Sepenggal Cerita Tentang Commuter Line Jakarta

The elevated track at Gondangdia Station

The elevated track at Gondangdia Station

Sebagai seorang pecinta kereta api, Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek menjadi obyek yang menarik untukku. KRL Jabodetabek yang kini populer disebut Jakarta Commuter Line merupakan satu-satunya sistem angkutan massal suburban rail transit di Indonesia. Apalagi, CL Jakarta sekarang sudah memiliki armada baru dengan fasilitas AC dan banyak stasiun yang sudah direnovasi menjadi lebih modern. Wah, aku pun makin tertarik untuk menjelajah Commuter Line Jakarta!

“Maaf, mas. Di sini nggak boleh foto-foto pakai DSLR. Harus izin dulu.”

Suara itu membuyarkan konsentrasiku yang sedang membidikkan lensa ke arah pintu-pintu entry gate Stasiun Gondangdia. Aku menurunkan kameraku, melihat seorang petugas perempuan berjilbab datang menghampiri dengan langkah buru-buru.

“Kenapa nggak boleh?” aku bertanya, menuntut penjelasan masuk akal.

“Iya nggak boleh foto-foto pakai DSLR. Kalau pake hape boleh,” sahut petugas itu, tidak menjawab pertanyaan.

“Mungkin bisa langsung ditanyakan sama kepala stasiun di sana, mas. Tinggal izin aja kok,” jawabnya lagi, setelah aku melontarkan pertanyaan yang sama dengan nada suara lebih tegas.

“Oh, nggak usah deh, ribet. Makasih ya,” aku mengakhiri perdebatan kecil itu, lalu melangkah meninggalkan stasiun.

Mengawali langkah di Sawah Besar Station

Mengawali langkah di Sawah Besar Station

Sawah Besar Station, Jakarta

Sawah Besar Station, Jakarta

Maklum, cowok moody-an, suasana hatinya udah terlanjur berubah padahal sebenarnya aku bisa saja menghadap petugas itu. Meminta penjelasan, sekaligus meminta izin. Lagipula obyek foto yang kubidik juga nggak ngebet-ngebet banget, jadi ya sudahlah, mari melangkah keluar dan mencari tahu apa yang bisa ditemukan di kawasan Menteng ini.

 

Ini bukan kali pertama aku melakukan hobi fotografiku di stasiun Commuter Line. Saat Imlek bulan Februari lalu, aku bahkan sukses membidik setiap sudut Stasiun Jakarta Kota dan Stasiun Sudirman. Lengkap dengan sudut mesin ATM, ticketing machine, entry dan exit gate, area komersil, sampai masuk ke dalam peron. Petugas berlalu lalang di situ, namun tak ada satu pun yang menghentikan kesibukanku.

Cerita selengkapnya, baca di: Top 10 Things to Do in Jakarta’s Chinatown

Itulah mengapa, aku sangat terkejut saat aku ditegur petugas di Stasiun Gondangdia.

 

I’m a fans of trains, terutama kereta intra-city (di dalam kota) seperti MRT, LRT, subway, monorail, kereta api bandara, kereta komuter, dan tram. Eh, tram bukan kereta api ding, tapi setidaknya dia masih merupakan moda transportasi umum berbasis rel.

The platform, Sawah Besar Station

The platform, Sawah Besar Station

A Commuter train is arriving at Gondangdia Station

A Commuter train is arriving at Gondangdia Station

Aku suka mengamati warga urban yang hilir mudik dengan langkah cepat di dalam gedung stasiun.

Aku suka dengan momen menunggu di dalam peron, berbaris rapi di belakang garis kuning bersama calon penumpang lainnya. Utamanya saat larut malam, atau saat pagi-pagi sekali, saat kota berubah tenang dan menunggu di peron stasiun adalah salah satu kegiatan romantis yang bisa dilakukan dengan mudah.

Aku suka dengan suara deru kereta yang datang, lalu berubah menjadi sebuah dengingan saat ia berhenti di depan kami para penumpang.

A commuter train is running on the elevated track near Monumen Nasional

A commuter train is running on the elevated track near Monumen Nasional

Jakartans inside the coaches

Jakartans inside the Commuter train

Aku suka mengamati pemandangan sepanjang jalur kereta api, jalur melayang (elevated track) adalah bagian yang paling kusuka. Saat kereta melaju di dalam terowongan dan tak ada yang bisa dilihat selain kegelapan, aku suka mengamati para penumpangnya yang duduk berhadap-hadapan, sebagian berdiri, memperhatikan bagaimana penampilan mereka dan apa yang mereka lakukan. Di antara orang-orang itu, pasti ada “pemandangan” yang bisa ditemukan. #ehgimana

 

Ketiga negara yang sudah kukunjungi — Singapura, Malaysia, Thailand — semuanya memiliki sistem transportasi kereta api cepat (rail transit system). Maka, selama di sana, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjajal semua moda transportasi itu, mengabadikan setiap sudut stasiun dan kereta. Singapura dengan MRT dan LRT; Kuala Lumpur dengan LRT, monorel, KTM Komuter, dan KLIA Ekspres / Transit; Bangkok dengan BTS / Skytrain, MRT, dan kereta komuter-nya yang mengingatkanku dengan Commuter Line Jakarta angkatan pertama. Sayang aku tidak berkesempatan menjajal Airport Rail Link di Bangkok, Thailand.

Ceritanya selengkapnya, silakan klik:

Gempor di Singapore #3: Menyusuri Negeri Bersama MRT

Membaur Bersama Singapura dengan LRT

Memahami Sistem Transportasi Publik di Kuala Lumpur

Memahami Sistem Transportasi Publik di Bangkok

Ticketing machine, Sudirman Station

Ticketing machine, Sudirman Station

The entry gate, Sudirman Station

The entry gate, Sudirman Station

Makanya, Rencana Jangka Pendek untuk traveling, Manila dan Hong Kong berada dalam jajaran atas agar aku bisa menjajal MRT di sana. Eh tapi MRT dan LRT di Manila konon juga melarang fotografi professional di dalam stasiun, jadi harus diakali nih.

 

Sejujurnya aku tak dapat memahami alasan kenapa fotografi professional di stasiun Commuter Line dilarang. Aku tidak mengambil foto di titik yang ramai, keadaan stasiun sedang sepi. Aku juga tidak berada di titik yang berbahaya atau rawan mengganggu penumpang lain. Jadi, kalau alasannya untuk kenyamanan penumpang, CORET! Mungkin untuk alasan keamanan? Bisa jadi, tapi aku sendiri juga tak tahu tindak kejahatan apa yang bisa dilakukan dengan mengambil foto di stasiun. Anaknya biasa positive thinking, kak, jadi nggak paham deh yang begituan 😀

Seorang rekan pejalan, Blogger-You-Know-Who yang katanya selalu galau itu, juga menuturkan peraturan KAI itu kadang tumpang tindih atau ambigu. Dia menambahkan, tak semua stasiun kereta api menerapkan peraturan itu. Saat aku bilang bahwa peraturan ini agak aneh, dia menjawab dengan sedikit berkelakar, “Peraturan KAI mana sih yang nggak aneh?”

Tiket Harian Berjaminan yang baru

Tiket Harian Berjaminan yang baru

Passengers boarding at Sudirman Station

Passengers boarding at Sudirman Station

Menurutku, sebaiknya pendekatannya diubah. Saat petugas melihat ada seorang fotografer atau videografer, mungkin bisa dihampiri baik-baik lalu bertanya, “Permisi, mas. Foto atau videonya untuk apa ya? Bisa mengisi form izin dulu, mas?” Jadi, izin bisa dilakukan langsung dengan petugas yang bersangkutan, tak perlu menghadapi birokrasi yang sudah mendapat stereotipe “ribet” di dalam benak setiap manusia Indonesia. Petugas pun memberikan pengarahan yang ramah, tidak sekadar berbicara dengan nada tinggi tanpa memberi solusi.

Usai dari Stasiun Gondangdia dan berkunjung ke Monas, aku sukses berfoto di Stasiun Juanda, Stasiun Manggarai, Stasiun Tanah Abang, dan akhirnya Stasiun Palmerah. Saat aku di Stasiun Palmerah itulah dan hendak mengambil foto area concourse yang cantik dengan atap melengkung semi-industrial itu, aku dihardik seorang petugas sekuriti.

Tanah Abang Station, Jakarta

Tanah Abang Station, Jakarta

Palmerah Station, Jakarta

Palmerah Station, Jakarta

“Mas, ngapain?”

“Foto-foto, Pak.”

