Kopi Dalam Tulisan, Kopi Dalam Perjalanan

 

Siapkan segelas cangkir, lalu lemparkan tiga sendok bubuk hitam itu ke dalamnya. Tambahkan tiga sendok gula pasir lokal yang berwarna kecoklatan sampai ia tertumbuk di dasar cangkir. Tuang air putih panas secukupnya, lalu aduk perlahan hingga kedua unsur di dalamnya berbaur menjadi satu. Sekejap kemudian, aroma kopi yang khas menyeruak lepas, seiring dengan kepulan asapnya yang bergoyang samar hingga lenyap ditelan udara.

Kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas hidupku. Bagiku, satu hari terasa kurang tanpa menikmati secangkir kopi panas. Entah sejak kapan aku mulai menjadi seorang pecandu kopi. Ketika masih bersekolah dan tinggal bersama keluarga di Yogyakarta yang tenang, aku meminum segelas susu panas yang ibu siapkan setiap pagi untukku. Di tengah-tengah masa perkuliahan di Bandung, mendadak aku jenuh dengan susu, dan menggantinya dengan kopi hingga saat ini.

Tiada pagi tanpa kopi.

Oh iya, hanya karena aku peminum kopi, bukan berarti aku lantas paham dengan seluk beluk kopi ya. Aku hanya belajar secara otodidak melalui apa yang kutemukan sehari-hari, misalnya tentang perbedaan cappuccino, mocca, affogato, espresso, dan latte. Aku bahkan terkadang gagal membedakan yang mana robusta dan yang mana arabika. Nah, informasi umum tentang kopi ini bisa kamu pelajari dari laman resmi kopi Kapal Api yang langsung menyodorkan deskripsi singkat tentang robusta dan arabika pada halaman mukanya. Kalau masih mau ubek-ubek, ada rubrik Wikopedia yang dapat dibaca-baca :D.

 

Kopi dan Menulis

Sepertinya, penulis (dan kegiatan menulis) memang identik dengan minuman berkafein, khususnya kopi. Secangkir kopi tak pernah gagal membangkitkan inspirasi ketika aku menulis seorang diri. Tak peduli apakah aku menulis di dalam kamar atau di sebuah kedai, kopi senantiasa menemani. Ketika sedang menulis, aku tak akan ragu untuk menyeduh secangkir kopi lagi, meski secangkir lainnya sudah kunikmati di saat pagi.

Kopi, si pemantik inspirasi.

Tak hanya sebagai pemantik inspirasi, kopi juga memperbaiki suasana hati. Sehari-hari, aku bekerja sebagai seorang Copywriter di sebuah perusahaan rintisan di Bandung, Jawa Barat. Dengan kata lain, aku menulis untuk pekerjaan dan sekaligus menulis untuk menuangkan inspirasiku sendiri melalui blog. Dari pagi hingga berganti gelap, dari hari kerja hingga akhir pekan, aku tak pernah lepas dari menulis. Di saat aku sudah jenuh sementara aku masih harus menulis untuk menuntaskan pekerjaan, kopi menjadi yang pertama terlintas di benak untuk menyemangati diri.

Bahkan sebelum dinikmati dengan indera perasa dan penciuman, kopi sudah lebih dulu memberikan relaksasi melalui proses yang dijalani. Bangkit dari kursi, pergi mengambil cangkir, lalu meracik serbuk hitam itu sesuai selera, menjadi terapi tersendiri untuk mengistirahatkan jemari.

Kopi sebagai momen relaksasi.

Pekerjaan dan kegiatan sehari-hari itulah yang membuatku semakin tak bisa lepas dari nikmatnya kopi. Kalau kopi sudah hampir habis, aku akan segera mempersiapkan stok barunya dari minimarket atau supermarket terdekat.

 

Kopi dan Perjalanan

Tak hanya gemar menulis, aku juga senang melakukan perjalanan, baik di dalam maupun luar negeri. Menariknya, banyak tempat di Indonesia dan dunia yang menyimpan warisan atau budaya kopinya sendiri. Kota kecil Lasem di Jawa Tengah, Pontianak di Kalimantan Barat, dan Ho Chi Minh City di Vietnam menjadi tiga tempat dengan budaya kopi yang kuat yang pernah kusambangi. Ketiganya menorehkan pengalaman yang berbeda-beda untukku.

Kopi Lasem, Jawa Tengah.

Di Pontianak, ngopi sudah menjadi bagian yang tak bisa lepas dari kegiatan sehari-hari, muda dan dewasa, pria maupun wanita. Di rumah, di kedai-kedainya yang berjajar di sepanjang jalan, hingga di atas kapal perahu yang menyusuri Sungai Kapuas, kopi tak pernah lupa tersaji. Begitu menjamurnya kedai kopi di Pontianak, Jalan Gadjah Mada pun dikenal dengan julukan “Jalan Kopi” lantaran banyaknya kedai kopi yang berderet di jalan itu dan anak-anak jalan di sekitarnya.

Di Lasem, Jawa Tengah, kopi khasnya benar-benar dimanfaatkan hingga tetes-tetes penghabisan. Kopi hitam Lasem meninggalkan ampas yang halus di dasar cangkir mungil keramiknya. Ampas kopi itu rupanya tidak dibuang begitu saja. Para pria memanfaatkannya untuk dileletkan pada batang rokoknya, beberapa bahkan cukup artistik hingga dibuat dengan motif batik yang cantik. Tak heran, kopi Lasem pun dikenal dengan nama Kopi Lelet. Lumuran ampas kopi itu berguna untuk menambah citarasa di dalam rokok yang disesapnya.

Hasil mengkreasikan Kopi Lasem pada batang-batang rokok.

Salah satu rekanku, Kholid Zaim (dari Komunitas Historia Indonesia), sedang membatik rokoknya.

Di Ho Chi Minh City, Vietnam, es kopi sama populernya dengan kopi panas. Kopi yang disajikan pun memiliki 2 varian: kopi hitam (dengan gula) dan kopi susu. Es kopi khas Vietnam ini, disebut Ca Phe Da, begitu nikmat diteguk di tengah hawa Ho Chi Minh City yang panas dan lembab sepanjang hari. Meski disajikan dengan es, namun rasa manis dan sensasi kopinya tetap terasa kuat!

 

Memilih Kopi Instan yang Pas

Sebagai seorang karyawan swasta yang masih berada di tingkat menengah, keuangan menjadi hal yang harus diperhitungkan baik-baik. Rasanya kurang bijak jika dalam sehari harus mampir ke jaringan kedai kopi ternama atau menghabiskan uang ratusan ribu rupiah per bulannya untuk membeli produk kopi premium. Maka, kopi instan menjadi pilihan yang tepat.

Kopi Kapal Api, pilihan tepat untuk eksekutif muda hemat.

Masalahnya, tidak semua kopi instan memiliki citarasa setara dengan kopi-kopi yang disajikan secara manual atau tradisional. Apalagi, sudah berminggu-minggu aku menikmati produk kopi dari Lasem dan Pontianak yang kubeli saat bertandang ke sana. Ketika stok sudah habis dan aku kembali menjajal salah satu produk kopi instan, aku sontak mengernyitkan dahi karena rasa kopinya yang… aneh dan “palsu”.

Ketika berbelanja di minimarket beberapa hari kemudian, aku memilih sebundel Kapal Api Mantap dan Kapal Api Special kemasan sedang. Merek Kapal Api ini memang sudah kuketahui sejak lama. Aku sengaja memilih varian Kapal Api Mantap agar tak lagi repot menambahkan gula ke dalam racikan kopi yang ingin kunikmati. Kebetulan di kantor juga selalu ada stok gula pasir, jadi aku juga membeli kopi Kapal Api Special kalau lagi ingin meracik sendiri. Selain kopi hitam, Kapal Api juga memiliki varian Kopi Susu, Less Sugar, White Coffee, sampai Kopi Luwak lho. Nah ini, aku tak perlu lagi cemas kalau nanti bosan dengan kopi hitam, Kapal Api sudah menyediakan beragam varian ternyata.

Berkarya bersama kopi Kapal Api.

Esok paginya, aku menyeduh kopi Kapal Api itu di balik meja kerja usai menikmati sepiring nasi kuning langganan sebagai menu sarapan. Wah, takaran kopi dan gulanya begitu pas sesuai dengan racikanku selama ini! Tak hanya itu, nikmat kopinya juga setara dengan produk-produk kopi daerah yang belakangan ini aku konsumsi, tidak “palsu” atau tipu-tipu. Setelah aku pelajari, ternyata kopi Kapal Api ini menggunakan biji kopi pilihan produksi ibu pertiwi. Tak heran, Kapal Api jelas lebih enak daripada produk kopi instan lainnya.

Sebelumnya, aku selalu mengganti merek dan varian kopi instan yang kunikmati. Namun sejak mengonsumsi produk kopi hitam dari Lasem dan Pontianak, aku menjadi lebih konsisten sebagai penikmat kopi hitam. Karena produk-produk kopi daerah itu jugalah, seleraku akan kopi menjadi sedikit lebih tinggi, dan hanya kopi Kapal Api-lah yang sesuai dengan standar baru ini, enggan berpindah lagi ke lain kopi.

