Kopi Dalam Tulisan, Kopi Dalam Perjalanan

 

Siapkan segelas cangkir, lalu lemparkan tiga sendok bubuk hitam itu ke dalamnya. Tambahkan tiga sendok gula pasir lokal yang berwarna kecoklatan sampai ia tertumbuk di dasar cangkir. Tuang air putih panas secukupnya, lalu aduk perlahan hingga kedua unsur di dalamnya berbaur menjadi satu. Sekejap kemudian, aroma kopi yang khas menyeruak lepas, seiring dengan kepulan asapnya yang bergoyang samar hingga lenyap ditelan udara.

Kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas hidupku. Bagiku, satu hari terasa kurang tanpa menikmati secangkir kopi panas. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seorang pecandu kopi. Ketika masih bersekolah dan tinggal bersama keluarga di Yogyakarta yang tenang, aku meminum segelas susu panas yang ibu siapkan setiap pagi untukku. Di tengah-tengah masa perkuliahan di Bandung, mendadak aku jenuh dengan susu, dan menggantinya dengan kopi hingga saat ini.

Tiada pagi tanpa kopi.

Oh iya, hanya karena aku peminum kopi, bukan berarti aku lantas paham dengan seluk beluk kopi ya. Aku hanya belajar secara otodidak melalui apa yang kutemukan sehari-hari, misalnya tentang perbedaan cappuccino, mocca, affogato, espresso, dan latte. Aku bahkan terkadang gagal membedakan yang mana robusta dan yang mana arabika. Nah, informasi umum tentang kopi ini bisa kamu pelajari dari laman resmi kopi Kapal Api yang langsung menyodorkan deskripsi singkat tentang robusta dan arabika pada halaman mukanya. Kalau masih mau ubek-ubek, ada rubrik Wikopedia yang dapat dibaca-baca :D.

 

Kopi dan Menulis

Sepertinya, penulis (dan kegiatan menulis) memang identik dengan minuman berkafein, khususnya kopi. Secangkir kopi tak pernah gagal membangkitkan inspirasi ketika aku menulis seorang diri. Tak peduli apakah aku menulis di dalam kamar atau di sebuah kedai, kopi senantiasa menemani. Ketika sedang menulis, aku tak akan ragu untuk menyeduh secangkir kopi lagi, meski secangkir lainnya sudah kunikmati di saat pagi.

Kopi, si pemantik inspirasi.

Tak hanya sebagai pemantik inspirasi, kopi juga memperbaiki suasana hati. Sehari-hari, aku bekerja sebagai seorang Copywriter di sebuah perusahaan rintisan di Bandung, Jawa Barat. Dengan kata lain, aku menulis untuk pekerjaan dan sekaligus menulis untuk menuangkan inspirasiku sendiri melalui blog. Dari pagi hingga berganti gelap, dari hari kerja hingga akhir pekan, aku tak pernah lepas dari menulis. Di saat aku sudah jenuh sementara aku masih harus menulis untuk menuntaskan pekerjaan, kopi menjadi yang pertama terlintas di benak untuk menyemangati diri.

Bahkan sebelum dinikmati dengan indera perasa dan penciuman, kopi sudah lebih dulu memberikan relaksasi melalui proses yang dijalani. Bangkit dari kursi, pergi mengambil cangkir, lalu meracik serbuk hitam itu sesuai selera, menjadi terapi tersendiri untuk mengistirahatkan jemari.

Kopi sebagai momen relaksasi.

Pekerjaan dan kegiatan sehari-hari itulah yang membuatku semakin tak bisa lepas dari nikmatnya kopi. Kalau kopi sudah hampir habis, aku akan segera mempersiapkan stok barunya dari minimarket atau supermarket terdekat.

 

Kopi dan Perjalanan

Tak hanya gemar menulis, aku juga senang melakukan perjalanan, baik di dalam maupun luar negeri. Menariknya, banyak tempat di Indonesia dan dunia yang menyimpan warisan atau budaya kopinya sendiri. Kota kecil Lasem di Jawa Tengah, Pontianak di Kalimantan Barat, dan Ho Chi Minh City di Vietnam menjadi tiga tempat dengan budaya kopi yang kuat yang pernah kusambangi. Ketiganya menorehkan pengalaman yang berbeda-beda untukku.

Kopi Lasem, Jawa Tengah.

Di Pontianak, ngopi sudah menjadi bagian yang tak bisa lepas dari kegiatan sehari-hari, muda dan dewasa, pria maupun wanita. Di rumah, di kedai-kedainya yang berjajar di sepanjang jalan, hingga di atas kapal perahu yang menyusuri Sungai Kapuas, kopi tak pernah lupa tersaji. Begitu menjamurnya kedai kopi di Pontianak, Jalan Gadjah Mada pun dikenal dengan julukan “Jalan Kopi” lantaran banyaknya kedai kopi yang berderet di jalan itu dan anak-anak jalan di sekitarnya.

