Menikmati 8 Kuliner Khas Ho Chi Minh City, Vietnam

Hello, Ho Chi Minh City :) (this city is currently constructing an MRT line)

Hello, Ho Chi Minh City ๐Ÿ™‚
(this city is currently constructing an MRT line)

Waktu kedatangan dan kepulangan gue dari Ho Chi Minh City, Vietnam, ini memang serba tanggung. Datang hari Jumat larut malam tanggal 9 Oktober 2015, lalu hari Minggu paginya sudah harus terbang kembali ke Jakarta. Itu pun transit dulu lima jam di Singapura. Efektif, gue hanya punya waktu sehari semalam untuk menjelajah kota bergaya kolonial Perancis ini. Andai ada penerbangan langsung ke Jakarta, gue bisa memanfaatkan hari Minggunya untuk kembali berjalan-jalan.

Tapi syukurlah, dengan waktu yang ada, gue tetap dapat mengunjungi tempat-tempat wisata utama dan bertualang kuliner di Ho Chi Minh City berkat teman-teman lokal yang sangat membantu. Baiklah, mari pertama-tama kita mulai dulu dengan petualangan kuliner.

 

SUPERTRIP 2 Episode 11: Menikmati 8 Kuliner Khas Ho Chi Minh City, Vietnam

Menikmati Pho di Pham Ngu Lao Street

Petualangan kecil di Ho Chi Minh City dimulai pada hari Jumat larut malam, sesaat setelah perjalanan panjang kami dari Siem Reap, Kamboja. Sebenarnya momen perjalanan itu juga akan gue ceritakan dalam satu tulisan tersendiri. Sayangnya hampir seluruh dokumentasi saat itu tak berhasil di-recover setelah netbook gue kemalingan. Huft.

Hot vietnamese pho I ate at Pham Ngu Lao Street

Hot vietnamese pho I ate at Pham Ngu Lao Street

Bus Mekong Express kami menemui titik akhirnya di Pham Ngu Lao Street, kawasan backpacker utama di Ho Chi Minh City, mirip dengan Khao San Road-nya Bangkok atau Pub Street-nya Siem Reap. Pham Ngu Lao penuh dengan bar, cafรฉ, restoran, warung makan, dan hostel murah di kedua sisi jalan sementara para pelancong dari berbagai belahan dada negara menyesaki trotoarnya yang sempit.

Setelah beberapa saat berjalan tak tentu arah, mengambil uang di ATM, dan membeli sim card lokal seharga 100.000 VND, gue dan Dicky masuk ke sebuah rumah makan dengan sajian makanan lokal. Gue memesan semangkok pho dan kopi Vietnam seharga 55.000 VND, tergolong murah dibandingkan dengan biaya makan di tempat serupa di Indonesia.

Citarasa pho sendiri ternyata tidak berbumbu rempah kuat, namun disajikan hangat dan kuahnya tetap segar mengusir kantuk. Komposisi utamanya sendiri adalah semacam bakmi yang berbentuk panjang, bulat, dan lebih besar dari bakmi yang biasa kita kenal. Porsinya? Sangat mengenyangkan! Wajib deh kalau kamu mampir ke Ho Chi Minh City, karena memang pho adalah makanan khas Vietnam yang paling populer. Pho sendiri ada beberapa varian, seperti pho daging sapi (pho bo) dan pho daging ayam (pho ga).

 

Sarapan Banh Cuon Nong

Esok paginya, host kami, Nguyen van Vuong atau biasa dipanggil King, mengajak kami untuk sarapan Banh Cuon Nong di sebuah warung pinggir jalan di depan gang masuk komplek rumahnya. Wah, bener-bener live like a local!

Banh Cuon Nong (Vietnamese Rice Noodle with Pork & Mushrooms)

Banh Cuon Nong (Vietnamese Rice Noodle with Pork & Mushrooms)

Banh Cuon Nong adalah kuliner mie beras (rice noodle) khas Vietnam dengan daging babi dan beberapa sayuran seperti kecambah, seledri, dan mentimun. Daging babinya diolah seperti bakso, lalu diiris-iris pipih di atas bakmi. Citarasa bakminya sendiri agak hambar, jadi sebaiknya dicelupkan ke dalam sambalnya lebih dulu atau dimakan bersamaan dengan daging babi. Dengan hanya 17.000 VND, Banh Cuon Nong ini menjadi menu sarapan yang mengenyangkan!

 

Vietnamese Black Coffee

Sebagai penggemar kopi, kunjungan singkat ke Vietnam ini nggak boleh disia-siakan tanpa menyesap segelas kopinya yang khas. Makanya, usai sarapan, gue bilang sama King kalau gue pengen kopi Vietnam. Lucky me, ada sebuah kedai kopi rumahan di depan rumah King. Jadi, kami hanya berjalan sebentar dari lokasi sarapan masuk kembali ke dalam komplek.

Vietnamese Iced Black Coffee (Ca Phe Den Da)

Vietnamese Iced Black Coffee (Ca Phe Sua Da)

Gue memesan kopi hitam, sementara Dicky yang nggak doyan kopi memilih jus jeruk untuk menemani paginya. Elah, nggak lakik lo, Dick! *lalu diamuk massa*

Kopi hitam datang diantar mbak-mbak Vietnam emesh yang murah senyum. Kata King, dia senang ada orang-orang asing di kedai kopinya yang sederhana. Kopi hitam disajikan segar dengan es dan sudah lengkap dengan gula. Rasanya — enak! Gue suka! Nggak asam, tapi juga nggak kayak kopi instan murahan. Nikmat kopinya terasa dengan takaran gula yang pas. Susah diungkapkan dengan kata-kata deh!

Harganya hanya 10.000 VND, alias goceng. Segelas kopi diberikan bersama segelas kecil es teh tawar untuk menetralkan citarasa kuat kopinya.

 

Banh Mi

Ini adalah jajanan murah meriah mengenyangkan khas Vietnam, hanya 5.000 VND. Roti raksasa ini gue beli di Tao Dan Park, di pusat kota Ho Chi Minh City yang asri. Teksturnya renyah, tawar, tanpa isi, dan ada bagian yang berongga. Gue membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan Banh Mi tanpa rasa ini.

Vietnamese Plain Bread (Banh Mi)

Vietnamese Plain Bread (Banh Mi)

King mengatakan, di kawasan rumahnya yang notabene jauh dari pusat kota, Banh Mi hanya seharga 3.000 VND, itu pun sudah dengan macam-macam isi. Yah, nggak apa-apa, lagipula gue nggak melihat satu pun pedagang Banh Mi saat berada di sekitar rumahnya. Penjualnya menjajakan Banh Mi dengan bersepeda, sementara roti-roti Banh Mi ada di dalam karung.

 

Xien Que

Kami menikmati Xien Que saat diajak jalan-jalan di Distrik 7 oleh Justin dan Thuy, dua rekan King yang tersisa saat menemani kami berkeliling kota. Xien Que adalah piercing food ala Vietnam, sate-satean gitu deh, bukan cabe-cabean lho ya.

Xien Que (Vietnamese Piercing Food)

Xien Que (Vietnamese Piercing Food)

Pembuatannya agak unik. Pertama-tama, kami memilih dulu makanan mana yang akan disate. Ada beberapa pilihan, seperti gorengan ala Vietnam dan sayur-sayuran. Makanan yang sudah dipilih lalu digoreng (kembali) ke dalam minyak yang sudah panas, lalu diangkat dan tusuk lidinya dicabut. Xien Que kemudian disajikan di dalam wadah Styrofoam dengan batang-batang lidi yang diberikan untuk alat bantu makan.

Total harga seporsi Xien Que yang kami nikmati adalah 30.000 VND. Gue dan Dicky iuran berdua untuk kami berempat.

 

Es Tebu

Seperti di Kamboja, es tebu juga menjadi minuman populer di Vietnam. Tapi, di sini es tebu (sugar can) diolah dan disajikan secara lebih professional daripada yang kami nikmati di Siem Reap, Kamboja. Dengan harga 5.000 VND / cup, es tebu dikemas dalam wadah dengan penutup dan sedotan. Segar dinikmati di tengah Ho Chi Minh City yang panas dan lembab!

Es tebu ini kami beli saat melalui sebuah jalan yang ramai di Distrik 7, dalam perjalanan kami kembali ke pusat kota di Distrik 1.

 

Che Buoi

Wah, banyak juga ya kuliner yang gue coba di Ho Chi Minh City, Vietnam. Ini adalah sajian keenam yang gue nikmati dalam satu hari. Che Buoi adalah sup (bubur) manis khas Vietnam, terbuat dari buah pomelo dan kacang hijau yang diolah di dalam kuah santan. Yah, burjo-nya Vietnam gitu deh. Rasanya memang manis, tapi nggak berlebihan, cocok jadi makanan penutup dalam situasi dan cuaca apapun.

Che Buoi (Vietnamese Sweet Soup) image source: http://niceview360.com/cach-lam-che-buoi.html

Che Buoi (Vietnamese Sweet Soup)
image source:ย niceview360.com

Che Buoi ini gue nikmati saat nongkrong bareng mahasiswa-mahasiswa didik King di dekat rumahnya yang juga menjadi tempat les bahasa Inggris. Sayang harganya lupa gue catat, tapi pokoknya murah banget!

 

Hu Tiu

Karena masih lapar, usai ngemil semangkuk Che Buoi, gue mengajak King dan salah satu anak didiknya makan malam di warung pinggir jalan dekat rumahnya. Kali ini King membawa kami menikmati Hu Tiu, mie goreng Vietnam dengan potongan daging babi, disajikan dengan semangkuk kuah yang gurih.

Hu Tiu (Vietnamese Pork Fried Noodle)

Hu Tiu (Vietnamese Pork Fried Noodle)

Seperti menu sarapan dengan Banh Cuon Nong, Hu Tiu ini juga memiliki porsi yang terbilang besar buat ukuran perut gue yang demokratis minimalis. Gue mengambil kesimpulan, porsi makan orang Vietnam (juga Kamboja) cenderung lebih banyak dibanding porsi makan standar di Pulau Jawa. Untuk menu makan malam ini, cukup ditebus dengan uang senilai 21.000 VND saja.

 

Wah, total ada delapan kuliner khas Vietnam yang gue nikmati dalam satu hari satu malam di Ho Chi Minh City. Gimana, mana favorit kamu? Ho Chi Minh City ternyata menyimpan harta karun kuliner yang nikmatnya tak dapat didustakan!

Iklan

34 thoughts on “Menikmati 8 Kuliner Khas Ho Chi Minh City, Vietnam

  1. Wow lezat! Tp aku ngerasa masakan yg aku coba di HCM kurang banyak bumbunya dan rasanya mirip satu sama lain. terus terang aku lbh cocok masakan Di Hanoi, lbh variatif dan aneh2 ๐Ÿ˜๐Ÿ˜‹.

  2. Hanoi asik tp sayangnya gak ada direct flight. Kl naik Air Asia/Tiger airways hrs via Singapur. Kl naik vietnam air transit jg di HCM 4 jam an. Jadi sayang kalo cmn bentar disana. Jadi minimum 5 hari deh. Tp worth it kok. Aneh kotanya. Kayak masuk mesin waktu ๐Ÿ˜‚

  3. Tentu saja Hu Tiu :yes. Unik-unik Mas kulinernya, kayaknya semua bakal jadi favorit, kecuali Vietnam Iced Coffee… salah-salah nanti becampur dengan sianida #eh *salah fokus*.
    Postingan yang bikin lapar!

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s