“Udah izin belum?” tanyanya lagi dengan nada tinggi.

“Belum, Pak. Emang harus izin ya?”

“Ya iyalah,” sahutnya nyolot, berpikir bahwa semua orang sudah seharusnya tahu bahwa mengambil foto di stasiun itu adalah tindakan yang memerlukan izin.

“Oh, maaf nggak tahu, Pak.”

“Ya udah sana,” dia mengusirku pergi. Di situ Mamat merasa sedih.

 

Tidak semua warga Indonesia tahu tentang Commuter Line Jakarta selain dari berita-berita buruknya soal kereta anjlok, stasiun kebanjiran, jadwal stasiun kacau, dan tarif yang berubah-ubah. Mumpung punya blog, aku ingin menunjukkan bahwa Commuter Line Jakarta tak seburuk yang dibayangkan. Bahkan, banyak juga warga Jakarta sendiri yang tak tahu Commuter Line, tak pernah mencobanya.

Entering Juanda Station

Entering Juanda Station

Juanda Station, Jakarta

Juanda Station, Jakarta

Selain itu, aku juga ingin memperkenalkan Commuter Line Jakarta ini kepada turis mancanegara. Aku ingin mereka tahu bahwa Jakarta juga punya sistem kereta api urban transit, meski belum sekelas MRT atau LRT. Andai aku tinggal di Jakarta, aku akan menawarkan kamarku kepada setiap anggota Couchsurfing mancanegara yang berkunjung, lalu membawanya berkelana di Jakarta dengan Commuter Line.

Baca Juga: Getting Around Jakarta Using Commuter Line

Coba saja kau mencari kata kunci “Commuter Line Jakarta” di mesin pencari. Sebagian besar hasil pencarian diisi dengan foto-foto Commuter Line yang disesaki penumpang sampai atap, calon penumpang yang berdesak-desakkan terlantar di peron, atau gedung stasiun yang kebanjiran. Sebagian besar adalah foto dari media massa, jarang kudapati foto dari blogger personal. Aku ingin menggeser foto-foto yang menunjukkan gerbong kereta penuh sesak sampai atapnya, karena saat ini hal itu sudah tak terjadi lagi.

The over loaded Manggarai Station

The over loaded Manggarai Station

 

Harapanku, semoga Commuter Line Jakarta memiliki jalurnya sendiri hingga lajunya tak terhambat antrian memasuki stasiun bersama kereta api reguler antar-kota. Semoga renovasi Stasiun Manggarai segera terlaksana sehingga jumlah lintasannya bertambah, terdiri dari beberapa level seperti Stasiun Antwerpen, Belgia. Semoga jalur Commuter Line dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta segera rampung, biarkan pelancong dan warga Jakarta memiliki akses yang lebih realiable dengan bandara. Terakhir, semoga jalur lingkar melayang segera terealisasi, sehingga lebih banyak warga ibukota yang dapat merasakan manfaat Commuter Line Jakarta.

Andai Manggarai seperti Stasiun Antwerpen ini, sumber gambar: cpantwerpen

Andai Manggarai seperti Stasiun Antwerpen ini, source: cpantwerpen

 

Warm Regards,

Your Admirer

41 thoughts on “Sepenggal Cerita Tentang Commuter Line Jakarta

  1. Eee ya ampun… memotret di stasiun saja tidak boleh? Stasiun kan milik umum di bawah kendali PT Kereta Api Indonesia. Kok aneh ya tidak boleh memotret pakai DSLR. Seperti properti pribadi saja 🙂

  2. Wkwkwkw, yang ini lagi. 😀 Cowok Cancer emang mood-mood-an yak? Gyahahaha 😄

    Tapi di atas itu pas si mbak petugas berjilbab menawari untuk menemui Kepala Stasiun itu merupakan standar operasi prosedur yang menurutku patut diapresiasi.

  3. Wah belum pernah naik commuter line Jakarta, bagus ternyata. Kenapa ya ga boleh foto2 pake dslr, mksdnya kenapa hrs ribet pake ijin segala, padahal klo banyak yang foto, kan kayak iklan gratis gt ya bikin org pgn nyobain. Di MRT Singapura aja boleh, malah kayaknya stasiunnya dibuat bagus2 biar org tambah seneng hehe

  4. Lucunya ada lomba foto kereta dan stasiun juga di saat yg bersamaan dengan larangan poto poto.
    Ku belum pernah nyoba commuter line juga, di jakarta paling naik busway sama kereta jarak jauh doank.
    Anyway, semoga mamat tabah.

  5. Wah aku baru tau stasiun Sudirman keren ya. Ada ticketing machine nya segala :O Baru kah itu?

    Btw kzl ya ga boleh motret dg alasan “DSLR ga boleh, kl hape boleh”.
    Ada jg tuh resto / cafe yg kyk gitu, aneh banget. Padahal kan kl di foto cantik, di upload, dia jg yg untung. Gagal paham.

    *terus malah curcol jg*

    • Udah beberapa bulan ada ticketing machine, Sharon. Selain di Sudirman, ada juga di beberapa stasiun lain. Banyak lho stasiun-stasiun Commuter Line yang bagus dan modern, kayak stasiun MRT 😀

      Iya, seperti itulah perasaannya saat ditegur berfoto. Niatku untuk promosi padahal.

  6. Wihh gilaaa bagus2 amat fotonyaaa 😍😍😍
    Dari sejak st. Palmerah selesai renov udah pengen banget hunting foto disitu.. atapnya keren, jembatan penyebrangannya jg bagus..tapi ga cuma kak mamat aja kok yg dijutekin, ak pernah baca di blog atau instagram lain klo di palmerah ga boleh foto2…hmm, sekarang bakal nyoba hunting di stasiun2 yg ramah dulu deh kalo gtu..

  7. hmm emang ada peraturan yang tertulis gitu ga sih? misal di SPBU kan emang ada larangan dan stiker kamera yang di coret kalo disana gimana?

  8. Stasiun Juandaaa kerenn ya sekarang… *efek udah 2 tahun nggak lagi jadi penghuni commuterline. heheh.

    Aku suka kereta tapi sayang nggak bisa di makan. *eh…

    dan entah kenapaa terkadang merindukan suasana kereta ekonomi jaman tiket 1.500,- Depok-Kota. Mengamati lalu lalang ragam penjual –buah, alat tulis, jepit rambut, dll, ditengah sesak para penumpang.

  9. sejujurnya aku ga pernah naik commuter line di negara sendiri :D.. ga ush liat dr google ato mana2, tp temen kantorku yg tiap hari cerita soal kereta udh cukup ceritain sperti apa kondisinya ;p.. ya rame sampe ga bisa gerak, yg muka sampe nempel di kaca, yg sodok2an, truatama di gerbong perempuan juga samaaa sadisnya -__- . keburu mikir mnding naik taxi ato ojek sekalian mas :D.. padahl kalo sdg traveling k LN, transportasi yg biasanya aku naikin ya subway, ato MRT begini.. yg di Manila sama tuh ama jkt, desak2an ampe ga bisa gerak ;p.. aku malah sempet kecopetan di mrt manila.. untung yg diambil cuma payung ama air minum.. mungkin copetnya haus ;p

  10. sama mas broo gue juga diusir sama sekurity stasiun bekasi ketika lagi asik ngambil foto. dan gue pun sama kaya loe juga langsung pergi tanpa harus minta izin buat ngambil foto…. soalnya tahu bakal ribeeet

  11. Peraturan yang dihasilkan dari sedikit paranoia dan komersialisasi berlebihan…

    Konon katanya pernah ada suatu perusahaan membuat iklan yang menampilkan properti perusahaan di area stasiun tanpa seizin perusahaan, jadinya sekarang digebyah uyah semua yang pake kamera “bagus” wajib “izin”. Yah gitu-gitu deh Mas~~~~

      • astaga, kok aku nulisnya ambigu banget sih -_-

        Jadi maksudnya anggap saja pernah ada yang buat iklan komersial untuk kepentingan produk mereka sendiri tanpa izin di area KAI dan anak perusahaannya, dan membuat KAI dkk jadi cenderung paranoid tiap melihat kamera “bagus” yang digunakan untuk jepret-jepret

  12. Ya begitulah mas, peraturan yang aneh. Mereka paranoid gara-gara pernah ada yg foto-foto dan rekam video di area stasiun lalu dijadikan iklan/komersil.
    Cukup dikeluhkan sama beberapa rekan railfans, tapi ya susah emang berhadapan dengan Badan Usaha Paranoid Milik Negara yang satu ini.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s