Dua Obyek Wisata Menarik di Gerbang Timur Shwedagon Pagoda, Yangon

Pernah nggak kamu menemukan satu (atau banyak) obyek menarik dalam perjalanan menuju tempat wisata? Kalau kamu memang berjiwa petualang, pasti pernah. Gue, salah satunya, mengalami hal ini dalam hari kedua perjalanan gue di Yangon, Myanmar. Dalam itinerari hari itu, seharusnya Shwedagon Pagoda menjadi tempat pertama yang kami kunjungi. Tapi rupanya saat berjalan kaki dari pemberhentian bus menuju kuil berusia 2.500 tahun itu, gue melihat ada sebuah kuil kecil yang gue nggak tahu namanya.

Dari arah kedatangan kami, kuil itu berdiri di sebelah kanan Gerbang Timur (Eastern Gate) Shwedagon Pagoda. Belakangan gue baru tahu, bahwa nama kuil itu adalah Kyaye Thune (Kyay Thoon) Payagyi atau yang berarti Bronze Buddha Image Temple. Lokasi tepatnya adalah Gyar Tawya Street.

the gate of kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

entering the main shrine of kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

left: a smaller shrine
right: relief inside the main temple

Nggak ada tiket masuk buat masuk kuil ini, namun kami memberikan donasi di kotak yang sudah disediakan di pintu gerbang utama. Pintu gerbangnya sendiri bermahkotakan 3 atap berundak khas Burma yang berwarna emas (entah emas murni atau bukan, gue nggak tahu), “pyatthat”. Di situ jugalah kami harus melepaskan alas kaki kami.

Pintu gerbang dan kuil utamanya dihubungkan dengan sebuah jembatan dengan pagar berwarna merah di kedua sisinya. Jembatan itu membentang di atas sebuah kolam ikan koi yang airnya berwarna kehijauan. Sebelum mencapai kuil utamanya, jembatan bercabang 2 untuk mengantarkan pengunjung menuju sebuah kuil kecil di sebelah kanan jembatan.

Nggak banyak informasi yang gue dapet soal kuil ini, selain bahwa ia sudah mulai dibangun tahun 1911 dan selesai tahun 1912. Nggak ada panel-panel informasi. Gue coba menghampiri seorang nenek yang duduk di bilik “layanan pelanggan”, but unfortunately she speaks a very few English. Gue pun undur diri sambil melempar senyum. Untung nenek itu membalas dengan sebuah senyuman ramah dan penuh kehangatan. Kalo nggak, bisa-bisa gue patah hati karena senyum gue nggak berbalas. #eh #anaklebay #anakbaperan

Yang pasti, suasana di dalam kuil sangat tenang. Sepertinya hanya kami yang menjadi the only tourists di kuil itu, warga lokal pun nggak banyak. Oh iya, perlu Travelearners tahu, kuil-kuil di Yangon (mungkin juga di seluruh Myanmar) itu memang bebas dari sampah, tapi lantainya agak berdebu. Ini termasuk Shwedagon Pagoda yang notabene kuil besar dan megah itu ya. Jadi, jangan ngedumel kalau selesai temple hopping, telapak kaki kalian menghitam kayak ketela pohon.

at the back of kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

inside the kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

devotees of therravada buddhism at kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

buddha images in kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

inside the kyaye thune (bronze buddha image) temple, yangon

Usai dari kuil Kyaye Thune atau Kyay Thoon itu (aksara Burma, juga Thai, kadang memang nggak memiliki pola penerjemahan ke huruf latin yang jelas), barulah kami ke Shwedagon Pagoda.

Ceritanya bisa dibaca di: Tips Hemat Mengunjungi Shwedagon Pagoda

Puas (lebih tepatnya, kecapekan) dengan Shwedagon Pagoda, gue dan Ricky melanjutkan ke obyek wisata selanjutnya: Kandawgyi Park and Lake. Kami tinggal berjalan kaki menuju pemberhentian bus, lalu berjalan melalui jembatan penyeberangan yang disediakan. Suka banget sama jembatannya, karena dilengkapi dengan eskalator ke atas.

Dari hasil browsing di internet, gue mendapat informasi bahwa untuk memasuki taman ini kami harus membayar ongkos 2000 Kyat atau 2 USD. Nah, saat kami berjalan menyusuri salah satu sisi taman itu yang panjaaaaaang nggak abis-abis buat mencari pintu masuknya, kami menemukan sebuah restoran bernama Signature. Kami lihat, restoran itu punya lahan parkir yang terhubung dengan Kandawgyi Park. Ya udah, kami pun berjalan santai melalui lahan parkir, lalu sekejap kemudian sampai di area taman. Nggak ada loket tiket di situ, hahaha. Eh ini beneran nggak sengaja lho, karena gue juga udah nyiapin ongkosnya kok. Traveler’s luck maybe 😀

Ricky kayaknya kelelahan, atau mungkin nggak terlalu tertarik sama taman, atau kombo keduanya. Jadi sementara gue bersemangat menghampiri salah satu cabang jembatan kayu, pria asal Sumatera Utara itu lebih memilih duduk-duduk santai di sudut itu.

heavy traffic of yangon, kandawgyi park is on the right

wooden bridge of kandawgyi park & lake in yangon

kandagyi park & lake, a greeny getaway downtown yangon

high rise buildings under construction in yangon

Total luas Kandawgyi Park ini lebih dari 105 hektar! Kebayang nggak tuh luasnya? Dari Google Maps aja taman ini udah keliatan luaaasss banget. Dari total luas itu, sekitar 60 hektarnya (lebih dari setengah total luas taman) diisi oleh Kandawgyi Lake. Kalau kamu ke Yangon, menurut gue wajib mampir ke taman agung ini. Kandawgyi Park dapat dinikmati dari sesubuh jam 4 pagi sampai jam 10 malam.

Gue berjalan menyusuri salah satu cabang jembatan kayu di Kandawgyi Park. Iya, karena Kandawgyi Lake-nya luas, jadi jembatan kayunya nggak cuma satu, tapi ada banyaaakkk. Jujur, jembatannya agak menakutkan karena beberapa bilah kayunya udah lepas. Makanya, gue langsung mengurungkan niat buat berjalan di jembatan-jembatan lainnya. Apalagi, jembatan-jembatan itu sepi, kalau misal terjadi insiden, nggak ada yang bisa dimintai tolong.

Pelancong dan pribumi — eh, maksudnya warga lokal — berbaur di Kandawgyi Park ini. Ada remaja-remaja putra yang duduk-duduk di tepi jembatan sambil ngemil, minum-minum, dan dengerin musik dari spiker handphone (Indonesia banget nggak sih?). Ada yang pemotretan di jembatan kayu. Banyak yang duduk-duduk santai, beberapa bahkan menggelar tikar, di tepi Kandawgyi Lake. Di sudut taman, ada sekelompok pemuda bertelanjang dada yang lagi main futsal.

Sayang, Kandawgyi Lake sendiri nggak sebersih yang dibayangkan. Di sudut-sudut danau itu, ada sampah-sampah modern yang dibuang oleh orang-orang nggak bertanggung jawab. Juga ada makhluk-makhluk kecil di dalam air, gue nggak tahu itu apa, yang memang biasa gue lihat di tempat-tempat berair kotor. Mirip-mirip Danau Sunter.

Kalau haus, ada pedagang asongan yang menggelar lapaknya di beberapa titik, salah satunya adalah seorang wanita paruh baya di ujung jembatan kayu. Kalau kebetulan Travelearners belum membawa bekal minuman, boleh banget beli dari ibu-ibu itu dengan memberi uang lebih 🙂

Saat sore tiba, gue menghampiri Ricky yang masih bertahan di tempatnya semula. Ricky ingin mengunjungi Bogyoke Aung San Market petang ini. Sebenernya gue belum puas mengeksplor Kandawgyi Park, sementara kita juga masih punya hari esok. Tapi karena dia pengen banget beli batu mulia, dan mukanya udah melas banget, jadi gue turuti kemauannya.

Kalau kamu punya waktu dan stamina lebih, Kandawgyi Park and Lake ini menjadi satu dengan Bogyoke Aung San Park dan Karaweik Palace yang ikonik itu. Karaweik Palace sendiri adalah sebuah restoran mewah dengan harga (menurut ulasan TripAdvisor) overpriced yang menempati sebuah bangunan megah bak istana. Yah, kalau kamu uang sakunya berlebih, atau mau ngajak kesayangan kamu makan malam romantis, silakan cobain Karaweik Palace.

young yangonites playing futsal in kandawgyi park

yangonites and burmese having picnic in kandawgyi park & lake

the large lake of kandawgyi park, yangon

a fountain in kandawgyi park & lake, yangon

Kami kembali menaiki bus YBS no. 36 ke pemberhentian bus Sule Pagoda. Bedanya, kali ini kami berhenti di pemberhentian bus Sule Square, lalu berjalan kaki dengan Bogyoke Aung San Market. Dalam perjalanan antara halte bus dan pasar itulah, gue kehilangan hape gue yang menyimpan banyak foto berharga itu, hahaha. Andai kami nggak ke Bogyoke Market sore itu, mungkin kejadiannya akan berbeda ya. Mungkin itu sebabnya gue tadi merasa masih ingin berlama-lama di Kandawgyi Park lalu pulang ke hostel buat beristirahat.

Klik untuk membaca cerita-cerita lainnya di Yangon, Myanmar:
Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar

15 Things You Should Know About Yangon, Myanmar

Space Boutique Hostel: Recommended in Yangon, Myanmar

Mengunjungi 10 Tempat Wisata di Dekat Sule Pagoda, Yangon

Ya sudah, yang terjadi biarlah terjadi. Inti cerita perjalanan hari kedua ini, Kyaye Thune / Kyay Thoon Bronze Buddha Temple dan Kandawgyi Park / Lake di Yangon boleh kamu kunjungi kalau sekiranya punya waktu senggang di Yangon. Kandawgyi Park-nya bisa kamu jadikan tempat beristirahat setelah seharian menjelajah Shwedagon Pagoda, sebelum kembali ke penginapan. Tunggu cerita selanjutnya ya 🙂

Iklan

37 komentar

  1. Kak, saya jatuh cinta sama Kuil Kyaye Thune. Detailnya indah dan membawa nuansa magis.

    1. nah kan, aku juga langsung kepincut pada pandangan pertama

  2. Walau pagoda nya kecil namun ceritanya juga telah melewati sejarah ribuan tahun. Itu mungkin yang membuat rasa berbeda kala kita memasuki pagoda di Myanmar ini. Ada aura masa lalu di samping Aura ketuhanan yang amat lekat dan menimbulkan rasa sejuk saat kita berada di dalam

    1. Iya, mbak. Kecil tapi usianya sudah tua juga.

  3. Bangunannya terawat ya.walau banyak debunya..

    Eh,anak2 muda sana nongkrongnya sambil muter2 lagu EDM gak kaya anak muda disini?

    Itu yang dimainin sekelompok pemuda bukannya sepak takraw ya?

    1. iya, mas. kalau soal perawatan kuil, mereka masih oke.

      jujur, aku nggak tau apa itu EDM hahaha.

      nah, aku ini emang jarang banget mainolahraga bola. jadi itu sepak takraw ya? 😀

      1. Indonesia harus belajar tuh ya.

        Itu loh musik elektronik alias Dj-dj an yang lagi ngehits jaman now.. 😂😂😂

        Wah..saya juga jarang olahraga.tapi itu takraw dulu jadi salah satu materi pas olahraga.

      2. oh, I see. makasih pencerahannya haha

  4. lihat yang lagi main voly kayaknya menyegarkan.

    1. ehem, liat apanya nih 😛

  5. Soal sampah ternyata di sana masih ada juga ya ternyata.

    1. Ada, mas. Myanmar mah masih di bawah kita perkembangannya.

      1. Eh iya juga sih, masalah sampah ku rasa akan berakhir bila akarnya: kita bisa mulai menambah kesadaran soal pencemaran lingkungan. Hihihi.. 😀

      2. kebersihan itu kuncinya satu: nggak egois. memikirkan dampaknya pada sesama dan pada lingkungan.

  6. Kalau lokasinya menarik kek gini, pengen foto-foto mulu. Lalu, duduk-duduk di taman sambil memandang danau terasa seger ya.

    1. duduk-duduk ala piknik gitu ya 😀

  7. Kuli kecil tapi interiornya bagus ya. Lantai berdebu gpp asal jangan patung dewa dewinya ikutan berdebu

    1. iya koh, lantai berdebu tanda banyak warga lokal yang berkunjung 🙂

  8. Itu kenapa lebih suka jalan kaki ketika menuju suatu tempat kalau lagi jalan-jalan ke negeri orang. Nugiee … kandawgyi park & lake keren euy, rasanya terbayang serunya jalan-jalan sore di tempat tersebut.

    1. hehe, menikmati angin sore sambil nunggu sunset gitu ya, atau taichi-an 😀

      1. Yup benar banget … nikmati sunset gituh. Oh, ya ngomongi Taichi-an, aku sempat nyasar di sebuah taman waktu di Bangkok pas jalan pagi-pagi gitu, dan lihat oma – oma lagi taichi. Seru !

      2. Ñah, aku malah belom pernah mampir ke taman-taman di Bangkok. Pengen ke sana lagi nih.

  9. Tamannya cocok buat nongkrong sore sore. Ngegalau. Wkwkw

    1. dasar galau traveler, hahaha

  10. Gilee luas banget tamannya. Gue tahu luasnya segitu, mending gelar tiker trus tiduran di bawah pohon aja daripada keliling 😀

    1. haha udah kayak hutan kota sih

  11. Kuil Kyaye Thune nya bagus banget. Kalau Park nya gede banget 150 hektar. Boleh naik sepeda gak sih ? atau ad sewa kuda gitu ? tampak luas banget. Btw disana pakai kartu apa Gi ? Bisa lancar internetan

    1. Nggak ada persewaan sepeda apalagi kuda sih, hahaha. Aku pake Ooredoo, mas.

  12. Gak ada foto selfienya?

    Aku kalau ke situ kayaknua lebih milih duduk di pinggir danau sambil bikin puisi… Sendiri. Tentu saja. Wkwkwk

    1. adaaaa tapi hilang karena hapenya dicopet 😦

  13. selalu excited ngeliat patung2 yang beragam gtu.. mengingatkan aku dengan Burmese Temple yan di Penang patung2nya…
    Btw itu kayaknya lg pada maen sepak takraw deh.. hehehe…

    1. Aku nggak pernah main sepak takraw jadi nggak tau, hahaha. Makasih infonya.

  14. Kandawgyi park and lake ini mirip seperti danau UI ya 😱

    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

    1. Mirip ya? Aku belom pernah sih ke danau UI hehehe

  15. klw saya lbih suka laut dari pada danau apa lagi klw airnya bersih berwarna kebiru biruan gimana gitu..

    1. hehe, bener. tapi kalau danaunya juga kece kayak danau toba, suka juga kan? 😀

  16. […] halnya Kandawgyi Park & Lake, informasi di internet juga bilang kalau masuk ke Chauk Htat Gyi Pagoda membutuhkan tiket masuk […]

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveller

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: