Bangkok, Belanja, Historis, Pattaya, Thailand, Travel, Wisata

#ViziTrip Part 4: Dari Pattaya ke Wat Traimit dan Wat Arun, Bangkok

good morning, pattaya 🙂

Akhirnya, setelah dalam 2 seri sebelumnya gue fokus menceritakan tempat-tempat wisata Pattaya, kali ini gue udah bisa move on ke hari ketiga perjalanan Bangkok-Pattaya 5-8 September 2018 bersama Vizitrip. Di seri perjalanan bagian keempat ini, gue mau cerita tentang perjalanan kami mengunjungi tempat-tempat wisata di Bangkok dalam sehari!

Di hari ketiga perjalanan ini, atau hari kedua melakukan tur, agenda kami nggak sepadat dan segasik hari sebelumnya. Setelah berkemas, mandi, sarapan, dan check-out dari Hotel Beston Pattaya, kami berangkat menuju destinasi selanjutnya sekitar jam 7:30.

my breakfast | beston hotel pattaya
waiting our tour ready

Destinasi pertama kami adalah sebuah pusat perhiasan. Tempatnya luas, dan petugasnya bisa bahasa Indonesia. Kami menghabiskan cukup banyak waktu di tempat penjualan perhiasan yang gue bahkan nggak tau namanya itu. Gue, ketiga travelmate gue dari Vizitrip, dan beberapa peserta tur lain yang berumuran sebaya, nggak berlama-lama di dalam ruang pameran. Nggak ada yang bisa kami beli, cuy! Akhirnya kami duduk-duduk di area kafetaria menunggu peserta tur lainnya selesai. Lumayan, kami dikasih segelas Cola gratis dari pihak kafetaria, complimentary service buat seluruh pengunjung. Etapi setelah pakbapak dan buibuk yang lain udah kumpul, kami masih duduk-duduk agak lama lho di situ. Gue aja udah mulai merasa bosen.

:sigh:


Berbelanja Oleh-Oleh di Dry Food Shop

Sebelum memasuki wilayah kota Bangkok, kami mampir ke sebuah pusat oleh-oleh bernama Dry Food Shop. Komoditi utama yang dijual di tempat ini adalah macam-macam produk makanan atau minuman kemasan, seperti cokelat, permen, snack rumput laut, kopi, dan thai tea instan. Selain itu ada beberapa komoditi lainnya, kayak kosmetik dan kerajinan tangan. Tempatnya juga dilengkapi toilet, kedai kopi, dan lapangan parkir yang luas. Bus-bus pariwisata berjajar di depan bangunannya.

tons of snacks, chocolates, candies, or tea at dry food shop
clothes, bags, and souvenirs are also available
the shop was packed by tourists

Gue nggak banyak belanja di situ, sekadar beli cokelat dan thai tea masing-masing 1 pak seharga total 270 THB buat oleh-oleh temen-temen kantor. Yes, one of the cashier speaks bahasa Indonesia. Bangga nggak sih bahasa Indonesia dipelajari orang-orang asing di negara yang bukan native bahasa Indonesia?


Makan Siang di Al-Hilal Restaurant, Bangkok

As the name suggests, Al-Hilal Restaurant adalah sebuah rumah makan islami yang lokasinya nggak jauh dari Suvarnabhumi International Airport. Nampaknya daerah ini memang daerah komunitas muslim tinggal, karena ada sebuah masjid besar dengan kubah megah yang berdiri di sekitarnya. Kami berempat duduk bersama 4 peserta tur lainnya, jadi ada 8 orang untuk setiap 1 meja bundar.

Nggak seperti 2 restoran sebelumnya yang menganut paham prasmananisme, Al-Hilal Restaurant menyajikan nasi dan lauk pauk untuk setiap meja. Alas meja dapat diputar 360 derajat supaya gizi dan kenikmatan tersebar merata. Lauknya juga enak-enak, dan yang pasti halal. Ada ikan, daging, telur, sayur, juga ada semacam menu yang mirip urap/karedok/gudhangan.

had a halal lunch at al-hilal restaurant, bangkok
al-hilal moslem hallal restaurant, bangkok
finished my lunch with a cup of vietnamese coffee

Karena restoran ini cuma menyediakan air putih buat rombongan kami dan gue saat itu lagi mendamba secangkir kopi so hard alias sakaw, usai makan gue melipir keluar menghampiri sebuah kedai kopi kecil-kecilan yang ada di pelataran restoran. Antreannya lumayan, banyak pakbapak dan babang-babang Indonesia atau Malaysia, menunggu dilayani si eneng yang berjualan seorang diri. Walaupun sekilas mirip orang Indonesia dan berjilbab, tapi kayaknya dia warga lokal. Gue memesan Vietnamese Coffee panas seharga 40 THB sahaja. Hasilnya nggak mengecewakan lho, porsinya lumayan dan kopi disajikan dengan float di permukaannya.


Mengunjungi Wat Traimit, Bangkok

Wat Traimit, atau Temple of The Golden Buddha, adalah sebuah kuil menarik yang terletak di area pecinan (Chinatown), di ujung Yaowarat Road. Harga tiket masuk ke dalam kuilnya adalah 40 THB. Kalau naik angkutan umum, Wat Traimit dapat dicapai dengan naik MRT sampai Stasiun Hualamphong. Dalam 2 kunjungan ke Bangkok sebelumnya di tahun 2015 dan 2016, gue nggak mampir ke kuil ini, malahan nggak tau sama sekali. Thank you for bringing me here, Vizitrip!

:good:

the temple complex from 1st layer of wat traimit
the neighborhood view | wat traimit bangkok

Sebelum tiba di Wat Traimit, bus berjalan melalui jalan-jalan pecinan yang riuh. Papan-papan toko dalam aksara Kanji berderet di kedua sisi jalan, saling berebut perhatian. Etnis Tionghoa berkerumun di salah satu sudut menunggu bus kota berwarna jingga, di bawah kabel-kabel yang malang melintang.

Tahun 2015 lalu, gue sempat berusaha ke Yaowarat Road ini karena gue memang selalu tertarik dengan Chinatown. Saat malam, nuansa pecinan akan semakin hidup dengan papan-papan neon yang menyala semarak. Saat itu, kami naik bus kota dari dekat hostel kami di Khaosan Road. Karena nggak bisa baca aksara Thai dan nggak melengkapi diri dengan akses internet, kami malah nyasar di sebuah pasar kembang, padahal udah deket banget. Lumayan, kali ini gue bisa benar-benar sampai Chinatown, meski cuma lewat doang.

:ngakak:

Baca kisahnya di: Terdampar di Keriuhan Flower Market dan Khaosan Road, Bangkok

view from the top | wat traimit bangkok
tallest building in bangkok: the mahanakhon
skyscrapers seen from the top of wat traimit, bangkok
this intersection is adorable, isn’t it?

Konon, patung Buddha yang ada di Wat Traimit ini adalah patung Buddha terbesar sedunia yang terbuat dari material emas tulen! Tingginya nyaris mencapai 5 meter. Sang Buddha ditempatkan di level tertinggi dari bangunan Phra Maha Mondop yang terdiri dari 3 lantai tersebut. Dari pelataran, kami harus menapaki puluhan anak tangga menuju kuil utama. Ngomong-ngomong, di lantai 1 dan 2 bangunan ada museum dengan harga tiket masuk 100 THB.

Di tiap lantai, gue selalu berhenti buat menikmati pemandangan yang tersaji. Sebagai seorang penjelajah kota, gue selalu senang mengamati panorama kota dengan gedung-gedung bertingkatnya. Selain gedung-gedung di sekitarnya yang nggak terlalu tinggi, berbekal kamera DSLR, gue bisa mengabadikan gedung gedung pencakar langit Bangkok, termasuk Maha Nakhon sang gedung tertinggi, yang ada di kejauhan sana. Gue juga bisa melihat gerbang pecinan yang megah dan persimpangan jalan yang manis seperti kota-kota Indocina (Phnom Penh, Ho Chi Minh City, dsb)

Di lantai paling atas, seluruh pengunjung harus melepas alas kaki lalu disimpan di rak yang disediakan. Kebetulan, saat itu cuacanya terik banget, lalu di antara posisi rak sepatu dan bangunan altar itu adalah area terbuka yang dihujani cahaya matahari. Jadilah gue berjalan berjingkat-jingkat masuk ke dalam kuil kayak maling mau nyolong celana dalem, lantai pelatarannya panas bangeeettt!

:sweating:

the giant bell of wat traimit, bangkok
left: taken by a fellow tourist, right: taken by antika

Seperti tempat-tempat sebelumnya, di kuil utama Wat Traimit ini gue juga bertemu dengan… turis-turis India. Gue harus nunggu beberapa saat supaya bisa foto dengan “bersih”. Bahkan gue sampai ambil foto 2 kali, yang pertama minta tolong sama mbak-mbak pengunjung yang lagi lesehan di sudut ruangan, lalu yang kedua minta tolong ke Antika karena pas lagi sepi. Gue sampai jadi peserta tur yang terakhir masuk bus karena kelamaan foto-foto.


Wat Arun, Kuil Perpaduan Hindu dan Buddha

Kalau kamu hanya punya waktu sehari (atau malah lebih singkat lagi) buat jalan-jalan di Bangkok dan bingung mau ke mana, maka Wat Arun adalah satu tempat yang nggak boleh kamu lewatkan! Karena pada 2 kesempatan sebelumnya gue udah mampir ke kuil ini, jadi kunjungan kali itu menjadi kunjungan gue yang ketiga. Meski begitu, gue tetep antusias! Bahwasanya Wat Arun udah nggak direnovasi lagi!

(((bahwasanya))) (((entah kapan terakhir kali orang-orang ngomong dengan kata ini)))

:keren:

but first, we need to take a 3-THB boat to cross the river
crowd and the giant “yaksas” | wat arun bangkok

Tiang-tiang besi akhirnya tak lagi terlihat membelit candi megah itu dan merusak keindahannya. Wat Arun adalah sebuah kuil Buddha yang terletak di sebelah barat Sungai Chao Phraya. Untuk mencapainya, kami harus menyeberang sungai dengan perahu bertarif 3 THB.

Cerita kunjungan gue ke Wat Arun di tahun 2015 dapat dibaca di: Ke Bangkok? Wajib ke Wat Pho dan Wat Arun!

Nama Wat Arun diambil dari “Aruna”, dewa fajar dalam keyakinan Hindu. Wat Arun sendiri dikenal dengan julukan Temple of Dawn (Kuil Fajar), Wat Chaeng, karena memang waktu terbaik mengunjungi kuil ini adalah saat fajar atau senja di mana sang surya bertemu dengan garis cakrawala. Padahal, secara resmi Wat Arun buka dari jam 8:30-17:30, jadi saat sunrise dan sunset cuma bisa foto-foto dari luar.

Sesaat setelah perahu merapat di dermaga, kami disambut dengan sepasang yaksa (raksasa) yang seolah bertugas menjaga pintu gerbang kuil. Anehnya, pengunjung tidak masuk melalui pintu gerbang itu. Harga tiket masuk ke dalam Wat Arun cuma 50 THB aja kok, karena memang kuilnya sendiri nggak terlalu besar. Wat Arun terdiri dari satu prang (menara) utama yang tinggi menjulang setinggi 80 meter, dikelilingi empat prang lain dalam ukuran yang lebih kecil. Arsitekturnya merujuk pada kosmologi Buddha, di mana Gunung Meru menjadi pusat kehidupan. Mungkin serupa dengan Gunung Olympus dalam mitologi Yunani.

taking a photo at wat arun, bangkok
the tall spires of wat arun, bangkok
the tallest spire (prang) of wat arun, bangkok
“yaksas” (demon guard) guard the temple | wat arun, bangkok

Menara-menara Wat Arun dilapisi dengan porselen, keramik, dan kaca penuh warna dari Tionghoa. Saat malam, sang Kuil Fajar ini akan tampil cemerlang dan bercahaya. Pengunjung dapat naik hingga menuju lapisan pertama Wat Arun melalui anak-anak tangga yang agak curam. Lorong-lorongnya sangat sempit, jadi nggak perlu berjalan terburu-buru atau kamu akan menubruk orang lain yang datang dari arah yang berlawanan. Naiklah, dan saksikan panorama Sungai Chao Phraya berlatarkan gedung-gedung bertingkat Bangkok.

Yaksa-yaksa dengan ukuran yang lebih kecil mengelilingi tiap menara dengan pose menyangga. Di lapisan yang lebih tinggi, ditempatkan patung Dewa Indra (disebut Dewa Erawan oleh masyarakat Thai) di setiap arah mata angin. Inilah kenapa gue sebut Wat Arun sebagai kuil perpaduan Hindu dan Buddha.

view from the first layer of the temple | wat arun, bangkok
finally, took a selfie for myself, i don’t know where my friends were
the spires and the monument | wat arun, bangkok
a monument right next to the temple

Sadar nggak kalau arsitektur Wat Arun ini sedikit berbeda dengan arsitektur candi-candi lainnya di Thailand? Kalau yang lain khas dengan stupa-stupa (chedi) melengkung, maka Wat Arun tampil jumawa dengan menara-menara menggapai angkasa. Ini karena Wat Arun dirancang dengan arsitektur Khmer, serupa dengan kuil-kuil di Ayutthaya dan candi-candi Angkor Archaeological Complex, Siem Reap, Kamboja. Ikuti kisahnya di:

Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

Tiga Candi di Angkor Wat Ini Wajib Kamu Kunjungi di Kamboja

Makanya, Wat Arun itu nggak ngebosenin, karena desainnya beda dari candi-candi lainnya.

Nggak cuma bisa foto-foto dan sembahyang (buat kamu yang beragama Buddha), di Wat Arun juga bisa belanja di pasar! Konon, di Pasar Wat Arun kita bisa bertransaksi dengan bahasa Indonesia dan mata uang Rupiah saking banyaknya turis Indonesia di sana. Sayangnya gue nggak ke sana euy, ditinggal Antika sama yang lain.

Persis di depan Wat Arun ada sebuah taman dan area publik yang luas, bersih, dan hijau. Gue menghabiskan waktu di situ dengan duduk-duduk santai, mengamati lalu lalang orang, dan kehidupan lokal di Chao Phraya.

wat arun seen from the boat
the old town and the modern part of bangkok seen from wat arun
local life around wat arun, bangkok

Kalau kamu mau ke Wat Arun, lengkapi agendamu dengan Grand Palace dan Wat Pho (Kuil Buddha Tidur) yang bisa dicapai dengan jalan kaki. Dalam tur ini, kami hanya mampir ke Wat Arun, padahal ada banyak peserta yang baru pertama kali ke Bangkok. Menurut gue, Grand Palace dan Wat Pho juga merupakan 2 tempat wajib kunjung di Bangkok. Untung gue udah pernah ke sana (meski cuma sampai di bagian luarnya aja pas di Grand Palace). Baca cerita perjalanannya di: 5 Tips Mengunjungi Grand Palace, Bangkok


Makan Malam Tumpeh-Tumpeh di Show DC Mall Bangkok

Sebelum nonton Cooking Nanta Show, kami makan malam dulu di sebuah mall bernama Show DC, Bangkok Tourist Terminal. Dengan angkutan umum, kamu bisa ke Show DC menggunakan shuttle service dari Bandara Suvarnabhumi, Bandara Don Mueang, dan Stasiun MRT Petchaburi. Lokasi mall-nya menjorok cukup jauh ke dalam dari jalan raya utama, untung kami naik bus sendiri. Ngomong-ngomong, seluruh keseruan perjalanan ini juga bisa kamu saksikan di:

congested streets of bangkok and the police watching

Mall-nya instagrammable banget dengan desain interior yang warna-warni. Sayangnya sepiiiiii banget! Gue nggak lihat pengunjung lain selain rombongan kami. Pak Aheng sih mengira mall ini memang nggak laku, tapi menurut gue nggak begitu. Sepenangkapan gue, mall ini adalah mall yang didedikasikan buat wisatawan, bukan warga lokal. Desain interiornya bagus, lokasi masih cukup strategis, masak iya nggak ada satu pun pengunjung.

:evilsmirk:

Kami makan malam di sebuah buffet restaurant di lantai 5. Gue lupa namanya, yang jelas menunya banyak bangeeettt! Ada macam-macam olahan daging, macam-macam olahan sayur, kwetiaw, bihun, seafood, dan menu lainnya. Nasinya pun lebih dari 1 macem. Nggak cukup dengan 1 meja, menu-menu tersebut ditempatkan dalam dua meja memanjang. Gue kalap ambil ini itu, sampai nasi yang gue ambil “tenggelam” dalam tumpukan lauk pauk itu.

dinner at show dc mall, bangkok
dinner at show dc mall, bangkok
my dinner at show dc mall, bangkok

Ruang makannya luas, dibalut dengan sentuhan desain industrial, misalnya melalui aplikasi langit-langit ekspos, lampu-lampu corong, dan kursi-kursi logam.


Nonton Cooking Nanta Show

Bangkok Nanta Theater terletak nggak jauh dari Show DC, tepatnya di RCA Plaza 1st Floor, Phra Ram IX Road, Bang Kapi. Ternyata lokasinya juga nggak jauh dari tempat kami menginap, Thomson Hotel & Residences Hua Mak. Stasiun kereta terdekat adalah Stasiun MRT Pethchaburi dan Stasiun Makkasan di jalur Airport Rail Link, dari situ perjalanan masih harus dilanjutkan dengan tuk-tuk atau taksi. Tiket pertunjukkan dapat dibeli dengan harga mulai dari Rp232.000-an untuk kursi kasta terendah (((kasta))), pertunjukkannya ada setiap hari jam 20:00 selama kurang lebih 1 jam. Cuma tutup di hari Senin pertama tiap bulan, kok.

Pahami transportasi Bangkok lebih jelas di: Memahami Transportasi Publik di Bangkok

ticketing counter | cooking nanta show, bangkok
auditorium of cooking nanta show, bangkok

Kalo kamu pernah ke Korea Selatan, pasti tau apa itu Nanta Show. Pertunjukkan komedi minim dialog yang dibalut dengan tema memasak ini memang asalnya dari Negeri Ginseng sono. Gak cuma kocak, tapi kita juga bisa ter-wow-kan dengan atraksi-atraksi keterampilan yang diperagakan oleh keempat koki di atas panggung. Jangan salah, mereka itu memang koki beneran, sungguh-sungguh masak di atas panggung! Kata Antika, para pemain Nanta Show itu berganti-ganti. Jadi para pemain yang gue lihat waktu itu mungkin udah nggak ada saat gue nonton lagi tahun depan.

Inget, kan, kalo gue ikut tur ini dengan rombongan buibuk dan pakbapak dari Pontianak? Sepanjang pertunjukkan, ada salah satu ibu yang ketawanya keraaasss banget! Suara ibu yang satu itu emang udah gue hafalin, karena beliau juga yang paling berisik selama di bus. Nggak cuma ketawa doang, tapi ibu itu juga teriak-teriak keras banget dengan suara yang menggelegar di auditorium! Misalnya, “Satu, dua, tiga…” atau, “CIYEEE”. Penonton yang lain sampai pada nengok-nengok. Duh, gue malu banget, apa yang beliau lakukan menurut gue mengganggu kenyamanan penonton lainnya.

:notlisten:

with the actors of cooking nanta show, bangkok | the 2nd guy from right is the most attractive actor

Sayangnya, selama pertunjukkan penonton dilarang mengambil foto dan video. Pokoknya, show ini menghibur banget dan worth the price! Usai acara, ada sesi foto-foto dengan para pemain di depan pintu masuk teater. Tentu, harus bayar 100 THB. Karena gue pengen banget foto dan terlalu mahal kalo harus menanggung 100 THB seorang diri, akhirnya gue ajak Aldi, dan dia mau. Lumayan, gue cukup bayar 50 THB. Penonton yang ingin foto diatur sesuai antrian. Kita juga bisa minta salah satu kru untuk mengambilkan foto dengan kamera atau handphone kita. Beberapa menit kemudian, kita akan dipanggil untuk menerima hasil cetak foto yang sudah dibingkai.


Yak, seri keempat perjalanan ini pun sukses melebihi 2.200 kata! Kalo mau dibagi 2, tanggung euy. Selesai nonton Cooking Nanta Show, kami kembali ke Thomson Hotel & Residences untuk check-in dan beristirahat. Sampai jumpa di episode selanjutnya.

Iklan

16 tanggapan untuk “#ViziTrip Part 4: Dari Pattaya ke Wat Traimit dan Wat Arun, Bangkok”

    1. Bener. Sama “berwarnanya” dengan Jakarta, tapi lebih tertib. Tetep macet, tapi nggak pada ribut klakson dan stay di lane masing-masing. Trotoarnya mungkin kusam dan banyak pedagang, tapi bersih.

      Yang penting nggak ada selokan dan kali berbau busuk 😀

  1. Pas baca dibagian dibawa ke pusat perhiasan , aku jadi teringat perjalanan dengan tour ke Shenzen dulu, dibawa ke pusat Giok dan pegawainya juga bisa bahasa Indonesia padahal belum pernah ke Indonesia.

  2. Kalo orang jualan udah bisa bahasa Indonesia, biasanya karena banyak turis kita yang ke sana ya Mas. Macem di Arab. Kata nyokap pedagang di sana juga sikit sikit bisa bahasa Indonesia.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.