[SUPERTRIP #3] Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau, Melihat Sisi yang Tak Terduga

Sesaat setelah gue melangkahkan kaki ke luar gedung Macao International Airport, gue disambut dengan hembusan angin yang cukup kencang. Kata aplikasi di smartphone, suhu Macau saat itu adalah 26°. Kurang lebih sama kayak cuaca sehari-hari di Bandung, tapi versi lebih berangin. Tahun 2014 lalu, gue pernah mengikuti sebuah lomba blog dengan hadiah perjalanan ke Macau yang saatnya saat itu nggak membuahkan kemenangan. Siapa sangka, 5 tahun kemudian, gue bisa benar-benar mewujudkan mimpi ke Macau dengan uang gue sendiri.

Baca cerita sebelumnya: Persiapan Solo Traveling 4 Hari 3 Malam di Hong Kong dan Macau

Ada dua halte di depan bandara. Halte tempat naik bus MT4 adalah halte yang berada di sebelah depan kiri, sementara halte yang persis di depan pintu keluar adalah tempat naik bus AP1 menuju Passengers Ferry Terminal. Kalo ragu, cek aja daftar nomor rute bus yang ada di halte. Bus MT4 inilah yang digunakan kalo kamu mau turun di Hou Kong Hotel (kayak gue), Macau Masters Hotel, Best Western, Manva Hotel, Sanva Hotel, Vila Universal, Sofitel Macau Ponte 16, 5footway Inn Ponte 16, Kameng Vila, dan beberapa hotel kecil lainnya. Nama haltenya adalah Rua das Lorchas (火船頭街) yang berada persis di depan Macau Masters Hotel.

Nah, daerah tempat Bandara Macau ini berada adalah Taipa. Kasino-kasino dan resor ternama kayak The Venetian, City of Dreams, Parisian Macau, dan Galaxy Macau ada di kawasan Cotai Strip yang deket sama bandara. Itinerary idealnya, gue eksplor kasino-kasino itu dulu sebelum check-in ke hotel, apalagi saat itu kondisinya udah malem, di mana gemerlap kasino dan hotel mewah Macau menunjukkan keindahannya. Tapi karena saat itu udah jam 9 malem dan gue udah capek banget, besok rencananya mau bangun pagi-pagi buat eksplor Macau, maka gue memilih buat langsung menuju ke hotel malam itu. Jadi, gue hanya menikmati keindahan gedung-gedung itu dari balik jendela kaca bus 😭😭😭


Perjalanan Naik Bus Dari Bandara Macau Menuju Hou Kong Hotel

Busnya agak lama datengnya. Begitu dateng, gue masuk dari pintu depan, setor kencrengan 6 MOP ke dalam kotak, dan duduk di barisan kursi yang agak tinggi. Biaya naik bus jauh dekat di Macau adalah 6 MOP atau sekitar Rp12.000,00. Warga lokal biasanya punya kartu Macau Bus Pass yang tinggal di-tap saat masuk dan keluar. Busnya nyaman, bersih, dan ber-AC. Kekhawatiran gue akan turun di halte yang salah terpatahkan karena ada passenger announcement di dalam bus dalam bahasa Inggris, Cantonese, Mandarin, dan dialek lain yang gue nggak paham. Pokoknya ada banyak bahasa dari PA di dalam bus. Kalo nggak salah ada bahasa Portugis juga.

Armada bus di Macau yang nyaman dan modern

Macau is where old meets new

Gue pikir nggak banyak orang yang naik angkutan umum di Macau, karena gue kira warganya kaya-kaya. Apalagi dari depan bandara cuma ada 2 penumpang lain yang naik bareng gue. Kondisi di dalam bus pun sepi, masih banyak kursi kosong. Tapi ternyata mendekati pusat kota, khususnya saat bus berhenti di halte-halte dekat kasino atau resor terkenal, eh banyak warga lokal sama turis Tiongkok yang naik. Bus pun lama-lama jadi penuh sampe pada berdiri penuh sesak.

Perjalanan menuju Hou Kong Hotel di pusat kota Macau ternyata lama juga, mungkin sekitar 40 menit. Selain gedung-gedung kasinonya, gue juga perhatikan jalur LRT  yang sedang dibangun.  Stasiun-stasiun dan jalur layangnya udah keliatan bentuknya. Ini artinya Macau bakal semakin ramah buat wisatawan rendah biaya! Gue juga banyak melihat jembatan penyeberangan dengan eskalator. Ternyata infrastruktur yang dibangun pemerintah di Macau udah sangat baik.

:good::good:

Jembatan penyeberangan di dekat Hou Kong Hotel, Macau

Melihat jalanan Macau dari atas jembatan penyeberangan

Saat gue tiba di halte Rua das Lorchas, gue sempet kebingungan beberapa menit buat mencari Hou Kong Hotel. Gue udah insert Worldwide SIM Card yang gue beli dari Passpod, tapi sinyal internetnya belum terdeteksi. Hanya ada huruf R (roaming) di atas indikator sinyal seluler. Udah gue coba restart dan utak-atik pengaturan internet, tapi nggak berhasil. Beberapa saat kemudian baru gue temukan caranya, akan gue ceritain di bawah.

Karena saat itu belum terhubung sama internet, maka satu-satunya yang gue andalkan adalah tuntunan langsung dari Tuhan. Gue coba masuk ke dalam Macau Masters Hotel buat nanya ke resepsionis, tapi sama sekali nggak ada orang. Kemudian, ada dorongan buat melihat sekeliling.

Eh, itu tulisannya Hou Kong bukan? Batin gue, tertarik dengan sebuah bangunan di seberang jalan.

Gue lalu menyeberang melalui zebra cross. Sebetulnya ada jembatan penyeberangan, tapi sedikit lebih jauh hehe. Sebagai rakyat negara berflower bernama Indonesia, biasalah yaaa, sebelum nyeberang gue jalan dulu timik-timik sampai nggak ada lagi kendaraan dalam jarak dekat. Saat itu, gue mau nunggu satu sepeda motor buat lewat lebih dulu. Ternyata apa, sodara-sodara? Motornya melambatkan lajunya, tau kalo gue ini mau nyeberang jalan. Terpujilah kau, wahai warga Macau yang sangat menghargai pejalan kaki! Gue pun menyeberang jalan dengan aman sampai tiba di tempat tujuan.

Ternyata benar, bangunan itu adalah Hou Kong Hotel.

:wow::wow:

Hou Kong Hotel Macau tampak depan
(source: Agoda)

Gue percaya, bukan kebetulan jika saat di bandara Tuhan memberi hikmat untuk bertanya pada petugas Macau Tourism Center. Bukan kebetulan bila saat tiba di halte, gue melihat ke arah yang tepat dan menemukan hotel tanpa bantuan Google Maps atau bertanya sama warga lokal. Matur nuwun, Gusti Yesus. Kau menyertai perjalananku 😇😇😇


Keluyuran di Malam Hari, Melihat Sisi Macau yang Lain

Satu sisi hati ini berkata, “Gie, malem ini udah capek banget. Istirahat aja lah, bodo amat nggak eksplor Macau di malam hari.” Sementara sisi lainnya bilang, “Hey, lo cuma semalem di Macau dan nggak tau kapan bisa ke sini lagi. Ayolah, jalan dulu aja bentar, sesanggupnya, daripada nanti nyesel.”

Saat itu, kata hati kedualah yang gue menangkan.

Maka setelah check-in, naroh bawaan di kamar, dan ganti baju, gue semangati diri sendiri buat keluar menjelajah daerah sekitar hotel.

Saat di dalam kamar itulah gue berhasil menemukan cara buat mengaktifkan internet. Caranya adalah dengan mengaktifkan opsi Connect to Data Services When Roaming. Fyi, hape gue ini hape murah seharga Rp 1,7 juta yang belum 4G, gue beli tahun 2017. Mungkin kalo hape kamu 4G, bisa langsung konek ke internet dengan SIM card ini. Worldwide SIM Card dari Passpod ini harganya Rp120.000,00 dengan kuota 2 GB per hari buat 7 hari! Mantep, kan?

SIM card dari Passpod gue terima beberapa hari sebelum keberangkatan gue ke Macau. Nggak ada biaya pengiriman lho, alias free delivery. Worldwide SIM Card ini bisa dipake di lebih dari 80 negara dengan kecepatan 4G LTE, tsay. Nggak perlu aktivasi atau register ina inu, tinggal dimasukin terus enak. Enak internetan maksudnya. Kartunya juga udah diatur supaya gampang dipotong dalam bentuk sim biasa, micro sim, atau nano sim. Jarum buat menekan slot sim card juga ada di dalam paket.

Kelengkapan Worldwide SIM Card dari Passpod

Ada diskon 10% buat pembaca setia blog ini dengan memasukkan kode NUGI23 di atas. Berlaku buat pembelian SIM Card sampai Agustus 2019, periode perjalanan kapan aja! Merasa teberkati dengan diskon ini? Share artikelnya ya.

Sesuai itinerary yang gue bikin sendiri, malam itu gue berencana buat jalan kaki sampai ke Nam Van Lake dan Macau Tower. Karena di Macau ini banyak gang dan jalan kecil, terus Google Maps juga nggak terlalu akurat, gue kebingungan membaca rute ke Nam Van Lake. Tapi gue berusaha memahaminya, dan berjalanlah gue ke arah Sofitel. Gue sempat naik ke atas jembatan penyeberangan untuk mengambil foto jalanan kota. Hasilnya nggak mengecewakan, gue cukup puas dengan hasil jepretan diri sendiri. Gue juga berhasil mengabadikan momen saat Rua das Lorchas dalam keadaan lengang: salah satu potret jalanan di kota-kota Asia yang senang gue nikmati. Gimana menurut kamu?

Rua das Lorchas, Macau, yang sedang lengang

Mengintip jalanan Macau dari jembatan penyeberangan

Sofitel Macau at Ponte 16 dari jembatan penyeberangan

Sofitel Macau at Ponte 16 dari dekat

Fasad Sofitel Macau at Ponte 16 yang megah bak kuil Yunani

Macau tampak bersahaja saat itu. Sepeda-sepeda motor matic berjalan berseliweran bersama mobil dan bus-bus kota. Hotel-hotel mewah berdiri berdampingan, atau berhadap-hadapan, dengan rumah-rumah susun lusuh yang terkikis usia. Gue terus berjalan hingga tiba di sebuah jalan kecil dengan tempat-tempat makan rakyat di sisi kiri dan gedung parkir bertingkat di sisi kanan. Saat itulah gue sadar bahwa gue salah araaahhh! Nam Van Lake ternyata berada di arah sebaliknyaaa.

Gue berbalik arah. Ketemu lagi sama Sofitel Ponte 16, lewat lagi di depan Macau Masters Hotel, lalu gue menyeberang jalan dan sampai di sebuah taman bernama Praca de Ponte e Horta (柯邦迪前地). Taman ini diapit oleh jalan kecil berlapis batu dalam bentuk persegi. Trotoarnya lebar, bersih, dan rapi, juga berlapis batu namun dalam balutan warna cerah yang dihiasi motif lengkung. Melihat lanskap ini, didukung dengan pencahayaan dari lampu yang temaram, membuat gue seolah berada di sebuah kota di Portugal atau negara-negara Mediterania lainnya.

Taman di Macau yang nggak sengaja ditemukan, romantis ya?

Hotel & kasino Grand Lisboa yang megah sebagai latar taman

Suasana jalanan memang lengang, namun beberapa warga lokal bersantai di taman. Ada kolam memanjang di tengah taman, dari titik itu gue bisa melihat Grand Lisboa yang berdiri megah dengan lampu-lampunya yang gemerlap di balik rumah-rumah susun warga.

Gue berjalan melalui taman mengikuti panduan Google Maps menuju Nam Van Lake. Lepas dari mantan taman, gue terpana melihat lanskap yang ada di depan gue. Bukan, bukan lanskap yang spektakuler. Hanya sebuah jalan 2 lajur yang menanjak, rapi, bersih, dan lengang, di antara kawasan pemukiman warga. Entah kenapa, kalo gue nonton film atau serial Jepang dan Korea, gue selalu suka jika ada scene di tempat-tempat seperti ini. Bingung sama selera gue? Sama gue juga 😅😅😅

Jalan kecil Macau yang menanjak, maaf blur

Area pemukiman Macau yang sepi dan temaram di malam hari

Gue terus berjalan menyusuri jalanan kampung selebar 2 lajur itu, yang kadang naik kadang turun, kadang berkelok. Namun yang pasti, jalan dan trotoarnya dalam kondisi rapi dan bersih, nggak seperti di area sebelumnya yang nggak terlalu bersih. Nggak banyak orang lain yang hilir mudik, namun gue sama sekali nggak merasa was-was meski pencahayaan juga temaram. Gue merasa seperti blusukan di kampung-kampung Jogjakarta yang sepi lepas jam 10 malam, apalagi saat ketemu area parkir sepeda motor.

MONMAAP, INI MACAU APA BELAKANG MALIOBORO?

Orang Macau ternyata banyak yang pake sepeda motor matic

Suasana Macau larut malam yang menyenangkan untuk ditelusuri

Saat waktu udah menunjukkan jam 11 malam dan gue masih cukup jauh dari tujuan, gue memutuskan untuk berjalan balik ke Hou Kong Hotel. Di tengah perjalanan, gue masuk ke sebuah swalayan dan membeli air mineral 1 liter seharga 3,5 MOP atau sekitar Rp7.000,00. Muraaahhh! Mosok yang 600 ml harganya 3 MOP, ya mending nambah dikit dapet yang seliter. Air ini penting karena pihak hotel nggak menyediakan air minum, baik di kamar atau di communal room. Ada, tapi harus beli dan muahaaalll 🙄🙄🙄

Gapapa nggak sampe Nam Van Lake, gapapa gagal ke Macau Tower, malam itu Macau menampilkan sisi lain dirinya yang selama ini nggak pernah gue pikirkan, memberikan cerita yang nggak akan gue lupakan. Meski capek dan pegel, gue berjalan gembira menuju Hou Kong Hotel. Gue membuat keputusan yang tepat malam itu. Andai gue memilih bersantai di hotel, potret-potret di atas nggak akan gue dapati. Gara-gara penemuan tak terduga ini, gue jadi pengen ke Macau lagi buat benar-benar eksplor Macau (bukan hanya sebagai stopover sebelum ke Hong Kong). Ah, Macau, malam itu kau sungguh membuat gue terpukau…

Iklan

50 komentar

  1. Suka nih sama tulisannya. Ini baru namanya explore pas traveling, membagikan kisah yang enggak semua traveler lain bisa rasain. Bisa jadi inspirasi tulisan buat di blog pribadi nih. Hehehe. 😀

    1. Trimakasih, Sintia. Aku memang suka eksplor kota (apalagi di luar negeri), jadi tiap sudut buatku menarik.

      Yok bagikan penjelajahanmu juga 🙂

      1. Keren, Kak! Ditunggu cerita perjalanan selanjutnya, ya. 🙂

      2. Siaaappp! Draft-nya udah banyak di blog, tinggal publish 😙

      3. Mantap. Ditunggu, Kak!

  2. etybudiharjo · · Balas

    Oleh2 cerita kek gini yg selalu ku nantikan . Bedewey air mineral nggak di Macau nggak di Jakarta mahal yak.

    1. Berarti Macau murah dong mbak, harganya kayak di Jakarta 😁

      Makasih ya udah mampir

  3. Memang hasrat explorenya gak bisa di ajak kompromi padahal udah capek haha, keren mas, eh iya dirimu itu solo traveling itu mas?

    1. Iya solo traveling, mas. Hehe

  4. Aku juga seneng trolling around the city, baik malam maupun siang. Karena menurut aku, atmosfirnya gak sama. Terima kasih jadi terinspirasi untuk insert Macau into my bucket list 🙂

    1. Betul sekali, mbak. Tiap kota, tiap negara, itu punya atmosfernya sendiri!

  5. setelah baca beberapa artikel, gw baru sadar kalo gw pernah mampir kesini pas cari contoh tulisan untuk buka jasa open trip.
    dan dari beberapa artikel yg gw baca, tulisan nya cakep deh. punya khas sendiri setiap ceritain detail perjalanan.
    kalau trip keluar juga suka banget keliling sekitar. tapi kadang lupa dokumentasi aja. hahaha

    1. Terima kasih apresiasinya, mbak. Iya, karena menurutku yang berbeda itu adalah pengalaman kita sendiri. Jadi kalo ujung-ujungnya dibuat seperti artikel, ya udah banyak yang seperti itu 😀

      Ayo ayo, insting dokumentasinya harus lebih dikuatkan 🙂

      1. kadang menikmati tanpa dokumentasi itu punya kepuasan tersendiri. hehehe
        ada sisi pelit ingin berbagi di dunia tulisan kadang2, dan menikmati percakapan dg dua cangkir kopi. hahahaha

        mungkin semua orang bisa mengunjungi kota yg sama, tapi semua orang pasti punya ceritanya sendiri #quotedadaqan

      2. Hehe, tiap orang memang beda-beda ya. Kalo aku anaknya memang suka share, baik itu ngobrol atau melalui media.

        Yoklah pankapan kalo ada kesempatan kita berbincang di warung kopi 🙂

      3. waaah boleh tuh…kebetulan ada wacana ke Jkt awal bulan Juli. Mau cobain Alaric Coffee

      4. Berkabar aja ya 🙂

  6. Wah kalo malam sepi ya, klo siang gimana? Tapi sepertinya aman. Btw ini solo travel ya? Ngga sekalian ikut main ke kasinonya?

    1. Kalo siang rame dan macet tapi cuma di kawasan touristy aja, mbak. Gang-gang pemukiman kayak gini tetep tenang.

  7. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    passpod memang baguuuuus. pas ke jepang kemarin aku sewa modem nya mas, bisa dipake unlimited sampe 14 hari. lancar jayaaaa.. puaaas lah. apalagi dipake berdua, ttp ga ada masalah. kayaknya kalo aku traveling lg, bakal pake mereka lg sih.

    btw, aku nyesel pas ke macau ga nginep. cm bungee jumping itu doang, kliling kotanya sampe sore, trs balik ke HK. ternyata memang bgusan macau yaaaa. berasa ga lg di negara asia :p. portugisnya kental banget. dan suka juga ama jalan2 di sana yg lbh rapi dan sepi.
    .
    akupun baru inget sisa MOP ku masih banyak wkwkwkwkw. memang hrs balik ntr, dan harus nginep kalo bisa ke macau lagi

  8. Fanny Fristhika Nila · · Balas

    passpod memang baguuuuus. pas ke jepang kemarin aku sewa modem nya mas, bisa dipake unlimited sampe 14 hari. lancar jayaaaa.. puaaas lah. apalagi dipake berdua, ttp ga ada masalah. kayaknya kalo aku traveling lg, bakal pake mereka lg sih.

    btw, aku nyesel pas ke macau ga nginep. cm bungee jumping itu doang, kliling kotanya sampe sore, trs balik ke HK. ternyata memang bgusan macau yaaaa. berasa ga lg di negara asia :p. portugisnya kental banget. dan suka juga ama jalan2 di sana yg lbh rapi dan sepi.
    .
    akupun baru inget sisa MOP ku masih banyak wkwkwkwkw. memang hrs balik ntr, dan harus nginep kalo bisa ke macau lagi

    1. Passpod memang bisa diandalkan ya, hehe.

    2. Temenku malah lebih suka Macau daripada Hong Kong. Di luar kasino-kasino mewahnya, Macau itu tenang dan nyaman.

      Betul, mbak. Di area heritage ini nuansa Portugisnya kental banget. Pantau blog-ku buat liat gimana Macau pas siang ya hehe.

  9. Nah ini salah satu tulisan yang say tunggu-tunggu bang hehe. Detail banget yah ceritanya dan bisa banget buat jadi pandual kalo kelak saya akan ke Macau. Terima kasih banyak abang 🙂

    1. Senang bisa bermanfaat, Pul. Trimakasih ya

  10. wah cerita traveling nya detail ya, tiap jalan, tiap gan ada fotonya juga. mantappp

    1. Terima kasih sudah berkunjung

  11. Aku selalu gagal kalo udah bertarung dengan Kasur dan hasrat untuk meluruskan kaki. Padahal kalau dipikir-pikir, nyesel juga ya. Karena explore tempat wisata di malam hari itu keren banget aslinya.

    -Fajarwalker.com

    1. Haha gapapa, selalu ambil hikmahnya aja, kamu jadi bisa istirahat.

  12. Akhirnya saya melihat macau dari sisi yang lainnya.

    1. Dan ternyata menarik!

  13. dgoreinnamah · · Balas

    Kenapa pilihnya worldwide simcard kalau hape kamu nggak 4G? Kenapa nggak yang portable mifi gitu?

    Saya tertarik pas kamu cerita ada escalator publik gitu. Kapan ya di Indonesia bisa ada yang begitu dan dirawat?

    Kayaknya jalan bareng kamu seru nih. Kapan-kapan lah ya direncanakan. Ahahaha

    1. Nah bang, aku jujur nggak paham kalo jenis sim card itu juga ngaruh ke preferensi sinyal hape. Sekarang baru ngeh hehe.

      Sayangnya di jembatan penyeberangan deket hotelku nggak ada eskalator. Apa mungkin ada tapi di sisi yang nggak aku liat ya.

      Haha mau jalan-jalan random sama gue yak? Ayo aja bang.

  14. […] Baca cerita sebelumnya: Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau, Menemukan Sisi yang Terduga […]

  15. Perjalanan seru. Kalau saya ga ada tempat bertanya nyari hotel bingung pasti udah bagus deh hahaha
    Apalagi bahasa serta tulisan banyak yg beda
    Foto malam tapi cantik. Apakah itu diambil dengan hp harga 1,7 jut ajuga?

    1. Iya ini bahasa dan hurufnya beda banget, huruf naga :((
      Kalo foto-foto sih dari kamera kak

  16. yak fix nanti kalo keluar negeri aku pake paspod tapi di semarang ada gih. Btw macau bersih deh ya. Biar kata banyak casino tapi kelakuan warganya lebih mending dari negara berflower, haha

    1. Free delivery kok, kak.

      Yes, area itu memang bersiiihhh. Macau ternyata hangat dan tenang. Tapi ada juga sih area yang kayak Glodok gitu.

  17. Kalo jalan eksplorasi kota pas malem gini kesannya waktu berjalan lambat ya, nggak kayak siang yang riuh. Suasananya beda, adem pun liat foto-fotonya, terutama yang taman itu. Aman ya kak di Macau jalan sendiri pas malam-malam gini? Liat gang-gangnya gak jauh beda sama di sini yaa..

    1. Aman banget kak. Iya kayak gang-gang di sini tapi rapiiii.

  18. Saya juga paling suka memotret jalan. Di mana saja. Tapi kalau jalan sendiri malam-malam, mungkin cuma berani di jalan besar ya. (Cewek soalnya, lebih banyak khawatirnya.) Tapi keren juga memotret daerah yang bukan daerah wisata. Biasanya, di situ justru lebih berasa jalan-jalannya.

    1. Aku emang suka eksplor, kak. Ke mana aja gapapa. Obyek anti mainstream gini jadi bisa melihat kehidupan lokal 🙂

      Kalo Macau aman kok buat jalan sendiri malem2 pun. Ada polisi di mana-mana.

  19. Nurul Sufitri · · Balas

    Wah, enak juga ya pake passpod dengan kuota 2 GB per hari dipake 7 hari nyam2 deh hehehehe. Emang berat kayaknya antara keoengen selonjoran di kasur hotel atau menelusuri kesunyian malam di Macau ya mas? Ga amau rugi karena cuma sehari aja, bagus deh keputisan jalan2nya. Jarang2 traveler begini. Keren, Mas Mathius! 😀

    1. Hehe, dan aku nggak menyesali keputusanku. Trimakasih sudah mampir, mbak

  20. Suasana malam di Macau menyenangkan ya Mas, malam-malam terasa tenang dan aman juga untuk dijelajahi. Kalau siang pasti hiruk-pikuk banget pasti ya..suka dengan artikelnya..

    1. Iya mbak, jadi merasakan Macau yang sesungguhnya. Kalo malem ramenya di dalam kasino sih hihi

  21. Yang paling aku penasaran banget adalah Venetian ini. Tempatnya kece banget cocok kalau liburan bawa keluarga ke sana.

  22. nggak nyasar baliknya ke Hou Kong Hotel? kan jalannya jauh begitu….
    aku sukanya eksplor itu kalau pagi, jenis morning person ya, he.. he.., saat penduduk kota pun belum bangun…., kalau malam cepat tepar ..

    1. Baliknya muter-muter juga kaaakkk hahahaha. Aku jalan kapan aja oke asal cuaca bagus dan mood oke.

  23. […] Baca ceritanya di: Larut Malam Menyusuri Gang-Gang Macau […]

Tinggalkan Balasan ke [#SUPERTRIP 3] Senado Square, Ruins of St. Paul’s, dan Makan Egg Tart di Margaret’s Cafe e Nata Macau – thetravelearn Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: