Memahami Transportasi Publik di Bangkok: BTS (Skytrain), MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus

Traffic jam is common in Siam

Traffic jam is common in Siam

Ada yang bilang, Bangkok itu mirip Jakarta. Ya padat gedung-gedung bertingkat, ya padat mobil-mobil yang berjalan tersendat. Tapi, Bangkok sudah lebih baik dari ibukota kita. Pertama, Bangkok memiliki tingkat kerapian dan kebersihan yang lebih baik. Trotoarnya lebar dan menyenangkan untuk berjalan kaki, taman-taman kotanya terawat dengan cermat, dan sungainya mengalir jaya tanpa terhambat tumpukan sampah rumah tangga.

Kedua, warga Bangkok lebih tahu aturan. Gue nggak lihat tuh sepeda motor yang nyerobot pejalan kaki lewat trotoar. Paling salut saat melihat taksi dan kendaraan pribadi berhenti dengan sabar, tanpa klakson-klakson berisik sok penting, di belakang bus kota dan tuk-tuk yang berhenti agak di tengah jalan untuk menaikturunkan penumpang.

Nggak hanya lebih rapi, bersih, dan tertib, Bangkok juga sudah memiliki fasilitas transportasi umum yang lebih baik. Alasan ketiga ini mungkin jadi hal yang paling gue suka dari Bangkok. Ya, gue adalah pecinta kereta api, terutama transportasi berbasis rel dalam kota, dan Bangkok memilikinya. Menurut gue, kalau sebuah kota sudah memiliki transportasi massal berbasis rel yang cepat dan rapat, maka kota tersebut sudah bisa dikatakan berkembang baik.

Trotoar luas dan bersih di kawasan Sanam Luang, Bangkok

Trotoar luas dan bersih di kawasan Sanam Luang, Bangkok

Nah, ada tiga pilihan transportasi berbasis rel di Bangkok: BTS (Skytrain), MRT (subway), dan Airport Rail Link (ARL). Tuh, Bangkok udah punya kereta bandara, Jakarta masih sebatas memiliki Commuter Line atau sekelas urban transit. Selain transportasi berbasis rel, Bangkok juga memiliki jalur bus kota dan Bus Rapid Transit (BRT alias busway), songthaew, dan tuk-tuk. Bahkan, karena sungainya yang besar, bersih, dan melalui kawasan residensial warga, Bangkok juga memiliki transportasi air bernama Chao Praya Express.

Baca Juga: Panduan Menggunakan Peta MRT / LRT Untuk Pemula

Udah penasaran dengan transportasi umum di Bangkok? Yuk, kita bahas satu per satu.

 

BTS (Bangkok Transit System) atau Skytrain

BTS ini adalah transportasi sekelas mass rapid transit (MRT) di Bangkok. Disebut juga dengan Skytrain, karena semua lintasan BTS adalah melayang (elevated), sementara dalam bahasa Thai disebut dengan rot fai fa. Saat ini, BTS baru memiliki dua jalur (line), Silom Line dan Sukhumvit Line. Silom dan Sukhumvit sendiri memang dua kawasan bisnis utama yang ada di Bangkok, sehingga dari dua kawasan inilah proyek BTS bermula. Saat ini, BTS sedang melakukan ekstensi sehingga nanti akan ada beberapa stasiun dan jalur baru.

Peta jaringan BTS (Skytrain) ditunjukkan dengan warna hijau tua dan hijau muda

Peta jaringan BTS (Skytrain) ditunjukkan dengan warna hijau tua dan hijau muda

Silom Line, warna hijau tua, menjulur dari Bang Wa sampai National Stadium. Sementara Sukhumvit Line, warna hijau muda yang lebih panjang, membentang dari Mochit sampai Bearing. Kedua jalur bertemu di Stasiun Siam, stasiun BTS yang paling ramai dan sibuk dengan orang-orang yang berjalan cepat ke sana dan ke sini, naik turun eskalator, saling berganti peron.

 

Bagaimana cara membeli tiket BTS?

Ada dua cara: membeli dari vending machine dan membeli dari loket petugas. Penting diketahui, pembelian tiket dari vending machine membutuhkan UANG KOIN, karena sebagian besar mesin hanya menerima uang koin. Cara pemakaiannya pun unik, berbeda dari cara menggunakan vending machine di Singapore MRT, Kuala Lumpur LRT, atau Jakarta Commuter Line. Tidak ada layar yang menampilkan peta jaringan responsif, di mana kita memilih stasiun tujuan dengan menyentuh layar seperti di Singapura atau Kuala Lumpur.

Single trip card for BTS

Single trip card for BTS

BTS Bangkok

Baca Juga: Memahami Transportasi Publik di Kuala Lumpur

Perhatikan papan di bagian kanan mesin yang menampilkan peta jaringan BTS. Ada sejumlah angka yang tertera di setiap titik (stasiun). Nah, angka itulah yang menjadi nominal yang harus kalian bayar. Masukkan jumlah koin sesuai nominal ke dalam slot mesin. Mesin kemudian akan mengeluarkan sebuah kartu untuk di-tap di entry gate saat masuk dan dimasukkan di exit gate saat keluar.

BTS vending machine, perhatikan peta dan petunjuk harga di papan sebelah kanan!

BTS vending machine, perhatikan peta dan petunjuk harga di papan sebelah kanan!

Kalau kamu nggak punya uang koin atau receh, kamu bisa menukarkannya ke loket petugas yang akan dengan senang hati memberimu segepok koin logam. Kalau perlu, sekalian aja beli tiket dari loket petugas, seperti yang gue lakukan di Stasiun Saphan Thaksin.

 

Ada apa saja sih di dalam stasiun dan kereta BTS?

Stasiun terdiri dari area concourse dan platform (peron). Area concourse biasanya berisi vending machine, loket petugas, beberapa stasiun juga memiliki food stall dan fasilitas komersil lainnya. Karena lintasannya melayang, peron terletak di lantai atas. Penting diketahui, nggak semua stasiun punya eskalator atau tangga berjalan! Sebagian stasiun memiliki safety gate di peron untuk menjaga jarak aman antara calon penumpang dengan jalur lintasan, sebagian lagi tidak ada. Beberapa stasiun memiliki petugas yang berjaga di area peron untuk membantu ketertiban penumpang, biasanya di stasiun-stasiun besar atau stasiun transit.

Concourse area at station

Concourse area at station

Platform area at Saphan Taksin station with a security officer

Platform area at Saphan Taksin station with a security officer

BTS menggunakan armada yang diimpor dari Jerman (Siemens) dan Tiongkok (Changchun). Eksterior gerbong dibalut dengan warna dominan putih dengan garis berwarna merah dan biru yang menjadi warna logo BTS. Interiornya nyaman dengan pendingin ruangan yang menyemburkan udara dingin secara pas. Kursi-kursi ditata berjajar di kedua sisi gerbong, saling menghadap, dengan kursi prioritas ada di setiap ujung baris kursi. Area berdiri ada di bagian tengah dengan pegangan tangan yang terbuat dari material karet, di antara kedua barisan bangku yang saling berhadapan. Persis seperti di Singapura, Kuala Lumpur, atau Jakarta.

Baca Juga: Membaur Bersama Singapura dengan LRT

Inside the BTS (Skytrain) Bangkok

Inside the BTS (Skytrain) Bangkok

A BTS (Skytrain) is coming toward Saphan Taksin Station

A BTS (Skytrain) is coming toward Saphan Taksin Station

Peta jaringan BTS dalam ukuran kecil ada di dinding samping-atas gerbong BTS. Ada juga iklan-iklan komersial, baik yang hanya dalam bentuk visual saja (dua dimensi), atau yang ditayangkan dengan media audio visual. Ada suara narrator yang menginformasikan stasiun kedatangan dalam bahasa Thai dan Inggris.

 

Apa saja tempat wisata yang dilalui?

Chatuchak Weekend Market (turun di stasiun Mochit, Sukhumvit Line)

Kawasan belanja Siam seperti MBK Mall, Siam Paragon, Siam Discovery, Siam Plaza (turun di stasiun Siam, Chitlom, atau Ploenchit Sukhumvit Line)

Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Pho (turun di stasiun Saphan Taksin – Silom Line, dilanjutkan dengan naik perahu Chao Praya Express sampai dermaga Tha Tien)

Siam Station, Bangkok

Siam Station, Bangkok

Catatan:

Peta jaringan BTS dapat diperoleh secara gratis di bandara, tourist center, loket petugas, dan beberapa penginapan.

Stasiun Saphan Taksin adalah satu-satunya stasiun BTS yang terintegrasi dengan sistem transportasi air Chao Praya Express.

 

MRTA (Subway)

Selain BTS, Bangkok juga memiliki satu lagi moda transportasi massal cepat berbasis rel, yaitu MRTA atau subway. Bedanya, kalau lintasan BTS melayang di angkasa, jalur MRTA tersembunyi dalam di bawah tanah. Saat ini, baru ada satu jalur MRTA yang digambarkan dengan warna biru pada peta, menjulur dari Bang Sue sampai Hua Lamphong. Jalur dan stasiun-stasiun baru sedang dikembangkan untuk mengjangkau daerah-daerah yang belum tersentuh jaringan BTS atau MRTA.

Ada beberapa stasiun MRTA yang terintegrasi dengan stasiun BTS, yaitu: Stasiun Chatuchak Park (Mochit BTS), Sukhumvit (Asok BTS), dan Silom (Sala Daeng BTS). Jadi, sangat mudah kalau mau berganti jalur di antara MRTA dan BTS. Namun, karena kedua sistem ini belum terintegrasi, penumpang harus membeli tiket terpisah. Sebagai contoh, saat gue mau ke Stasiun Siam (BTS) dari Stasiun Hua Lamphong (MRT), gue membeli tiket MRT sampai Stasiun Silom, lalu berpindah ke stasiun BTS Sala Daeng untuk membeli tiket baru ke Siam.

Waiting for the train

Waiting for the train

Stasiun MRTA Hua Lamphong terintegrasi dengan stasiun kereta api besar Hua Lamphong. Baca cerita lengkapnya di: Bangkok – Siem Reap, Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

 

Memang gimana sih beli tiket MRTA?

Pembelian tiket MRTA lebih mudah daripada pembelian tiket BTS. Ada peta jaringan interaktif di layar sentuh pada vending machine, pilih stasiun tujuan dengan menyentuh layar lalu masukkan nominal yang diminta. Mesin akan mengeluarkan sebuah token (kepingan berbentuk bundar) berwarna hitam untuk di-tap di entry gate dan dimasukkan ke dalam exit gate saat keluar.

 

Bagaimana dengan stasiun dan kereta MRTA?

Stasiun MRTA Bangkok berada di dalam tanah, maka dari itu MRTA Bangkok juga disebut subway. Jarak antara tangga berjalan dengan area peron bisa sangat jauuuhhh! Stasiun MRTA lebih besar dan lebih modern daripada stasiun BTS, tapi sepiii, lengaaang, jauh dibandingkan dengan Stasiun BTS Siam yang hiruk pikuk. Nggak ada stall-stall komersil seperti yang banyak ada di stasiun BTS, tapi ada banyak ATM di stasiun MRTA ini.

Buying ticket at vending machine

Buying ticket at vending machine

Tingkat pengamanan lebih ketat daripada stasiun BTS, ada petugas (biasanya wanita) dan scanner gate yang akan memeriksa barang bawaan calon penumpang sebelum memasuki area peron. Ada juga petugas pria yang berjaga-jaga di area peron. Saat gue naik MRTA dari Hua Lamphong (stasiun terminus), kereta yang baru datang juga tak dapat langsung dimasuki penumpang baru. Calon penumpang menunggu beberapa menit di belakang garis kuning, sementara petugas menyisir seluruh gerbong untuk memastikan keamanan.

Armada MRTA Bangkok sama dengan BTS (Skytrain), hanya rangkaian gerbongnya sedikit lebih panjang, pun eksterior dan interiornya.

 

Airport Rail Link (ARL)

Nggak usah bingung naik apa untuk menuju Bandara International Suvarnabhumi (baca: swanapum) Bangkok atau menuju kota dari bandara. Bangkok sudah memiliki sistem kereta bandara yang dinamakan Airport Rail Link (ARL). Jalur ARL membentang dari Bandara Suvarnabhumi hingga ke Stasiun Makkasan, Ratchaprarop, dan Phaya Thai. Tiga stasiun terakhir itulah yang bisa kamu pertimbangkan untuk melanjutkan perjalanan menuju penginapan atau tempat wisata Bangkok.

City Line and Express Line (source: tripadvisor)

City Line and Express Line (source: tripadvisor)

Sebenarnya, ARL Bangkok memiliki dua line, yaitu Express Line (warna merah dan kuning) dan City Line (warna biru). Express Line akan melakukan perjalanan non-stop dari Suvarnabhumi sampai Makkasan (Blue line) dan Phaya Thai (Yellow line), sementara City Line akan melakukan perjalanan hingga Phaya Thai dengan transit di setiap stasiun yang dilalui. Maka, City Line ini juga berfungsi seperti commuter line karena dia melalui beberapa wilayah pinggiran. Sayangnya, dari informasi terakhir, Express Line untuk sementara tidak beroperasi (suspended).

Nah, karena gue mendarat dan terbang dari Bandara Don Mueang, jadi gue nggak menikmati transportasi ini.

 

Lalu gimana transportasi dari Bandara Don Mueang ke pusat kota?

Pertama, naik bus A1 dari pintu keluar bandara. Turun di stasiun BTS Mochit, dan lanjutkan perjalanan dengan BTS atau MRTA menuju tempat tujuanmu. Cerita lengkapnya, baca di: SUPERTRIP 2, Sebuah Perjalanan Menuju Tiga Negeri

Bisa juga naik kereta komuter dari stasiun yang berada tepat di seberang bandara, tapi harus menunggu agak lama sampai jadwal kereta tiba. Buat yang satu ini, gue kurang tahu karena nggak mencobanya sendiri.

 

Bus Kota dan BRT (Bus Rapid Transit) Bangkok

Ada seabrek jalur bus kota di Bangkok sampai ratusan, lebih banyak dari jalur Kopaja yang ada di Jakarta. Armada bus kota di Bangkok sangat bervariasi, dari bus-bus tua berlantai kayu dengan cat yang terkelupas, sampai bus-bus modern yang mulus dan memiliki kursi-kursi empuk. Namun, baik bus lama atau  bus baru, sebagian besar memiliki AC dan pintu penutup otomatis. Ada lho, bus tua yang kayaknya bobrok, tapi AC dan pintu masih berfungsi dengan baik. Satu hal lagi nih yang gue salut dari Bangkok, melihat bagaimana pemerintah merawat transportasi umum.

Khun, tatapanmu itu lho..

Khun, tatapanmu itu lho..

Bus kota dapat dinaiki dari halte atau bus stop. Bentuknya sangat sederhana, hanya sebuah assembly point (titik berkumpul) dengan sebuah papan rambu penunjuk bus stop. Bus kota ini menjadi moda transportasi andalan warga yang tinggal di kawasan kota lama Bangkok yang belum tersentuh BTS atau MRT, seperti daerah Khaosan, Yaowarat, dan Phahurat.

Rute yang dilalui tertera di bawah angka jalur di atas jendela depan, namun dalam aksara Thailand. Modar. Rute dalam aksara Latin ada di badan samping bus, jadi harus menunggu bus berhenti atau membiarkan satu bus berlalu lebih dulu. Makanya, untuk penggunaan bus, disarankan menanyakan jalur lebih dulu kepada warga lokal.

Pembayaran dilakukan di dalam bus, ada petugas kondektur (kadang seorang ibu paruh baya) yang akan menagih ongkos. Sedia uang dalam nominal kecil karena ongkos bus ini muraaahhh banget! Katakan kepada petugas ke mana tujuanmu dan serahkan uangnya, uang akan diterima dan kembalian akan diberikan jika ada. Gue jamin, meski naik bus tua sekalipun, rasanya tetap nyaman dan aman!

Nah, sebenarnya ada satu jalur BRT di Bangkok, biasa digambarkan dengan jalur kuning bila diikutsertakan dalam peta jaringan BTS. Eksterior busnya sendiri memang didominasi dengan warna kuning, ditambah aksen warna hijau. BRT ini seperti busway-nya Bangkok, jadi memiliki stasiun (shelter) dan bus dedicated lane (jalur terpisah) seperti halnya TransJakarta kita. BRT Bangkok hanya memiliki satu jalur sampai saat ini, padahal direncanakan akan memiliki lima jalur. Oke, untuk urusan per-busway-an, Jakarta tetap berjaya, lol.

Rute BRT Bangkok ditunjukkan dengan garis kuning

Rute BRT Bangkok ditunjukkan dengan garis kuning

A Bangkok BRT (source: )

A Bangkok BRT (source: renegadetravels)

Sayang, gue nggak berkesempatan untuk menjajal moda transportasi yang satu ini karena tempat-tempat wisata utama di Bangkok sudah difasilitasi dengan BTS atau bus kota.

 

Chao Praya Express

Ada satu moda transportasi umum yang unik untuk kota modern sekelas Bangkok, mungkin sudah biasa bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di kota-kota besar di Sumatera dan Kalimantan. Ya, Bangkok memiliki sistem transportasi air yang bernama Chao Praya Express. Perahu-perahu Chao Praya Express berjalan melalui sungai Chao Praya yang lebar dan minim sampah rumah tangga.

Waiting at the pier

Waiting at the pier

Monks on the boat | Para biksu di atas perahu - Bangkok

Monks on the boat | Para biksu di atas perahu – Bangkok

Pembayaran dilakukan di loket di dermaga, cukup katakan ke mana dermaga tujuanmu. Petugas akan memberitahukan jumlah ongkos dalam bahasa Inggris. Kondisi di dalam perahu motor ini bisa jadi sangat padat dan sesak oleh warga lokal, so just make yourself comfortable! Nggak ada suara narrator atau kondektur yang menginformasikan dermaga berikutnya, disarankan kamu sudah hafal ada berapa dermaga yang dilalui sebelum sampai ke dermaga tujuan.

Gue mencoba Chao Praya Express saat menyeberang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya, lalu dari Wat Pho menuju dermaga Sathorn yang terintegrasi dengan stasiun Saphan Taksin. Petugasnya berbahasa Inggris dengan baik. Cerita lengkapnya, baca di:

 

Songthaew dan Tuk-Tuk

Selain BTS (Skytrain), MRT, ARL, Chao Praya Express, dan bus, ada songthaew dan tuk-tuk untuk menjadi moda transportasi alternatif. Tuk-tuk adalah sejenis becak motor (bemo) di Bangkok, satu tuk-tuk bisa muat hingga tiga orang dengan postur tubuh standar. Camkan itu! Rute dan ongkos dapat disesuaikan dengan keinginan penumpang.

Serupa tapi tak sama, songthaew seperti tuk-tuk dalam bentuk yang lebih besar, memuat lebih banyak orang. Bedanya lagi, songthaew ini punya rute, tapi bisa juga disewa kalau kamu pergi berombongan bedhol desa.

 

Gimana, udah paham dengan transportasi umum di Bangkok? Jangan buru-buru bingung, baca lagi setiap panduan di atas dengan pelan.. pelan.. pelan.. Selamat jalan-jalan!

 

Indeks cerita yang lain, klik untuk membuka:

Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

Menengok Siam dan Silom, Pusat Bisnis dan Belanja Bangkok

Ke Bangkok? Wajib Nih ke Wat Pho dan Wat Arun

5 Tips Mengunjungi Grand Palace

Terdampar di Keriuhan Flower Market dan Khaosan Road, Bangkok

Ini Dia Serunya Berkunjung ke Bangkok National Museum!

Iklan

59 thoughts on “Memahami Transportasi Publik di Bangkok: BTS (Skytrain), MRT, Airport Link, Chao Praya Express, dan Bus

  1. Palembang bentar lagi bakalan punya LRT, mirip2 lah dg BTS bangkok tpi gak tingkat 2, lebih tepatnya mrip LRT KL. Di Udah gak sabar gue nunggunya gi 😂. Berdoa dan berharap besar pariwisata sungai musi makin maju dan ada bus air kayak di sungai Chaoprayo, hihihi.

    • Sebenernya LRT-nya KL itu menurut gue udah kayak MRT sih, Her. Rangkaian gerbongnya kadang banyak.

      Same hope, bro. Gue juga berharap MRT, LRT, dan kereta bandara Jakarta segera jadi. Iya, semoga juga transportasi Palembang berkembang ya 🙂

  2. Jangan sedih, tahun ini Bangkok MRT Purple Line mau buka loh. Hiks. BTW, Express Train ke Suvarnabhumi udah gak jalan lagi sejak akhir 2014. Jadi akses ke BKK skrg semuanya via City Line train.

  3. Mas awan, ga naik ARL yah waktu itu? Tarif nya berapa ya kira2 tau ga? Soalnya hotel tempat menginap ku dekatnya stasiun ramkhamhaeng. Itu jalur ARL kan yaaa..

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s