CireBon Voyage #4: Mengenal Sumber, Putrajaya-nya Kota Udang

Siapa bilang jalan-jalan  itu harus jauh-jauh ke luar kota, luar pulau, luar negeri, hingga luar angkasa? Buang jauh-jauh deh pemikiran kayak gitu. Yang sering kali terjadi adalah, kita sendiri malah melupakan tempat tinggal kita sendiri, lingkungan kita, dan tidak tahu ada apa di belakang rumah kita. Siapa tahu, ada objek menarik di depan mata kita sendiri, yang hanya tertutup sebongkah balok. Karena itulah, hari Minggu ini setelah gue selesai menunaikan kewajiban bergereja, gue segera menuju kota kecil yang menjadi perantauan gue dan melakukan sebuah penjelajahan singkat.

Sebenernya, Sumber itu bukanlah sebuah kota. Ia hanya sebuah kecamatan di luar wilayah kotamadya Cirebon dengan lama tempuh selama 45 menit hingga 1 jam dari pusat kota (tergantung kondisi jalan dan suasana hati sopir angkot). Namun, kecamatan ini telah menjadi sebuah kota kecil yang hidup, lengkap dengan kawasan nongkong dan pusat-pusat keramaian. Itu semua berkat keberadaan komplek Pemda Kabupaten Cirebon dan Polres Cirebon, yang akhirnya menumbuhkan pusat-pusat keramaian di Sumber. Hal ini juga didukung dengan keberadaan dua kantor cabang perusahaan ritel ternama Indonesia You-Know-Who dan beberapa perusahaan lainnya, menjadikan Sumber sebagai sebuah kawasan industri mini. Sumber mengingatkan gue akan Putrajaya, kawasan di luar wilayah Kuala Lumpur yang menjadi pusat pemerintahan dengan dibangunnya komplek gedung-gedung pemerintahan. Nah, anggaplah Sumber adalah Putrajaya dengan versi yang lebih kecil dan bersahaja.

Sudah beberapa kali gue melintasi Taman Indah Sumber dan simpang komplek Pemda Cirebon tersebut, tapi belum pernah sekalipun berkunjung masuk ke dalamnya. Jadi, kalau nggak sekarang, kapan lagi? Mumpung gue ada waktu dan cuaca cerah. Gue yang seharusnya terus berjalan hingga angkot berhenti di kantor Polres Cirebon (titik terdekat antara rute angkot dengan kost gue), memutuskan untuk berhenti dan turun beberapa ratus meter sebelum tiba di kost gue. Saatnya melakukan eksplorasi dengan kota yang membanggakan dirinya sebagai kota adipura ini!

Atas: simpang dilihat dari komplek Pemda. Bawah: Jalan masuk komplek Pemda Cirebon.

Atas: simpang dilihat dari komplek Pemda. Bawah: Jalan masuk komplek Pemda Cirebon.

Taman Indah Sumber (gue nggak yakin ini namanya, tapi ada yang bilang gitu) terletak persis di sudut persimpangan, di samping jalan masuk menuju komplek Pemda Kabupaten Cirebon. Beberapa penjual makanan gerobak berjajar di depan taman yang tak terlalu besar ini. Thanks to Semen Tiga Roda yang sudah bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk merenovasi taman ini *bukan tulisan berbayar* Jarang banget lho ada kota kecil yang punya taman kayak gini. Biasanya sih, taman-taman seperti ini (yang difungsikan sebagai area publik) hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Sementara di kota-kota kecil, paling mentok juga sepetak taman yang berada di tengah-tengah persimpangan.

Tak begitu banyak yang ditawarkan taman itu, hanya lahan berumput rapi seluas beberapa ratus meter persegi dengan jogging track yang pendek dan beberapa bangku panjang melengkung yang berjajar di salah satu sisi. Sekelompok anak muda tengah duduk-duduk galau menempati bangku-bangku itu, sementara sekelompok lainnya sedang membentuk sebuah forum di sudut taman sambil memainkan gitar dan bernyanyi-nyanyi santai.

Satu hal yang sangat gue sayangkan adalah adanya sampah-sampah yang berserakan di atas rumput hijau yang rapi. Nggak banyak-banyak amat sih, tapi tetep aja mengganggu, padahal di situ ada tempat sampah lho. Ayo, Indonesia, budayakan membuang sampah pada tempatnya. Kalau nggak ada tempat sampah yang bisa dijangkau, coba dikantongi dulu dan dibuang setelah menemukan tempatnya. Jangan egois ya 😀

Thanks to Semen Tiga Roda

Thanks to Semen Tiga Roda

Suasana taman

Suasana taman

Cuaca yang panas terik membuat gue nggak ingin berlama-lama di taman, lagipula semua bangku udah penuh. Gue turun ke jalan masuk menuju komplek Pemda Kab. Cirebon, bernama Jl. Sunan Malik, yang berhiaskan gapura besar berbata merah khas Cirebon. Jl. Sunan Malik ini mulus, diapit oleh pepohonan di kedua sisi dan garis tengahnya. Saat itu hari Minggu, masih ada pedagang-pedagang pasar rakyat yang bertahan, sementara tak sedikit yang mulai berkemas dan menutup lapaknya seiring dengan pengunjung yang semakin berkurang. Saat hari-hari biasa, Jl. Sunan Malik ini cenderung tak terlalu ramai dengan arus lalu lintas dan masih cukup bersih. Malah sering digunakan sebagai ajang nongkrong dan pacaran anak-anak muda lokal, terutama komunitas sepeda motor.

Menyusuri Jl. Sunan Malik tersebut, gue melalui beberapa kantor pemerintah, misalnya Kantor Kecamatan Sumber, dengan gedungnya yang biasa-biasa saja. Satu-satunya hal yang menarik adalah gapura bata merah khas Cirebon yang selalu setia berdiri sebagai garda depan, tapi itu pun lama-lama sudah menjadi pemandangan yang lazim buat gue. Gue lalu sampai di sebuah persimpangan lain, masuk ke sebuah jalan yang ditutup dengan portal. Jalan yang entah gue lupa namanya itu, yang jelas sama-sama diambil dari nama Sunan, tampak bebas dari pedagang-pedagang yang semrawut. Pepohonan yang rindang berjajar di kedua tepinya, memayungi beberapa anak yang sedang asyik ber-otoped di tengah jalan yang bebas kendaraan itu. Gue semakin bersemangat!

Atas: Jalan Sunan Malik. Bawah: Memasuki jalanan yang lengang, bersih, dan rindang.

Atas: Jalan Sunan Malik. Bawah: Memasuki jalanan yang lengang, bersih, dan rindang.

Gue kembali tiba di sebuah persimpangan. Sebuah kali yang bersih mengalir di sisi jalan yang lengang dan bersih itu, terlindung dari teriknya cahaya matahari berkat naungan pepohonan besar yang berdiri gagah menghalau serangan panas sang surya. Gue suka banget di sini! Selama beberapa saat, gue duduk santai di pinggir kali, membalas pesan-pesan dari aplikasi chatting yang sedari tadi gue acuhkan sambil membiarkan keringat perlahan menguap bersama angin yang bertiup kalem.

Gue memilih terus berjalan lurus, melalui jalanan yang lebih teduh. Bahagia banget deh, iseng jalan-jalan dan menemukan tempat yang gue suka banget. Lebih bahagia lagi saat gue sampai di ujung jalan, menghadapi rumah-rumah penduduk yang berjajar dengan agak renggang di samping lahan persawahan dan sebuah hutan kecil. Jembatan-jembatan kecil yang apik melengkung di atas sunga, menghubungkan jalanan dengan kawasan hunian warga. Ah, gue mau banget deh punya rumah di tempat kayak gini. Damai, bersih, hijau, sejuk, dan nyaman :3

Jalan yang bersih, membujur di sisi sungai yang jernih, di antara pepohonan yang rindang. Love it here!

Jalan yang bersih, membujur di sisi sungai yang jernih, di antara pepohonan yang rindang. Love it here!

Salah satu jembatan yang menghubungkan perkampungan dengan jalan

Salah satu jembatan yang menghubungkan perkampungan dengan jalan. Di belakang sana adalah persawahan dan hutan kecil.

Gue berjalan ke arah kanan, menyusuri jalanan yang memanjang berdampingan dengan sungai. Gue mengikuti jalan yang melengkung ke kiri, mengantarkan gue ke sebuah jalan yang harusnya akan gue lalui jika dari persimpangan tadi gue berbelok ke kanan — bukan lurus. Kantor-kantor pemda Kab. Cirebon, sebut saja Dinas Sosial dan dinas-dinas yang lain, mewarnai perjalanan gue menyusuri jalanan itu. Gue bahkan menemukan sebuah museum bernama Museum Pangeran Cakrabuwana yang terletak berhadapan dengan Dinas Pendidikan. Sayang banget museumnya tutup, padahal seharusnya museum itu buka pada hari Minggu, karena akan menjadi hari tersibuk baginya dalam satu minggu. Kecuali gue cuti atau kerja setengah hari, gue nggak akan bisa berkunjung ke museum itu.

Gue terus berjalan menyusuri jalan yang tak serindang jalan-jalan sebelumnya. Maklum, sudah dekat dengan jalan utama. Tak berapa lama kemudian, gue sudah berada di simpang Polres Cirebon yang terletak tak jauh dari kost gue. Well, akhirnya gue mengenal daerah tempat tinggal gue ini dengan lebih baik. Meski harus berjalan dengan nafas yang agak sesak (nggak tahu deh, kesehatan gue belakangan ini sedang menurun), namun gue tetap menikmati petualangan kecil gue hari ini.

Museum Pangeran Cakrabuwana

Museum Pangeran Cakrabuwana

Dinas Pendidikan Kab. Cirebon

Dinas Pendidikan Kab. Cirebon

See? Gue adalah seorang pejalan sejati. Bertualang di sebuah kota menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri buat gue. Yang gue kunjungi bukan hanya objek-objek wisatanya, namun malah lebih banyak ke objek-objek yang menjadi tempat keseharian warga — pusat keramaian, tempat nongkrong, kawasan kuliner, area-area publik, juga mengamati tata kota dan sistem transportasinya. Gue ingin mendapatkan atmosfer sebuah kota secara utuh. Daripada sibuk dengan itinerary seabrek yang akhirnya hanya menjadi titik-titik perhentian sesaat, gue lebih suka fokus dengan tiga atau empat objek dalam sehari. Gue akan menikmati setiap jalan yang gue lalui dan setiap tempat yang gue kunjungi.

Gue yakin, gue punya potensi. Hanya saja, pengalaman gue selama ini belum terlalu banyak karena terkendala masalah waktu dan biaya *klise ya* Blog gue mungkin juga nggak seramai blog-blog lain yang sebenernya seumuran, karena gue nggak bisa menampilkan foto-foto yang menawan. Iya, fasilitas gue memang masih terbatas, belum punya kamera SLR atau bahkan sekedar kamera digital. Jadi gimana, ada yang berminat meng-hire atau mensponsori gue? 😀

Iklan

11 thoughts on “CireBon Voyage #4: Mengenal Sumber, Putrajaya-nya Kota Udang

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s