salah satu selfie favorit saat traveling

Sebelumnya, gue mau jujur dulu, ini memang sebuah artikel yang terlambat ditayangkan, hahaha. Hari terakhir 2017 udah berlalu lebih dari 1 bulan lamanya, berkas tulisan ini juga udah ngendon sebulan di laptop. Niatnya sih emang mau tayang awal tahun kemarin, tapi lalu ada beberapa interupsi tulisan buat klien (ciyeee) dan pemikiran-pemikiran impulsif gue, sementara gue maunya keukeuh 1 tulisan per minggu biar masing-masing tulisan punya waktu yang cukup buat sampai pada pembaca. Sekarang pun gue masih punya banyak PR tulisan buat blog, huwaaa. Baique, cukup sampai di sini aja curhatnya, mari masuk kepada isi tulisan yang sesungguhnya.

Menurut gue, tahun baru adalah sebuah momen dilematis. Iya, dilematis, karena di momen inilah — suka dan duka melebur. Suka, karena gue mensyukuri atas berkat-berkat yang udah Gusti kasih selama setahun ke belakang. Duka, karena gue TAMBAH TUA DAN MASIH JOMBLO! Pokoknya, tahun ini gue harus tunangan. Embuh sama siapa, gampang lah. #lhopiyetoh 😌😌😌

Maka dari itu, nampaknya seru kalau 2 hal di atas kita bahas khusyuk berjamaah di sini. Bukan tentang sisi suka dan duka, karena kita harus selalu berpikir positif untuk mewujudkan nawacita terpuji bagi Indonesia. Tapi tentang BERKAT dan USIA. Boring kalau cuma bahas kaleidoskop perjalanan 2017 yang isinya nggak jauh beda sama intisari LKS sekolah. Jadi, seperti apa gue yang menginjak usia ke-27 menjalani perjalanan demi perjalanannya di tahun 2017 lalu?

 

Babak I: Menjalani 27 di Tahun 2017

Jalan-Jalan Impulsif: Baru Beli Tiket Pesawat Seminggu Sebelumnya

Batalnya perjalanan ke Brunei Darussalam dan Melaka yang harusnya dilakukan pada cawu (((cawu))) pertama tahun 2017 membuat gue lumayan trauma buat membeli tiket jauh-jauh hari, apalagi tiket promo. Bener, dua perjalanan yang batal itu gue beli dengan tiket promo AirAsia. Alasannya klasik aja sih: nggak dapet izin dan nggak ada duit, hahaha. Soalnya di bulan Februari itu gue udah izin 1 hari buat trip ke Kuala Lumpur dari hasil menang undian Coca Cola, jadi nggak enak kalau beberapa hari kemudian udah minta izin lagi sementara kantor lagi sibuk-sibuknya.

Salah satu ceritanya bisa dibaca di: Menjelajah Klang, Sang Kota Raja yang Tenang

masjid bandar diraja klang

Jadilah, tahun 2017 diwarnai dengan perjalanan-perjalanan dadakan. Trip ke Pontianak, Kalimantan Barat, di bulan April gue persiapkan dalam waktu kurang dari 3 minggu. Berikutnya, trip ke Myanmar di bulan Agustus, juga gue rancang dalam waktu sekitar sebulan sebelum tanggal keberangkatan. Pangkalpinang di Bangka Belitung pada bulan Desember adalah sebuah trip ter-absurd yang tiket pesawat dan hotelnya baru gue pesen seminggu sebelum keberangkatan. Sewa motor juga baru dapet pas udah sampai di sana. Ciyus. NYAHAHAHAHA. 😁😁😁

Melejut menuju arah matahari terbenam di Sungai Kapuas, Pontianak

Pada dasarnya, gue ini orangnya lebih easy going buat perjalanan domestik. Nggak kayak perjalanan ke luar negeri yang gue cari tahu masak-masak tentang obyek wisatanya, harga tiket masuknya berapa, transportasinya gimana, dan detil-detil lainnya, gue super woles buat perjalanan di Pontianak dan Bangka. Gue cuma sebatas browsing tempat-tempat wisatanya di internet, yowis ngono thok, dicatet juga kagak. Cuma dibayangin di awang-awang, “Oh setelah mendarat mau ke sini dulu, besoknya mau ke sini, terus bla bla bla.” Kalau pun ternyata nggak kesampaian semua juga nggak apa-apa, nggak ada penyesalan sama sekali buat itu. Buat perjalanan domestik, bisa menginjakkan kaki di pulau dan provinsi yang baru aja gue udah bersyukur bangeeettt.

 

Jalan-Jalan Manja: Dari Bobok Siang Sampai Naik Taksi

Tahun 2015, gue pernah membabat Bangkok, Siem Reap, dan Ho Chi Minh City dalam waktu 7 hari perjalanan darat. Hari ke-4, waktu gue habis buat perjalanan Bangkok ke Siem Reap. Sampai di tujuan udah larut malam, besoknya langsung one day tour di Angkor Wat, terus besoknya lagi udah naik bus ke Ho Chi Minh City. Saat berangkat menuju Bangkok, gue harus ngemper dulu di KLIA2 semalaman setelah ambil penerbangan Malindo Air dari Bandung.

Tahun 2017 kemarin, gue juga harus bermalam lagi di dalam dinginnya KLIA sebelum lanjut dengan penerbangan ke Yangon, Myanmar, besok paginya. Nah, pas tahun 2015, hari pertama di Bangkok tetep diisi dengan agenda yang cukup padat meski malamnya cuma tidur-tidur palsu di bandara. Tahun lalu di Yangon, hari pertama diisi dengan bobok dari siang sampai sore and I didn’t feel guilty about that, wkwkwkwk. Apa guna jalan-jalan kalau kondisinya ngantuk sama capek? Tak ada pun, malah bikin suasana hati tambah jelek.

Baca ceritanya di: Berkenalan dengan Yangon International Airport, Myanmar

out dormitory room at space boutique hostel, yangon

Ehem, terus malemnya setelah kelar makan malam di Chinatown, gue langsung balik ke hostel buat istirahat. Chapeque. Padahal itu baru jam 8 atau 9-an, hahaha. Tadinya mau foto Sule Pagoda versi malem sih, tapi kelupaan, dan males buat turun tangga 3 lantai lagi, pffft.

Kayaknya gue nggak akan ambil penerbangan atau kereta malem lagi deh. Kalau pun terpaksa gue ambil karena harganya yang paling masuk anggaran, gue harus sediakan waktu setengah hari buat beristirahat. Kereta malem juga mulai gue hindari. Gue ini orangnya susah tidur di dalam perjalanan, kecuali kalau udah ngantuuukkk banget. Kalau ambil kereta malam, potensi masuk angin, maag, dan bosen setengah mati akan lebih besar daripada ambil kereta siang. Pas libur Natal Tahun Baru kemarin pun, gue ambil kereta api Pasundan yang berangkat dari Bandung jam 5:35 dan pulang lagi ke Bandung dari Jogja jam 12:20.

Sampai tahun 2015, gue anti banget naik taksi di luar negeri (kecuali nggak ada pilihan lain) karena imej mahal yang diukir dalem-dalem di jidat gue. Mulai tahun 2016, berawal karena terpaksa, gue malah jadi ketagihan naik taksi, ehehehe. Apalagi ternyata taksi di Kuala Lumpur juga nggak mahal-mahal amat kok. Taksi di Bangkok apalagi, bisa lebih murah dari ongkos BTS atau MRT. Lha wong naksi di Singapura (Januari 2017) aja dibela-belain karena chapeque #2. Eh, ini TAKSI KONVENSIONAL lho ya, yang naik dari ngawe-awe di pinggir jalan, bukan taksi onlen. #belagudikitbolehkalik

Tune Hotel Downtown, Kuala Lumpur

Bentuk lain kemanjaan gue dalam perjalanan adalah soal pemilihan hotel atau hostel. Dulu, kalau cari hostel di luar negeri, gue akan saring dari yang paling murah dan hostel itulah yang bakal gue pesen. Sabodo teuing sama dekorasi atau reputasi. Sekarang, gue liatin skor dan lokasinya bener-bener dong. Gue maunya hostel dengan skor minimal 8, terus lokasinya harus deket dari akses transportasi umum. Juli 2016 lalu, gue pernah kena zonk pas nginep di Bangkok. Hostel yang gue pesen kamarnya jelek banget, lantainya dari karpet tipis, kasurnya tipis dan keras, nggak ada sarapan, nggak ada air minum gratis pun. Padahal itu adalah open trip. Malu banget yekan. Salah satu contoh keberhasilan ini adalah: Space Boutique Hotel

 

Babak II: Kaleidoskop Perjalanan Tahun 2017

Kota, Provinsi, Pulau, dan Negara Baru

Di tahun 2017 ini, rupanya Tuhan mau mengajak gue lebih mengenal negeri sendiri. Selain Pontianak dan Bangka, gue melakukan perjalanan ke Lasem (Mei 2017) dan Kudus (Juni 2017), dua-duanya adalah 2 kota yang berdekatan di pantai utara Jawa Tengah, dan dua-duanya juga weekend getaway aja yang cuma 2 hari hehehe. Selain itu, bulan Maret 2017, gue juga weekend getaway ke Jogja bareng temen-temen kantor di perusahaan lama (gue lalu resmi resign per 31 Maret 2017). Lumayan, gue bisa mampir ke beberapa tempat yang selama ini belum pernah gue kunjungi, kayak Candi Ratu Boko (ini malu-maluin banget nggak sik? Wkwkwk) dan Raminten.

Biasanya, tahun ganjil selalu menjadi tahun di mana gue mengunjungi satu negara baru. Tahun 2013, gue ke Singapura dan Malaysia untuk pertama kalinya. Tahun 2015, giliran Thailand, Kamboja, dan Vietnam sekaligus. Tahun-tahun genap biasanya jadi kesempatan gue revisit negara-negara dan kota-kota sebelumnya. Tahun 2014 gue revisit Singapura dan Malaysia, sementara tahun 2016 gue revisit Malaysia dan Thailand.

Dengan tiket yang sudah di tangan, gue yakin Brunei Darussalam akan menjadi satu negara baru itu untuk 2017. Ternyata bayangan gue nggak terjadi, hahaha. Long weekend 15-17 Agustus 2017, gue memaksakan diri buat mengunjungi satu negara baru. Ke mana aja bebas, yang penting negara baru. Prioritas utamanya adalah Hong Kong, Laos, atau Filipina, tapi ternyata tiket ke Myanmar-lah yang sesuai sama isi dompet, hehehe.

Gue lalu inget, pertengahan Mei 2015, gue dan beberapa rakyat di Twitter sempat menggaungkan hashtag #2016GoesToMyanmar. Iya, saat itu gue memang lagi kasmaran sama Myanmar. Setelah dilupakan, ternyata hashtag itu bener-bener kejadian — setahun kemudian, HAHAHA. Baiklah, lebih baik telat daripada nggak sama sekali, yekan.

 

Pengalaman Baru: Jadi Buzzer dan Hotel Reviewer

Dulu, gue hanya bisa menatap lesu kalau ada tawaran famtrip, media trip, atau blogger trip yang dibagikan di grup whatsapp komunitas Travel Blogger Indonesia. Hampir semua kegiatan itu dilakukan di hari kerja, yang membuat fakir cuti bin buruh kantoran ini nggak bisa berbuat apa-apa selain memendam iri pada rekan-rekan. Giliran ada yang tanggalnya cocok, eh gue ditendang dari daftar karena ada blogger yang lebih femes, hahaha. Lyfe.

Sejak bekerja di sebuah agensi media sosial yang bernaung di bawah an award winning game developer, gue seperti burung yang lepas dari celana — eh, dari sangkar. Gue bisa menghadiri famtrip-famtrip yang selama ini hanya bisa gue damba-damba, bahkan famtrip di hari kerja sekalipun.

Bulan Juli adalah bulan tersibuk, di mana ada 3 famtrip yang gue ikuti: Media Trip di Grand Cordela Hotel Bandung, Famtrip bersama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, dan Famtrip “Kembali ke Ancol”. Untuk pertama kalinya, gue menandatangani kontrak kerjasama sebagai buzzer selama 1 bulan. Lumayan banget buat lunasin tagihan kartu kredit, hahaha. Dari media trip di Grand Cordela Hotel jugalah, gue (dan seluruh peserta media trip) mendapat voucher menginap 1 malam di seluruh unit Cordela Hotel. Voucher ini akhirnya gue pake buat nyicipin Cordela Hotel Cirebon pada bulan Oktober 2017.

wajah-wajah bergembira di ancol

Beberapa hari setelahnya, masih 1 rangkaian dengan famtrip Kembali ke Ancol, gue dan rekan-rekan blogger dapet kesempatan buat bobok-bobok menggelinjang di Putri Duyung Cottage pada bulan Agustus 2017. Sebelumnya, tepat pada tanggal 1, gue dan temen-temen blogger / influencer Bandung juga diundang buat menghadiri peresmian Bandung Planning Gallery, lumayan bisa makan siang eksklusif sama Ridwan Kamil :D.

Bulan Oktober, gue menghadiri perayaan 1st Anniversary Ibis Budget Jakarta Tanah Abang sekaligus diberi kesempatan menginap satu malam bareng temen-temen blogger dan media lainnya. Dari acara itu, gue menjadi Juara 1 kuis Kahoot dan berhak mendapatkan voucher menginap 1 malam di Ibis Budget Cirebon lengkap dengan kereta api eksekutif pulang pergi. Setelah lama tertunda, akhirnya perjalanan ini gue lakukan pada 27-28 Januari 2018 kemarin, tunggu cerita dan ulasannya ya — sekitar 1 atau 2 bulan lagi, huahahahaha. 😂😂😂

menunggu antrian check-in di ibis budget jakarta tanah abang

Bulan berikutnya, gue mendapat kesempatan menginap di Sandalwood Boutique Hotel (Lembang, Bandung Barat). Saat menghadiri pernikahan seorang kawan baik di Jakarta di bulan yang sama, akomodasi gue selama 2 malam itu juga ditanggung oleh Ibis Budget Jakarta Menteng yang, surprisingly, menorehkan sebuah pengalaman menginap yang berkesan. Saat gue ke Pontianak, Hotel HARRIS yang selama ini cuma bisa gue idam-idamkan, akhirnya bisa gue inapi cuma-cuma untuk 2 malam sekaligus. SubWow Hostel di Bandung menjadi pamungkas hotel yang gue ulas di tahun 2017 ini.

Maka dari itu, gue monmaap kalau banyak tulisan tahun 2017 yang belum tayang di blog ini. Perjalanan di Kudus, Jogja, Cirebon, dan Bangka belum gue tulis sama sekali. Perjalanan di Myanmar dan Lasem pun belum gue tulis seluruhnya. Padahal, biasanya seluruh perjalanan akan segera gue tulis secara runut dan detail, sampai berseri-seri, yang udah lama ngikutin blog gue pasti tau deh hehe.

Di luar sebagai blogger, gue bersyukur dapat berkontribusi dalam penyelenggaraan Karnaval Kemerdekaan di Bandung, sebuah selebrasi kemerdekaan RI yang digelar di bawah komando langsung Presiden RI Joko Widodo. Ini adalah kedua kalinya gue berpartisipasi dalam kegiatan tingkat nasional ini setelah Karnaval Kemerdekaan tahun sebelumnya yang digelar di Balige dan Parapat, Sumatera Utara.

 

Babak III: Kesimpulan dan Harapan

Selain destinasi-destinasi baru, 2017 mempertemukan gue dengan pekerjaan baru, kantor baru, teman-teman baru, kesempatan-kesempatan baru. Dengan semua pencapaian itu, adalah bijak jika tahun 2017 gue tutup dengan penuh ucapan syukur untuk Dia Sang Pemberi Hidup.

Berbicara soal harapan di tahun 2018 ini, gue udah sejak dari lama memimpikan negeri-negeri Asia Timur. Tahun ini, gue harus bisa menjejakkan kaki di minimal salah satu dari negara-negara itu, entah cuma Hong Kong atau Jeju yang bebas visa, syukur puji Tuhan kalau bisa sampai ke Cina Daratan, Jepang, Taiwan, dan Korea. Di luar Asia Timur, gue juga memimpikan perjalanan darat Bangkok – Vientiane – Luang Prabang dan Da Nang (termasuk Hoi An dan Hue) – Hanoi – Kunming.

Buat domestik, target gue lebih fleksibel, mana yang duitnya nyampe aja sih. Yang penting bisa mengukir milestone lagi di pulau yang baru dan provinsi yang baru. Gue belum pernah ke pulau-pulau di Nusa Tenggara, Sulawesi, apalagi Maluku dan Papua. Tahun ini, gue akan seneng banget saat bisa benar-benar memandang langsung indahnya alam dan budaya Indonesia Timur dengan mata kepala sendiri.

Oh, resolusi di luar traveling pasti ada juga, banyak malahan. Tapi berhubung karena panjang tulisan ini udah mendekati tahun lahir sendiri, lebih baik gue cukupkan dulu sampai di sini. Intinya nggak jauh-jauh dari pasangan hidup dan kesejahteraan materi. 😘😘😘

Let’s hope for the best this year. Keep learning by traveling!

Iklan

21 thoughts on “Menjalani 27 di Tahun 2017: Sebuah Cerita dan Kaleidoskop

  1. ini yang benar-benar traveling sejati. Sudah kemana-mana pergi menginjakan kakinya. lah saya boro-boro, lebih lama duduk didepan komputer daripada jalan-jalan. Ancol, aduh paling kepantai doang ,belum pernah itu nginap yang namanya hotel.

  2. ini yang benar-benar traveling sejati. Sudah kemana-mana pergi menginjakan kakinya. lah saya boro-boro, lebih lama duduk didepan komputer daripada jalan-jalan. Ancol, aduh paling kepantai doang ,belum pernah itu nginap yang namanya hotel.
    Kadang begini, jika koment di WP lupa edit link.

  3. Selamat ulang tahun, Mas! (iya telah, biar deh daripada gak sama sekali, yekan :p)

    semoga tahun 2018 lebih seru lagi yaaa perjalanannya :))

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s