Selain Angkor Wat, Ada Apa Lagi di Siem Reap, Kamboja?

Bersepeda di Siem Reap (pemuda berkaos putih itu adalah Wataru Saito)

Bersepeda di Siem Reap
(pemuda berkaos putih itu adalah Wataru Saito)

Kalau ditanya, “Ada apa di Siem Reap, Kamboja?”, jawaban pertama dan utama yang langsung terpikirkan adalah ANGKOR WAT. Ya, situs warisan dunia tersebut memang menjadi daya tarik wisata utama untuk Siem Reap. Tapi kalau kamu bukan tipikal penggila candi yang gemar merenungkan sejarahnya siang dan malam, atau punya waktu lebih di Siem Reap, ngapain lagi dong di kota kecil ini?

Berbekal sepeda-sepeda lawas milik kakaknya yang disewakan kepada kami seharga 2 USD, Phearun mengajak kami bertiga — gue, Dicky, Wataru — bersepeda keliling kota mengunjungi beberapa tempat menarik yang ada di kampung halamannya ini. Memang ada apa aja sih? Apa yang kami temukan di kota yang masih berkembang ini?

Maka, pada tulisan SUPERTRIP 2 episode 10 ini, gue akan membagikan 7 hal yang bisa kamu temukan dan lakukan di Siem Reap, Kamboja, selain Angkor Wat.

 

Angkor Beer

Let us start with food and beverages category, okay? Deal. Udara Siem Reap yang panas terik memang nikmat didinginkan dengan.. sekaleng (atau sebotol) Angkor Beer! Produk minuman kebanggaan rakyat Kamboja ini dapat dengan mudah ditemukan di setiap tempat makan. Harganya juga murah banget, sekitar 1 USD untuk sekaleng Angkor Beer, bahkan bisa lebih murah lagi.

Sekaleng Angkor Beer

Sekaleng Angkor Beer

Maaf lho kalau poin satu ini langsung meruntuhkan imej gue sebagai traveler religi rohaniwan. *halah*

 

Amok

Kalau Thailand punya tom yum, Vietnam punya pho, lalu Kamboja punya apa? Kuburan? Jawabannya adalah AMOK. Ya, Amok adalah makanan khas Kamboja, namun juga dikenal di wilayah Thailand dan Laos. Amok merupakan nasi kukus yang disajikan dengan ikan, diguyur santan, disajikan dengan daun pisang atau bahkan di dalam buah kelapanya sendiri. Di rumah makan yang kami sambangi di kawasan Pub Street, Amok disajikan di dalam kelapa segar.

Cambodian Fish Amok

Cambodian Fish Amok

Rasanya? Hm, gurih, manis, asin, jadi satu. Unik! Oh ya, Amok juga tersedia dalam beberapa varian. Kalau nggak suka ikan, bisa diganti dengan ayam atau — ehem — babi. OMG.

 

Lok Lak

Cambodian Lok Lak

Cambodian Lok Lak

Nah, Lok Lak juga merupakan kuliner khas Kamboja lagi. Tapi, bentuk dan rasanya nggak seistimewa Amok. Secara sederhana, Lok Lak adalah tumis daging sapi yang dimasak dengan kecap dan beberapa saus khas Kamboja, disajikan dengan nasi.

 

Wisata Mistis di Killing Field – Wat Thmey

Yup, you read it correctly, dear: Killing Field, alias pekuburan massal. Jadi, nggak hanya Phnom Penh yang punya killing field di Tuol Sleng, Siem Reap juga punya, meski nggak sebesar dan semenyedihkan di Tuol Sleng.

Kuilnya sendiri, Wat Thmey, mungkin tampak biasa-biasa saja. Malah lebih asyik mengamati polah dan keseharian para biksu mudanya yang belajar agama dan ilmu lainnya. Namun, di halaman samping kuil itulah, kami menemukan monumen yang tampak berbeda dari monumen yang lain: monumennya berisi tengkorak kepala-kepala manusia!

Skulls!

Skulls!

Ada yang belum memahami latar belakang Kamboja? Negara kecil ini mengalami masa-masa mengerikan selama dekade 1960 hingga 1970-an saat kekerasan dan perang sipil pecah di mana-mana. Kekacauan negeri ini bahkan sudah dimulai sejak 1400-an saat bangsa Thai menyerang, dijajah kolonial Perancis pada 1863, hingga dikuasai rezim komunis Khmer Merah pada 1975.

Selama masa kekuasaan Khmer Merah, diperkirakan sebanyak dua juta orang dibunuh, atau sepertiga populasi negeri. Bayangkan, DUA JUTA ORANG! Alasan dibunuhnya pun sepele, dari yang menentang pemerintah berkuasa, tidak mau bekerja, sampai — dianggap terlalu pintar. Hold on, hold on. What?!

A featured story at Wat Thmey's Killing Field, Siem Reap

A featured story at Wat Thmey’s Killing Field, Siem Reap

Phearun bertutur, Kamboja dulunya adalah sebuah negeri yang maju, seperti Singapura pada saat ini, di mana setiap kotanya sudah memiliki bandara masing-masing. Namun, Kamboja kehilangan orang-orang cerdas dan berbakatnya karena kebodohan dan otoriter rezim Khmer Merah sehingga, bisa dilihat saat ini, Kamboja masih menjadi negara terbelakang di Asia Tenggara yang masih berusaha bangkit dari keterpurukan.

Memang, Khmer Merah berhasil ditumbangkan pada 1979, namun Kamboja masih berada di bawah pemerintahan Vietnam sampai 1993. Dengan kata lain, sebagai sebuah negara modern, Kamboja baru benar-benar independen selama 22 tahun.

A Buddha image at Wat Thmey, Siem Reap

A Buddha image at Wat Thmey, Siem Reap

A mystical lion statue

A mystical lion statue

Di Wat Thmey, kami membaca cerita tentang hari-hari suram itu pada beberapa papan yang berdiri di depan monumen dengan hati yang miris. Membayangkan ayah kita hilang dari rumah pada suatu malam, tak kunjung ditemukan, hingga satu kabar sampai pada telinga kita bahwa dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, dibunuh oleh rezim komunis. Lebih buruk lagi bila kita melihat sendiri keluarga kita dibunuh oleh rezim komunis, atau mati perlahan karena disiksa dan kelaparan.

Tidak ada biaya yang dipungut untuk memasuki Killing Field di Wat Thmey, selain sebuah kotak donasi sederhana yang ada di depan monumen. Isilah dengan sukarela, memenuhi panggilan hatimu yang tergerak untuk sedikit membantu rakyat Kamboja. Penggemar sejarah atau humaniora akan betah berlama-lama di sini.

 

Pasar Malam Lokal di Road 60

Saat petang menjelang, Phearun mengajak kami beranjak meninggalkan Wat Thmey menuju pasar malam lokal di Road 60. Gue dan Wataru yang masih asyik ngulik di kuil pun, menurut tanpa protes. Soal pasar malam, Pub Street memang lebih populer di kalangan turis, namun kali ini Phearun juga ingin kami melihat dan merasakan bagaimana warga lokal Siem Reap nongkrong.

Suasana Pasar Malam di Road 60

Suasana Pasar Malam di Road 60

Lokasinya agak jauh dari pusat kota, tapi suasananya rame banget! Jalanan padat dengan sepeda motor dan pejalan kaki yang wara-wiri, bolak-balik, sebrang-sebring seenak sendiri. Gue yang naik sepeda dengan dudukan yang agak tinggi, merasa kesulitan saat kaki harus berkali-kali jinjit menjejak tanah demi menjaga keseimbangan saat mengerem. Maklum, kurang tinggi badan, jadi ya begini deh.

Mirip dengan pasar malam di Indonesia, pasar malam di Road 60 ini juga ramai dengan penjaja makanan dan komoditi lainnya di kanan kiri jalan. Kami melipir di sebuah warung pinggir jalan yang menjajakan makanan khas Kamboja.

Somlor khas Kamboja

Somlor khas Kamboja

Phearun mengajak kami menikmati Somlor (baca: samlaw) Sach Moan, alias Cambodian chicken curry soup. Potongan-potongan daging ayam diguyur dengan kuah coklat, diisi dengan semacam bihun, Cambodian potato (yang rasanya manis seperti ketela), irisan kol, dan darah babi goreng (saren, istilah Jawa). Tapi entah karena warungnya abal-abal atau memang cita rasanya seperti itu, gue pribadi nggak terlalu suka. Apalagi kuahnya sudah anyep, dingin, jadi nggak ada kenikmatan saat menyantapnya.

Untung es tebunya (sugar can) terasa manis dan segar, bisa memberikan kenikmatan yang didamba lidah dan kerongkongan.

Hanging out together: Wataru, Phearun, Dicky

Hanging out together: Wataru, Phearun, Dicky

Oh ya, warung pinggir jalan di Siem Reap (mungkin seluruh Kamboja juga) agak unik. Bukan duduk di kursi normal dengan meja, atau sekalian lesehan dengan meja pendek, pengunjung menikmati santapannya dengan duduk di bangku-bangku mungil yang mirip bangku anak TK. Jadi, beberapa dari kamu mungkin akan merasa sedikit tidak nyaman karena ukuran kursi yang tanggung!

 

Pasar Malam di Pub Street

Nah, pasar malam yang satu ini baru tempat di mana turis dan pejalan berkeliaran. Di beberapa ruas jalannya yang sempit, pengunjung memadati kawasan dengan lapak penjual makanan, baju, souvenir, hingga pijat plus-plus di kedua sisinya. Meski begitu, pasar malam di sini nggak sepadat Khao San Road Bangkok atau Pham Ngu Lao Street di Ho Chi Minh City, sehingga kami masih dapat bersepeda dengan cukup leluasa sampai menemukan tempat parkir.

Awas, gadis-gadis terapis di sini bisa sangat gigih memaksa calon pelanggannya untuk masuk ke panti pijat. Kami melihat seorang turis Jepang pria paruh baya yang ditarik-tarik paksa untuk masuk ke dalam sambil merengek manja, “Massaji, okka-san.. massaji.. kimochi kimochi.”

Teman kami, Wataru, pun nggak luput dari paksaan itu. Beberapa kali dia dihadang cabe-cabean, gadis terapis di panti pijat, yang merayu-rayu manja agar dia masuk. Gue dan Dicky? Mungkin karena muka kami seperti orang lokal, jadi kami luput dari godaan laknat itu. Eh, apa mungkin karena penampilan kami seperti turis kere ya?

Angkor Night Market at Pub Street (source: travelcambodiaonline)

Angkor Night Market at Pub Street
(source: travelcambodiaonline)

Di Pub Street ini, hukum tawar menawar berlaku dalam jual beli. Gue berhasil mendapatkan 3 bungkus snek Kamboja seharga 5 USD, kaos, dan selendang dengan motif Angkor.

Sayangnya dokumentasi di Pub Street Night Market ini hilang dan tak mampu di-recover, jadi mohon maaf nggak ada dokumentasi pribadi di sini 😦

 

Bersepeda Keliling Kota

Sore ketika kami bersepeda dari rumah Phearun menuju Wat Thmey, gue menemukan fakta bahwa ternyata bersepeda keliling Siem Reap itu menyenangkan! Kotanya tak terlalu besar, tak terlalu ramai, bersepeda terasa nyaman dilakukan. Jalanannya diapit dengan pepohonan rimbun dan bangunan-bangunan tua, khas kota-kota kolonial Perancis. Panas, tapi tidak lembab, angin bertiup sejuk menyegarkan tubuh. Tak ada banyak mobil, paling hanya sesama sepeda motor, tuk-tuk, atau sepeda.

Satu sudut di Siem Reap, Kamboja

Satu sudut di Siem Reap, Kamboja

My most favorite spot in Siem Reap

My most favorite spot in Siem Reap

Spot favorit gue adalah saat kami mengayuh sepeda melalui sungai yang rimbun dan asri.. Yah, sebelas dua belas lah sama sepedaan di Ayutthaya yang tenang dan semilir, baca ceritanya di: Mengayuh Sepeda di Ayutthaya, Sang Ibukota Lama

 

Gimana, ternyata ada banyak hal yang bisa dilakukan di Siem Reap, Kamboja, ‘kan? Bisa wisata sejarah, kuliner, belanja, sampai wisata horror! Tunggu tulisan berikutnya untuk tahu cerita perjalanan kami di Vietnam ya.

Iklan

37 thoughts on “Selain Angkor Wat, Ada Apa Lagi di Siem Reap, Kamboja?

  1. Kalau postnya sepanjang ini berarti penulisnya bahagia di Kamboja. Hahaha. Fun trip!

    Tapi, apa ya benar benar fun mengetahui Rezim Khmer yang membunuh 2 juta orang itu.

  2. kisah negara ini emang tragis, secara bolak balik di BBC dan NatGeo lagi sering ngeliput kamboja. Tapi kalau lihat foto dan baca cerita mu sepertinya negara ini benar-benar berbenah yach? Apalagi dalam hal wisata.

  3. Sebel bgt waktu 2013 lalu ga disempetin ke Kamboja pas trip ke Vietnam, soalnya takut keburu-buru gitu kalo menclok-menclok bnaget gi, padahal penasaran bgt sama Siem Reap

    lalu baru liat bahasan Killing Fields udah ga mau dimasukin di itinerary ahhahaha

  4. Iya, banyak ya yang bisa dilakukan di Siem Reap. Sayang banget kemarin saya cuma fokus ke taman arkeologi Angkor dan luput soal kotanya–padahal ada perahu-perahu berlampu juga kalau malam kan?
    Saya malah baru tahu kalau di Pub Street ada pijat plus-plus :haha, waktu kemarin keluar di sana kami hanya dipesan supaya hati-hati terhadap copet :hehe.
    Suka dengan cerita jelajah yang ini, beda banget, soalnya jelajah gemerlap kota, bukan hal yang umum dilakukan!

    • Nggak apa-apa, bro. Berarti kamu tipenya sedikit, tapi mendalam 🙂
      Aku ke mana-mana, tapi dangkal hahahaha.

      Wah, perahu berlampu nggak lihat bro. Di sungai nggak lihat. Ada di mana tuh?
      Iya Pub Street banyak massage-massage emesh

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s