Cerita Perjalanan: Nyaris 2 Kali Ketinggalan Pesawat Dalam Sehari

wing-221526_960_720

Semakin lama, semakin sering traveling, semakin gue menggampangkan beberapa hal. Dua hal yang paling kentara adalah tentang packing dan keberangkatan. Gue masih inget, saat dulu pertama kali traveling (dan beberapa kali setelahnya), gue udah standby di bandara atau stasiun beberapa puluh menit sebelum keberangkatan sampai mati gaya karena kelamaan nunggu.

 

Hal yang sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi bulan Juli 2016 lalu.
Sabtu subuh, 23 Juli 2016, gue bergegas dari sebuah properti Virtual Hotel Operator (VHO) berlogo merah di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, menuju Stasiun Gambir untuk mengambil bus DAMRI yang akan mengantarkan gue menuju Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Kantuk belum lepas dari kelopak mata. Bahkan gue pun harus mencari penjaga properti di kamarnya untuk membukakan pintu gerbang yang digembok.

Perjalanan dengan DAMRI sendiri berjalan dengan lancar dan cepat. Beberapa menit melaju di jalanan kota, bus lalu memasuki jalan tol.

Saat itu sekitar pukul 6:30 saat gue akhirnya tiba di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta. Dua rekan perjalanan, Diana dan Teh Yati, belum mengkonfirmasikan kedatangannya. Maka gue menggunakan waktu untuk masuk lebih dulu, melalui proses keamanan awal sebelum check-in. Singkat cerita, keduanya akhirnya datang nyaris bersamaan. Gue menyapa mereka di ambang pintu keluar Terminal 2D. Ini pertama kali kami bertemu, sehingga kami harus tahu wajah masing-masing agar bisa saling mengenali di dalam gedung.

Baca Juga: This Is It! Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Papan Informasi di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Papan Informasi di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Maap, gak sempet foto-foto di T2, jadi ilustrasinya pakai foto-foto T3 aja yak.

000000

Kami akan berangkat menuju Kuala Lumpur, sebelum melanjutkan perjalanan pada sore hari menuju Bangkok, Thailand, dengan maskapai Malindo Air. Pertama kali berkenalan dengan maskapai ini Oktober 2015 lalu, gue terpukau. Gue kira kenyamanan Malindo ini setara dengan Lion Air. Ternyata jauh lebih bagus! Desain interior kabin modern dan sophisticatedIn-flight entertainment dengan film berbagai bahasa, serial, musik, sampai game tersedia. Desain seragam pramugari yang terinspirasi dari batik dan kebaya, lengkap dengan rambut yang disanggul. Terakhir, maskapai ini menyediakan makanan ringan dan minuman selama penerbangan. Bisa pilih kopi atau jus. Ini maskapai budget atau full service sih?

Baca ceritanya di: Perjalanan Menuju 3 Negeri

Nggak ada konter khusus Malindo di situ, sehingga kami melakukan proses check-in di konter Lion Air. Masih ada waktu beberapa menit yang gue rasa cukup sebelum batas waktu check-in, apalagi antriannya nggak terlalu banyak.

Rupanya ekspektasi gue nggak terjadi.

Konter Check-In di T3 Ultimate

Konter Check-In di T3 Ultimate

Entah prosedur check-in yang ribet, mesin komputer yang bermasalah, petugas yang lemot, atau kombo ketiganya, antrian check-in bergerak dengan lambat! Satu orang calon penumpang aja membutuhkan waktu lebih dari 5 menit, Om. Gimana mau layani calon pengantin nanti?

Ketika waktu batas check-in sudah terlampaui, masih ada gue dan belasan calon penumpang lainnya yang masih tertahan di depan meja konter. Running Text di konter sudah berganti untuk melayani jadwal penerbangan berikutnya. Kami semua meraung dengan amarah. Bukan salah kami bila saat itu kami masih tertahan di lajur antrian!

“Masih ada yang Malindo gak?” seru salah satu kru pria.
Gue dan yang lain mengangkat tangan dengan nggak sabaran.
“Masih ada yang jomblo gak?

Gue buru-buru masukkin tangan ke dalam saku celana.

Sisa-sisa penumpang nahas ini akhirnya dialihkan ke konter sebelah untuk dilayani sampai puas. Selesai proses check-in, kami bertiga berjalan cepat menuju Boarding Room, menyusul calon penumpang lainnya melalui Gate F.

“Anjay! Ini kenapa gate-nya jauh banget sik? Mana gue baru pertama ke sini!” gerutu gue dalam hati, memimpin paling depan dengan langkah memburu.

Jalan terus, jalan terus, melalui Gate demi Gate, namun Gate F luput dari pandangan kami. Teh Yati mulai curiga, maka dia dan Diana pun berinisiatif menghampiri salah satu petugas bandara untuk bertanya. Ternyata kami kelewatan!

Gue lalu berlari-lari kecil menyusul keduanya yang sudah berbalik arah. Rupanya papan penanda Gate F tersembunyi di balik sebuah sekat panjang. Demi Fitsa Hats!!! Kami berlari-lari menyusuri lorong menuju pintu masuk Gate F. Tiba di ujung lorong, kami baru sadar kami melalui lajur yang salah!

014014

Yawlaaaa, kami balik lagi dan putar arah agar bisa masuk ke lajur yang benar. Pasalnya lajur yang salah itu juga nggak bisa diakali. Kami bertiga masuk ke dalam Boarding Room dengan bulir-bulir keringat yang menyembul di atas pori-pori. Calon-calon penumpang yang tadi tertahan juga masih duduk di dalam ruangan. Shuttle Bus sudah mengantarkan penumpang-penumpang awal. Bahkan pesawatnya sendiri sudah berjalan beberapa meter di landasan pacu. Sekarang kami menunggu Shuttle Bus yang akan mengantarkan kami menuju kabin.

Badan pesawat Malindo Air

Badan pesawat Malindo Air

Interior modern pesawat Malindo Air

Interior modern pesawat Malindo Air

Udara sejuk kabin Malindo Air gue hirup dengan penuh ucapan syukur. Terima kasih, Tuhan, we made it! Sekarang kami bisa duduk nyaman di kursi pesawat sampai tiba di Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun rupanya perjuangan hari itu belum berakhir.

 

Biasanya, gue mendarat di KLIA2, namun hari itu rupanya berbeda. Kami mendarat di KLIA, pertama kalinya untuk kami. Di luar proses imigrasi, toilet, dan istirahat, kami masih butuh waktu satu jam untuk menemukan terminal bus menuju KL Sentral. Kami harus menggunakan Aerotrain, sebuah people mover di dalam kompleks KLIA untuk menghubungkan kedua gedung yang berjauhan. Waktu yang sayang terbuang di tengah waktu transit kami yang sempit.

Baca Juga: KLIA2 Airport, Selayang Pandang

A corner in KLIA2 airport

A corner in KLIA2 airport

Waktu yang tersisa hanya bisa kami gunakan buat makan siang di sebuah kedai Nasi Briyani di Brickfields dan sholat di KL Sentral. Lepas itu, kami buru-buru kembali ke KLIA.

Sebetulnya, masih ada cukup banyak waktu saat kami sampai di Departure Hall KLIA. Kami lalu duduk-duduk, ngantuk-ngantuk, foto-foto, lalu gue juga menyempatkan diri mengambil uang di ATM CIMB Malaysia. Udah jalan jauh sampai lantai atas, sampai sana ATM-nya nggak berfungsi. Turun lagi ke Departure Hall, eh ternyata ada ATM dan bank sekaligus di depan posisi kami menunggu. Ya ampun. Matamu, giii giii.
Sial, karena keasyikan, kami nggak sadar bahwa waktu sudah bergulir. Apalagi, ternyata Boarding Room ada di gedung seberang yang berarti kami harus naik Aerotrain. Duh, perut gue langsung muleeesss.

Aerotrain KLIA

Aerotrain KLIA

Menit-menit awal, kami berjalan dengan irama normal menuju peron Aerotrain. Di dalam Aerotrain, kami juga masih berdiri dengan nafas normal. Namun begitu turun dan menengok ke layar informasi, penerbangan kami sudah memasuki tahap Final Call.

“Eh, udah Final Call.”

Sontak, kami bertiga mempercepat langkah sampai akhirnya berlari menuju Boarding Room. Beberapa menit jelang Boarding Room, kru Malindo Air udah ngawe-ngawe, mendesak kami untuk bergegas!

Ketika tiba di Boarding Room, seluruh penumpang sudah berada di dalam kabin. Ruangan kosong, menyisakan dua tiga petugas yang melayani kami. Yup, kami menjadi penumpang terakhir yang memasuki kabin.

004004

Arrival Hall - Don Mueang Airport

Arrival Hall – Don Mueang Airport

Gue bersyukur kami dapat tiba di Bangkok sesuai dengan rencana perjalanan kami dan bertemu dengan 2 peserta lainnya di Bangkok. Perjuangan pun harus dilanjutkan dengan mengantri imigrasi selama 2 jam. Iya, dua jam!!! Gue nggak tahu kenapa Bandara Don Mueang penuh banget sore itu, sesak dengan rombongan turis Tiongkok yang sukses membuat lajur antrian beranak pinak.

Dari sini, gue mendapat pelajaran supaya nggak terlena dengan situasi. Juga tentang memberi waktu khusus jika terbang menuju atau dari bandara yang baru. Kalau kamu, dapet pelajaran apa dari drama perjalanan gue kali ini? Atau pernah punya pengalaman yang sama, bahkan lebih buruk? Kindly share them di kolom komentar, Om. Let us keep learning by traveling 🙂

48 thoughts on “Cerita Perjalanan: Nyaris 2 Kali Ketinggalan Pesawat Dalam Sehari

  1. (((FITSA HATS))) 😂😂😂

    Iya kak bener banget, jangan terlena dengan situasi, macam aku yang keenakan tidur di rumah, pesawat jam 6: 15 AM, baru bangun tidur di rumah jam 6:30 AM, yakali rumah ke bandara 2 jam 😂😂😂 mampus tiket angus * untungnya Garuda bisa reschedule, nambahnya lumayan*

  2. Ngomongin packing, udah berapa kali kejadian sebelum terbang beberapa harinya mimpi packing terburu-buru dan KETINGGALAN pesawat. Mesti… Mesti…mesti mimpi gitu. Bangun-bangun badan basah akibat capek hahaha.

    Pernah hampir ketinggalan pesawat juga di KLIA2 pas jalan bareng keluarga. Gara-garanya kita yg ga bawa koper diwajibin cek dokumen. Alamak perut mules ngebayangin imigrasi, xray dsb dsb. Untung masih keburu.

  3. Bahas soal ketinggalan pesawat itu emang nyesek banget, waktu honeymoon kemarin bareng itrsi saya ketinggalan pesawat dari singapura ke kuala lumpur, karena panik dan istri juga baru pertama kali ke luar negeri saya pilih beli penerbangan selanjutnya dengan harga berkali-kali lipat. Setelah beli tiket baru sadar kenapa ga naik transport darat dari Singapura ke Kl nya. hahaha.. mendadak amnesia

  4. Baru hampir kan… aku sih pernah bbrp kali…hahahah.. enaknya kalo naik yg gak budget, bisa di-oper ke penerbangan berikutnya. Tapi tetep kapok lah!

  5. Senam jantung ya kalau kondisi gitu…tapi untung gak jadi kan *wong Jawa ki mesti kudu duwe kata untung*
    Aku juga pernah hampir ketinggalan pesawat di Belanda (gara-gara nyari tempat check-in gak ketemu2), sama di Da Nang (gara-hara gak denger dipanggil padahal udah duduk di ruang tunggu entah sejak kapan) 😀

  6. astagaaa jadi keingetan jaman ketinggalan pesawat dr singapur ke jakarta, masih untung yaaa itu dibolehin cek in dan ampe dipanggil-panggil, lah gw pas itu udah antri gegara panjang banget, nyampe depan konter cuma kelewat 5 menit udah ga boleh 😦 huhu, alhasil berburu tiket dan utang duit (yang kudu sampe ngiter changi buat nemu komputer buat konek inet dan ngehubungin temen via fb), nginep di bandara changi, tidur di lantainya yg dingin naudzubillah, nunggu konter buka jam 3 pagi, pindah2 terminal demi nyari harga murah. ahhh paraaah emang kalo nyepelein waktu buat check in. jadi sekarang kapok banget, wajib web check in sebelum hari H!

  7. Saya belajar dan jadinya selalu mengingatkan diri agar “berkorban” buang waktu rela stand by di airport dan check in bahkan mentok di ruang tunggu boarding aj biar aman apalagi klo baru ke airport tsb, baru kali itu menggunakan maskapai itu, atau bahkan baru kali itu ke destination negara itu.

    Hal ini selalu saya lakukan setiap kali melakukan penerbangan international. Apalagi jika ada yg harus transit2 di negara lain. Adalah penting untuk kita selalu alert time atau waspada dan membereskan dulu semua urusan sebelum kita window shopping demi menghindari nyasar atau bahkan ketinggalan pesawat. Karena herannya memang kadang kalau pas sudah mepet waktu tu yg namanya problem malah pada nongol ada2 aj hehe.

    Keuntungannya saya tiba jauh early sebelum keberangkatan saat itu ternyata antrian imigrasi menyita waktu sampai 2 jam, persis seperti yg dialami Penulis, padahal saya baru mau status berangkat. Dan yg tadinya berencana mau belanja belenji di Duty Free dan makan malahan jadi terburu2 ke ruang tunggu.

    Intinya sih prepare saja dan benar yg dikatakan Penulis agar mengenali lingkungan 😊

  8. Untungnya, aku terlahir sebagai pemilik zodiak Aquarius. Jadinya, harus tertata banget, dalam artian… Kalau penerbangan jam 6 misalnya, jam 3 sudah harus jalan dari rumah. Lebih baik menunggu lama di Bandara ketimbang terburu-buru dari rumah. :))))

    Malino bagus banget. Sama kayak Batik

  9. Biasanya sampai di airport berapa jam sebelumnya? Saya biasanya 3 jam. Dan kalo beli tiket yang connecting flight nya di itinerary terpisah saya spare waktu minimal 4 jam. Gapapa deh tunggu lama daripada ketinggalan pesawat (kecuali penerbangan domestik sih).
    Kemaren sempet baca di blog orang, dia ketinggalan pesawat ke Amsterdam gara2 pesawat dari Jkt ke KL nya delay. Akhirnya terpaksa beli baru dan yg lama hangus.

  10. Pernah wktu itu ketinggalan pesawat thn 2015 lalu. Wktu itu flight dr batam ke semarang transit jakarta, krn pgnnya ngirit budget, ambil pswt beda maskapai antara bth-jkt, jkt-smg. Tnyta yg dr bth-jkt delay sampai 1.5 jam, pas landing d soeta sh sebenernya msh bs terkejar, tp tnyt antrian bagasi nya luaaaamaaaa bgt smp hampir stgh jam lbh. Hbs itu lgsg buru2 pindah dr terminal 2 ke terminal 1c, dan olala smp d terminal 1c, nanya sm mbak2 di counter cek in ktnya pswt nya br aja di dorong mundur, paiiiiittt. Terpaksa hrs nginep smlm d jkt n cr tiket baru bwt bsk pagi nya ke smg. Nasib, mw ngirit mlh tambah pengeluaran. Hbs itu kapok gak mau lg transit beda maskapai.

  11. Hmm ada bagusnya gue terakhir ke Bangkok pas hamil 7 bulan. Langsung dapat pelayanan khusus 😀 ya kali bumil disuruh ngantti panjang, keburu brojol 😛 hahaha.
    Anw, gimana rasanya jadi penumpang terakhir yang masuk ke kabin? Biasanya dapat pandangan sebel dari penumpang lain tuh :mrgreen:

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s