Sebuah Kisah Tentang Bandara

Sampai Oktober 2013, aku tak pernah mengira bahwa bandara lebih dari sebuah tempat untuk mendaratkan dan melepaskan burung-burung besi. Ia adalah tempat untuk bersua, memuaskan selera, berbelanja, hingga mengistirahatkan raga. Pagi atau malam, diburu waktu atau terkantuk-kantuk karena terlalu lama sendiri menunggu, sekadar singgah hingga harus bermalam di dalam dinginnya ruang tunggu, aku sudah merasakan semua itu.

 

Bandara di Kala Pagi

Jika ditanya waktu apa yang menjadi favorit untuk tiba di bandara, maka pagi adalah jawabanku. Betul, kantung mata ini akan menggantung di bawah mata sayu yang susah payah terbuka mengalahkan kelopak yang tiba-tiba rasanya berat. Mungkin juga belum mandi, belum sarapan, apalagi memantaskan diri. Seringkali dilengkapi dengan sebuah garis hitam yang melengkung di bawah mata. Namun, justru momen-momen itulah yang menjadi sebuah momen perjalanan yang berkesan. Kisahnya tak akan lupa untuk dibagikan.

Elegant Changi Airport

Di dalam bandara, aku bertemu pandang dengan berpasang-pasang mata yang sama-sama berjuang mengalahkan kantuk. Atau mereka yang merapatkan baju hangatnya di kursi-kursi ruang tunggu. Atau yang sedang menyeruput secangkir kopi hangat dengan leher berbalut syal atau neck-pillow. Menggeret koper dengan lesu setelah sebuah penerbangan semalaman yang melelahkan, atau berjalan tergesa menuju ruang tunggu mengejar jadwal penerbangan tanpa banyak sisa waktu.

Dalam perjalanan perdana ke Singapura, penerbangan transit dari Kuala Lumpur menuju Bangkok, penerbangan menuju Palembang, penerbangan ke Medan, penerbangan-penerbangan open trip ke Kuala Lumpur, dan masih banyak lagi, aku bertemu dengan bandara di awal hari. Penerbangan pagi rupanya menjadi opsi idaman untuk memanfaatkan waktu dengan memuaskan dalam sebuah perjalanan singkat.

Suasana di KLIA2 Airport

Baca Juga: This Is It! Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport

 

Menunggu Hingga Terkantuk-Kantuk

Dalam perjalanan perdana ke Singapura pada Oktober 2013, aku berangkat pagi-pagi buta bersama seorang rekan perjalanan dari rumahnya di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Penerbangan pukul 7:10 yang kami ambil memaksa kami untuk sudah terjaga ketika gelap bahkan belum sepenuhnya terangkat. Kami menghabiskan waktu dengan sarapan, duduk-duduk sampai disergap kebosanan, tapi toh itu lebih baik daripada kami harus melewatkan jadwal penerbangan.

Aku kembali mengambil tujuan dan jadwal penerbangan yang sama — juga dengan maskapai yang sama, Jetstar — pada bulan Januari 2017 untuk sebuah open trip. Tengah malam, aku terbangun di dalam kamar kost-ku di Bandung, lalu berkendara menerobos hujan menuju pool Cititrans untuk mengambil keberangkatan menuju Bandara Soekarno-Hatta pukul 1 dini hari. Sebetulnya ingin hati berangkat pukul 2, namun peserta open trip saat itu mendorongku untuk berangkat secepat mungkin. Menginap semalam jika perlu.

Alhasil, aku tiba di Terminal 2 CGK pukul 3:45. Aku gosok gigi, mencuci muka, dan tidur di atas bangku yang keras sampai mereka tiba sekitar pukul 6.

Fajar merekah | The dawn breaking at Halim Perdana Kusuma Airport, Jakarta

The sunrise while I was taking off, Halim Perdana Kusuma Airport – Jakarta

Saat adzan sahur berkumandang pada bulan puasa 2015, aku dibonceng salah seorang rekanku mencapai Bandara Halim Perdanakusuma untuk sebuah penerbangan menuju Palembang, Sumatera Selatan. Bahkan setelah kami sempat salah pintu masuk dan tiba di bandara pun, kedai-kedai makan yang berjejer di depan gedung bandara belum membuka lapaknya. Aku menunggu selama beberapa menit dengan perut melilit, hingga akhirnya bisa duduk dan menikmati sarapan sekedarnya, dengan harga “istimewa”.

Baca kisah selengkapnya di: Akhirnya, Menjejak Bumi Sriwijaya

Bulan Oktober 2015, aku terjebak dalam sebuah penerbangan menuju Kuala Lumpur dari Bandung hingga 4 jam lebih! Aku mati gaya di dalam ruang tunggu Bandara Husein Sastranegara Bandung yang saat itu belum direnovasi. Dua kotak makanan ringan yang diberikan sebagai kompensasi pun habis dalam sekejap.

Sekelompok pakcik Malaysia di ruang tunggu

Sebuah pesawat Wings Air di landasan pacu

Tak banyak yang bisa kulakukan saat itu. Berkali-kali menghidupkan layar telepon pintar untuk memeriksa notifikasi. Mengobrol dengan sesama calon penumpang. Mengambil foto. Menenangkan diri bahwa aku akan tetap bisa mengejar penerbangan lanjutan menuju Bangkok.

Baca kisah selengkapnya di: Sebuah Perjalanan Menuju 3 Negeri

 

Dikejar Waktu dengan Nafas Memburu

Mungkin kau seringkali bertanya-tanya ketika melihat seorang, atau sekelompok backpacker, yang berlari-lari menuju ruang tunggu. Apa yang mereka lakukan sampai nyaris terlambat? Apa yang ada di pikiran mereka? Well, aku pernah menjadi salah satu di antaranya.

Suasana salah satu sudut Bandara Soekarno-Hatta

Tiba di Bandara Don Mueang

Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab kenapa seseorang datang di menit-menit terakhir sebelum jadwal penerbangannya. Biasanya memang karena kesalahan calon penumpang itu sendiri yang tidak mendisiplinkan dirinya, namun mungkin juga tidak. Mungkin juga ada hambatan yang dia temui di dalam perjalanan, atau saat proses check-in, atau kesalahan pihak maskapai.

Pada open trip perdana ke Kuala Lumpur, aku sudah datang cukup pagi di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Namun rupanya ada peserta yang datang agak mepet, hingga aku harus melewatkan sarapan dan langsung bergegas menuju ruang tunggu.

Papan Informasi di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Peron kereta bandara

Pun dengan open trip ke Bangkok via Kuala Lumpur pada Juli 2016. Kedatangan yang “ala kadarnya” diperparah dengan sistem check-in Malindo Air yang, saat itu, sangat lambat. Sampai running text pada papan konter diganti dengan nomor penerbangan selanjutnya, masih ada kami dan sekelompok calon penumpang yang terjebak dalam lajur antrian. Nada protes didengungkan. Pihak maskapai menyelesaikan proses check-in dengan sigap, lalu kami berlari-lari menuju ruang tunggu di Gate F.

Kami berlari kebablasan melewatkan Gate F yang namanya tersembunyi di balik partisi. Kami mengambil jalur yang salah. Putar arah, barulah kami masuk ke Gate yang benar. Mendekati pemeriksaan keamanan, kami kembali berada di lajur yang salah sehingga harus memutar balik. Sampai di Boarding Room, dengan bulir-bulir keringat yang menyembul dari lubang pori-pori dan nafas terengah, kami menunggu shuttle bus untuk tiba mengantarkan kami menuju pesawat yang sebetulnya sudah berjalan beberapa meter.

Baca kisah selengkapnya di: Nyaris Dua Kali Ketinggalan Pesawat Dalam Sehari

Konter Check-In di T3 Ultimate

 

Tan Son Nhat Airport, Vietnam

Kami lagi-lagi nyaris melewatkan penerbangan menuju Bangkok dari KLIA karena terlena dengan situasi. Ketika kami berlari-lari menghampiri Boarding Room, status penerbangan kami  sudah Last Call. Kami menjadi tiga orang terakhir yang masuk ke dalam kabin. Aku hanya terus mengarahkan pandanganku lurus ke depan sampai tiba di kursi.

Oh, rupanya, itu belum yang terburuk.

Akhir Januari 2017 lalu, aku berlari sekencang mungkin menuju Boarding Room di Changi International Airport Singapore karena kalap dengan status penerbangan yang sudah berubah menjadi: Gate Closing. Untuk sejenak, aku mengabaikan 4 orang peserta open trip yang ada di belakangku. Aku lega ketika aku berhasil tiba di ruang tunggu dan Gate belum ditutup. Keempat peserta masih tertinggal beberapa meter di belakang. Aku melambaikan tangan ke arah mereka dengan kaki yang sudah seperti mau copot.

 

Bermalam Dalam Dinginnya Bandara

Meski hanya dua kali, namun setidaknya aku sudah memiliki pengalaman ini. Dua-duanya terjadi di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2. Di kalangan backpacker atau budget traveler, tidur di bandara ini seperti menjadi sebuah pengalaman wajib.

A corner in KLIA2 airport

Tempat bernaung malam itu

Pengalaman pertama terjadi pada Oktober 2015 untuk menunggu penerbangan lanjutan ke Bangkok esok pagi-pagi. Andai penerbanganku tidak tertunda saat itu, aku akan memiliki waktu yang cukup untuk bergerak ke pusat bandar dan menginap semalam di kamar sederhana. Sebaliknya, pengalaman kedua terjadi setelah kami tiba dari Bangkok dan menunggu connecting flight menuju Jakarta keesokan pagi.

Rasanya… benar-benar tidak nyaman. Meringkuk di bawah hembusan pendingin udara yang terlalu kuat, beralaskan bangku-bangku besi panjang yang ada di salah satu area bandara. Keras, kepala ini harus mencukupkan diri dengan beralaskan jaket atau backpack sendiri, tidurku tidak benar-benar pulas saat itu. Jadi, kemungkinan besar aku tidak ingin mengulangi lagi pengalaman semacam itu.

 

Bandara Pelosok Hingga Bandara Internasional

Ruang tunggu di bandara-bandara besar sekelas CGK, SIN, KUL, atau DMK (Don Mueang Bangkok) sudah pasti nyaman. Kursinya, meski juga keras, namun dirancang dengan sudut kelengkungan yang pas. Ruangannya sejuk, luas, sirkulasi calon penumpangnya juga enak. Pendek kata, saat-saat menunggu penerbangan terasa menyenangkan.

Pesawat Air Asia tiba di Bandara Adi Sutjipto

Membuang bosan

Lain halnya dengan ruang tunggu keberangkatan internasional untuk Bandara Adi Sutjipto (2014) dan Husein Sastranegara (2015). Sempit, penuh sesak, kurang sejuk, and nothing much to do. Kalau penerbangannya delayed hingga 2 jam lebih, kelar idup lo! Syukurlah, sekarang ruang tunggu keberangkatan internasional di BDO sudah diperbaharui. Luas, sirkulasi nyaman, sejuk, sofa-sofanya empuk, dan ada komputer gratis.

Arrived at Silangit Airport, Tapanuli Utara

Kalau di bandara pelosok, seperti Bandara Silangit di Siborong-Borong, Sumatera Utara, begitu masuk langsung bertemu pemeriksaan barang. Ruang tunggunya… yah, seperti ruang tunggu di kantor pemesanan tiket bus patas malam. Tapi, saat itu (Agustus 2016) terlihat ada bagian bandara yang sedang dikembangkan, jadi mungkin saat ini kondisinya sudah berbeda.

 

Bandara Terbaik dan Bandara Impian

Dibandingkan travel-blogger lainnya, jumlah bandara yang pernah kujejak mungkin tak ada apa-apanya. Namun, dari 11 bandara yang pernah kusinggahi, Changi International Airport adalah yang paling aku suka.

Salah satu taman di dalam Bandara Changi, Singapura

Bisa nonton film di Bandara Changi, Singapura

Modern, besar, bersih, dan rapi. Petunjuk-petunjuk arah terpampang jelas pada papan-papan hitam yang tersebar di berbagai titik. Ada banyak hiburan yang ditawarkan bandara ini, dari yang hanya bisa difoto, sampai yang bisa dilakukan — seperti menonton film atau menggunakan komputer gratisnya. Travelator menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya, didukung dengan kehadiran Skytrain sebagai sarana transportasi inter-terminal. Harga makanan di Changi juga tidak terlalu berbeda jauh dengan harga makanan di perkotaan.

