Pengalaman Tinggal di Sumatera Selatan, Jadi Anak Kost di Palembang

Setelah Jogja, Bandung, Jakarta, dan Cirebon, ada satu kota lagi yang akan gue tambahkan ketika dihadapkan dengan pertanyaan, “Pernah tinggal di mana aja?” 

It’s Palembang.

Kalau diakumulasikan, gue tinggal di Palembang (dan daerah pinggirannya) selama 2 bulan. Bulan pertama di April-Mei 2021 saat masih berpacaran dengan Ara, bulan kedua di Agustus-September 2021 saat jelang prosesi lamaran/seserahan kami. Jika di kesempatan pertama gue tinggal di rumah Ara di kab. Banyuasin, maka di kesempatan kedua gue jadi anak kost tengah kota Palembang.

Gue akan mulai bercerita dari pengalaman tinggal di kota Palembang dulu sebagai anak kost.


Jadi Anak Kost di Palembang

Harga dan Fasilitas Kost di Palembang

Pencarian kost kami mulai di Instagram. Dengan keyword “kost palembang”, udah ada seabrek akun yang muncul. Singkat cerita, kami memilih sebuah kost yang ada di bilangan Pakjo, Palembang. Kami berminat dengan kamar kost termurahnya yang hanya seharga Rp850 ribu per bulan meski kamar mandi luar dan tanpa AC. Secara garis besar, standar harga kost di Palembang memang lebih mahal daripada di Jogja bahkan Bandung sekalipun.

Gue mengirimkan pesan melalui DM Instagram yang lalu dilanjutkan di kanal WhatsApp. Tanpa ragu, gue pun mengirimkan sejumlah dana untuk uang muka sesuai permintaan pihak kost. 

Tak dinyana, gue gagal berangkat sesuai jadwal yang sudah direncanakan karena hasil tes swab PCR gue masih positif. Uang DP kost harus direlakan hangus. 

Singkat cerita, gue tiba di Palembang di pertengahan Agustus 2021 yang seharusnya akhir Juli 2021. Perjalanannya pun tak biasa, karena harus berjam-jam naik kereta api, bus, dan kapal ferry dari Yogyakarta, baca ceritanya di tulisan sebelumnya. Kami tiba di tengah hari yang terik setelah semalam sebelumnya menginap di Batiqa Hotel Palembang.

Pemukiman penduduk di sekitar kamar kost gue di Palembang
Potret perkampungan yang padat penduduk di Palembang

Ternyata, calon kost gue ini memiliki 2 bangunan yang terhubung oleh sebuah gang kecil. Bangunan yang menghadap jalan raya difungsikan sebagai penginapan atau kost harian, dijajakan di virtual hotel operator seperti RedDoorz atau OYO Rooms. Bangunan untuk kost bulanan ada di belakangnya. Sayangnya saat kami tiba, tipe kamar Rp850 ribu sudah penuh, kami ditawari kamar seharga Rp1,3 juta. Karena udah capek dan males cari-cari, gue terima ajalah. 

Apa saja yang ada di dalam kamar seharga Rp1,3 juta ini? Sepetak kamar kira-kira 2×2.5 meter, ranjang berkaki, lemari baju kayu yang proper, fan ceiling, wifi, TV layar cembung, kamar mandi dalam dengan cermin dan WC duduk (meski tanpa watergun). Ada dapur bersama dengan tabung gas dan beberapa peralatan memasak yang disediakan pihak kost, common room, dispenser air minum, rooftop yang walaupun sekedarnya tapi lega, ruang parkir, dan 3 staf piket yang ramah dan helpful.

Fasilitas kamar kost gue di Palembang

Jujurly, kamar tanpa AC di Palembang itu nggak enak wkwkwk. Ditambah, kondisi kamar ini berada di dalam gedung, bukan kamar berderet yang langsung menghadap ke luar (tapi memang jadi lebih aman). Makanya gue suka kalo Palembang hujan deras seharian. Gue juga suka nongkrong di rooftop malem-malem buat cari angin, sambil ngopi-ngopi dan overthinking.

Sayangnya, kamar tak dilengkapi dengan meja dan kursi kerja yang proporsional. Ada meja, namun hanya setinggi 50 cm. Saat bekerja, meja gue pepetkan ke kasur dan gue duduk di kasur. Nyaman? Beberapa menit pertama, iya. Lama-lama boyokku pegel dan kasurnya mblesek hahaha. Anehnya, yang kamar kost harian malah punya meja dan kursi kerja proporsional.


Lokasi dan Lingkungan Kost Gue di Palembang

Puji Tuhan, nggak susah cari makan dan belanja kebutuhan sehari-hari untuk kost gue yang ada di Jalan Ir. Marzuki. Begitu keluar kost, ada Indomaret Point dan Alfamart. Gue pernah beberapa kali ngopi-ngopi di Indomaret Point itu saking butuhnya kesejukan dan suasana berbeda. Di samping Indomaret, ada ATM BNI. ATM bank lain seperti Bank Mandiri dan Bank Sumsel juga tinggal jalan kaki. Belum termasuk warung-warung kelontong yang ada di gang sekitar kost.

Gang di sekitar kost gue di Palembang

Tempat favorit gue beli sarapan adalah sebuah warung nasi kuning + nasi uduk yang juga menjajakan macam-macam jajanan pasar. Jadi, ada 3 opsi buat sarapan. Gue biasanya sarapan sekitar jam 8 pagi dan dine in, biar bisa diseduhin kopi hitam panas. Harganya murah juga kok, seporsi nasi kuning/uduk nggak sampai Rp10 ribu bila tanpa tambahan lauk apa pun. 

Siang hari, gue paling sering beli nasi ayam crispy di Indomaret Point hahaha. Lagi promo terus soalnya, nasi dengan sayap cuma Rp9.900,00. Sesekali beli nasi padang, bakso, atau order GOFOOD. Kalau malam ada lebih banyak opsi: pecel ayam goreng, nasi goreng dan teman-temannya, sate madura (cuma beli sekali karena nggak enak), dll. 

Andai kost gue lebih dekat dengan jalan raya (Jalan Demang Lebar Daun), gue akan sering wara-wiri dengan LRT Palembang. Begitu keluar Jalan Ir. Marzuki, langsung ketemu Stasiun LRT Demang Lebar Daun (dan Hotel Amaris). Tapi karena jarak antara kost dengan jalan raya lebih dari 1 km, gempor juga kalo jalan kaki, jadi harus tetep naik ojek atau angkot dulu ke stasiun.

Melihat jalan di depan bangunan kost dari balkon di lantai 2

Satu hal yang mungkin belum terfasilitasi adalah keberadaan toko swalayan atau department store. Biasa, sebagai anak kost baru, ada beberapa keperluan. Salah satu yang krusial adalah ember. Buat apa? Nyuci baju, ekekeke. Akhirnya gue buka Shopee cuma buat beli ember kecil 2 bijik 😅 Padahal kata Ara, ada yang jual juga nggak jauh dari situ, guenya aja yang nggak tahu. Hm, gue udah berusaha nanya juga sama ibu-ibu warung di depan kost. Dia menyarankan MM. Gue cek memang nggak jauh, tapi capek juga kalau jalan kaki.


Udara, Cuaca, dan Suasana Kota Palembang

Ara sering bilang sama gue, Palembang itu panas dan nggak ada anginnya. Poin panas bener sih, meski nggak selalu juga. Ada masa-masa di mana suhu di Palembang bisa nyaris sesejuk di Bandung, biasanya saat/setelah hujan deras, apalagi di area tempat tinggal Ara di kabupaten Banyuasin yang akan gue ceritakan di bawah. Tapi soal nggak ada angin, gue nggak setuju, karena menurut gue Palembang masih cukup berangin. Gue selalu menikmati momen-momen dari kota ke dusun (atau sebaliknya) setelah hujan dan saat gerimis. Sejuuukkk, bagai motoran di Bandung.

