#UltimateTravelmate: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

Two is better than one

Two is better than one

Solo traveling? Memang ada keasyikan tersendiri sih. Bebas pergi ke mana pun semau kaki melangkah, selama hati dan tubuh betah, melakukan apapun yang membuat sumringah. Tapi, berdua tetap lebih baik. Berdua, kita memiliki rekan di dalam perjalanan yang selalu siaga membantu kita menentukan arah, menyelesaikan masalah, atau mengatasi keterbatasan rupiah.

Tiga kali melakukan Supertrip, ketiganya selalu aku lakukan berpasangan. Oktober 2015 lalu, aku dan Dicky berjalan menjelajah Bangkok, Siem Reap, dan Ho Chi Minh City. Tapi, bukan Dicky sih yang akan kuceritakan di sini. Maaf, Dick, tapi aku tak mendapat kenangan yang terlalu mendalam bersamamu.

*jreeeenggg* *zoom in zoom out*

Izinkan aku bercerita tentang tiga orang baik hati yang sudah menjadi pahlawan dalam perjalanan terakhirku. Berkat mereka, lembar-lembar rupiah di dalam dompet terselamatkan, dan lebih dari pada itu — lembar-lembar kenangan dan pengalaman tergores kuat dalam bilik hati dan memori.

 

Paul Naruebedhbordin – Bangkok, Thailand

Aku nyaris pesimis dalam memperoleh host lokal di Bangkok, Thailand, yang mau menerima tumpanganku melalui jejaring Couchsurfing untuk tanggal 5-7 Oktober 2015. Belasan, bahkan mungkin 20-an host lokal sudah menolak permintaanku.

Then I found Paul.

Dalam laman profilnya, Paul bercerita bahwa dia pernah ditolong secara luar biasa oleh keluarga petani di Jawa Timur yang memberinya tumpangan secara cuma-cuma saat dia sudah kehabisan hotel dalam kunjungannya ke Gunung Bromo. Hm, sepertinya ada harapan. Maka aku pun kembali optimis, mengirimkan pesan dan permintaan menginap di tempatnya. Kabar baik, permintaanku diterima. Yes! Aku berhasil mendapat host warga lokal di Bangkok.

Simple breakfast from nearby Family Mart

Simple breakfast from nearby Family Mart

Pertemuan kami berdua pun, kalau tak berlebihan, aku katakan sebagai sebuah mukjizat dan tuntunan Tuhan.

Selama di Bangkok, aku sudah membekali diri dengan sim card lokal yang sudah kubawa dari keberangkatan di Indonesia. Melalui aplikasi Line, aku berkomunikasi dengan Paul. Dia meminta kami untuk naik BTS sampai stasiun Mochit, lalu dilanjutkan dengan bus sampai Hotel Ma Ruay. Kami patuh pada instruksinya. Oh ya, kami berhasil menemukan hotel ini juga berkat pertolongan seorang penumpang bus, mas-mas kantoran yang baru saja pulang kerja.

Sialnya, tepat saat sudah tiba di sekitar Hotel Ma Ruay, kuota internetku sudah habis! Pantas dari tadi tak ada respon dari Paul.

Waktu itu, aku dan Dicky ada di sebuah jalan kecil di kawasan kost-kostan mahasiswa kampus lokal. Aku lalu buru-buru kembali ke jalan raya untuk mencari 7/11, atau minimarket apapun yang melayani pengisian pulsa. Ketemu! Aku menyodorkan kartuku kepada sang pramuniaga. Dengan sedikit komunikasi verbal, pengisian pulsa pun sukses terlaksana.

Selama menginap di tempat Paul, aku beberapa kali membeli makan dari Family Mart

Selama menginap di tempat Paul, aku beberapa kali membeli makan dari Family Mart

Aku baru saja sampai di tempat semula, belum sempat memberikan konfirmasi kepada Paul, namun tiba-tiba seorang pemuda berkacamata datang menghampiri kami dengan sepeda.

“Nugi?”

Aku mengiyakan dengan sedikit terkejut. Entah bagaimana caranya, Paul tiba-tiba saja dapat menemukan kami berdua. Aku belum memberikan konfirmasi, namun dia berinisiatif untuk langsung saja datang ke tempat pertemuan. Dan, dari engahan nafas dan bulir-bulir keringat yang menyembul dari pori-porinya, dia sepertinya berusaha keras untuk segera sampai di tempat dengan cepat.

Dari tempat bertemu, kami masih harus berjalan selama beberapa ratus meter menuju tempat tinggal Paul. Dia tinggal di sebuah apartemen kecil di dalam sebuah perkampungan. Kamarnya luas, bersih, dan rapi, dilengkapi dengan shower dan air panas. Karena kami berkunjung saat hari kerja, Paul tidak dapat menemani kami berjalan-jalan, jadi kami hanya bertemu di pagi dan malam hari.

Paul and I

Paul and I

Namun, Paul did the best for us. Dia mengisi malam-malamku dengan obrolan ringan penuh cerita, membantuku setiap kali hendak membeli makan di Family Mart dekat apartemennya, memberikan panduan transportasi menuju Stasiun Hua Lamphong saat pagi-pagi buta. Dari ketiga host ini, Paul adalah host yang paling tulus dan paling berdedikasi.

Terima kasih untuk tumpangannya, Paul. Semoga apa yang sudah kau berikan dengan tulus, akan dikembalikan berkali lipat oleh Sang Pencipta.

 

Phearun Diep – Siem Reap, Kamboja

Lain Paul, lain lagi dengan Phearun. Pertemuan kami diwarnai dengan drama dan adu mulut larut malam. Kok bisa?

Phearun sendiri rupanya mendadak menolak permintaanku beberapa hari sebelum kedatangan. Di dalam pesannya itu, dia mengatakan bahwa dia akan bepergian jauh untuk menyegarkan diri. Tapi karena aku sudah berada di dalam rangkaian perjalanan ini, aku sama sekali tidak mengetahui pesannya itu. Sesampainya di Siem Reap, aku meminta bantuan pada sopir tuk-tuk untuk meneleponnya. Phearun terkejut, namun karena sudah larut malam dan dia merasa kasihan, akhirnya dia tetap menerima kedatanganku.

Sopir tuk-tuk ini adalah sopir yang sudah bekerjasama dengan sopir taksi yang mengantarkanku dari Poipet ke Siem Reap. Dia akan mengantarkanku berkeliling Angkor esok hari. Namun, sesampainya di tempat Phearun, pemuda itu berkata dengan nada tinggi kepadaku, “Friend, you’re going with me right?

Taking a tuk-tuk to Phearun's

Taking a tuk-tuk to Phearun’s

Jujur, aku sama sekali tak merasa mendapat obrolan seputar itinerari dari Phearun, apalagi menyadari bahwa dia sudah menyediakan jasa sewa tuk-tuk dan sepeda untukku. Iya, dia memang menyebutkan di dalam profil bahwa dia dapat membantu tamunya untuk urusan reservasi tuk-tuk atau bus (dan hal lainnya juga), namun tak ada konfirmasi khusus untukku.

Phearun lantas berdebat dengan sopir tuk-tuk dalam bahasa Kamboja yang tak ku mengerti. Sopir tuk-tuk itu marah karena aku sudah sepakat dengannya. Akhirnya dia berkata, bila besok aku lebih memilih Phearun, dia harus membayar 6 USD sebagai imbalan telah mengantarkanku malam itu. Phearun naik pitam, ongkos yang diminta terlalu mahal, hingga akhirnya dia pun merelakanku pergi bersama sopir tuk-tuk itu esok hari.

(catatan: pada akhirnya, sopir tuk-tuk itu bata datang karena satu urusan dan aku akhirnya pergi bersama tuk-tuk sepupu Phearun.)

Come on, my friend!” ajaknya kepadaku untuk memasuki rumahnya.

Phearun and I

Phearun and I

With Wataru Saito, a Japanese traveler who also stayed at Phearun's

With Wataru Saito, a Japanese traveler who also stayed at Phearun’s

Malam pertama di Siem Reap terasa sedikit canggung setelah apa yang baru saja kami alami, namun aku berusaha untuk tetap tenang dan easy-going. Kebekuan perlahan mencair saat Phearun mengajakku dan Dicky untuk makan tengah malam di sebuah warung nasi goreng di dekat rumahnya.

Phearun sangat membantuku dalam berkeliling menjelajah Siem Reap. Tanpanya, aku tak akan tahu apa makanan khas Kamboja. Tanpanya, aku tak akan tahu ada Killing Field dan Pasar Malam Lokal di Siem Reap. Aku juga menikmati setiap obrolan dengannya yang asyik membahas perkembangan negara-negara Asia Tenggara, khususnya dengan Thailand, Laos, dan Vietnam — 3 negara tetangga yang kadang saling bermasalah, terutama dalam perebutan candi dan wilayah. Terima kasih, Phearun..

 

Nguyen van Vuong – Ho Chi Minh City, Vietnam

Jujur, motivasi terbesar kedua dalam menggunakan jejaring Couchsurfing — setelah membangun jaringan dan menjalin pertemanan dengan sesama pejalan dari negara lain — adalah: untuk meminimalisir pengeluaran. Siapa sih yang nggak suka nginep gratis? Namun, untuk kunjunganku di Ho Chi Minh City ini, sepertinya tujuanku menggunakan Couchsurfing tak sepenuhnya tercapai.

Bus Mekong Express yang membawaku dari Siem Reap dan menembus perbatasan Kamboja – Vietnam tiba larut malam di Pham Ngu Lao Street yang riuh. Aku segera menghampiri seorang sopir taksi untuk menghubungi host yang sudah mengiyakan permintaanku di Couchsurfing, namun telepon tak kunjung diangkat. SMS-pun tak dibalas. Ke mana host-ku ini?

Tak ada kepastian, sang sopir taksi meninggalkanku dalam gundah. Aku memutuskan untuk membeli sim card lokal seharga 100.000 VND, ini jelas di luar budget. Usai bersantap, aku mengaktifkan sim card lokal yang sudah kubeli, lalu menghubungi setiap host yang tadinya sudah mengiyakan permintaanku (namun kutolak karena sudah menerima konfirmasi dari host ini, Mr. Quoc)

Then King replied my message.

King (front-most guy) and his students

King (front-most guy) and his students

Pemuda bernama asli Nguyen van Vuong itu mengiyakan permintaanku untuk menginap dua malam. Aku bersegera menghambur keluar dari kedai makan, menghentikan sebuah taksi untuk membawaku dan Dicky ke rumah King. Aku meneleponnya, lalu King memintaku untuk memberikan telepon pada pak sopir agar dia bisa memberi petunjuk arah dan alamat.

Taksi melaju tenang meninggalkan hingar bingar Pham Ngu Lao Street. Berkendara melalui jalanan Ho Chi Minh City yang tak terlalu lebar, diapit café-café tempat anak muda nongkrong sambil menyesap kopi, melalui bangunan-bangunan kolonial Perancis yang berdiri manis.

“Sir, is it far?” tanyaku kepada pak sopir.

Dia menjawab dengan paduan bahasa lokal dan bahasa tubuh, menunjukkan angka Sembilan dengan jemarinya. Apa maksudnya? Sembilan menit? Sembilan kilometer? Entahlah, dia tak menjawab. Aku dan Dicky hanya cekikikan sendiri di kursi belakang.

Taksi masih terus berjalan meninggalkan kawasan pusat kota Ho Chi Minh City, memasuki jalanan lebar dengan beberapa ruas jalur, dikungkung dengan blok-blok apartemen khas kawasan pinggiran. Aku menatap laju argo yang bergulir cepat dengan gugup. Setidaknya ada tiga tabel yang menunjukkan angka berbeda, tak yakin mana yang ongkos perjalanan.

“Ini sih udah kayak mau ke Tangerang!” sembur Dicky, lalu kami kembali cekikikan.

Akhirnya, taksi berbelok memasuki sebuah jalan dua lajur, meninggalkan jalanan besar. Sopir sempat dua kali menghentikan taksi untuk bertanya alamat kepada warga lokal, sempat memutar arah. Di belakang kemudi, dia memeriksa Google Maps dan berkendara dengan ragu-ragu. Dia kembali meminta telepon genggamku untuk menghubungi King.

Sir, do you know exactly where we are going to? Batinku dalam hati.

Puji Tuhan, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. King keluar dan melambaikan tangan di tepi jalan. Sopir taksi menagih ongkos sebesar 345.000 VND, atau sekitar Rp 172.500,00. Wait, whaaaattt?! I don’t have that much money! Sialnya, dia juga tidak menerima pembayaran dalam USD. Peka dengan kondisi kami, King menawarkan untuk menggunakan uang pribadinya lebih dulu. Oke, ini memang sangat memalukan, meminjam uang dari host yang baru saja ditemui, but I don’t have much choice. Thank you so much, King! You are my California King! #eh #malahnyanyi

King's students

King’s students

King tinggal di sebuah rumah yang dia gunakan sekaligus untuk menggelar tempat kursus. Ya, dia mengajar bahasa Inggris kepada mahasiswa-mahasiswa junior di kampusnya. Rumahnya tipikal rumah-rumah di Vietnam: ramping ke atas, tak mengambil banyak lahan.

Esok paginya, King mengajakku sarapan dan makan malam di dekat rumahnya. Dia tidak menemaniku dan Dicky jalan-jalan berkeliling kota, namun mendelegasikan ‘tugas’ ini kepada beberapa mahasiswa dan teman-temannya. Malam setelah aku dan Dicky tiba dari jalan-jalan, dia tetiba mengajak kami berdua bergabung dengan kelasnya. Aku sempat terkejut dengan tawaran itu, sempat cengengesan malu-malu, namun akhirnya aku iyakan.

Aku perlahan masuk ke dalam kelas dengan keringat yang masih lekat dan penampilan-habis-jalan-seharian yang tak layak dibanggakan. Kami lalu berkenalan dengan para mahasiswa yang dibalas dengan perkenalan balik dari mereka. Kami tenggelam dalam obrolan ringan seputar kehidupan sehari-hari dan perbandingan dua negara. Tentang anak muda, tentang dunia kampus, tentang sepak bola, dan cewek-cewek seksi. Usai kelas, kami kembali bersama dalam sebuah acara nyemil malam sederhana di sebuah warung rumahan. Obrolan pun berlanjut, semakin malam kami semakin dalam terhanyut.

Taking a wefie in front of HCMC City Hall (Dicky - Ramon -

Taking a wefie in front of HCMC City Hall
(Dicky – Ramon – Thuy – Tu – Anh – me)

Terima kasih untuk tumpangannya dua malam ini, King. Meski ongkos taksimu sebenarnya lebih mahal dengan tarif menginap semalam di hostel Pham Ngu Lao Street, namun terbayar dengan teman-teman baru yang kau sediakan, cerita yang kau bagikan, pengalaman baru yang kau berikan.

Paul, Phearun, dan King, kalian tak sekedar host untukku, kalian adalah tiga orang #UltimateTravelmate yang menemani langkahku, memandu arahku.

 

Lalu, sebelum aku menutup cerita panjang ini, izinkan aku untuk menceritakan satu pribadi lagi yang telah memberikan kesan mendalam sebagai travelmate selama kurang lebih setahun ini.

 

Donny, My Best Travelmate

Aku memanggilnya dengan Kodon, singkatan dari koh Donny, menghargai usianya yang sudah terpaut beberapa tahun di atasku. Kami pertama bertemu di Bandung Maret tahun lalu melalui sebuah pesan di Couchsurfing. Dia menginap di hotel bersama seorang rekannya, jadi dia hanya memintaku untuk menemani mereka jalan-jalan. Tak ada kontak lagi selama beberapa bulan, sampai sekitar bulan Juli, dia kembali ke Bandung untuk satu keperluan dan menginap di kamarku.

Merasa memiliki gaya dan ketertarikan yang sama, perjumpaan kami pun berlanjut dengan pertemuan demi pertemuan dan perjalanan demi perjalanan. Apalagi, Kodon lalu juga bergabung dengan komunitas travel di Whatsapp yang kubentuk. Dia semakin dalam masuk ke lingkaran kehidupanku.

Oktober 2015, dia menyusul kepergianku ke Bangkok. Meski hanya dua hari, pribadinya yang menyenangkan, mudah bergaul, dan banyak bertanya (baca: kepoan), membuat kehadirannya menyemarakkan perjalananku.

