Bukan tiba-tiba kalau saya suka segala sesuatu berbau Jepang dan menjadikannya sebagai impian perjalanan nomor satu di dalam kepala. Dari sejak duduk di bangku SD, saya sudah akrab dengan budaya populer Jepang—khususnya manga, anime, dan tokusatsu (serial superhero). Apalagi, saat itu banyak ditayangkan di televisi swasta. Membaca komik pun banyak aksesnya—dari pinjam teman, beli di Gramedia, atau cari tempat sewa. Sekarang, hobi baca manga itu tidak sirna, namun beralih rupanya. Bukan lagi menyewa, namun membaca via daring di KomikKita.com
Makanya, saat ke Tokyo, saya harus memuaskan jiwa wibu saya ini ke Akihabara, pusat budaya populer Jepang! Dari berbagai macam manga, action figure, dan benda-benda berbau anime, bisa ditemukan di sini. Wah, pokoknya kalau pecinta budaya populer Jepang, Akihabara adalah surganya. Apalagi, lokasinya nggak jauh dari hotel tempat menginap, karena memang sengaja memilih hotel di situ. Kalau bukan karena keterbatasan waktu (dan biaya), rasanya bisa-bisa aja seharian cuma ngendon di Akihabara sampai malem. Suasana saat siang dan malam tuh punya daya magisnya sendiri!
Aku masih ingat bilik-bilik sederhana yang biasa kusambangi usai pulang sekolah. Satu berada di persis sekolahku—SMPN 11 Yogyakarta, satu lagi di sudut Jalan Menjangan (lebih tepat disebut gang) Wirobrajan yang tak jauh dari rumah. Bilik-biliknya sederhana, bahkan ada yang dari papan-papan kayu saja, ukurannya bahkan lebih kecil dari kamar kost-ku saat jadi mahasiswa. Sebagian uang jajan yang bapak berikan secara harian kugunakan untuk menyewa komik, alih-alih membeli makanan.
Aku masih ingat beberapa judul manga yang kubaca di masa itu. Nama-nama seperti Detective Conan, Crayon Shinchan, Doraemon, Naruto, Bleach, Jigoku Sensei Nube, dan Inuyasha adalah beberapa di antaranya. Kalau kita tarik benang merah, aku suka dengan genre fantasi, misteri, dan komedi. Sesekali, aku bahkan membaca serial cantik dan komik horor sekali tamat. Entah berapa harga sewanya saat itu, namun masih terjangkau untukku yang tidak membeli komik karena… dengan kondisi ekonomi keluarga, “membeli komik” bukanlah aset dan investasi yang diprioritaskan.
Baru-baru ini ajalah, aku membeli sedikit komik karena pas berada di “pabriknya” buat sedikit oleh-oleh ke rumah, dan istriku yang membeli koleksi lengkap Detektif Kindaichi dengan harga yang sangat menyenangkan karena pas ketemu yang jual di e-commerce. Koleksinya kami tata berdampingan dengan koleksi novel Harry Potter istri (aku juga Potterhead, btw) dan buku-buku perjalanan yang kubeli. Iya, kalau buku perjalanan aku masih mau beli, karena bisa dibaca lagi nanti-nanti dan tetap bisa disimpan sebagai sumber informasi.
Teknologi Berinovasi, Baca Manga Juga Berevolusi
Sayangnya, waktu bergerak lebih cepat daripada nostalgia. Satu per satu persewaan komik itu tutup. Entah karena sepi, entah karena tak sanggup melawan zaman yang bertransformasi. Rak-rak yang dulu penuh cerita kini kosong, berganti jadi halte TransJogja atau hampa begitu saja—ditinggalkan tanpa menjadi apa-apa. Pintunya tertutup rapat, dindingnya bergeming, dan identitasnya ditanggalkan. Seperti banyak orang lain, aku harus berdamai dengan kenyataan: cara menikmati manga juga harus berubah.
Untungnya, hobi lama tak benar-benar vakum—ia hanya berpindah medium. Dari kertas ke layar. Dari renting ke scrolling. Hari ini, ketika ingin baca manga, aku tak lagi harus keluar rumah atau berharap jilid favorit belum disewa orang lain. Cukup buka platform digital seperti KomikKita, dan dunia yang dulu terasa hilang itu kembali datang.
Yang aku suka, KomikKita bukan cuma soal nostalgia judul lama seperti One Piece, tapi juga soal mengikuti arus cerita baru. Salah satu yang bikin aku kembali rutin baca manga adalah judul-judul fantasi populer yang baru seperti Albus Changes The World. Cerita yang mungkin tak akan pernah aku temui di rak persewaan komik era 90-an, tapi justru relevan dengan selera pembaca hari ini. Beberapa judul lain yang tak kalah menarik adalah Goblin Slayer, Black Clover, dan Tensei Kenja no Isekai Life. Rasanya menyenangkan bisa tetap relevan, meski kios sewa komik sudah lama tinggal kenangan.
Ulasan KomikKita
Selain memiliki koleksi manga berbahasa Indonesia yang cukup lengkap—apalagi untuk judul-judul baru—KomikKita juga menghadirkan manhwa (komik Korea) dan manhua (komik Cina). Yang hobi baca manhwa, pasti tau Solo Leveling ‘kan? Nah, seri itu bisa dibaca juga di sini. Selain Solo Leveling, juga ada Killer Peter, Reality Quest, dan Return of The Bad Demon. Untuk manhua, beberapa koleksinya adalah Above The Cloud Sea, Battle Through The Heavens, dan I Am The Fated Villain. Rata-rata sudah full color nih, nggak kayak manga atau manhwa yang masih banyak hitam-putih.
Yang paling aku suka nih, di KomikKita nggak ada iklan yang mengganggu gitu. Jadi, baca manga online terasa lebih menyenangkan dan nggak stressful tanpa harus klik-klik close ads atau menunggu sekian detik tiap iklannya nongol.
Sedikit masukan untuk KomikKita, laman komikkita.com/home/ sebaiknya dijadikan sebagai landing page utama. Soalnya tampilan komikkita.com cenderung kurang menarik, hanya seperti mesin pencari tanpa ada visual pendukung lainnya. Barulah saat kita klik Home di bagian Headbar, nongol tuh deretan manga populer, manga terbaru, dan manga rekomendasi seperti saat kita membuka layanan streaming online.
Ada sesuatu yang terasa utuh ketika hobi masa kecil bisa bertahan hingga dewasa, meski bentuknya berubah. Manga, bagiku, selalu tentang pelarian yang jujur—tentang petualangan, persahabatan, dan imajinasi tanpa batas. Dan selama masih ada tempat untuk membaca, entah itu di rak kayu persewaan kecil atau lewat layar ponsel di malam hari, cerita-cerita itu akan selalu menemukan jalannya.
Bagi yang seperti aku—yang tumbuh bersama komik dan kini hidup di era digital—platform seperti komikkita.com bukan sekadar situs bacaan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan sekarang, antara rak kayu yang berdebu dan layar yang terus menyala. Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling~













