Review Buku The DestinASEAN

Iye, gue tahu kalau udah banyak travelblogger lain yang bikin review ini. Gue juga tahu kalau review ini mungkin udah basi, sama basinya dengan ungkapan cinta yang tak kunjung diucapkan *nyepet diri sendiri* *pffft*

Tapi biarlah, karena setiap orang itu berbeda-beda, memiliki sudut pandang dan persepsi yang berbeda-beda. Karena itulah, sebagai bangsa Indonesia yang berbeda suku, bahasa, budaya, dan agama, kita harus tetap satu di atas bumi pertiwi ini *gagal fokus*

Satu hal yang mau gue apresiasi dari buku ini adalah: namanya kreatip! Eh salah — kreatif! Maklum kelamaan kuliah di Bandung #fak. Entah siapa yang mencetuskan nama DestinASEAN itu, dia mampu meracik karakter buku tersebut ke dalam satu nama yang sangat representatif.

Setelah satu dekade (oke, ini lebay) hanya bisa menahan harap, akhirnya gue kesampaian juga untuk memiliki buku idaman ini. Disebut buku idaman, karena isi buku ini ditulis oleh para travelblogger pujaan gue, sebutlah mas Ariev Rahman, Roy Saputra, Adis Takdos, Dendi Riandi, dan Oryza Irwanto. Penulis lain juga tak kalah kece, ada pasangan Adam-Susan Poskitt, Eka Situmorang-sir, Venus, Marischka Prudence, dan Puty. Udah gue absen semua, ‘kan? Nggak ada yang belum disebut?

Senangnya lagi, buku ini gue peroleh secara gratis setelah menang kuis kecil-kecilan dari mas @idbcpr dan @PergiDulu. Gue yang udah blogwalking ke mana-mana, bisa dengan cukup mudah menyebutkan keunikan-keunikan ASEAN. Besides, gue udah pernah ke Singapura dan Johor Bahru secara langsung, dan menemukan beberapa keunikan di sana.

Kembali ke review!

Sebelum mulai membaca, gue bolak-balik dulu beberapa halaman, sekedar ingin tahu apakah foto-foto di dalamnya berwarna atau hitam putih. Dan, sesuai dugaan gue, gambarnya disajikan dalam duo-tone hitam putih, seperti buku-buku traveling sejenis. Sayang ya, bakal lebih bagus lagi kalau foto-foto di dalamnya disajikan full colour dengan proporsi yang lebih banyak (khususnya untuk bagian City). Mahal dikit nggak apa-apa deh, gue beli! (padahal ini aja lo dapetnya gratisan, Gie)

Jangan salah fokus

Jangan salah fokus

Alih-alih dibedakan per negara, buku ini membagi bab demi bab berdasarkan isi tulisan: People-culture, City, Sejarah, dan Alam. Gue sih nggak ngerti sistem pembagiannya gimana, apakah ada satu orang leader yang menentukan bagian setiap orang, atau setiap orang dibebaskan mau kasih tulisan apa. Tapi, pembagiannya cenderung kurang merata. Misalnya, ada 1 bab yang diisi dengan 2 tulisan dari satu negara, yaitu di bab City yang memuat tulisan Penang dan KL sekaligus, yang sama-sama ada di negara Malaysia dan karakteristik keduanya tak jauh berbeda. Mungkin bisa diganti dengan tulisan tentang kota-kota di Indocina yang belum terlalu banyak dikenal luas, seperti Ho Chi Minh City, Hanoi, Phnom Penh, atau Vientiane.

Lalu, ada penempatan tulisan yang menurut gue kurang cocok. Tulisan bang Roy tentang Makati menurut gue lebih cocok ditempatkan di bagian City, bukan People. Karena dalam tulisan tersebut, dia mengungkapkan bagaimana suasana Makati, gedung-gedungnya, jalanannya, dan atmosfernya, mengingatkannya akan Jakarta. Pun tulisan kak Eka yang berjudul “Menawar Keberuntungan di Chinatown”, lebih pas ditempatkan di bagian People, bukan City. Di dalamnya diceritakan interaksi yang terjadi antara dia dengan seorang ibu penjual suvenir, dan kearifan lokal masyarakat Singapura yang menghargai perbedaan.

Gue nggak akan mengkritisi tulisan mereka, karena kualitasnya memang sudah terbukti. Cuma mau bilang aja sih, tulisan mbak Venus tentang Thailand Massage itu kayak cerita yang belum selesai. Entah tulisan itu dipotong atau emang segitu aja tulisannya. Lalu tulisan Adis di bagian Sejarah tentang Angkor Wat yang berjudul “Shutter Love”, kurang mengulas sejarah Angkor Wat itu sendiri, lebih banyak narasi dan deskripsi. Oh iya, Dis, tulisan lo dengan sudut pandang pertama (diri lo sendiri sebagai tokoh utamanya) jauh lebih menghibur daripada tulisan sudut pandang ketiga yang lo tulis dalam buku ini. Tapi it’s okay, ini kreatif! 🙂

Mengesampingkan semua kekurangan itu, I do really enjoy reading this book! Tulisan dari mas Ariev, Roy, dan Dendi, selalu berhasil menghadirkan humor yang membuat gue senyam-senyum sendiri. Dari buku ini jugalah, gue tahu tentang kak Puty, travelblogger unik yang menyajikan ilustrasi dalam bentuk sketsa (ada di tulisan tentang Singapura, judul pertama dalam bab People). Saat menuliskan perjalanannya di Ayutthaya pun, dia mengemasnya dalam bentuk sebuah puisi yang bercerita. Seniman sejati deh! *thumbs up* *brb cari blognya*

Gue juga suka tulisannya mas Oryza yang berjudul Brunei Trip. Bener-bener pas ditempatkan di bab City, dan mampu membuat gue ikut merasakan atmosfer Bandar Seri Begawan, membuat imajinasi gue bermain. Thumbs up buat tulisannya teh Susan Poskitt yang mengulas habis sejarah Laos, berasa baca buku Sejarah, tapi hebatnya nggak bikin bosen. Tulisan suaminya, bang Adam Poskitt, juga asik dibaca. Meski disajikan dalam bahasa Inggris, untungnya gue tetep ngerti garis besarnya, hehe. Semuanya bagus deh!

Kesimpulannya, buku destinASEAN ini tetep worth banget buat dibeli, terutama buat kamu yang sangat suka membaca. Buat yang pengen menikmati hasil bidikan kamera mereka, berkunjunglah ke travelblog mereka. Nanti kalau mau bikin buku DestinASIA, gue sangat merekomendasikan mas Fahmi @catperku dan mas Febry Fawzi. Cerita perjalanan mereka di Jepang asik banget buat dimuat dalam sebuah buku.

Sedikit saran aja nih, gue berpikir lebih baik buku The DestinASEAN ini lebih fokus dengan tulisan tentang perjalanan di 9 negara ASEAN, tanpa Indonesia. Untuk cerita tentang Indonesia, bisa dibuat dalam satu buku tersendiri. Gue teramat yakin, bahkan satu buku pun tak cukup muat untuk menceritakan seisi nusantara. Jadi, masih ada ruang dalam buku ini untuk menceritakan perjalanan di negeri tetangga. Terus, cerita Adis tentang Sumatera di bab Alam rush traveling banget yaaa, hahaha. Alih-alih terpukau membayangkan keindahan alamnya, gue malah jadi sedih karena di situ dia lebih banyak menceritakan perjalanannya. Tapi lalu seneng (lhah, kok labil) karena dia memutuskan untuk berhenti merokok. Mungkin bisa diganti dengan tulisan lain yang lebih fokus dengan satu daerah, Dis. Saran selanjutnya, mungkin bisa ditambahkan bab KULINER! Hahaha. Iya gue tukang makan. Puas? Soalnya, negara-negara ASEAN itu kaya kuliner banget, sebutlah Thailand, Malaysia, atau Vietnam. Untuk bab Alam, cerita perjalanan di Thailand yang memiliki banyak pantai pasir putih sangat layak dimasukkan.

Overall, lo nggak akan rugi beli buku ini! Nggak cuma terhibur dengan tulisan para author yang khas — yang terselip humor, yang pandai merangkai kata bak novelis — lo juga bisa mendapatkan banyak informasi. Dari tulisan bang Roy, gue jadi tahu keberadaan Mount Faber Park alias Telok Blangah Hill yang bertekad gue kunjungi dalam kunjungan gue ke Singapura berikutnya. Dari tulisan mas Ariev, gue tahu tempat-tempat apa aja yang bisa gue kunjungi saat di Hatyai (karena gue berencana mengunjungi kota itu pada pertengahan Juni nanti). Tulisan teh Susan jugalah yang menginformasikan gue akan sebuah kota di Laos bernama Vieng Xang yang sarat akan potensi wisata sejarah. Atau tulisan mas Oryza tentang Brunei (sebelumnya udah gue baca di blognya) yang sukses bikin gue kepengen ke Brunei, tergoda akan ketenangan dan ritme hidupnya. Juga tulisan mas Ariev (lagi), yang membuka mata gue bahwa Vietnam itu nggak cuma Ho Chi Minh City, Hanoi, atau Ha Long Bay. Setelah baca tulisannya juga, gue jadi tahu di mana kawasan backpacker di Ho Chi Minh City. Pokoknya buku ini sarat manfaat banget!

Akhir kata (lah, jadi kayak pidato kelurahan), mohon maap banget kalau ada kritik yang nggak berkenan. “Apaan sih lo, anak travelblogger kemarin sore kok udah berani mengkritik para senior yang udah terbukti kualitasnya.” Yah, gue di sini memposisikan diri sebagai pembaca yang hanya ingin menyampaikan uneg-unegnya. Tulisan ini bersifat subjektif, masalah selera dan persepsi. Jadi belum tentu temen-temen pun sependapat dengan gue. Feel free ya buat kasih tanggapan atau pendapat dari sisi temen-temen. Mungkin tulisan ini emang kurang cocok buat disebut review ya, lebih tepat disebut… Nggak tahu deh istilahnya, hehe. Makasih banget udah mau baca :3

5 thoughts on “Review Buku The DestinASEAN

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s