Dari Butterworth ke Kuala Lumpur: Sebuah Perjalanan dan Penyesalan

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 15

Malam pertama di Georgetown lalu, gue iseng melontarkan sebuah pesan berbunyi, “Selamat malam minggu dari Penang,” di salah satu grup WhatsApp gue.

“Nug, kamu lagi di Penang sekarang? Aku juga lagi di Penang,” jawab salah satu member secara tak terduga.

Kami lalu mengalihkan obrolan secara private message.

Rupanya, temen gue itu — koh Erlan — sedang menjalani masa kuliah S2-nya di sebuah kampus bernama MBTS (Malaysia Baptist Theological Seminary) mengambil program Holistic Child Development. Lokasi kampusnya ada di daerah Batu Ferringhi, pun tempat tinggalnya yaitu di Apartemen Sri Sayang. Dia lalu mengajak gue untuk meet up di Batu Ferringhi.

“I’ll treat you lah,” tambahnya, semakin membuat gue bersemangat untuk datang berkunjung. Hihihi.

Wow! Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Dalam satu kesempatan, bisa jalan-jalan dan ketemu temen sekaligus, ditraktir pula! Tapi, meski gue memang begitu bersemangat untuk mewujudkan rencana itu, gue hanya mengatakan, “Nanti kalau sempet aku kabari,” karena takut nggak bisa menepati janji. Mudah-mudahan sih, gue bisa menyelesaikan rangkaian city tour dan Kek Lok Si Temple pada sore hari, sekitar pukul 3 atau 4, sehingga masih sempat ke Batu Ferringhi sebelum bertolak ke Kuala Lumpur. Aska? Ah, kalau dia nggak mau ikut, tinggal aja gampang #eh

Batu Ferringhi Beach, Penang. Too bad I couldn’t make it. Source: seahorsewatersports.com

Namun kenyataannya, perjalanan menuju Kek Lok Si Temple lebih lama dari yang gue perkirakan. Perjalanan baliknya sih, agak mendingan, sedikit lebih cepat. Kami sampai di hostel lagi untuk mengambil ransel sekitar pukul 5 atau 6 sore. Gue lupa tepatnya, yang jelas sudah di luar batas rencana gue.

Gue dan Aska lalu menuju Weld Quay untuk menyeberang ke Butterworth. Yang penting dapet bus dulu, nanti kalau sempet gue bisa balik lagi ke pulau buat ke Batu Ferringhi, pikir gue saat itu.

Saat ferry sudah merapat ke pelabuhan Butterworth, kami mengarahkan langkah menuju stasiun kereta api. Meski memang saling berhubungan, tapi jaraknya lumayan jauh. Kami sampai dengan nafas terengah, masuk ke dalam Stesen Keretapi Tanah Melayu (KTM) Butterworth yang lengang. Tak ada tanda-tanda kehidupan di stasiun yang sedang menempati gedung sementara itu.

“Halo?” gue berseru memecah keheningan.

Gue lalu melihat sekelebat bayangan dari sebuah ruangan. Menghampiri jendela ruangan itu, gue memanggil seorang petugas pria yang sedang wira-wiri di dalam ruangan. Petugas itu mengatakan bahwa stasiun sedang tutup dan akan dibuka lagi pukul 20.15. Saat gue menanyakan tiket menuju Kuala Lumpur untuk malam itu, dia mengatakan bahwa tiket sudah habis sampai beberapa hari ke depan. Glek!

Wan Wan Emoticons 23

Kami pun menuju terminal untuk mendapatkan tiket bus. Sama seperti yang terjadi di Terminal Johor Bahru sebelumnya, gue harus mampir dari satu loket ke loket yang lain untuk mencari tiket menuju Kuala Lumpur dengan harga semurah mungkin. Kebanyakan mematok harga sekitar 40 RM. Makanya, gue seneng banget saat menemukan satu agen bus yang hanya meminta harga 34 RM. Busnya pun berangkat tengah malam, gue masih punya cukup waktu untuk kembali ke pulau dan berkunjung ke Batu Ferringhi. Sialnya, hanya tersisa satu kursi untuk malam itu. Faaakkk!!!

Menuju ke loket selanjutnya, gue menemukan satu agen dengan tarif 40 RM dan berangkat pukul 20.30. Gue bertanya pada Aska apakah dia mau mengambil bus itu. Dia mengangguk mau. Gagal deh rencana ke Batu Ferringhi malam ini 😦

Kami kemudian berjalan melalui kursi demi kursi untuk mencari dua spot kosong buat gue dan Aska. Namun sampai mendekati ujung ruang tunggu yang memanjang itu, gue nggak melihat adanya dua kursi kosong yang bersebelahan untuk tempat kami duduk. Gue menoleh ke belakang, namun ternyata Aska tidak ada. Rupanya dia sudah duduk manis di salah satu kursi yang tidak terlalu jauh dari loket. Ngobrol dulu bisa keleeeuuusss!

Karena masih ada waktu sekitar 2 jam lagi, gue memilih untuk menghabiskan waktu dengan buang air kecil di toilet dan makan di pujasera / medan selera. Toiletnya jorok dan bau pesing. Harus bayar 30 sen lagi. Sementara di pujasera, gue menyantap semangkuk Laksa dan segelas Teh Tarik Panas seharga total 5.2 RM. Ya ampun, gue sama sekali nggak ketemu nasi hari ini!

Laksa dan Teh Tarik

Laksa dan Teh Tarik

Gue baru kembali ke loket untuk mendapatkan nomor bus saat waktu sudah mendekati pukul 20.00. Aska tidak ada di tempat duduknya semula, namun dia muncul tak lama kemudian. “Kamu ke mana aja? Aku tadi nyariin kamu karena ada pengumuman busnya dimajuin jadi jam delapan,” cerocosnya. Gue hanya nyengir sambil mengatakan bahwa gue tadi makan di pujasera.

Nyatanya, bus tetap berangkat pukul 20.30 tepat. Bus bernama Pacific Express itu memiliki fasilitas standar yang biasa dimiliki bus-bus patas Negeri Jiran. Ber-AC, kursinya empuk, dengan bagian bawah yang difungsikan sebagai bagasi. Gue dan Aska sengaja meminta petugas agen untuk menempatkan kami di dua kursi terpisah karena kami sama-sama membutuhkan ruang untuk ransel kami. Gue sempat diminta pindah kursi oleh awak bus, sehingga seorang penumpang cewek yang baru masuk bisa duduk di kursi gue, bersebelah-sebelahan dengan sesama cewek. Namun karena gue ngotot pengen duduk di deket jendela, gue dipindahkan ke kursi single-seat di deretan kiri.

Pacific Express. Source: busonlineticket.com

Selama tujuh jam perjalanan di malam hari itu, gue hanya melepas pandang ke luar jendela dengan pikiran yang terus berkecamuk.

Memang pengalaman traveling gue belum banyak. Gue masih berputar-putar di Pulau Jawa, Singapura, dan Malaysia. Tapi, sampai sejauh ini, pengalaman di Penang adalah perjalanan yang paling tidak memuaskan! Gue gagal ke Bukit Bendera, gagal ke Lorong Burma dengan kuil-kuil Buddha khas Thailand atau Myanmar-nya, gagal menikmati kekayaan kuliner Penang di KOMTAR atau Gurney Drive, dan terakhir — gagal ke Batu Ferringhi untuk berjumpa dengan rekan sekaligus menikmati keindahan pantai paling tersohor di Penang itu.

Gue yakin, bukan kebetulan jika gue bisa ke Penang saat itu, juga bukan kebetulan kalau gue tiba-tiba iseng menyapa salah satu grup WhatsApp itu. Kamu percaya nggak bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini? Tuhan sudah merancang semuanya? Gue percaya. Sangat percaya. Mungkin saja akan ada obrolan-obrolan yang membangkitkan semangat, atau menumbuhkan pembelajaran, atau membagikan kesempatan, jika gue jadi bertemu dengan koh Erlan petang tadi.

Harusnya gue tegas dengan rencana itu, lalu mengutarakannya pada Aska, “Ka, aku mau ambil bus tengah malem aja. Aku mau ketemu temenku dulu.”

Gelap masih menyelimuti kota saat kami tiba di Puduraya Sentral, Kuala Lumpur, pada pagi-pagi buta. Kuala Lumpur masih terlelap. Kami harus menunggu LRT beroperasi — ngampar berjamaah bersama calon penumpang lainnya di depan terminal — hingga kami bisa melanjutkan perjalanan menuju hostel di kawasan Jalan Changkat, Bukit Bintang. Dalam penantian seperti itu, gue semakin yakin bahwa gue seharusnya menyempatkan diri untuk bertemu dengan koh Erlan lebih dulu.

Ah, penyesalan itu bahkan masih terasa sampai sekarang…

Iklan

21 thoughts on “Dari Butterworth ke Kuala Lumpur: Sebuah Perjalanan dan Penyesalan

  1. Hahahaha…aku penasaraaaan sama si Aksa itu. Kamu memang harus balik lagi ke Penang. Mungkin sendirian aja. Nikmati Penang dengan caramu sendiri. So far, Penang adalah satu-satunya destinasi wisata favoritku di Malaysia. Kepengen juga balik ke sana lagi. 😀

  2. Batu feringgih ga sekece fotomu koook 😦 jauh2 berdiri ngerapidpenang kesana, gataunya pantainya kurang kece. cuman keliatan bagus karena ada penginapan yg bagus aja disitu. ahh.. jadi nyesel waktu ke penang juga ga puter2, bahkan ga keliling georgetown yg kece! ahhh nyesel >< kalo mau trip lg kesana, barang kali bisa bareng, hahha. pecinta jalan kaki dan jelajah juga nih. Btw, jgn ditinggallah si Aska, mau gimana dia baru pertama kali ke LN. Kubaca-baca, kisahmu ini mungkin Aska ngerasa dicuekin kali ya jadinya awkward moment gituuu *sotoooy ayam* hehehe

    • Iya. Katanya emang biasa banget dibanding pantai2 di Indonesia. Aku mau ke sana saat itu juga karena ada undangan dari temen 😀

      Aku juga merasa dicuekkin loh. Coba, kamu sebagai sesama cewek, kira2 dia kenapa? Bener kah nggak gampang akrab sama orang seperti yg dikatakan?

  3. Mas bro,
    Dr Weld Quay ke Lebuh Chulia brp lama ya kira2 (jalan kaki atay naik bus). Saya rencana mau rental motor di sekitar situ.
    Trus ferry terakhir ke Butterworth jam brp? Karena saya lanjut ke KL pakai sleeper train jam 21.50

    Makasih udh sharing 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s