambut kedatangan gue, lalu memeriksa formulir A5 yang gue bawa. Mereka menolaknya, dengan alasan: surat suara yang ada jumlahnya sudah mepet dengan jumlah DPT yang ada. Mereka mengusulkan untuk mencoba di TPS sebelah.

Kami mematuhi anjuran mereka. TPS kedua yang kami datangi berlokasi di gedung sebuah sekolah dasar, tampak lebih meyakinkan daripada TPS pertama. Namun saat gue memperlihatkan formulir A5 yang gue bawa, mereka pun menolaknya. Meminta gue untuk meminta cap dan tanda tangan dari kelurahan, lalu mencoblos di TPS yang berlokasi di RW tersebut (tempat kami tinggal)

Kantor kelurahan tampak ramai siang itu. Sebagian besar adalah para mahasiswa Universitas Kristen Maranatha yang memiliki kepentingan yang sama dengan kami, memperjuangkan hak pilih agar bisa didapatkan di tanah perantauan. Ternyata kami pun tetap tidak bisa mendapatkan cap dan tanda tangan untuk formulir A5 kami di situ. Seorang petugas yang melayani kami mengatakan bahwa kami harus mendapatkan cap dan tanda tangan itu di daerah asal kami. Jadi gue harus repot-repot pulang kampung dulu gitu? MENURUT NGANAAA?!!

Wan Wan Emoticons 16

Gue lantas melampiaskan kekesalan dan kekecewaan gue di beberapa grup WhatsApp. Anehnya, temen-temen gue di luar kota ternyata bisa menggunakan hak pilihnya dengan hanya bermodalkan KTP, misalnya temen gue yang ada di Jakarta dan Kupang. Sementara itu, gue mendapat kabar dari temen gue yang lain, sama-sama anak perantauan juga yang kost di daerah yang sama, dia berhasil mencoblos di sebuah TPS di daerah Sarijadi dengan hanya membawa selembar KTP. Sayang TPS itu lalu ditutup begitu dia menyelesaikan hak dan kewajibannya.

Satu hal yang bisa gue simpulkan dari apa yang gue alami hari itu adalah: setiap TPS memiliki kebijakan sendiri mengenai siapa yang boleh mencoblos di tempat mereka dan siapa yang tidak. Nggak usah bicara dalam konteks satu negara deh, dalam satu kota atau bahkan satu kecamatan pun bisa beda-beda kok. Aneh! Kenapa bisa kayak gini? Kamu nggak kayak gitu, ‘kan? Aku tetep boleh nyoblos hatimu, ‘kan? #eh #gagalfokus

Gue pun terbuai dalam lamunan, membayangkan inovasi-inovasi apa saja yang bisa dilakukan untuk memudahkan kalangan perantau kayak gue menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Gue berpikir, andai saja…

1)      Setiap kota memiliki setidaknya satu TPS yang dikhususkan bagi para perantau atau pelancong (siapa tahu ada yang mau jalan-jalan pas pemilu) dengan prosedur yang lebih simpel. Misalnya dengan hanya menunjukkan KTP, atau mengisi form di TPS. Nggak apa-apa deh agak jauh dari kost, asal pasti. Atau kalau enggak…

2)    Setiap desa, atau minimal setiap kecamatan, sudah memiliki online database di internet. Warga desa yang harus pindah TPS, misalnya anak perantauan kayak gue, nggak usah repot-repot cetak formulir A5 dan minta tanda tangan atau cap desa asalnya. Cukup isi formulir di internet, menyertakan TPS asal dan TPS tujuan, lalu data akan diterima di desa / kecamatan asal dan desa / kecamatan tujuan. Sebuah koordinasi yang simpel dan praktis! Atau kalau enggak…

Database yang saling terhubung. Source: http://www.winceron.com

3)     Bikin aja Pemilu Online! Pemilih bisa nyoblos kapan pun dan di mana pun! Hasil pemilu akan terkirim ke database khusus KPU lalu digabungkan dengan hasil pemilu manual. Tapi sistem Pemilu Online ini beresiko menimbulkan double voting, yaitu ada pemilih yang melakukan pemilu manual sekaligus pemilu online untuk menggandakan suara bagi calon tertentu. Nah, potensi seperti ini harus diantisipasi, misalnya dengan sinkronisasi peserta pemilu manual dan pemilu online, pemilih dengan identitas yang sama (atau identitas fiktif) tidak akan bisa melakukan dua kali pemilu.

Jika memang pemerintah ingin menjaring sebanyak mungkin pemilih, harusnya mereka juga membuat kebijakan untuk mempermudah pelaksanaan pemilu. Kebijakan yang mereka buat pun harus didukung dengan kerjasama seluruh TPS, agar seluruh TPS menerapkan peraturan tersebut tanpa terkecuali. Mungkin bisa dengan memberikan pengertian kepada setiap daerah tentang pentingnya menjaring sebanyak mungkin pemilih, termasuk menerima para perantau. Masalah jumlah kertas suara yang mepet sehingga membuat TPS setempat enggan menerima pendatang bisa disiasati dengan pengadaan semacam Pos KPU di tiap ibukota kabupaten yang siap mencetak lembar-lembar kertas surat suara baru jika dibutuhkan, dan didistribusikan saat itu juga. Atau kalau mau, fotokopi aja keleus, hehe.

Like a customer service, ready to help at anytime. Source: http://www.ubergizmo.com

Gue bukannya ingin mendiskreditkan pemerintah, atau KPU, atau penemu ekstrak kulit manggis. Gue hanya pemuda biasa-biasa saja yang tidak memiliki kekuasaan dan hanya bisa mengutarakan curhat-curhitnya melalui media-media berekspresi seperti ini. Jangan juga emosi jika gagasan-gagasan di tulisan ini terkesan sebagai gagasan bodoh atau minim perhitungan, namanya juga mengkhayal. Gue memimpikan sebuah Indonesia yang maju, saling menyingsingkan bahu, saling bantu membantu.

 

Petang beranjak datang. Potong-potong pizza masih tertahan di atas loyang. Namun kak Olive harus segera pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 18.45, kakak sudah harus berada di pool travel yang akan membawanya kembali ke Jakarta. Perjumpaan singkat itu pun menemui akhirnya. Senang bertemu denganmu, kak Olive. Berharap masih ada perjumpaan-perjumpaan selanjutnya bersama “saudara sepenanggungan” yang lain. Terima kasih, kakak 😀

23 thoughts on “Curhat-Curhit Pemilu Presiden 2014

  1. keduluan deh curhatnya
    kamu ditolak di dua TPS, aku masih unggul ditolak di lima TPS dan di TPS asli tempat seharusnya memberikan suara pun DITOLAK!

    sayang dirimu tak bisa ke soldatenkaffee .. tapi pizza peuyeum itu mayan enak di lidah

    senang bisa bertemu, makasih udah ditemani mengisi waktu menanti tanda waktu untuk pulang

  2. Hehehe curhatan perantau… Habis baca tulisan mbak Oliv mampir kemari itu dapet gambaran real ttg sistem pemilu tahun ini yang memang bgitu lah 😀

  3. Alhamdulillah, saya salah satu orang yang sukses nyoblos pakai formulir A5. Asal KTP Jakarta dan nyoblosnya di Jogja.

    Memang saya sudah ngurus A5 jauh-jauh hari sekitar 2 minggu sebelum 9 Juli. Di Jakarta, saya minta tolong orang rumah untuk diurus ke kelurahan untuk dapat formulir A5. Terus formulir A5 dikirim ke Jogja dan gantian ngurus di kelurahan Jogja.

    Tahu sendiri lah, orang kita kan susah klo mepet (dan maunya serba mepet, hehehe) termasuk di antaranya ngurus A5 dan surat suara. Makanya, untuk hal2 yang mirip gini, mending diantisipasi ngurusnya jauh2 hari.

    Emang sih, pelaksanaan pemilu yang terintegrasi dengan sistem IT memang lebih enak dan mudah. Tapi ya bukan tanpa kendala. Tidak semua orang Indonesia ngerti bagaimana bekerja dengan sistem IT dan tidak semua daerah memiliki prasarana IT yang memadai. Ya, ini jadi PR bagi pemerintah sih, agar sistem IT bisa merata di seluruh Indonesia.

    • Aku tadinya mau golput aja, bro. Males ngurus berkas-berkasnya. Tapi menjelang pelaksanaan aku berubah pikiran. Terus kata temenku juga, kalau sampai hari H masih belum punya form A5 dari TPS asal, bisa download aja dari internet atau pake KTP doang. Nah, beberapa temenku bisa pake KTP aja, beberapa lainnya juga bisa pake A5, tapi aku nggak bisa. Jadi, kalaupun belum bisa pakai IT, seenggaknya aku berharap setiap TPS memiliki prosedur yang sama, nggak beda-beda yang satu mau terima KTP yang lainnya enggak.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s