Traveling, Investasi, dan Pilihan Finansial Kripto di Era Digital

Pagi itu di dalam kereta api yang mengantarkan kami dari Lubuklinggau menuju Palembang, Sumatera Selatan, saya duduk di bangku penumpang. Sementara si kembar tertidur di pangkuan, dan perkebunan kelapa sawit bergerak cepat dari balik jendela, mata saya tak henti mengamati layar ponsel. Bukan hanya untuk membalas chat atau scroll media sosial, tapi juga untuk satu kebiasaan kecil yang belakangan saya lakukan: memantau aset kripto. Di layar, aplikasi Bitget terbuka. Angka-angka naik turun pelan, tidak selalu hijau, tidak selalu menenangkan. Namun dalam ekonomi saat ini, mengelola keuangan di instrumen selain tabungan adalah hal yang perlu dilakukan.

Apalagi, saya termasuk salah satu dari kalangan usia 35-44 tahun (hiks, golongan umur saya sudah bergeser) yang menjadi pelaku perjalanan di Indonesia.

Dulu, sebelum menikah, saya ajeg melakukan perjalanan jauh di dalam dan luar negeri setidaknya masing-masing satu kali dalam setahun. Rata-rata, saya 2x melakukan perjalanan ke luar negeri dalam setahun. Sekarang, meski frekuensinya tak lagi setinggi itu, saya tetap ingin untuk terus melakukan perjalanan di dalam dan luar negeri. Bedanya, sekarang saya tak bisa lagi bersenang-senang sendiri, karena ada istri dan si kembar yang ingin saya ajak ikut-serta. Ini artinya, persiapan biaya perjalanan saya tak lagi bisa seperti saat lajang dulu.

In This Economy, Orang Indonesia Tetap Suka Pergi-Pergi

Data menunjukkan bahwa dorongan untuk traveling bukan sekadar perasaan personal. Pada September 2025, total perjalanan wisatawan nusantara mencapai 94,36 juta perjalanan—naik sekitar 13,19% dibandingkan September 2024 yang berada di angka 83,36 juta perjalanan. Kenaikan ini bukan kejutan sesaat. Sejak 2021, pasca-pandemi, tren perjalanan terus meningkat secara bertahap dan konsisten.

Jika ditarik lebih panjang, sepanjang Januari–September 2025, total perjalanan wisatawan nusantara sudah menembus 901,90 juta perjalanan, tumbuh hampir 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka-angka ini menggambarkan satu hal: bepergian kembali menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat Indonesia.

Sesuai dugaan, perjalanan ini didominasi oleh kelompok usia produktif—25–34 tahun, disusul 35–44 tahun. Dengan kata lain, kalangan pekerja. Mereka yang setiap hari bergulat dengan deadline, meeting, dan target, tapi di sisi lain juga menjadikan traveling sebagai bentuk “hadiah” untuk diri sendiri. Menariknya, kalangan Gen Z first jobbers di bawah 25 tahun juga menjadi kontributor berikutnya.

Inklusi Keuangan Ikut Bergerak Naik

Seiring meningkatnya mobilitas, kesadaran finansial juga bergerak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa tingkat literasi keuangan nasional terus meningkat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, indeks literasi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 65%, sementara inklusi keuangan berada di kisaran 75% dan terus menunjukkan tren naik.

Artinya, semakin banyak orang Indonesia yang bukan hanya punya akses ke produk keuangan, tetapi juga mulai memahami cara kerjanya. Ini terasa sekali di generasi muda. Istilah seperti investasi, reksa dana, saham, hingga kripto sudah bukan lagi kata asing. Aplikasi finansial ada di genggaman, tutorial bertebaran, dan semuanya terasa “mudah diakses”.

Namun di sinilah paradoksnya.

Banyak yang sudah tahu pentingnya investasi, tapi belum berani dengan eksekusi. Alasannya klise tapi nyata: takut rugi dan takut tidak paham. Ketakutan ini wajar, apalagi jika pengalaman finansial sebelumnya hanya sebatas tabungan dan deposito konvensional.

Di sisi lain, gaya hidup—termasuk traveling—tidak menunggu. Tiket pesawat, akomodasi, dan biaya hidup global bergerak lebih cepat daripada kenaikan gaji. Di titik ini, saya mulai melihat investasi bukan sebagai jalan pintas mencari kaya, tapi sebagai alat untuk menjaga keseimbangan: agar hobi bepergian tidak sepenuhnya menggerus stabilitas finansial keluarga.

Kripto sebagai Salah Satu Opsi Strategi

Saya tidak pernah menganggap kripto sebagai satu-satunya jawaban. Tapi ia menjadi salah satu instrumen yang menarik untuk dipelajari, terutama karena fleksibilitas dan aksesibilitasnya. Untuk konteks inilah saya menggunakan Bitget.

