Villa Isola, Bangunan Art-Deco Unik di Bandung Utara

Kalau gue tanya sama kamu, “Kenapa kamu liburan ke Bandung?”, kamu bakal jawab apa? Belanja baju, wisata kuliner, atau mau ke Tangkuban Perahu? Men, gue bakal menawarkan satu jawaban lagi yang mungkin masih jarang berada di benak pikiran turis-turis Indonesia.

“Gue mau wisata arsitektur di sana.”

Yep, wisata arsitektur. Kamu tahu nggak sih, Bandung itu dinobatkan sebagai kota dengan bangunan terbanyak di Asia Tenggara? A-SI-A-TENG-GA-RA. Bahkan, National Geographic mengatakan bahwa UNESCO sudah menetapkan Bandung sebagai kota dengan bangunan art-deco terbanyak di dunia. DUNIA! Kebayang ‘kan betapa banyaknya bangunan art-deco yang ada di Bandung? Gue sih enggak kebayang, nggak tau deh kalau Mamah Dedeh.

Sebelumnya, gue mau sedikit menjelaskan dulu tentang apa itu art-deco. Sok tau ya gue.

Art-deco adalah salah satu desain arsitektur yang populer pada dekade 1920 sampai 1930-an. Istilah art-deco sendiri baru dikenal setelah diadakan sebuah pameran desain di Perancis bertajuk Paris exposition des Art Decoratifs et industries pada tahun 1925.

Gaya ini banyak dipengaruhi oleh kubisme, konstruktivisme, futurisme, fauvinisme, dan isme-isme lainnya. Karena itu, gaya art-deco identik dengan bentuk-bentuk dan ornamen persegi, geometri, simetri, zig zag, dsb. Bisa juga dengan mengadopsi bentuk benda-benda maju (pada saat itu) seperti pesawat dan kapal. Salah satu jenis gaya arsitektur yang menonjolkan ornamen atau unsur dekoratif.

Jalan Asia-Afrika dengan seabrek bangunan art-deco

Jalan Asia-Afrika dengan seabrek bangunan art-deco

Bisa dibilang, Paris pada saat itu adalah pusat art-deco bagi dunia. Nah, Bandung yang dijuluki Parijs van Java ini pun akhirnya juga memiliki bangunan art-deco berlimpah. Contoh bangunan art-deco yang populer di Bandung adalah: Hotel Savoy Homann, Hotel Grand Preanger, Gedung Sate, dan Villa Isola. Nah, bangunan terakhir itulah yang mau gue bahas di sini.

Villa Isola, yang secara harafiah berarti vila yang terasing, dibangun pada bulan Oktober 1932 hingga Maret 1933. Bangunan setinggi 3 lantai ini merupakan salah satu masterpiece dari arsitek C.P. Wolff Schoemaker yang juga merancang beberapa bangunan lain di Bandung. Pada mulanya, villa ini dibangun sebagai tempat peristirahatan bagi pemilik kantor berita Hindia Belanda, ANETA (Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap, cikal bakal ANTARA) bernama Dominique Willem Beretty. Sayang pria berdarah Jawa-Italia itu justru wafat pada 20 Desember 1934 dalam sebuah kecelakaan pesawat dari Amsterdam menuju Batavia.

Bangunan Villa Isola jaman baheula

Bangunan Villa Isola jaman baheula. Sumber: Wikipedia

Villa Isola memadukan gaya art-deco dengan gaya arsitektur Jawa, terlihat dari diaplikasikannya orientasi kosmik Utara-Selatan. Terdapat sebuah taman di depan bangunan yang diguyur dengan warna putih ini, memanjang ke arah Tangkuban Perahu.

Setiap ruang Villa Isola memiliki jendela dan pintu kaca berukuran besar sehingga tampak menyatu dengan alam. Naiklah ke lantai paling atas dan tengok ke bawah. Kamu akan melihat atap lantai dua dan undak-undakan teras bawah yang melengkung. Imajinasimu akan melayang, membayangkan sedang berada di atas dok kapal. Betul, bangunan art-deco yang satu ini mengadopsi bentuk kapal pesiar.

Sempat dibeli oleh pihak Hotel Savoy Homann pada tahun 1936 dan difungsikan sebagai penginapan umum, Villa Isola kemudian menjadi gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) pada 1954. Saat ini, PTPG berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan memfungsikan Villa Isola sebagai gedung rektoratnya. Pihak universitas menambahkan satu lantai lagi di atasnya. Namanya pun diganti menjadi Bumi Siliwangi. Tapi, kebanyakan orang masih menyebutnya dengan nama Villa Isola. Karena dari nama itulah yang melambungkan kepopuleran bangunan ini.

Villa Isola saat ini. Credit: S. Kesk (on Flickr)

Villa Isola saat ini. Credit: S. Kesk (on Flickr)

Villa Isola tidak dibuka untuk umum. Kamu harus membuat surat izin kepada pihak pengelola. Tapi, kamu tetap bisa menikmati bangunan ini dari luar, sambil duduk-duduk manja di tamannya yang sejuk, di samping kolam sambil foto-foto. Karena selfie adalah di mana pun, right?

Kamu nggak akan nyesel deh main-main ke sini. Meski usianya  sudah lebih dari 80 tahun, tapi bangunan ini masih sangat terawat! Sekalian ngecengin anak-anak UPI deh kalau perlu. Hahaha. Kayaknya pihak pengelola sering mempekerjakan jasa renovasi rumah atau bangunan untuk memastikan Villa Isola tetap indah nan rupawan.

Buat yang suka dengan tur mistis, Villa Isola ini juga menyimpan misteri akan penampakan seorang noni Belanda yang bunuh diri dan penampakan bule laki-laki yang berdansa di lantai atas. Konon, noni Belanda itu adalah salah satu anak Beretty, sementara bule yang berdansa di lantai atas? Ya Beretty itu sendiri, yang katanya belum puas menikmati bangunan mewah miliknya itu. Yah, percaya nggak percaya sih.

Lalu bagaimana menuju tempat ini? Nah, Villa Isola terletak di kawasan Bandung Utara, tepatnya di Jl. Setiabudhi. Kamu bisa mencapainya dengan angkot St. Hall – Lembang, turun di kampus UPI. Dari luar juga udah kelihatan kok, kiri jalan. Tarifnya… Rp 3.000,00 cukup lah kayaknya. Bisa berubah-ubah tergantung jarak tempuh dan suasana hati pak sopir.

Wan Wan Emoticons 46

Setelah mampir-mampir ke Villa Isola, kamu bisa jalan sedikit ke bawah buat makan malam atau nongkrong gahul di Jl. Setiabudhi. Ada Surabi Enhai (juga surabi-surabi lainnya) dan Warung Mak Uneh yang udah terkenal ke mana-mana. Rumah makan yang lain juga banyak. Atau kamu juga bisa lanjut naik ke atas ke arah Lembang, siapa tahu mau main ke pemandian air panas. Letaknya yang strategis membuat Villa Isola dapat mudah disesuaikan dengan itinerari kamu.

Sebagai salah satu warga perantau di Bandung, gue senang dengan kekayaan arsitektur kota ini. Kalau kamu juga pemuja bangunan kayak gue, maka kamu harus lanjut mampir ke Gedung Sate, Balai Kota, Jl. Braga, hingga Jl. Asia-Afrika. Banyak banget bangunan art-deco yang tersebar di kawasan itu. Bahkan, kalau kamu jeli, kamu bakal menemukan deretan bangunan art-deco di sepanjang jalan di Bandung. Semua jalan. Serius!

Truly, Bandung is a living celebration of art-deco

Iklan

19 thoughts on “Villa Isola, Bangunan Art-Deco Unik di Bandung Utara

  1. Kalau liburan saya mampir Bandung, itu cuma persinggahan sementara sebelum melanjutkan petualangan ke tempat di mana ada air mengalir secara tegak lurus #yagitudeh :p

    Saya pribadi sih suka dengan bangunan-bangunan bergaya klasik. Entah itu gaya art deco atau gaya tradisional. Saya juga seneng sama cerita-cerita “penunggu” di situ tapi ga mau klo disuruh ketemu sama mereka, hahaha.

    Bicara tentang Bandung, kalau nggak salah dulu pas jaman masih sekolah pernah ada bahasan tentang “Bandung Lautan Api”. Apa sebelum peristiwa itu bangunan-bangunan klasik di Bandung lebih banyak lagi ya? Sayang banget ya dulu di Bandung mesti ada bakar-bakaran.

    BTW, saya naik angkot dari Cipaganti turun di depan UPI bayar Rp 2.000 itu memang segitu?

    • Yup. Aku pun suka dengan bangunan. Nggak cuma bangunan tradisional atau klasik, tapi juga bangunan modern yang suka nyakar-nyakar langit itu. Hahaha.

      Nah, soal itu aku kurang tahu deh. Nanti coba browsing kalau sempat, hihihi.
      Hah? Dari Cipaganti ke UPI cuma Rp 2.000,00? Itu tahun berapa, bro?

  2. Ehhh ini kerennnnn bangeetttt *mata berbinar*
    Yahhh sayang nggak dibuka buat umum, nggak ada museum? nggak dibikin homestay gitu? Ahhh terus pemiliknya bisa dihubungi ke mana? #komentarrempong hehehe

  3. M isolo e vivo.
    Villa Isola memang selalu menyihir dengan kesendiriannya, ya.
    Jadi semakin ngebet untuk bertandang ke sana xD
    Blog yang bagus. Salam kenal 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s