Bayangkan, kamu adalah anak digital agency yang sedang fokus membuat caption untuk content plan bulanan salah satu klienmu. Saat itu sudah larut, kau sudah bekerja keras seharian, namun mau nggak mau harus setor kerjaan besok pagi. Di tengah terpaan dinginnya angin malam, layar laptop yang sudah terasa begitu menjemukan, tiba-tiba… “Lho, apa ini? Kenapa mata rasanya jadi seperti teh manis solo dicampur jeruk nipis? Sepet, tapi juga perih dan lelah?”
Sepele, memang. “Hanya” mata yang terasa sepet, perih, dan lelah. Nggak sampai nyeri menusuk tulang. Nggak sampai berdarah-darah. Tapi, meski cuma sepele, rupanya ia mampu merusak seluruh agendamu malam itu.
Tak ada pekerjaan yang tak membutuhkan mata, apalagi seorang copywriter atau content writer yang bertugas merangkai kata. Gara-gara mata yang terasa sepet, fokusmu buyar. Tangan berpindah dari papan kibor ke papan cucian untuk mengucek mata yang terasa sepet. Inspirasi dan kreativitas menguap bersama kabut dini hari yang merayap pelan melalui celah-celah sempit rumahmu. Jangankan bisa membaca hasil ketikanmu sendiri, bisa melihat dengan nyaman saja mendadak jadi sebuah hal yang harus susah payah dilakukan.
Selamat dari rasa kantuk. Selamat dari writer’s block. Selamat dari godaan belanja online tengah malam. Eh, ternyata nggak selamat dari mata kering — musuh yang kedatangannya tak diduga, ternyata justru yang sukses merusak rencana.
Mata Kering: Sepele, tapi Bikin Sensi
Kopi sudah di meja. Kudapan sudah lama tandas, menyisakan piring kosong yang sudah dingin menyerap udara dini hari. Alunan musik pemantik semangat pun sudah meraung di dalam lubang telinga melalui sepasang earphone nirkabel. Tapi, rupanya Insto Dry Eyes malah luput disediakan.
Akhirnya, dengan susah payah kau coba selesaikan pekerjaan dini hari itu meski rasa perih dan sepet yang mendera mata terasa sangat menyiksa. Kau bersyukur hanya terjaga seorang diri, karena emosimu sedang di puncak, fusion antara ngantuk berat, kecapekan, mata kering, dan lemburan yang nggak dibayar-bayar (eh). Begitu klik tombol “Send” ke Project Manager-mu, kau bergegas menghambur ke atas kasur, lalu menutup mata seolah tak ingin ia terbuka lagi.
Esok paginya, dengan lingkaran hitam yang mengelilingi mata dan aura maghrib yang terpancar nyata, kau mampir ke minimarket di tengah perjalanan menuju kantor. Cukup sekali mata kering merusak keteduhan malammu, nggak mau ia datang lagi berlama-lama menggelayuti matamu. #InstoDryEyes kemasan baru dengan kemasan yang diguyur warna biru segar itu dengan mudah kau temukan di antara etalase obat di sisi kasir. Harganya hanya Rp16 ribu, masih dapat kembalian seratus perak, kau sisipkan ke dalam tas dan resmi menjadi new addition dalam seperangkat jompo kit.
Hi, Insto Dry Eyes. Bye, Mata Kering. When life gives you mata kering, teteskan saja Insto padanya. Rasanya seperti heavenly ever after…
Mata kering (dry eyes syndrome), atau bahasa kerennya keratoconjunctivis sicca, adalah kondisi ketika mata tidak terlumasi dengan baik. Penyebabnya ada 2 macam: penurunan produksi air mata (baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya) atau peningkatan penguapan air mata. Penurunan produksi air mata bisa disebabkan karena usia lanjut, efek samping obat-obatan, efek samping tindakan medis, kurangnya asupan vitamin A, dan penyakit sistemik seperti lupus dan gangguan hormon tiroid. Sementara itu, mata kering karena meningkatnya penguapan air mata bisa disebabkan karena penggunaan gadget yang terlalu lama, polusi udara, udara kering, atau gangguan alergi.
Gejala-Gejala Mata Kering
Tanda-tanda kamu mengalami mata kering mungkin terasa sepele sehingga rawan terabaikan. Mata yang terasa sepet, perih, lelah, pegel, panas, kesat seperti berpasir, merah dan gatal, berair, terasa seperti ada benda asing, penglihatan kabur/buram, atau sensitif terhadap cahaya adalah sederet gejala mata kering, bukan gejala kamu akan menjadi drakula.
Mata kering dan iritasi mata ringan mungkin memang memiliki gejala yang sama, yaitu mata merah dan gatal. Bedanya, gatal mata kering cenderung ke gatal-gatal perih dan terjadi bertahap lalu bertahan agak lama. Sementara gatal karena iritasi mata ringan, misalnya kelilipan debu atau kena cipratan sabun, biasanya terjadi tiba-tiba sebagai respon adanya objek asing yang masuk ke dalam mata, tidak termasuk pelangi di matamu.
Gejala-gejala mata kering ini bisa banget mengganggu aktivitas, pekerjaan, dan bahkan penampilanmu. Mau mengamati dengan teliti, nggak bisa. Mau nonton drakor dengan nyaman, nggak bisa. First impression saat interview kerja atau ketemu match dating apps juga jadi ambyar gara-gara gejala mata kering. Makanya, meskipun terkesan remeh dan sepele, gejala mata kering jangan dibiarkan begitu saja.
Mata kering memang bukan akhir dunia, tapi ia bisa jadi awal dari kekacauan segalanya. Dalam dunia yang semakin digital ini, mata kita bekerja keras nyaris tanpa henti. Scroll media sosial, rapat virtual, streaming drakor viral, revisi presentasi annual, dan tentu saja lembur bikin content plan maksimal. Semua itu menuntut mata tetap awas dan fokus. Jadi, jangan tunggu sampai gejalanya datang menyergap diam-diam di tengah malam dan menghancurkan mood, ide, hingga semangat kerja. Karena begitu mata mulai “protes”, seluruh sistem ikut collapse.
Mulai sekarang, sediakan pertahanan di garis terdepan: tetes mata yang tepat, seperti Insto Dry Eyes. Harganya terjangkau, praktis, jadi juru selamat di saat-saat kritis. Simpan satu di meja kerja, satu lagi di tas harianmu. Karena menjaga kesehatan mata bukan cuma soal kenyamanan raga, tapi juga bagian dari menjaga performa dan kewarasan di tengah tekanan kerja. Jangan sampai mata kering yang sepele jadi penyebab rusaknya strategi besar yang sudah kamu susun rapi. Pokoknya, #MataKeringJanganSepelein
Sumber:













