bangka belitung, DKI Jakarta, Indonesia, pangkalpinang

Sebuah Kisah Perjalanan Menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Sejatinya, penerbangan yang gue pesan buat keberangkatan dari Jakarta ke Pangkalpinang, Bangka Belitung, adalah jadwal penerbangan pukul 13:40 dari maskapai Lion Air. Dengan mempertimbangkan waktu dan biaya, gue memutuskan memesan tiket kereta api Bandung – Gambir dengan Traveloka untuk jadwal pukul 4:15. Ada sih jadwal yang lebih siang, tapi gue takut terburu-buru. Dari Gambir, gue masih harus naik damri menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta selama kurang lebih 1 jam perjalanan.

Keesokan harinya, atau 2 hari kemudian — entahlah, gue menerima SMS notifikasi bahwa jadwal penerbangan gue diubah menjadi pukul 15:50.

Huvt.

 

Fase 1: Perjalanan Stasiun Gambir – Bandara Soekarno Hatta

Usai memantapkan sarapan dengan kopi dan melaksanakan hajat buang air besar di Stasiun Gambir (ini harus banget diceritain, Gie?), gue menghampiri konter bus damri bandara yang ada di sisi bangunan stasiun. Bukannya melayani, petugas perempuan itu justru mengatakan, “Langsung ke halte depan aja, dek. Busnya nggak bisa masuk ke sini (karena sedang ada acara pengajian atau semacamnya di Istiqlal, red).”

“Di mana, mas?” celetuk seseorang tiba-tiba.

Tanpa gue sadari, ada seorang mas-mas di belakang gue yang juga mau ke bandara dari Stasiun Gambir.

“Katanya sih di halte depan, mas,” jawab gue.

Tanpa aba-aba, kami berdua sontak berjalan beriring-iringan menuju “halte depan” yang dimaksud petugas. Gue menghampiri petugas busway TransJakarta di loketnya, mengungkapkan maksud kami, namun petugas itu juga nggak tahu menahu dan justru mengarahkan kami ke halte terbuka yang ada di sisi kanan pintu masuk area stasiun. Sementara gue berbicara dengan petugas, mas-mas itu sibuk memusatkan perhatiannya pada gawai.

“Mas, damri ke bandara Rp 40.000,00 ‘kan?” tanya mas-mas itu saat gue sudah kembali berada di luar halte, yang gue respon dengan mengiyakan.

“Saya punya ide,” katanya kemudian, “gimana kalau kita naik Grab aja? Ini saya cek cuma Rp 90ribuan, mas bayar Rp 40.000,00 ajalah.”

Gue menyetujui ide itu dengan cepat. Anaknya berpikiran pendek banget, emang. Rupanya dari tadi, mas-mas itu sedang memesan Grab Car (atau GoCar? Gue lupa, entahlah) karena nggak lama kemudian, sebuah mobil putih menghampiri kami. Kalau gue Cinderella, mungkin yang akan menjemput gue adalah seorang pangeran berkuda putih.

Oke, ini adalah salah satu hari ter-random dalam hidup gue: naik taksi online ke bandara bareng mas-mas yang bahkan nggak gue tahu namanya. Tapi di sinilah serunya traveling, saat kita bertemu dengan sesama pejalan dengan tujuan yang sama, lalu akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu bersama. Eh, kok jadi romantis gini sik?

Di dalam perjalanan, gue mempersiapkan diri dengan membuka email, mengunduh e-ticket dari Traveloka, dan screenshot e-ticket tersebut buat gue tunjukkan ke petugas bandara. Membuka screenshot di folder Galeri lebih cepat daripada membuka berkas PDF di File Viewer, meskipun keduanya udah sama-sama run in background sekalipun.

Kami berdua nyaris saling terdiam sepanjang perjalanan. Satu-satunya percakapan kami adalah, “Mau ke mana, mas?” di awal perjalanan — yang ternyata kami sama-sama menuju kota di kawasan Sumatera — dan, “Makasih ya, mas,” di akhir perjalanan. Mas-mas itu turun lebih dulu di Terminal 3 Ultimate untuk mengejar penerbangan Garuda Indonesia yang tinggal menghitung menit, sementara penerbangan gue dijadwalkan dari Terminal 1.

 

Fase 2: Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno Hatta

Dari pertama kali terbang pada Oktober 2013, baru kali inilah gue menjejakkan kaki di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Biasanya, gue terbang dari Terminal 2, Terminal 3, Bandara Halim Perdana Kusuma, atau Bandara Husein Sastranegara Bandung. Area pertama yang gue masuki adalah, of course, aula check-in di mana konter maskapai-maskapai berjajar. Impresi yang timbul saat itu adalah… hm, langit-langit rendah, looks so old banget terminalnya.

departure hall (aula check-in) terminal 1 bandara soekarno hatta
eskalator dengan dekorasi etnik di terminal 1 bandara soekarno hatta

Saat itu masih terlalu pagi untuk check-in. Gue menggunakan waktu yang ada buat cuci muka, bekerja (maklum, anak ahensi, harus tetap bisa bekerja di mana pun dan kapan pun), mengakses seluruh media sosial dan aplikasi perpesanan, dan mempelajari lagi itinerari dari Traveloka. Fyi, tiket pulang-pergi Jakarta – Pangkalpinang dan akomodasi 2 malam di Hotel Griya Tirta ini gue pesan melalui menu Flight + Hotel di Traveloka. Total semuanya cuma Rp 1.5 juta aja, bok! Padahal gue pesennya juga udah mepet, tepat seminggu sebelumnya.

Baca ceritanya di: Perjalanan Hemat ke Pangkal Pinang, Bangka

Bosen di ruang tunggu aula check-in, sekaligus penasaran dengan eskalator yang ada di ujung aula, gue memutuskan untuk bangkit dan menaiki eskalator itu. Nggak ada yang spesial dengan eskalator itu, tapi sang tangga berjalan tampil etnik berbingkai gapura berbentuk kepala barong khas Bali, correct me if I’m wrong ya, wawasan dalam negeri gue memang masih minimalisss.

Setibanya di ujung eskalator — ya ampuuunnnn, rupanya di sini sisi keren Terminal 1 ini, megah banget! Gue berada di sebuah aula yang luas dengan langit-langit tinggi yang ditopang tiang-tiang berbentuk pipa-pipa putih dengan sentuhan dekorasi etnik di sudut-sudutnya. Lampu-lampu gantung berbentuk bunga teratai (?) mengawang di bawah langit-langitnya, di atas lantai berwarna terakota yang mengkilap. Ah, gue suka desain T1 ini, Indonesia banget! Alih-alih kampungan, desain seperti ini justru tampil elegan dan berkelas.

Ada beberapa vendor ritel di aula itu, seperti Circle K dan beberapa tempat makan. Nggak banyak pilihan sih, tapi lumayan buat beristirahat dan mengganjal perut. Seporsi Nasi Jinggo khas Bali dan teh Tarik panas gue tebus dengan harga di kisaran Rp 60.000-an. Selain itu, juga ada Rest Area yang memiliki beberapa kursi berbaring di sebuah ruangan memanjang yang lantainya dilapisi rug nan lembut, meredam kebisingan.

area ritel terminal 1 bandara soekarno hatta
lampu gantung bergaya etnik di terminal 1 bandara soekarno hatta
rest area di terminal 1 bandara soekarno hatta

Sekitar pukul 15:00, gue merapatkan diri di antrian check-in konter maskapai Lion Air. Saat sedang mengantri, seorang ibu di belakang gue dengan beberapa koper bertanya, “Dek, ada bagasi nggak?”

“Enggak, bu,” jawab gue.

“Oh, titip ya.”

“Emang dapet ya?”

“Iya masing-masing orang dapat bagasi 20 kg,” jawab ibu itu menjelaskan. Sebagai pelancong yang bepergian hanya dengan sebuah daypack, gue sama sekali nggak tahu dan nggak perlu tahu soal fasilitas free baggage ini.

Gue diem aja sih, nggak kasih jawaban iya atau enggak. Cowok penggantung emang.

“Adek mau ke mana?” tanya ibu itu.

“Bangka, ibu mau ke mana?” gue balik bertanya, tiba-tiba terlintas sebuah kemungkinan yang belum diperhitungkan sebelumnya.

“Medan.”

“Oh nggak bisa dong, Bu.”

Aneh juga ibu ini, mau nebeng bagasi, tapi nggak lebih dulu nanya gue mau ke mana. Saat tiba giliran gue buat check-in, ibu itu ikut menghampiri konter dan bertanya kepada petugas, “Adek ini nggak ada bagasi, bisa nggak saya nebeng?”

“Ibu mau ke mana?” tanya petugas.

“Medan.”

“Dia mau ke mana?” tanya petugas itu lagi, mengarahkan pandangan pada sesosok pemuda tamvvan di hadapannya.

“Bangka.”

“Ibu mau ke Medan, dia mau ke Bangka? Ya nggak bisa laaahhh!” pungkas petugas itu dengan nada tinggi dan tegas.

“Biasa aja kali, bang. Nggak usah teriak-teriak gitu,” sambar si ibu, lalu ngeloyor pergi, mungkin mencari “mangsa” lain.

Gue cuma mesam-mesem aja. Kalau gue jadi petugas itu, gue juga akan menjawab dengan nada tinggi dan sedikit kesal. Well, dia mau ke Medan, gue mau ke Bangka, logically obviously banget nggak akan bisa nebeng bagasi. Saat gue share di salah satu grup Whatsapp, salah satu temen gue mengingatkan supaya jangan mau menerima titipan bagasi dari orang lain, sekecil apapun itu. Nanti kita sendiri yang kena masalah kalau ada barang aneh-aneh. Maklum, sebagai pemuda lugu dan murah hati, gue ini emang cukup gampang dimintai tolong.

Singkat cerita, jadwal penerbangan berjalan dengan cukup tepat waktu, dan tibalah gue di Pangkalpinang, Bangka, ketika senja menyapa.

 

Fase 3: Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Bangka Belitung

Karena jadwal penerbangan yang diundur, praktis, rencana perjalanan gue pun harus berubah. Gue mendarat di Bandar Udara Depati Amir, Pangkalpinang, sekitar jam 5 sore saat matahari sore bersinar keperakan jelang akhir tahtanya hari itu. Gue berpikir, gue akan buru-buru mencari angkutan umum ke Pantai Pasir Padi, menikmati sunset di sana, baru check-in di Hotel Griya Tirta.

Today, i made a new history. Hari ini, gue berhasil menjejakkan kaki di bandara yang baru, kota yang baru, pulau yang baru: Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Gue nekad ke sini sendirian, berkelana sendirian, tanpa rencana perjalanan yang matang. Tiketnya pun baru gue pesen tepat seminggu yang lalu. Untuk tiket penerbangan pulang pergi dan hotel 2 malam, gue cukup merogoh kocek 1.5 juta rupiah aja. Eh, kok #JadiBisa? Murah amat? Cari tau di: https://thetravelearn.com/2017/11/28/jalan-jalan-ke-bangka atau klik link pada bio. . . #thetravelearn #airport #airplane #airplane_lovers #airplanes1001 #travel #traveling #travelingourplanet #travelingtheworld #travelingram #travelpics #travelphoto #travelphotography #travelstories #traveldiaries #sunset #sunset_ig #sunsetsky #bangka #bangkabelitung #indonesia #wonderfullindonesia #pesonaindonesia #exploreindonesia #discoverindonesia #explorebangka #pangkalpinang

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

landasan pacu bandara depati amir pangkalpinang, bangka
lion air mendarat di bandara depati amir pangkalpinang, bangka

Depati Amir Airport in Pangkal Pinang, Bangka Island. Hari Jumat, ketika menjejak bandar udara ini, gue nggak bisa menahan hasrat buat berkeliling dan mengenali bandara ini. At a glimpse, bandaranya modern, bersih, nyaman, banyak pilihan tempat makan. Dari bandara, hanya ada taksi menuju ke kota. Carilah taksi-taksi non resmi, dan tawar! Gue dapet harga Rp 50rb. Padahal jarak ke pusat kota itu cuma sekitar 7 km aja loh. Blue Bird 70rb. Ada Grab, tapi cuma boleh nganter, nggak boleh jemput. Liburan yang singkat, hari ini gue udah harus ketemu bandara ini buat balik ke pelukan Bandung. Tunggu review-nya di blog! 😁😁😁 . . #thetravelearn #traveler #backpacker #backpackerlife #backpackerindonesia #bangka #bangkaisland #bangkabelitung #pangkalpinang #explorebangka #indonesia #wonderfullindonesia #pesonaindonesia #exploreindonesia #discoverindonesia #traveling #travelingram #travelingourplanet #travelingtheworld #travel #traveladdict #travelstories #traveldiaries #blogger #bloggerindonesia #bloggerlife #travelblogger #bloggerstyle

A post shared by Matius Teguh Nugroho (@nugisuke) on

lorong menuju arrival hall di bandara depati amir pangkalpinang, bangka

Tapi, ealah, yang namanya Nugi itu emang paling nggak bisa ditahan buat blusukan di tempat transportasi umum kayak gini. Nugi nggak cukup kalau cuma mengambil foto pesawat, juga masih nggak cukup  kalau cuma foto lorong menuju Arrival Hall yang didekorasi dengan jajaran kain batik Sumatera. Setibanya di Arrival Hall, gue lalu berkeliling karena nggak sanggup menahan rasa penasaran. Di Arrival Hall ini ada Tourism Center, sayangnya nggak ada petugas di dalam loket (atau di sekitarnya), jadi gue ambil brosurnya ajalah.