With koh Donny in front of Siam Paragon mall

With koh Donny in front of Siam Paragon mall

Desember 2015, dia menyusul kepulanganku di Yogyakarta, aku menjemputnya pada pagi Natal. Dia menginap selama dua malam di rumahku, berkenalan dengan keluargaku dan ternyata cepat akrab dengan ibu. Kokoh-kokoh idaman emak-emak nih! Berkat Kodon, aku jadi punya teman jalan dan nongkrong di Jogja: Taman Pelangi, Kalimilk, Tempo Gelato, Sate Klathak, sampai Kebun Buah Mangunan, tempat-tempat hits kekinian yang belum pernah kusambangi.

Tanggal 27 Desember malam, kami kembali ke Bandung. Dia menghabiskan beberapa hari di Bandung sementara aku tetap menjalankan rutinitas ngantor. Hari pertama tahun 2016, kami berdua melakukan perjalanan menuju Cilacap, Jawa Tengah. Sebelas hari terus bersama, membuatku hanyut dalam perasaan kehilangan saat dia harus kembali ke Jakarta pada Selasa pagi, 5 Januari 2016. Anaknya baper ‘nih, kak!

Visiting Kebun Buah Mangunan in Yogyakarta

Visiting Kebun Buah Mangunan in Yogyakarta

Syukurlah, kami kembali bertemu tanggal 16 Januari 2016 untuk melakukan pendakian ke Gunung Papandayan. Dia ingin sekali naik gunung. Maka, aku berjanji untuk membawanya ke puncak, dan aku bahagia dapat menepati janjiku. Aku senang dapat membawanya naik dan turun dengan selamat, meski sempat khawatir dengan kesehatan jantungnya.

Saat ini, Kodon sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita dan berencana menikah akhir tahun ini. Dia tak yakin akan dapat melakukan perjalanan lagi bersamaku, meski dia sangat menginginkannya. Namun, mari kita lihat saja apa yang terjadi esok. Bila memang Tuhan berkehendak, kami pasti akan kembali melakukan perjalanan yang kami berdua impikan.

Selfie at Hutan Mati, Mount Papandayan

Selfie at Hutan Mati, Mount Papandayan

Terima kasih telah menemaniku selama kurang lebih setahun ini, koh. Kau sudah banyak membantu dalam setiap perjalanan yang kutempuh. Langgeng untuk hubunganmu dengannya, lancar sampai ke jenjang pelaminan, dan sampai jumpa kembali dalam perjalanan berikutnya.

Sampai saat ini, kaulah rekan perjalanan terbaik yang pernah kumiliki.

 

Tulisan ini merupakan bagian dari #Posbar (Posting Bareng) Travel Bloggers Indonesia (TBI) untuk memeriahkan Hari Valentine. Baca juga cerita #UltimateTravelmate yang lain:

Mas Edy – Istriku, Travelmate-ku

Olive Bendon – My Guardian Angel

Richo Sinaga – My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K

Leonard Anthony – Travelmate(s), It’s Our Journey

Lenny Lim – 3 Hal Tentang Travelmate

Fahmi Anhar – Teman Perjalanan Paling Berkesan

Rembulan Indira – Ultimate Travelmate: Kakatete

Indri Juwono – Si Pelari Selfie, Sebut Saja Namanya Adie

Rey Maulana – Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?

Atrasina Adlina – Menjelajah Ambon Bersama Bule Gila

Astin Soekanto – Travelmate, Tak Melulu Harus Bareng

Parahita Satiti – UltimateTravelmate: Rembulan Indira Soetrisno

Titiw Akmar – 10 Alasan Mengapa Suami Adalah Travelmate Terbaik

Sutiknyo “Lostpacker” – Mbok Jas, Teman Perjalanan Terbaik

Gio Taufan – Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?

Wisnu Yuwandono – Teman Menapaki Perjalanan Hidup

Liza Fathia – Naqiya is My Travelmate

Puspa Siagian – Travelmate: GIGA

Dea Sihotang – Hindari 7+1 Hal Ini Saat Cari Teman Jalan

Shabrina Koeswologito – 14 Signs You Found The Perfect Travelmate

Imama Insani – Teman Perjalanan

Karnadi Lim – Teman Perjalananku dan Kisahnya

Putrinya Normal – My Unbelievable Travelmate

Vika Octavia – Sesaat Bersama Supardi

 

Baca Juga:

Sehari Menyusuri Ho Chi Minh City

Menikmati 8 Kuliner Khas Ho Chi Minh City

Selain Angkor Wat, Ada Apa Lagi di Siem Reap?

Bangkok – Siem Reap: Perjalanan Menembus Negeri dengan Kereta Api

Menengok Siam dan Silom, Pusat Bisnis & Belanja Bangkok

63 thoughts on “#UltimateTravelmate: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

  1. Memang patut diakui kalau travelmate itu kadang sangat membantu dan bisa memecah kebuntuan dalam perjalanan, aku pun selama ini punya travelmate yang kebetulan sahabat dari jaman SD. Lama tidak bertemu karena kuliah di kota dan beberapa bulan ini mulai sering menjelajah bareng dari hutan, kota hingga gunung.

  2. wuiihhh.. superb Nug.. berani banget! istilahnya memasrahkan hidup pada orang yg belom kita kenal banget, beda negara & bahasa pulak. entah aku sndiri berani apa kagak.
    Dan jujur aja, aku baru tau ada cara cem couchsurfing gitu.

    • Couchsurfing memang ada resikonya sendiri sih, mbak. Tamu yg ditipu host gadungan, atau host yg dimaling tamu, udah beberapa kali terjadi. Jadi tetep harus waspada, misalnya melihat dulu reference dia dari member lain.

      Makasih udah mampir ya🙂

  3. local host maksudnya kita nebeng di rumah dia tanpa bayar sepeser pun? Jadi dia hanya menyediakan kasur saja getuh? Kalau kita mau jadi local host tapi barter someday kita ke negera si tamu bisakah? Bikin satu post khusus tips and trik buat all about couchsurfing donk

    • Yang jelas menyediakan kasur dan apapun yg ada di kamarnya (kamar mandi, AC, TV, air, makanan kalau dia mau).

      Nah, kita juga bisa jadi host. Soal barter, itu kesepakatan antara kamu sama tamu kamu aja. Oke, nanti aku bikin tulisan khususnya🙂

  4. aku join CS sih, tp jarang ‘memanfaatkan’… kadang jadi takut malah kebeban sama atur-atur waktu, karena biasanya pengen bebas-bebas aja. kalo nginep di hostel gitu, bisa keluar paling pagi.., balik paling malem. hahaha… kalo pake CS kan kaya jd susah ya.😀

    • Bener, bang. Nginep di anak CS memang sedikit mirip nginep di temen. Kalau dia mau temenin kita jalan, enak bang. Kita bangun, dia ikut bangun, kita pulang jam berapa juga dia ikut kita. Atau dia kerja kantoran, jadi ikut bangun pagi.

      Untungnya aku bukan tipikal orang yang bangun pagi buta dan pulang tengah malam, hahaha. Bangunnya ya sebisanya, terus jam 10-an udah balik biar bisa istirahat😀

  5. seru ya Nug, punya teman di berbagai negara. tapi aku belum pernah ikut CS karena agak gimana rasanya kalau tiba-tiba numpang di rumah stranger hehe. tapi disitulah seninya kali ya.

    belum puas ubek-ubek asia tenggara, belum ke myanmar, laos & filipina. sekarang kalau mau jalan rada ribet soalnya haha.

    • Nah, ini kelebihan sekaligus kekuranganku sih: gampang percayaan sama orang. Tapi aku coba waspada aja, mas. Misalnya baca profilnya dulu, baca references, kalau jalan selalu bawa barang berharga.

      Nah, targetmu sama kayak aku tahun ini. Mau ke Myanmar, atau Laos, atau Filipina. Sama HK deh, hahaha😀

  6. Aku kenal CS dari 5 tahun lalu, tapi malah belum memanfaatkan maksimal, palingan kopdar2 aja sih.. Next time musti coba surfing juga ah!

    Btw trip 3 negara itu menghabiskan waktu berapa lama kak?

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s