Sehari Menyusuri Ho Chi Minh City

Mari berjalan, kawan

Mari berjalan, kawan

Dibandingkan kota-kota lain seperti Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok, Ho Chi Minh City mungkin belum menjadi kota wisata mainstream bagi pelancong Indonesia. Meski belum semaju ketiga kota yang disebutkan sebelumnya, Ho Chi Minh City menyimpan ragam wisata menarik yang tak kalah dari kota-kota wisata Asia Tenggara. Sebagai bekas jajahan Perancis, pusat kota Ho Chi Minh City dirancang dengan taman-taman yang asri, trotoar lebar yang rapi, dan bangunan-bangunan kolonial yang berdiri anggun di sudut-sudut persimpangan.

Syukurlah, meski hanya dua hari, namun aku berkesempatan untuk sebentar mampir di kota Paman Ho ini. Memang ada objek wisata yang tak sempat dikunjungi, Chu Chi Tunnel, karena keterbatasan waktu. Namun, kunjungan singkat itu tetap berkesan berkat teman-teman Couchsurfing yang setia memandu langkahku dan Dicky berjalan menyusuri kota.

Baca Dulu: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

 

SUPERTRIP 2 Episode 12: Sehari Menyusuri Ho Chi Minh City

Usai sarapan Banh Cuon Nong dan kopi Vietnam bersama King, Tu, dan disusul oleh Truy, aku dan Dicky memulai petualangan kami bersama Tu dan Truy. Kami naik bus kota dari depan gang komplek perumahan, pertama-tama berhenti di sebuah bank lokal di sudut persimpangan karena Dicky harus terlebih dulu menukarkan lembar-lembar US Dollar-nya. Sebagai orang asing, penukaran dilakukan dengan dibantu Tu sampai ratusan ribu Vietnamese Dong (VND) berpindah ke tangannya.

Selesai urusan tukar menukar uang, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi pertama kami di Ho Chi Minh City: Ben Thanh Market.

 

Ben Thanh Market, Pasar Tradisional Utama Ho Chi Minh City

Perjalanan dari rumah King di Distrik 9 menuju Distrik 1 sebagai kawasan wisata utama berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Tarif jauh dekat untuk bus adalah 6.000 VND. Kami berhenti di sebuah taman di seberang Ben Thanh Market, tempat di mana Ramon dan Anh ikut bergabung bersama kami berempat. Lalu, mengumpulkan segenap keberanian di dalam dada, kami menyeberang menghampiri pasar, melawan lalu lintas Ho Chi Minh City yang keras.

Ben Thanh Market (source: gkcentralhotel) Too bad, my original photograph was missing :(

Ben Thanh Market (source: gkcentralhotel)
Too bad, my original photograph was missing 😦

Walking toward the Bitexco Financial Tower

Walking toward the Bitexco Financial Tower

Kebetulan, pas kami ke sana, lagi ada bagi-bagi kopi Vietnam entah untuk acara apa. Lumayan untuk sedikit menambah stamina sebelum mulai jalan-jalan. Bahkan, kebetulan juga ada program acara masak televisi lokal yang lagi syuting di dalam pasar!

Ben Thanh Market dibangun pada tahun 1870 oleh kolonial Perancis. Saat dibangun, namanya adalah Les Halles Centrales, barulah pada tahun 1912 namanya menjadi Ben Thanh Market. Seperti pasar tradisional pada umumnya, Ben Thanh Market menyediakan beragam komoditi dagangan seperti tas, sepatu, perhiasan, barang pecah belah, baju, dan oleh-oleh seperti makanan khas dan kopi kemas. Jajanan pasar juga berlimpah di pasar ini, seperti banh xeo, banh cuon, banh beo, dll. Jangan lupa tawar mulai setengah harga ya! *sadis*

 

Balai Kota (City Hall)

Dari Benh Tanh Market, kami berjalan kaki menyusuri jalanan Ho Chi Minh City yang asri sampai kami menemukan sebuah area publik yang lapang di depan Balai Kota, diapit oleh dua buah jalan dan bangunan-bangunan tua yang cantik. Selama berjalan kaki, keempat host kami selalu mengajak berbincang-bincang, meski kemampuan bahasa Inggris mereka belum terlalu baik. Aku salut dengan antusiasme mereka!

People Committee's Building

Ho Chi Minh City Saigon’s City Hall

Taking a wefie in front of HCMC City Hall (Dicky - Ramon - Truy - Tu - Anh - me)

Taking a wefie in front of HCMC City Hall
(Dicky – Ramon – Truy – Tu – Anh – me)

Balai Kota Ho Chi Minh City atau Saigon City Hall sebetulnya bernama People Committee’s Building, dibangun pada 1898 sebagai Hotel de Ville. Saat ini, People Committee’s Building difungsikan sebagai bangunan pemerintah. Maka dari itu, gedung ini tak dibuka untuk umum. Yah, cukuplah mengamati arsitekturnya dari luar atau berfoto selfie di depannya.

Bitexco Financial Tower, the tallest building in HCMC (262 m)

Bitexco Financial Tower, the tallest building in HCMC (262 m)

A large public space in front of the City Hall

A large public space in front of the City Hall

Nearby street

Nearby street

Kami berfoto bersama di depan patung Paman Ho, dengan gedung Balai Kota sebagai latar yang apik dengan balutan warna kuningnya. Dirancang oleh seniman Nguyen Minh Chau, patung Paman Ho dibuat sebagai simbol kecintaan warga Vietnam akan beliau, dan untuk mengenangnya sebagai seorang bapak yang menyayangi anak-anak.

 

Kantor Pos Besar Saigon (Ho Chi Minh City)

Di kota-kota besar Indonesia, selalu ada gedung-gedung kantor pos yang tetap berdiri kokoh meski usianya tak lagi muda, tetap anggun tak lekang oleh masa. Pun dengan Ho Chi Minh City. Gedung kantor pos yang dibangun dengan gaya arsitektur art deco itu pun menjadi sajian wisata yang menarik, menyapa setiap pengunjung dengan dinding-dindingnya yang telah bertahan selama puluhan dekade.

Inside Ho Chi Minh City Central Post Office

Inside Ho Chi Minh City Central Post Office

Free post cards!

Free post cards!

Nah, Saigon Central Post Office ini juga merupakan bangunan tertua di Ho Chi Minh City lho! Dibangun antara tahun 1886-1891 dengan paduan arsitektur Gothic, Renaissance, dan art deco. Satu hal yang aku suka, Kantor Pos Besar Saigon memiliki langit-langit yang tinggi berbentuk melengkung. Suasana di dalam gedung tetap terasa sejuk meski tanpa pendingin udara sekalipun. Jadi, kalau mau membangun gedung ramah lingkungan di era modern, tiru saja gedung-gedung tua yang memiliki sistem sirkulasi udara yang baik seperti ini.

Selain melayani kegiatan surat menyurat, penjualan kartu pos dan perangko, Kantor Pos Besar Ho Chi Minh City juga menjual macam-macam oleh-oleh dan pernak-pernik yang ditata di tengah ruangan. Banyak pelancong yang menyempatkan diri untuk membeli atau sekedar melihat-lihat. Yang lebih menarik lagi, khususnya untuk kalangan backpacker atau budget traveler, kantor pos Ho Chi Minh City menyediakan beberapa kartu pos yang dapat diambil gratis! Yah, lumayan untuk tambahan oleh-oleh.

Souvenirs from the post office

Souvenirs from the post office

Post cards for souvenirs

Post cards for souvenirs

Bisa juga berfoto bersama mbak-mbak petugas yang menjaga barang dagangan dengan baju adat Vietnam, aodai. Tapi nggak usah dikasih harapan semu ya, kasian.

 

Katedral Notre Dame

Terlepas dari apakah kamu penganut Kristen atau bukan, katedral cantik ini layak mendapat tempat dalam daftar perjalananmu. Sekedar berfoto di depannya tak masalah, apalagi katedral ini letaknya berseberangan persis dengan Kantor Pos! Dibalut dengan warna terakota yang mengguyur seluruh sisi eksteriornya, Katedral Notre Dame tampil hangat di tengah hijaunya pepohonan kota.

Katedral Notre Dame Ho Chi Minh City

Katedral Notre Dame Ho Chi Minh City

Kami sendiri tidak masuk ke dalam katedral, hanya mengambil foto lalu melewatinya menuju tempat berikutnya. Katedral ini selesai dibangun pada 1880 sebagai Saigon Church, titik tertingginya mencapai 60 meter. Nama Katedral Notre Dame diberikan saat uskup Pham van Thien meresmikan patung Bunda Maria di depan gereja pada 1959. Konon, ada satu waktu di mana patung ini mengeluarkan air mata sendiri lho!

Aku membayangkan, mungkin pada masanya, katedral ini menjadi bangunan tertinggi di Saigon lama, mengisi cakrawala dari setiap tempat mata memandang. Seperti kamu, yang selalu ada ke  mana pun aku memandang.. #gagalfokus

 

Taman Kota di Belakang Notre Dame

Ho Chi Minh City adalah kota yang panas dan lembab! Keberadaan taman-taman kota yang asri memang sangat membantu di sini. Maka, saat sudah kelelahan dan berkeringat, kami beristirahat sejenak di sebuah taman yang berada di belakang Katedral Notre Dame. Di situ jugalah kami bertemu dengan Truc — yang mengajakku bertemu di HCMC melalui pesan di Couchsurfing — dan Justin, satu lagi anak muda yang akan menemani aku dan Dicky berkelana.

Nelfon siapa sih, mbak?

Nelfon siapa sih, mbak?

Kami duduk-duduk sebentar di sisi taman sambil menikmati setangkup besar banh mi seharga 5.000 VND, dan air mineral dingin yang dibeli oleh Truy.

 

Independence Palace

Merasa sudah cukup beristirahat, kami lalu mengunjungi Independence Palace (Reunification Palace) yang terletak hanya di sudut taman. Truc tidak bisa ikut serta karena kedatanganku di HCMC ini bertepatan dengan agendanya untuk — pulang kampung. Justin juga tidak ikut masuk ke dalam museum, merasa kurang tertarik dengan objek wisata historis seperti itu. Mungkin dia lebih tertarik dengan objek wisata erotis. Sementara Ramon mengaku ada kegiatan lain, maka tinggal kami berlima yang bertahan untuk masuk ke dalam Independence Palace.

Tank 873 in front of the palace

Tank 873 in front of the palace

F5E Fighter Plane

F5E Fighter Plane

Independence Palace (Reunification Palace) beroperasi dari pukul 7.30-11.30 dan 13.00-17.00. Tiket masuknya tergolong cukup mahal untuk kalangan mahasiswa Vietnam kinyis-kinyis seperti Tu, Truy, dan Anh: 30.000 VND. Dicky mencoba membujuk agar kami saja yang mentraktir mereka bertiga, namun mereka bersikukuh untuk membayar sendiri. Wah, aku kembali salut dengan antusiasme mereka. Oh ya, mereka sendiri mengaku mereka juga belum pernah masuk ke dalam Independence Palace ini lho 😀

Sebelum masuk ke dalam gedung rancangan Ngo Viet Thu ini, kami lebih dulu melihat-lihat bagian luar yang memamerkan sebuah tank 873 dan pesawat tempur F5E. Instagrammable deh! Ada juga air mancur besar di depan gedung yang bagus untuk latar berfoto. Eh, ini sebenarnya mau ngapain sik?

Fountain at Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Fountain at Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Inside the Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Inside the Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Saat memasuki aula terbuka, kami sedikit bingung mau mulai dari mana. Tak ada petugas yang memandu, mungkin karena kami tidak menyewa pemandu. Namun setelah sebentar mengamat-amati dan melihat berkeliling, kami pun memiliki rute sendiri untuk menjelajah ruang demi ruang di Reunification Palace.

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Palace’s conference room

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Palace’s kitchen

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Working Room

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Presidential suite

Reunification Palace, Ho Chi Minh City

Reunification Palace menjadi saksi bisu dua peperangan terbesar yang dialami bangsa Vietnam, yakni peperangan dengan kolonial Perancis dan dengan Amerika Serikat. Tank 873 yang dipamerkan adalah tank yang menubrukkan diri pada gerbang istana pada 30 April 1975, dan menjadi simbol bersatunya kembali Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.

 

Semi Circular Lake di District 7

“How was it?” sapa Justin menyambut kepulangan kami dari Independence Palace, setia menunggu kami di taman. Dibandingkan yang lain, Justin memang yang paling fasih berbahasa Inggris, baik dari segi grammar maupun pronounciation. Dia kemudian antusias mengajak kami ke sebuah danau di Distrik 7 yang dia gadang-gadang sebagai lokasi nongkrong kekinian anak muda lokal Ho Chi Minh City. Namun sayang, di sini Tu dan Anh harus berpisah, sehingga hanya Justin dan Truy yang menemani perjalanan kami.

Large, clean, and green pedestrian at District 7

Large, clean, and green pedestrian at District 7

Semi Circular Lake, District 7

Semi Circular Lake, District 7

Kami berempat pergi menuju Distrik 7 dengan bus kota. Lama-lama, aku mulai hafal dengan tabiat sopir bus Ho Chi Minh City yang sedikit ugal-ugalan. Kadang ia melaju dengan kecepatan tak stabil menyeruak jalanan kota yang padat, terus-terusan membunyikan klakson bagai sang penguasa jalan yang ingin semua sepeda motor menyingkir dari hadapannya.

Gerimis sempat turun malu-malu saat kami turun dari bus. Namun, seiring langkah kami menapaki trotoar Distrik 7 yang lebar dan rindang, gerimis perlahan mengakhiri rintik sendunya. Justin menuturkan, Distrik 7 berbeda dengan distrik-distrik yang lain di Ho Chi Minh City. Sebagai kawasan yang menjadi pusat tempat tinggal kalangan ekspatriat, Distrik 7 tetap rapi dan bersih meski lokasinya jauh dari pusat kota. CCTV ada di berbagai titik untuk menjamin keamanan warganya.

The lake is in the middle of malls and apartments

The lake is in the middle of malls and apartments

Tujuan kami adalah sebuah danau berbentuk setengah lingkaran yang terletak di antara kungkungan pusat perbelanjaan dan apartemen. Meski awan mendung menggantung, namun anak-anak muda lokal tetap datang berkunjung. Ada yang berolahraga lari keliling danau, berfoto-foto di jembatan, atau duduk-duduk santai di bukit berumput. Suasananya sejuk dan menyegarkan, membantu menghilangkan keringat lembab yang sudah membungkus kulit.

Usai puas bersantai di atas bukit berumput, kami mampir sebentar ke dalam mal untuk ke toilet dan… ngadem. Suasananya sama dengan mal-mal di Indonesia, malah mungkin lebih glamor mal-mal Jakarta. Ada satu hal yang menarik di mal lokal ini saat kami menemukan sebuah game yang menggunakan sensor tubuh untuk memainkannya. Simpel, seperti game Mario Bros, tapi cukup menyenangkan!

*Mario Bros?* *penyingkap usia*

Sebelum mengakhiri kunjungan, kami jajan membeli Xien Que (piercing food) yang ada di pinggir jalan. Tulisannya bisa disimak pada tulisan sebelumnya: Menikmati 8 Kliner Khas Ho Chi Minh City, Vietnam

Sambil berjalan kembali ke pusat kota, kami mampir ke sebuah kawasan pertokoan lokal karena aku meminta Justin untuk mengantarkanku ke toko baju untuk membeli oleh-oleh. Namun ada sedikit kesalahpahaman. Yang aku maksud adalah baju khas oleh-oleh bertuliskan ‘Vietnam’ atau ‘Ho Chi Minh City’, namun Justin malah mengantarkanku ke toko baju biasa. Untung Truy memahami keinginanku dan mengungkapkannya kepada Justin. Maka kami segera keluar dari toko itu dan langsung kembali ke Ben Thanh Market.

This is Justin

This is Justin

Syukurlah, saat kami tiba, Benh Tanh Market masih beroperasi, menyisakan segelitir lapak yang sedang berkemas-kemas. Aku membeli satu buah kaos seharga 60.000 VND, penjualnya fasih berbahasa Melayu. Tergoda untuk membeli kopi Vietnam untuk oleh-oleh, namun sudah tak banyak lagi uang tersisa. Barter review di blog boleh nggak, Pak?

 

Sayang sekali Truy sudah harus kembali ke rumah, anak gadis perawan tak boleh pulang larut malam. Justin? Mau nonton film kekinian di bioskop. Jadi, petualangan kecil kami di Ho Chi Minh City harus diakhiri sampai di sini. Sedikit agak sedih, karena aku masih sangat antusias untuk mengulik sudut-sudut kota saat malam. Ingin menikmati gemerlap Saigon modern, atau menyusuri Saigon River melalui riverwalk yang bersih dan asri.

Ho Chi Minh City at night, with Bitexco Financial Tower as the background

Ho Chi Minh City at night, with Bitexco Financial Tower as the background

Namun, karena takut tersesat dan kehabisan bus, aku memilih untuk kembali bersama Truy. Gadis itu turun sebelum kami, namun dia sudah lebih dulu memberikan wanti-wanti kepada kenek bus. Sangat membantu! Mengingat kenek-kenek bus di Ho Chi Minh City tak dapat berbahasa Inggris, apalagi berbahasa kalbu untuk memahami perasaanku.

Tapi siapa sangka, gagal menyibak dunia malam Ho Chi Minh City, aku justru mendapat pengalaman pengganti yang lebih berkesan, yang tak akan didapatkan setiap pelancong. Cari tahu cerita lengkapnya dalam tulisan berikutnya: 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita

 

Menuju Bandara Tan Son Nhat, Kembali ke Jakarta

Minggu pagi-pagi, 11 Oktober 2015, aku berkemas meninggalkan Dicky yang masih terlelap. Berbekal panduan singkat dari King, aku berangkat menuju bandara, melambaikan tangan pada pemuda itu yang matanya masih berselimut kantuk. Setelah naik bus sampai ke persimpangan highway, aku turun dan ganti bus menuju Hoang van Thu. Selama sesaat, aku merasa seperti layaknya warga lokal yang sedang menjalani rutinitas sehari-hari.

A foggy morning on my way to airport. The fog is said from Indonesia (?)

A foggy morning on my way to airport. The fog is said from Indonesia (?)

Bus menurunkanku di sebuah bundaran setelah menempuh perjalanan selama sekitar 45 menit. Hampir saja aku kira aku sudah kebablasan. Sang kenek wanita itu memberikanku jalur bus yang harus aku naiki kembali untuk menuju ke Bandara Tan Son Nhat dengan kombinasi antara bahasa tubuh dan bahasa dewa. Namun, King tidak memberikanku info soal jalur bus ini, dia mengatakan aku bisa berjalan kaki. Lalu setelah aku memperhatikan situasi, aku memang sudah berada di kawasan Tan Son Nhat. Berarti bandara memang sudah dekat!

Karena aku masih memiliki cukup banyak waktu, aku beranikan diri untuk berjalan kaki dari bundaran sampai ke bandara Tan Son Nhat. Ternyata, jaraknya memang lumayan, akan melelahkan bagi yang tak biasa berjalan kaki. Aku tiba di gedung bandara dengan bahu pegal dan keringat yang menyelimuti kulit. Lalu, setelah melalui proses singkat di konter check-in dan imigrasi, aku pun masuk ke dalam boarding room dan siap meninggalkan Ho Chi Minh City.

Tan Son Nhat Airport, Vietnam

Tan Son Nhat Airport, Vietnam

Tan Son Nhat Airport, Vietnam

Tan Son Nhat Airport, Vietnam

Sampai jumpa, Ho Chi Minh City. Terima kasih telah menerima kedatanganku, telah memberikanku kenangan yang akan terus terpatri. Sampai berjumpa lagi, semoga kelak aku akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyusuri setiap jalanmu yang asri…

Bersama seseorang yang dekat di hati.

29 thoughts on “Sehari Menyusuri Ho Chi Minh City

  1. Asik ya jalan2 disana. Aku dulu kesana brg temen cewek org rusia. Itu negara asia tenggara yg dia datengin. Dia sampe shock takut nyebrang krn ngawur lalu lintasnya. Tp malah dia yg keserempet motor. Mungkin krn terlalu ragu2 nyebrangnya ya.😂

  2. Dan saya baru tahu kalau HCMC itu nama dulunya adalah Saigon *terus malu*.
    Bagus kotanya! Saya paling suka dengan kantor pos, kesannya megah banget, lengkungannya mirip Stasiun Kota. Oh ya, istananya juga keren. Sekarang masih dipakai buat pemerintahankah? Soalnya tampak bersih dan terawat banget, terlalu bersih dan terawat untuk model istana yang terbuka untuk umum… atau memang semua bangunan di sana seperti itu?
    Foto istananya dari luar ikut hilang juga ya, Mas?

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s