Bangkok – Siem Reap: Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

Typical Thai SRT train

Typical Thai SRT train

Biasanya, perjalanan darat dari Bangkok, Thailand, menuju Siem Reap, Kamboja, dilakukan dengan bus patas yang nyaman dan berpendingin udara. Dari blogwalking sebelumnya, banyak traveler dan blogger yang memilih jalan itu. Tinggal datang ke terminal, duduk manis, lalu tiba di Siem Reap dengan sejahtera sehat sentosa. Tapi, karena aku lebih suka naik kereta api, aku mengabaikan kenyamanan bus patas seperti itu dan memilih terjebak di dalam enam jam perjalanan darat tanpa AC, bersama ratusan warga lokal lainnya.

Naik kereta api itu romantis.. Gemuruh mesinnya bergema hingga ke ujung negeri, melintasi desa-desa kecil dan petak-petak lahan hijau yang tertata alami.

Dengan kereta api, perjalanan Bangkok – Siem Reap juga menjadi jauh lebih murah. Harga kereta api dari Bangkok menuju Aranyaprathet, kota perbatasan Thailand sekaligus perhentian terakhir kereta, hanya 48 THB. Bahkan dengan ditambah ongkos taksi dari Poipet menuju Siem Reap pun, tetap jauh lebih murah dibanding dengan ongkos bus patas Bangkok – Siem Reap yang mencapai 700-an THB.

*terungkap sudah alasan sebenarnya memilih kereta api*

 

SUPERTRIP 2 Eps. 8: Bangkok – Siem Reap, Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

 

Hujan yang mengguyur Bangkok pagi buta membuat kami enggan bangkit dari atas kasur di dalam kamar apartemen Paul yang nyaman. Lagipula, kami tak membawa payung atau jas hujan, juga malas berbasah-basah ria didera hujan deras. Jadi kami memutuskan untuk terus melanjutkan tidur sampai hujan reda beberapa jam kemudian. #TeamTakutBecek

Waiting at the station

Waiting at the station

Dari apartemen Paul di kawasan Mochit, kami memulai perjalanan dengan sebuah minibus menuju stasiun BTS Mochit seharga 20 THB. Entahlah, tak ada jalur bus yang langsung mengantarkan kami menuju stasiun BTS, padahal kami sudah menaiki jalur-jalur bus yang ditunjukkan. Minibus-nya sendiri sangat nyaman, seperti naik mobil pribadi, tapi digunakan untuk umum. Pintunya juga menggunakan pintu geser. Bagai angkot versi mewah!

Dari stasiun BTS Mochit, aku dan Dicky melanjutkan perjalanan dengan BTS menuju stasiun Phaya Thai. Ini karena, seingatku dari apa yang kubaca di internet, kereta menuju Aranyaprathet dapat dinaiki dari sini, jadi tak perlu sampai jauh-jauh ke Hua Lamphong. Namun, saat kami tiba di tempat tujuan, kami hanya menemukan sebuah stasiun yang terlalu kecil dan terlalu sederhana untuk disebut stasiun. Seperti sebuah halte dengan beberapa baris kursi tunggu, terletak menyedihkan di tengah bantaran rel yang sedikit kumuh, bahkan tanpa petugas atau loket. Lalu bagaimana kami tahu bahwa kami akan menaiki kereta yang benar?

Stasiun yang kami cari ini adalah stasiun kereta api regular ya. Jangan dibingungkan dengan stasiun BTS Phaya Thai dan stasiun Airport Rail Link – Phaya Thai.

Lalu, setelah beberapa kali bolak-balik bertanya kepada petugas di loket stasiun BTS yang fasih berbahasa Inggris dan mirip aktor Chantavit Dhanasevi, aku dan Dicky akhirnya memutuskan untuk naik kereta dari stasiun Hua Lamphong saja. Demi masa depan yang cerah dan jelas, Nak. Maka, kami naik BTS lagi sampai stasiun Sala Daeng, lalu disambung dengan MRT hingga Hua Lamphong. Duh, jatuhnya malah jadi lebih mahal begini. Andai tadi langsung ambil MRT dari Mochit sampai Hua Lamphong.

Tired of waiting? Just play the game!

Tired of waiting? Just play the game!

Sebelum jadwal kereta ke Aranyaprathet pukul 13:05, kami yang tiba sekitar pukul 11:00 masih memiliki banyak waktu untuk makan siang dan duduk-duduk sampai bosan. Sang kuda besi pun tiba. Aku dan Dicky beranjak masuk ke dalam gerbong secara acak, lalu kembali duduk berhadapan seperti yang kami lakukan kemarin dalam perjalanan menuju Ayutthaya. Kereta mulai berderak pelan, lalu akhirnya menderum gahar melindas jalurnya yang menjulur panjang hingga ke ujung negeri.

Dari jadwal yang tertera pada lembar tiket, kami seharusnya tiba di Aranyaprathet pukul 17:35. Aku sedikit heran. Untuk sebuah perjalanan kereta api sejauh ini, selama lebih dari empat jam (bila tepat waktu), pihak State Railway of Thailand (SRT) tidak menyediakan pilihan kereta api berpendingin ruangan. Kami tak ada pilihan. Hanya kereta inilah, yang tidak memiliki AC dan kursi yang empuk, yang dapat kami naiki.

Train passengers and the Buddha image

Train passengers and the Buddha image

Di sini, rasa bangga membuncah di dalam hati akan sistem perkeretaapian di Indonesia. Setidaknya, untuk aspek transportasi kereta api antar kota, kita sudah lebih unggul dari Thailand. Bahkan untuk rute Jakarta – Bandung yang hanya terpaut 3 jam perjalanan saja, sudah tersedia kereta api yang nyaman dengan AC dan colokan listrik.

Memangnya seperti apa sih rasanya menaiki kereta api di Thailand? Nah, agar imajinasimu semakin nyata dan matang, berikut aku lampirkan cuplikan video perjalanan kami saat itu, langsung dari hape saya sendiri!

Tak lama setelah meninggalkan kota Bangkok yang padat, kereta sempat berhenti, sebelum akhirnya berjalan mundur kembali sejauh beberapa meter. Penasaran, aku beranjak dari kursi dan berkerumun di jendela bersama para penumpang lainnya, melongok ke arah belakang. Ada apaan sih?

Keretanya baru saja menabrak sapi.

Errr, excuse me, come again?

Keretanya baru saja menabrak sapi. Sa-pi. S-AP-I. Iya, sapi, binatang dengan warna tubuh kecokelatan dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya.

Hayooo, kerbau siapa ini?

Hayooo, sapi siapa ini?

Entah siapa pemiliknya, namun sapi-sapi itu dibiarkan merumput begitu saja di area rel kereta api yang subur dan hijau dengan rerumputan. Sialnya, ada seekor sapi yang tertabrak dan sehingga staf kereta harus memindahkan tubuh besarnya yang menghalangi lintasan. OMG. Yah, selingan perjalanan yang cukup membuat hiburan..

Sepertinya, perjalanan kereta api dari Bangkok menuju Aranyaprathet tidak melalui kota besar apapun. Kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil, melalui pemukiman penduduk yang sederhana, yang lazim dilihat di kota-kota kecil di Indonesia. Perjalanan kami bahkan lebih banyak diisi dengan lahan hijau yang terhampar luas berlatarkan gugusan pegunungan. Melalui kawasan rawa-rawa tempat burung-burung bangau beterbangan dan hinggap di salah satu titik, tempat di mana rumah-rumah panggung berdiri kokoh di salah satu sudutnya.

A typical Thai small town along the railway

A typical Thai small town along the railway

Green and blue along the journey..

Green and blue along the journey..

Sementara Dicky pasrah terkulai di sandaran kursinya yang kaku, gagal mengalahkan rasa kantuk yang menyerbu, aku justru kembali hidup dengan mata yang memicing di balik viewfinder kameraku. Memang bukan fotografer professional, namun aku ingin menangkap momen perjalanan ini dengan sebaik mungkin. Saat burung-burung itu beterbangan, atau saat seorang pak tua tengah mengayuh perahu kecilnya di atas rawa. Utak-atik bukaan, kecepatan, dan ISO untuk mendapatkan gambar yang jelas bermodalkan kemampuan “coba-coba”. Aku tersenyum puas saat beberapa bidikanku berhasil menangkap momen itu seperti yang aku inginkan.

Can you spot the bird?

Can you spot the bird?

Scenic view along the journey!

Scenic view along the journey!

Ah, aku bersyukur aku memilih perjalanan kereta api ini. Meski harus bersabar dengan udara panas yang terperangkap di dalam gerbong, tubuh yang lengket dengan baju yang basah karena keringat, namun pemandangan yang tersaji di balik jendela kusam kereta seolah membayar itu semua. Kalau aku naik bus patas, belum tentu aku mendapatkan pemandangan indah serupa. Apalagi, kaca jendela bus tak bisa dibuka, susah untuk mengambil foto bagus selama perjalanan 😀

 

Waktu sudah lama beranjak dari pukul 17:35. Mentari pun mulai meninggalkan sinarnya untuk bumi Thailand, menyisakan berkas-berkas cahaya keemasan yang tergores di ujung cakrawala. Namun kereta belum menunjukkan tanda-tanda memasuki Aranyaprathet, entah berada di mana kami saat itu. Aku berusaha menenangkan diri dengan terus sibuk mengambil momen matahari terbenam dari ujung negeri ini, saat semburat emas itu berpadu dengan gradasi biru layu, menjadi latar syahdu bagi siluet pohon-pohon yang bergoyang malu-malu.

Capturing the sunset

Capturing the sunset

Kami akhirnya terperangkap oleh malam, dan satu per satu penumpang lenyap di dalam gelap. Beberapa kali kereta berhenti begitu saja di titik antah berantah. Tanpa peron, tanpa naungan atap, hanya sehampar tanah kosong di tengah kebun lebat dan beberapa penumpang turun menembus cahaya temaram.

Aku mulai was-was. Berkali-kali aku memeriksa setiap perhentian, dan selama kereta berjalan, aku tak dapat melepaskan pandanganku dari jendela. Aku memastikan bahwa kami tidak kebablasan (bila memang itu bisa terjadi), berusaha mencari tahu di mana kami berada dengan mengamati tanda-tanda jalan apapun yang tampak dari lintasan. Masih jauhkah perjalanan ini? Bagaimana bila saat kami tiba di Aranyaprathet, kantor imigrasi sudah tutup dan kami harus menginap satu malam? Tapi tak ada lagi uang, apa kami bermalam saja di rumah warga lokal? Tapi memang ada yang mau kami tumpangi?

Di penghujung senja, di tempat antah berantah

Di penghujung senja, di tempat antah berantah

Sementara pikiran panik itu berkecamuk di dalam benakku, Dicky masih tertidur di atas kursinya, sesekali terbangun dengan mata sayu sebelum terpejam kembali.

Tapi syukurlah kami tidak kebablasan, karena memang Aranyaprathet adalah stasiun perhentian terakhir di Thailand. Begitu turun, kami langsung disambut dengan sopir tuktuk yang menawarkan jasa pengantaran sampai ke border dengan harga 100 THB. Aku tawar sampai harga 80 THB, dan dia mau. Jarak dari Stasiun Aranyaprathet menuju border memang masih jauh, lebih dari 7 km, jadi tuktuk ini sangat pantas dihargai.

Taking a tuktuk to the border

Taking a tuktuk to the border

Saat tuktuk menurunkan kami sebelum border, seorang sopir taksi sudah buru-buru mendatangi kami untuk menawarkan jasanya menuju Siem Reap, Kamboja. Beberapa penjaja jasa visa tipu-tipu (scam) juga berbaris menjelang border, namun langsung bungkam setelah tahu kami dari Indonesia. Sopir taksi itu terus mengajak kami berbincang-bincang sambil berjalan menuju border, yang aku tanggapi seperlunya dengan agak ogah-ogahan.

Lepas dari perbatasan Thailand, kami memasuki perbatasan Kamboja dengan kantor imigrasinya yang sangat bersahaja. Hanya seonggok kubus besar seperti sebuah bangunan sementara, tempat kami mengisi form dan mendapatkan stempel. Sama sekali tak ada masalah di imigrasi Thailand – Kamboja ini. Hanya saja, sang sopir taksi masih bersikukuh di luar border, menunggu kami untuk menaiki taksinya.

This is how Poipet border looks like. Casinos and lux hotels!!!

This is how Poipet border looks like. Casinos and lux hotels!!!

Aku mengatakan padanya bahwa kami akan naik bus pemerintah (10 USD) saja, karena bus seharusnya masih tersedia, merujuk pada jadwal beroperasi yang tertera pada papan. Namun dia berkata bahwa bus sudah tak lagi beroperasi, biasa sudah berhenti beberapa puluh menit sebelum jadwal resminya. Tak percaya, aku memastikan pada seorang pedagang oleh-oleh, dan dia mengiyakan informasi dari pak sopir taksi.

Sopir taksi itu mengatakan akan ada satu orang lagi yang akan naik di depan. Aku tawar dengan 12 USD, namun dia teguh tak mau, kecuali kami berhasil mendapatkan satu rang lagi. Alhasil, kami sepakat dengan ongkos 15 USD per orang. Agak mahal memang, tapi hari sudah malam dan aku ingin segera tiba di Siem Reap untuk beristirahat. Aku dan Dicky akhirnya masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam polos yang akan difungsikan sebagai taksi yang mengantarkan kami menuju Siem Reap.

Namun, sampai di Siem Reap, nggak ada tuh orang ketiga yang dijanjikan itu. Ya sudahlah…

 

Baca Juga:

Perjalanan Darat Kuala Lumpur – Singapura dengan Keretapi Tanah Melayu

Ayo Traveling dengan Kereta Api

Iklan

60 thoughts on “Bangkok – Siem Reap: Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

  1. Perjalanan dengan keretamu ke Aranyapathet ini seperti menyingkap sisi lain Thailand dengan begitu apiknya, Mas. Semacam sisi asli, sebagaimana yang kelihatan di Indonesia kalau naik kereta api juga (pemandangan luarnya ya, kalau keretanya mah saya sudah bersyukur banget). Well, kemarin saya juga sempat kucluk-kucluk ke Siem Reap… cuma ya berhubung langsung ke sana jadi ketinggalan eksplorasi kehidupan seperti ini. Rel sapi, tuk-tuk tengah malam, semua itu tak bisa terganti.
    Ngomong-ngomong, kenapa penjaja scam itu urung niat saat tahu kalian dari Indonesia?

  2. Kebayaaaang banget…. mungkin ga beda jauh ya dengan naik kereta kelas3 bkk-ayutthaya. Itu juga bisa liat sisi lainnya bangkok yang menyedihkan, sawah dan pedesaan dan jualan2 yang dijaja di dalam kereta.
    Semua pengalaman itu memang meresap yaa… great post Nug..!

  3. hy min mau tanya nich itu kantor imigrasinya masi buka sampai malam ya?
    dan dari setelah stampt di sekitar imigrasi cambodia ada hotel tidak ya?? makasih.

  4. mas imigrasi thailand – kamboja, buka sampai jam berapa ya kalo malam?
    saya rencana juga naik kereta yang jam 13.05 itu ke aran.
    Terima kasih

  5. dolanmu adoh2 e mas. teladan bener.
    itu sapi yg berhasil dipindahin mas? atau sapi yg tertabrak sudah mati?

    ternyata kamu jago nawar ya mas, g cuma di pasar di indonesia. di sana pun kamu tawar menawar. ahhaa. boleh lah kita sesekali jalan bareng ke Bangkok. kayanya kalau ngajak kmu bisa lebih hemat

    • Hahaha. Dolan ke mana pun uang sanggup membawaku, bro 😀

      Itu sapi yang lain. Jadi sapinya ada beberapa. Yang tertabrak nggak kelihatan karena pas banget di belakang kereta.
      Ahaha, jago nawar berkat pas kecil sering jalan sama simbok 😀

  6. hai mas, mau nanya, jam 13.05 dr bangkok msh nyandak ya ke border? border poipet itu tutup jam berapa ya? satu lagi ni mas, bus yg dr poipet ke siem reap berhenti beroperasi jam brp ya? thankyou..

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s