Bangkok, Thailand, Transportasi, Travel

Naik Perahu Menyusuri Kanal, Naik Kereta Membelah Angkasa Menuju Victory Monument Bangkok

sebuah perahu baru saja beranjak dari dermaga hua chang, bangkok

Setelah menghabiskan lebih banyak waktu dalam perjalanan di hari pertama dan disibukkan dengan agenda super padat di hari kedua dan ketiga, akhirnya tibalah hari keempat yang dinanti-nantikan itu. Hari Sabtu itu, 8 September 2018, adalah free day yang diberikan dari pihak penyelenggara tur Vizitrip kepada peserta. Karena gagal kulineran di malam pertama, di hari keempat ini gue bertekad mewujudkan itinerari pribadi ke Victory Monument dan Lumphini Park, Bangkok.

Walaupun merupakan agenda sendiri dan udah nggak ada lagi yang ngatur-ngatur, tapi gue tetep bangun jam 7 pagi biar nggak buang-buang waktu. Ngantuk sih, tapi gue semangat! Gue mandi dengan air panas, packing, sarapan, lalu check-out tapi meninggalkan backpack di resepsionis. Gue dan ketiga travelmate gue yang lain sudah memiliki agenda sendiri-sendiri, tapi ujung-ujungnya gue, Antika, dan Aldi menikmati sarapan bersama dalam satu meja karena nggak sengaja berpapasan. Mungkin jodoh.

:shy:

Selfie dulu sama Pak Aheng, tour guide kami, sebelum memulai penjelajahan gue sendiri

Gue udah 2 kali ke Bangkok sebelumnya, tapi gue belum pernah sama sekali naik perahu menyusuri kanal-kanalnya. Nah, kebetulan, Thomson Hotel & Residences Hua Mak ini deket banget sama salah satu dermaganya yang bernama The Mall Ram 3 Pier. Dari dermaga itu, gue bablas terus sampai mentok di dermaga Pratunam, ganti perahu ke arah Hua Chang, jalan kaki dikit ke Stasiun BTS Ratchathewi, barulah gue naik kereta ke Victory Monument.

Sounds adventurous, right? Makanya, baca terus cerita ini sampai habis. Buat yang lebih suka nonton video, silakan vlog-nya dinikmati, tapi jangan terus lewatkan tulisan ini karena ada banyak informasi yang nggak ada di dalam vlog.

Cara-cara membeli tiket BTS (Skytrain) juga ada di dalam video. Tolong kita samakan pemahaman dulu bahwa BTS di sini adalah singkatan dari Bangkok Transit System, bukan BTS boyband K-pop, bukan juga Bekasi Town Square, apalagi menara BTS.


Etape 1: The Mall Ram 3 Pier – Pratunam Pier

The Mall adalah pusat perbelanjaan yang berdiri persis di depan hotel kami. “Ram” adalah kependekan dari “Ramkhamhaeng”, yang mana adalah nama daerahnya. The Mall punya beberapa outlet di Bangkok, macam Hypermart atau Giant, tapi vendornya lebih variatif. Baca cerita selengkapnya di bagian pertama seri perjalanan #ViziTrip ini. Di Ramkhamhaeng ada 3 outlet The Mall, dan yang deket dengan dermaga adalah The Mall Ram 3. Sampai di sini, paham ya kenapa namanya The Mall Ram 3, wgwgwgwg. Dalam bahasa Thailand, kanal ini disebut dengan “khlong”, perahu disebut dengan “reu-a”, dan dermaga bisa disebut dengan “tha reu-a”.

the mall ram 3 pier
ramkhamhaeng soi 17, bangkok
suasana sendu pagi itu di dermaga

Ada banyak jalur perahu di Bangkok! Fungsinya udah kayak bus kota yang mengantarkan penumpang dari satu pemberhentian ke pemberhentian lainnya. Nggak heran, kalau Bangkok juga dijuluki sebagai Venice of The East. Jadi kalau kamu jalan-jalan di Bangkok, selalu cari tahu alternatif transportasi umum apa saja yang tersedia buat mencapai tempat tujuanmu. Siapa tahu, tempatnya jauh dari stasiun BTS atau MRT, ribet kalo mau naik bus, eh ternyata deket dermaga. Tapi gue mau kasih 1 petunjuk buat yang mau cobain naik perahu di Bangkok…

Perahu di Bangkok nggak cocok buat yang penakut atau mendamba kenyamanan.

Gue cukup amazed karena ternyata ada papan informasi rute di dermaga, walau ternoda aksi vandalisme. Kehadirannya memperteguh informasi yang gue peroleh dari Google Maps. Dermaganya simpel, tapi rapi dan bersih. Saat udah di dermaga itulah, gue baru sadar kalau ternyata kanal-kanal di Bangkok itu agak bau juga hehe, meski nggak semenyengat bau kali di Jakarta. Minimal, sungai dan kanal-kanal di Bangkok tetap mengalir lancar tanpa terhambat limbah rumah tangga, sampah masif pun nggak terlihat. Yah, kalo sampah tipis-tipis mah masih ada.

:peace:

babang ganteng aja mau desek-desekkan naik perahu loh

Karena saat itu hari Sabtu, gue pikir angkutan umum di Bangkok bakal lebih tenang daripada di hari kerja. Ternyata dugaan gue salah! Gue harus melewatkan 2 perahu begitu saja karena terlalu penuuuhhh. Gue nggak bisa berenang. Kalo perahunya sepenuh itu, ngelamun dikit kelar dah hidup gue! Barulah di perahu ketiga gue nekadkan diri buat naik, itu pun tetep penuh juga, gue nyempil berdiri di tepi perahu dan cuma pegangan sama satu tangan kayak naik mikrolet. Gue pelan-pelan meraih handphone dari saku celana sebelah kiri, memindahkannya dengan hati-hati ke tangan kanan tanpa melepas pegangan, lalu mulai merekam video dengan satu tangan. Gue was-was, berharap handphone jangan tercecer dari genggaman. Tonton videonya biar lo paham seberapa penuhnya perahu-perahu itu.

Inilah kenapa gue bilang mengapa perahu di Bangkok nggak cocok buat kamu yang penakut atau mendamba kenyamanan. Buat yang tertarik banget cobain, awak perahu akan menunggu sampai udah nggak ada lagi penumpang yang turun dan naik. Di setiap dermaga, dia akan menambatkan perahu selama beberapa menit. Saat perahu berjalan lagi, dia akan berdiri meniti dinding perahu yang rendah itu untuk meminta ongkos kepada penumpang-penumpang baru. Setiap awak perahu bertugas dengan helm pelindung dan baju pelampung. Gelaaakkk, life in Bangkok is rough, meeennn!

perahu arah pratunam yang selalu penuh. itu mas-mas sadar kamera banget, ya.
lama-lama beberapa penumpang turun dari perahu, jadi gue bisa merapat ke tengah.

Tapi, pengalaman naik perahu di Bangkok itu seru banget. Di sepanjang perjalanan, kita bisa menikmati kehidupan warga lokal Bangkok yang dinamis dan penuh warna. Naik perahu itu juga lebih cepet dan bebas macet! Gue jadi inget film Thailand berjudul Bangkok Traffic Love Story. Di dalam film itu, mbak Li mengombinasikan songthaew, ojek, taksi, minivan, BTS, dan perahu untuk mencapai kantor dari rumahnya.

Tips buat yang mau naik perahu di Bangkok, kamu harus hafal di dermaga keberapa kamu turun. Saat kondisinya penuh sesak kayak pengalaman gue, kamu nggak akan bisa ngecek nama dermaganya karena terhalang kepala-kepala orang lain, jadi harus dihafalin berapa jumlah dermaga yang harus dilalui. Sebagian besar dermaga ada di sebelah kiri, tapi ada juga yang di sebelah kanan.

Setibanya di dermaga Pratunam yang merupakan dermaga terakhir jalur itu, seluruh penumpang turun. Ongkos dari The Mall Ram 3 ke Pratunam cuma 15 THB atau sekitar Rp6.000-an, murah bangeeettt! Bandingkan kalo harus naik taksi atau Grab. Gue juga ikut turun, tapi sebentar kemudian gue udah buru-buru naik lagi ketika perahu arah Hua Chang datang. Tahu dari mana, Gie? Feeling aja sih, mengikuti kerumunan massa, hahaha.

:keren:


Etape 2: Pratunam – Hua Chang – Ratchathewi – Victory Monument

Hua Chang adalah stasiun berikutnya dari Pratunam, jadi perjalanan kedua dengan perahu ini memang singkat banget. Perahunya juga nggak seramai sebelumnya, tapi tetep aja gue berdiri karena nggak dapet tempat duduk. Kenek di perahu kedua ini adalah seorang pemuda berkulit cerah, sementara kenek di perahu sebelumnya adalah ibu-ibu paruh baya (yang sempat ngomong sesuatu ke gue dalam bahasa Thailand). Dari kacamata gue yang sesama cowok, babang keneknya udah tergolong ganteng untuk ukuran seorang kenek.

perahu dari pratunam menuju hua chang

Setibanya di dermaga Hua Chang, gue berjalan kaki melalui gang sempit yang diapit pemukiman penduduk untuk mencapai jalan raya. Beberapa menit kemudian, gue sampai di Stasiun BTS Ratchathewi. Nggak ada elevator naik dari arah kedatangan gue, jadi harus menapaki anak-anak tangga sampai ke stasiun.

tiba di hua chang, berjalan kaki menuju stasiun BTS

Tiket BTS dari Ratchathewi ke Victory Monument harganya 23 THB atau sekitar Rp10.000 dengan hanya melalui 1 pemberhentian. Jelas, jauh lebih mahal daripada ongkos KRL Commuter Line Jakarta, hahaha. Langkah-langkah membeli tiketnya dapat ditonton di video atau baca di artikel: Memahami Transportasi Publik di Bangkok


Ditegur Petugas di Stasiun BTS Victory Monument

Mungkin ada yang bertanya-tanya.

“Kenapa sih ngebet banget ke Victory Monument, Gie? Toh cuma monumen gitu doang, hanya bisa dilihat tanpa bisa diraba, bukan tempat terkenal pun.”

Gue suka dengan transportasi berbasis rel, khususnya MRT, LRT, monorel, trem, dan komuter, atau dengan kata lain: kereta yang beroperasi dalam ranah satu kota atau satu daerah. Nggak cuma suka naik kereta, melihat kereta bolak-balik dengan suaranya yang menderu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buat gue. Nah, Victory Monument adalah salah satu spot terbaik di Bangkok untuk berburu foto BTS (Skytrain).

berjalan kaki menuju stasiun BTS ratchathewi
ratchathewi BTS station, bangkok
menapaki anak-anak tangga di stasiun BTS ratchathewi
menikmati lalu lintas Bangkok dari stasiun BTS ratchathewi

Dari stasiun ini, kita bisa menikmati kereta-kereta angkasa merayap meliuk-liuk melalui jalur layangnya dengan latar monumen dan gedung-gedung tinggi. Hanya di titik-titik tertentu kita bisa melihat jalur rel BTS yang meliuk. Selain di stasiunnya sendiri, ada satu spot lagi di dekatnya yang menangkap momen kereta wara-wiri dengan apik, baca terus tulisan ini sampai habis!

Karena gue juga pengen mengambil foto diri sendiri dengan latar Victory Monument, maka gue keluarkan tripod dari dalam sarungnya. Namun belum juga gue selesai mendirikan tripod dengan sempurna, bapak penjaga stasiun datang menghampiri. Dengan bahasa isyarat dan bahasa Inggris yang sangat terbatas, dia menegur gue kalo tripod tidak diperbolehkan digunakan di stasiun, tapi kalo kameranya saja masih boleh.

single journey card, BTS Bangkok
ticket vending machine di stasiun-stasiun BTS Bangkok
akhirnya selfie di victory monument BTS station

Walaupun heran dan kaget ada peraturan semacam itu di Bangkok, gue tetep patuh dan melipat tripod gue kembali. Ya Lord, sia-sia gue bawa tripod sepanjang jalan sampai desek-desekkan di dalam perahu. Nggak ada juga orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto, semua calon penumpang ada di area peron, sementara gue ada di titik terujung stasiun. Ya sudah, selfie waelah!

:sigh:


Berbaur dengan Kehidupan Lokal di Victory Monument, Bangkok

Setelah cukup puas mengambil foto dan video di Stasiun Victory Monument, gue berjalan menghampiri bundaran Victory Monument melalui jembatan pejalan kaki. Inilah salah satu kelebihan Bangkok dibandingkan Jakarta, meski sekilas kelihatan sama aja. Stasiun-stasiun BTS, MRT, dan kereta bandara di Bangkok terhubung nyaman dengan tempat-tempat umum seperti mal. Jembatan penyeberangannya juga bersih.

commercial vendors, victory monument BTS station
mesin-mesin ATM di stasiun BTS
tangga-tangga yang menghubungkan peron dan concourse area di stasiun BTS victory monument

Turun dari jembatan, gue dihadapkan dengan sebuah pemberhentian bus besar di mana bermacam-macam bus dengan nomor dan warna yang berbeda-beda menaikturunkan penumpang. Persis di samping jajaran bangku-bangku tunggu bus, ada sebuah walking street kecil di mana kedai-kedai makanan dan lapak berjualan baju berjajar. Jalan kecil itu nggak terlalu ramai, teduh berkat naungan kanopi, membatasi area halte bus dan sebuah gedung rumah sakit.

Mengabaikan kawasan itu sejenak, gue terus berjalan untuk menemukan “harta karun” lainnya, siapa tahu ada spot menarik lagi. Gue lalu menemukan sebuah jembatan penyeberangan yang melintang tepat di depan Victory Monument! Sungguh titik yang sempurna untuk mengabadikan momen kereta BTS yang lalu lalang di atas potret sang raja.

the skytrain, skyscrapers, and victory monument
pemandangan dari arah sebaliknya di jembatan penyeberangan
pedestrian bridge yang menghubungkan stasiun BTS dengan bus stop victory monument

Gue kembali ke kawasan pertokoan kecil tadi. Tertarik dengan salah satu warung makan, tapi sama sekali nggak ada huruf latin, dan nggak yakin penjualnya bisa bahasa Inggris. Kebetulan saat itu gue lagi ngidam minum thai tea. Ada Dunkin Donuts dan 7 Eleven kecil, tapi nggak ada seating area, cuma outlet kecil kayak drive-thru store. Selama beberapa menit, gue wara-wiri nggak jelas, tengok kanan tengok kiri, berusaha mengira-ngira apakah warung makan itu menyediakan thai tea.

Setelah berasumsi bahwa nggak ada menu thai tea di kedai makan itu, perhatian gue lantas tertuju pada sebuah kedai minuman. Gue amat-amati menunya yang juga ditulis di aksara Thai itu, dari gambar-gambarnya kemungkinan dia jualan olahan kopi. Gue nggak yakin apakah dia punya thai tea, tapi gue beranikan diri buat datang menghampiri dan berkata, “Cha yen?”

walking street kecil di dekat victory monument
kedai makan yang berkali-kali gue perhatikan
akhirnya beli thai tea dari mamah muda ini

Syukurlah gue masih inget bahasa Thailand-nya thai tea, yaitu “cha yen”. Ternyata mbak-mbak penjualnya sama sekali nggak menyahut sepatah kata pun, hanya mengangguk singkat lalu kembali sibuk bekerja. Itu berarti thai tea-nya ada! Saat pesenan gue udah mau rampung, dia hanya memberi sebuah lirikan singkat. Bhaique. Dia mengulurkan thai tea dalam cup berukuran besar yang dibalut kantung plastik tipis sembari mengatakan harga dalam bahasa Thailand. Nah ini, harganya lupa gue catat, tapi pokoknya murah banget buat thai tea segede itu! Kayaknya 20 atau 30 THB.

:confused:

Thai tea berukuran besar itu gue nikmati dengan duduk di halte layaknya seorang warga lokal yang sedang menunggu bus. Mengamati bus datang dan pergi. Mengamati orang-orang naik dan turun, ke sana dan ke situ. Menunggu balasan dari Paul, host gue saat gue pertama kali ke Bangkok tahun 2015, yang mau ketemu gue di Bangkok. Mengamati ibu-ibu penjaga kebersihan yang menyiram air ke atas trotoar, lalu menyikatnya. Ketika Paul akhirnya memberi kabar bahwa dia nggak bisa datang seperti yang dijanjikan sebelumnya, maka saat itu jugalah gue bangkit berdiri dan berjalan kembali menuju Stasiun Victory Monument. Dia mengaku bangun kesiangan dan, kalo gue gigih menunggunya siap, dia takut gue akan ketinggalan pesawat.

kiri: thai tea jumbo yang mengenyangkan
kanan: suasana kereta BTS yang tak pernah sepi
ibu-ibu yang membersihkan trotoar dengan tekun
sampai bertemu lagi, victory monument. kau menjadi tempat favorit baruku.

Batalnya bertemu Paul pagi itu sama sekali nggak membuat gue marah atau memperburuk suasana hati. Syukur kalo bisa bertemu, batal pun nggak masalah. Gue sangat menikmati kunjungan gue di Victory Monument, senang rasanya bisa menjadi seperti warga lokal meski hanya dalam waktu beberapa jam. Dari Victory Monument, gue melanjutkan rencana ke agenda berikutnya: Lumphini Park.

Iklan

77 tanggapan untuk “Naik Perahu Menyusuri Kanal, Naik Kereta Membelah Angkasa Menuju Victory Monument Bangkok”

  1. Semoga kalau ke Bangkok lagi akan ketemu dengan Paul ya, Mas Nugie. Jadi ingat drama Korea yang aku lupa judulnya mengenai seperti ini. Sudah lama dia menunggu temannya di cafe Terminal tapi akhirnya temannya bilang nggak bisa datang. Dianya juga cool sih, melanjutkan perjalanan sambil bersiul-siul

  2. Udah 2x aja mas ke Bangkoknya.
    Saya sekali aja belum
    Makanya baru bisa mimpi dulu buat kesana. Hahahha 😆

    Btw walau deg2 ser di perahu tapi tetep nekat ya buat ngambil Hp dan ngerekam video.
    Memang bener2 totalitas tanpa batas wkwkw :mrgreen:

    Semoga nanti bisa ketemu Paul ya mas di trip berikutnya 😁

  3. Pengetahuan gue bener-bener terbatas gie, gue baru tau kalo di thailand itu perahu udah kayak naik bus. Bebas macet itu. Gue agak salah fokus sama kondisi kebersihan disana, keren juga yah tiap sudut yang gue perhatiin di dermaga ataupun halte (atau terminal bus yah itu) rapi bebas sampah ga kayak di ehm, indo. Tumben lo ngidam thai tea, kirain gue ujung-ujung nya lo hajar juga itu kopi, ternyata twist ending hahaha.

  4. Sepanjang baca aku terkenang lagi perjalananku ke Bangkok 2013 lalu saat pecah telor paspor. Auranya jadi ikutan kerasa apalagi pas liat foto-fotonya.

    Saat itu aku cuma ngerasain naik perahu gede buat nyeberang ke Wat Arun. Walaupun aku ga bisa berenang, jadi penasaran nyobain versi kecil ini. Kayak di Musi sih tapi ini perahunya lebih panjang.

    Soal tripod, aturan yang aneh. Tongsis boleh dong tapi?

    1. Keren pecah paspornya di Thailand, aku sih di Singapura aja like many people do 😀

      Naik ferry di Chao Praya juga pernah. Selain yang nyeberang Wat Arun, juga pernah dari Wat Pho ke Sathorn (Saphan Thaksin). Itu juga seru dan penuh sesak!
      Tongsis, hm, nggak tau. Kayaknya boleh.

  5. Ini perahunya lwatin kanal yaa. Berarti aku belum pernah cobain nih. Yg pernah aku coba, perahu2nya melewati dermaga2 di sungai chao praya mas. Itu juga terhubung ama banyak tempat wisata, dan ada tike terusan seharian juga. Seru juga ituuu.. Suka deh aku.

    Kalo ke bangkok memang ga usah takut susah masalah transportasi. Srmua terhubung baik ya antara perahu, bts, dll. Connect ke mall pula, jd kalo capek bisa ngadem hahahah.

    Next ke bangkok coba ke museum forensic siriraj mas. Isi museumnya bikin merinding 🙂 . Semua mayat2 mulai dari bayi, org dewasa, anak2 sampai bekas napi yg dihukum mati. Semua real mayatnya, diawetin sih. Namanya forensic, jd ttg bagian2 tubuh. Tp serem aja pas tau srmua bagian organ dan mayat yg dipajang trnyata beneran mayat 😮

  6. Ini perahunya lwatin kanal yaa. Berarti aku belum pernah cobain nih. Yg pernah aku coba, perahu2nya melewati dermaga2 di sungai chao praya mas. Itu juga terhubung ama banyak tempat wisata, dan ada tike terusan seharian juga. Seru juga ituuu.. Suka deh aku.

    Kalo ke bangkok memang ga usah takut susah masalah transportasi. Srmua terhubung baik ya antara perahu, bts, dll. Connect ke mall pula, jd kalo capek bisa ngadem hahahah.

    Next ke bangkok coba ke museum forensic siriraj mas. Isi museumnya bikin merinding 🙂 . Semua mayat2 mulai dari bayi, org dewasa, anak2 sampai bekas napi yg dihukum mati. Semua real mayatnya, diawetin sih. Namanya forensic, jd ttg bagian2 tubuh. Tp serem aja pas tau srmua bagian organ dan mayat yg dipajang trnyata beneran mayat 😮

    1. Iya, kak. Yang perahu besar di Sungai Chao Praya juga pernah cobain dari Wat Pho ke Wat Arun (PP) sama dari Wat Pho ke Sathorn, ini yang jauh haha.

      Pernah denger museum itu, nggak tau apakah akan kuat liatnya xD
      Tapi rekomendasinya well noted. Makasih udah mampir, kak.

  7. Meski kecewa tak boleh pakai tripod..meski kecewa tak jumpa Paul..tetap bisa asik ya menikmati itenary pribadinya…. Tapi liat isi penumpang kapal banyak gitu,ngeri ngeri sedap juga eii..hahah

  8. Aku waktu ke Bangkok nggak sempat naik perahu. Waktu ke Grand Palace juga -yang kata orang-orang harus naik perahu eh aku kok naik taksi aja udah nyampe.
    Mungkin harus diagendakan liburan ke Bangkok biar bisa puas jalan-jalan dan keliling kota. Sama…mwakan-mwakan. Kuliner Bangkok selalu menggiurkan buat aku 🙂

  9. Welaah meski udah nunggu hingga perahu ke 3 tetep penuh juga tah.. Dan itu ngeri bgt buat aku yg nggak bisa renang karena nggak pakai life jacket. Wkwkwk

  10. Pas baca bagian “Nggak cocok buat yang penakut” heran, emang kenapa sih? Ombaknya gede-gede gitu po?
    Ternyata penumpangnya sepenuh itu. Udah kek KRL di Jakarta. APalagi nggak dikasih life vest ya? Wa itu nek perahune kebalik atau kita kejebur yo modyar wwkwkwk
    Ada potensi kecopetan di dalem perahu nggak, mas Nug?

  11. Senang ya punya banyak alternatif moda transportasi.

    Kalau pendapatmu, kira-kira kapan Jakarta bisa memanfaatkan sungainya sebagai salah satu moda transportasi?

  12. Wahhh baru tahu ada tempat serapi itu di Victory Monument — kalau nggak salah waktu itu, ke Victory monument cuma mo naik bus ke terminal apa gituh yang ada bus ke Krabi gituh 🙂

    Btw, di perahunya ada baju pelampungnya nggak Gie?

  13. Aku jadi penasaran pengen cobain juga naik perahu menyusuri kanal-kanal di Bangkok. Kayaknya seru juga, berasa kayak naik angkot tapi di sungai ya.. Bagian kudu nginget2 dermaganya juga seru tuh..

  14. Haduhh udah bawa tripod tapi nggak kepakai ya mas? *selfie menjadi kuntji* ahaha
    Aku jadi penasaran sama Thai Tea “cha yen” di sana, sama nggak rasanya? Soalnya susu kental manisnya itu juga sama di sini deh :p

  15. Penginapan gue dulu jaraknya cuma satu stasiun dari Victory Monument. Emang kawasan ini tuh kayaknya BTS Station teramai ya. Tapi seru jadinya.
    Btw, gue belum pernah tuh naik angkot perahu di sana. T.T

  16. Aku sempat kenalan sama dua orang trekker Thailand waktu aku trekking ke Annapurna Base Camp di Nepal dua tahun lalu. Dan mereka nyaranin juga seandainya aku ke Bangkok lagi harus cobain moda transportasi sungainya. Buat seru-seruan lah, biar tau sudut Bangkok lainnya. Dan kayanya memang seru ya Gi, sekalian berbaur dengan warga lokal. Hmmm seru juga nih buat hunting street photography.

  17. Angkot perahu, lucu juga yak? Sebagai orang yang suka tantangan ku jadi tertarik deh, walo nggak bisa renang jugak sih ahahaha. Terus bayangin, kalo di Jakarta ada angkot perahu kaya gini isinya ciwi-ciwi pake highheels yang mau ngantor, lucu juga kali.

  18. Andaikan saya tidak tinggal di Ende tapi tinggal di Denpasar saja, misalnya, sudah senang banget karena tiket ke negara-negara Asia jauh lebih murah hahaha Keluar dari Flores pakai pesawat menghabiskan sekitar 3 – 5 juta tergantung maskapainya dududududdd…

    Sekarang kita toss dulu, karena SAMA-SAMA TIDAK BISA BERENANG ;p

    Dan agak aneh ya sama aturan soal tripod dan kamera. Tripod tidak boleh dipakai, kamera boleh. Benar-benar aneh 😀

    1. Yok nabung dulu, kak. Biar sekalinya cuti, langsung dimanfaatin buat long trip ke negara-negara Asia 😀

      Hahaha, TOS!
      Iya lho, padahal itu tripod juga buat selfie doang, biar aku bisa foto dengan latar Victory Monument ngonoo.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.