Drama Perjalanan Menuju Masjid Raya Al-Mashun Medan, Sumatera Utara

Mengntip Danau Toba dari Parapat View di pagi hari

Mengintip Danau Toba dari Parapat View di pagi hari

Malam sudah lekat, namun aku baru tiba menyongsongmu. Gelap belum terangkat, namun aku sudah harus berangkat meninggalkanmu. Maafkan aku, Toba. Tak banyak waktu tersisa untuk kita dapat bersua.

 

Jam 3 pagi, gue sudah harus terbangun dari tidur gue yang seadanya di Hotel Parapat View. Baru tengah malam tadi gue sampai di peraduan setelah seharian menjalankan tugas di Karnaval Kemerdekaan di Balige, Toba Samosir.

Dalam perjalanan dari Balige kembali menuju Parapat pun, gue nggak bisa tidur nyenyak karena harus melanjutkan tugas dan mengurus kepulangan. Gue baru tahu kalau tiket kepulangan gue ke Jakarta berangkat jam 9 pagi, dan itu berarti: gue harus cabut dari Parapat pagi-pagi buta. Bhay! Gue lalu buru-buru menghubungi Customer Service Garuda Indonesia untuk reschedule, berharap ada penerbangan menuju Jakarta yang lebih siang. Puji Tuhan, ada penerbangan jam 14:00, dan karena harganya sama, maka nggak ada penambahan biaya. Bersyukur masih bisa melakukan perubahan jadwal hanya beberapa jam sebelum keberangkatan.

Tapi masalah belum selesai karena terbatasnya transportasi dari Parapat menuju Bandara Kualanamu.

Masjid Raya Al-Mashun, Medan, dibangun 1906-1909

Masjid Raya Al-Mashun, Medan, dibangun 1906-1909

Ada bus panitia yang berangkat mengantarkan rombongan menuju Bandara Silangit, tapi buat besok. Gue hanya bisa mengandalkan Parapat Travel, jasa travel jadi-jadian satu-satunya yang kak Rea temukan buat gue. Melalui kak Rea, travel itu bilang bersedia jemput gue sekitar jam 3 pagi untuk diantar ke Bandara Kualanamu. Setelah mendapat perubahan jadwal, gue coba meminta keberangkatan lebih siang. Ya ngapain buru-buru sampai di Kualanamu kalau penerbangannya masih setengah hari kemudian? Tapi pihak travel berdalih macetnya perjalanan Parapat – Medan, bisa-bisa siang baru sampai — begitu katanya.

Gue dan kak Rea sih nggak percaya. Eng-gak-per-ca-ya. Itu bohong. Dusta. Ngibul. Ngapusi!

Masjid Raya Medan ini dibangun oleh Sultan Ma'mum Al-Rasyid Perkasa Alam, Kesultanan Deli

Masjid Raya Medan ini dibangun oleh Sultan Ma’mum Al-Rasyid Perkasa Alam, Kesultanan Deli

Mungkin betul, saat ini kondisi jalanan menuju Medan padat karena pengunjung karnaval serempak kembali ke rumah setelah karnaval berakhir. Namun prediksi kami, lewat tengah malam udah nggak macet lagi, itu juga kalau beneran macet. Asumsi berikutnya, mungkin pihak travel males harus bolak-balik Parapat – Medan hanya untuk satu penumpang ucluk-ucluk ini, jadi mereka mau gue ini sekalian diangkut bersama penumpang pagi lainnya. Okelah, daripada nasib gue nggak jelas, gue terpaksa sepakat.

Gue belum mandi, belum cukup istirahat. Duduk kedinginan di dalam mobil travel yang tidak ber-AC dan membiarkan udara dingin menerobos masuk dengan leluasa ke dalam mobil. Kondisi mobil penuh dengan penumpang. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi gue saat itu?

Pembangunan Masjid Raya Medan menelan dana hingga 1 juta Gulden!

Pembangunan Masjid Raya Medan menelan dana hingga 1 juta Gulden!

Kami sempat mampir di sebuah warung pinggir jalan di Parapat. Saat awak mobil mengumumkan rencana ini, gue berharap kami mampir di warung makan khas batak. Ekspektasi gue tak terwujud. Warung makan yang kami singgahi hanya warung makan yang menjual indomie dan makanan / minuman instan. Pffft. Daripada kedinginan dan kelaparan, sepiring indomie goreng dengan suwiran daging ayam pun tandas. Entah lapar atau diberi bumbu tambahan, tapi rasanya nikmat banget.

Sang sopir batak mengemudikan mobil dengan kencang, meliuk gesit melalui tikungan demi tikungan, menyalip kendaraan demi kendaraan hingga menjadi yang terdepan. Prediksi gue tepat, jalanan jauh dari kata macet. Gue terduduk diam di dalam mobil travel yang belum professional ini, menyesal kenapa gue belum punya asuransi perjalanan perorangan yang akan siap memberikan tanggung jawab bila sesuatu musibah terjadi dalam perjalanan.

Diawali oleh Theo van Erp, Masjid Raya Medan lalu dilanjutkan perancangannya oleh J.A. Tingdeman

Diawali oleh Theo van Erp, Masjid Raya Medan lalu dilanjutkan perancangannya oleh J.A. Tingdeman

Gue semakin nggak nyaman saat sang sopir dan seorang krunya mendapat kabar dari handphone kalau mobil travel rekan mereka (yang tadi sempat bertemu di warung makan) mengalami insiden dengan mobil lain. Bukan insiden parah yang mengundang iba atau rasa berduka, hanya insiden ringan yang cukup untuk menyulut emosi kedua pria itu. Sambil tetap berkendara, mereka terus ngedumel dengan suara lantang, ya menyalahkan kebodohan teman mereka, ya mengutuk mobil pengendara lain juga. Kedua mobil akhirnya bertemu di sebuah pom bensin. Beberapa menit berdebat, masing-masing sopir kembali masuk ke mobilnya masing-masing setelah sebelumnya sempat muncul wacana penggantian sopir travel sebelah dengan kru mobil kami yang dirasa lebih becus. Whatever, sak karepmulah.

Betul lah dugaan gue, sekitar jam 7 pagi, mobil sudah nyaris sampai Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang. Tinggal berbelok ke kanan dan berjalan terus, sampailah di bandara. Namun gue menyuruh sopir untuk melanjutkan perjalanan sampai Medan, dan dia tunduk dengan patuh.

Uniknya, Masjid Raya Medan ini berbentuk segi delapan dengan sayap di keempat arah

Uniknya, Masjid Raya Medan ini berbentuk segi delapan dengan sayap di keempat arah

Di tengah lalu lintas padat pagi hari, gue tersenyum geli melihat bentor-bentor (becak motor) yang terisi penuh oleh anak-anak SMP. Duduk berdesak-desakkan memenuhi semua kursi dan sudut mana pun yang bisa diduduki hingga satu bentor mampu menampung sembilan anak. Amajing!

 

Sekitar setengah jam kemudian, mobil sudah memasuki wilayah kota Medan yang sedang padat dengan kesibukan pagi hari. Ternyata jarak dari Bandara Kualanamu menuju Medan nggak sejauh yang gue kira. Pertama-tama, mobil mengantarkan salah seorang penumpang ke dalam sebuah jalan kecil dengan deretan pabrik di salah satu sisinya. Awak mobil turun untuk menanyakan alamat kepada seorang bapak-bapak, karena penumpangnya sendiri nggak paham di mana alamat tujuannya. Oh, God…

Lalu, entah apa yang dikatakan pemuda awak travel itu, si bapak orang lokal mendadak marah-marah dan menghajarnya.

Sungguh.

Bapak itu memukulnya, menendangnya, sambil berseru lantang, “Orang mana kau?”

Gue syok. Tiba di kota Medan, dan gue disambut dengan insiden seperti ini? Oh, well, welcome to Medan!

Jendela Masjid Raya Medan dengan kayu dan kaca patri, khas arsitektur art-nouveau

Jendela Masjid Raya Medan dengan kayu dan kaca patri, khas arsitektur art-nouveau

Satpam pabrik yang berada di sampingnya pun nggak banyak membantu, malah memperkeruh keadaan dan berpihak pada si bapak. Awak mobil yang kewalahan buru-buru kembali masuk ke dalam mobil dengan amarah menggelegak. Sambil berkendara keluar gang, dia dan sopir travel beradu mulut lagi mempersoalkan harga dirinya. Kali ini, bapak sopir tampak sedikit lebih dewasa dan menyarankan pemuda itu untuk tenang. Pasalnya, pemuda bernama Oki itu berniat melaporkan tindakan penganiayaan yang dia terima kepada polisi saat itu juga, berbekal kartu tanda pengenal pers yang dia punya dan bahkan dia tunjukkan pada gue.

Whaaattt? Terus lo mau mengabaikan penumpang lo gitu aja? Gue butuh Asuransi Perjalanan Perorangan deh!

Desain interior Masjid Raya Medan diisi 8 pilar berdiameter 0.6 meter yang menyangga kubah utama

Desain interior Masjid Raya Medan diisi 8 pilar berdiameter 0.6 meter yang menyangga kubah utama

Mendekati pusat kota Medan, mobil berhenti di suatu titik untuk berganti sopir. Gue bersyukur bangeeettt ya Allaaahhh, bebas dari pasangan sopir dan awak mobil yang jauh dari kata professional itu.

Saat ditanya, “Mau turun di mana?” Gue spontan menjawab, “Masjid Raya, bang.” Nah, dari lokasi pertukaran mobil, sebetulnya udah nggak jauh ke Masjid Raya Medan. Namun entah karena kelewat belok atau gimana, abang sopir bilang kalau gue turun terakhir aja. Gue mengiyakan tanpa banyak tuntutan.

Keputusan yang akhirnya gue sadari adalah sebuah kesalahan.

Konon, Tjong A Fie juga berkontribusi dalam pendanaan Masjid Raya Medan

Konon, Tjong A Fie juga berkontribusi dalam pendanaan Masjid Raya Medan

Mobil lalu menurunkan dua orang penumpang di sebuah pasar dan di sebuah komplek perumahan yang jaraknya lumayan dari Masjid Raya Medan. Penumpang terakhir, seorang ibu-ibu dengan anaknya yang masih kecil, turun di sebuah komplek perumahan yang berada di luar Jalan Lingkar kota Medan. Jauh bangeeettt. Waktu satu jam terbuang percuma di dalam mobil!

 

Saat akhirnya mobil sampai di seberang Masjid Raya Al-Mashun Medan, gue turun dengan rasa lega dan sukacita yang meluap. Akhirnya, salah satu masjid yang berada dalam salah satu daftar impian ini berhasil gue kunjungi. Dirancang oleh seorang arsitek Kristen dan digunakan untuk tempat beribadah umat Muslim, Masjid Raya Medan memancarkan kemegahan dan keagungan yang dapat dirasakan oleh setiap orang beragama.

Gue berjalan menghampiri masjid melalui seorang bapak petugas kebersihan masjid yang bertampang angker. Dari dekat, gue mengagumi keunikan Masjid Raya Al-Mashun Medan yang memadukan arsitektur Moor, Melayu, dan Mughal. Seorang pemuda penjaga masjid mempersilakan gue untuk melepas alas kaki dengan ramah dan menyimpannya di tempat penitipan gratis. Gue menanyakan toilet, dan dia menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil di seberang bangunan utama masjid. Pemuda itu dengan sigap meminjamkan sendalnya buat gue pakai.

