6 Tempat di Kuala Lumpur yang Mungkin Kamu Belum Tahu

Berkendara membelah jalanan Kuala Lumpur, Malaysia

Berkendara membelah jalanan Kuala Lumpur, Malaysia

Selain Singapura, Kuala Lumpur di Malaysia menjadi salah satu destinasi liburan murah kaum pejalan atau backpacker dari Indonesia. Bermodal tiket pulang pergi yang hanya berkisar satu juta rupiah, kamu udah bisa menjejakkan diri di ibukota Negeri Jiran ini. Bahkan, karena posisinya sebagai transit hub di Asia Tenggara, tiket-tiket murah ke negara-negara yang lebih jauh — Myanmar, India, Jepang, Tiongkok, dsb — juga lepas landas dari Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur.

Ini artinya, kamu yang emang udah mengunjungi Kuala Lumpur pun bakal balik lagi ke kota ini. Entah sekadar transit beberapa jam, sampai bermalam menunggu penerbangan lanjutan. Menara Kembar Petronas, checked. Dataran Merdeka, checked. Bukit Bintang, checked juga. Terus mau ngapain lagi? Mau ke mana lagi?

Untungnya, ada 6 tempat yang baru-baru ini gue temukan di Kuala Lumpur yang mungkin bisa jadi tempat alternatif buat kamu yang mau (atau harus) meluangkan waktu lagi di sini.

 

Pasar Karat, Sultan Street

Pasar Karat ini ada di sebuah anak jalan Sultan Street, kawasan pecinan. Entah pasar ini buka setiap hari atau enggak, tapi waktu itu gue menjumpai pasar ini pas hari Minggu kuturut ayah ke kota. Barang yang dijual? Seperti namanya lah, barang-barang karatan. Maksudnya barang-barang bekas. Mirip sama Pasar Tegalega, Bandung, dalam versi yang lebih kecil dan lebih rapi.

Memasuki Pasar Karat, Kuala Lumpur

Memasuki Pasar Karat, Kuala Lumpur

Suasana Pasar Karat, Kuala Lumpur

Suasana Pasar Karat, Kuala Lumpur

Di sini, kamu bisa beli macam-macam barang bekas seperti barang elektronik, gadget, perkakas rumah tangga, pacar bekas, dan macam-macam. Sekali lagi, gue ingatkan budaya jual beli barang di Malaysia: nggak usah nanya-nanya harga, apalagi pegang-pegang, kalau nggak berminat beli. Nanti pakcik makcik itu marah-marah, Upin sudah lelah..

How to get there: LRT, turun di Stesen Pasar Seni, jalan kaki ke arah Petaling Street lalu belok kiri memasuki Sultan Street.

 

Taman Botani Perdana Kuala Lumpur

Sama seperti Singapura, KL juga punya taman botani (botanical garden) yang dapat dikunjungi secara gratis. Gue mengunjungi taman ini bareng Haniza, member Couchsurfing Kuala Lumpur yang berbaik hati mengantar kami ke sini dengan mobilnya. Taman Botani yang berisi pohon-pohonan rimbun ini menjadi salah satu hutan kota yang menyuplai udara bersih dan segar untuk Kuala Lumpur. Kamu bisa memasuki sub-sub taman di dalamnya yang ditata dengan tema yang berbeda-beda.

Cieee, kokoh sama akak jalan berdua

Cieee, kokoh sama akak jalan berdua

Taman Botani Perdana, Kuala Lumpur

Taman Botani Perdana, Kuala Lumpur

Haniza sempat mengajak kami masuk ke sebuah taman yang, dari papan namanya, menawarkan rusa dan kancil. Sayang saat kami masuk ke dalam, nggak ada rusa atau kancil yang kami temui. Mungkin karena nggak ada tanaman mentimun kali.

Baca Juga: Singapore Botanic Garden

Ada sebuah danau buatan dengan angsa dan ikan-ikan koi, dikelilingi oleh area duduk dan rumput-rumputan yang digunakan warga maupun turis untuk bersantai. Berlatarkan gedung-gedung tinggi Kuala Lumpur, pemandangan di danau ini memberi sebuah kombinasi kontras antara alam dan peradaban.

Neng, abangnya sendirian tuh. Temenin gih!

Neng, abangnya sendirian tuh. Temenin gih!

The locals have their own way to enjoy the Botanic Gardens

The locals have their own way to enjoy the Botanic Gardens

When nature and skyscrapers meet

When nature and skyscrapers meet

Salah satu titik berkumpul di Taman Botani Perdana

Salah satu titik berkumpul di Taman Botani Perdana

Banyak warga dan wisatawan yang menggunakan Taman Botani buat jalan-jalan sore, jogging, latihan trik sulap, sampai praktek kelas fotografi. Pokoknya, di sini gue melihat keseharian random warga lokal Kuala Lumpur. Seru!

How to get there: LRT, turun di Stesen Pasar Seni, atau dengan KTM Komuter di Stasiun Kuala Lumpur, lalu jalan kaki menuju arah Masjid Negara. Taman Botani Perdana ada di dekat masjid. Jarak dari stasiun memang agak jauh, jadi siapkan energimu.

 

Hidden Foodcourt di Sungei Wang Plaza

Sungei Wang Plaza ini ada di kawasan Bukit Bintang yang hits dengan kuliner malam dan gemerlap dunia malam. Tapi kalau kamu kebetulan lagi ada di Bukit Bintang saat siang hari dan bingung cari tempat makan, nah, ada foodcourt tersembunyi di Sungei Wang Plaza!

Nasi goreng dan babi-babian :D

Nasi goreng dan babi-babian 😀

The hidden foodcourt. Pretty damn cheap!

The hidden foodcourt. Pretty damn cheap!

Gue sebut sebagai hidden foodcourt karena nggak banyak traveler yang tahu tempat ini, jarang banget! Lokasinya ada di lantai paling atas. Tempat ini direkomendasikan oleh Kodon karena makanannya yang melimpah dan harganya yang murah! Maklum, medan selera ini biasa didatangi karyawan kantor sekitar saat jam istirahat atau jam pulang kerja.

Kami memilih sebuah vendor yang menggelar beragam menu makanan seperti warteg prasmanan. Ada banyak vendor di sini yang menggunakan sistem itu. Tersedia dua macam nasi, nasi putih dan nasi goreng. Lauknya ada daging-dagingan (apalagi daging babi, hihihi), sayur mayur, dan yang lainnya. Dengan beberapa macam lauk yang gue pilih, harga yang harus dibayar cuma sekitar 10 MYR aja!

How to get there: Naik monorel, turun di Stesen Bukit Bintang, keluar dan berbelok ke kiri. Buat yang muslim, pastikan lebih dulu kehalalan makanan kalian.

 

Nongkrong Like a Local di Bangsar

Kalau Jakarta punya Kemang, Bandung punya Jl. Riau, Kuala Lumpur punya Bangsar. Di sinilah anak-anak muda lokal KL nongkrong gahul nan kekinian. Café dan resto berderet di sepanjang jalan-jalan di area Bangsar yang tak terlalu lebar. Dipadati mobil-mobil masa kini yang terparkir rapi memakan badan jalan.

Suasana Jalan Bangsar di sore hari

Suasana Jalan Bangsar di sore hari

Sempat bingung mau makan di mana, Haniza akhirnya mengajak kami ke sebuah café bernama Plan B. Coba tebak, berapa kisaran harga satu menu minuman di café Kuala Lumpur? Yah, sekitar 20-an MYR gitu deh. Silakan diestimasi sendiri berapa total duit yang kamu butuhkan buat bisa puas nongkrong makan minum di sini. Mungkin bisa 50-an MYR kali.

Nope. That's not a bottle beer! Just water :|

Nope. That’s not a bottle beer! Just water 😐

Happy drinking!

Happy drinking!

Nggak kuat? Ya udah, makan kwetiaw 4 MYR aja di Chow Kit.

How to get there: Jujur gue nggak tahu, hahaha. Haniza membawa kami ke sana dengan mobil, dan gue nggak lihat ada stasiun LRT atau monorel. Kayaknya sih Bangsar ini ada di kawasan elit pusat kota yang biasa dikunjungi warganya dengan mobil.

 

Chow Kit

Nggak usah galau sampai nangis kalau kamu kangen bakso di Kuala Lumpur, ke Chow Kit aja! Nggak cuma bakso deh. Macam-macam gorengan, kerupuk, pecel lele, buah-buahan, sampai Masako dan Ajinomoto juga ada di sini. You got it right, Chow Kit adalah Little Indonesia-nya KL, tempat yang menjadi konsentrasi imigran dari Indonesia. Jadi, biasa aja deh kalau ketemu simbok-simbok jilbaban yang habis belanja sambil ngedumel pakai bahasa Jawa medhok.

Kyaaaaaa, ada Masako!!!

Kyaaaaaa, ada Masako!!!

Di sini nih simbok-simbok KL belanja tempe sama cowek

Di sini nih simbok-simbok KL belanja tempe sama cowek

Kwetiaw murah 4 MYR

Kwetiaw murah 4 MYR

Lalu di sini bisa ngapain aja? Ya belanja sehari-hari, hunting tempe, beli kaos kaki 3 pasang 5 MYR, atau makan murah di bawah 7 MYR.

How to get there: naik monorel, turun di stesen Chow Kit, tinggal turun dan menyeberang jalan.

 

Kampung Bharu

Namanya sih Kampung Bharu, tapi isinya adalah rumah-rumah kayu tradisional Melayu (stilt house) berdiri di atas tanah. Kampung Bharu adalah tempat di mana rumah-rumah adat Melayu bertahan di tengah terpaan kemajuan zaman.

Warung jamu di Kampung Bharu, Kuala Lumpur

Warung jamu di Kampung Bharu, Kuala Lumpur

Kamu bisa ke sini dengan berjalan kaki dari Chow Kit atau Menara Kembar Petronas. Kalau bisa sih jangan pas siang hari yang terik. Minim pohon peneduh, berjalan kaki dari Chow Kit ke Kampung Bharu di bawah sinar matahari adalah kegiatan yang menguras keringat!

Sebaiknya kamu bawa topi atau jaket kalau mau jalan kaki dari Chow Kit ke Kampung Bharu ini (atau sebaliknya). Buat gue, jaket dan 2 macam alas kaki (sendal dan sepatu) adalah barang yang harus dibawa saat liburan, nggak peduli meskipun negara yang gue kunjungi adalah sama-sama negara tropis.

Sebuah rumah kayu tradisional Melayu di Kampung Bharu

Sebuah rumah kayu tradisional Melayu di Kampung Bharu

The old and new

The old and new

How to get there: naik LRT, turun di Stesen Kampung Bharu, keluar dan berbelok ke kiri.

 

Saat di Kampung Bharu, kami iseng memasuki sebuah Sekolah Rendah Agama di Jalan Raja Muda Musa. Gue tertarik melihat keseharian anak-anak SD yang baru saja bubaran sekolah, jajan dan hilir mudik di sekitar sekolah seperti anak-anak SD di Indonesia.

Hey, photographer!” seru seorang anak laki-laki yang melihat gue datang berkalungkan kamera DSLR.

“Abang dari mana?” salah satu dari anak-anak itu dengan percaya diri datang menghampiri, melontarkan satu pertanyaan lugu yang tebersit di dalam benaknya.

Gue tersenyum, dan menjawab, “Indonesia. Kenal?”

Anak itu menggeleng malas dan ngeloyor, lalu lenyap di antara anak-anak lainnya.

“Kenal laaahhh,” celetuk seorang anak lain yang tanpa diduga mendengar percakapan kami. Gue menoleh ke arahnya, berdiri sekitar dua meter sambil berkemas mau pulang ke rumah.

“Kenal? Di mana?” gue mengujinya.

“Luaaarrr Malaysia!” dia memberikan jawaban mantap, kemudian pergi. Batin gue, mungkin anak itu adalah salah satu siswa cerdas di kelasnya. Minimal untuk pelajaran Geografi.

Similar with Indonesian students, lol

Similar with Indonesian students, lol

Taking a pose with students of Sekolah Rendah Agama Raja Muda Musa

Taking a pose with students of Sekolah Rendah Agama Raja Muda Musa

Nggak mau menyia-nyiakan ini, gue dan Kodon bergantian berfoto bersama siswa-siswa itu. Tanpa perlu diajak, beberapa dari mereka datang mendekat dengan percaya diri, tersenyum ke arah kamera, memberikan salah satu potret perjalanan yang berkesan.

 

Kota yang sama boleh saja kau kunjungi berkali-kali. Yang penting dalam setiap lawatanmu, selalu ada titik baru, sudut-sudut baru, jalan-jalan yang selama ini tak kau tahu, yang akhirnya ada dalam buku pengalamanmu. Sebuah kota bukanlah sekadar sebuah landmark. Di balik dinding-dinding betonnya, di bawah gedung-gedung tingginya, ada warga dan budaya, ada sajian rasa dan seni griya.

Haniza, gue, dan koh Donny

Haniza, gue, dan koh Donny

Jadi, kapan mau ke Kuala Lumpur lagi? 😀

Kebetulan, gue siap ngadain trip ke Kuala Lumpur pada hari Sabtu-Minggu dengan budget cuma Rp 1.8 juta aja! Informasi detilnya silakan buka page Open Trip yang ada di daftar menu di atas, atau klik DI SINI.

 

Share dong mana yang jadi favoritmu dari tempat-tempat di atas 🙂

Iklan

39 thoughts on “6 Tempat di Kuala Lumpur yang Mungkin Kamu Belum Tahu

  1. Hye, sy iskandar. Org malaysia Tinggal di kuala lumpur. Punya restoran di kl. Byk tempat2 menarik di kl terutamanya tempat makan yg enak2 dari yg murah, sederhana dan yg ekslusive. Jika datang ke kl hubungi sy, nnti sy boleh bawa jalan2

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s