Terpukau dengan Makau

Apa yang pertama kali terlintas di benak kamu saat mendengar kata “Macau”? Kota dengan seabrek mega-mal? Gedung-gedung tinggi yang gemerlap? Nah, Macau atau Makau (menurut ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan) nggak cuma sekedar tempat belanja dan senang-senang lho. Macau juga kaya akan objek-objek wisata sejarah, arsitektur, religi, dan kuliner! Kota yang dijuluki “City of God” ini memiliki seabrek gereja atau kapel kuno yang cantik dan terawat dan bangunan-bangunan lain yang akan membuatmu merasa seolah-olah sedang berada di Eropa, bukan Asia. Nggak cuma bangunan-bangunan kuno, kuliner Macau pun menawarkan sensasi cita rasa yang kaya dan berbeda dari kota-kota lain di Asia!

Karena itulah, gue sebagai seorang pemuja bangunan (idih, musyrik dong) dan penjelajah kota merasa sangat terpanggil untuk menginjakkan kaki di Macau. Gue mau mengunjungi bangunan-bangunan tuanya yang terawat, menyusuri jalan-jalan kota tuanya yang cantik, mengagumi gedung-gedung modern-nya yang memukau, dan mencicipi kuliner khas sambil berbaur dengan warga lokal. Akhirnya, setelah mencoba mengorek informasi pada mas Google, gue merumuskan tempat-tempat apa aja yang bakal gue kunjungi saat ke Macau nanti. Sebagai seorang traveler bersahaja, gue hanya bisa berharap bisa jalan-jalan gratis ke Macau selama 3 hari 2 malam.

Ini dia tempat-tempat itu.

Macau Tower – Kalau sebelumnya gue udah berhasil mengunjungi Kuala Lumpur dengan Petronas Twin Tower-nya, juga bermimpi untuk mengunjungi Taipei 101 di Taipei, hingga Tokyo Sky tree, maka Macau Tower ini adalah destinasi utama dalam lawatan gue di Macau. Menjulang setinggi 338 meter, Macau Tower sukses menjadi ikon atau landmark dari wilayah Macau itu sendiri. Gue memang senang mengunjungi tempat-tempat populer di suatu kota atau wilayah, sambil tetap blusukan agar bisa menawarkan sesuatu yang berbeda untuk pembaca.

Macau Tower and the bright blue sky

Macau Tower and the bright blue sky. Source: Wikipedia

Yang lebih menariknya lagi, pengunjung bisa naik ke observation lounge di level 58 dan observation deck di level 61. Kamu akan bisa menikmati panorama Taipa dan Macau Peninsula dari ketinggian 223 meter. Untuk bisa menikmati fasilitas ini, pengunjung harus membayar upeti sebesar 120 MOP atau 60 MOP (untuk anak-anak). Duh, gagal naik ke observation deck KL Tower, gagal juga nggak ya buat naik ke observation deck Macau Tower ini?

Nah, hiburan (?) selanjutnya cocok buat kamu yang suka menantang adrenalin atau ingin mengalahkan rasa takut. Ada mast climb (299 MOP) di mana pengunjung akan merasakan sensasi climbing di atas ketinggian 100 meter. Lalu bungee jumping (299 MOP juga) yang digadang-gadang sebagai bungee jumping tertinggi sejagad — 223 meter. Terakhir, ada Skywalk X (588 MOP) untuk kamu yang berani berjalan di atas ketinggian 223 meter tanpa pegangan. Ehem, gue nggak usah ikut yang begituan lah yaaa, biar hemat *alibi* *sebenernya karena takut ketinggian*

Ruin of St. Paul’s Church – Reruntuhan Gereja St. Paul’s (Igreja de Santo Paulo) ini adalah destinasi wajib kalau gue jalan-jalan ke Macau. Pertama kali dibangun pada 1580, gereja ini kemudian terbakar pada 1595 dan 1601. Rekonstruksi dilakukan pada 1602 hingga 1637. Sialnya, terjadi kebakaran lagi pada 1835 yang melahap habis gedung gereja dan universitas (Jesuit College of St. Paul’s), menyisakan bagian façade dan tangga seperti yang bisa pengunjung lihat saat ini.