Soal bandara impian, untuk jangka pendek, aku ingin menjejakkan kaki di Suvarnabhumi (baca: suwanapum) International Airport, Bangkok. Dua kali berkunjung ke Bangkok, semuanya mendarat dan lepas landas di Don Mueang International Airport. Dari hasil pencarian gambar di Google, desain interior dan arsitektur Suvarnabhumi menarik. Tak hanya megah dan modern, namun juga menghadirkan ornamen-ornamen tradisional Thailand. Selain itu, sebagai pecinta transportasi umum berbasis rel, aku ingin menjajal Airport Rail Link-nya.

Bangkok’s Airport Rail Link

Flight Deck at Haneda Airport (source: airports-worldwide)

Untuk jangka menengah, Bandara Haneda di Tokyo, Jepang, adalah impian. Dari kecil, Jepang memang sudah menjadi negara idaman. Yang lebih menarik, Bandara Haneda memiliki Flight Deck, semacam dek terbuka di mana calon dan mantan penumpang pesawat dapat bersantai menikmati pemandangan area bandara. Menyaksikan badan-badan pesawat yang perlahan terangkat ke angkasa, berlatarkan kapal-kapal besar yang hilir mudik di belakangnya. Ya, bandara ini memang terletak persis di tepi laut.

Bagaimana denganmu, apa bandara terbaik dan impianmu saat ini? Bagaimana juga dengan pengalamanmu di bandara? I’d like to hear it on comment section below 😀

Iklan

30 thoughts on “Sebuah Kisah Tentang Bandara

  1. Menurutku memang bandara itu bukan cuma tempat naik/turun dari pesawat. Berbagai bandara di dunia pada umumnya juga sudah dilengkapi banyak fasilitas. Juga terintegrasi dg transportasi lainnya macam kereta.
    Mungkin bisa jadi bandara sebagai gerbang terdepan sebuah negara, jadi semua berlomba2 untuk meningkatkan layanan di bandara 😀

  2. Sama, aku juga suka mengambil penerbangan pagi. Bahkan demi penerbangan pagi suka tidur di bandara malamnya karena takut kebablasan tidurnya. Hehehe…

    Dulu sempat nulis tentang bandara terbaik utk sebuah media dan masih penasaran sama bandara Changi — semoga tahun ini bisa ke Changi 🙂 .

    Dari 7 Bandara yang pernah aku singgahi (HKIA, KLIA2, Incheon, Jeddah, Don Mueng, BIM – Padang, dan Sultan Thaha-Jambi) favorit sih KLIA 2 ; Dari mulai makanan di Bandara, spot buat tidur dan wifinya. Suka banget mampir di Djaya Grocery KLIA2 sekedar beli buah-buahan dan Milo di sana. 🙂

  3. Dari 57 bandara di asia n eropa yg sudah aku kunjungi (sejauh ini), Changi emang yang paling bagus sih.. makanya blm tau ni airport impian tuh standarnya kayak gmn..

    Kalo nginep di bandara paling berkesan waktu nginep di Suvarnabhumi. Susah banget mau cari makan yg halal.. ada makanan halal tapi udah deket2 boarding gate.. akhirnya beli roti tawar aja sama air.. ada mushollanya jg, gede lg.. ada tulisan dilarang tidur tapi krna banyak jg yg tidur di musholla jd ikutan jg deh tidur disitu..

  4. Paling ga suka naik pesawat pagi, aku susah banget bangun pagi 😂 dan pernah kejadian ketinggalan pesawat. Rekor waktu terlama di bandara, 7 jam transit di SUB ! Aah demi perjalanan murah, menunggu lama di bandara pun jadi pilihan wajib, paling sakaw kalau di bandara ga ada smoking room/ susah nyarinya 😁

  5. hahahhahahha, makanya alesan kalo ke bandara selalu jauh lebih cepat dari keberangkatan, terutama HK, Shanghai, Singapore adalah bandaranya enak banget buat “cuci” mata haha
    superb!

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s