Pesona Pantai Teluk Penyu dan Pantai Karang Bolong, Cilacap

Senja di Teluk Penyu

Senja di Teluk Penyu

Cilacap? Jalan-jalan? Emang ada apa di sana?

Ya, nama Cilacap mungkin memang belum populer sebagai kota wisata atau destinasi jalan-jalan. Kalah telak dibandingkan Yogyakarta, Solo, bahkan Semarang. Belum juga dapat menandingi ketenaran tetangganya, Pangandaran, yang sudah tersohor dengan pantai dan atraksi Green Canyon.

Tapi bukan berarti Cilacap nggak punya potensi. Kota dan kabupaten ini punya beberapa atraksi wisata yang akhirnya memikat gue untuk mengunjunginya pada bulan Januari lalu. Selamat, Cilacap! Kau menjadi tempat pertama dalam daftar perjalanan gue di tahun 2016 ini.

Kalau kamu? Kapan memikatku ke pelaminan? #ehgimana

 

Perjalanan Menuju Cilacap, Jawa Tengah

Kereta ekonomi Serayu menjadi moda transportasi yang kami pilih untuk mencapai Cilacap dari titik keberangkatan kami di Bandung, Jawa Barat. Gue dan Kodon berangkat dari Stasiun Kiara Condong lepas tengah hari, tepat pada tanggal 1 Januari 2016. Sempat bingung apakah akan turun di Stasiun Kroya atau Maos, namun dengan dibantu oleh beberapa penumpang baik hati, kami memutuskan untuk turun di Stasiun Maos.

Mukanya sedih amat, koh

Mukanya sedih amat, koh

Tidak ada kereta api yang langsung membawa kami sampai Stasiun Cilacap. Jadi kalau kamu berangkat dari Bandung atau Jakarta, opsinya adalah Maos atau Kroya.

Perjalanan sekitar lima jam itu berakhir di Stasiun Maos saat petang menjelang. Selama beberapa menit, kami menunggu di tepi jalan raya di depan stasiun, berharap masih ada bus umum yang lewat. Lama tak ada hasil, kami akhirnya memasrahkan diri pada sepasang tukang ojek untuk mengantarkan kami sampai kota Cilacap. Ongkos seharga Rp 40.000,00 / orang pun disepakati. Setelah sampai, rupanya harga segitu lumrah banget, termasuk murah dengan jarak yang sama di Jakarta atau Bandung. Daripada menggeh-menggeh jalan kaki dari stasiun ke kota ๐Ÿ˜

 

Makan Malam di Alun-Alun Cilacap

Usai check-in dan mandi-mandi manja di Hotel Dafam Cilacap, tempat kami bermalam saat itu, kami berjalan kaki menuju Alun-Alun Cilacap untuk makan malam dan menikmati kota. Lokasi hotel yang ada di pusat kota rupanya berdekatan dengan alun-alun, nggak sampai 2 kilometer, sehingga bisa kami jangkau dengan berjalan kaki.

Alun-Alun Cilacap yang tak terlalu besar itu dipadati oleh warga lokal dan banyak penjaja makanan. Alun-alun ini lebih mirip lapangan olaraga di deket rumah gue di Jogja dengan luas sekedarnya, di mana penjaja makanan mengambil alih sebagian besar lahannya. Saat kuliah, gue punya beberapa teman sekelas yang berasal dari Cilacap. Mereka suka berkelakar, saking kecilnya alun-alun ini (dan menjadi satu-satunya tempat hiburan di Cilacap), selingkuh pun bakal ketahuan. Lol.

Kami memilih sebuah warung di ujung lapangan, di samping arena mobil-mobilan, karena kayaknya cuma warung itu yang menyediakan makanan berat. Menikmati sepiring nasi uduk khas Cilacap yang lezat lengkap dengan mendoan, sambil mengamati keseharian warga lokal. Harganya murah meriah! Adek senang, abang pun tenang.

 

Pantai Teluk Penyu, Cilacap

Selamat datang di Teluk Penyu!

Selamat datang di Teluk Penyu!

Esok harinya, setelah check-out dari hotel (kami akan menginap di hotel berbeda malam ini), kami berangkat menuju Pantai Teluk Penyu. Dilihat dari Maps, jarak antara hotel dengan Pantai Teluk Penyu juga masih deket, jadi kami kembali memilih jalan kaki. Sayangnya saat itu kami berangkat agak kesiangan, gara-gara keenakan tidur dan keasyikan foto-foto di kolam renang. Matahari bersinar terik sampai make-up gue yang ala kadarnya luntur tanpa pertobatan.

Tiket masuk Pantai Teluk Penyu Cilacap cuma Rp 5.000,00. Jangan terlalu berharap dengan namanya. Meski dinamakan Teluk Penyu, tapi nggak ada penyu sama sekali di pantai ini.

Oh, tentu. Kami juga foto-foto di sini!

Oh, tentu. Kami juga foto-foto di sini!

Suasana Pantai Teluk Penyu di siang yang terik

Suasana Pantai Teluk Penyu di siang yang terik

Pantainya sendiri sebenarnya agak biasa-biasa aja karena hanya memiliki pasir hitam, agak kotor pun. Namun, saat kaki melangkah lebih dekat menghampiri laut, melalui deretan perahu nelayan warna-warni yang tertambat tenang, mata ini sontak antusias melihat laut berwarna hijau toska yang bergulung-gulung gahar di bawah cakrawala biru.

Kami lalu naik menapaki jembatan beton yang menjulur hingga beberapa meter di atas lautan lepas. Desain jembatan dengan lubang-lubang kotak di sisi tengahnya membuat kami harus tetap berjalan dengan hati-hati, jangan sampai salah melangkah dan akhirnya jatuh terjungkal ke lautan. Aku nggak bisa berenang, mas!

Jembatan beton yang tak mampu menautkan dua hati yang terpisah

Jembatan beton yang tak mampu menautkan dua hati yang terpisah

Tiba di ujung jembatan, kami lalu menyibukkan diri dengan selfie berbagai pose, berlatarkan lautan hijau toska yang terbentang bebas sejauh mata memandang. Spot ini juga cocok buat bunuh diri sekadar duduk-duduk menikmati hembusan angin laut dan pemandangan segara yang mempesona. Mau foto ala Jack dan Rose ala film Titanic? Boleh juga.

 

Pantai Karang Bolong, Nusakambangan

Puas dengan Pantai Teluk Penyu, kami lalu menghampiri salah satu perahu nelayan untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan. Ongkosnya murah, cuma Rp 30.000,00 per orang pulang โ€“ pergi. Lama perjalanannya sendiri memang hanya sebentar, tapi sudah cukup memuaskan rindu gue akan lautan.

I'm coming, Nusakambangan!

I’m coming, Nusakambangan!

Gue sendiri juga jarang menyeberang pulau. Aktivitas penyeberangan terakhir gue bisa jadi adalah penyeberangan menuju Pulau Bali saat studi wisata zaman SMA. Jadi, dalam penyeberangan singkat menuju Pulau Nusakambangan itu, gue kembali meresapi bahwa gue tinggal di sebuah negeri bahari, di mana segara dan samudera memisahkan satu nusa dengan nusa lainnya.

Saat itu, hanya kami berdua dan sang juru kemudi yang ada di atas perahu motor, sehingga kami bisa leluasa berfoto dan norak-norakkan setelah lama tak berjumpa dengan lautan.

Merapat ke Pulau Nusakambangan, kami lalu berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti arah kerumunan. Medannya memang agak menanjak dan masih alami dengan jalan bebatuan dan pepohonan di kanan kiri, namun masih sangat aman buat wisata keluarga. Anak-anak, mamah-mamah muda, sampai ani-ani piaraan om-om juga bisa berjalan dengan aman. Di dalam pulau, kami dua kali diminta retribusi untuk memasuki pantai, jadi kami kasih aja sesuai kemampuan kami.

Meriam peninggalan zaman kolonial

Meriam peninggalan zaman kolonial

Sebuah tugu peringatan, yang sayangnya gue lupa apa bunyinya :(

Sebuah tugu peringatan, yang sayangnya gue lupa apa bunyinya ๐Ÿ˜ฆ

Kami berjalan melalui gua yang diselimuti akar-akar pohon. Melewati bangunan tua terbengkalai yang sekarat berbalut kusam. Menemui bekas benteng pertahanan tua yang menyisakan meriam kuno di tengah dedaunan hutan. Akhirnya, Pantai Karangbolong menyambut kami dari balik bebatuan karst.

Pantai Karangbolong lebih cantik dan menarik daripada Pantai Teluk Penyu. Pantainya bertabur pasir putih, dikelilingi dengan kungkungan bebatuan karst yang memikat. Ada banyak spot menggoda buat berfoto, bisa bermain-main air, bisa mengubur diri di pasir, atau main perang bantal di tepi pantai. Eh, perang bantal?

Pantai Karang Bolong, Nusakambangan

Pantai Karang Bolong, Nusakambangan

Beberapa pengunjung yang mengusir sepi di pantai

Beberapa pengunjung yang mengusir sepi di pantai

Tapi pantai di sini masih kekurangan penjaja makanan dan minuman, hanya ada dua orang penjual kalau nggak salah. Itupun hanya menyediakan makanan ringan ala kadarnya macam indomie rebus. Jadi, lebih baik siapkan bekal makanan dan minuman, juga alas untuk duduk-duduk di tepi pantai karena nggak ada penyedia jasa payung atau tikar pantai.

Kami hampir ketinggalan perahu terakhir yang rupanya hanya beroperasi sampai sekitar waktu Maghrib. Kami harus naik perahu dari operator yang sama dan tempat pengantaran yang sama. Memang ada perahu juga yang menuju Teluk Penyu dari Karangbolong, tapi nggak bisa kami naiki, kecuali mau transit dulu (yang berarti harus bayar lagi).

Untungnya saat kami berangkat tadi siang, kami diberikan nama dan nomor kontak operator perahu, sehingga dapat kami telfon petang itu untuk memastikan bahwa kami akan terangkut balik. Jadi kami kemudian berjalan dengan terburu-buru menuju tempat penjemputan, melalui jalanan hutan yang mulai dihadang gelap dan mengeluarkan suara-suara misterius. Nggak lucu โ€˜kan kalau ada blogger muda ganteng berbakat tewas diterkam macan puma di Pulau Nusakambangan.

Disambut senja di Teluk Penyu

Disambut senja di Teluk Penyu

Syukurlah, kami bisa kembali ke Teluk Penyu Cilacap tepat saat matahari berangsur kembali ke peraduan. Panorama senja yang indah ini menjadi hadiah indah yang menyambut kami setelah berhasil bertualang singkat di Pulau Nusakambangan.

 

Selain tiga destinasi di atas, masih ada Benteng Pendem yang berada di samping Pantai Teluk Penyu Cilacap. Dapat kamu kunjungi sekaligus dalam lawatan ke Teluk Penyu dan Nusakambangan. Ada pula Kampung Nelayan yang menarik bagi pecinta budaya dan sosial. Sayangnya esok paginya kami bangun kesiangan lagi sehingga tidak memungkinkan untuk ke Kampung Laut, mengingat perjalanannya sendiri yang dapat memakan waktu 1.5-2 jam. Psst, bisa juga sekalian mampir ke Green Canyon di provinsi sebelah!

Baca Juga: Green Canyon, Lebih Dari Sebuah Keindahan

Selfie dulu buat kenang-kenangan

Selfie dulu buat kenang-kenangan

Gimana, Cilacap menarik juga, โ€˜kan? Bisa jadi weekend getaway selanjutnya buat kamu yang berdomisili di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bisa wisata alam ke Pantai Karangbolong, wisata sejarah di Benteng Pendem, sampai wisata kuliner di alun-alun. Kutunggu datangmu di Cilacap…

43 thoughts on “Pesona Pantai Teluk Penyu dan Pantai Karang Bolong, Cilacap

  1. Kabarnya selat yang memisahkan antara pulau Nusakambangan dan pantai Cilacap itu ganas ya Gie? Gak tertarik nyobain? *padahal udah dikasih tau gak bisa renang*

    Btw aku penasaran, emang Nusakambangan itu bisa dikunjungi dan perahu-perahu boleh merapat kesitu ya? Gak takut ada tahanan lepas trus balik ke Jawa naik perahu apa ya? #seriusnanya

    • No thanks, bang. Bukan traveler pencari maut ๐Ÿ˜

      Pulau Nusa Kambangan yang dibuka untuk umum itu yang bagian barat, sementara lapas ada di bagian timur. Apa terbalik ya? Ya pokoknya di sisi yang berbeda begitu hehe.
      Nah, di bagian Nusa Kambangan yang ada lapas itu tidak dibuka untuk umum. Cuma area Karang Bolong aja yang boleh.

  2. santai aja gan, meskipun belum populer, ini tempat bakalan top juga lama lama. lestarika trus bnyk yg posting ke instagram ini juga salah satu bisa cepet populer ๐Ÿ™‚

  3. Aih nggak mampir ke akun CS aku nih. Aku orang asli Cilacap, agak nomaden sih kadang2 tinggal di Purwokerto. Harga2 di postingan ini harga wisatawan luar banget yah hihihi… kalau kapan2 main ke cilacap lagi atau ke purwokerto feel free to contact me ;)fyi di purwokerto banyak curug2 yang bagus2 deh

  4. wih keren ya pantai teluk penyu, seru nih buat destinasi kereta2an
    btw kalian cuma pergi bedua aja ama kokohnya? so sweet #gagalfokus

  5. Terakhir kali ke teluk penyu Cilacap sekitar tahun 2013 yang lalu. Saat itu hanya mampir ke pantai teluk penyu plus pasar ikannya, ada juga sih yang nyeberang ke pantai karangbolong dan pantai pasir putih namun karena saya takut naik kapal yang saat itu ombaknya begitu besar jadi ya terpaksa cuma main-main di teluk penyu walau penuh sampah, kotor dan pasirnya hitam hehehehe.

  6. terakhir main ke Cilacap adalah…. jaman kelas 6 SD dulu, yasalam lama banget yak! pasti dah banyak perubahan.

    dulu, pantai teluk penyu masih belum dikelola dengan baik, banyak sampah dimana-mana (dan ternyata sekarang juga masih kjotor), kios-kios penjual souvenir masih berupa bedeng-bedeng beratap seng, banyak yang jual penyu diawetkan, tirai dari rangkaian kerang, dll

  7. Sekedar menambahkan, di Nusakambangan masih banyak pantai lain kaya pantai Kalipat, pantai Kali Kencana sama pantai Ranca Babakan.
    Lokasinya masih di Nusakambangan Timur, kalo buat ke pantai2 itu trekkingnya lebih lama lagi sekitar 1-2 jam jalan kaki nyusurin hutan.
    Capek sih, tapi worth it deh ๐Ÿ‘Œ

    Salam kenal dari wong ngapak Cilacap ๐Ÿ˜Š

  8. Btw nih Mas,kalau dari Jakarta ada loh kereta yang benar-benar menuju Stasiun Cilacap, the one and only, KA Purwojaya kelas Eksekutif, berangkat sekitar jam 10 malam dari Gambir. Kalau dari Cilacap ke Gambir pukul 14.30. Jadi bagi para penghuni ibukota yang demen wisata kereta sekalian pengen ke Cilacap, bisa dicoba naik kereta ini :3

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s