Tanaga Coliving Seminyak, Tempat Singgah di Bali yang Bikin Betah

Sudah lama Bali menjadi impianku dan Ara untuk bepergian. Ara belum pernah ke Bali, sementara aku? Terakhir kali ke Pulau Dewata saat masih duduk di bangku SMA. Artinya, ehem, kata anak Gen Z sudah zaman purba yang lalu. Apalagi, kami punya beberapa kawan baik yang siap menyambut dan menjamu kami selama di sana. Seminyak menjadi salah satu lokasi menginap yang diinginkan, dan setelah riset lebih jauh soal penginapan… aku tertarik dengan Tanaga Coliving.

Nama dan konsepnya unik, “coliving” — bukan hotel, resort, atau guesthouse. Aku pun mencari tahu dulu apa itu coliving, dan apa bedanya dengan konsep penginapan lainnya.

Dari namanya, “coliving” berarti “tinggal bersama”. Jadi, ia adalah konsep hunian yang menggabungkan ruang privat dan ruang komunal dalam satu ekosistem. Setiap tamu tetap memiliki kamar pribadi lengkap dengan kamar mandi, namun berbagi fasilitas bersama seperti dapur, ruang makan, dan area kerja. Konsep ini lahir dari kebutuhan gaya hidup modern, terutama bagi remote worker dan traveler jangka menengah (yang bepergian selama beberapa minggu), yang membutuhkan tempat tinggal fleksibel, fungsional, dan nyaman. Kalau ku sederhanakan, “coliving” ini adalah “kost-kostan” yang di-upgrade.

Berbeda dengan hotel konvensional yang berfokus pada pengalaman menginap jangka pendek, coliving dirancang untuk ritme hidup yang lebih panjang dan berkelanjutan. Ruang-ruangnya dipikirkan agar mendukung aktivitas sehari-hari: bekerja, beristirahat, bersosialisasi seperlunya, dan membangun rutinitas. Karena itu, coliving sering terasa lebih “hidup” dan personal, memberi rasa pulang tanpa harus benar-benar berada di rumah sendiri.


Alasan #1: Lokasi Tanaga Coliving

Alasan pertamaku ingin menginap di Tanaga Coliving adalah lokasinya. Bukan sekadar strategis, tapi pas.

Tanaga Coliving berada di dekat jalan raya, namun tidak persis di tepi jalan seperti pada umumnya. Ia sedikit masuk ke dalam jalan kecil, memberikan ketenangan dan atmosfer “live like a local” kepada penghuninya. Di sekelilingnya ada banyak restoran dan cafe termasuk Made’s Warung, Bo & Bun, dan Starbucks. Ke Pantai Legian? Hanya sepelemparan baru. Pantai Double Six dan Kuta juga dekat. Supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari juga ada. 

Strategis, tapi tidak melelahkan. Kita dekat ke mana-mana tanpa harus hidup di tengah kebisingan wisata. 

Tanaga Coliving ini relatif baru. Dibangun dan mulai beroperasi pada April 2022, Tanaga menghadirkan 20 kamar dengan desain kontemporer yang terasa matang sejak awal. Bukan sekadar “baru”, tapi terlihat dipikirkan dengan dalamnya. Bagaimana ruang akan digunakan, bagaimana orang akan tinggal, bekerja, dan beristirahat di dalamnya.


Alasan #2: Kamar Tanaga Coliving

Masuk ke dalam properti, kesan pertamaku adalah terang dan lega. Sirkulasi cahaya dan udara alaminya terasa kuat, berkat konsep semi-outdoor yang diterapkan di area bangunan. Di siang hari, kamar terasa hidup oleh sinar matahari, bukan oleh lampu yang menyala sepanjang waktu.

Secara fasilitas, kamar-kamarnya dilengkapi dengan AC, meja kerja yang proper, kursi yang nyaman, koneksi Wi-Fi cepat, smart TV, serta kamar mandi dalam dengan air panas dan dingin. Detail kecil yang menurutku penting adalah pemilihan desain dan material meja-kursi kerjanya. Sebagai pekerja remote, aku cukup cerewet soal meja dan kursi kerja. Banyak penginapan, bahkan hotel bintang empat sekalipun, yang menganggap meja kerja sekadar pelengkap. Terlalu pendek, kursinya tidak ergonomis, atau luasnya tidak mengakomodasi laptop lebar. 

Di Tanaga Coliving, meja dan kursi kerjanya terasa benar-benar dipikirkan untuk bekerja. Tingginya pas, kursinya nyaman untuk duduk lama, dan posisinya mendukung fokus. Buatku, ini adalah detail kecil di mana Tanaga menghidupi konsepnya sebagai sebuah coliving.

Aku suka bagaimana elemen kayu menguasai setiap sisi kamar, termasuk area kerja. Kesannya jadi hangat, tenang, namun tetap apik. 

Desain interior Tanaga Coliving cenderung sederhana, namun justru di situlah kekuatannya. Tidak ramai, tidak mencoba terlalu keras untuk tampil “instagrammable”. Warna-warna hangat, material yang bersih, dan tata ruang yang fungsional membuat keseluruhan tempat terasa apik dan tenang. Meski begitu, ia tetap terlihat berkelas, tidak seperti kost-kost bulanan biasa. 

Ini tipe desain yang tidak cepat melelahkan mata, dan sangat cocok untuk tinggal dalam jangka waktu mingguan atau bulanan. 


Alasan #3: Fasilitas Tanaga Coliving

Tanaga Coliving benar-benar menghadirkan nuansa home-feeling. Ada dapur bersama yang besar dan lengkap, area makan, ruang co-working yang luas, meeting room, hingga skype booth untuk kebutuhan call yang lebih privat. Bangunannya juga dilengkapi elevator, area rooftop, area parkir, dan sistem CCTV. Jadi kalau sedang jenuh bekerja di kamar, atau si kembar lagi kumat nge-reog, aku bisa melipir ke co-working space yang sama nyamannya. Luas, ada banyak pilihan kursi, estetik dengan elemen kayu, dan asri dengan banyaknya tanaman di sekitarnya.

Untuk keluarga kecil sepertiku, keberadaan kolam renang menjadi nilai tambah yang besar. Kolam ini bukan hanya elemen estetika, tapi ruang bermain yang menyenangkan terutama untuk si kembar, yang tentu butuh ruang untuk bergerak dan bermain. Walau mungkin tidak terlalu besar, tapi sudah cukuplah untuk menjadi tempat mereka bereksplorasi dan melakukan aktivitas bervariasi.


Sebagai sebuah coliving, Tanaga menerima reservasi menginap untuk harian, mingguan, dan bulanan. Untuk per malam, rate di Tanaga masih sangat affordable, mulai dari Rp500 ribuan saja per malam. Sementara untuk bulanan, saat ini rate-nya di kisaran mulai dari Rp12 jutaan saja. Tanaga Coliving memang menyasar digital nomad mancanegara untuk masa tinggal bulanan, jadi jangan samakan dengan harga kontrakan biasa ya. Tapi, yang jelas jadi jauh lebih murah daripada menginap 30 malam sebagai sebuah hotel, hehe.

Tanaga Coliving bukan tempat untuk sekadar tidur dan pergi. Ia menawarkan ruang untuk hidup—bekerja dengan fokus, beristirahat dengan tenang, dan menikmati Bali tanpa harus selalu terburu-buru. Dan di fase hidupku saat ini, tempat seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada sekadar hotel mewah. Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling~

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jurnal Evi Indrawanto

Traveling, Budaya, dan Lika-Liku Wirausaha.

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu