Tips Aman Menginap di Rumah Warga Lokal ala Couchsurfing

With Nabil, my recent guest from Bangladesh

With Nabil, my recent guest from Bangladesh

Bagi sebagian traveler, menginap gratis di rumah warga lokal adalah sebuah gagasan menyenangkan yang sangat menarik! Alasannya bisa macam-macam, dari traveler berdedikasi yang selalu antusias untuk menjalin pertemanan dengan sesama traveler di jagad, sampai backpacker super hemat yang — simply — mau cari sebanyak mungkin gratisan dalam perjalanan.

Yes, for some travelers, it is interesting! But for some, it is not.

Nanti kalau aku diapa-apain gimana? Kalau tengah malam digerayangi terus diperkosa? Atau barang-barangnya dicuri? Atau dia tiba-tiba minta bayaran gila-gilaan? Atau dibunuh?

Enough. See? It turns out to be a worrying idea!

Nah, untuk menenangkan perasaan kamu yang baru saja diputusin pacar ingin menjajal Couchsurfing namun masih takut-takut, ragu akan harapan semu, gue akan bagikan beberapa poin yang mudah-mudahan bisa menjadi tips dan trik ber-Couchsurfing ria. Kebetulan, beberapa bulan lalu ada rekan blogger yang meminta tips ini melalui komentar saat gue menceritakan pengalaman Couchsurfing di Indocina.

(((beberapa bulan lalu)))

Cerita selengkapnya bisa dibaca di: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

 

Couchsurfing Gratis Seutuhnya

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Couchsurfing bukan berarti gratis seratus persen. Kadang-kadang, sekali lagi kadang-kadang, ada harga yang harus kamu bayar yang mungkin setara dengan harga sewa satu kamar dorm semalam. Harga-harga itu biasanya berbentuk 3 poin berikut.

Tempat Tinggal Host yang Di Ujung Peradaban

Tempat tinggal Host (istilah untuk tuan rumah di dalam Couchsurfing) berada jauh dari pusat kota atau konsentrasi tempat wisata, sehingga memaksamu mengeluarkan usaha ekstra untuk waktu dan ongkos transportasi. Kejadian ini pernah gue alami saat menginap di rumah Host di Distrik 9, Ho Chi Minh City.

Biaya Traktir Host

Entah itu kamu yang berinisiatif sendiri untuk mentraktir, atau Host yang terang-terangan minta ditraktir. Host gue di Siem Reap, Kamboja, terang-terangan minta satu kali jatah traktir. Karena dia banyak membantu, gue sangat ikhlas saat mentraktirnya. Host-host gue di Vietnam juga banyak membantu, cuma di awal bertemu nggak ada kesepakatan seperti itu, jadi agak kaget saat tiba-tiba harus traktir mereka makan dan naik bus.

Ada juga host yang “meminta” bayaran dengan cara lembut. Misalnya Host gue di Kuala Lumpur yang bilangnya meminjam uang parkir mobil karena ternyata seluruh uangnya basah, namun tak pernah dikembalikan kemudian (meski dia ingat sampai akhir perjalanan)

Oh iya, ini gue sekadar cerita supaya temen-temen lebih siap saat CS-ing ya, bukannya gue nggak ikhlas saat ngasih duit. Ciyus. Enelan. Cungguh.

Temen gue pernah mendatangi seorang member CS di Kuala Lumpur juga. Eh, ini kebetulan aja sama-sama dari KL, bukan maksud gue menjelek-jelekkan anak CS KL. Katanya sih, justru Host yang lebih ngotot pengen ketemu. Lokasinya ada di ujung laluan LRT, sekadar bertemu untuk makan, tapi Host itu sengaja memesan makanan dengan porsi besar dan meminta temen gue untuk membayar. Nah, yang kayak gini baru kurang asem!

Meet up with Donny, CS member from Jakarta

Meet up with Donny, CS member from Jakarta

Gue malah mengalami hal sebaliknya. Tiga kali meet up sama Guest di Bandung, malah tiga-tiganya yang traktir gue makan padahal gue Host-nya. Mungkin kasihan lihat muka gue yang memelas kali ya.

Biaya Oleh-Oleh

Sebenarnya ini opsional, tapi kalau kamu melakukan ini, kamu akan tampil sebagai seorang Tamu (Guest) yang berkesan. Di akhir kunjungan, berilah oleh-oleh khas negara atau kotamu kepada Host. He / she will be pleased to have it. Seperti yang dilakukan Guest gue asal Dhaka, Bangladesh, yang memberikan sebuah kotak penyimpanan kecil dengan aksen bulu-bulu. Sebagai gantinya, gue memberinya salah satu buku dan CD Indonesia Travel dari Kementerian Pariwisata.

 

Terus gimana tips aman melakukan Couchsurfing?

Pertama-tama, cari Host sesuai kriteria kamu. Pastikan kamu sudah memiliki akun di Couchsurfing. Lebih baik jangan cari Host dengan membuat Public Trip then just waiting for someone to reply. Kemungkinannya, kamu akan susah dapat Host, atau bahkan nggak dapet Host, atau malah direspon Host gadungan yang mencari kesempatan.

Type your destination here

Type your destination here

Klik Find Host di kolom pencarian di bagian atas, lalu ketikkan kota tujuanmu. Nanti akan muncul seluruh member yang berada di kota itu. Dari seluruh hasil pencarian, kamu bisa ciutkan lagi dengan filter jenis kelamin, usia, bahasa yang dikuasai, last login, kategori accepting guest atau maybe accepting guest, dsb.

Contoh, saat gue mencari Host di Bangkok, gue akan pilih male, usia 18-35 tahun, speaking Thai and English, last login in the last week, accepting guest. Kenapa speaking Thai and English? Karena gue mencari warga lokal asli Thailand, bukan ekspatriat yang tinggal di sana. Last Login sangat membantu supaya kamu nggak repot-repot kirim request kepada member yang udah nggak aktif atau jarang online CS.

search results

search results

manage your filters

manage your filters

dipilih dipilih dpilih, mau sama abang yang mana?

dipilih dipilih dpilih, mau sama abang yang mana?

Lalu, Send Request deh kepada setiap Host yang kamu mau.

 

Baca profil calon Host kamu dengan detil, lalu send request dengan menyertakan pesan permintaan yang personal. Sebut namanya, singgung kesukaannya, perkenalkan juga siapa kamu dan apa yang kamu suka. Buat sepribadi mungkin dan bukan sekadar salinan seragam yang kamu kirim ke semua orang. Dengan pesan personal, request kamu akan lebih “dianggap” oleh calon Host.

profil singkat di bagian atas

profil singkat di bagian atas

Perhatikan References yang ditampilkan di laman profil Host kamu, baca semua tanggapan dari setiap tamu-tamunya yang terdahulu. Utamakan Host yang punya banyak Reference positif. Dengan banyak Reference positif, harapannya member itu adalah seorang Host tepercaya yang aman dan nyaman.

Kalau kamu adalah seorang Homophobic, scroll down laman profil calon Host kamu sampai baris terbawah dan lihat grup CS apa aja yang dia ikuti. Kalau dia tergabung dengan grup Gay Couchsurfers atau semacamnya, mungkin bisa kamu pertimbangkan lagi.

read the profile carefully

read the profile carefully

a reference from my guest

a reference from my guest

Sebenarnya aman-aman aja tinggal bareng Host penyuka sesama jenis. Hanya karena kamu dan dia sama-sama cowok atau cewek, bukan berarti dia lantas suka kamu. Kalau pun dia naksir kamu, nggak berarti juga dia langsung merampas virginitasmu dalam semalam. Salah satu Host gue adalah gay tapi gue aman-aman aja, hehehe. Dia nggak cerita di profil, tapi dia come out saat kami bertemu langsung.

Saran ini gue berikan buat kamu yang benar-benar susah mentolerir hal ini. Kalau kamunya rikuh, Host kamu akan merasa nggak nyaman juga. Jadi biar sama-sama enak aja.

 

Nah, Host sudah dapat, sudah berkenalan di Message, sudah saling bertukar kontak juga. Namun, untuk mencegah hal-hal di luar dugaan, ada baiknya kamu simpan nomor kontak dari seluruh calon Host yang mau menerima permintaan menginapmu. In case Host pilihanmu mendadak nggak bisa dihubungi saat kamu tiba, kamu punya kontak-kontak cadangan untuk menolongmu dari dinginnya udara malam itu.

an example of request to stay

an example of request to stay

Lebih bagus lagi kamu sudah siapkan anggaran ekstra kalau tiba-tiba harus menginap di hotel. Sukur-sukur kalau udah reservasi via Booking.com, ada beberapa hostel yang menerima reservasi tanpa kartu kredit.

Selama menginap, jaga sikap dan tingkah lakumu. Kamu sedang bertamu, you are being a guest! Jangan heran kalau ada Host yang membuat peraturan di rumahnya saking banyaknya permintaan menginap, patuhi itu semua. Saat keluar rumah, bawa semua barang berharga seperti dompet (dan isinya, of course), handphone, kamera, atau foto mantan. Saat tidur, masukkan dompet dan handphone ke dalam saku celana atau sisipkan di tempat yang tersembunyi. Bukannya berprasangka buruk, namun waspada.

 

Kira-kira itu aja sih tips aman dan nyaman untuk Couchsurfing. Yah, kita lakukan bagian kita aja untuk menjaga diri. Kalau semua sudah dilakukan, sudah mempersiapkan yang terbaik, tinggal berdoa dan yakin bahwa apapun yang terjadi tak luput dari kehendak-Nya. Jadi, makin semangat coba Couchsurfing? Atau malah makin males? Lol

Buat gue sih, Couchsurfing itu menyenangkan dan bikin ketagihan😀

Terpaksa Jadi “Calo” Dadakan di Genting Highland, Malaysia

Genting Skyway Cable Car

Genting Skyway Cable Car

“It’s sold out. Finished.”

Darah terasa seperti surut dari kepalaku saat mendapati fakta di depan konter bus bahwa bus Genting Express tujuan Kuala Lumpur pada jam yang kuinginkan sudah habis terjual! Bus tercepat yang bisa kudapatkan adalah Genting Express pukul 19:30, cukup gambling dengan penerbangan pulang kami pada pukul 22:20. Namun tanpa banyak pertimbangan lagi, aku langsung membeli 4 tiket bus Genting – Kuala Lumpur pukul 19:30.

Aku berjalan dengan langkah lemas menghadapi ketiga rekan perjalanan yang menunggu di stasiun cable car Genting Skyway.

“Duh, maaf banget nih kayaknya kita nggak bisa belanja di Petaling Street. Bus kita berangkat jam setengah delapan, jadi sampai KL Sentral langsung bablas ke bandara,” aku memberikan penjelasan dengan suara lemah dan raut muka memelas. Sebagai pemimpin rombongan, aku merasa gagal menjalankan kegiatan ini seperti yang diinginkan.

Mbak Mitha, sebagai satu-satunya srikandi di antara kami berempat, berpikir cepat like all emak-emak muda will do, mencoba untuk berbelanja oleh-oleh sekadarnya di Terminal Bus Genting Highland.

Genting Bus Terminal seen from above

Genting Bus Terminal seen from above

Sayangnya, meski sudah berusaha untuk ikhlas dan nrimo, rupanya rombongan trip bener-bener nggak nahan untuk tidak berbelanja di Petaling Street. Oleh-oleh macam apa lah yang bisa didapat di Terminal Genting ini? Tak ada cokelat atau komoditi menarik lainnya yang berlimpah di KL Sentral dan Petaling Street, paling hanya macam-macam manisan dan cemilan-cemilun lainnya.

“Mas, tiket bus tadi bisa ditukar nggak? Kita mau naik taksi aja. Ini dapet yang 100 RM, lagi coba ditawar lagi supaya lebih murah.”

Aku mengiyakan pertanyaan dan usulan yang dilontarkan bang David, suami mbak Mitha. Seketika aku merasa sangat bodoh karena tidak merundingkan pembelian tiket bus dengan rombongan, namun di sisi lain aku juga tidak ingin terlalu lama berpikir yang malah bisa berakibat kehabisan tiket bus semalaman. Tanpa basa-basi banci, aku langsung ngacir ke konter bus Genting Express di lantai bawah untuk mencoba menukarkan tiket yang sudah dibeli.

“Can I refund these tickets?” tanyaku kepada petugas pria yang berjaga di balik meja, dibalas dengan sebuah senyuman dan anggukan tegas.

Hm, sudah kuduga.

Genting Express Bus ticket bought at KL Sentral

Genting Express Bus ticket bought at KL Sentral

Yah, nasi sudah menjadi legendar. Aku nggak kuat kalau harus membuang uang puluhan ringgit ini begitu saja. Tidak terlalu besar memang, tapi biar bagaimana pun ini adalah duit, bukan daun, bisa dipakai untuk tambahan ongkos belanja atau jajan chestnut sekarung di Petaling Street. Maka, tak ada cara lain untuk mengembalikan lembar-lembar ringgit ini selain dengan — tepat, like the title suggests, menjualnya kembali kepada calon pembeli yang lain alias menjadi “calo” dadakan.

 

Saat itu adalah hari Minggu, 22 Mei 2016, ketika mentari mengguyur kota Kuala Lumpur dengan siraman kasihnya yang agak berlebihan. Kami berlari-lari dari konter Genting Express bus di level dasar menuju titik pengangkutan di basement, satu level dengan tempat naik bus Aerobus atau Skybus yang melayani rute KL Sentral – KLIA2 dan sebaliknya. Telat 5 menit, kami mungkin sudah ketinggalan bus dan harus merelakan uang sebesar 4 x MYR 10.67 yang sudah dibeli untuk tiket bus menuju Genting, sudah termasuk tiket Genting Skyway (cable car) sekali jalan.

Victory selfie!

Victory selfie!

Leaving Kuala Lumpur to Genting Highland

Leaving Kuala Lumpur to Genting Highland

Bukan karena kami keasyikan di Batu Caves atau kelamaan makan di KL Sentral, namun terjadi sedikit kesalahpahaman antara aku dengan petugas konter Genting Express Bus. Beberapa menit menjelang waktu keberangkatan pukul 13:30, aku datang menghampirinya untuk menanyakan lokasi pengangkutan bus. Mungkin dia salah dengar, mengira aku sedang mencari tempat untuk naik bus umum hingga dia mengarahkan tangannya kepada shelter bus yang ada di tepi jalan, di luar KL Sentral.

Kami berempat sudah berdiri dengan sabar di bawah naungan shelter yang ala kadarnya, namun tak ada tanda-tanda kedatangan bus Genting Express. Aku bertanya pada salah seorang warga lokal yang juga sedang menunggu bus, dia memberi informasi bahwa bus Genting ditunggu di basement KL Sentral. Bimbang, aku berlari kembali menghampiri konter bus Genting untuk menanyakan pertanyaan yang sama sebelumnya. Oleh petugas yang berbeda, dia mantap mengarahkanku turun ke dalam basement.

Greeted by the bright blue sky

Greeted by the bright blue sky

Dengan lambaian tangan yang tegas seperti pemandu sorak sedang mengusir nyamuk, aku memberikan isyarat kepada rombongan untuk datang menghampiriku karena telah menunggu di tempat yang salah.

 

Pada akhirnya, here we are, duduk dengan nyaman di dua kursi terdepan Genting Express Bus yang melenggang gesit di atas jalanan yang mulus. Lepas dari pusat bandar, kami memasuki jalan tol (highway), melalui blok-blok apartemen dan bangunan-bangunan tanggung khas daerah suburban. Mendekati Genting Highland, bus berjalan meliuk-liuk di atas jalanan sempit yang berliku dengan panorama alam pegunungan di sisi kanan, mengingatkanku dengan rute menuju Dieng atau Tawangmangu di Jawa Tengah.

Approaching Genting Highland

Approaching Genting Highland

Beautiful scenery when approaching Genting Highland

Beautiful scenery when approaching Genting Highland

Sekitar satu jam kemudian, tibalah kami di Terminal Genting sebagai perhentian terakhir bus. Kami lalu naik menuju stasiun cable car di level 3, tiket sudah termasuk dalam karcis bus yang diberikan. Saat membeli di konter KL Sentral, petugas sempat bertanya apakah aku akan membeli tiket untuk sekali jalan atau pulang pergi. Karena aku belum bisa memprediksi berapa waktu yang dibutuhkan di Genting, maka aku memilih untuk membeli tiket sekali jalan.

Keputusan yang akhirnya kuketahui sebagai sebuah keputusan yang keliru. Namun ku keliru, telah memburu, cinta dia dan dirimu… *malah nyanyi* *abaikan* *penyingkap usia*

Antrian untuk memasuki “sangkar-sangkar” kereta gantung Genting Highway memang tidak sedikit. Mengular zig-zag mengikuti tata ruang mengantri yang diberlakukan. Namun karena Genting Skyway memiliki jumlah yang mumpuni dengan setiap unit yang mampu menampung 6-8 orang, antrian bergerak dengan cepat. Tanpa benar-benar berhenti, sangkar demi sangkar yang sudah kosong diisi oleh penumpang-penumpang baru. Penumpang yang sudah siap diminta untuk gesit masuk ke dalam cable car sebelum ia diluncurkan menuju trek. Sebagai anak Jakarta yang akrab dengan Kopaja dan remaja Bandung yang hidup dengan Damri, ini sih wis biyasa.

Queuing to enter the Genting Skyway cable car

Queuing to enter the Genting Skyway cable car

Officer standing next to Genting Skyway Cable Car

Officer standing next to Genting Skyway Cable Car

Kami berempat berada satu kereta bersama sepasang pelancong lainnya.

Kereta berderak perlahan meninggalkan stasiun, melayang belasan meter di atas komplek Terminal Genting. Aku menahan nafas saat mencoba memberanikan diri melihat ke bawah. Sebagai seorang acrophobic (takut ketinggian), pengalaman pertama menaiki kereta gantung ini sukses menorehkan prestasi baru dalam hidupku.

Seiring dengan lintasan kereta yang memasuki area hutan, ketinggian kereta gantung pun bertambah. Kereta sedang melayang puluhan meter di atas jurang yang diselimuti pepohonan hijau dengan hanya sebuah “tangan” mekaniknya yang mencengkeram sebatang tali lintasan. Aku menoleh ke belakang, ke arah lintasan di depan dan, Ya Tuhan, lintasannya bergerak naik dan masih sangat panjang!

Let the journey begins!

Let the journey begins!

Sementara kami bergerak naik, sangkar-sangkar lain bergerak turun dari arah yang berlawanan. Kami malah jadi asyik mengamati polah para penumpang di dalamnya untuk melupakan rasa takut yang berdesir di dalam dada. Ada yang sambil berdiri, ada yang duduk dengan mengangkat kaki macem di lapo, ada pula yang duduk seorang diri. Duh.

Kami takjub dengan mereka yang tetap bertaha dengan cool pose di dalam cable car, sementara kami sendiri sudah ketar-ketir karena perjalanan yang seperti tak berujung. Momen paling mendebarkan mungkin saat kereta menurunkan kecepatannya, BAHKAN BERHENTI, saat melalui titik-titik tertentu di mana tiang penyangga lintasan terpancang kuat di dalam tanah. Karena bersama-sama berada dalam masa-masa krisis, kebekuan di antara dua kubu pelancong ini pun mencair.

An endless journey of Genting Skyway cable car

An endless journey of Genting Skyway cable car

“Wah, low batt,” celetuk salah satu pelancong saat kereta berhenti di awang-awang, dan kami berenam melebur dalam tawa.

Aku melepaskan nafas lega ketika dua kaki ini menjejak lantai stasiun akhir cable car di Resorts World Genting. Kami berempat lalu membaur bersama keramaian massa, berjalan menuju Indoor Theme Park mengikuti arahan yang diberikan papan petunjuk. Yah, meski kami tidak menikmati wahana apapun di Indoor Theme Park, minimal kami bisa tetap asyik berfoto-foto dan masuk ke dalam Genting Casino untuk mengusir rasa penasaran.

Eh tapi aku nggak masuk ke dalam Genting Casino ding. Pihak sekuriti melarang pengunjung ganteng dan muda dengan kamera DSLR dan tas berukuran besar. Maka, sebagai pemimpin trip yang baik hati, aku menawarkan diri untuk menjaga barang bawaan mereka dan menunggu di depan.

Resorts World Genting

Resorts World Genting

Meski nggak bisa masuk, minimal foto di depan deh

Meski nggak bisa masuk, minimal foto di depan deh

Aku mengajak rombongan kembali ke Terminal Genting saat hari sudah beranjak sore. Kami tak mampu banyak mengeksplor di sini karena keterbatasan waktu, padahal rencana awal kami adalah pergi ke Chin Swee Temple. Namun, berjalan dari stasiun cable car menuju Indoor Theme Park aja sudah cukup menguras waktu dan tenaga juga uang, kalau tak tahan godaan. Lain kali ke sini, aku akan menyediakan waktu minimal setengah hari untuk menikmati Resorts World Genting.

Selain Indoor Theme Park dan Chin Swee Temple, masih ada Outdoor Theme Park, Snow World, Behind The Scenes Tour, dan kasino-kasino di resor ini. Kalau mau puas, rasa-rasanya harus meluangkan waktu dari pagi sampai malam di tempat ini.

Pretty design of a clothing shop

Pretty design of a clothing shop

DAT FACE!!!

DAT FACE!!!

Tiba kembali di Terminal Bus Genting, aku menghadap konter bus untuk membeli tiket bus kembali ke Kuala Lumpur, dan di sinilah kisah ini bermula😀

 

Beberapa menit berjuang dengan suara memelas dan senyum sok manis di depan konter bus, aku bersyukur mampu menjual kembali 3 dari 4 tiket yang sudah kubeli. Ya sudah, relakan saja sekian ringgit yang harus terbuang. Aku teguh berdiri di depan meja konter, menawarkan tiket kepada setiap pengunjung yang gagal mendapatkan tiket kembali ke Kuala Lumpur.

“I have 4 tickets to Kuala Lumpur at seven thirty, it’s the fastest!” begitu kira-kira caraku membujuk calon pembeli.

Sebagian menggeleng, menolak tiket dan cintaku dengan alasan, “It’s too long”, atau hanya menggeleng tanpa alasan jelas. Ada juga yang menolak dengan mengatakan, “We need 8 tickets,” sambil mengangkat kedelapan jemarinya. Aku pun cuma bisa mingkem bayem dengan jawaban seperti itu.

The Times Square

The Times Square

Sampai kapan pun, two is better than one

Sampai kapan pun, two is better than one

Saat aku kembali menemui mbak Mitha, bang David, dan mas Mulyadi, mereka sudah siap dengan deal terbaik. Cukup MYR 80 dan kami berempat akan tiba di Kuala Lumpur sesuai dengan waktu yang (hampir) diinginkan. Meski terkendala macet di jalan tol yang sedikit membuat kami frustasi, kami masih memiliki waktu sekitar satu jam untuk berbelanja di Petaling Street. Singkat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kami tiba di boarding room sekitar pukul 22:00, tepat saat maskapai memanggil calon penumpangnya untuk masuk ke dalam pesawat.

Macet menuju Kuala Lumpur

Macet menuju Kuala Lumpur

 

Kalau kamu mau ke Genting Highland, langsung beli tiket pulang pergi dari KL Sentral ya, kecuali kalau waktumu memang fleksibel. Tapi, pada akhirnya aku tidak menyesali apa yang terjadi dalam perjalanan kali ini. Kalau bukan karena pengalaman menjadi “calo” dadakan, mungkin trip ini hanya akan menjadi lembaran cerita basi yang mudah dilupakan.

Making mistake is a part of learning, let us keep learning by traveling

Air Mancur Menari dan Keributan Etnis India di Petronas Twin Towers

Stesen LRT KLCC

Stesen LRT KLCC

“Next station, KLCC. Stesen berikutnya, KLCC.”

Aku dan koh Donny bersiap sesaat setelah terdengar pemberitahuan dari dalam kereta LRT Kuala Lumpur bahwa kami akan tiba di KLCC, Kuala Lumpur City Center. Kereta pun mendecit nyaring seiring dengan lajunya yang melambat, berhenti di Stesen KLCC yang berada di dalam Suria KLCC Mall.

Saat itu malam minggu, 27 Februari 2016. Setelah kami keluar dari area stesen melalui exit gate, kami disambut dengan aksi permainan musik akustik oleh sepasang muda-mudi Kuala Lumpur. Kalau dari penampilannya, sepertinya sang vokalis wanita berasal dari etnis Tionghoa, sementara sang gitaris pria adalah seorang Melayu. Keduanya mengenakan gaya berpakaian yang cukup sesuai dengan perkembangan zaman, jamak dilihat di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta. Wah, rupanya gaya anak-anak muda KL pun tak beda dengan anak-anak muda di kota-kota besar Indonesia.

Makasih udah nyanyi buat adek ya, kak :)

Makasih udah nyanyi buat adek ya, kak:)

Kami tak terlalu lama menikmati pertunjukkan mereka, karena memang bukan merekalah tujuan utama kami ke sini. Melangkah cepat mencari pintu keluar, menuju Suria KLCC Park dahulu, mengabaikan godaan ini dan godaan itu yang merayu dari sisi kanan dan kiri lorong-lorong mal.

 

Di Suria KLCC Park, pelancong dan warga lokal dari berbagai etnis berkumpul mengelilingi sebuah kolam besar. Duduk di undak-undakan sambil bercengkerama, berdiri sambil berfoto selfie, atau hanya terdiam menikmati suasana.

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Baru beberapa menit kami duduk santai memandang kolam, kami lalu diberikan kejutan pertunjukkan air mancur menari. Air menyembur dari lubang-lubang khusus di tengah kolam, meliuk-liuk ritmis sesuai dengan alunan lagu yang didendangkan pengeras suara yang entah di mana. Gerakan indahnya disempurnakan dengan permainan cahaya lampu di setiap lubang air mancur dengan warna-warna berbeda.

Kami dan setiap orang yang ada di situ lalu menghentikan kesibukan kami sejenak, memfokuskan diri pada pertunjukkan cuma-cuma yang ada di depan mata. Para pejalan mulai membidik dengan lensa kameranya, suara tombol shutter yang ditekan terdengar dari berbagai arah, warga lokal tak kalah dengan gawai canggihnya.

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Aku mengingatnya sebagai sebuah pertunjukkan yang cukup lama. Seiring dengan lagu yang berganti, berbeda pula tarian dan cahaya yang berpendar dari air mancur – air mancur itu. Wah, taman biasa seperti ini bisa dikemas menarik dengan atraksi tarian air mancur yang ritmis dan artistik. Aku tak tahu di mana kita bisa menemukan atraksi seperti ini di Indonesia. Ada yang punya informasi?

 

Aku sudah kembali ke tempat duduk, sudah puas mengumpulkan foto air mancur dari sudut kolam. Aku dan kodon sedang berbincang santai sambil menikmati pertunjukkan air mancur yang masih ada, ketika tiba-tiba perhatian kami teralihkan oleh suara gaduh yang berasal dari arah belakang kami.

Crowd at the park

Crowd at the park

Aku melihat kerumunan pengunjung yang bergerak menjauh dari sekumpulan pengunjung lainnya yang ada di tengah keramaian. Pengunjung yang lain akhirnya menyadari ada yang terjadi, berjalan menyingkir dari sekelompok besar remaja etnis India yang tampak seperti gerombolan tawuran anak SMA.

Kami menepi dari keramaian, berdiri di dekat tangga pintu masuk mall sambil tetap bersiaga untuk hal lebih buruk yang mungkin bisa terjadi. Aku tak menyangkal sedikit rasa gentar yang bergetar. Ini adalah pertama kalinya aku berada di tengah situasi seperti ini di negeri orang, di tempat yang tak kupaham apa duduk perkaranya.

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Aku mencoba menanyakan apa yang sedang terjadi pada dua orang warga lokal berbeda, namun keduanya pun tak mampu memuaskan rasa ingin tahuku. Tak terlalu paham apa yang terjadi selain memahami bahwa ada keributan yang terjadi. Aku lalu berdiri di atas dudukan tinggi untuk mengamati suasana, namun seorang petugas sekuriti menegurku untuk kembali turun.

Petugas-petugas sekuriti dikerahkan, mengamankan beberapa oknum yang diduga sebagai provokator atau dianggap terlalu emosional. Persis seperti pak polisi kita yang sedang menggerebek sekumpulan remaja labil usai tawuran sekolah.

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Dancing Fountain at Suria KLCC Park Kuala Lumpur

Kodon lalu mengajakku masuk ke dalam mall karena dirasa lebih aman. Aku mengikuti ajakannya tanpa protes dan sanggahan. Melintasi Suria KLCC Mall yang tampil dengan desain interior mewah dan elegan, ada beberapa remaja etnis India peserta keributan yang berjalan hilir mudik dengan terburu-buru. kami lalu keluar di pelataran Petronas Twin Towers untuk melakukan kewajiban kami sebagai traveler pemula: selfie di depan menara.

 

Pelataran Menara Kembar Petronas tampak lumayan riuh di Sabtu malam itu, namun air mancur yang ada di pelataran dibiarkan mati.

Meski sebelumnya sudah pernah ke Kuala Lumpur dan sama-sama sudah pernah berfoto di depan Petronas Twin Towers, but we still enjoyed our revisit. Apalagi saat pertama menjejak Petronas tahun 2014 silam, aku masih berbekal kamera gawai ala kadarnya yang kurang mumpuni untuk fotografi. Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan mengambil foto dari beberapa sudut dengan Si Hitam yang tergantung tenang melingkari leher.

Berpose di depan ikon otomotif Malaysia

Berpose di depan ikon otomotif Malaysia

Malam sudah cukup larut saat kami berjalan meninggalkan pelataran Petronas Twin Towers. Gerai-gerai di dalam Suria KLCC Mall sudah menutup lapaknya rapat-rapat. Tak ada lagi pengunjung di dalam mall, selain kami berdua dan segelintir orang lainnya yang melangkah buru-buru menuju Stesen LRT sebelum habis waktu beroperasinya.

 

Aku hampir tak pernah menyesali atau mengeluhkan apapun yang terjadi dalam perjalanan. Setiap hal adalah potongan mozaik yang melengkapi sebuah papan puzzle besar bernama Cerita Perjalanan. Hal-hal aneh yang terjadi tanpa kita duga-duga justru menjadi serbuk pigmen tersendiri untuk mewarnai kisah perjalanan, termasuk dengan keributan etnis India yang terjadi malam itu. Kalau tidak ada kejadian seperti itu, mungkin perjalanan kita akan kurang berkesan.

Esoknya saat bertemu dengan seorang member Couchsurfing KL, Hayat Haniza, aku menceritakan keributan di Petronas malam itu. Dia tak tampak terkejut, mengatakan bahwa hal itu sudah biasa. Isu politik.

Take a pose, smile!

Take a pose, smile!

Entah apakah pernyataannya benar atau tidak, Kuala Lumpur memiliki daya tariknya sendiri dengan nuansa multikultur yang kental. Mudah-mudahan, warga antar etnis di kota ini tetap hidup rukun untuk berpadu memberikan kehangatan dan kenyamanan Kuala Lumpur.

Salam learning by traveling

 

Baca Juga:

Suria KLCC: Mall, Taman, dan Menara Petronas

6 Tempat di Kuala Lumpur yang Kamu Mungkin Belum Tahu

Pagi Pertama di Menara Kuala Lumpur