Oh, kalo soal kamar gue yang terasa panas, itu sih karena sirkulasi udaranya aja yang kurang bagus. 

Menikmati senja dan udara sejuk kota Palembang dari rooftop kost

Ada 2 hal yang menurut gue membedakan suasana di Palembang dengan di Bandung dan Jogja: lalu lintas dan keamanan di malam hari.

Walau nggak seekstrim di Sumatera Utara yang kendaraan kita lambat dikit aja diklaksonin tiada henti, lalu lintas di Palembang sudah tergolong keras! Sepeda motor dan mobil melesat dan nyelonong dari kanan dan kiri. Belum lampu hijau namun sudah diklakson sana sini. Yang paling mengesalkan adalah kendaraan yang keluar gang, atau tiba-tiba berjalan dari yang tadinya berhenti, atau sekonyong-konyong menyeberang, tanpa tengok kanan kiri. 

Pengalaman-pengalaman pertama gue boncengin Ara dengan sepeda motornya adalah momen-momen paling sulit. Gue mengemudikan motor bak siput yang merayap berlambat-lambat karena takut tiba-tiba ada kendaraan di depan yang berhenti, berpindah lajur, keluar dari gang, atau menyeberang. Gue juga masih takut menyalip kendaraan lain, karena takut ada kendaraan di belakang atau samping yang posisinya terlalu mepet atau lajunya terlalu kencang. Kalo di Jogja atau Bandung, gue bisa menyalip kendaraan-kendaraan tanpa melihat kaca spion dengan teknik “miring halus” 😅

Berjalan di sisi jalan tanpa trotoar adalah mimpi buruk bagi pejalan kaki. Mata harus awas setiap saat. Tak hanya ke depan, tapi juga samping dan belakang. Saat menyeberang, harus berani nekad sesekali. Otherwise, sampai subuh kamu juga nggak akan nyeberang-nyeberang.

Terkait suasana, Palembang sebagai sebuah kota besar tentu penuh hiruk-pikuk. Tapi meski begitu, kita nggak disarankan keluyuran larut malam atau dini hari sendirian. Ara berkali-kali mengingatkan gue soal ini. Palembang masih banyak begal, belum seaman Bandung atau Jogja. Yah, kalo cuma jalan ke depan buat cari cemilan larut malem mah, masih aman di daerah kost gue. 

Kiri: selfie di kamar mandi | Kanan: malem mingguan di tengah kota Palembang

Sekilas keramahannya serupa dengan di Bandung atau Jogja. Saat beli sesuatu di warung kelontong depan kost, gue diajak ngobrol oleh ibu warung, ditanyain tinggal di mana. Baru terlihat perbedaannya saat sudah ke ranah profesi atau melihat keseharian mereka secara penuh. Hospitality petugas hotel dan tempat makan berbeda dengan keramahan di Pulau Jawa. Terkesan judes, atau malah kayak ngomelin kita. Padahal, dia petugas hotel dari jaringan-jaringan ternama di Indonesia. 

Gimana dengan penghuni kost? Nyaris nggak ada yang beramahtamah, nggak ada yang repot-repot ngajak kenalan atau kasih sambutan hangat. Oh ya, kost gue ini kost campur. Mungkin pergaulan cewek dan cowok di Palembang nggak kayak di Bandung. Pernah sekali diajak ngobrol sama salah satu mbak penghuni kost, tapi itu cuma ngingetin soal perabot pribadi di dapur. Itu pun dengan nada ketus hahaha.

Pas kencan di Cafe Roca, tak jauh dari kost di Palembang

Ada satu cowok yang sempet beberapa kali papasan dan ngobrol sama gue. Dua atau tiga kali di dapur pas sama-sama masak (gue cuma masak air, of course), sekali ketemu di ATM. Mungkin kalo gue lebih lama di situ, kami akan berteman. Kami bahkan nggak saling bertukar nama, padahal gue sampe cerita bahwa keperluan gue di situ adalah untuk mengurus lamaran.


Jadi Anak Dusun di Kabupaten Banyuasin

Sinyal dan Infrastruktur

Oke, cukup cerita jadi anak kost-nya, sekarang gue cerita tinggal di “pelosok” Sumatera Selatan.

Sebenarnya, jarak dari dusun ini ke batas kota Palembang itu nggak jauh, namun perbedaannya sudah sangat signifikan! Rasanya seperti sudah berada di pelosok negeri. Di sini, gue melihat jomplangnya perbedaan antara infrastruktur Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Selama gue ngekost di kota, gue dan Ara biasanya main ke rumah saat akhir pekan, menginap 1 atau 2 malam tergantung suasana hati dan kondisi cuaca.

Jembatan yang menjadi tanda bahwa sudah dekat dengan rumah Ara di kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Akses yang hanya berupa jalanan koral atau tanah merah, yang kalo saat hujan atau setelah hujan akan menjadi sangat licin dan berlumpur. Sebaliknya, saat musim kemarau, jalanan akan kering dan sangat berdebu! Sebagian jalan itu juga diapit hutan karet dari kedua sisi, tanpa lampu jalan, membuat bepergian saat gelap sungguh tak disarankan. Tak hanya bahaya binatang liar atau hantu liar, tapi juga manusia-manusia liar. Kondisi ini kira-kira terjadi pada jarak 5 kilometer jelang rumah Ara. Bayangkan saat kami masih harus LDR, Ara sendirian naik motor bolak-balik kota-dusun. Nggak cuma berani banget, tapi juga kuat banget!

Di kesempatan-kesempatan pertama, gue membiarkan Ara yang memegang kemudi dan gue duduk di boncengan. Selain masalah rute yang rumit, juga belum paham sama sekali akan medannya. Bahkan sampai sekarang pun meski sudah berkali-kali jadi yang boncengin Ara, gue masih suka salak belok, khususnya di titik-titik tertentu. Tapi lama-lama, puji Tuhan gue sudah menguasai medan, bisa mengendarai motor sambil membonceng Ara melalui jalanan berlumpur tanpa terpeleset apalagi terjatuh. Selain keseimbangan, juga perlu dukungan ban dengan spek khusus, orang setempat menyebutnya dengan nama “ban tahu”. Ban dengan desain biasa mah, dipastikan bakal nggeblak, wkwkwk. Terkadang, misal saat gue kecapekan atau nggak enak badan, atau butuh motoran dengan kilat (karena kecepatan berkendara gue masih belum menandingi Ara), gue kembali membiarkan Ara yang menguasai setang.

Oh iya, masing-masing sisi jalan juga dibayangi oleh sistem parit alami dengan karakteristik tanah berawa. Saat musim kemarau, segelintir warga akan memanfaatkan air ini untuk keseharian mereka. Sementara keluarga Ara, seperti sebagian warga lainnya, mengambil air dari parit yang terletak jauh di dalam hutan agar lebih bersih dan layak digunakan. Itu kalau musim kemarau. Dalam keseharian normal, Ara sekeluarga menggunakan air hujan untuk mandi yang ditampung di semacam kolam besar, lalu disalurkan ke bak mandi. Tenang, untuk konsumsi sih pake air galon isi ulang kok.

Kira-kira seperti inilah kondisi jalan tanah di Banyuasin, Sumatera Selatan. Ini masih belum ada “apa-apanya”.

Listrik sudah masuk, yang masih susah adalah sinyal seluler. Yang berjaya hanyalah Telkomsel dan anak-anaknya, termasuk By U. Operator seluler lainnya, seperti XL dan Smartfren yang gue gunakan, die! XL masih mending, masih ada sinyal-sinyal EDGE di titik-titik tertentu. Smartfren yang benar-benar tak ada harapan. Telkomsel pun tak serta merta sentosa senantiasa. Saat hujan atau cuaca buruk, kestabilan sinyalnya pun hanyut bersama air hujan. 

Ini membuat gue terkendala saat harus WFH di rumah Ara. Gue hanya bisa bersandar dengan tethering ke hapenya, yang membuat gue merasa nggak enaaakkk banget. Kadang gue juga harus merelakan terputus sejenak saat Ara harus menjauh karena ada keperluan. Menjauh = bepergian, ehehe. Apalagi, gue nggak cuma pake internet buat kerja, tapi juga buat hiburan 😅 Nonton Netflix, Youtube, cek-cek medsos, semua butuh internet.

Jelas nggak ada minimarket, ATM, cafe, dan tempat-tempat modern serupa. Warung kelontong sih banyak, meski pilihan produknya juga tak banyak. Warung makan ada beberapa, tapi kami juga nggak pernah beli lauk atau makan di sana, setidaknya dalam periode kunjungan gue.

Kiri: sepedaan di jalan tanah berdebu | Kanan: mejeng di depan hutan karet, Banyuasin, Sumatera Selatan

Puji Tuhan, ada gereja, bisa jalan kaki dari rumah. Tapi yah, kecil dan peralatannya sederhana, jemaatnya juga sedikit. Mungkin lebih mirip kayak “musholla”-nya orang kristen daripada disebut gereja 😁


Tata Letak Rumah Ara

Denah di dalam rumahnya mengingatkan gue dengan rumah kerabat di pedesaan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada satu ruang bersama yang luas, difungsikan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Oh, bahkan juga sering jadi tempat tidur sekalian. Di sekelilingnya baru ada ruang-ruang lain: 1 kamar tidur yang biasa gue tempati, 1 ruang yang digunakan seorang tetangga untuk berjualan baju, dan ruangan-ruangan besar lain yang peruntukannya masih belum jelas karena masih berupa rumah-rumah baru setengah jadi.

Selayaknya rumah di desa yang mata pencaharian warganya ada di ladang, hutan, perkebunan, beternak, atau buka warung, nggak ada meja dan kursi kerja proporsional. Gue memang anaknya nggak bisa kerja dengan rebahan kayak Ara, harus duduk di proper working station. Hal ini kami coba fasilitasi dengan sofabed dan salah satu meja kayu yang tadinya ada di teras, tapi tetep nggak nyaman 😅 Selain mejanya ketinggian, sofanya lama-lama mblesek. Jadi maaf, Seruni, kalo selama di Sumatera Selatan kinerja gue menurun dan banyak males-malesannya.

Gue di rumah Ara, anak kecil itu adalah anak tetangga hehe

Kamar mandi ada di luar bangunan rumah, sekitar 10 meter berjalan kaki. Khas tata letak rumah di pedesaan kan? Gue sih nggak masalah. Berani-berani aja meski harus malem-malem ke sana. Paling jadi males gosok gigi aja karena udah mager di dalam rumah, hehe. 


Cuaca dan Suasana di Dusun

Karena di sekelilingnya masih banyak pepohonan, cuaca di dusun bisa sedingjn di Bandung saat atau setelah hujan. Pernah dua kali kami berkendara melalui jalanan dusun dalam kondisi dingin dan berkabut. Saat itu sudah petang, habis main seharian dari kota  Tapi saat cuaca cerah, wah, panas teriknya bisa bikin nangis nggak kuat saat harus jalan kaki di luar. Oh ya, karena tinggal di tengah hutan karet, nyamuk adalah masalah sehari-hari. Obat nyamuk, mau bakar atau semprot, adalah wajib! Gue selalu menyalakan obat nyamuk bakar di kamar saat sebelum tidur.

Di tengah jalan menuju rumah Ara di Banyuasin, jalanan kayak gini udah mending banget

Gue nggak paham ada apa antara gue dan dusun ini, tapi selama di sana, gue lemah dan sakit-sakitan. Pilekan, ingusan, dikit-dikit meriang. Entah karena di situ banyak kucing, partikel-partikel organik udara dusun, sirkulasi udara di rumah, atau gangguan makhluk gaib. Tapi begitu diajak keluar, gue kembali jadi sehat dan segar. Nggak usah jauh-jauh sampai ke kota deh, ke pinggiran landasan pacu atau ke salon aja udah nampak bedanya.

Namanya juga di dusun, jadi kehidupan warganya memang sangat kolektif. Siapa pun yang berpapasan di jalan, nyaris selalu bertegursapa meski nggak kenal siapa. Teras rumah Ara biasanya jadi basecamp bapak-bapak dan beberapa pemuda desa main gaple bersama Lek Mino. Mama, begitu gue memanggil ibunya Ara, biasa menyuguhkan mereka kopi hitam dan cemilan cuma-cuma. Gue dan Ara kadang bercanda, mereka yang lagi nggak ada makanan di rumah atau nggak dimasakin bini, bisa tinggal main ke sini 😂 Mama bisa cuan banyak andai beliau memberlakukan sistem membership card, hahaha. 

Jalan-jalan santai di sekitar rumah di Banyuasin, nah perhatikan tuh jalanannya yang jeblok
Motoran terus piknik ala ala di spot random sekitar dusun di Banyuasin, Sumatera Selatan

Kopi hitam panas adalah suguhan wajib dan umum saat bertamu. Bukan kopi hitam merek Kapal Api atau Nescafe, tapi brand lokal bernama Semendo. Takaran kopinya banyak per sajian, tapi juga diimbangi dengan takaran gulanya yang juga banyak. Ini adalah salah satu kebahagiaan kecil yang gue temukan selama tinggal di Banyuasin. Sebelum menikah, biasanya mama yang membuatkan, sekalian saat dia membuat kopi untuk dirinya sendiri atau Lek Mino. 

Oh ya, dusun ini adalah salah satu dusun sasaran transmigrasi, jadi ada banyak sekali orang Jawa di sini. Yah minimal mereka bisa berbahasa Jawa ngoko, bukan krama madya apalagi krama inggil.


Apakah gue mau tinggal di Palembang lebih lama? Jujur, buat gue nggak masalah. Cuacanya masih cukup nyaman. Gue juga udah bisa menikmati momen-momen berkendara belasan kilometer dari kota ke dusun dan sebaliknya.

Andai diberi kesempatan, gue pengen merasakan tinggal di kota-kota negara-negara tetangga. Nggak usah lama-lama nggak apa-apa, beberapa bulan aja udah cukup. Syukur-syukur kesampaian tinggal di setiap benua seluruh dunia! 

Kiri: bulan dari rumah Ara di dusun | Kanan: bulan dari kamar kost di Palembang

Kalian ada yang udah pernah tinggal atau mampir di Palembang juga? Share dong kesan kalian di kolom komentar. Oh iya, tulisan di atas murni berdasarkan opini dan pengalaman pribadi gue, pendapat yang lain (termasuk Ara sendiri) mungkin bisa sangat berbeda. Jadi, mari sharing, keep learning by traveling~

13 komentar

  1. kotanya hampir sama, masa kecil di palembang, medan, cirebon dan skrg bandung…:D

  2. Woaaah pengalaman yang luar biasa, mas Nugie 😁

    Seru banget bacanya, dari mulai pengalaman jadi anak kos di Palembang kota, sampai pengalaman naik motor menuju Desa yang jalannya ajluk-ajlukan 😆 By the way, kehidupan di desa dan kota terlihat kontras yaaah, kalau di kota orangnya cuek-cuek, while di desa, nggak kenal pun akan saling menyapa 😍

    Terus nanti rencananya mas Nugie dan mba Ara akan settle di Palembang, Bandung atau Jogja? Semoga di manapun berada, mas Nugie dan mba Ara bisa always kompak, yah 🥳

    1. Sekarang masih tinggal di Jogja, mbak. Tapi ke depannya untuk jangka lama mau tinggal di Bandung.

      Makasih udah mampir ya

  3. Sejauh ini masih dengar saja bg, belum pernah tinggal dan mampir di Palembang. 🙂 🙂
    Pada umumnya teman yang pernah tinggal disana bilang cuacanya memang panas.
    Terima kasih sudah berbagi,, jadi punya gambaran kalo seandainya punya kesempatan untuk menjajakan kaki di sana.

    Tersenyum senyum tadi waktu baca mengenai lalu lintas di sana “Walau nggak seekstrim di Sumatera Utara”. Semoga ini tidak membuat kapok ya untuk berkunjung ke Sumatera Utara.
    Di Medan, tempat tinggal saya memang masih kurang disiplin dalam berkendaraan, apalagi kalo ketemu dengan angkot… di gas kita…. hehhehhehehheee…

    1. Ahaha iya kok, nggak kapok ke Sumatera Utara. Malah belum puas dan pengen ke sana lagi!

      Makasih sudah mampir, Rose.

      1. Syukur deh.Senang mendengarnya..
        Ditunggu kunjungan nya bg..

  4. ainunisnaeni · · Balas

    baideweiii, congrats kaka nugie udah sampe tahap lamaran, lancar sampe hari H ya
    ternyata rumah Ara jauh juga ya, tapi menyenangkan juga melewati daerah dusun seperti ini,.. terutama buat aku yang keseringan tinggal di kota juga

    1. Puji Tuhan udah nikahan juga, Ai. Udah 3 bulan sekarang hehe. Thanks yaa

  5. Wkwkwkwkwk aku yakin indosatku juga mati di sana 🤣🤣🤣. Lah di rumah mama ku yg udah masuk kota, tapi pinggiran Medan aja sinyal lemah syahwat langsung 😄. Makanya aku pale tsel juga supaya lancar di desa2 terpencil 😅.

    Aku sekali ke Palembang mas, tapi masalahnya di kotanya. Sempet stay di Batiqa, tapi abis itu di rumah tantenya suami, itu juga masih kota. Jadi aku ga ngerasain yg sinyal lemot sih. Masih oke semua. Cuacanya juga enak2 aja. Aku pribadi seneeeeng bangettttt di Palembang. Siapa yg ga mau, kalo tiap saat bisa makan pempek enak dan murah 😄😄.

    Pokoknya selama di Palembang aku kebanyakan mah wiskul. Itu juga ga puas Krn msh banyaaak yg blm dicoba. Tapi memang kalo orang2nya, ga jauh beda Ama Medan sih yaaa. Namanya masih Sumatra 😅. Ga selembut di Jawa. Aku aja pas pindah ke Medan kls 3 SMU, dari Aceh, LGS shock Ama cara ngomong orang2nya 🤣. Di Aceh masih halus, sampe Medan LGS dibentak 😂. Jadi aku kebayang sih orang di pelembang gimana 😄. Tapi lama2 pasti terbiasa.

    1. Hahaha iya, mbak. Lama-lama terbiasa dan bisa menghadapi.

      Hoo mbak Fanny ternyata aslinya Aceh, baru lama di Medan ya. Sekarang masih kental nggak nih logat Medannya? 😁

  6. Pengalaman merantau selepas sma aku di palembang, selain makanan pedas, yg bikin kaget karena bahasa palembang banyak campuran bahasa jawa kayak banyu, wong, kidul, lawang 😀

    1. Iya mas, banyak campuran. Entah yang memang bahasa palembangnya, atau percakapan campur bahasa jawa dengan orang-orang turunan transmigran 😂

      1. Bahasa palembang asli memang campuran melayu o (kayak jambi, bengkulu) dan bahasa jawa, pengaruh kesultanan demak

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Khairunnisa Siregar's

Learn from yesterday, live for today, and hope for tomorrow

Jilbab Backpacker

Travel - Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap Perjalanan Punya Cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. Kuy, der!

LIZA FATHIA

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

witing lungo jalaran soko kulino

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Eviindrawanto.Com

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: