Terminal 3 Ultimate dan Bandara Kualanamu Dalam Bidikan Kamera

Walking towards Arrival Hall

Walking towards Arrival Hall

Sabtu, 20 Agustus 2016. Bus DAMRI yang membawaku dari pelataran Mangga Dua Square, Jakarta Pusat, menghentikan lajunya sejenak ketika tiba di depan sebuah bangunan berdinding kaca yang tampil megah dengan desain futuristik. Aku berjalan turun dengan backpack yang terpanggul padat di punggung, melenggang memasuki Terminal 3 Ultimate, Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Memasuki bangunan Terminal 3 Ultimate, aku dihadapkan dengan jajaran konter check-in maskapai Garuda Indonesia yang memenuhi nyaris seisi ruangan besar itu. Masih tersedia beberapa konter kosong di sudut bangunan, namun belum ada maskapai yang menggunakannya. Dengan banyaknya konter yang tersedia, proses check-in pun berjalan singkat. Kalau satu konter penuh, masih ada konter-konter lain di belakangnya.

Departure Hall T3CGK

Departure Hall T3CGK

Saat itu baru pukul 7:45, masih ada waktu beberapa menit sebelum boarding time pukul 8:35 di Gate 17, Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku mengeluarkan Si Hitam — kamera kesayangan, hehe — dari dalam tas kecil yang kumasukkan di dalam backpack. Agak ribet memang, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang berada di dalam tas lainnya. Tapi, ini adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di dalam T3CGK, dan selagi masih ada waktu, bolehlah aku foto-foto dulu.

Hm, kalau ada kamera mirrorless, mungkin bisa dimasukkan ke kantong samping backpack deh karena bodinya yang lebih compact. Harga kamera mirrorless nampaknya juga nggak maharani amiruddin yak.

Approaching Boarding Gate T3CGK

Still in Departure Hall

Terminal 3 Extension tampil modern dengan langit-langit yang dirancang rata dengan motif kotak-kotak yang saling bersilangan, menciptakan bentuk-bentuk segitiga dalam warna keperakan. Sekilas tampak seperti permukaan berlian yang mengkilap. Pilar-pilar beton yang menyangganya menambah kesan megah yang diusungnya.

Aku mencoba untuk menjelajah terminal baru ini, namun malah terus-terusan berujung dengan ruang-ruang hampa yang tiada artinya. Menyerah, aku akhirnya berjalan pasrah menuju Boarding Gate.

Boarding Gate berada di bawah Departure Hall. Aku berjalan melalui gate demi gate di sisi kiri, sementara kedai makan minum, gerai souvenir, dan exclusive lounge berjajar di sisi kanan. Gate 1, Gate 2, Gate 3, dan seterusnya, ada travelator yang siap membantu perjalanan sang pelancong menemukan gate tujuannya. Bisa dibantu menemukan pasangan hidupnya juga nggak?

Aku lemas. Gate 17 berada di ujung lorong, kak! Tanpa kedai makanan, hanya jajaran sofa-sofa empuk dengan hiburan televisi. Aku belum sarapan, menguatkan diri menunggu makanan gratis yang disediakan maskapai Garuda Indonesia. Aku rapopo, aku setrong. (sambil menatap pesawat dari balik dinding kaca dengan tatapan penuh harap)

 

Singkat cerita, tibalah aku di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, pukul 11:20. Di Gate 17 CGK, aku sudah bertemu dengan Theo. Lalu di dalam pesawat, aku bertemu dengan mas Sheque yang ternyata duduk sebelahan. Mendarat di KNO ini, mas Enda Nasution berjalan di belakang mas Sheque hingga kami berempat berkumpul sejenak sebagai rekan satu panitia. Sementara mas Sheque dan Enda memilih untuk beristirahat di Boarding Gate, aku dan Theo menjelajah Kualanamu sebentar untuk berburu foto dan berburu gadis Batak makan siang.

Welcome to Kualanamu!

Welcome to Kualanamu!

Travelator

Travelator

Di antara gerbang-gerbang penerbangan, ada Rest Area yang dilengkapi sofa-sofa, colokan listrik dengan jumlah memadai, dan komputer desktop dengan akses internet. Ada juga travelator yang terdapat di depan setiap boarding gate untuk meringankan perjuangan para traveler dengan koper segaban atau backpack sekarung beras.

Kembali, aku mengeluarkan kamera dari dalam tas dan aku kalungkan di leher sampai sesi pemotretan berakhir.

A selfie spot!

A selfie spot!

Gerai-gerai makanan

Gerai-gerai makanan

Dipikir-pikir, nampaknya aku ini mulai membutuhkan kamera mirrorless yang lebih ringan dan ringkas! Apalagi kalau dilihat-lihat di online shop macam MatahariMall, harga kamera mirrorless nggak mahal-mahal amat, yang Rp 5 jutaan juga ada seperti kamera Pentax Q S1. Kalau dicicil 12 bulan, tinggal bayar Rp 500.000,00-an per bulan. Bisya bisya!

Pentax Q S1

Pentax Q S1

Kembali ke Kualanamu, sepertinya bandara ini adalah yang terbaik se-Indonesia. Selain luas, modern, dan bersih, bandara sudah terintegrasi dengan kereta bandara Airport Rail Services (ARS) yang menghubungkan bandara dengan Medan City Railway Station. Dengan ongkos Rp 100.000,00 sekali jalan, perjalanan menuju Medan dan sebaliknya pun ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Puji Tuhan, aku berhasil menjajal kereta ini saat kepulanganku tanggal 22 Agustus 2016.

Peron keretanya sendiri dirancang modern dengan partisi kaca dan pintu otomatis yang memisahkan antara peron dengan lintasan rel. Tampilan keretanya juga elegan, baik eksterior maupun interiornya. Gerbong-gerbong diisi dengan bangku penumpang nan empuk yang berbaris 2-2, tidak seperti MRT atau Commuter Line yang saling berhadapan. Namun, rupanya kinerja kereta api ini nggak secanggih yang kukira. Aku pikir kereta akan melesat cepat seperti MRT, ternyata kecepatannya sama dengan kereta api regular antar-kota, hanya saja dengan perjalanan yang lebih mulus.

Interior Airport Rail Services Kualanamu

Interior Airport Rail Services Kualanamu

Peron kereta bandara

Peron kereta bandara

Sayang, kereta ARS ini cenderung sepi penumpang, padahal KNO sendiri adalah bandara yang cukup sibuk. Mungkin karena harganya yang agak mahal ya.

Pada akhirnya, rasa penasaranku sudah terjawab. For the sake of experience and curiosity, aku sudah menjajal kereta bandara Kualanamu. Lalu bagaimana dengan perjalananku selanjutnya di Sumatera Utara? Stay tune!😀

[Review] Memboyong Keluarga ke Boyong Kalegan Resto, Yogyakarta

Suasana alami Boyong Resto

Suasana alami Boyong Resto

Ada satu kebiasaan khusus yang gue sekeluarga lakukan saat Hari Raya Idul Fitri. Selain berkunjung ke rumah satu atau dua kerabat yang ada di kota Yogyakarta, kami juga meluangkan waktu satu hari khusus untuk: rekreasi / piknik / wisata / jalan-jalan, whatever you call it. Jadi, meski kami keluarga sederhana, tapi kami nggak kurang piknik, hehehe.

Sebelumnya, di dalam blog ini juga, gue sudah menceritakan acara piknik gue sekeluarga di Candi Prambanan dan Pantai Parangtritis.

Semua pasti tahu kalau Jogja punya segudang objek wisata. Sebutlah beberapa nama kekinian seperti Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Mangunan, Gunung Purba Nglanggeran, Puncak Suroloyo, atau Puncak Becici, semuanya belum pernah kami sambangi. Tapi, di sini kami pergi berombongan dengan anggota termuda yang baru masuk bangku SMP dan anggota paling sepuh, mamah tercinta, yang usianya sudah lebih dari separuh abad.

Ada ayunan dan jungkat-jungkit juga di Boyong Resto!

Ada ayunan dan jungkat-jungkit juga di Boyong Resto!

Dengan formasi yang sangat heterogen seperti itu, tentu gue harus memilih satu atau dua obyek wisata yang dapat dinikmati oleh semua kalangan usia. Jaraknya pun sebaiknya nggak terlalu jauh dan ekstrim karena kami pergi dengan 3 buah sepeda motor. Maklum, belum punya mobil, doakan supaya gue bisa beli mobil buat keluarga ya😀

Maka, gue pun memilih untuk mencari satu resor atau leisure park yang ada di Jogja. Pokoknya, gue mau kami semua bisa bersantai, menikmati suasana, dan melakukan beberapa aktivitas yang ramah dalam satu tempat. Sayangnya Jogja itu nggak seperti Bandung yang punya banyak resor atau leisure park — Floating Market, Dusun Bambu, Farmhouse, de Ranch, you name it. Setelah berseluncur mencari informasi di samudera maya dan meminta rekomendasi rekan-rekan blogger Jogja, pilihan pun jatuh pada: Boyong Kalegan Resto (Boyong Resto).

 

Perjalanan Menuju Boyong Resto

Saat itu H+1 Idul Fitri, 7 Juli 2016. Gue sengaja meminta keluarga untuk berangkat agak pagi agar tidak kehabisan tempat di Boyong Resto. Sekitar pukul setengah sepuluh, kami berenam meluncu menuju lokasi. Perjalanan menuju Boyong Resto dari rumah kami di kawasan Kadipiro ditempuh selama kurang lebih satu jam.

My niece, Anita, took a pose above the "gethek"

My niece, Anita, took a pose above the “gethek”

Dari Jalan Palagan Tentara Pelajar (Monumen Jogja Kembali), tinggal berjalan lurus ke utara atau arah atas mengikuti jalan utama. Meski agak lama, namun perjalanan pagi itu terasa menyenangkan karena kondisi lalu lintas yang masih lengang. Kami melaju di tengah udara sejuk kabupaten Sleman dengan pemandangan hijau ala pegunungan yang mengiringi di sisi.

Tiba di perempatan yang menuju jalan alternatif menuju Magelang, kami berbelok ke kanan, masuk ke Jalan Pakem – Turi. Sekitar beberapa meter di depan, tepatnya di sebelah kiri, Boyong Resto telah menyambut kami.

 

Boyong Resto, Rumah Makan dengan Saung-Saung di Tengah Kolam

Tiba di Boyong Resto, gue memimpin rombongan menghadap resepsionis dan mengkonfirmasikan jumlah rombongan. Kami lalu diantar menuju sebuah saung yang masih bebas (belum dipesan). Nah, yang membuat Boyong Resto ini menarik bukan hanya lokasinya di dataran tinggi dan nuansa alami di sekelilingnya, namun resto ini dikonsep dengan saung-saung tradisional beratap daun yang berdiri di sudut-sudut kolam yang besar.

My mom enjoyed feeding fish

My mom enjoyed feeding fish

There are many koi fishes in Boyong Resto

There are many koi fishes in Boyong Resto

Kolam air yang sangat luas itu diisi dengan ikan-ikan koi yang menggemaskan dan boleh diberi makan oleh pengunjung. Ada juga batu-batu alam berukuran besar yang ditempatkan di beberapa titik untuk menambah nuansa alami. Selain itu, tersedia dua buah gethek (rakit dari bamboo) yang dapat digunakan oleh pengunjung secara bebas. Di sudut komplek, ada ayunan dan jungkat-jungkit yang dapat menjadi hiburan alternatif untuk si kecil atau si besar-yang-merindukan-masa-kecilnya (sindir diri sendiri).

Niatnya sih mau gethekan, tapi baru gerak dikit aja udah jejeritan :D

Niatnya sih mau gethekan, tapi baru gerak dikit aja udah jejeritan😀

Setiap saung disusun dari anyaman balok-balok bambu dan anyaman bamboo khas desain tradisional Jawa. Masing-masing sudah dilengkapi dengan keran untuk mencuci tangan, airnya langsung terjun bebas ke dalam kolam.

 

Makanan dan Minuman di Boyong Resto

Meski tampak seperti sebua resto mahal, tapi rupanya harga paket makanan dan minuman di Boyong Resto terbilang murah! Harga paketnya mulai dari Rp 240.000,00 aja untuk 5 orang. Kami memilih paket C, berisi 5 porsi nasi putih, sup, buah, gurameh bakar, nila goreng, wader mangut, trancam (semacam gudangan atau urap), dan pilihan minuman teh manis atau lemon tea. Karena kami berenam, maka kami menambah satu porsi nasi dan memilih lemon tea untuk minuman.

Nila Goreng yang kemripik

Nila Goreng yang kemripik

Sup (depan) dan Wader Mangut (belakang)

Sup (depan) dan Wader Mangut (belakang)

Hasilnya? Nila gorengnya enak, digoreng sampai begitu kriuk dan renyah digigit. Nggak perlu takut dengan duri yang nyangut di kerongkongan karena duri-durinya pun renyah dan dapat dikunyah. Gurameh bakarnya juga enak, rasanya manis, kontras dengan trancam yang gurih dan segar. Wader mangut-nya juga enak, tapi rupanya nggak terlalu disuka dan gue nggak sanggup kalau harus menghabiskannya sendirian. Lemon tea-nya terasa sangat segar, diperas dari lemon asli. Keluarga juga memesan beberapa menu tambahan seperti sop buah, es dawet, dan kopi jahe.

Es Dawet dan Es Lemon Tea

Es Dawet dan Es Lemon Tea

Ternyata paket makanan untuk 5 orang aja masih bisa sisa untuk kami berenam. Jadi mungkin paket makanan ini bisa untuk kamu yang datang berombongan sampai 7 orang. Lalu, karena ketagihan memberi makan ikan, akhirnya sisa-sisa makanan kami berikan kepada ikan-ikan koi yang ada di kolam.

 

Pelayanan dan Kesimpulan

Pelayanannya cukup memuaskan, makanan datang nggak terlalu lama. Meski lokasi saungnya terpencar, namun kami nggak susah-susah kalau mau memanggil petugas karena ada semacam meja siaga di dekat saung kami. Meski lokasinya jauh dari pusat peradaban, tapi pembayaran bisa dilakukan dengan kartu debit. Gue udah siap-siap aja kalau ternyata harus ambil uang dulu di ATM bawah.

Akhirnya berani gethekan juga setelah omnya (gue) turun tangan

Akhirnya berani gethekan juga setelah omnya (gue) turun tangan

Kami puas dengan pengalaman kami di Boyong Resto, gue pun bahagia melihat keluarga sederhana gue bisa mencecap beberapa makanan yang nggak biasa kami nikmati sehari-hari. Menikmati suasana yang berbeda, bersantai di tengah alam yang sejuk, asyik memberi makan ikan koi, sampai seru-seruan mendayung gethek di kolam.

Jadi, buat kamu yang lagi liburan bareng keluarga di Jogja, Boyong Resto di Pakem, Sleman, ini bisa menjadi pilihan menarik! Selamat liburan😀

My mom, my niece, my sister, my nephew, and my brother in law. My dad was at home.

My mom, my niece, my sister, my nephew, and my brother in law. My dad was at home.

Tips Aman Menginap di Rumah Warga Lokal ala Couchsurfing

With Nabil, my recent guest from Bangladesh

With Nabil, my recent guest from Bangladesh

Bagi sebagian traveler, menginap gratis di rumah warga lokal adalah sebuah gagasan menyenangkan yang sangat menarik! Alasannya bisa macam-macam, dari traveler berdedikasi yang selalu antusias untuk menjalin pertemanan dengan sesama traveler di jagad, sampai backpacker super hemat yang — simply — mau cari sebanyak mungkin gratisan dalam perjalanan.

Yes, for some travelers, it is interesting! But for some, it is not.

Nanti kalau aku diapa-apain gimana? Kalau tengah malam digerayangi terus diperkosa? Atau barang-barangnya dicuri? Atau dia tiba-tiba minta bayaran gila-gilaan? Atau dibunuh?

Enough. See? It turns out to be a worrying idea!

Nah, untuk menenangkan perasaan kamu yang baru saja diputusin pacar ingin menjajal Couchsurfing namun masih takut-takut, ragu akan harapan semu, gue akan bagikan beberapa poin yang mudah-mudahan bisa menjadi tips dan trik ber-Couchsurfing ria. Kebetulan, beberapa bulan lalu ada rekan blogger yang meminta tips ini melalui komentar saat gue menceritakan pengalaman Couchsurfing di Indocina.