Secara sederhana, Bitget adalah platform investasi yang menyediakan berbagai fitur dalam satu aplikasi. Untuk pemula, ada Spot Trading, tempat membeli dan menyimpan aset kripto. Bagi yang ingin pendekatan lebih konservatif, tersedia Earn, yang konsepnya mirip deposito: menyimpan aset dan mendapatkan imbal hasil. Menariknya, Bitget juga menyediakan akses ke US Stock, sehingga pengguna bisa melihat dan berinvestasi pada saham global dalam satu ekosistem. Ada pula Copy Trading (Spot), fitur yang memungkinkan pengguna mengikuti strategi trader berpengalaman, opsi belajar sambil jalan, tanpa harus merasa sendirian.

Pengalaman awal saya cukup sederhana. Saya sudah memiliki akun Bitget dan menyimpan aset USDT di sana. Proses pendaftarannya relatif singkat: unduh aplikasi, login dengan Gmail, isi data diri, lalu verifikasi KYC menggunakan KTP dan selfie. Dalam hitungan menit, akun sudah aktif dan bisa digunakan. Praktis, tanpa drama. Untuk sementara, Bitget sedang tidak tersedia di Google Play Store maupun Apple App Store, tapi bisa di-download dengan aman di sini.

Untuk menambahkan aset cryptocurrency di dalam akun kita, maka pertama-tama klik Add Funds dulu yang ada di Homepage. Setelah itu:

  1. Pilih salah satu opsi yang diinginkan untuk membeli kripto, saya pilih P2P Trading
  2. Kamu akan dihadapkan dengan laman berisi marketplace untuk membeli kripto, dalam konteks saya adalah USDT
  3. Pilih user yang rate-nya 100% atau mendekati itu, dan perhatikan juga jumlah pesanan (Orders)
  4. Pastikan kamu membeli dalam batas (Limit) yang user itu terapkan, misalnya minimal 200,000 IDR
  5. Setelah memilih user yang mana, klik Buy
  6. Kamu akan dihadapkan laman baru, pilih tab Fiat (istilah di dalam dunia kripto untuk mata uang konvensional, seperti Rupiah)
  7. Isi jumlah Fiat yang diinginkan, misalnya Rp350.000,00—jumlah USDT yang akan kamu terima terkonversi otomatis di bawahnya
  8. Pilih Payment Method dengan Bank Transfer
  9. Kamu akan dihadapkan dengan laman baru berisi panduan pembayaran, salin nomor rekeningnya dan lakukan transaksi transfer di aplikasi digital banking-mu seperti biasa
  10. Jangan lupa screenshot atau save bila transaksi pembayaran sudah berhasil dilakukan
  11. Kembali ke laman Bitget, klik Paid, lalu upload bukti transaksi
  12. Ta-da, USDT pun sudah mendarat di rekening saya.

Agak rumit untuk pemula, tapi mudah dipelajari kok. Yang penting fokus, lakukan pelan-pelan, jangan saat grusa-grusu atau rusuh ya.

Traveling, Pilihan Personal, dan Strategi Finansial

Secara jujur, saya memang lebih menyukai traveling ke luar negeri dibandingkan dalam negeri. Bukan karena Indonesia kalah indah, tapi karena pengalaman lintas budaya selalu memberi perspektif baru. Tantangannya jelas: biaya. Apalagi sekarang saya sudah berkeluarga. Setiap rencana perjalanan harus lebih matang, tidak bisa lagi mengandalkan spontanitas semata.

Di titik inilah investasi—termasuk kripto—saya posisikan sebagai strategi pendukung. Bukan untuk spekulasi agresif, tapi sebagai cara mengelola dana dengan lebih sadar dan terencana. Agar keinginan melihat dunia tetap sejalan dengan tanggung jawab finansial.

Fenomena meningkatnya perjalanan wisatawan Indonesia menunjukkan satu hal: kita semakin berani bergerak, mengeksplorasi, dan memberi ruang untuk pengalaman hidup. Di sisi lain, peningkatan literasi dan inklusi keuangan membuka peluang agar pergerakan ini ditopang strategi finansial yang lebih cerdas.

Aplikasi seperti Bitget, dalam konteks ini, bukan sekadar alat trading. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk belajar, memahami risiko, dan perlahan membangun kebiasaan finansial yang lebih adaptif dengan gaya hidup modern. Karena pada akhirnya, traveling dan investasi punya tujuan yang sama: memberi rasa aman, sekaligus membuka kemungkinan baru di masa depan.

Yuk, install Bitget dengan klik di sini dan dapatkan kesempatan memperoleh $15 BTC airdrop! Setelah daftar, kamu juga bisa share referral link ke temen-temen kamu. 

Oh iya,  Ini pengalaman saya, Jadi untuk kamu yang mau berinvestasi jangan cuma FOMO tapi harus riset sendiri ya.  Terima kasih sudah membaca, keep learning by traveling~

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Jurnal Evi Indrawanto

Traveling, Budaya, dan Lika-Liku Wirausaha.

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu