Kelana Sri Lanka, Sebuah Cerita tentang Mimpi Meneroka Asia

Sri Lanka, negeri yang indah di selatan India

Nama Sri Lanka belakangan terus terngiang di dalam kepala. Konon, inilah negeri yang disebut Kerajaan Alengka dalam cerita pewayangan, tanah yang dikuasai Rahwana di selatan India. Namun, bukan itu yang menjadi daya tarik Sri Lanka bagi saya. Tak seperti kebanyakan tetangganya di kawasan Asia Selatan𑁋terutama India, Bangladesh, Pakistan, dan Nepal𑁋Sri Lanka adalah sebuah negara yang bersih dan tertata.

Keinginan untuk mengunjungi Sri Lanka sudah mencuat sejak beberapa tahun yang lalu sebelum pandemi merebak. Saat itu, saya membaca cerita perjalanan dari salah satu rekan travel blogger, Febry Fawzi @triptotrip, yang melakukan perjalanan ke Sri Lanka. Lalu sejak work-from-home dan tidak bisa banyak melakukan perjalanan, saya menghabiskan banyak waktu dengan berkelana via daring. Youtube menjadi jendela dunia bagi saya! Saya mengikuti cerita perjalanan banyak vlogger, dalam dan luar negeri, di mana sebagian dari mereka membawa saya berpetualang ke Sri Lanka. 

Beberapa waktu lalu, negeri ini sempat menjadi perhatian dunia karena kekacauan keuangan negaranya.  Belakangan, nampaknya Sri Lanka sudah mulai pulih entah bagaimana caranya. Mungkin mendapat bantuan dana, saya tak paham. Yang jelas, Youtuber @danygotaworldtosee sukses membuat mimpi saya ke Sri Lanka kembali membuncah!


Persiapan Menuju Sri Lanka

Sejak tahun 2019 hingga kabar terakhir di tahun 2020, Sri Lanka memberikan kebijakan bebas visa bagi pemegang paspor di Indonesia. Nah, saya kurang tahu bagaimana kabar terakhir saat ini, mengingat kita sedang menjalani masa post-pandemi dan Sri Lanka sedang beranjak bangkit dari keterpurukan. Tapi kalau pun harus mengajukan visa atau visa on arrival, buat saya nggak masalah. Harusnya nggak akan sesusah dengan kalau kita mengajukan visa ke Jepang lah ya.

Bandaranaike International Airport, Colombo
Berbeda dengan tetangga-tetangganya di Asia Selatan, Buddhism adalah keyakinan mayoritas di Sri Lanka

Sama dengan Indonesia, Sri Lanka adalah sebuah negara tropis dengan perbedaan suhu yang tidak signifikan. Jadi, rasanya saya nggak perlu mempersiapkan baju khusus. Cukup membawa baju-baju yang saya pakai sehari-hari di Indonesia, baik itu baju santai maupun setelan pakaian hangat untuk di Kandy dan Ella. 

Katanya, waktu terbaik untuk mengunjungi Sri Lanka adalah dari Desember hingga April, atau saat musim dingin berlangsung. Tidak akan banyak hujan, kering, dan suhunya relatif nyaman. 

Saya sudah memikirkan kota-kota mana saja yang ingin saya kunjungi selama di Sri Lanka. Well, mainstream saja sih, tapi saya akan banyak menjelajah sudut-sudut kotanya yang tidak banyak dijamah turis, karena memang misi saya mengunjungi suatu negara adalah untuk mengukir pengalaman live like a local. Lalu, bukanlah Sri Lanka sendiri sampai saat ini masih belum menjadi rujukan utama destinasi liburan turis Indonesia? Masih banyak yang belum tahu begitu menariknya Sri Lanka, mungkin berpikir bahwa Sri Lanka sama kacau dan kumuhnya dengan India. Padahal tidak demikian.

Panorama Colombo, ibukota Sri Lanka

Colombo, Galle, Kandy, dan Ella akan menjadi tujuan perjalanan saya di Sri Lanka. Dua minggu rasanya sudah cukup untuk menikmati keempat kota itu, atau paling lama 3 minggu. Berhubung belum banyak (atau malah nggak ada?) tiket atraksi wisata Sri Lanka yang bisa dibeli secara online, dan tempat-tempat yang ingin saya kunjungi hanyalah tempat-tempat publik dan tempat ibadah, jadi rasanya nggak perlu melakukan reservasi apa pun secara online untuk sebuah perjalanan di Sri Lanka𑁋kecuali hotel.

Pada dasarnya, Colombo dan seantero Sri Lanka belum semaju Jakarta dan Pulau Jawa. Jaringan bus kota yang lawas tanpa pendingin udara dan bemo/tuktuk masih menjadi moda transportasi umum andalan bagi warga. Meski jadul, namun bus-bus kota dan bemo-bemo itu tetap bersih dan rapi. Mereka bahkan tertib berkendara lho, sigap berhenti mempersilakan pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross.

Meski lawas, bus kota di Colombo tetap bersih dan tertib berkendara
Sebuah kereta api melintas di garis pantai Colombo, Sri Lanka

Sri Lanka juga belum memiliki rapid transit system apapun. Jangankan MRT, sistem bus kotanya masih konvensional seperti Yogyakarta di awal 2000an. Namun meski begitu, jaringan kereta apinya sudah cukup baik, menghubungkan kota-kota di berbagai penjuru negeri. Meskipun belum ada layanan mewah dan modern seperti kereta api luxury di Indonesia, namun kereta api di Sri Lanka cukup bisa diandalkan. Di Colombo bahkan ada kereta api commuter dengan lintasan yang bersisian dengan garis pantai, meski belum semaju KAI Commuter di Jabodetabek. Bus-bus kota Sri Lanka pun jaringannya luas, nggak cuma ada di ibukota. Selain Kandy dan Galle, bus juga ada di kota-kota yang lebih kecil. Saya jadi membayangkan, Sri Lanka adalah negara yang maju pada masanya.


Itinerary Perjalanan di Sri Lanka

Colombo, sang ibukota, akan menjadi titik awal dan titik akhir saya menjelajahi Sri Lanka. Iseng-iseng browsing, ternyata Batik Air melayani rute ke Colombo, Sri Lanka, via Kuala Lumpur. Selain Batik Air, juga ada AirAsia. Dengan perbedaan harga yang tidak terpaut jauh, tentu menurut saya lebih worth the price Batik Air karena sudah termasuk bagasi 20 kg, on-board meals, dan in-flight entertainment, meski terkadang dapet armada yang nggak dilengkapi IFE.

Pesawat Batik Air, menyediakan rute penerbangan Kuala Lumpur – Colombo
Pura-pura mau beli tiket penerbangan Jakarta – Colombo via KL dengan Batik Air
Pura-pura mau beli tiket penerbangan Jakarta – Colombo via KL dengan Batik Air

Harga tiketnya memang masih mahal, rata-rata menghabiskan total Rp2,5 juta dari Jakarta menuju Colombo via Kuala Lumpur. Makanya masih banyak turis Indonesia yang lebih memilih ke Jepang atau Korea Selatan sekalian. Jadi, berharap saja ada promo untuk rute ke KL-nya. 

Dari 2 contoh jadwal yang saya pilih, dua-duanya sama-sama mendarat di Bandaranaike International Airport, Colombo, pukul 22:00. Ditambah waktu berjalan kaki, urusan imigrasi, urusan klaim bagasi, mungkin makan malam, dan entah apa drama-drama lainnya, sepertinya saya akan check-in di hotel saat tengah malam, bahkan mungkin sudah dini hari. Jadi, hari pertama di Sri Lanka akan saya pakai untuk beristirahat penuh.

Day 1-4, Colombo 

Ada beberapa hostel di pusat kota Colombo dengan harga mulai dari di bawah Rp100 ribu per malam! Memang nggak yang estetik banget, tapi rapi, bersih, dan layak. Di antaranya adalah Colombo Downtown Monkey Backpackers Hostel, Havelock City Hostel, dan Hostel Republic at Galle Face. Saya mungkin akan menjatuhkan pilihan pada C1 Colombo Fort. Selain karena menyediakan opsi kamar double bed dan twin bed, lokasinya sangat strategis di kawasan Fort, hanya beberapa langkah dari stasiun kereta api. 

C1 Colombo Fort, rekomendasi penginapan di ibukota Sri Lanka

Esok harinya, saya akan seharian ngubek-ubek Galle Face, pusat kota Colombo di mana warga lokal dan wisatawan berkumpul menikmati area publik yang bersih di tepi pantai. Setelah sarapan di hotel, saya akan mengunjungi Gangaramaya Temple, Gangarama Seema Malakaya, dan Beira Lake yang mengelilingi kedua kuil itu. Saya akan menikmati keteduhan, kesejukan, ketenangan danau dengan gedung-gedung pencakar langit Colombo sebagai latar belakang.

Siang jelang sore, saya akan ngadem dulu di One Galle Face Mall, sebelum menutup hari dengan menikmati senja dan petang di Galle Face Green.

Hari kedua di Colombo, saya masih akan menjelajah kawasan pusat kotanya. Pagi-pagi sebelum sarapan, ingin rasanya ke Galle Face Green lagi untuk jogging. Baru siangnya ke Masjid Jami Ul-Alfar, Sri Mahadevi Park, lalu menikmati panorama matahari terbenam di Colombo Lotus Tower, menara pencakar langit bermahkotakan bunga teratai yang menjadi ikon lanskap Colombo. Tidak gratis memang, saya harus merogoh kocek 20 USD. Tapi pengalaman dan pemandangan yang diperoleh menurut saya tak tergantikan.

Yang lama dan yang baru di Colombo, Sri Lanka

Hari ke-3 akan menjadi hari bebas saya menjelajah Colombo. Saya mungkin akan nge-mall, atau cafe hopping, atau mungkin jadi tamu dadakan di rumah salah satu warga lokal. Pokoknya, saya bebaskan ke mana kaki melangkah, ke mana waktu dan semesta ‘kan membawa saya. 

Day 4-6, Galle

Di hari ke-4 ini, yaitu Senin tanggal 27 November 2023, saya akan check-out dari hotel di Colombo untuk bergerak menuju destinasi berikutnya, Galle. Hingga tiba waktu check-out, saya hanya akan menikmati waktu dengan santai, leyeh-leyeh, dan mungkin hanya jalan-jalan sekadarnya di sekitar penginapan. Setelah makan siang, saya baru akan jalan kaki menuju Stasiun Colombo Fort untuk naik kereta api commuter, Galu Kumari, dengan nomor kereta 8056 yang akan berlepas menuju Galle pada pukul 14:44. Pukul 16:39, saya dijadwalkan sudah akan tiba di kota tepi pantai itu.

Kota Galle dengan mercusuarnya yang ikonik

Galle tampak seperti kota pantai yang menyenangkan untuk liburan. Kawasan historisnya penuh dengan bangunan peninggalan Inggris yang manis. Jalan-jalannya tak terlalu ramai, cocok untuk berjalan kaki, naik motor, atau naik bemo dengan santai. Kedai-kedai kopi berjajar, mengingatkan saya dengan cafe-cafe di Bandung yang banyak tersebar.

Iseng-iseng browsing penginapan di Booking.com, ternyata ada banyak penginapan murah meriah berkonsep cabana di Galle. Cabana adalah semacam gubuk, atau hut, yang biasanya terletak di tepi pantai. Karena konsepnya seperti itu, cabana-cabana ini dibangun dari dinding dan tiang-tiang kayu, kebanyakan tanpa pendingin udara. Tarif per malamnya memang sangat murah! Tak sampai Rp100 ribu, bahkan ada yang hanya Rp40 ribuan seperti Lala’s Place

Turis-turis Australia, Eropa, dan Amerika biasanya suka dengan tipe penginapan seperti ini. Buat mereka, eksotik𑁋sebuah pengalaman baru. Apalagi, cabana-cabana ini menawarkan kamar-kamar dan balkon bersama yang menghadap pantai tanpa halangan apapun. 

Bastille, rekomendasi penginapan di Galle, Sri Lanka

Buat saya? Aduh, enggak deh hahaha. Cukup di rumah saja saya berpanas-panas ria. Kalau traveling, meski dengan gaya backpacker sekalipun, saya tetap mau penginapan dengan bangunan yang kokoh dari beton dan berpendingin udara. Syukur-syukur tampilannya instagram-worthy. Makanya, saya menjatuhkan pilihan pada Villa Yehinsa, Bastille, atau Secret Garden Galle Fort. 

Selain Lala’s Place, Brother’s Beach Home dan Ceylon Beach Home juga bisa jadi recommended cabana buat kamu. Murah-murah, berada di tepi pantai, dan dalam jangkauan pusat kota Galle.

Di Galle rupanya ada banyak penginapan dengan kelambu, mungkin karena cuacanya yang panas dan banyak nyamuk. Sayangnya, saya nggak suka kelambu karena membuat ruangan jadi terkesan sumpek, tidak rapi/minimalis, dan suram. Jadi kalau pun ada kelambu, sirkulasi udara dan cahaya alaminya harus bagus dengan warna ruangan yang mendukung agar kamar tetap terkesan segar dan terang.

Pantai, daya tarik utama pariwisata Galle

Saya akan fokus ngubek-ubek pusat kota Galle dan pantai-pantainya, sesekali cafe hopping. Di sekitar Galle Fort sendiri ada clock tower, lighthouse (mercusuar), gereja tua, Old Gate, dan Sri Sudharmalaya Buddhist Temple. Untuk pantainya, sepertinya cukuplah ke Unawatuna Beach atau Rumassala South Beach, lalu mampir ke Japanese Peace Pagoda yang terletak tak jauh darinya.

Day 6-9, Kandy dan Ella

Karena tidak ada rute kereta api langsung dari Galle ke Kandy, di hari ke-6 ini saya akan naik kereta api dulu ke Colombo dengan Rajarata Rejini Express Train pukul 10:25. Baru di sore harinya pukul 15:35, saya melanjutkan perjalanan dengan Intercity Express Train menuju Kandy. Pukul 18:06 seharusnya saya sudah tiba di kota pegunungan itu. 

Kota Kandy dan danaunya yang memesona

Kandy adalah kota pegunungan yang tenang dengan sebuah danau besar di tengah kotanya. Saya selalu suka kota seperti ini, yang memiliki tempat publik berupa perairan yang bersih di pusat kotanya, entah itu sungai atau danau seperti Kandy ini. Saya juga lebih menyukai kota pegunungan daripada kota pantai, sebetulnya. Lebih nyaman dengan hawa sejuk pegunungan daripada angin hangat pantai. 

Surprisingly, ternyata tidak banyak penginapan murah yang instagenic di pusat kota Kandy, tidak seperti Colombo atau Galle. Padahal, Kandy juga salah satu rujukan utama wisata Sri Lanka, jadi saya bertanya-tanya mengapa. Namun, beberapa nama yang saya catat adalah Nap Station, White Rose Hostel, Sky Valley, Kandyan Holiday Center and Kandyan Feel Free Homestay, dan Kandy Backpackers Hostel.

Saya akan menikmati Kandy di Kandy Lake & Sri Dalada Maligawa, Old Royal Palace, Royal Palace Park, Arthur’s Seat Viewpoint, Malwathu Maha Viharaya, dan sekitarnya. Bila masih ada waktu, saya bisa mampir ke Sigiriya, Royal Botanic Gardens, Sri Lankathilake Rajamaha Viharaya, Ceylon Tea Museum, dan Sandagiri Maha Viharaya.

Nap Station, rekomendasi penginapan di Kandy, Sri Lanka
Perjalanan kereta api Kandy – Ella digadang-gadang sebagai salah satu yang terindah di dunia

Yang jelas di hari ke-8, saya akan melanjutkan perjalanan ke Ella untuk menginap semalam. Kabarnya, jalur kereta api Kandy-Ella adalah salah satu yang terbaik di dunia! Saya skeptis, karena sekilas pemandangan dan pengalamannya serupa dengan perjalanan naik kereta api dari Bandung ke Jawa Tengah, atau dari Bandung ke Jakarta. Saya juga yakin jalur kereta api di negara-negara Eropa sana jauh lebih mengesankan. Ah, tapi entahlah. Sri Lanka, coba kau buktikan kecantikanmu pada saya.

Di hari ke-9 malam, saya akan menginap lagi di Kandy untuk beristirahat sebelum bertolak ke Colombo esok harinya. Barulah di hari ke-10 atau ke-11, saya terbang kembali ke Indonesia via Kuala Lumpur.


Karena saat ini saya sudah berkeluarga, rencana di atas kemungkinan besar akan saya wujudkan bersama istri saya, Ara, bahkan bukan tidak mungkin berikut sepasang putri kembar kami bila kondisi dan dananya mencukupkan haha. Ara suka pantai, jadi seharusnya dia akan menyukai Sri Lanka. Ara juga sama-sama suka naik kereta api, apalagi kereta api yang masih dijalankan dengan tenaga diesel atau bahkan uap. Dia pasti akan menyukai perjalanan kami ke Kandy dan Ella.

Bila waktu dan dana juga tak jadi masalah, saya juga ingin bisa sekalian mampir ke Dhaka (Bangladesh), Male (Maldives), dan Kathmandu (Nepal).  

Bemo dan jalanan Sri Lanka yang bersih

Jadi, siapa di sini yang mendukung mimpi saya ke Sri Lanka? Ini bukan tulisan lomba, juga bukan tulisan sponsor berbayar, murni ingin menuangkan angan-angan perjalanan saya saja. Siapa tahu, berawal dari membagikan impian, amin saya dapatkan. Keep learning by traveling~

24 komentar

  1. avatar Gita Sarrah

    menarik juga nih kak destinasi impian travelingnya. Selama ini kayaknya Srilanka jarang banget jadi tujuan orang2 untuk berwisata. dan kalo ngelihat foto2nya jadi kayak kembali ke beberapa tahun sebelumnya ya, hehe. Semoga impian jalan2 ke Srilanka bareng istri dan putri kembarnya segera terwujud ya

  2. avatar Catcilku

    Suka pemandangan jalur kereta api di Kandy menuju Ella. Cantik seperti di film-film petualangan dan jadul gitu. Moga terwujud ya perjalanan ke Sri Langka nya

  3. avatar irpan

    Kirain udah dari sana, rupanya baru rencana ^_^. Tapi niat banget ya risetnya. Detail sampe ke harga tiket masuk gedung iconic. Semoga terwujud rencananya. Aamiin…

  4. avatar Maya Rumi

    Ternyata Srilanka semenarik itu yah kak, ada banyak destinasi wisata yang bikin penasaran untuk didatangi, tpi sampe sekarang srilanka masih kalah populer sebagai destinasi wisata yah apalagi tiketnya pesawatnya juga cukup mahal tapi bolehlah masuk wishlist dulu

  5. avatar ceritamamah

    lebih terasa nyata ketika menyusun mimpi perjalanan traveling ke srilanka dengan lebih detail, mulai dari cari tiket pesawat, hotel dan destinasi lainnya. Aku mau coobaa jadinyaa

  6. avatar Raja Lubis

    Saya turut mendukung dan mendoakan kang supaya bisa ke Sri Lanka bersama keluarganya. Dari cerita dan destinasi yang dipaparkan, memang Sri Lanka ini tampak lebih bersih dan tertata dari India. Penasaran juga saya pengin mengunjungi tempat-tempat ibadahnya terutama Masjid-nya.

  7. avatar Alfia Masyitoh

    Saya yang membaca ini pun turut meng-aamiin-kan. Semoga suatu saat bisa terlaksana ya kak..

    Jujur, memang kalau dengar Sri Lanka, bayangan di kepala nggak jauh-jauh dari India. Persis seperti yang disampaikan di tulisan ini. Kumuh, panas, berjubel-jubel dan ruwet, itu yang ada di pikiran. Dulu sempat mau diajak kondangan temen suami ke Mumbai, kok ya alhamdulillah nggak jadi. Bayangan aja udah bikin mumet..

    Ternyata Sri Lanka ini beda dengan India ya. Tidak sekacau itu, walaupun memang tidak semaju Indonesia (wow, baru kali ini kayaknya bilang Indonesia maju, wkwk). Kalau dari pemerintah mereka sendiri ada nggak sih promosi pariwisata ke Sri Lanka? Kayak Visit Sri Lanka atau Wonderful Sri Lanka atau Sparkling Sri Lanka gitu?

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Nah itu, belum pernah lihat promosi pariwisata Sri Lanka. Tapi nama Sri Lanka sudah sering tercatut dalam daftar top destinasi wisata dunia!

      Ekonomi negaranya mungkin belum terlalu bagus untuk endorse program pariwisata.

  8. avatar Myra (Keke Naima)

    Saya dukung banget. Mungkin dari harga tiket lebih murah kalau ke Jepang, ya. Tapi, mengulik Sri Lanka menjadi sesuatu yang menarik banget. Melihat transportasi umumnya yang kelihatan masih jadul aja udah sesuatu yang menarik, Pengen tau lebih jauh tentang negara ini.

  9. avatar Atisatya Arifin

    Berawal dari tulisan, semoga nantinya akan terwujud ya kak untuk mengunjungi Sri Lanka. Sepertinya kalau dari foto-foto pendukung, Sri Lanka ini tidak se hiruk pikuk Jakarta atau India ya? Untuk makanannya apakah mudah mendapatkan makanan halal di sana kak?

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Sepertinya mudah kak. Dari vlog-vlog yang aku tonton, kelihatannya masyarakat Sri Lanka nggak terlalu familiar dengan pork.

  10. avatar Cindi

    Destinasi wisata yang jarang ingin dikunjungi orang-orang tapi memiliki tempat yang tak kalah cantik ya Kak? Beneran ikutan pengen 😀
    Semoga terwujud impian jalan-jalan ke Sri Lanka..

  11. avatar cindiriyanikahidayah
    cindiriyanikahidayah · · Balas

    Benar juga ya, ini memang jarang jadi tujuan wisata orang-orang jika ke luar negeri tapi ternyata tempat atau kota-kota yang jadi destinasi wisata cantik-cantik ya Kak? Beneran ikutan pengen ke Sri Lanka juga 😀
    Semoga segera terwujud impian ke Sri Lanka Kak..

  12. avatar lendyagassi

    Keindahannya mashaAllah~
    Perjalanan Kandy-Ella, kenapa kedua nama itu persis nama-nama di keluargaku.
    Hihi.. jadi semakin berasa romantismenya. Dan Sri Lanka menjadi detinasi wisata yang wajib dicoba.

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Wih namanya siapa, kak? “Ella” memang mirip nama orang ya.

      1. avatar lendyagassi

        Aku Lendy (mirip Kandy) hehehe..
        Kaka iparku, Ella.
        Hihii.. jodoh ama Sri Lanka, kalik yaah..

      2. avatar Matius Teguh Nugroho

        Oh iya. Amin amin hehe.

  13. avatar Jejakpanorama

    Saya pikir Sri Langka ini hampir-hampir mirip seperti Bangladesh, ternyata keyakinan di sana saja mayoritas budha. Ibu kota di sana gak kalah bagus dengan kota-kota besar seperti di jakarta.

  14. avatar Dian

    Wah Sri Lanka
    Ternyata banyak juga tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi saat ke Srilanka ya kak

  15. avatar Leonardo

    Saya sekarang tinggal di Kandy. Srilanka mgkn bukan rujukan tmpt wisata bagi sebagian besar orh indonesia, dan mmg tdk bnyk org indonesia di sri lanka. Tapi srilanka mmg indah dan eksotik. Tidak akan nyesel utk ke srilanka. Semoga impiannya terwujud. Just leave me message if you heading to srilanka

    1. avatar Matius Teguh Nugroho

      Halo, mas Leo. Waaaaaa menarik sepertinya ya jadi diaspora Indonesia yang tinggal di Kandy. Bekerja, mas? Duh saya jadi pengen banyak nanya-nanya soal kehidupan sehari-hari di sana.

      Amin, makasih doanya dan makasih sudah berkunjung, mas.

      1. avatar Leonardo

        Iya kerja mas. Monggo mas klo mau nanya2, tp saya baru sekitar 10 bulan sih. Tp lumayan udah ngerti dikit2 bahasa lokal. I do love sri lanka.

      2. avatar Matius Teguh Nugroho

        Gimana kehidupan sehari-hari di Kandy, mas? Apa culture shock di sana yang bisa terjadi pada orang Indonesia?

      3. avatar Leonardo

        Kandy adalah kota kecil yg dalam sehari pun bisa dikelilingi hanya dengan jalan kaki. Di sini turis cukup mudah ditemui di jalan2.
        Culture shock yg saya rasakan pas pertam ke sri lanka adalah porsi makan orang sri lanka yg sangat besar. Klo ke resto pesan nasi kari misalnya, 1 porsi itu bisa dimakan 2-3 orang.

Tinggalkan Balasan ke Matius Teguh Nugroho Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Matius Teguh Nugroho

keep learning by traveling

Duo Kembara

Cerita Si Kembar dan Mommy Ara menghadirkan kebaikan

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

Teppy & Her Other Sides

Stories, thoughts, places...

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

papanpelangi.id

sebuah blog perjalanan

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Eviindrawanto.Com

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling, and exploring places and cultures of the world

Winny Marlina

Winny Marlina - Whatever you or dream can do, do it! lets travel

Olive's Journey

What I See, Eat, & Read

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

dananwahyu.com

Menyatukan Jarak dan Waktu