
Blogger jaman sekarang nggak cukup dengan kemampuan menulis. Sekarang bukan lagi era digital, namun sudah era intelligence. Keterampilan menulis harus didukung dengan keterampilan mengambil foto, editing foto, editing video, optimasi blog, dan memanfaatkan teknologi AI. Perlu menerapkan SEO, cek DA/PA berkala, cek broken link, dsb. Saya pun jadi rutin menggunakan beberapa aplikasi atau platform untuk menunjang kegiatan blog, dari Canva, Lightroom, Capcut, sampai Seedbacklink.
Dulu saat pertama kali membuat blog di tahun 2012, saya berpikir bahwa blog cuma “sekadar” media untuk mengabadikan cerita dan membagikan pengalaman. Eh, lama-lama jadi ladang cuan, bahkan sampai sekarang meski nggak sebesar dulu. Yang tadinya menulis ala kadarnya, upload foto ala kadarnya, pelan-pelan upgrade kemampuan dan wawasan. Puji syukur, peringkat di Google naik, DA PA juga naik.
Di sini, saya mau share soal aplikasi-aplikasi yang saya pakai itu. Siapa tau ada yang butuh inspirasi, atau ada yang mau saling berdiskusi. Oh iya, sebelumnya saya juga udah nulis daftar aplikasi yang pernah membayar saya.
Seedbacklink
Nah, beberapa temen blogger mungkin terbiasa pakai beberapa website atau platform buat cek domain authority, page authority, domain rating, dsb. Kalau mau tools lengkap, harus berlangganan dan mbayaaarrr. Di SeedBacklink, ada banyak tools gratis yang bisa kita pakai dan bermanfaat banget!
Website Traffic
Tool dari Seedbacklink untuk memeriksa traffic blog. Nggak cuma blog punyamu, tapi juga blog orang lain atau website apapun, bisa ditulis semua sekaligus dalam satu kolom (bulk). Sebagai blogger, tool ini berguna banget buat cek traffic blogger kompetitor, ehehe. Kalau kamu sedang mencari blogger atau website buat endorse, tool ini membantumu memilih media partner yang pas.
Hasil yang ditampilkan nggak cuma traffic harian dan traffic bulanan, tapi juga bounce rate, jumlah page yang dilihat per visit, dan durasi setiap pengunjung. Yah, sekarang ketauan deh traffic blog saya.
DA PA Checker
Nah, biasanya DA PA Checker ini adalah tool yang paling banyak dipakai oleh blogger. Selain hasil domain authority dan page authority, di Seedbacklink juga ditampilkan jumlah total backlink dan spam score. Syukurlah, DA PA saya masih lumayan, 25/42 dengan spam score 1%. Cuma surprised aja sama total backlink-nya karena ternyata udah sebanyak itu.
Dengan tahu skor DA PA, kita jadi tahu seberapa besar potensi blog atau website kita muncul di halaman mesin pencari. Dari situ, kalau ternyata belum sesuai ekspektasi, bisa dilakukan evaluasi lalu langkah-langkah perbaikannya. Beberapa tips untuk meningkatkan DA PA adalah dengan membuat konten yang relevan dengan audiens, konten yang konsisten dengan, pemilihan keyword, judul, URL, memberikan backlink internal dan eksternal, dsb.
Redirect Checker
Pernah nggak teman-teman klik suatu website atau blog dari mesin pencari, tapi malah dialihkan ke website lain yang isinya iklan atau scam? Ditunggu-tunggu apakah akan redirect otomatis ke website yang diinginkan, tapi ternyata nggak juga. Alhasil, kita harus back ke mesin pencari dan klik lagi URL yang diinginkan.
Nah, di Seedbacklink ada tool Redirect Checker untuk memeriksa apakah mesin pencari mengarahkan ke blog kita dengan benar.
Alasan saya membuat akun di Seedbacklink sebenarnya karena tertarik dengan komisi dari jual-beli backlink, hehe. Lumayan banget buat tambah-tambah penghasilan tambahan blog. Setelah diubek-ubek, baru sadar Seedbacklink punya banyak tools gratis. Nggak cuma tools soal website dan domain, bahkan generator nama dan URL shortener pun ada.
Canva
Dulu, saya nggak pernah peduli dengan elemen grafis di dalam artikel seperti poster, banner, infografis, dsb. Elemen visual di tulisan-tulisan saya ya cuma foto-foto perjalanan. Apalagi, teman-teman travel blogger juga pakai foto-foto aja. Tapi sejak saya banyak mengikuti lomba blog dan blog job nontravel, saya lihat beberapa blogger menambahkan elemen grafis di dalam tulisannya. Pikir saya, “Jadi lebih menarik, ya. Nggak gitu-gitu aja bentuk tulisannya.”
Dari situ, saya mulai ubek-ubek Canva, pakai yang gratisan aja sudah cukup. Saya belajar bagaimana membuat infografis, banner untuk judul, sampai poster Instagram. Puji Tuhan, beberapa tulisan saya menang lomba, yang terbaru adalah Juara 4 PINTU Blog Competition kategori Artikel Terbaik yang diumumkan bulan lalu pada Maret 2025.
Ngomong-ngomong, selain buat blog, saya juga pakai Canva untuk membuat presentasi, portfolio, resume, dan bahkan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Adobe Lightroom
Kalau temen-temen perhatikan, mulai akhir 2019 foto-foto saya di blog dan Instagram jadi ajeg dengan satu tone warna tertentu yang cenderung “hangat”. Nah, itu karena saya pakaikan preset dengan aplikasi Adobe Lightroom. Berawal dari iri melihat feed teman-teman sesama hotel reviewer yang estetik, tapi nggak mau ribet. Saya pun cari-cari temen atau kenalan yang jual preset Ligtroom, dan ternyata ada. Dari Instagram, akhirnya saya masukkan juga ke blog.
Sebelumnya mah, saya asal upload aja foto dari hape atau kamera tanpa diedit sama sekali, paling-paling resize aja. Nggak peduli ada foto yang gelap, saturasinya berlebih, atau miring.

Preset ini ternyata cocok banget dengan objek-objek foto saya yang didominasi oleh dalam ruangan (seperti kamar hotel dan interior cafe), tema perkotaan (stasiun, bandara, gedung-gedung), dan makanan. Kebetulan saya jarang berburu foto di alam, cuma sesekali aja, tapi itupun masih masuk preset-nya.
Capcut (dan Inshot)
Kalau Lightroom saya pakai buat edit foto, maka Capcut saya pakai buat edit video. Kenapa Capcut? Karena ada versi aplikasi smartphone dan versi software komputer. Dua-duanya cukup mudah dipelajari, minimal fitur cut, extract audio, overlay, add text, add sound, dsb. Khusus versi PC, ada text template lucu-lucu yang bisa kita sisipkan ke dalam video biar layout dan bentuk teksnya nggak gitu-gitu aja.
Yang agak ngeselin dari Capcut, khususnya yang versi app, adalah IKLAAANNN. Agak kebangetan sih iklannya, karena kalau kita lock screen sebentar aja, pas kita unlock lagi udah harus nonton iklan dulu sebelum masuk aplikasinya.
Sebelum Capcut, sebenarnya saya pakai Inshot. Tapi karena bosan sama pilihan font, akhirnya saya beralih ke Capcut. Capcut inilah yang saya pakai buat edit video-video jalan kaki terbaru saya di Youtube. Sebagai blogger, tetap perlu skill editing video untuk menunjang promosi dan amplifikasi konten di TikTok, Reels, dan Youtube yang sedang digandrungi.
Nah, dari keempat macam aplikasi atau platform di atas, mana yang paling sering temen-temen gunakan? Atau malah baru memelajari semuanya? Manfaatkan Seedbacklink untuk mengevaluasi dan memantau performa blog kita. Kalau blog berkualitas, rejeki juga niscaya akan mengalir deras. Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling~