Kopi, menulis, dan perjalanan sepertinya akan menjadi 3 hal yang terus bertahan di dalam kehidupanku. Ketika harus melewati malam di dalam kereta api, atau saat harus menyapa pagi di dalam burung besi yang melintasi negeri, kopi selalu menjadi kawan yang setia menemani. Bagaimana denganmu, ada cerita apa antara kau dan kopi? Setuju ‘kan kalau Kapal Api adalah produk kopi instan terbaik di Indonesia? Silakan bagikan pendapatmu di kolom komentar. Karena #KapalApiPunyaCerita, aku selalu menanti saat pagi tiba, menunggu kisah dan inspirasi apa yang akan ia bangkitkan bersama terbitnya sang surya. Selamat ngopi! 🙂

Iklan

78 komentar

  1. Aku malah semenjak main ke Takengon, sekarang kalau minum kopi, itu selalu tanpa gula, dan kopinya harus kopi hitam. Paling favorit ya kopi hitam yang disaring pakai driper itu. Selera sih ya,

    Namun tetap saja, kafein pada kopi memang mendorong produktivitas bagi saya, terlebih saat harus beradu dengan papan ketik, ahahah

    1. Nah, kayaknya pengalaman perjalanan itu memang mempengaruhi gaya ngopi kemudian ya. Kebetulan di Lasem dan Pontianak masih pake gula penyajian kopinya, jadi untuk soal ini, masih belum berubah 😀

      1. Kapan deh coba sempatkan ke Takengon, nanti saya kasih tahu sebuah kedai di tengah kebun kopi yang memang berasa napak tilas sejarah kopi di Aceh, seru buat belajar sembari menikmati kopi. Dan yang pasti bisa buat konten panjang….ahahha.
        Ah, aku jadi ingat kalau draftnya belum aku selesaikan, wkkwkw

      2. Aceh udah di list nih, mas. Semoga bisa segera ke sana.

        Wkwkwk ayo gek dirampungke mas

      3. Kalau ke Aceh kabari ya kak Nugie. Kopi takengon memang tak tergantikan.

      4. Siap kak. Meet up yak hehe..

  2. Wuih, salam peminum kopi saat sedang nulis bang. Kebiasaan kita sama, walaupun brand kopi instant kita berbeda kiblat. Hehehehehe 😀

    1. Haha, salam peminum kopi! Udah cobain Kapal Api tapi?

      1. Udah, kok bang. Sering juga kok.

      2. kopinya kapal api itu khas.

      3. Yup. Dan cocok sama gue.

      4. Intinya, kita suka kopi bang. Hehe

  3. kopo mmg bikin candu,

  4. kopi memang bikin candu

      1. suka kopi apa nih?

      2. Kopi item sama kopi susu bro

  5. khairulleon · · Balas

    Beruntunglah bagi mereka yang suka kopi.
    kadang banyak ide yang dihasilkan dari secangkir kopi.
    unofrtunately, aku tidak terlalu menyukai kopi.
    Thats why aku ga ikut lomba kapal api karna bingung mau bahas apa haha.
    Eh ini beneran buat lomba kan muehe
    Moga menang ya kang lombanya, tulisan ini layak jadi juara.

    1. Gak suka kopi atau gak bisa minum kopi kak?
      Iya buat lomba hehe. Makasih doanya 🙂

      1. AKu suka kopi, tapi kalau ada pilihan lain aku lebih baik milih yang lain kitu

      2. Oh, jadi “doyan” aja ya, bukan “suka”. Kalo suka, meski ada pilihan lain, kopi tetap menjadi pilihan utama 😀

  6. Wah sudah sempat berkunjung ke daerah yang khas dengan kopinya juga..mantap deh.Moga tulisannya menang ya.

    1. Amin. Semoga juga bisa segera ke daerah kopi lainnya ya, seperti Aceh, Bangka, Lampung, NTT, sampai Toraja 🙂

  7. wah, masih betah pakai infinix, jangan lupa di Bandung banyak kedai kopi jadoel yang wajib didatengin, kaya kedai kopi purnama sama pabrik kopi aroma.

    1. kedai kopi purnama udah dong, ehehe. ini infinix baru bang, yang lama ilang di myanmar 😦

  8. Saya minum Kopi sesekali. Enak kalau buat temen nongkrong. Cuman suka denger atau baca cerita soal Kopi. Banyak banget ternyata kisah dibalik secangkir Kopi.

    1. Jadi doyan aja tapi nggak fanatik ya

      1. Kadang buat gegayaan juga sik. Hehehheh

      2. Hahaha, kopi adalah gaya hidup!

  9. Wakakka..bener banget.. kopi dan menulis itu jadi satu. Kayaknya salah satu masalah terbesar kalau lagi gak ada ide, adalah karena belum ngopi.
    Btw, selain daerah2 diatas, ada yg kurang.. Kak Nugi harus dateng ke Aceh. Biar merasakan dunia dalam warung kopi…

    1. Siap, kak! Aceh is on my top list.

  10. Yang dari dulu sampai sekarang nempel di otak itu tagline “Kapal Api, jelas lebih enak”. Karena itulah, kalau beli kopi, saya pilih Kapal Api.

    1. Dan emang terbukti Jelas Lebih Enak hehe

  11. Suka kopi, tapi gak hobby2 amat. Belum bisa bedain jenis2 kopi, tapi bakal tahu kopi enak apa nggak biasanya dari aromanya 😂
    Kalo di kantor ada yg lagi nyeduh kapal api langsung deh pada nengok, sedap bgt dr aromanya aja.

    1. Aroma kopi itu emang nular banget, hehehe.

  12. Karyamu dan kopi itu sama aja, Bikin candu.! Seperti ampas kopi yang tak pernah terbalas dan tak pernah terteguk membekas dalam gelas

    1. aihhhh cakep banget kata-katanya vroh!

  13. Aku sudah engga kuat minum kopi. Dulu, zaman-zaman kuliah dan masih gendut, kapal api dicampur susu kental manis adalah pacar banget deh. Kangen kalau ngga minum sehari-hari.

    sekarang takut minum kopi lagi. Bisa-bisa enggak tidur. Soalnya, bukan baru satu atau dua kali mengalami hal sulit tidur itu, nyaris setiap habis ketemu orang yang ngajak nongkrong di warung atau gerai kopi, baru bisa tidurnya besok paginya

    1. (((masih gendut)))

      Kok aneh ya, biasanya kalo orang udah biasa ngopi, lama-lama dia akan kebal sama efek kafein-nya. Kayak saya haha. Kalo gitu jangan ngopi malem-malem mas.

  14. Asik banget lah udah banyak kopi yang dicicipi. Waktu ke Lasem katanya ada juga kopi pangku..

    1. Baru 3 itu haha. Eh serius ada kopi pangku di Lasem? 😂😂😂

  15. dulu pernah tertarik dengan kopi lelet, krn bukan perokok dan bukan peminum kopi tapi saya suka aroma kopi. Kak Nugi boleh tanya ga, pemilihan kata “aku” atau “gue” dalam tulisan kak nugi berdasarkan apa ya?Mood kah? hihi *nanya iseng

    1. Iya koh, berdasarkan mood dan suasana ceritanya.

  16. Secangkir kopi tak pernah gagal membangkitkan inspirasi ketika aku menulis seorang diri.

    (((seorang diri)))

    😝

    Di rumah bapak juga suka minum kapal api loh…. Suka yg sasetan kecil2. Gak mau yabg gede2 apalagi yang bungkus gede. Kata ibu biar gak ribet nakar2nya lagi.

    Btw itu gmn ya rasanya rokok yg dilumuri ampas kopi? Baru tahu itu.. Blm pernah nyoba juga. Bisa bikin sendiri kali ya…. Besok2 nyobain ahhh….

    1. Nah iya, sama kayak ibuku di Jogja juga suka beli kemasan Kapal Api yang kecil-kecil.

      Kopi Lasem beda sama kopi lainnya, mas. Ampas kopinya lembuuuttt. Makanya bisa dileletkan di batang rokok.

  17. Ku tak suka kopi dan nggak bisa minum kopi. Sukanya cuma nongkrong di warung kopi ngecengin mas barista #eh hihihihi, enggak ding. Seumur-umur minum kopi yang beneran ya pas ke Belitung. Kerjaannya nongkrong di warung kopi, pesennya kopi susu sama telur rebus setengah matang. Selain itu nggak punya pengalaman ngopi.

    1. Kopi susu sama telur rebus setengah matang sounds good banget kuwi, mbak! (iki bahasa apa sih campur-campur)

  18. Aku ga ngopi tiap hari tapi pasti menikmati momennya kalau lagi ngopi. kalau soal rasa enakan kopi kedai gitu sih tapi ya harganya emang bikin terharu kalau keseringa ke sana hahaha…. jadi ya emang kopi instan pilihan yang pas. Pas di dompet pas di lidah ;D. Kopi kapal api emang legend banget dah masih eksis. Buatku kayak pelopor kopi kemasan sachet.

    1. Ngopi di kedai mending kak, kopi hitam cuma belasan ribu. Kopi di cafe atau coffee shop (kedai ala Western) itu yang harganya mencekik, hahaha. Bapak ibu di rumah juga sukanya kopi kapal api nih, khususnya yang sachet kecil hehe.

  19. Dulu sewaktu masih ngerokok, sering sih ampas rokok kutaruh di batang rokok hahahhahah. Sebelum ada rokok yang bau kopi

    1. Sekarang udah nggak ngerokok, mas? Keren! Tularkan, hehe 😀

  20. Walau bukan ahli kopi dan tahu rasa kopi hanya manis dan pahit, hampir bisa dikatakan, kopi adalah sahabat saya. Biasanya saya akan minum kopi di sore hari, saat tubuh mulai capek tapi pekerjaan masih banyak, butuh banget untuk angkat mod dan semangat…

    Kesukaan saya adalah kopi tubruk hitam 🙂

    1. Aku biasanya pagi, mbak. Kadang sore atau malam kalau cuaca mendukung, hehe.

  21. kopi merupakan salah satu oleh2 yang saya bawa, karena banyak daerah yang punya kopi khas daerahnya.. tapi saya sendiri bukan penikmat kopi karena perutnya ga kuat,…

    1. Makanya pengen eksplor Indonesia salah satunya buat icip ragam kopinya nih, mas.

  22. Aku biasanya minum kopi kalo pas suntuk nulis kak :))

  23. Mesra Berkelana · · Balas

    Dulu waktu SD pertama kali suka kopi ya gara-gara nyobain kapal api bikinan mbakku, kebetulan mbakku setiap sblm berangkat ke gereja pasti bikin kopi dulu, eh lama-lama kok jadi ketagihan sampai skrg.

    Cita rasa kopi emang luar biasa, kalau menurutku semakin pahit semakin dapat rasanya. Eh semenjak tinggal di Jogja skrg jadilah aku srg ngopi karena kedai kopi di Jogjapun menjamur begitu banyak.

    1. Wah, Kapal Api jadi memori, Kapal Api bagian dari nostalgi 😀

      Dari ikut-ikutan jadi seneng beneran ya.

  24. Enakan kopi kapal api atau kopinang dia dengan bismillah, Mas? #eh

  25. Enakan kopi kapal api atau kopinang dia dengan bismillah, Mas? #eh

    1. kopi-kir sendiri aja deh 😀

  26. Hendi Setiyanto · · Balas

    pengin ikutan, tapi aku bukan pecinta kopi jadi bingung, sesekali ngopi sih tapi ya sebatas pengin aja

    1. Haha, dibisa-bisain aja broh! 😀

      1. Hendi Setiyanto · ·

        semoga…

  27. Kok racikannya ‘ngeri’ banget sih ini. Menurutku lho hehehe. Aku kalo ngopi gulanya dikit banget. Dan berusaha sebisa mungkin, meski harus begadang atau mengerjakan sesuatu, tidak selalu bergantung pada kopi. Tetep sih minum kopi, tapi gak selalu. Konon, pamanku yang habis operasi batu ginjal itu, menjelaskan analisa dokter kalau batu ginjalnya sebagian besar dari kafein yang mengendap (tidak terproses dengan sempurna) di saluran ginjal. Jadi, saranku, banyakin juga minum air putih dan olahraga 🙂

    1. Iya bener mas. Temenku juga kena pengentalan darah karena kebanyakan kopi. Emang perlu diimbangi dengan air putih banyak nih 🙂

  28. Katro banget nih aku.. Kopi kapal api slalu aku beli tiap belanja bulanan. Beli utk nyetok sebulan pula. Tp sayangnya bukan utkku :p, melainkan babysitter anak2 yg memang hobinya ngopi mas :D. Kdg suka tergoda sih kalo nyium wangi kopinya pagi2. Aku jd pgn nyicipin, seenak apa sih kapal api ini 😀

    1. nah, sesekali ngopi bareng deh ama mereka, biar makin ikrib 😀

  29. Kopi? Minum sih. Tapi gak lope-lope amat. Ada ya bikin, atau minum. Gak ada juga gapapa.

    1. Jadi sekedar doyan aja ya 😀

  30. Benerr… saya juga sempet beli Kopi Kapal Api sachet dan hasil seduhnya pas bangett… 😀

  31. Emang paling enak nulis sambil ngopi ya Mas

  32. Ngopiiii ??? Beda Orang Beda Sensasi wkwkwkwk

    Lope lope Kopi

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: