Pontianak, Sebuah Perjalanan Impulsif dan Tak Terduga

Perjalanan ke Pontianak ini adalah perjalanan jarak jauh paling spontan dan impulsif yang pernah terjadi di dalam hidup gue sejauh ini. Tiket baru terbeli kurang dari 3 minggu sebelum keberangkatan. Keputusan untuk membelinya pun dibuat dalam waktu beberapa menit. Pun, kota Pontianak bukanlah tempat yang mengisi posisi teratas dalam daftar perjalanan impian.

 

Rabu, 4 April 2017

Sampai malam itu, gue sama sekali nggak sadar bahwa hari Senin, 24 April 2017, adalah sebuah hari libur nasional, sampai sebuah pesan whatsapp itu datang.

Djarot: “Mas, kalo jadi aku tanggal 23 atau 24 ke Bandung. Pas tanggal merah Senennya…”

Gue, bukan Ahok, lalu terkejut dan membatin di dalam hati: Hah? Libur? Paskah ya?

Tuhan, tolong ampuni hamba-Mu ini yang bahkan nggak tahu kapan Paskah dirayakan. Sebentar kemudian gue baru tersadar, Paskah nggak akan dirayakan hari Senin. OMG. Gue lalu mencari tahu kepada Mas Gugeleo Gugelei, dan akhirnya tahu bahwa hari Senin, 24 April 2017, adalah Hari Raya Isra Mi’raj. Maklum, letak kalender di kamar yang tidak strategis dan ketiadaan kalender di meja kerja membuat gue abai dengan jadwal hari-hari libur nasional. Sebuah hal yang sangat disayangkan oleh seorang traveler fakir cuti.

Karena bukan lebaran dan bukan hari raya Kristen, itu artinya gue terbebas dari kewajiban untuk pulang ke pelukan mamak di Bantul.

Gue: “Belum ada plan sih, mas. Tapi kok kayaknya sayang ya kalau cuma di Bandung doang.”

Obrolan selanjutnya dapat dibaca di dalam Whatsapp gue. Kalau bisa.

Dengan gesit, jemari dan mata bersinergi untuk berseluncur di dunia maya. Skyscanner menjadi rujukan untuk mencari tahu tiket termurah dengan tujuan ke Mana Saja pada tanggal 21 April 2017 malam atau 22 April 2017 pagi sampai sore. Setidaknya, ada 2 destinasi baru di luar Pulau Jawa yang gue temukan dengan harga terjangkau pada tanggal itu: Pangkal Pinang dan Pontianak.

Gue menelusuri Pangkal Pinang lebih dulu. Untuk keberangkatan, harga tiketnya hanya di kisaran Rp 300.000-an! Cek harga balik ke Jakarta, dan keriaan gue sedikit pupus karena harga tiket ke Jakarta pada tanggal 24 April 2017 ada di bilangan Rp 700.000,00.

wanwan-28wanwan-28

Gue lalu beralih kepada opsi kedua.

Harga tiket Jakarta – Pontianak pada hari Sabtu sore, 22 April 2017, ada di kisaran Rp 400.000-an. Sedikit lebih mahal dibandingkan dengan tiket ke Pangkal Pinang, memang. Namun saat gue cek harga tiket kembali ke Jakarta, wah… masih di kisaran yang sama. Itu artinya, total tiket pulang pergi Jakarta – Pontianak ini nggak sampai sejuta!

Tanpa pikir panjang, gue pun langsung menyelesaikan pemesanan malam itu juga yang saat itu gue lakukan melalui Nusatrip untuk opsi harga termurah dari Skyscanner. Ketika selesai, gue cuma cengengesan sendiri. Kalau ini terealisasi, ini akan jadi perjalanan paling impulsif yang pernah gue lakukan sejauh ini, batin gue.

Dan ternyata, tidak seperti rencana perjalanan ke Melaka dan Brunei yang udah dibeli jauh-jauh hari namun ternyata harus kandas sebelum berkembang, perjalanan ke Pontianak yang dadakan ini… terwujud.

 

Sabtu, 22 April 2017

Pukul 7:15

Gue datang menghadap konter pemesanan M GO yang berada di lantai dasar Bandung Trade Center (BTC). Setelah mengkonfirmasikan pemesanan gue melalui internet (Tiketux.com) dan menginformasi kode OTP kepada petugas, lembaran tiket Bandung – Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng itu tercetak dan mendarat di tangan.

Karena masih ada waktu sebelum keberangkatan jam 08:00, gue membeli sarapan beberapa kue basah dari gerai Mayasari. KFC belum buka, huft.

Pukul 8:10

Kamu telat sepuluh meniiittt!!! Raung gue dalam hati ketika mobil panjang berwarna merah itu merapatkan badannya di samping kantor M GO. Saat menggunakan Cititrans sebelumnya pada 28 Januari 2017 dini hari, perjalanan menuju Bandara Soetta memakan waktu kurang dari 3 jam, sekitar 2.5 jam. Maka, gue prediksi gue akan tiba sekitar pukul 11:00 atau 11:30.

Pukul 12:30

Sial. Macet di tol Bekasi Timur membuat perjalanan terhambat hingga gue baru tiba di Terminal 2F CGK sekitar pukul 12:30. Selain itu, mobilnya beristirahat agak terlalu lama di Rest Area. Gue berjalan cepat menuju konter check-in Sriwijaya Air untuk mencetak boarding pass setelah melakukan web check-in sendiri satu hari sebelumnya.

Selesai urusan check-in, gue mengarahkan kaki menuju gerai Bakmi GM untuk mengisi perut yang tak mampu bertahan lama dengan dua potong risoles dan sebuah kue. Beberapa hari sebelumnya, pihak Sriwijaya sudah mengumumkan sedikit penundaan melalui SMS menjadi jam 14:55. Semoga nggak delay lagi aja sik.

Pukul 13:30

Gue melabuhkan pantat tipis minimalis ini di kursi paling pojok Ruang Tunggu Gate F3, Terminal 2F. Sampai waktu melewati pukul 14:25 yang seharusnya menjadi waktu boarding, nggak ada tanda-tanda kedatangan si burung besi Sriwijaya Air atau kru kabin yang bersiap di pintu ruang tunggu. Beberapa menit kemudian, mbak-mbak yang gue nggak tahu namanya mengumumkan melalui pengeras suara bahwa penerbangan SJ189 mengalami keterlambatan hingga kira-kira pukul 16:00 karena menunggu penerbangan dari Tanjung Pandan.

wanwan-10wanwan-10

Gue mendesah penuh kesedihan (lebay). Gue nggak membekali diri dengan alat-alat pengusir kebosanan seperti makanan, buku, atau congklak. Baterai smartphone juga udah nyaris sekarat. Mau keluar ruangan juga nggak boleh. Jadilah gue cuma duduk-duduk dengan lesu, nggak bergairah, terkantuk-kantuk, sampai panggilan boarding itu berkumandang.

Pukul 15:30

Burung besi yang bertengger ratusan meter dari corong garbarata membuat kami harus menggunakan shuttle bus untuk mencapainya. Karena bersemangat, gue berjalan cepat menerobos calon penumpang lain dan berhasil menjadi orang kedua yang memasuki shuttle bus. Bus kemudian berjalan memutar menghampiri pesawat Sriwijaya Air yang sudah siap menerbangkan kami menuju Pontianak.

Ini adalah pertama kalinya gue terbang bersama Sriwijaya Air. Karena menyebut dirinya sebagai maskapai dengan medium service, gue pun berekspektasi bahwa kualitas pelayanannya mungkin mirip dengan Malindo Air, maskapai economy full service dari Lion Air yang bekerjasama dengan Malaysia. Namun rupanya nggak begitu.

Ruang kaki di dalam kabin Sriwijaya Air

Desain interiornya… yah, nggak jelek juga sih, tapi juga nggak sekinclong Malindo Air. Nggak ada LCD. Gue lalu duduk di kursi 6F dan berharap akan sedikit dipuaskan dengan sajian makanan ringan.

Pukul 16:00

Alih-alih berangkat, mbak pramugari malah membuat pengumuman lagi bahwa penerbangan kembali tertunda hingga 15 menit untuk menunggu penumpang yang terhilang. Udah check-in, tapi nggak ada wujudnya di dalam kabin. Dengung protes keluar dari penumpang-penumpang.

wanwan-26wanwan-26

Pukul 16:20

Para pramugari mulai memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan di dalam kabin pesawat. Sekitar pukul 16:30, akhirnya pesawat mulai bergerak meninggalkan titik parkirnya. Namun sebentar kemudian, pesawat berhenti agak lama, dan kemudian berjalan lagi dengan kecepatan rendah — padahal gue kira udah bersiap dengan kecepatan tinggi buat lepas landas. Pesawat lalu berhenti lagi.

Pukul 16:50

Akhirnya, pesawat benar-benar lepas landas dan melejut ke angkasa dengan segenap asa di jiwa (lebay meneh). Beberapa menit setelah berada dalam kondisi stabil dan tanda sabuk pengaman dipadamkan, kru kabin membagikan konsumsi makanan ringan kepada seluruh penumpang yang berupa: roti dan air mineral gelas. Padahal gue sangat mendambakan secangkir kopi hitam panas yang belum sempat disesap lidah ini dari pagi.

Di dalam kabin Sriwijaya Air

Saat terbang perdana bersama Malindo Air pada Oktober 2015, konsumsinya adalah roti, biskuit, dan air mineral botol ukuran 330 ml untuk penerbangan Bandung – Kuala Lumpur. Malah saat penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur Juli 2016 lalu, ada pilihan minum kopi dan jus.

Bukan gue kecewa dengan Sriwijaya Air, cuma ternyata gue agak over-expected. Secara keseluruhan pelayanannya cukup baik. Meski nggak terkesan elegan, namun minimal kondisi kabin rapi dan bersih. Malindo Air menjadi bahan perbandingan karena gue udah keburu berasumsi bahwa kedua maskapai ini seperti satu “kelas”. Sori kalau ternyata beda, hehehe. Untuk urusan delay, satu jam penundaan masih cukup wajar buat di Indonesia. Gue agak kesel karena udah nggak sabar aja dengan penerbangan perdana ke Kalimantan ini. Gue malah pernah terjebak delay selama lebih dari 4 jam, bersama Malindo Air hehehe, karena alasan kabut dari kebakaran hutan hebat di Riau.

Baca kisahnya di: SUPERTRIP2 — Sebuah Perjalanan Menuju Tiga Negeri

 

Sekitar pukul 18:00, ketika langit Pontianak dipoles dengan warna indigo menjelang turunnya malam, gue mendaratkan tapak kaki ini di Bandar Udara Internasional Supadio. Untuk pertama kalinya, gue menjejak tanah Borneo. Bahagia membuncah di dalam dada ketika menyadari satu lagi prestasi yang berhasil diukir oleh diri. Rasa syukur terangkat untuk Ilahi atas karunia yang diberi.

Pesawat Sriwijaya Air mendarat di Bandara Supadio, Pontianak

Antrian mobil pengantar dan penjemput di Bandara Supadio, Pontianak

Bandara Supadio rupanya besar, megah, dan modern. Atapnya yang bergelombang disangga oleh rangka dan pilar-pilar baja yang kokoh, diguyur warna putih. Gue memeriksa layar gawai yang sudah kembali menemukan nafas kehidupannya setelah lebih dari satu jam terbungkam di dalam kabin pesawat. Ada panggilan whatsapp yang tak terjawab. Sebentar kemudian nomor itu menelfon kembali melalui sambungan telfon biasa.

Ah, rupanya kru dari Hotel HARRIS Pontianak sudah menunggu.

Iklan

38 thoughts on “Pontianak, Sebuah Perjalanan Impulsif dan Tak Terduga

  1. Untuk penerbangan lokal ; aku malah suka naik sriwijaya karena di kasih snack hehehe.

    Di tunggu kelanjutan cerita habis dijemput samapihak Harris hotelnya matius.

    🙂

    • Yang diwacanakan terlalu lama dan terlalu digembar-gemborkan, wkwkwk, kayak Melaka sama Brunei itu. Trip ke Asia Tenggara aja beli tiketnya nggak sampai setahun sebelumnya. Makanya sekarang aku diem-diem aja lah kalau mau jalan, kecuali mau ajakkin orang-orang tertentu 😀

  2. Mungkin keimplusifan selanjutnya adalah mendatangi salah satu rumah perempuan, bilang kepada ayahnya, “om numpang makan om”

    eh, melamarlah maksudnya hehehe.

    Ditunggu kelanjutannya di Pontianak, Nugie.

  3. Suka tulisanya,, asyik.. dn buat kekeh jg.. tdk sbar mnunggu cerita selanjutnya.. apalgi foto pesawat sriwijaya air mendarat di bandara Supadio nya… keren… sngat suka..
    Trm ksih sdh brbagi.. Sukses trus buat karya2 nya.. ☺☺☺

  4. Sriwijaya Air menurutku enak kok, dibandingkan Malindo, eh, tapi selera, ya. *kok bahas merek

    Btw, ke Pontianaknya ke mana aja? Mampir ke Singkawang juga?
    Terus kenapa kamu kemarin nggak jadi meetup pas di Jogja, kan kan sudah dihubungi Hanif, aku bareng mereka kemarin.

  5. Kalau terbang dan harganya cuma beda 100-200 ribu urutan prioritas milih maskapai sih Garuda–Batik Air-AirAsia-Citilink-Sriwijaya dan pilihan terakhir banget baru lion :v tapi SJ lumayan sih, baru cobain sekali waktu terbang dari bali, dapet upgrade business class gratis 😀

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s