Ketika seluruh Bandung sedang mempersiapkan hidangan sahurnya, aku sudah anteng di boncengan motor menuju titik keberangkatan travel Sinar Jaya Shuttle yang berada tak jauh dari rumah di dalam ruko Surapati Core. “Agak cepet nggak apa-apa, bang,” pintaku di sela-sela obrolan kami, setelah menyadari bahwa bang Sius berkendara agak terlalu pelan dini hari itu. Aku sudah memesan travel dengan keberangkatan pukul 3:30 WIB menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Bang Sius adalah tetangga rumah kontrakan kami yang berbaik hati mengantarkanku ke pool travel dini hari itu. Meski rumah kami nggak persis bersebelahan (ada jeda satu rumah lain), namun kami cukup sering ngobrol karena seiman. Kawasan Padasuka dan Cimenyan masih menjadi Zona Merah Ojek online di Bandung, aku nggak akan bisa order layanan daring itu di sini. Kalau taksi online masih bisa. Berhubung ojek pangkalan juga rasanya belum beroperasi di jam 3 pagi (kalaupun iya, aku harus jalan kaki 200 meter dengan rute naik-turun dulu), jadi harus meminta pertolongan pada tetangga. Yah, inilah gunanya hidup bersosialisasi.
Setelah 2 bulan tinggal sendiri di rumah kontrakan dan menahan rindu kepada istri dan anak-anak yang lagi main di tempat eyangnya, pagi itu akhirnya aku bisa datang bertemu mereka lagi.
Perjalanan Bandung – Bandara Soetta
Kilas Balik dengan Sinar Jaya Shuttle
Karena jadwal yang kurang cocok, aku lagi-lagi berhalangan menjajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) “Whoosh” kali ini. Padahal, rencana awalnya memang mau naik Whoosh dulu, lanjut LRT Jabodebek dan KA Bandara Soetta. Nah, sekali dayung, 2 moda transportasi baru terlampaui. Sayang, rencana itu harus ditahan dulu karena ketidakcocokan jadwal dan demi alasan efisiensi.
Tapi nggak apa-apa, aku anggap sedang napak tilas. Dulu, kisaran tahun 2015-2016, aku tergolong sering bolak-balik naik Sinar Jaya Shuttle Bandung-Jakarta. Bedanya, saat itu naik dari BTC Pasteur, turun di Mangga Dua. Harganya tergolong yang paling murah dengan fasilitas yang boleh lah. Ruang kursinya nggak sempit, driver nggak ugal-ugalan. Untuk rute Bandung – Bandara Soekarno-Hatta Maret 2025 ini, Sinar Jaya Shuttle mematok harga Rp185 ribu. Tak jauh beda dengan travel-travel sekelasnya.
Pagi itu, mobil berangkat terlambat, lewat dari pukul 3:30. Syukurlah, jadi ada waktu untuk mengatur nafas. Aku duduk di belakang pak sopir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya, perjalanan lancar pagi itu. Sayangnya, aku cukup mati gaya selama perjalanan karena lupa membawa earphone bluetooth, ponselku sekarang nggak kompatibel dengan universal jack audio 3,5 mm. Tapi, setidaknya aku sempat tertidur kurang lebih 1 jam.
Pagi di Bandara Soekarno-Hatta
Sekitar pukul setengah tujuh pagi, mobil Sinar Shuttle yang kunaiki merapat di drop-off point Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hai, lama tak jumpa Soetta. Untung kupilih keberangkatan jam 3:30 itu, karena sempat mau ambil yang jam 5:00. Sesuai kata petugas travel yang memprediksi kendaraan akan tiba sekitar jam 7:00, kedatanganku pagi itu tidak meleset jauh dari perkiraan.
Ah, waktu pagi-pagi hari (dan tengah malam atau dini hari) adalah jam-jam favoritku di bandara. Di waktu itulah, aku bisa menikmati secangkir kopi hangat dalam keteduhan. Setelah scanning singkat beberapa opsi tempat makan di sekitar lokasi drop-off, aku memilih A&W yang sudah jelas harganya. Sebenarnya tertarik dengan sebuah rumah makan Melaka di dekatnya, tapi kok tempatnya fancy, takut harganya pricey. Udah ngidam kopi, eh kok ya di A&W malah minum segelas besar Cola dingin, padahal harusnya ada opsi kopi panas.
Kenyamanan Restoran A&W membuatku bisa menyediakan waktu sebentar untuk cek-cek pekerjaan. Aku sudah cuti, tapi siapa tahu kantor butuh bantuan, dan masih ada pekerjaan freelance yang harus tetap ditangani selama liburan.
Sekitar pukul 9:10, aku sudah berjalan kaki menyusuri lorong lebar khas Terminal 2 yang diapit oleh deretan resto dan toko komersil lainnya. Ah, senangnya bisa kembali berada di rute familiar ini sambil mendengar suara dari pelantang, “Your attention please, this is the final call for passenger…”
Koper sudah kutitipkan pada maskapai saat check-in di konter yang membuatku berdiri menunggu selama sekitar setengah jam. Biar cuma low cost carrier, tapi senangnya Super Air Jet tetap melengkapi penumpangnya dengan bagasi 20 kg per orang. Aku online check-in di BookCabin, yang membuatku berpikir untuk membuat akun di situ agar setiap prosesnya lebih praktis dan mendapatkan lebih banyak benefit.
Penerbangan Jakarta – Lubuklinggau
Review Super Air Jet
Sebagai bagian dari Lion Air Group, Super Air Jet sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, tapi bukan berarti nggak ada fasilitas menarik. Nanti aku akan spill di bawah 😉
Sama seperti Lion Air, Super Air Jet juga merupakan low cost carrier (LCC, maskapai berbiaya rendah) yang menawarkan rute ke banyak destinasi dengan harga terjangkau. Untuk rute ke Lubuklinggau ini misalnya, hanya dilayani Super Air Jet dan Batik Air. Untuk Super Air Jet, harganya sekitar Rp900 ribuan. Kalau mau lebih murah sebenarnya bisa via Palembang lalu lanjut naik kereta api atau travel. Juga nggak ada layanan hiburan atau complimentary meal. Layout dan kualitas kursinya juga sama, dengan pola 3-3 dan ruang kaki sekadarnya 🙂
Menariknya, meskipun LCC (sama seperti AirAsia, Scoot, Jetstar, dsb) Super Air Jet memberi fasilitas bagasi 20 kg. Lumayan banget buat yang mau pulang kampung, pindahan, atau bedhol rumah. Buat yang pengen banget ngunyah selama penerbangan, flight attendant akan menawarkan makanan, minuman, dan cemilan dengan troli.
Lalu, kayaknya Super Air Jet ini sengaja mempekerjakan para flight attendant muda dan berpenampilan menarik, baik FA cewek atau FA cowok. Eh, nggak semua maskapai Indonesia begini lho, Lion Air aja enggak, banyak yang penampilannya biasa. Di TikTok, kadang berseliweran video yang memperlihatkan FA-FA Super Air Jet itu. Mereka juga tampil kece dengan seragam pramugari-pramugara Super Air Jet yang unik dan sporti.
Penerbangan berjalan lancar dan tepat waktu, malahan lebih cepat dari perkiraan. Keluar dari Bandara Silampari Lubuklinggau, aku dibuat meleleh dengan Ara dan Aya-Sae yang ternyata ikut datang menjemputku 🥰🥰🥰
Bandara Silampari hanyalah sebuah bandara mungil yang mengingatkanku dengan Bandara Silangit menuju Danau Toba. Begitu mendarat, berjalan kaki singkat masuk ke dalam gedung terminal, langsung ketemu satu aula besar berisi conveyor belt bagasi dan area kedatangan. Melangkah keluar dari pintu, tau-tau udah di luar bandara aja. Simpel banget desainnya 😅
Perlu diingat, nggak ada ATM apapun di Bandara Silampari Lubuklinggau ini. ATM terdekat juga ada di jalan protokol yang nggak bisa diakses dengan jalan kaki. Jadi, pastikan kamu membawa cukup cash ke Bandara Lubuklinggau. Oh ya, juga nggak ada transportasi umum seperti bus atau apa. Bahkan, tempat makan aja nggak ada di bandara ini. Benar-benar basic banget sebagai titik lepas landas dan pendaratan pesawat terbang aja.
Sayangnya, aku (dan sekeluarga) nggak terbang kembali dari bandara ini, tapi dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Padahal penasaran gimana prosedur keberangkatan di Bandara Silampari, karena pas tiba nggak melihat ada konter check-in.
Dari Bandara Silampari, kami naik mobil menuju tempat tujuan melalui jalanan pedesaan Lubuklinggau yang mengingatkanku dengan jalanan di kawasan pelosok Godean, kabupaten Sleman. Kanan-kiri sawah dan kadang perkebunan (tapi bukan kelapa sawit) dengan pegunungan di latar belakang sana dan aspal yang mulus. “Selokannya” lebar, yang kalau di Jogja mungkin sudah disebut kali. Aku tersenyum sambil berbincang melepas rindu dengan Ara dan anak-anak kami, bersyukur saat itu bisa ada bersama mereka. Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling ~














Kalo masih seholding sama L*** **r, duh jadi kaya ada trauma-traumanya ya hahahaha. Tapi faktanya dari cerita ini, lini usahanya punya fasilitas tambahan walaupun sama2 LCC. dan karena beda manajemen juga, kayaknya patut dicoba kalo lain kali terbang pake super air jet ya….
seru sekali membaca perjalanan Mas Nugie berangkat dari Bandung subuh ke Bandara Soetta lalu lanjut naik super air jet ke Lubuklinggau. Alhamdulillah perjalanan lancar ya, terutama kuncinya ada di perjalanan Bandung Jakarta. Saya belum pernah ke Lubuklinggau, Mas. semoga ada kesempatan ke sana dan cobai naik super jet ini. Aamin…
Auto searching Lubuklinggau di mana, ternyata di Sumsel ya?
Hehehe maaf selain Palembang dan kota besar lainnya, saya kudet harus searching dulu
Eniwei baswei, seneng banget punya tetangga yang mau nganterin subuh jam 3 pagi
karena ojol pun sulit, saya pernah mau ke Yogya jam 6.30 dari stasiun Kiara Condong
Waktu itu masih tinggal di jalan Rajawali (Andir), nyari ojol dari jam 5.00 gak ada
akhirnya naik angkot gelap yang melintas dari ujung barat ke ujung timur Bandung
Wah. Benar-benar tidak ada apapun bahkan tidak terlihat counter buat checkin? Apakah mungkin bandara di LubukLinggau hanya untuk drop in penumpang saja. Maksudku, tidak ada penumpang yang akan berangkat dari sana. Tapi, kayaknya kok nggak mungkin ya.
Lain kali kalau terbang dari bandara LubukLinggau, ceritain ya, Kak. Aku ikutan penasaran nih. Hehehehe
Pasti tterharu deh ketika disambut orang terkasih yang menjemput di bandara. Daku membayangkannya ala-ala drakor gitu wkwkwk.
siip nnih untuk rekomendasi pesawatnya juga. Siapa tahu bisa suatu saat menjadi transportasi andalan daku buat bepergian sama pulkam ke kampung orangtua hehe
Sejak awal, saya udah suka seragam crew Jet Air yang sporty. Berasa kayak sat set aja gitu image para crewnya. Saya senyum-senyum membayangkan mas Nugie bertemu dengan anak-anak. Seperti akan banyak cerita untuk melepas kangen dengan ayahnya, ya
Wah Bagasinya agak lebih banyak ya, 20 kg. Sebab kalau tidak salah beberapa maskapai maksimal hanya bisa 15 kg ya mas. Catatan penting nih kalau mau terbang ke Lubuk Linggau harus persiapkan uang tunai ya sebab tidak ada ATM. Menyenangkan rasanya bisa merasakan perjalanan Jakarta-Lubuklinggau
seru juga kak perjalanan terbang ke Lubuklinggau
memang kalo bepergian ke daerah, kita harus sedia cash ya
karena kadang nggak semua sedia QRIS
Saya pernah terbang ke Jakarta lewat Bandara Silampari ini tahun 2022 silam pakai Batik Air. Waktu itu check in online, jadi sampai bandara tinggal drop bagasi di konter check in.
Kalau tidak salah ingat, gedung konter check innya memang terpisah dari bagian kedatangan (sepertinya dibatasi tembok sih) karena saya juga gak melihat bagian kedatangan sampai akhirnya keluar dari gedung dan menuju pesawat baru keliatan pintu masuk untuk bagian kedatangan. Begitu gie.
Semoga lain waktu bisa terbang ke Jakarta lewat Silampari lagi ya gie.
subuh banget ya sampai di bandaranya. tapi memang sih sekarang kalau di soeta itu harus 4 jam sebelum keberangkatan karena jauh banget euy terminalnya. anyway berarti bandara di lubuklinggau ini termasuk bandara kecil ya, kak?
Asik banget bisa baca pengalaman yang jujur dan lengkap kayak gini. Info kayak waktu boarding, suasana kabin, dan kenyamanan itu krusial banget buat traveler, apalagi yang belum pernah naik Super Air Jet. Makasih udah berbagi dengan gaya yang tetap santai tapi informatif.
kalau sekecil itu, aku langsung kebayang bandara Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga. keciiil bangetttt. dan tempat checkin nya juga ruangan kecil di sisi lain sih.. memang agak dipisah dari kedatangan. koper aja masih didorong manual ke bagasi pesawat .. mungkin saking kecilnya bandara, jd jam keberangkatan juga ga banyak… makanya terkadang counter check in ga kliatan, krn bisa jd udh tutup di saat itu.
tapi memang di bandara kecil begini, kebanyakan maskapainya pasti lion group sih yaa. kalo berangkat paling pagi masih oke tuh, tp kalo udh siangan sampe ke malam aku ngeri, krn delaynya ampuuuuun hahahahaha . bagus juga super jet ksh bagasi 20 kg lgs ^o^
karena tidak mencari Tau, saya kira Lubuk Linggau itu di Sumbar ternyata di Sumsel ya.
Ada juga Ogan Komering Ilir, tapi untuk kesini biasa ditempuh dengan jalur air, pakai fery seperti di Bakauheni
[…] rumah eyangnya di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Cerita perjalananku menyusul mereka bisa dibaca di sini. Jadi, untuk mengisi waktu dan mengusir sepi, aku berpikir untuk mampir ke masjid […]