Masing-masing serambi (sayap) Masjid Raya Medan memiliki langit-langit tinggi dan kubah sendiri

Masing-masing serambi (sayap) Masjid Raya Medan memiliki langit-langit tinggi dan kubah sendiri

Sekembalinya dari toilet, gue dipersilakan masuk ke dalam bangunan masjid agar bisa lebih puas mengambil gambar. Mungkin karena dia memperhatikan sebuah kamera yang terkalung di leher gue ini.

Puas melihat-lihat desain interior masjid dan berkeliling singkat, gue kembali ke pos penitipan sepatu. Pemuda itu menawarkan bantuan untuk mengambil foto, yang tentu gue sambut dengan senang. Maklum, sebagai seorang solo traveler, salah satu tantangan terberat yang harus dihadapi adalah saat diri ingin berfoto tapi nggak punya mitra foto, hahaha.

Dia menggiring gue menuju titik yang baik untuk berfoto dengan seluruh bangunan masjid yang menjadi latar utuh di belakang. Setelah beberapa kali jepret, gue mencukupkan sesi foto ini. Gue nggak tahu apakah gue perlu memberinya tip atau tidak, tapi saat gue merogoh tas untuk mencari dompet dan meraih beberapa lembar uang, pemuda itu buru-buru pamit untuk menyambut pengunjung yang lain. Gue pun hanya berdiri melihatnya lari menjauh, kembali ke pos penitipan sepatu.

thetravelearn.com sudah menjejak di Masjid Raya Al-Mashun, Medan

thetravelearn.com sudah menjejak di Masjid Raya Al-Mashun, Medan

Yah, semoga kebaikanmu dibalas oleh Allah ya, bro. Terima kasih atas sambutan hangat dan bantuan tulusnya.

 

Usai perjalanan yang mendebarkan bersama Parapat Travel itu, gue mulai mencari-cari informasi seputar asuransi jiwa perorangan. Wah, ada banyak jasa asuransi yang menawarkan perlindungan jiwa untuk nasabahnya. Sebagai orang yang nggak terlalu jago hitung-hitungan, gue bingung milih yang mana karena semua kelihatan sama aja, hahaha.

Gue udah sering ditelfon telemarketing asuransi, tapi mereka harus membutuhkan jawaban saat itu juga, sementara gue membutuhkan waktu ekstra untuk menimbang. Syukurlah, sekarang ada Futuready.com, broker asuransi online pertama dengan lisensi dari OJK (otoritas jasa keuangan). Dengan kata lain, Futuready.com ini adalah online shop khusus produk asuransi. Waaaaaahhh! Jadi bisa membandingkan berbagai produk asuransi sekaligus dalam satu wadah nih.

Salah satu produk di Futuready.com

Salah satu produk di Futuready.com

Ada beberapa macam asuransi yang dapat dipilih, misalnya asuransi perjalanan, asuransi kesehatan, dan asuransi kecelakaan. Lalu kita pun bisa menentukan sendiri periode asuransinya, jadi nggak perlu harus ikut selama bertahun-tahun penuh! Seperti platform online shop lainnya, hasil pencarian dapat disaring berdasar premi termurah😀

Gue pribadi sangat senang dengan hadirnya Futuready.com. Gue bisa membandingkan sendiri berbagai produk asuransi sesuai kebutuhan, dan gue bisa menentukan sendiri periode asuransi gue. Apakah transaksi aman? Yes, dan terjamin. Selamat berbelanja asuransi🙂

Panggung Apung, Danau Toba, dan Babi Panggang Karo

Lake Toba, North Sumatera

Lake Toba, North Sumatera

Hotel Parapat View, tempat kami bermalam saat itu, adalah satu dari beberapa hotel besar di kawasan Danau Toba. Namun, lokasinya agak menjorok ke dalam, sehingga bus kami terseok-seok berjalan melalui jalanan desa yang sempit dan berkelok-kelok.

Nggak lama setelah check-in, menaruh tas, dan berganti baju, gue bergabung dengan rekan-rekan panitia yang lain yang tadi berangkat dalam kloter yang sama. Kami berjalan kaki menuju Danau Toba, tempat Panggung Apung malam hari itu digelar. Ya, hari itu, 20 Agustus 2016, rangkaian acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016 dimulai di Danau Toba, Kabupaten Simalungun.

Sayang, kami tiba terlalu sore karena penerbangan yang tertunda dan proses menunggu di Bandara Silangit. Gue pun hanya bisa mengabadikan Danau Toba dari balik jendela bus di detik-detik terakhir sebelum kegelapan merengkuhnya. Andai tiba saat hari masih terang, mungkin gue akan memiliki waktu untuk memotret keindahan Danau dengan airnya yang berwarna hijau toska.

 

Saat itu menjelang makan malam, salah satu rekan panitia, bang Mesakh, mengusulkan untuk makan malam lebih dulu. Usulnya diaminkan oleh kami semua. Karena gue dan bang Mesakh pengen makan yang haram-haram sementara yang lain mau cari yang bisa dihalalin #eh, kami berenam terbagi dalam 2 kelompok kecil. Gue, bang Mesakh, dan bang Enda melipir ke sebuah warung makan Batak, sementara 3 rekan kami memilih sebuah rumah makan padang sebelah.

Udah sampai tanah Batak, rugi banget kalau gue nggak icipin makanan khasnya. Seporsi Babi Panggang Karo pun kami pesan serempak, lengkap dengan semangkuk sayur daun singkong dan sambal khasnya yang terbuat dari darah. Jadi vampir dong, eyke.

Babi Panggang Karo

Babi Panggang Karo

Gue nggak inget nama rumah makan yang kami singgahi saat itu, tapi BPK-nya enak dengan daging yang empuk. Sambelnya, beuh… juara! Di Bandung, gue belum pernah ketemu rumah makan batak yang sambelnya bener-bener nendang kayak gini. Kali ini, gue makan sampai megap-megap keenakan, ah oh ah oh.

Sekonyong-konyong, bang Mesakh memesan seporsi daging babi saksang. Saat dia menawarkan kepada gue dan bang Enda, kami berdua pun hanya mengangguk pasrah tanpa pikir lagi. Nggak lama kemudian, wih, tiga piring kecil saksang mendarat mulus di atas meja hingga nyaris tak ada lagi ruang tersisa.

Dua porsi babi yang enaknya kurang ajar itu benar-benar worth the price. Lengkap dengan seporsi nasi, sayur daun singkong, kuah sup, dan segelas kopi hitam panas, semua hanya ditebus dengan selembar Rp 50.000,00 saja!

 

Dengan perut kenyang dan hati senang, kami bertiga mnghampiri ketiga rekan kami yang lain sebelum akhirnya berjalan bersama-sama menuju Panggung Apung. Berbekal tanda pengenal panitia, kami pun menyelip masuk ke dalam arena tanpa perlu ikut antri bersama ratusan penonton yang lain.

Closing by the fireworks

Closing by the fireworks

Panggung Apung Danau Toba

Panggung Apung Danau Toba

 

It’s time to work, fellas!

Menjejak Bandara Silangit, Siborong-Borong, Bersama Garuda Indonesia Explore

Kualanamu International Airport

Kualanamu International Airport

Hampir satu jam gue dan Theo menghabiskan waktu dengan mondar-mandir kayak setrika, naik turun kayak IPK, mencari jalan keluar dari boarding room untuk menemukan sesuap nasi.  Di dalam boarding room ada Excelso sih, tapi… well, you know me, lol. Gue lalu bertanya pada petugas Information Center, yang menunjuk ke arah sebuah tangga zig-zag di depan kami.

#JLEBmoment is real.

Dengan mengutuki diri sendiri, gue berjalan melalui tangga tersebut sampai menemukan pintu keluar. Deretan kedai makan dan restoran terpampang nyata di depan mata. Andai lo bertanya lebih cepat, Gie, lo akan punya lebih banyak waktu untuk makan dan berburu, gerutu gue pada diri sendiri.

Batak traditional houses with their "balerong" roof design

Batak traditional houses with their “balerong” roof design

Bahkan setelah itu pun, kami masih membuang waktu beberapa puluh menit untuk menentukan tempat makan yang tepat untuk kami. Pilihan lalu dijatuhkan pada  Bright Café. Alasannya simpel. Bright Café menampilkan daftar menu dengan daftar harganya di sebuah papan besar di bagian depan. Gue nggak mau nyelonong masuk ke Ayam Goreng Kalasan, lalu menyesal sedetik kemudian setelah disodori daftar menu.

Sepiring Nasi Goreng Ayam ditebus dengan harga Rp 50.000,00-an ditambah segelas Es Teh Tarik yang gue nggak mau ingat-ingat lagi harganya. Yang penting perut kenyang, adek senang.

Beauty of Tapanuli yang mampu mengalihkan pikiran dari sopir Batak yang... "unik".

Beauty of Tapanuli yang mampu mengalihkan pikiran dari sopir Batak yang… “unik”.

Kami nggak punya banyak waktu tersisa untuk makan siang. Nasi goreng yang masih panas itu gue lahap secepat mungkin, kadang diakhiri dengan sebuah engahan karena nasi yang masih terlalu panas. Belum sampai menghabiskan Es Teh Tarik yang sangat berharga itu, kami sudah berdiri menghadap kasir. Sekejap kemudian kami sudah berlari-lari menuju boarding room melalui pemeriksaan bagasi.

Rupanya penerbangan kami sedikit tertunda. Gue masih punya waktu beberapa menit untuk mengatur nafas di kursi tunggu Gate 10 Bandara Kualanamu.

 

Ini adalah pertama kalinya gue naik pesawat tipe ATR yang lebih ramping dan pendek. Pertama kalinya gue naik Garuda Indonesia Explore. Pertama kalinya juga terbang menuju bandara kecil di pelosok Indonesia. Gue nggak bisa berdiri tegak di dalam kabin, terantuk langit-langit kabin yang terlalu rendah. Pesawat hanya diisi oleh 2 pramugari, namun keberadaan pramugari kedua pun baru gue sadari saat berjalan turun di Bandara Silangit, Siborong-Borong.

Di dalam pesawat ATR Garuda Indonesia Explore

Di dalam pesawat ATR Garuda Indonesia Explore

Garuda Indonesia Explore snack box

Garuda Indonesia Explore snack box

Karena merupakan maskapai full service, penerbangan singkat selama 35 menit itu tetap dilengkapi dengan paket snek kotak berisi dua buah roti dan sebotol air mineral dingin. Meski sebetulnya masih kenyang dengan sarapan nasi goreng ayam pada penerbangan CGK-KNO dan makan siang nasi goreng ayam (lagi) di Bandara Kualanamu, pada akhirnya dua roti itu menemui ajalnya di dalam kunyahan mulut gue.

Pada penerbangan kali ini, gue duduk di kursi samping pak kusir yang sedang bekerja dekat jendela pada deretan kedua dari depan, sehingga bisa leluasa menikmati pemandangan dan mengambil foto. Sayangnya penerbangan kedua ini nggak lewat Danau Toba lagi. Pada penerbangan CGK-KNO, gue duduk di kursi dekat lorong pada barisan sebelah kanan. Saat pesawat melayang di atas Danau Toba dan sang pilot mengumumkannya dengan antusias, gue hanya bisa terduduk diam karena danau terlihat dari barisan kursi di sebelah kiri. Huft.

 

Setelah 35 menit yang singkat namun penuh guncangan, akhirnya pesawat mendarat di Bandara Silangit, Siborong-Borong.

Arrived at Silangit Airport, Tapanuli Utara

Arrived at Silangit Airport, Tapanuli Utara

Bandara Silangit adalah sebuah bandara kecil yang terletak di daerah pegunungan Tapanuli Utara. Sesaat setelah menjejak landasan, gue disambut oleh udara sejuk khas pegunungan yang memang sudah akrab dalam keseharian gue di Bandung, Jawa Barat, yang juga berhawa sejuk. Gue dan 3 panitia lainnya dipersilakan menunggu beberapa menit di sebuah ruang tunggu sementara khusus yang dibangun untuk Karnaval Kemerdekaan Danau Toba kali ini. Nggak berapa lama kemudian, kami berempat dipanggil masuk ke dalam bus.

Berjalan keluar dari bangunan utama, gue menyadari betapa kecilnya bandara ini. Kalau kamu masuk, kamu akan langsung dihadapkan dengan pemeriksaan bagasi. Saat udah sampai di luar, kelihatan banget bandara ini masih baru banget direnovasi untuk menyambut penyelenggaraan karnaval. Mendukung visi Danau Toba sebagai destinasi wisata global, Bandara Silangit yang hanya berjarak 1,5 jam ini pun didandani sehingga layak menjadi lokasi mendarat maskapai-maskapai komersil kenamaan.

Silangit Airport, Tapanuli Utara

Silangit Airport, Tapanuli Utara

Selain Garuda Indonesia, ada Sriwjaya Air yang bahkan melayani penerbangan langsung menuju Silangit (DTB) dari Jakarta (CGK).

 

Perjalanan darat menuju Parapat selama kurang lebih 2 jam tak terasa berkat sajian alam dan budaya yang mengapit kedua sisi pandangan. Di antara jalanan beraspal mulus yang meliuk-liuk, terhampar hijau persawahan, pegunungan, dengan rumah-rumah beratap balerong khas Batak berdiri etnik mengisi sudut-sudut kosongnya. Di antara rumah-rumah warga, berdiri makam-makam besar yang menjadi makam tetua marga yang bermukim di wilayah itu.

Bentangan pegunungan sepanjang perjalanan menuju Parapat, Simalungun

Bentangan pegunungan sepanjang perjalanan menuju Parapat, Simalungun

A small church in the middle of rice fields. Epic!

A small church in the middle of rice fields. Epic!

Berbeda dengan di Pulau Jawa yang didominasi warga muslim, perjalanan menuju Parapat diisi dengan gereja-gereja kecil beratap runcing yang berdiri anggun di tengah pedesaan. Sudah lama gue nggak melihat bangunan gereja tradisional seperti itu, dengan atap segitiga dan tanda salib yang terpampang besar di bagian depan. Gereja-gereja tua itu tampak indah berdiri mungil di tengah lahan hijau luas yang melingkupinya, seperti gereja-gereja di pedesaan Eropa yang biasa gue nikmati dari balik layar maya.

Setelah melalui kota Balige dan Porsea, bus akhirnya merapat di kota Parapat. Panorama Danau Toba dengan airnya yang berwarna kehijauan menyambut kami dari sebelah kiri. Gue memandangnya dengan perasaan takjub, danau itu benar-benar indah dan sangat pantas untuk diangkat menjadi destinasi wisata global.

Melalui Pasar Onan Balerong, Balige

Melalui Pasar Onan Balerong, Balige

Crossing a river in Balige

Crossing a river in Balige

Puji Tuhan, hanya karena kasih karunia-Nya, gue diizinkan untuk menikmati langsung salah satu maha karya-Nya yang Ia taruh di bumi Indonesia.

 

Dengan susah payah, bus Damri kami memarkirkan badan besarnya di halaman parkir hotel Parapat View yang tersembunyi di balik jalanan sempit yang meliuk-liuk. Gue melompat turun dengan rasa antusias yang memenuhi dada, nggak sabar buat segera menyusul rekan-rekan yang sudah tiba sebelumnya di Panggung Apung Danau Toba.

Danau Toba di penghujung senja

Danau Toba di penghujung senja

Halo, Danau Toba🙂