Pagi Pertama di Menara Kuala Lumpur (KL Tower)

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 16

Hostel tempat kami menginap berada di ujung Jalan Changkat, Bukit Bintang, beberapa ratus meter atau sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stesen Bukit Bintang. Dari stesen, tinggal belok kiri lalu ambil arah kanan saat menemukan sebuah persimpangan. Terus berjalan lurus melalui kawasan Bukit Bintang yang lengang namun berserak sampah pagi itu, kami menemukan Serenity Hostel berada tersembunyi di samping sebuah cafe.

Kesan pertama gue tentang Kuala Lumpur tidak begitu bagus. Ternyata kota ini nggak bersih-bersih amat, di bawah ekspektasi gue yang mengharapkan Kuala Lumpur juga sebersih negara tetangganya — Singapura. Sampah berserak di sepanjang jalan menuju hostel di kawasan Bukit Bintang, sisa-sisa pesta kuliner semalam suntuk yang lalai untuk dibersihkan.

Kembali ke cerita.

Hampir sama dengan hostel 98SG sebelumnya di Singapura, Serenity Hostel ini pun terletak di atas sebuah bangunan lain, tepatnya sebuah cafe. Kami masuk melalui sebuah lorong dan tangga, yang untungnya nggak sesuram dan seapak tangga menuju pintu masuk 98SG. Langkah kami terhenti di belokan tangga, terhalang oleh sebuah pintu gerbang yang terkunci. Kami menekan tombol bel, mengharapkan seseorang akan segera menyambut kami dengan penuh keramahan. Tak ada tanggapan. Baru saat kedua kalinya kami menekan tombol, seorang wanita dengan wajah khas Asia Tenggara datang tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.

Dengan suaranya yang melengking, dia menyampaikan bahwa waktu check-in belum tiba. Kami lalu menjelaskan bahwa kami ingin menitipkan tas lebih dulu dan akan kembali lagi nanti siang. Dia meminta kami menyerahkan kedua tas kami kepadanya untuk dia bawa seorang diri ke dalam hostel.

KL Tower from distance

KL Tower from distance

Gue lalu mengajak Aska mampir ke sebuah Seven Eleven yang berada di sebuah persimpangan sebelum hostel. Laper, pengen sarapan dengan menikmati secangkir kopi panas. Sebungkus roti dan secangkir kopi panas itu gue beli dengan harga 3.2 RM saja. Sementara gue menikmati sarapan di salah satu kursi yang mengelilingi meja, Aska menyibukkan diri dengan peta Kuala Lumpur dan buku catatannya di kursi lain yang berada tepat di samping pintu masuk.

Selesai sarapan, gue sejenak mengamati kesibukan kota yang mulai menggeliat. Karena waktu Kuala Lumpur lebih cepat satu jam daripada Waktu Indonesia Barat, maka ritme kegiatan sehari-hari di kota ini pun berbeda. Di Jakarta, jam kantor dimulai pukul 08.00, kesibukan kota sudah mulai terlihat sejak pukul 07.00 atau bahkan sebelumnya. Di Kuala Lumpur, pukul 07.00 pun masih terlalu pagi untuk beraktivitas, baru sekitar pukul 08.00 inilah kota ini tampak benar-benar hidup.

Seorang bapak duduk di samping gue, lalu menyibukkan diri dengan membaca koran lokal edisi pagi itu. Beberapa warga lokal yang melintas menyapanya dan berbincang-bincang sejenak. Sebagian mengenakan setelan rapi ala kantoran, sebagian lagi berpenampilan kasual. Mereka berjalan kaki melalui trotoar yang memadai, sementara kendaraan-kendaraan bermotor — sepeda motor, mobil pribadi, taksi — mulai bermunculan satu per satu dari berbagai arah.

Kami menghabiskan waktu agak terlalu lama di situ. Setelah sarapannya habis, Aska masih tampak berkonsentrasi penuh dengan peta yang dibentangkan di hadapan mukanya dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Gue yang sebenernya udah gatel pengen jalan, juga sungkan menginterupsi kesibukannya dan lebih memilih untuk menunggunya. Barulah saat udah nggak tahan mati gaya, gue bertanya, “Mau move on jalan kapan?” Dia berdiri beberapa menit kemudian siap untuk move on.

Tanpa berbasa-basi, Aska berjalan mantap menuju arah hostel kami dengan peta yang berada dalam genggaman tangannya. Great! Now she’s leading the way.

“Kita mau ke mana?” tanya gue.

“KE GUNUNG!”

“Ke KL Tower.”

“Oh, deket dari sini?”

“Lumayan.”

Selanjutnya, kami berjalan tanpa banyak berkata-kata. Berbelok ke kanan setelah Serenity Hostel, kami masuk ke Jalan Rajachulan. Sesekali kami berhenti — atau lebih tepatnya, Aska berhenti dan gue ikut-ikut berhenti — untuk mengambil foto KL Tower yang sudah tampak dari kejauhan. Berbelok ke kiri meninggalkan Jalan Rajachulan, kami terus berjalan hingga mencapai sebuah kawasan hutan kota bernama Bukit Nanas Reservoir Park. KL Tower berada di dalamnya.

Approaching KL Tower

Approaching KL Tower

Buat kamu yang ingin mencapainya dengan transportasi umum, cara terbaik adalah dengan menggunakan bus gratis GOKL Laluan Ungu (Purple Line). Rute selengkapnya akan gue bahas di post terpisah yang khusus membahas seluruh moda transportasi publik Kuala Lumpur. Bisa juga dengan monorel, turun di Bukit Bintang; atau LRT, turun di Bukit Nanas; tapi ya harus mau jalan kaki agak jauh sekitar 15 menit, atau 30 menit kalau sambil selfie di sepanjang jalan, atau sejam kalau mampir dulu di warung Padang.

Kami berjalan kaki melalui jalan menanjak yang berkelok di antara pepohonan yang rimbun sementara matahari bersinar lemah di atas langit Kuala Lumpur. Setelah melalui sebuah tangga, kami pun tiba di halaman parkir KL Tower. Dari sini, gue bisa melihat Bukit Nanas Reservoir Park dari ketinggian, dengan beberapa gedung tinggi yang menjadi latar belakangnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KL Tower belum dibuka saat itu, karena baru beroperasi pukul 09.30. Selain kami berdua, ada pula sebuah rombongan keluarga dan seorang pemuda backpacker bule. Dari hasil blogwalking, gue mendapatkan informasi bahwa tiket untuk bisa masuk ke observatory deck KL Tower adalah sebesar 47 RM. Namun setelah tiba di lapangan saat itu, rupanya tiket sudah naik beberapa ringgit hingga mencapai lebih dari 50 RM. Paket-paket lainnya, yang dikombo dengan beberapa wahana di KL Tower, bahkan bisa mencapai angka Rp 200.000,00 atau Rp 300.000,00.

Gue langsung memutuskan untuk membatalkan itinerari naik ke KL Tower, hahaha. Lagipula dari luar juga udah bisa menikmati panorama Kuala Lumpur kok. Maklum, KL Tower terletak di atas sebuah bukit, sehingga menara komunikasi tertinggi di Malaysia ini (yang ke-2 ada di Alor Setar) tampak lebih tinggi dari Petronas Twin Tower.  Buat kamu yang sekedar backpacker riang gembira kayak gue, ya nggak disarankan naik ke menara ini karena mahalnya bikin uang saku menyusut dalam sekejap. Tapi buat kamu fotografer yang rela membayar berapapun untuk mendapatkan panorama Kuala Lumpur dari ketinggian secara utuh, maka tempat ini adalah sebuah destinasi yang layak.

Akhirnya gue dan Aska pun cuma mondar-mandir ke sana kemari untuk mengambil foto, mengeksplor apa yang bisa dieksplor dengan gratis. Selain sebuah taman kecil, ada sebuah rumah makan bergaya tradisional bernama One Malaysia yang berada di depan pintu masuk. Ada pula sebuah pohon super tua bernama Pohon Jelutong (Jelutong Tree) yang masih berdiri gagah di samping menara. Gue juga bisa mengelilingi lantai dasar menara ini dan menikmati pemandangan yang disajikan.

Gue dan Aska sibuk sendiri-sendiri. Saat gue udah merasa cukup foto-foto, Aska tidak ada di tempat terakhir gue melihatnya di depan pintu masuk. Gue pun mencari-cari dia di taman, di One Malaysia, mengelilingi balkon, namun gue nggak melihat dia. Gue menghambur ke tempat parkir, lalu turun ke jalan, berjalan kembali ke pintu masuk Bukit Nanas Reservoir Park, namun gue tetap nggak menemukannya. Aaargh! Kenapa sih dia nggak bisa stay di tempat yang sama? Atau menunggu di tempat yang mudah terlihat?

Karena kecapekan, gue memutuskan untuk duduk beristirahat di sebuah bangku di depan pos satpam. Dua orang wanita petugas kebersihan sedang melaksanakan rutinitas paginya. Dari pembicaraan mereka berdua, gue tahu kalau keduanya adalah orang Jawa, atau seenggaknya orang Indonesia. Gue lalu menukarkan lembaran 2 RM yang gue punya kepada dua petugas itu (sebelumnya gue lebih dulu minta tolong sama si satpam, tapi dia nggak ada receh). Lembaran 1 RM lalu gue masukkan ke dalam vending machine yang berada tepat di samping bangku untuk membeli sebotol minuman dingin. Syukurlah masih bisa digunakan.

Gue lantas berjalan kembali menuju KL Tower, melalui para petugas Bukit Nanas yang sedang membersihkan jalan dan halaman parkir. Sampai di pintu masuk KL Tower, petugas yang tadi memberitahu jam operasional menara memberitahu gue bahwa menara sudah mulai beroperasi. Gue mengatakan bahwa gue ingin mencari temen gue dulu. Lalu, entah mata gue yang emang tadi nggak jeli atau emang Aska yang gesit berpindah-pindah, gue menemukannya sedang duduk dengan tenang di sebuah bangku taman, menghadapi buku catatan dan peta Kuala Lumpur-nya.

The balcony

The balcony

Tak perlu gue ceritakan di sini tentang bagaimana kami berdua mencapai puncak ketegangan hubungan kami pagi itu (akan diceritakan di tulisan terpisah, hihi). Yang jelas, hubungan kami bertambah canggung dan dingin sejak pagi itu. Kami lalu berjalan menuju Petronas Twin Tower dalam diam, seperti dua orang yang tak saling kenal dan berjalan sendiri-sendiri. Kesan pertama yang buruk tadi pagi sedikit melemah pagi ini, saat gue berjalan melalui trotoar jalanan kota Kuala Lumpur yang nyaman dan teduh.

14 thoughts on “Pagi Pertama di Menara Kuala Lumpur (KL Tower)

  1. Baru pertama kali ke KL kemarin semingguan aja di sana, jalan kaki sampek gempor kaki tapi seneng banget puas nikmatin suasana KL, cuma ini KL tower yang blm gue kunjungin, sempet pengen k KL tower saat di pasar seni dan dataran merdeka karena terlihat itu pucuk menara dari kejauhan. Yah apes moga next time keturutan bisa ke situ.
    Btw, postingan kamu keren juga bro. Cocok buat jadi pemantapan sebelum ke medan perang wkwkwkwkwk

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s