Untuk menuju pintu masuknya, pengunjung harus berjalan kaki menapaki 66 anak tangga yang diapit dengan taman kecil yang indah. Pengunjung juga bisa naik ke atas reruntuhan untuk melihat keindahan Senado Square dari ketinggian dengan menaiki tangga baja yang menopang bangunan ini dari belakang. Sore hari di Ruin of St. Paul’s Church lebih semarak dengan lampu-lampu yang berpendar keperakan dan aksi para musisi lokal yang menghibur.

Ruin of St. Paul. Source: pegipegi

Ruin of St. Paul. Source: pegipegi

Asyiknya lagi, Ruin of St. Paul’s Church ini dekat dengan Pastelaria Koi Kei. Gue bisa sekalian wisata kuliner dengan menikmati egg tart khas Macau yang kondang itu sambil belanja oleh-oleh. Hihihi. Sebagai seorang penjelajah kota, kuliner adalah bagian yang tidak akan terpisahkan.

Macau memang memiliki gereja dan kapel tua yang melimpah, misalnya: St. Lawrence Church, St. Dominic’s Church, St. Joseph’s Church and Seminary, St. Augustine’s Church, The Cathedral, St. Anthony Church, Chapel of Our Lady Guia (Guia Fortress), Chapel of Our Lady Penha, Chapel of St. James, Chapel of St. Michael hingga Chapel of St. Francis Xavier. Dan, yes! Gue mau mengunjungi semua tempat itu! Hopefully.

Senado Square atau Largo do Senado – Kawasan publik seperti alun-alun seluas 3.400 meter persegi dengan jajaran pertokoan dan bangunan klasik bergaya portugis yang cantik. Sebut saja Gereja St. Dominic’s, gedung General Post Office, Holy House of Mercy, hingga deretan Macau Business Tourism Center. Senado Square semakin apik dengan mosaik bergelombang bermotifkan batuan berwarna yang dibuat pada 1990.

The Senado Square. Source: cina(dot)panduanwisata

The Senado Square. Source: cina(dot)panduanwisata

Senado Square juga dikenal dengan nama Fountain oleh warga lokal, karena keberadaan sebuah air mancur di tengah plaza yang dulunya adalah sebuah patung prajurit Portugis bernama Mesquita. Namun kemudian patung tersebut dihancurkan oleh pasukan Cina. Pengunjung dapat mengunjungi deretan pusat perbelanjaan dan restoran tradisional Cina yang ada di tempat ini.

Gue selalu menyukai kawasan pejalan kaki seperti ini. Di Singapura, gue menemukan Orchard Road yang lapang dan rimbun. Di Macau, gue akan mengagumi Senado Square ini. Menyusuri Senado Square di Macau ini akan terasa seperti menyusuri jalan-jalan di kota-kota Eropa. Entah kapan gue dapat merealisasikan mimpi gue ke Eropa, namun Senado Square seolah membawa gue selangkah lebih dekat. Terus kalau laper atau pengen beli oleh-oleh, tinggal melipir ke Rua de Felicidade deh. Hihihi.

A-Ma Temple – Kuil tertua di Macau ini dibangun untuk menghormati Dewi Matsu, dewi para pelaut dan nelayan. Konon dari sinilah nama Macau (A-Ma Gao) berasal. Kuil ini dibangun pada tahun 1488 pada masa Dinasti Ming (1368-1644).

A Ma Temple. Source: panoramio

A Ma Temple. Source: panoramio

Menurut cerita, Dewi Matsu tadinya adalah seorang gadis bernama A-Ma. Dia ingin menyeberang ke Kanton bersama kapal seorang pedagang kaya, namun saudagar itu tidak mengizinkannya. Seorang nelayan miskin lantas menawarkan kapalnya yang sederhana. Dalam perjalanan, badai menerjang laut namun hanya kapal A-Ma bersama nelayan miskin itu saja yang masih bertahan. Setibanya di Makau, A-Ma menghilang lalu muncul kembali dalam rupa seorang dewi. Di tempat kemunculannya sebagai dewi itulah, masyarakat Macau membangun A-Ma Temple di sebuah bukit berbatu.

A-Ma Temple terdiri dari halaman, paviliun, dan ruang berdoa. Tiga dari keempat pavilion yang didedikasikan untuk Dewi Matsu tersebut berisi patung-patung sang dewi, model meriam, model kapal, dan kapel atau ruang sembahyang untuk dewa-dewa dalam ajaran Buddha atau Taoisme. Sementara kuil paling atas dipersembahkan untuk Kuda Lam. Façade kuil ini memiliki gerbang dengan patung dewa-dewi dan dinding warna-warni.

Nuansa kota tua akan selalu menarik untuk gue kunjungi karena pasti memiliki seabrek bangunan kuno yang indah, seperti di Chinatown Singapura yang membuat gue kagum tiada henti dan Georgetown Heritage Site yang bangunan-bangunan lamanya masih sangat terawat. Karena itulah, menyusuri Lilau Square hingga Mandarin’s House adalah itinerari yang nggak akan gue lewatkan.

A corner at Lilau Square. Source: tripadvisor

A corner at Lilau Square. Source: tripadvisor

Lilau Square ibarat kawasan Menteng di Jakarta, bekas kawasan pemukiman kolonial pada masanya. Kawasan ini penuh dengan rumah-rumah tua bergaya art-deco khas Portugis atau negara-negara Mediterania lainnya. Menjelajah Lilau Square akan memberikan nuansa yang berbeda, seolah sedang berada di sebuah Negara Eropa Selatan. Rumah-rumahnya khas dengan sentuhan warna-warna cerah seperti merah atau oranye, memberikan aksen untuk warna putih yang mendominasi dinding luarnya.

Mandarin’s House, yang terletak tidak jauh dari Lilau Square, adalah sebuah komplek perumahan kuno seluas 4.000 meter persegi yang dibangun pada tahun 1881. Di sini, gue akan dimanjakan dengan rumah-rumah kuno bergaya campuran Cina dan art-deco yang berderet sepanjang 120 meter di Barra Street. Biayanya gratis pula! Namun hanya dapat dinikmati dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore pada hari Jumat – Selasa.

Coloanne Village – Satu konsep dengan Lilau Square, Coloanne Village menyajikan wisata kota tua bagi pengunjungnya. Kalau capek, tinggal nongkrong-nongkrong di Lord Stow’s Café, menikmati sepotong egg tart dan secangkir kopi hangat. Ah, enaknya sore-sore ‘nih ke sini. Gue juga akan mampir ke Chapel of St. Francis Xavier yang masih berada di kawasan ini.

A corner at Coloane Village. Source: yukpegi

A corner at Coloane Village. Source: yukpegi

Masih ada lagi Taipa Village dengan Rua de Cunha di salah satu sudutnya, salah satu kawasan kuliner di Macau. Kalau gue bisa 3 hari di Macau, gue akan mengunjungi Coloanne Village pada hari pertama, Lilau Square dan Mandarin’s House pada hari kedua, baru Taipa Village pada hari ketiga. Selain memiliki jajaran bangunan-bangunan tua yang indah, ketiga kawasan itu juga mempunyai jalan-jalan kecil atau lorong-lorong cantik dengan lampu jalanan kuno dan bangku-bangku umum. Gue bisa lebih mengeksplor keseharian warga lokal di tempat-tempat seperti ini.

Camoes Garden and Grotto – Kunjungan ke taman tertua di Macau ini wajib banget buat gue yang suka berkunjung ke tempat-tempat publik suatu kota. Dibangun pada abad 16, kawasan hijau ini memiliki luas hingga 20.000 meter persegi! Tapi siapa sangka, taman ini dulunya adalah rumah seorang Portugis yang senang memelihara merpati. Maka jangan heran jika akan ada banyak burung merpati beterbangan di tempat ini.

Nah, nama Camoes itu sendiri berasal dari nama seorang penyair Portugis bernama Luis de Camoes yang harus menjalani pengasingan di Macau selama 2 tahun. Camoes sering mengunjungi taman ini untuk mencari inspirasi dan mengerjakan karya-karyanya. Namun beliau meninggal pada 10 Juni 1580. Tanggal kematiannya lalu diperingati sebagai Portugal Day, di mana para warga keturunan Portugis akan berkumpul di taman ini. Bahkan patung Camoes yang lahir pada 1524 tersebut dibangun di taman ini, tepatnya pada tahun 1886.

Camoes Garden. Source: chinatouronline

Camoes Garden. Source: chinatouronline

Selain patung Luis de Camoes, hal menarik lainnya adalah keberadaan patung dua anak kecil yang saling merangkul yang melambangkan persahabatan antara Portugal dan Tiongkok — Barat dan Timur. Beberapa bangunan klasik bergaya art-deco juga berada di sekeliling taman hingga menghadirkan keindahan tersendiri. Naik ke puncak tertingginya, gue akan bisa melihat panorama Macau Peninsula yang indah. Di Camoes Garden and Grotto ini jugalah, gue bisa mengamati dan berbaur dengan warga lokal yang menghabiskan waktunya di sini untuk bersantai, ngobrol, hingga berlatih tai chi.

Casa Garden, Lom Lim Iok Garden, dan Sun Yat Sen Park juga pengen gue kunjungi. Taman-taman itu bisa gue jadikan destinasi transisi alias waktu jeda untuk beristirahat pada siang atau sore hari, seperti saat gue mengunjungi Chinese Garden di Singapura yang cozy banget! Cocok buat santai-santai.

The Venetian Resort and Hotel – Hotel terluas di Asia! Bangunan keenam terluas di dunia! Salah satu tempat yang menjadi ikon Macau! Gue nggak akan menyia-nyiakan kesempatan mengunjungi pusat hiburan terkemuka di Macau ini. Hotelnya sendiri memiliki 6.300 kamar dan 30 lantai! Andai gue bisa menginap semalam saja di salah satu kamarnya, hihihi. Yang menarik lainnya buat gue, The Venetian ini dirancang sebagai miniatur kota Venice atau Venisia di Italia (makanya dinamakan The Venetian), lengkap dengan menara, kanal-kanal buatan, dan gondola yang bisa dinikmati pengunjung dengan tariff 108.000 MOP *glek!*

Yah, sekedar foto-foto dari luar dan melihat-lihat ke dalam udah cukup lah buat gue. Nggak tertarik buat belanja di mal atau makan di pujaseranya. Heu heu *menghibur diri sendiri*

The Venetian Macao. Source: Wikipedia

The Venetian Macao. Source: Wikipedia

Galaxy Resort – Sama-sama menakjubkan seperti The Venetian, bolehlah mampir juga ke tempat ini, apalagi lokasinya dekat dengan The Venetian. Galaxy Resort Macau memiliki luas 550.000 meter persegi dengan total 2.250 kamar (dari 3 hotel bintang lima yang berada di dalamnya). Tempat yang dibuka pada 15 Mei 2011 ini akan membuat takjub pengunjung dengan Wow Features-nya! Berupa sebuah permata setinggi 3 meter bernama The Fortune Diamond yang akan naik turun menyambut pengunjung di bagian lobi. Di lobi kedua, Wishing Crystals akan muncul dari bawah dan menyambut pengunjung dengan ritmis sesuai iringan musik.

Galaxy Resort juga memiliki wahana bermain yang spektakuler! Salah satunya adalah sebuah kolam seluas 4.000 meter persegi dengan pasir putih dan ombak buatan setinggi 1.5 meter. Gue sih cukup foto-foto aja juga udah seneng banget kok *kembali menghibur diri lagi*

Semua daftar itu belum selesai lah. Masih ada Holy House of Mercy, Museum de Macau, Grand Prix Museum, Leal Senado, Grand Lisboa Hotel, and the list goes on. Syukurlah tempat-tempat wisata di Macau saling berdekatan. Sebagian dari tempat itu juga hanya menghabiskan beberapa menit dalam setiap kunjungan, sekedar mengambil foto dari luar lalu mampir sedikit ke dalam. Hehehe. Buat kamu yang juga mau jalan-jalan ke Macau, jangan lupa follow twitter dan like fanpage MGTO / Macau Indonesia dulu ya.

Follow MGTO di Twitter

Follow MGTO di Twitter

Follow VIVAlog di Twitter

Follow VIVAlog di Twitter

Like MGTO di Facebook

Like MGTO di Facebook

Bukti Screenshot

Gawat! Gue udah bener-bener jatuh cinta sama Macau ‘nih. Kayaknya, menang nggak menang gue akan tetap ke sana. Damn! 😐

Iklan

28 thoughts on “Terpukau dengan Makau

  1. Aku kayaknya off aja deh kuis2 gratisan gini. Sering ikut tapi jarang dapet. Mungkin pesan moralnya, aku disuruh kerja aja & nabung biar bisa jalan-jalan nyaman. Hehehe. Semoga menanglah kamu 🙂

  2. Pengen ikut tapi belum sempat bikin.
    BTW, mau koreksi nih, di ketentuan lombanya, ga boleh menggunakan kata kasion/casion/serupa lho. Coba dibaca lagi yang poin ke-3.
    Gud luck ya nugi, kakang bersamamu… hahaha

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s