(((beberapa bulan lalu)))

Cerita selengkapnya bisa dibaca di: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

 

Couchsurfing Gratis Seutuhnya

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Couchsurfing bukan berarti gratis seratus persen. Kadang-kadang, sekali lagi kadang-kadang, ada harga yang harus kamu bayar yang mungkin setara dengan harga sewa satu kamar dorm semalam. Harga-harga itu biasanya berbentuk 3 poin berikut.

Tempat Tinggal Host yang Di Ujung Peradaban

Tempat tinggal Host (istilah untuk tuan rumah di dalam Couchsurfing) berada jauh dari pusat kota atau konsentrasi tempat wisata, sehingga memaksamu mengeluarkan usaha ekstra untuk waktu dan ongkos transportasi. Kejadian ini pernah gue alami saat menginap di rumah Host di Distrik 9, Ho Chi Minh City.

Biaya Traktir Host

Entah itu kamu yang berinisiatif sendiri untuk mentraktir, atau Host yang terang-terangan minta ditraktir. Host gue di Siem Reap, Kamboja, terang-terangan minta satu kali jatah traktir. Karena dia banyak membantu, gue sangat ikhlas saat mentraktirnya. Host-host gue di Vietnam juga banyak membantu, cuma di awal bertemu nggak ada kesepakatan seperti itu, jadi agak kaget saat tiba-tiba harus traktir mereka makan dan naik bus.

Ada juga host yang “meminta” bayaran dengan cara lembut. Misalnya Host gue di Kuala Lumpur yang bilangnya meminjam uang parkir mobil karena ternyata seluruh uangnya basah, namun tak pernah dikembalikan kemudian (meski dia ingat sampai akhir perjalanan)

Oh iya, ini gue sekadar cerita supaya temen-temen lebih siap saat CS-ing ya, bukannya gue nggak ikhlas saat ngasih duit. Ciyus. Enelan. Cungguh.

Temen gue pernah mendatangi seorang member CS di Kuala Lumpur juga. Eh, ini kebetulan aja sama-sama dari KL, bukan maksud gue menjelek-jelekkan anak CS KL. Katanya sih, justru Host yang lebih ngotot pengen ketemu. Lokasinya ada di ujung laluan LRT, sekadar bertemu untuk makan, tapi Host itu sengaja memesan makanan dengan porsi besar dan meminta temen gue untuk membayar. Nah, yang kayak gini baru kurang asem!

Meet up with Donny, CS member from Jakarta

Meet up with Donny, CS member from Jakarta

Gue malah mengalami hal sebaliknya. Tiga kali meet up sama Guest di Bandung, malah tiga-tiganya yang traktir gue makan padahal gue Host-nya. Mungkin kasihan lihat muka gue yang memelas kali ya.

Biaya Oleh-Oleh

Sebenarnya ini opsional, tapi kalau kamu melakukan ini, kamu akan tampil sebagai seorang Tamu (Guest) yang berkesan. Di akhir kunjungan, berilah oleh-oleh khas negara atau kotamu kepada Host. He / she will be pleased to have it. Seperti yang dilakukan Guest gue asal Dhaka, Bangladesh, yang memberikan sebuah kotak penyimpanan kecil dengan aksen bulu-bulu. Sebagai gantinya, gue memberinya salah satu buku dan CD Indonesia Travel dari Kementerian Pariwisata.

 

Terus gimana tips aman melakukan Couchsurfing?

Pertama-tama, cari Host sesuai kriteria kamu. Pastikan kamu sudah memiliki akun di Couchsurfing. Lebih baik jangan cari Host dengan membuat Public Trip then just waiting for someone to reply. Kemungkinannya, kamu akan susah dapat Host, atau bahkan nggak dapet Host, atau malah direspon Host gadungan yang mencari kesempatan.

Type your destination here

Type your destination here

Klik Find Host di kolom pencarian di bagian atas, lalu ketikkan kota tujuanmu. Nanti akan muncul seluruh member yang berada di kota itu. Dari seluruh hasil pencarian, kamu bisa ciutkan lagi dengan filter jenis kelamin, usia, bahasa yang dikuasai, last login, kategori accepting guest atau maybe accepting guest, dsb.

Contoh, saat gue mencari Host di Bangkok, gue akan pilih male, usia 18-35 tahun, speaking Thai and English, last login in the last week, accepting guest. Kenapa speaking Thai and English? Karena gue mencari warga lokal asli Thailand, bukan ekspatriat yang tinggal di sana. Last Login sangat membantu supaya kamu nggak repot-repot kirim request kepada member yang udah nggak aktif atau jarang online CS.

search results

search results

manage your filters

manage your filters

dipilih dipilih dpilih, mau sama abang yang mana?

dipilih dipilih dpilih, mau sama abang yang mana?

Lalu, Send Request deh kepada setiap Host yang kamu mau.

 

Baca profil calon Host kamu dengan detil, lalu send request dengan menyertakan pesan permintaan yang personal. Sebut namanya, singgung kesukaannya, perkenalkan juga siapa kamu dan apa yang kamu suka. Buat sepribadi mungkin dan bukan sekadar salinan seragam yang kamu kirim ke semua orang. Dengan pesan personal, request kamu akan lebih “dianggap” oleh calon Host.

profil singkat di bagian atas

profil singkat di bagian atas

Perhatikan References yang ditampilkan di laman profil Host kamu, baca semua tanggapan dari setiap tamu-tamunya yang terdahulu. Utamakan Host yang punya banyak Reference positif. Dengan banyak Reference positif, harapannya member itu adalah seorang Host tepercaya yang aman dan nyaman.

Kalau kamu adalah seorang Homophobic, scroll down laman profil calon Host kamu sampai baris terbawah dan lihat grup CS apa aja yang dia ikuti. Kalau dia tergabung dengan grup Gay Couchsurfers atau semacamnya, mungkin bisa kamu pertimbangkan lagi.

read the profile carefully

read the profile carefully

a reference from my guest

a reference from my guest

Sebenarnya aman-aman aja tinggal bareng Host penyuka sesama jenis. Hanya karena kamu dan dia sama-sama cowok atau cewek, bukan berarti dia lantas suka kamu. Kalau pun dia naksir kamu, nggak berarti juga dia langsung merampas virginitasmu dalam semalam. Salah satu Host gue adalah gay tapi gue aman-aman aja, hehehe. Dia nggak cerita di profil, tapi dia come out saat kami bertemu langsung.

Saran ini gue berikan buat kamu yang benar-benar susah mentolerir hal ini. Kalau kamunya rikuh, Host kamu akan merasa nggak nyaman juga. Jadi biar sama-sama enak aja.

 

Nah, Host sudah dapat, sudah berkenalan di Message, sudah saling bertukar kontak juga. Namun, untuk mencegah hal-hal di luar dugaan, ada baiknya kamu simpan nomor kontak dari seluruh calon Host yang mau menerima permintaan menginapmu. In case Host pilihanmu mendadak nggak bisa dihubungi saat kamu tiba, kamu punya kontak-kontak cadangan untuk menolongmu dari dinginnya udara malam itu.

an example of request to stay

an example of request to stay

Lebih bagus lagi kamu sudah siapkan anggaran ekstra kalau tiba-tiba harus menginap di hotel. Sukur-sukur kalau udah reservasi via Booking.com, ada beberapa hostel yang menerima reservasi tanpa kartu kredit.

Selama menginap, jaga sikap dan tingkah lakumu. Kamu sedang bertamu, you are being a guest! Jangan heran kalau ada Host yang membuat peraturan di rumahnya saking banyaknya permintaan menginap, patuhi itu semua. Saat keluar rumah, bawa semua barang berharga seperti dompet (dan isinya, of course), handphone, kamera, atau foto mantan. Saat tidur, masukkan dompet dan handphone ke dalam saku celana atau sisipkan di tempat yang tersembunyi. Bukannya berprasangka buruk, namun waspada.

 

Kira-kira itu aja sih tips aman dan nyaman untuk Couchsurfing. Yah, kita lakukan bagian kita aja untuk menjaga diri. Kalau semua sudah dilakukan, sudah mempersiapkan yang terbaik, tinggal berdoa dan yakin bahwa apapun yang terjadi tak luput dari kehendak-Nya. Jadi, makin semangat coba Couchsurfing? Atau malah makin males? Lol

Buat gue sih, Couchsurfing itu menyenangkan dan bikin ketagihan😀