Ayo Traveling dengan Kereta Api

“Naik kereta api, tut tut tuuuuttt, siapa hendak turut?”

Siapa masih ingat dengan lagu Kereta Api di atas? Hehe. Triwulan ini mungkin menjadi momen di mana gue memiliki frekuensi naik kereta api paling tinggi seumur hidup gue. Hanya dalam waktu 3 bulan, gue udah menunggangi si ular besi ini sebanyak 7 kali — atau 8 kali saat hari Minggu nanti tiba. Entah karena udah bosen naik bus atau muak dengan ketidakpastian waktunya (atau juga keduanya, #pffft), gue berpindah hati kepada kereta api sebagai moda transportasi yang terpercaya. Maklum, selama 5 tahun merantau di Bandung, gue memang hampir selalu pulang kampung dengan bus patas karena kondisi kampus yang dlewati jalur bus tersebut dan sangat jauh dari stasiun. Cuma sekali gue pulang kampung naik kereta. Kalau main ke Jakarta pun, gue lebih memilih travel atau bus.

Selain dapat lebih dipercaya untuk urusan ketepatan waktu, naik kereta api juga lebih nyaman dan murah. Sekarang kereta api ekonomi pun sudah dilengkapi dengan AC, udah cukup nyaman buat gue. Pun udah nggak ada lagi tuh yang namanya berdiri atau ngampar nggembel di dalam kereta. Gue pernah mengalami itu sekali dan asli penderitaan banget! #fak. Terakhir kali gue menggunakan bus patas, perjalanan berjalan agak tersendat karena macet, sempat mogok di tengah jalan, dan bensin yang habis! Ampun deejaaaaaayyy!

Wan Wan Emoticons 14

Yang agak gue sayangkan malah hilangnya pedagang-pedagang asongan yang dulu membuat kehidupan stasiun dan kehidupan perut penumpang lebih semarak. Gue sih sama sekali nggak ada masalah dengan mereka. Mereka justru menjadi penolong bagi yang kami yang lapar dan haus karena tidak sempat atau kelupaan membeli makan, namun tak punya cukup uang untuk membeli makanan di dalam kereta #malahcurhat. “Ropimen, ropimen, rokok kopi permen,” begitu seruan khas mereka yang membahana di seantero gerbong, hilir mudik melangkahi badan-badan yang bergelimpangan di lantai kereta.

Tahun lalu, mereka masih diperbolehkan berjualan di dalam stasiun meski dilarang masuk ke dalam gerbong. Nah, sekarang udah bener-bener nggak boleh sama sekali. Gue baru menyadari kenyataan itu setelah semalam membaca spanduk bertuliskan larangan berjualan di dalam stasiun bagi pedagang asongan. Ada yang punya kenalan atau bahkan keluarga yang dulunya bekerja sebagai pedagang asongan di dalam stasiun? Gimana kabar mereka? Apakah dapet kerjaan baru?

Untuk kepulangan gue ke kampung halaman (baca: Yogyakarta) kali ini, pun gue menggunakan jasa moda transportasi ini. Jauh lebih murah daripada dengan bus, hanya Rp 50.000,00. Sayang sih kedatangan kereta Bengawan gue di Stasiun Cirebon Prujakan ini terlambat lebih dari 15 menit. Tapi nggak apa-apa, gue jadi punya waktu buat ngobrol sama temen sesama MT yang secara tak sengaja ketemu di kereta. Meskipun agak nyesek juga sih, karena kalau tau gini, mending tadi ngangkot aja dan nggak usah ngojek. Lebih hemat sepuluh kali! #pffft

Princess Yvonne Emoticons 11

Teknologi juga membuat pemesanan tiket menjadi lebih efektif dan efisien, nggak usah capek-capek dan ngantri lama-lama di stasiun. Buat kamu yang belum terbiasa, ingat ya, pemesanan tiket kereta api dapat dilakukan secara online maupun di beberapa minimarket (seperti Indomaret, Alfamart, dan Seven Eleven). Cetak tiketnya juga nggak harus di loket karena bisa cetak sendiri di Mesin Cetak Mandiri. Pemesanan secara online bahkan memungkinkan kita untuk berpindah tempat duduk. Kali aja kayak gue, sukanya duduk di barisan A atau C yang deket dengan jendela. Selain di http://tiket.kereta-api.com, pemesanan secara online juga dapat dilakukan di tiketkai, paditrain, dsb. Mudah banget deh!

The train and the clean blue sky

The train and the clean blue sky

Kereta penuh saat itu, seolah semua orang tak ingin melewatkan momen long weekend ini. Gue duduk di antara sekumpulan anak muda ibukota yang juga berangkat menuju Yogyakarta untuk jalan-jalan. Saat menit-menit awal perjalanan, alam menyuguhkan panorama Gunung Ciremai yang tetap tampak gagah meski sedikit berselimut awan. Beberapa menit kemudian, kami dimanjakan dengan panorama Gunung Slamet yang elok saat semburat keperakan matahari sore mulai terpoles samar di langit Jawa. Sayang gue nggak punya kamera yang cukup canggih untuk mengabadikan momen indah itu dari dalam kereta yang tetap melaju kencang.

Beberapa saat kemudian, gue udah bener-bener kesel dengan diri gue sendiri. Semburat kemerahan berpendar malu-malu di balik kumpulan awan gelap dan pegunungan yang tampak gelap, lalu bergradasi dengan warna birunya langit, menjadi latar apik dari siluet pepohonan. Sungguh sebuah senja yang indah, namun sayang gue hanya dapat mengaguminya dalam diam dan mengabadikannya dalam memori, tanpa bisa menyimpannya dalam sebuah kamera.

Pukul 10 malam, kereta Bengawan sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Ah, gue udah kangen banget dengan kota kelahiran ini. Gue berjalan berdesak-desakan bersama ratusan penumpang yang lain menuju pintu keluar.

“This is home. Now I’m finally where I belong, where I belong. Yeah, this is home. I’ve been searching for a place of my own. Now I’ve found it, maybe this is home. Yeah this is home…” – taken from “This is Home” by Switchfoot.

Iklan

18 thoughts on “Ayo Traveling dengan Kereta Api

  1. Saya juga suka naik kereta, karena jarak dari rumah ke stasiun lumayan deket, hahahaha. Kalau soal kursi A atau C itu kita nggak bisa mengandalkan tiket doang. Kadang udah mesen deket jendela tapi ternyata udah “dijajah” duluan sama penghuni B atau D. Haduh…

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s