Ke Bangkok? Wajib Nih ke Wat Pho dan Wat Arun!

Welcome to Wat Pho!

Welcome to Wat Pho!

Batal masuk ke dalam kompleks Grand Palace Bangkok, kami lalu melanjutkan ke destinasi berikutnya dengan berjalan kaki: Wat Pho. Lokasinya yang sangat dekat dengan Grand Palace, membuat Wat Pho mudah dijangkau dan biasa digabungkan dengan kunjungan ke Grand Palace. Tak lama setelah menyusuri trotoar yang rapi dan bersih, berjalan bersisian dengan tembok pembatas Istana yang kokoh, kami akhirnya tiba di Kuil Buddha Berbaring itu.


SUPERTRIP 2 Eps. 5: Wat Pho dan Wat Arun

Wat Pho, atau Wat Phra Cetuphon, adalah sebuah kuil Buddha terbesar dan tertua yang ada di Bangkok, Thailand. Terletak di Thanon Cetuphon, Wat Pho sudah dibangun pada 200 tahun sebelum Bangkok menjadi ibukota Thailand. Luasnya mencapai 20 acre! Dulunya, kuil ini bernama Wat Phodhara. Pada saat pemerintahan Raja Rama III (1824-1851), kuil ini lalu dibangun ulang hingga seperti sekarang ini.

Statue of Buddhist god at the entrance gate

Statue of Buddhist god at the entrance gate

Menyusuri trotoar Bangkok yang rapi

Menyusuri trotoar Bangkok yang rapi

Setelah melalui sederetan pedagang makanan pinggir jalan, kami masuk ke dalam kompleks kuil yang dijaga oleh sebuah patung dewa yang tinggi. Loket pembayaran ada di sebelah kanan. Harga tiket masuk untuk satu orang adalah 100 THB, yah, masih sesuai dengan anggaran lah. Tiket tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan air mineral dingin secara gratis, lumayan. Kuilnya sendiri beroperasi dari pukul 08.00 sampai 17.00. Jadi nggak usah dateng subuh-subuh, kecuali mau ngelap-ngelapin patung-patungnya dulu.

Meninggalkan loket tiket, kami pertama disambut dengan sebuah kuil kecil yang digunakan oleh beberapa pelancong untuk beribadah. Mengamati khusyuk umat yang tunduk berlutut di hadapan sang Buddha, menghirup aroma dupa yang harum dan menguar sampai ke luar altar pemujaan, aku merasakan ketenangan dan kedamaian. Dengan hati-hati, aku mencoba mengabadikan ritual sembahyang mereka agar jangan sampai aksi fotografiku merusak keteduhan umat.

Baca Juga: Mengunjungi Wat Traimit, Kuil Buddha Emas di Bangkok

Praying at the shrine

Praying at the shrine

Neng, kalau udah selesai sembahyang, abang tunggu di depan ya.

Neng, kalau udah selesai sembahyang, abang tunggu di depan ya.

Lepas dari sang kuil kecil, kami memasuki tempat yang menjadi atraksi utama Wat Pho: Patung Buddha Berbaring (Reclining Buddha). Lokasinya berada persis di sisi kuil kecil tersebut. Untuk memasuki Kuil Buddha, kami harus melepas alas kaki kami yang disimpan di bagian depan. Ada gadis-gadis cilik yang bersiaga di depan pintu masuk, siap memberikan kain penutup aurat bagi mbak-mbak cabe yang datang dengan pakaian renang.

Menjulang setinggi 15 meter dan memanjang hingga 46 meter, patung Buddha Berbaring ini merupakan yang terbesar di Bangkok, bahkan Thailand! Lempengan emas yang membalut tubuhnya semakin menguatkan kesan agung dan suci yang terpancar darinya. Kami menikmati kemegahan Sang Buddha dengan menyusuri lorong memanjang beralaskan batu alam, di bawah lampu yang berpendar keemasan, diapit tiang-tiang kokoh yang berbalutkan ornamen etnik dekoratif.

Baca Juga: Memahami Sistem Transportasi Publik di Bangkok

The Reclining Buddha at Wat Pho

The Reclining Buddha at Wat Pho

Satu Jawa, dua Tionghoa, di depan Sang Buddha

Satu Jawa, dua Tionghoa, di depan Sang Buddha

Daaaaaannn, kami harus antri buat foto di ujung patung Buddha Berbaring. Kami, para pelancong, saling tolong menolong untuk memfotokan, karena memang sepanjang pengamatan juga nggak ada wisatawan yang nenteng-nenteng tongsis atau menengadahkan kamera depan smartphone-nya. Maaf, kami bukan #TeamTongsis. Sayang, bagian kaki Buddha yang konon dihiasi ukiran 108 citra itu sedang dalam perawatan pedicure, biar tetep kinclong dan bersih.

Mengelilingi patung Buddha Berbaring, kami tiba di sisi yang membelakangi sang Buddha. Di situ, terdapat mangkok-mangkok yang dapat pengunjung isi dengan koin-koin keberuntungan. Belilah beberapa keping dari para wanita yang berjaga di balik meja kayu. Meski kau tak mempercayai kuasa koin-koin itu, setidaknya koin-koinmu akan terpakai untuk perawatan kuil.

Baca Juga: Naik Perahu Menyusuri Sungai Menuju Victory Monument Bangkok

Bowls of luck

Bowls of luck

The chedis at Wat Pho

The chedis at Wat Pho

Keluar dari Kuil Buddha Berbaring, kami berkeliling mengelilingi kompleks untuk menikmati apa saja yang disajikan. Ada sebuah kolam ikan koi yang berada di tengah kompleks, dikelilingi dengan bebatuan dan patung-patung batu. Dalam budaya Jepang dan Tiongkok, ikan koi sendiri merupakan lambang umur panjang dan kasih sayang. Itu karena ikan koi sendiri memang sanggup berumur sampai ratusan tahun, dan kata “koi” dalam bahasa Jepang memang berarti “cinta”. Rimbunnya pepohonan yang menaunginya dan suara gemericik airnya yang menyejukkan, membuat kolam ikan koi menjadi spot favorit untuk para pengunjung bersantai.

Wat Pho sendiri dikabarkan memiliki lebih dari seribu patung Buddha di dalamnya dengan 91 chedi (stupa bergaya Thai) dalam berbagai ukuran yang mengisinya. Ada sebuah kuil utama, dinamakan Bot, tolong jangan ambigu dengan istilah bot yang lain, yang dikungkung dengan dinding batu dan keempat vihara: Vihara Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Di dalam Bot terdapat patung Buddha yang besar yang menjadi konsentrasi umat untuk beribadah.

Baca Juga: 5 Hotel dan Hostel Recommended di Bangkok Dekat Stasiun BTS/MRT

The Four Chedis, Wat Pho

The Four Chedis, Wat Pho

Buddha images at Wat Pho

Buddha images at Wat Pho

Buddha image inside the Bot, Wat Pho

Buddha image inside the Bot, Wat Pho

Selain Buddha Berbaring, Wat Pho juga identik dengan Empat Chedi-nya, yang masing-masing dinamakan Chedi Raja Rama II, Raja Rama III, Raja Rama IV, dan Phra Si Sanphet. Setiap chedi tampil cantik dan menarik dengan ornamen dekoratif dan warna-warni yang membalut tubuhnya.


Setelah puas berkeliling Wat Pho, lengkap dengan kulit yang panas terpanggang sinar matahari dan kaos yang basah oleh peluh, kami melenggang keluar dan berjalan menuju Wat Arun yang berada di seberang Sungai Chao Praya. Sambil mencoba mengganjal perut dengan menyantap Coconut Ice Cream (40 THB).

Monks on the boat | Para biksu di atas perahu - Bangkok

Monks on the boat | Para biksu di atas perahu – Bangkok

Approaching Wat Arun, Bangkok

Approaching Wat Arun, Bangkok

Dari dermaga Tha Tien, kami membayar ongkos seharga 6 THB untuk menyeberang ke Wat Arun dan kembali lagi ke dermaga semula. Perjalanan yang sangat singkat, namun lumayan untuk mengenal Bangkok lebih dekat.

Berdiri di tepi barat Sungai Chao Praya dengan menara tertingginya yang mengangkasa hingga 70 meter, Wat Arun menjadi salah satu landmark wisata populer di kota Bangkok. Disebut juga dengan nama Wat Chaeng, dan dijuluki Temple of The Breaking Dawn (Kuil Fajar Merekah), Wat Arun pertama kali dimimpikan oleh Raja Thaksin pada 1768.

Baca Juga: Akhirnya ke Lumphini Park Bangkok, Meski Diburu Waktu

The public boats and Chao Praya River, Bangkok

The public boats and Chao Praya River, Bangkok

The stunning Wat Arun, Bangkok

The stunning Wat Arun, Bangkok

Untuk masuk ke dalam Wat Arun, pengunjung membayar harga tiket masuk sebesar 50 THB. Tapi, dasar anak badung, aku diem-diem masuk ke dalam kuil melalui pintu belakang yang lolos dari penjagaan. Kuilnya sendiri nggak berukuran besar, dan bahkan saat itu sedang dalam renovasi dengan pilar-pilar ramping yang menyangga rangka luar candi. Astaga, kok di mana-mana lagi ada renovasi? Rasa-rasanya aku datang ke Bangkok di saat yang kurang tepat.

Karenanya, nggak banyak yang bisa aku lakukan di dalam kompleks selain berkeliling dan mengambil foto. Padahal seharusnya pengunjung bisa menaiki tangga sampai di menara tertinggi dan menikmati panorama kota Bangkok dengan Sungai Chao Praya yang membelahnya.

Steep staircase to the prime spire | Anak tangga curam menuju menara tertinggi

Steep staircase to the prime spire | Anak tangga curam menuju menara tertinggi

Detailed look at Wat Arun's decoration

Detailed look at Wat Arun’s decoration

Wat Arun ini memiliki gaya arsitektur yang sedikit unik dibandingkan dengan candi-candi lainnya di Bangkok. Alih-alih berbentuk seperti lonceng dengan balutan emas, menara-menara candi di Wat Arun meruncing menyerupai kerucut menghadap angkasa. Diselimuti dengan kaca berwarna dan porselen Tiongkok, membuatnya tampil berkelip-kelip saat ditimpa cahaya matahari. Maka, saat fajar dan senja adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Wat Arun.

Konon, di Wat Arun jugalah Emerald Buddha disimpan pada awalnya, sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam Wat Phra Kaew yang ada di dalam kompleks Grand Palace saat ini.

Baca Juga: Nonton Ladyboy Show di Mambo Cabaret Bangkok

Golden Buddha image at Wat Arun

Golden Buddha image at Wat Arun

A golden Buddha image inside a viharn of Wat Pho

A golden Buddha image inside a viharn of Wat Pho

Beberapa penjual cinderamata menggelar lapaknya di depan kuil. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati aktivitas sungai dengan duduk di tepian Chao Praya sambil memperhatikan perahu yang hilir mudik. Merasakan semilir angin kota yang bertiup hangat, menguapkan penat. Memandang jauh ke arah gedung-gedung jangkung pencakar langit yang menyesaki sisi timur kota Bangkok, tampil kontras jika membandingkan langsung dengan sisi barat yang lebih bersahaja.

Puas mengunjungi dua candi selama setengah hari, kami berjalan kembali menuju hostel untuk makan siang, mandi, dan berkemas untuk check-out. Semalam kami gagal mampir ke kawasan Siam untuk melihat sisi modern kota Bangkok. Jadi, malam ini, sepertinya kami akan senang-senang di Siam aja deh.

Baca Juga: Review Thai Lion Air Jakarta-Bangkok

Chedis at Wat Pho, Bangkok

Chedis at Wat Pho, Bangkok

 

Baca Cerita Sebelumnya: 5 Tips Mengunjungi Grand Palace, Bangkok

Nah, kamu yang mau jalan-jalan di Bangkok, Wat Pho dan Wat Arun adalah dua buah destinasi yang wajib kamu sambangi. Harga tiketnya nggak terlalu mahal dan lokasinya saling berdekatan, dapat digabungkan dengan kunjungan ke Grand Palace, National Museum, Chinatown, dan Khaosan Road dalam hari yang sama.

 

Iklan

57 komentar

  1. Rata-rata masuk wat-watnya thailand gak gratis ya… , sayang sekali…

    1. Yg gratis juga ada, bro. Wat-wat kecil bisa dimasuki tak berbayar.

      Kalau untuk wat besar, bayar. Tapi buat gue sih worth the price, bro. Apalagi buat Wat Pho, kayak mau ke Candi Borobudur sama Prambanan. Bayar juga kan? 😀

      1. Ohh seperti itu…. #melipir.
        Susah gak sih berkomunikasi dengan warga setempat?

      2. Susah sih. Mostly gak bisa bahasa Inggris. Termasuk yg anak muda haha.

      3. Wah… jadi harus guide book yak.. !!. Kalau mau nanya-nanya susah.

      4. Iya. Tapi jangan sampai nggak berinteraksi ya, bro. Pokoknya kalau traveling, wajib interaksi sama warga lokal 😀

        Yah, masih bisa lah tanya2 dikit. Gue di sana gak bawa guide book. Banyak tanya sama warga lokal.

  2. Wah lagi renovasi ya Wat Arun, padahal pemandangan di atas sana kece banget!

    1. Iya sayang banget, om 😦

  3. Kebayang aroma dupa dan heningnya tempat itu. Eh, hening kaya tempat ibadah, arau malah hiruk pikuk krn banyak wisatawan? Hehe.

    1. Kalau di bagian kuil kecil itu, cukup tenang bro. Tapi nggak hening banget karena di sebelah kiri ada jalan kompleks.

      1. O.. Sy malah ngebayangin kuil yang sepi. Tempat buat mikir, berdoa, dll. Thanks! Saya catet dan mungkin ke sana kalau ke Thailand.

      2. Hahaha. Ini udah kuil wisata, banyak pelancong :))

      3. Halo bro.. kita kakau dr pratunam harus kemana dulu baru bisa sampe wat pho?
        Harus ke chetuphon dulu ya? Atau chaophraya?

      4. Naik BTS sampai Siam atau National Stadium, lanjut tuktuk atau taksi. Kalo pergi bertiga atau lebih, langsung naik taksi aja. Murah & praktis.

  4. Pernah sekali waktu saya ke Wat Pho malam hari, -mungkin pas dibuka ya-, wah lebih syahdu lho.
    Sayang banget Wat Arun lagi renov. Bagus lho di atas…

    1. Wah, pengen banget tuh ke kuil malem-malem. Pasti lebih tenang, indah, dan ada permainan cahaya 🙂

      Next time ke Bangkok lagi deh!

  5. Untuk first timer ke Bangkok, dua kuil ini adalah wajib kunjung karena keunikannya. Sayang banget pas dirimu kesana banyak lagi banyak renovasi ya Gi? Padahal cukup menantang itu untuk naik ke atas Wat Arun. Kalau dilihat dari bawah kayaknya tangganya biasa aja, tapi kalau dicoba horror juga. Soalnya curam banget, zero tolerance for slip or trip deh. Dan turunnya lebih PR banget. Plus seperti oomnduut bilang di komen atas, pemandangan dari atas Phrang utamanya keren banget.

    O iya, Wat Arun ini emang agak beda, karena desainnya lebih mengambil corak khas bangunan Khmer, daripada Thai sendiri.

    Nice post Gi, jadi pengen balik ke Bangkok 🙂

    1. Nah iya, Wat Arun gaya arsitekturnya khmer ala Kamboja.

      Iya, sayang nggak bisa naik, padahal aku ini fobia ketinggian tapi suka berada di ketinggian 😀

      1. Fobia yang aneh, ngeri tapi suka 😀

      2. Hahaha. Iya, bang. Soalnya dari ketinggian bisa dapet pemandangan di bawah yg bagus 😀

      3. Pastinyaaa dan siliiir 😁😁

  6. […] Source: Ke Bangkok? Wajib Nih ke Wat Pho dan Wat Arun! […]

  7. Asik banget foto2 dan ceritanya! Kalo ngefoto macem biksu2 gitu perlu minta ijin atau langsung jepret aja sih? Kadang ga enak kalo mau jepret apalagi orgnya liat hehehe..abis thailand kmana?

    1. Makasih, kak.

      Tergantung niat. Kalau mau candid, natural keseharian tanpa pose, aku langsung jepret aja. Foto di atas dia gak sengaja pas liat ke depan 😀

  8. Ih kenapa ga bayar tiket masuk Wat Arun, Nug? Kan buat biaya perawatannya juga.

    1. Biasa, cowok badung. Gak tertantang kalo gak melakukan sesuatu yg melanggar. *laludiamukmassa*

      To be honest, saat itu candi lagi direnovasi, nggak bisa naik dan cuma bisa foto2 dari luar. Karena cuma ‘gitu doang’, rasa-rasanya masih pengen dapet kembalian setelah bayar tiket 😀

  9. Makan di samping sungai mau nyebrang ke wat arun ngak ??? disitu ada warung dan masakan nya JUARA banget

    1. Wah nggak, mas. Gak kulineran di sungai 😦

  10. Benar-benar Buddha Sanctuary banget ya Mas, ada banyak kuil dan semuanya terawat dengan sangat baik. Memang sayang datang ke tempat yang sedang direnovasi, tapi itu jadi alasan supaya balik ke sana lagi kan :hihi.

    1. Iya, terawat baik. Kayak ke Candi Prambanan, tapi semua candinya masih difungsikan.

      Untuk Wat Pho, aku sudah cukup puas. Next time, Grand Palace dan Siam jadi sasaran 😀

      1. Siap! Saya doakan semoga bisa ke sana dalam waktu dekat :)).

      2. Amin, bro. Semoga kamu bisa segera ke sana juga 😀

  11. Villa Istana Bunga · · Balas

    Mantep Gan.. pengen pisan kesana… terimakasih sudah sharing ya…
    Salam Sahabat

    1. Sama-sama. Ayo ke sana 🙂

  12. Bisa share ga dimana bisa liat wat wat kecil yg free entry ? thanks..

    1. Di persewaan sepeda, pemiliknya akan menjelaskan rute terbaik dan wat-wat free entry. Kalau naik tuk-tuk, bisa minta sama sopirnya ke yang free entry aja.

      Kalau mau tahu dari sekarang, googling aja banyak sumber kok 🙂

  13. […] di Bangkok tapi nggak terlalu suka kuil, cukuplah ke 3 kuil paling populer (Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun) biar waktu sisanya bisa puas dipake belanja dan kulineran! (dan rencana #TravelingHemat […]

  14. […] mengelompok di Distrik Banglamphu, yaitu: Grand Palace (tiket masuk 500 THB), Wat Pho, Wat Arun, National Museum, Khaosan Road, Yaowarat Road (Chinatown), Phahurat Road (Little […]

  15. […] Baca: Ke Bangkok? Wajib ‘Nih ke wat Pho dan Wat Arun! […]

  16. […] kuliner, dan belanja. Kalau ditanya kuil apa yang wajib dikunjungi di Bangkok, Grand Palace dan Wat Pho jawabannya, keduanya juga terletak bersebelahan. Soal bertualang kuliner, kawasan Khaosan Road bisa […]

  17. waaa terimakasih!

  18. Waahh, gak sabar pingin kesana…. Thanks ya sharingnya….

  19. Trip To Thai – Blog · · Balas

    […] Ke Bangkok? Wajib Nih ke Wat Pho dan Wat Arun! […]

  20. Chlara · · Balas

    Mau tanya kalo naik perahu ke wat arun bayar brapa ya? Sama ke semua destinasi apa beda2 tiap pemberhentian? Rencana oktober mau ke sana..

    1. Aduh lupa tepatnya berapa, murah banget pokoknya. Entah 3 THB.

      Semua destinasi ini maksudnya semua destinasi di Bangkok?

  21. […] perjalanan yang paling tidak memuaskan! Gue gagal ke Bukit Bendera, gagal ke Lorong Burma dengan kuil-kuil Buddha khas Thailand atau Myanmar-nya, gagal menikmati kekayaan kuliner Penang di KOMTAR atau Gurney Drive, dan terakhir […]

  22. […] Baca cerita perjalanan gue di Wat Pho dan Wat Arun di: Ke Bangkok? Wajib Nih ke Wat Pho dan Wat Arun! […]

  23. […] yang segitu aja bisa gue eksplor hingga empat jam. Dari Grand Palace, kamu juga bisa jalan kaki ke Wat Pho dan Wat Arun, dua obyek wisata terkenal lainnya di […]

  24. […] Cerita kunjungan gue ke Wat Arun di tahun 2015 dapat dibaca di: Ke Bangkok? Wajib ke Wat Pho dan Wat Arun! […]

  25. Baiklah, aku ketawa dibagian perumpamaan mba2 cabe yg datang pake baju renang wkwkwkwk

  26. Kalau kesana dr jam 3 keburu g ke3 tempat itu?trus yg pake kerudung boleh masuk g ya?soalnya ada bbrpa kuil yg g bolehin org pke kerudung.. malemnya enaknya kmna ya?

    1. Keburu tapi gak maksimal. Grand Palace itu gede banget. Malamnya ke Khaosan Road aja.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveller

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: