Akomodasi, bangka belitung, Indonesia, Kuliner, pangkalpinang, Pantai, Travel, Wisata

Berkelana di Bangka Dalam 2 Malam 1 Hari (Part 1): Jembatan Emas & Wisata Kuliner

menginap 2 malam di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

Setelah lama nggak menjejakkan kaki ke satu provinsi baru di Indonesia, tanggal 1-3 Desember 2017 lalu gue akhirnya berhasil mencetak satu milestone lagi dengan jalan-jalan tipis ke Pangkalpinang, Bangka Belitung. Sekilas, kayaknya gue punya waktu 3 hari gitu ya di Bangka. Tapi karena jadwal tiket gue berangkat dari Jakarta jam 13:40 dan tiba di Bangka jam 14:50 (belum termasuk delay sekitar 1 jam, pffft), lalu udah balik lagi ke Jakarta jam 11:20, jadi secara efektif gue cuma punya waktu 2 malam dan 1 hari buat berpetualang.

024024

Yowis, rapopo, bisa menginjakkan kaki di bandara, kota, pulau, dan provinsi yang baru aja udah membuat gue bersyukur banget. Seperti trip-trip domestik sebelumnya, gue woles banget menyusun itinerari di Bangka ini. Sekedar browsing-browsing, tau ada tempat ini dan tempat itu, terus ya udah.

Baca Juga: Perjalanan Hemat ke Pangkalpinang, Bangka

Saat di Bangka, gue nggak maksain diri harus bisa membabat semua tempat yang gue pengen dalam 2 malam 1 hari itu. Aslinya mah pengen banget island hopping ke Pulau Belitung atau pulau kecil mana pun di sekitarnya, pengen ke danau kaolin bekas penambangan, tapi setelah memahami realita, gue nrimo kalo cuma bisa main-main di Pangkalpinang dan sekitarnya. Lha ternyata Pulau Bangka itu nggak sekecil yang gue kira je.

014014

 

Menyewa Sepeda Motor di Pangkalpinang, Bangka

Sebelum hari keberangkatan, gue udah mengirim permintaan ke beberapa member Couchsurfing buat jadi host gue selama di Bangka. Gue juga udah share rencana perjalanan gue ini ke beberapa komunitas traveler di WhatsApp dan Facebook. Semuanya nggak membuahkan respon yang gue inginkan, padahal lumayan kan kalo ada yang bisa nganterin ke sana kemari selama di Bangka kayak pas gue di Pontianak bulan April 2017 lalu, hehehe.

000000

Sesampainya di Pangkalpinang dan check-in sendirian (penting banget buat dikasihtau, Gie?) di Hotel Griya Tirta, gue bergegas menjelajah dunia maya buat menemukan persewaan sepeda motor yang masih available. Di Pangkalpinang emang udah ada Grab, tapi masalahnya gue pengen ngebolang seharian ke pantai-pantai di Sungailiat. Daripada gue kesusahan cari driver selama di sana, mending gue sewa motor aja toh?

kursi santai di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung
fasilitas kamar di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung
kamar mandi hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

Setelah menghubungi Transmoka Rental Motor (081373114671) yang ternyata semua motornya udah penuh buat besok Sabtu, gue menghubungi Fahri Rental Motor (081373257275). Puji Tuhan, masih ada 1 sepeda motor Mio yang available. Ongkosnya cuma Rp80.000,00 / hari terus dianterin langsung ke hotel tanpa biaya tambahan. Yay!

 

Makan Malam di Mie Koba Pangkalpinang

Gue yang tadinya mau buru-buru ke Pantai Pasir Padi setelah mendarat buat ngejar sunset, ternyata menghabiskan waktu sekitar 1 jam buat muter-muter bandara, foto-foto, mondar-mandir nggak jelas, dan tawar menawar sama sopir taksi bandara. Grab nggak boleh jemput penumpang dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang, cuma boleh nganter doang. Makanya, gue mengubah rencana buat langsung check-in di hotel, mandi dan istirahat, terus makan malam aja udah.

Baca Juga: Sebuah Kisah Perjalanan Menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Dari hasil browsing di internet, gue dapet info kalau Jalan Balai adalah kawasan kuliner malam terkemuka di Pangkalpinang, Bangka. Dari Hotel Griya Tirta di kawasan Jalan Semabung Lama, gue naik GrabBike sejauh kurang lebih 3 kilometer menuju Jalan Balai di daerah Taman Sari. Gue udah membayangkan satu ruas jalan yang nggak terlalu lebar, ramai dengan warung pinggir jalan di kanan kirinya. Tapi kenyataannya…

Krik krik krik.

012012

Jalan Balai ini sepiiiiii banget! Udah sepi, gelap pula karena minim pencahayaan. Mana nih kawasan kuliner Jalan Balai? Ya udah lah, daripada bingung, gue minta diturunin babang GrabBike di persimpangan meski sebenernya gue juga nggak yakin. Gue lalu jalan kaki menyusuri Jalan Balai itu, and I was the only pedestrian that night! Gue sambil celingak celinguk di persimpangan selanjutnya, mencoba merumuskan apakah ada kehidupan yang lebih riuh di ujung sana.

Mendekati persimpangan dengan Jalan Jenderal Sudirman (arah kembali ke hotel), gue memutuskan buat makan malem di Mie Koba Iskandar. Kayaknya sih terkenal di Google Maps dan Foursquare, tapi kok penampakannya biasa-biasa aja. Ada beberapa pelanggan, tapi juga nggak rame-rame amat. Gue masuk dengan agak ragu, duduk di kursi plastik, lalu seorang pemuda menghampiri gue.

“Ada apa aja, bang?” tanya gue, tak lupa menambahkan sedikit logat tegas ala Sumatera (entah berhasil atau tidak, ku tak tau).

“Mie Koba aja, bang.”

Well then, I didn’t have much choice there. Menu minuman pun cuma ada air mineral sama teh botol. Padahal kayaknya makin afdol yak kalo ada menu kopi atau teh tarik khas Melayu. Nggak lama kemudian, seporsi Mie Koba mendarat di atas meja berdampingan dengan beberapa butir telur rebus di dalam sewadah mangkok. Gue icipin kuahnya perlahan, hm… rasanya manis. Warna bakminya kecokelatan, senada dengan warna kuah, dengan tekstur yang lengket dan agak kenyal. Potongan-potongan seledri dan bawang goreng ditaburkan di atasnya, tanpa ada isian lain seperti daging atau orekan telur goreng. Karena rasanya kurang lengkap tanpa menu pendamping, gue lalu mengambil sebutir telur rebus untuk dinikmati bersama mie.

mie koba iskandar di jalan balai, pangkalpinang, bangka belitung

Rasanya nggak jelek, tapi juga nggak terlalu istimewa. Dengan harga cuma Rp15.000, gue nggak ngerasa rugi juga makan malem di Mie Koba Iskandar Pangkalpinang, Bangka Belitung.

 

Tung Tau Toniwen

Sebelumnya, I had no idea what a Tung Tau is. Gue nggak tau apakah dia ini semacam jaringan rumah makan cepat saji, tapi gue melihat di Foursquare ada beberapa Tung Tau di Pangkalpinang ini. Salah satunya, Tung Tau Toniwen, berada cukup deket dengan lokasi gue saat itu. Karena merasa belum terlalu kenyang dan juga masih terlalu dini buat balik ke hotel, gue memutuskan buat melanjutkan petualangan (kuliner) malam itu ke Tung Tau Toniwen.

Ternyata, Toniwen itu adalah nama jalan di mana Tung Tau itu berada. Tung Tau Toniwen berada dalam satu gedung dengan Sun Hotel Pangkalpinang. Suasananya cukup rame, jauh lebih hidup daripada Mie Koba Iskandar, tapi syukurlah masih ada kursi buat seorang traveler jomblo yang sendirian. Mata gue melebar begitu baca daftar menunya. Ternyata Tung Tau itu menyediakan menu minuman dan makanan ringan ala Melayuuu, horeeeeee! Gue lalu memesan roti telur dan teh tarik panas, hihihi.

roti bakar telur dan teh tarik di tung tau toniwen
tung tau toniwen ada di sun hotel pangkalpinang, bangka belitung

Roti telurnya enak, gurih, tingkat kematangannya pas, dengan isian telur rebus yang dipotong-potong. Pokoknya gue cukup puas lah nongkrong di Tung Tau Toniwen ini, would be better kalo ada satu atau dua anak muda lokal yang menemani saat itu. Total biaya yang gue harus bayar adalah Rp32.000,00. Menurut travelearners mahal nggak?

003003

Malam pertama di Pangkalpinang, Bangka, sukses gue habiskan dengan kulineran. Gue lalu balik ke hotel dengan GrabBike buat beristirahat, mempersiapkan energi untuk petualangan di hari kedua!

 

Jembatan Emas Pangkalpinang

Hotel Griya Tirta yang gue pesan dari paket Flight + Hotel Traveloka ini emang nggak termasuk sarapan. Jadi karena gue males keluar buat sarapan, dan kayaknya juga nggak banyak tempat makan di sekitar hotel, gue pesen sarapan buat dianter ke kamar dengan biaya Rp25.000. Gue lupa apakah gue pesen nasi kuning atau nasi goreng. Pokoknya demi asas kemalasan, gue hepi-hepi aja bayar segitu, hahaha.

031031

Pagi ini gue janjian sama mas Fahri supaya dia nganterin motor yang mau gue sewa ke Hotel Griya Tirta. Rupanya mas Fahri dateng saat gue lagi mandi dan sibuk foto-foto hahahaha, dia sampai ketok-ketok kamar dan telfon WhatsApp, tapi jelas nggak gue angkat. Mas Fahri-nya lalu pulang gitu aja. Lhaaahhh kamunya juga nggak konfirmasi dulu, mas.

027027

Gue buru-buru bales chat-nya, minta dia balik lagi ke hotel, dan puji Tuhan dia bersedia.  Setelah melakukan pembayaran dan prosesi serah terima kunci motor, gue nganterin mas Fahri balik ke rumahnya. Katanya sih deket, tapi ternyata — hm, gue yakin itu jaraknya 3 km lebih. Jalanannya sepi sih, tapi banyak beloknyaaa. Gue sempet nyasar sekali pas mau balik ke Hotel Griya Tirta, hehehe. Oh iya, saat itu gue cuma pake celana kolor putih yang sukses tersingkap angin saat naik motor, terima kasih.

Berbekal sepeda motor matic, Google Maps, dan doa dalam nama Yesus Kristus, gue berkendara dengan percaya diri menuju Sungailiat. Jalurnya sendiri gampang banget tanpa banyak belokan. Dari Hotel Griya Tirta, gue tinggal menyusuri Jalan Depati Hamzah (sebenernya bisa lewat Jalan Ketapang, tapi gue kebablasan karena jalannya agak kecil) lalu berbelok kiri memasuki Jalan Lintas Timur Bangka. Jalan Lintas Timur ini kayak Ring Road-nya Jogja atau Jalan Soekarno-Hatta Bandung versi sepi gitulah. Jalanannya mulus terus sepiiiiii sampai gue berani ngebut, wakakakaka.

berani ngebolang sendirian di bangka kayak gue nggak?

Karena bensin tinggal beberapa strip dan gue nggak yakin di depan sana ada harapan, gue sempet memutar buat isi bensin sebesar Rp20.000,00. Jalanan yang semula terdiri atas 4 lajur bersekat pun berubah menjadi jalan 2 lajur biasa yang diapit trotoar tanah basah dan semak-semak belukar. Nggak berapa lama kemudian, gue udah sampai di Jembatan Emas Pangkalpinang, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Jembatan Emas Pangkalpinang ini menjulur sepanjang 785 meter selebar 23 meter, menghubungkan kota Pangkalpinang dengan kabupaten Bangka di atas Sungai Pangkal Balam yang bermuara ke lautan Selat Karimata. Nama “Emas” diambil dari nama Eko Maulana Ari Suroso, gubernur Bangka Belitung yang bertahta pada periode 2007-2012. Biaya pembangunannya? Hm, sekitar Rp400 miliar aja kok.

052052

jembatan emas pangkalpinang, bangka belitung, dari jauh
foto jembatan emas pangkalpinang ini diambil dari tengah jalan lho!
foto panorama jembatan emas pangkalpinang, bangka belitung

Jembatan Emas Pangkalpinang ini sebenernya jadi destinasi dadakan setelah gue buka Google Maps. Jadi, setelah mempelajari rute perjalanan dari Hotel Griya Tirta ke Sungailiat, gue lihat ada jembatan ini. Gue browsing, eh ternyata keren juga. Ya udah, sekalian aja gue mampir. Dari atas jembatan, gue bisa menikmati indahnya panorama laut Selat Karimata yang berwarna biru toska, kesibukan para nelayan yang bermukim di tepi laut, dan kapal yang hilir mudik di Pelabuhan Pangkal Balam di bawah sana.

Jalanannya sepi bangeeeeeettt! Bener-bener sepi sampai gue bisa leluasa foto-foto di tengah jembatan tanpa takut ketabrak truk atau mengganggu lalu lintas. Sekelompok wisatawan bahkan rame-rame berpose duduk di tengah jembatan dan sama sekali bebas dari bahaya ketabrak. Di bawah jembatan juga ada Pantai Kualo dan Pantai Muara di mana beberapa warga lokal duduk menikmati piknik.

selfie di tengah jembatan emas pangkalpinang yang suepine reeekkk
menengok laut dari jembatan emas pangkalpinang

 

Jembatan Emas Pangkalpinang tampak megah dengan konstruksi tiang-tiang pancangnya yang tinggi. Di kedua sisinya terdapat lajur untuk pejalan kaki yang dibatasi dengan pagar pengaman. Kalau punya banyak waktu di Pangkalpinang, gue sarankan ke Jembatan Emas ini saat terang dan saat gelap buat menikmati keindahan lampu warna-warninya di malam hari.

Bersambung di tulisan berikutnya dengan tujuan: Pantai Tikus dan Vihara / Padepokan Puri Tri Agung, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Pasir Padi, dan Pempek Ase Pangkalpinang. Keep learning by traveling, cheers!

Iklan

41 tanggapan untuk “Berkelana di Bangka Dalam 2 Malam 1 Hari (Part 1): Jembatan Emas & Wisata Kuliner”

  1. Jadi semacam warung Mie Celor 26 Ilir Palembang yang hanya jual mie celor tok ya hehe. Btw Nugie, Jembatan Emasnya benar 400 triliun? itu uang yang banyak sekali. Aku penasaran dan langsung googling, dan nemu satu situs yang bilang biaya pembangunannya 600 miliar “saja”. Coba cek lagi.

    Oh ya, walau gak jadi pake jasa Transmoka Rental Motor, kalau ada no kontaknya juga sekalian ditambahkan. Aku punya sodara di Sungai Liat, tapi kepikiran mau eksplor dengan motor sewaan kayak Nugie. Ngebayanginnya aja udah seru.

  2. wuih jian tenan..anda memang petualangan sejati mas bro..
    kalau saya juga berani sih bolang sendirian hahaha
    aku ke sumatra baru ke Jembatan Arasy jambi n barito..lainnya belum pernah hehe

  3. Hotelnya punya mama teman aku.. *penting banget hehehehe, …. belum sempat tertarik ke Bangka maunya ke Belitong. Tapi, meskipun mie nya kata Nugie nggak terlalu istimewa dan nggak terlalu jelek juga, aku kok mupeng ya.
    .
    .

  4. Liburan tipis2 tapi tetep asik ya bro 😁
    Saya sendiri malah belum pernah ke Pangkal Pinang 😅
    Next lah kalo ngetrip lagi bakalan kesana kalo budgetnya cukup.
    Maklum, perlu modah banyak kalo dari DJJ buat kesana, hahahha 😂

  5. Aku nambah waktu makan mie koba itu. Menurutku enak sih, seger. Kuahnya ku sendokin ampe tetes terakhir, wkwkwk Btw ke Jembatan Emas kok ga sekalian ke Pantai Pasir Padi. Deket bgt pdhal

  6. Seru solo travelling sampai ke Bangka …, bisa jadi inspirasi buat yang masih punya rasa ragu ngetrip jauh2 sendirian.

    Itu jembatan emasnya sepi bangeeet,ya …
    Bisa selfie time sepuasnya disana deh 😁

  7. Seru yak ngebolang sendirian gtu. Jadi kangen berkelana jauhan dikit seorang diri. Boleh lah ke Bangka dijadikan salah satu wishlist. Demi menambah provinsi dan budaya dalam negeri yang ingin dijelajahi.

    Informatif tapi kebayang serunya, nice! 😀

  8. Sebelum Ramadan kemarin, saya rencana ngetrip ke Bangka. Cuma setelah cari-cari info dan hitung-hitung biaya kalau jalan sendiri dan transportasi di sana agak susah, akhirnya saya batalin. Saya akhirnya ke Palembang dan Taiwan. Eh ternyata di Bangka bisa sewa motor yang murah ya di sana!

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.