Bangkok, Thailand, Transportasi, Travel

#ViziTrip Part 1: Review Thai Lion Air Jakarta-Bangkok dan Perjalanan Menuju Hotel

arriving at don mueang international airport with @rezafw_

Hari itu akhirnya tiba. Hari yang sudah gue tunggu-tunggu selama hampir 2 bulan lamanya. Hari yang membuat backpack hitam yang sudah lama teronggok di sudut kamar itu kembali penuh terisi. Hari yang memaksa gue terbangun jam 3 pagi, lalu melesat menuju bandara ibukota menerobos gelapnya dini hari. Hari yang memuaskan rindu kepada sang Kota Malaikat setelah hampir 2 tahun lamanya tak berjumpa.

Rabu, 5 September 2018, adalah hari di mana gue akan melakukan perjalanan selama 4 hari 3 malam di Bangkok dan Pattaya. Singkat cerita, perjalanan ini merupakan buah kemenangan gue sebagai Juara 1 Vizitrip Blog Competition yang diumumkan pada 9 Juli 2018. Tuhan memang baik, kalau bukan karena kasih-Nya, mana pantas gue mendapat berkat berlimpah seperti ini.


Perjalanan Bandung-Bandara Soekarno Hatta yang Lebih Lama Dari Dugaan

Dengan jadwal keberangkatan pesawat pada jam 13:30, normalnya gue aman berangkat jam 6 pagi dengan mobil travel dari Bandung. Tapi untuk antisipasi, gue berniat memajukan jadwal keberangkatan ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menjadi jam 5:00. Akhirnya, karena sangat takut terlambat mempertimbangkan lalu lintas yang nggak bisa diprediksi, akhirnya gue pun memilih jadwal keberangkatan jam 4:00 dengan operator Jackal Holidays. Ternyata itu adalah keputusan yang tepat! Setelah gue bangun jam 3 pagi, gue langsung ganti baju dan panggul backpack, tanpa repot-repot gosok gigi, cuci muka, apalagi mandi.

:ngakak:

Kemacetan yang luar biasa sepanjang jalan tol di area Cikarang dan Bekasi membuat lama tempuh perjalanan molor dari yang seharusnya. Normalnya, 4 jam cukup untuk mencapai Bandara Soekarno-Hatta dari Bandung. Apalagi saat itu gue berangkat jam 4 pagi, harusnya bisa lebih cepat lagi, mungkin 3 jam atau 2.5 jam. Gue sendiri udah 2 kali melakukan perjalanan seperti ini (berangkat pagi-pagi menuju Bandara Soekarno-Hatta) yang semuanya berakhir dengan tiba di tempat tujuan sebelum waktu estimasi. Coba tebak saat itu gue sampai di bandara jam berapa. Jawabannya, gue baru tiba di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta jam 9:30. Itu artinya, lama perjalanan gue molor jadi 5.5 jam!

Sepanjang perjalanan, gue udah harap-harap cemas karena takut telat check-in. Kecemasan itu memperburuk rasa mulas yang mulai gue rasakan sejak sekitar jam 7 pagi, waktu di mana biasanya gue menunaikan panggilan alam. Rest Area udah lewat (saat itu gue lagi pules-pulesnya tidur), dan nggak ada lagi Rest Area di sisa perjalanan itu, yang memaksa gue meringis-ringis menahan mules selama lebih dari 2 jam! Begitu sampai di Terminal 2, gue langsung bergegas mencari toilet, puji Tuhan banget lagi nggak ada antrian. Aaahhh, leganyaaa!

:sweating:

Ada 3 peserta lainnya dalam perjalanan ini. Reza @rezafw_ sebagai Juara 1 Vlog Competition, mbak Antika (Account Executive Vizitrip), dan Renaldi atau Aldi sebagai tim dokumentasi Vizitrip. Kami janjian ketemu di Terminal 2 sekitar jam 10 pagi. Syukurlah, gue masih menjadi orang pertama yang tiba di titik janjian. Reza, yang sama-sama berangkat dari Bandung dan mengambil jadwal jam 5:30, tiba beberapa menit kemudian. Gue lupa memperhitungkan bahwa Rabu adalah hari kerja, yang artinya gue akan bertemu para penglaju yang menuju ibukota di sepanjang jalan tol. Makanya tambah macet!


Proses Check-In Thai Lion Air

Sekitar jam 11, setelah seluruh personil lengkap, kami langsung menuju konter check-in Thai Lion Air di Gate 3. Sesuai dugaan gue, proses check-in Thai Lion Air agak lama, seperti pengalaman gue sebelumnya dengan Lion Air dan Malindo Air. Gue check-in memanggul backpack berkapasitas 60 L dan tripod, niatnya sih tripod aja yang masuk bagasi, sementara backpack tetap di kabin. Ternyata berat backpack gue mencapai 10 kg, hahaha. Maklum, di dalamnya ada laptop 15 inch, kamera DSLR, dan tas ransel kecil. Akhirnya gue bongkar backpack gue di depan konter check-in. Gue keluarin tas kecil yang letaknya ada di dasar backpack (sigh), lalu beberapa item penting gue pindahkan dari backpack ke tas kecil itu: laptop, kamera, paspor, dan dompet.

cabin view | thai lion air jakarta-bangkok
leg room | thai lion air

Selesai check-in, kami melalui proses imigrasi, pemeriksaan keamanan, dan masuk ke dalam boarding room. Aldi melakukan kegiatan recording saat kami bertiga berjalan memasuki pemeriksaan keamanan. Dua orang petugas di garda terdepan pun menegurnya dan meminta Aldi menghapus dokumen yang baru saja ia ambil.

Catatan buat temen-temen yang baru pertama kali naik pesawat, khususnya ke luar negeri. Jangan mengambil dokumentasi apa pun (baik foto atau video) menggunakan alat apa pun (hape kamera VGA sekalipun) di area imigrasi dan pemeriksaan keamanan bandara. Selain itu, cairan di atas 100 ml juga nggak boleh masuk kabin, termasuk air mineral dan air minum lainnya, sabun cair, shampo, parfum, hand and body lotion, atau bensin #eh.

:evilsmirk:

Penerbangan Perdana Jakarta-Bangkok dengan Thai Lion Air

Dari boarding room, kami masuk ke dalam pesawat menggunakan garbarata. Seluruh flight attendant merupakan orang Thailand, saat itu yang gue lihat ada 1 perempuan dan 2 laki-laki. FA cowok memakai kemeja putih dan celana hitam kayak sinoman mantenan, sementara FA cewek tampil anggun dengan gaun terusan model kebaya dengan motif bunga-bunga. Jadi kalau kamu naik Thai Lion Air, even dari Indonesia sekalipun, jangan heran kalau mereka menyapa dengan, “Sawadee kraaappp! Sawaddee khaaa!”

a flight attendant explaining the safety prochedure | thai lion air
lion mag, the in-flight magazine of thai lion air

Penerbangan Jakarta-Bangkok dengan Thai Lion Air ini juga menjadi penerbangan terlama yang pernah gue tempuh selama ini. Lho, bukannya udah pernah ke Bangkok sebelumnya? Udah pernah ke Yangon juga, ‘kan? Iya tapi semuanya gue jalani dengan ikhlas dengan transit di Kuala Lumpur International Airport, bukan direct flight. Thai Lion Air melayani penerbangan langsung dari Jakarta ke Bangkok via Don Mueang International Airport dengan lama tempuh perjalanan selama 3 jam lebih dikit. Duh, 3 kali ke Bangkok, semuanya turun di Don Mueang, sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Suvarnabhumi International Airport. Sungguh backpacker haqiqi.

:good:

Konfigurasi tempat duduk terbagi ke dalam 2 baris dengan 1 lorong (aisle), masing-masing baris terdiri dari 3 kursi. Gue duduk di kursi nomor 11B bareng Aldi dan mbak Antika, sementara Reza terpisah di 11D. Nggak ada in-flight entertainment dan in-flight meals, tapi ada free baggage seperti yang udah gue singgung secara implisit di atas. Makanan bisa dibeli melalui sistem pre-book meal di website atau beli langsung di dalam penerbangan. Saran gue, belilah dengan pre-book meal karena ada menu-menu kombo yang harganya murah, serba 150 THB atau sekitar Rp60.000. Sementara kalau cuma mau beli cemilan, minuman, atau pasrah dengan 2 menu yang tersedia (seharga 130 THB, belum termasuk minum seperti di pre-book meal), silakan beli langsung di perjalanan.

left: pre-book meal menu of thai lion air, right: arriving at hotel

Passenger Announcement (PA) hadir dalam Bahasa Inggris dan Thailand. Ada in-flight magazine Lion Mag, tapi nggak tersedia di setiap kursi. Kalau penumpang sebelah kamu nggak tertarik buat baca, comot aja dah. Tapi sebagian besar isi majalahnya juga ditulis dalam aksara Thai, nyahahaha. Ada beberapa rubrik yang sama sekali nggak ada terjemahan Bahasa Inggris, padahal foto-fotonya cukup menarik.

:suram:

Gimana rasanya penerbangan 3 jam? Agak membosankan, to be honest, hahaha. Apalagi gue tipe orang yang susah tidur di jalan, even dalam kondisi ngantuk sekalipun. Kalaupun bisa tidur, cuma beberapa jam aja. Untung gue udah masukkin 3 episode anime yang lagi gue ikutin di handphone biar bisa nonton di jalan, itu pun masih terasa kurang. Tadinya mau beli pre-book meal, tapi entahlah, saat gue masuk menu Manage My Booking, ada keterangan berbunyi, “Pre-Book Meal tidak dapat dipesan melalui penerbangan ini.”

Jadi, saat nanti gue harus menjalani penerbangan langsung lagi di atas 3 jam, gue mending naik full service airlines aja kalau harganya nggak beda jauh sama low cost carrier. Tonton vlog di atas buat bisa mendengar dan melihat gimana perjalanan di hari pertama ini, Gengs!


Mendarat di Don Mueang International Airport

Dengan jadwal penerbangan jam 13:30, pesawat baru benar-benar mengudara sekitar pukul 13:53. Sekitar jam 17:00, kami tiba di Don Mueang International Airport. Syukurlah, antrean imigrasi sedang lengang. Tahun 2016 lalu, gue terjebak 2 jam di imigrasi DMK ini karena tiba bersamaan dengan ratusan turis Tiongkok. Antreannya chaotic banget! Di sini, Reza kena tegur petugas imigrasi karena melakukan kegiatan pengambilan dokumentasi.

baggage claim | don mueang international airport, bangkok
immigration at the upper floor | don mueang international airport, bangkok

Beres menjalani proses imigrasi dan pengambilan bagasi, kami berniat membeli SIM Card lokal di konter yang berjajar di area Arrival Hall. Tapi rupanya tour guide kami, Pak Ibrahim alias Pak Beroheng alias Pak Heng, bilang supaya kami beli SIM Card DTAC dari dia aja dengan harga 180 THB, unlimited selama 5 hari! Baiklah, karena lebih murah dan dapet unlimited, kami iyakan anjuran beliau. Ngomong-ngomong, baru kali ini gue tiba di bandara dengan disambut tour guide yang bawa-bawa papan nama di arrival hall, hehe. Backpacker haqiqi.

Dari Don Mueang International Airport menuju pusat kota Bangkok dapat dicapai dengan bus A1 seharga 30 THB sampai Mochit, lalu disambung BTS atau MRT menuju tujuan kalian. Cerita lengkapnya bisa dibaca di: Memahami Transportasi Publik di Bangkok

information board | don mueang international airport, bangkok

Tapi karena kami ikut operator tur, kami dipandu keluar gedung bandara melalui pintu lain di mana bus-bus pariwisata sudah berjejer rapi. Saat itu sudah sangat gelap (karena awan mendung, bukan karena udah malem, apalagi karena hati yang hampa), padahal saat kami landing tadi matahari masih bersinar cerah.  Nggak lama kemudian, hujan deras mengguyur disertai angin yang cukup kencang. Ketibaan kami di Bangkok disambut dengan hujan air mata bahagia dari sang Kota Malaikat yang merindukanqu.

:crying:

Perjalanan Menuju Thomson Hotel & Residences

Setelah seluruh peserta berkumpul, Pak Aheng memberangkatkan bus menuju penginapan kami di Thomson Hotel & Residences, Hua Mak. Pak Aheng memperkenalkan diri dengan Bahasa Indonesia yang sangat fasih, rupanya dia orang Jawi yang tinggal di Thailand bagian selatan sehingga Bahasa Melayu sudah menjadi kesehariannya. Beliau memberikan kami kalung bunga dan sebotol kecil minyak gosok, manis banget dapet kalung bunga kayak gini.

:shy:
left to right, top to bottom: me, reza, aldi, and antika. our tour guide is the man on the left.

Suasana bus rameeeeee banget! Bukan, bukan karena sekumpulan anak-anak muda alay yang keluar negeri cuma demi upload foto selfie di Instagram. Tapi karena ada serombongan bapak ibu usia 50-an tahun ke atas dari Pontianak yang lagi liburan sebagai agenda reuni mereka. Gue amazed sama energi dan antusias mereka yang nggak habis-habis, kami berempat yang masih muda belia aja cuma terduduk layu di kursi depan, hahaha.

Dua kali ke Bangkok, gue nggak pernah mengalami kemacetan yang berarti. Saat itu gue memang banyak naik BTS atau MRT, bahkan saat banyak naik taksi di kunjungan tahun 2016 pun macetnya masih bisa dihadapi. Tapi saat itu, kombinasi antara jam pulang kerja dan hujan deras membuat bus merayap lambat di atas jalan-jalan layang Bangkok, berjuang bersama barisan mobil-mobil warga lokal dan kendaraan lainnya.

traffic jam in bangkok is real!
entry/exit gate of bangkok’s highway

Nggak hanya bergerak lambat, namun juga ada saat-saat di mana bus sama sekali tidak bergerak. Hampir sama kayak di Jakarta. Bedanya, di Bangkok macetnya tenang karena nggak sibuk klakson-klakson. Para pengendara juga tertib di jalurnya masing-masing, nggak asal mengacau ke lajur sebelah, atau berjalan di tengah-tengah 2 lajur seperti yang banyak terjadi di Indonesia. Tapi tetep aja, karena gue sedang berada dalam kondisi lelah, ngantuk, dan kelaparan (belum ketemu nasi sejak membuka mata), kemacetan ini terasa sangat frustrating.

:suram:

Normalnya, kata Pak Aheng, perjalanan dari Don Mueang ke Thomson Hotel hanya memakan waktu 30 menit aja. Tapi kalau lagi macet begini, bisa 1 jam atau lebih. Benar saja, sekitar jam 19:00 kami baru sampai di hotel. Syukurlah proses check-in berjalan cepat, sehingga kami berempat dapat segera masuk ke dalam kamar, menyimpan barang bawaan, lalu keluar untuk makan malam sebelum mall-nya tutup.

Review Thomson Hotel & Residences akan gue tulis dalam pos terpisah.


Makan Malam di The Mall

Nah, walaupun hotel kami lokasinya agak jauh dari pusat peradaban dan kami juga males jalan kaki karena becek habis hujan, kami memilih makan malam di The Mall yang lokasinya persis di depan Thomson Hotel & Residences. Kedua bangunan ini bahkan terhubung dengan lahan parkir tertutup. Dipimpin oleh gue, kami langsung naik menuju Food Hall yang ada di lantai tertinggi, lantai 4.

the mall ramkhamhaeng 3, bangkok

Karena keyakinan gue nggak punya larangan khusus dalam hal makanan, maka gue dengan mudah menjatuhkan pilihan pada salah satu vendor makanan. Harganya murah-muraaahhh, mulai dari 50-an Baht. Gue pilih salah satu menu yang, entah namanya apa, tapi terdiri dari nasi dan cumi. Sama sekali nggak ada aksara Latin di daftar menunya. Ternyata itu belum cukup buruk, karena waitress-nya juga sama sekali nggak bisa bahasa Inggris. Terus piye, jal?

Selama beberapa saat, mbak-mbak itu cuma wara-wiri konter antara depan dan dapur di belakangnya sambil senyum-senyum malu dan menggumamkan sesuatu dalam bahasa Thailand. Gue kira dia lagi menyiapkan pesanan gue, ternyata nggak sama sekali, karena beberapa saat kemudian datang seorang ibu-ibu berkacamata bersamanya. Dengan bahasa Inggris terpatah-patah dan logat Thailand yang kental, ibu itu mencoba meminta gue untuk mengambil foto gambar menunya dengan handphone, lalu gue tunjukkan ke mbak-mbak itu. Boleh juga idenya.

my dinner at the mall ramkhamhaeng 3

Setelah gue foto dan tunjukkan menu mana yang gue mau, ibu itu bilang kalau mereka udah kehabisan nasi. Ya sudah, akhirnya gue pesen Pad Thai. Padahal gue belum ketemu nasi dalam sehari, ya Lord. Mau pindah kedai juga nggak enak karena kami sudah sama-sama menghabiskan waktu sekian menit hanya untuk berkomunikasi. Pesanan jadi, gue siap membayar dengan lembaran uang tunai. Ternyata mereka tidak menerima uang tunai, gue diminta untuk membeli kupon di loket. Harga 1 kupon (semacam kartu e-money) Food Hall 100 THB. Untung petugas loketnya langsung cepat tanggap tanpa gue harus susah payah menjelaskan maksud.

Harga Pad Thai pesanan gue cuma 55 THB, berarti masih ada sisa saldo 45 THB. Gue lalu bergabung dengan yang lain, mereka cuma memesan nasi dan telur dadar karena ragu dengan kehalalan. Setelah makan, gue sama Aldi mau beli minum untuk kami berempat. Sayangnya, hampir seluruh konter minuman sudah tutup, beberapa konter makanan juga sudah beres-beres saat kami muter-muter cari minuman. Hanya ada 1 konter yang masih buka, niatnya sih kami mau beli Coca Cola atau minuman soda lainnya. Ibu penjualnya ngomong dalam bahasa Thailand yang nggak kami pahami sama sekali. Mungkin maksudnya udah habis? Akhirnya kami cuma beli 1 botol air mineral + segelas es batu seharga 15 THB. Maksud kami cuma mau beli air minumnya aja, sih. Nggak tahu kalau si ibu akan menyajikanya dengan es batu terpisah.

Usai makan malam, gue langsung ke loket Food Hall buat mencairkan sisa saldo. Ternyata sama sekali nggak ada deposit lho, jadi gue dapat kembalian 30 THB. Karena masih merasa kurang kenyang, kami lalu lanjut belanja cemilan di sebuah swalayan di dalam mall bernama Home Fresh Mart. Di dalam swalayan, nemu Indomie edisi Thailand yang membuat rasa nasionalisme gue membuncah! Karena nggak ada kue atau roti yang menarik, akhirnya gue lebih memilih beli kue-kue dari S&P yang lokasinya di depan swalayan persis. Lumayan, harga 2 kue yang gue beli (1 donat dan 1 sandwich ayam) nggak sampai 50 THB.

s&p bakery and the department store, the mall ramkhamhaeng 3

Ternyata The Mall ini punya beberapa lokasi di Bangkok, dan The Mall yang kami kunjungi adalah The Mall Ramkhamhaeng 3. Selesai makan malam, kami kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat. Besok pagi bus akan berangkat jam 7 menuju Pattaya, jadi sarapan, mandi, dan check-out harus tuntas sebelum jam 7 pagi. 

Bersambung di tulisan ViziTrip Part 2, follow/subscribe blog ini atau download aplikasi resminya supaya langsung tahu update-nya.

Iklan

76 tanggapan untuk “#ViziTrip Part 1: Review Thai Lion Air Jakarta-Bangkok dan Perjalanan Menuju Hotel”

  1. Hahaha.. Ga betah di udara ya? Sama, Mas. Moda transportasi yang paling sukses bikin saya gelisah selama perjalanan ya pesawat terbang. Walau in-flight entertainment sangat ngebantu buat ngalihin perhatian.

    Lalu soal peringatan untuk ngga ambil foto/video di bagian pemerksaan bandara, iya, mereka bawel banget buat ingetin ini tiap saya pergi liputan ke luar negeri. Ya karena kamera liputan kan segede bagong ya :))

  2. Jauh-jauh ke sana eh ada Indomie juga ya. Haha. Hidup Indomie.

    btw bisa ya ngejar pesawat ke Cengkareng dari Bandung subuh. Duh kalau aku tetap nggak percaya diri dengan situasi di jalan, kalau nggak naik kereta pasti berangkat keesokan harinya. Takut macet dan gangguang lainnya.

  3. Mas Nugie nulisnya detail banget, serasa ikut terbang ke Bangkok. Mengenai pengambilan gambar di tempat pemeriksaan keamanan, Aku pernah melihatnya di Kuala Lumpur, dilakukan oleh orang Indonesia. Gak tahu apakah dia pertama keluar negeri atau iseng saja. Yang jelas dia diomelin 👍👍

  4. Walah walaah. Seru banget ya bisa liburan sampe 4 hari 3 malem begitu. Detail banget pulak ceritanya ini, luar biasa mas Matius Nugroho nih ingatannya 😀

    Btw kalo ada lomba blog lagi berkabar ya mas, aku juga jadi ngiler nih, ngoehehe

  5. ha..ha.. emang susah kalau udah bisa nyetor pagi jam-jam tertentu pasti akan nagih… saya gak ngebayangin selam itu nahan mulesnya… pasti keringet dingin bercucuran…

    Gilran mau makan nasi keabisan… apalah arti hidup tanpa nasi * jiahhh lebay.
    seru… perjalanannya.
    btw. selamat ya udah jadi pemenang.

  6. Keren banget mas menang kompetisi viztrip, dan enak banget ya jalna-jalan gratis, btw biasanya orang thailand udah bisa komunikasi basic karena majunya industri pariwisata mereka, tapi beli makanan masih susah ya, mungkin ga banyak yang begitu 🙂

  7. Yang bikin saya selalu betah berlama-lama di sini adalah selain kisah perjalanannya itu, juga gaya menulisnya yang kocaaaak ajegileeee bikin senyum dan ngikik sendiri. Benar-benar backpacker sejati ini. Sukses terus ya dan semoga terus memenangkan berbagai kompetisi. Salut. Belum pernah nemu cerita telat pesawatnya ini (seperti akyu ditinggal pesawat :p qiqiqiq). Eh, jangan ya .. .jangan sampai ketinggalan pesawat!

    1. Ya.. setuju kak.. setuju gaya menulisnya yg kocak.. di setiap kisah perjalananny.. dn nambah ilmu.. hihihihi.. sukses trus bg..
      U/ ketinggaln pesawat jgn smpai lh ya.. 😊😊😊

  8. Nah ini yang gue tunggu-tunggu, cerita tentang perjalanan menang vizitrip.hahaha. perjalanan nahan boker di travel emang the best gie, gue pernah juga ngalamin hahaha. BTW kayaknya lo mesti belajar bahasa thailand dikit-dikit, kan sering kesana dan biar kaga usah bingung lagi kalo mau baca majalah trus nongol tulisan kayak cacing plus biar gampang pesen makan. hahaha. BTW part 2 nya bikin penasaran, lama ga maen ke blog lo gie, sok sibuk bener gue ya hahaha.

    1. Gue juga pernah boker di toilet kereta, terus panik karena susah disiram dengan tuntas xD

      Gue bisa dikit-dikit, tapi cuma sekadar percakapan ringan aja, sama sekali belum belajar huruf Thai :((
      Ada kursus bahasa Thailand murah nggak ya di Bandung?

      Hahaha, gpp bro. Gue juga kalo lagi banyak kerjaan juga cuma blogwalking dikit. Makasih udah mampir ya, part 2 terbit minggu depan.

      1. Belajar di youtube emang kaga ada yah? Soalnya kalo orang thailand ngomong inggris tp logat masih thai kan ribet juga didenger nya tuh. gue kmaren liat di youtube yg orang inggris di interview in sama reporter thailand, buset itu bahasa inggris level hardcore 😂😂😂

  9. Me to, kalau liat orang yg umurnya udah 50 ke atas tp energinya nggak abis2, diriku merasa tertampar. Wkwkwk
    Eh sehat 2 ya Mas, biar bisa jalan2 trus. Btw indomienya sukses bikin pengin buat sarapan pagi2 nih, hm :((

  10. Waaah keren Matiuss Juara! Selamat ya untuk pencapaiannya 🙂 siapa tahu tuh ada lomba blogging yang diadain sama Kedutaan Belanda, biasanya ada summer course 1-3 bulan di Belanda 😀 … Suksess ya!

  11. Penerbangan saya Kansai – KL tahun lalu dengan AirAsia, keadaan capek, tapi ga bisa tidur, dapat duduk di Aisle tengah Airbus 330 (konfigurasi 3-3-3). Klop sudah, dan saya mengalami mati gaya akut selama 6 jam, hahahaha. Jadi memang kalau penerbangan 4 jam ke atas cari promo full servis an aja masbro 😅 (kalau 3 jam saya relatif cukup tahan)

    Dan bandara Suvarnabhumi kalau apes chaoticnya juga mirip DMK -_- saya pertama take off dari sana pas Songkran 2018, untuk antri imigrasi udah sejam lebih, lepas imigrasi harus jalan gempor ke ujung gate di salah satu bandara internasional dengan konsep single terminal dan dengan luas yang juga ga kira-kira ._.

    1. 3 jam mungkin terasa cukup kalo bisa leluasa pesan makan minum, duduk di jendela, menyibukkan diri dengan foto/recording, dan baca-baca in-flight magz.

      nah, gue penasaran tuh gimana rasanya mendarat di bandara single terminal. mungkin kayak KLIA2 kali, ya.

  12. Keren mas menang lomba ke LN. Tiga jam itu masih cepat ya.. 12 jam itu berasa digemukkan di pesawat…Tulsannya informatif dan enak dibaca..Tahu2 selesai saja. Bakak sering mampir nih. Salam.

  13. Sebelumnya selamat Sudah menjadi pemenang, kereeen. Saya Sudah lama pingin nyobain Bangkok, bolak-balik ngerencanain sama temen eh batal lagi, penasaran sih seperti apa, seperti Indonesia juga ya soalnya Ada traffic jam hehe

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.