Di Lasem, Jawa Tengah, kopi khasnya benar-benar dimanfaatkan hingga tetes-tetes penghabisan. Kopi hitam Lasem meninggalkan ampas yang halus di dasar cangkir mungil keramiknya. Ampas kopi itu rupanya tidak dibuang begitu saja. Para pria memanfaatkannya untuk dileletkan pada batang rokoknya, beberapa bahkan cukup artistik hingga dibuat dengan motif batik yang cantik. Tak heran, kopi Lasem pun dikenal dengan nama Kopi Lelet. Lumuran ampas kopi itu berguna untuk menambah citarasa di dalam rokok yang disesapnya.

Hasil mengkreasikan Kopi Lasem pada batang-batang rokok.

Salah satu rekanku, Kholid Zaim (dari Komunitas Historia Indonesia), sedang membatik rokoknya.

Di Ho Chi Minh City, Vietnam, es kopi sama populernya dengan kopi panas. Kopi yang disajikan pun memiliki 2 varian: kopi hitam (dengan gula) dan kopi susu. Es kopi khas Vietnam ini, disebut Ca Phe Da, begitu nikmat diteguk di tengah hawa Ho Chi Minh City yang panas dan lembab sepanjang hari. Meski disajikan dengan es, namun rasa manis dan sensasi kopinya tetap terasa kuat!

 

Memilih Kopi Instan yang Pas

Sebagai seorang karyawan swasta yang masih berada di tingkat menengah, keuangan menjadi hal yang harus diperhitungkan baik-baik. Rasanya kurang bijak jika dalam sehari harus mampir ke jaringan kedai kopi ternama atau menghabiskan uang ratusan ribu rupiah per bulannya untuk membeli produk kopi premium. Maka, kopi instan menjadi pilihan yang tepat.

Kopi Kapal Api, pilihan tepat untuk eksekutif muda hemat.

Masalahnya, tidak semua kopi instan memiliki citarasa setara dengan kopi-kopi yang disajikan secara manual atau tradisional. Apalagi, sudah berminggu-minggu aku menikmati produk kopi dari Lasem dan Pontianak yang kubeli saat bertandang ke sana. Ketika stok sudah habis dan aku kembali menjajal salah satu produk kopi instan, aku sontak mengernyitkan dahi karena rasa kopinya yang… aneh dan “palsu”.

Ketika berbelanja di minimarket beberapa hari kemudian, aku memilih sebundel Kapal Api Mantap dan Kapal Api Special kemasan sedang. Merek Kapal Api ini memang sudah kuketahui sejak lama. Aku sengaja memilih varian Kapal Api Mantap agar tak lagi repot menambahkan gula ke dalam racikan kopi yang ingin kunikmati. Kebetulan di kantor juga selalu ada stok gula pasir, jadi aku juga membeli kopi Kapal Api Special kalau lagi ingin meracik sendiri. Selain kopi hitam, Kapal Api juga memiliki varian Kopi Susu, Less Sugar, White Coffee, sampai Kopi Luwak lho. Nah ini, aku tak perlu lagi cemas kalau nanti bosan dengan kopi hitam, Kapal Api sudah menyediakan beragam varian ternyata.

Berkarya bersama kopi Kapal Api.

Esok paginya, aku menyeduh kopi Kapal Api itu di balik meja kerja usai menikmati sepiring nasi kuning langganan sebagai menu sarapan. Wah, takaran kopi dan gulanya begitu pas sesuai dengan racikanku selama ini! Tak hanya itu, nikmat kopinya juga setara dengan produk-produk kopi daerah yang belakangan ini aku konsumsi, tidak “palsu” atau tipu-tipu. Setelah aku pelajari, ternyata kopi Kapal Api ini menggunakan biji kopi pilihan produksi ibu pertiwi. Tak heran, Kapal Api jelas lebih enak daripada produk kopi instan lainnya.

Sebelumnya, aku selalu mengganti merek dan varian kopi instan yang kunikmati. Namun sejak mengonsumsi produk kopi hitam dari Lasem dan Pontianak, aku menjadi lebih konsisten sebagai penikmat kopi hitam. Karena produk-produk kopi daerah itu jugalah, seleraku akan kopi menjadi sedikit lebih tinggi, dan hanya kopi Kapal Api-lah yang sesuai dengan standar baru ini, enggan berpindah lagi ke lain kopi.

Kopi, menulis, dan perjalanan sepertinya akan menjadi 3 hal yang terus bertahan di dalam kehidupanku. Ketika harus melewati malam di dalam kereta api, atau saat harus menyapa pagi di dalam burung besi yang melintasi negeri, kopi selalu menjadi kawan yang setia menemani. Bagaimana denganmu, ada cerita apa antara kau dan kopi? Setuju ‘kan kalau Kapal Api adalah produk kopi instan terbaik di Indonesia? Silakan bagikan pendapatmu di kolom komentar. Karena #KapalApiPunyaCerita, aku selalu menanti saat pagi tiba, menunggu kisah dan inspirasi apa yang akan ia bangkitkan bersama terbitnya sang surya. Selamat ngopi! 🙂

Iklan

60 thoughts on “Kopi Dalam Tulisan, Kopi Dalam Perjalanan

  1. Aku malah semenjak main ke Takengon, sekarang kalau minum kopi, itu selalu tanpa gula, dan kopinya harus kopi hitam. Paling favorit ya kopi hitam yang disaring pakai driper itu. Selera sih ya,

    Namun tetap saja, kafein pada kopi memang mendorong produktivitas bagi saya, terlebih saat harus beradu dengan papan ketik, ahahah

  2. Beruntunglah bagi mereka yang suka kopi.
    kadang banyak ide yang dihasilkan dari secangkir kopi.
    unofrtunately, aku tidak terlalu menyukai kopi.
    Thats why aku ga ikut lomba kapal api karna bingung mau bahas apa haha.
    Eh ini beneran buat lomba kan muehe
    Moga menang ya kang lombanya, tulisan ini layak jadi juara.

  3. Wakakka..bener banget.. kopi dan menulis itu jadi satu. Kayaknya salah satu masalah terbesar kalau lagi gak ada ide, adalah karena belum ngopi.
    Btw, selain daerah2 diatas, ada yg kurang.. Kak Nugi harus dateng ke Aceh. Biar merasakan dunia dalam warung kopi…

  4. Suka kopi, tapi gak hobby2 amat. Belum bisa bedain jenis2 kopi, tapi bakal tahu kopi enak apa nggak biasanya dari aromanya 😂
    Kalo di kantor ada yg lagi nyeduh kapal api langsung deh pada nengok, sedap bgt dr aromanya aja.

  5. Aku sudah engga kuat minum kopi. Dulu, zaman-zaman kuliah dan masih gendut, kapal api dicampur susu kental manis adalah pacar banget deh. Kangen kalau ngga minum sehari-hari.

    sekarang takut minum kopi lagi. Bisa-bisa enggak tidur. Soalnya, bukan baru satu atau dua kali mengalami hal sulit tidur itu, nyaris setiap habis ketemu orang yang ngajak nongkrong di warung atau gerai kopi, baru bisa tidurnya besok paginya

  6. dulu pernah tertarik dengan kopi lelet, krn bukan perokok dan bukan peminum kopi tapi saya suka aroma kopi. Kak Nugi boleh tanya ga, pemilihan kata “aku” atau “gue” dalam tulisan kak nugi berdasarkan apa ya?Mood kah? hihi *nanya iseng

  7. Secangkir kopi tak pernah gagal membangkitkan inspirasi ketika aku menulis seorang diri.

    (((seorang diri)))

    😝

    Di rumah bapak juga suka minum kapal api loh…. Suka yg sasetan kecil2. Gak mau yabg gede2 apalagi yang bungkus gede. Kata ibu biar gak ribet nakar2nya lagi.

    Btw itu gmn ya rasanya rokok yg dilumuri ampas kopi? Baru tahu itu.. Blm pernah nyoba juga. Bisa bikin sendiri kali ya…. Besok2 nyobain ahhh….

  8. Ku tak suka kopi dan nggak bisa minum kopi. Sukanya cuma nongkrong di warung kopi ngecengin mas barista #eh hihihihi, enggak ding. Seumur-umur minum kopi yang beneran ya pas ke Belitung. Kerjaannya nongkrong di warung kopi, pesennya kopi susu sama telur rebus setengah matang. Selain itu nggak punya pengalaman ngopi.

  9. Aku ga ngopi tiap hari tapi pasti menikmati momennya kalau lagi ngopi. kalau soal rasa enakan kopi kedai gitu sih tapi ya harganya emang bikin terharu kalau keseringa ke sana hahaha…. jadi ya emang kopi instan pilihan yang pas. Pas di dompet pas di lidah ;D. Kopi kapal api emang legend banget dah masih eksis. Buatku kayak pelopor kopi kemasan sachet.

    • Ngopi di kedai mending kak, kopi hitam cuma belasan ribu. Kopi di cafe atau coffee shop (kedai ala Western) itu yang harganya mencekik, hahaha. Bapak ibu di rumah juga sukanya kopi kapal api nih, khususnya yang sachet kecil hehe.

  10. Walau bukan ahli kopi dan tahu rasa kopi hanya manis dan pahit, hampir bisa dikatakan, kopi adalah sahabat saya. Biasanya saya akan minum kopi di sore hari, saat tubuh mulai capek tapi pekerjaan masih banyak, butuh banget untuk angkat mod dan semangat…

    Kesukaan saya adalah kopi tubruk hitam 🙂

  11. Dulu waktu SD pertama kali suka kopi ya gara-gara nyobain kapal api bikinan mbakku, kebetulan mbakku setiap sblm berangkat ke gereja pasti bikin kopi dulu, eh lama-lama kok jadi ketagihan sampai skrg.

    Cita rasa kopi emang luar biasa, kalau menurutku semakin pahit semakin dapat rasanya. Eh semenjak tinggal di Jogja skrg jadilah aku srg ngopi karena kedai kopi di Jogjapun menjamur begitu banyak.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s