Hal pertama yang dijumpai saat melangkahkan kaki keluar Arrival Hall adalah: konter taksi, van / minibus ke kota-kota kecil di Bangka, dan agen-agen taksi nggak resmi yang menghampiri orang-orang potensial. Di depan gedung utama ini, ada selasar berbentuk kotak yang mengitari sebuah taman terbuka. Selasar itu menjadi salah satu area ritel di bandara ini, di mana terdapat KFC, pujasera, ATM Center, toilet, dan bangku-bangku komunal. Bagian depan selasar, yang menghadap area parkir di bawahnya, adalah pick up dan drop off point.

arrival hall bandara depati amir pangkalpinang, bangka
selasar di bandara depati amir pangkalpinang, bangka
pick up and drop off point bandara depati amir pangkalpinang, bangka
lahan parkir dan pintu masuk bandara depati amir dari drop off point

Baiklah, setelah cukup berkeliling, gue pun kembali ke konter taksi dan menghampiri konter Blue Bird. Ongkos menuju Pantai Pasir Padi adalah… JENG JENG JENG, Rp 70.000,00. Gue melengos pergi, ogah membayar setinggi itu. Selanjutnya, gue terlibat percakapan tawar menawar dengan sopir-sopir taksi non-resmi. Singkat cerita, dengan mengamalkan ajaran Menawar Harga didikan emak di Jogja — gigih pada harga yang dimau, sok-sok jalan menjauh padahal ngarep dipanggil lagi — gue berhasil mendapatkan sopir yang mau gue bayar dengan selembar Rp 50.000,00.

Sesaat sebelum berangkat, gue berkata pada abang sopir, kalau gue berubah pikiran dan minta langsung diantar ke Hotel Griya Tirta. Hari sudah beranjak gelap, kemungkinan gue nggak akan bisa mengejar sunset di Pasir Padi. Ternyata, jarak dari bandara Depati Amir ke hotel (dan jarak ke Pantai Pasir Padi, juga pusat kota Pangkalpinang) deket banget, ya Tuhaaannn. Cuma sekitar 7 atau 8 kilometer, tanpa macet pun. Rasanya kesel banget kalau inget tadi ada sopir taksi yang memulai penawaran dengan tarif setinggi Rp 100.000,00. Ente mau ngerampok, bang?

Oh ya, sebelum memasrahkan diri pada taksi, gue terlebih dulu menghampiri abang petugas bandara di area Arrival Hall. Gue menanyakan apakah ada angkutan umum dari bandara ke kota, lalu sejauh apa akses bandara dari jalan raya terdekat. Jawabannya adalah: nggak ada angkot, dan akses yang jauh dari jalan raya. Oke bhay.

Padahal saat gue browsing sebelum hari keberangkatan, ada tulisan di Phinemo yang bilang kalau ada banyak angkot begitu keluar dari bandara dan berbelok ke kiri. Angkot dari mana, Nyeeettt? Teriak gue dalam hati saat membuktikan perkataan abang petugas dari jalan layang drop off point, memandang jalan masuk bandara di bawah sana. Saat kepulangan, gue baru tahu, Bandara Depati Amir saat ini sudah menempati lokasi baru dari lokasi lamanya di Jalan Soekarno Hatta. Oalah, pantes, artikelnya udah nggak kekinian.

Oke, sekarang kita bahas Bandara Depati Amir dari sisi calon penumpang yang akan memulai perjalanan. Departure Hall-nya standar, diisi dengan jajaran konter maskapai untuk check-in. Setelah itu, kita akan diantar naik ke lantai 2 dengan eskalator menuju Boarding Lounge. Karena hanya bandara kecil dengan rute penerbangan yang juga masih terbatas, hanya ada 1 aula tunggu di sini. Boarding Lounge atau aula tunggu ini diisi dengan bangku-bangku panjang dalam berbagai warna, juga ada beberapa sofa. Ada Maxx Coffee dan gerai roti kalau ingin membunuh lapar, atau membunuh bosan. Dari aula tunggu, penumpang akan memasuki pesawat melalui Pintu 1 atau Pintu 2 sesuai yang diinstruksikan.

boarding lounge bandara depati amir pangkalpinang, bangka

Terakhir, gue mau kasih tahu kalau kota Pangkalpinang dan Bandara Depati Amir ini sudah dilayani oleh Grab. Ongkos Grab Car dari Hotel Griya Tirta ke bandara cuma Rp 22.000,00 aja. Bandingkan dengan taksi yang ongkosnya lebih dari 3 kali lipatnya, bah! Grab Bike malah lebih murah lagi, cuma Rp 8.000,00. Tapi entah kenapa, nggak ada Grab Bike yang mau ngangkut blogger hits ini pada hari Minggu pagi itu, huvt. Sayangnya, angkutan online ini nggak diperbolehkan menjemput penumpang di bandara, cuma boleh mengantar. Jadi, mau nggak mau kamu harus pasrah dengan taksi-taksi mahal itu.

Kisah-kisah lainnya seputar bandara dapat disimak di sini.

 

Astaga, udah lama gue nggak menulis sedetil, serunut, dan sepanjang ini! Sungguh terbukti, banyak tidaknya cerita tentang sebuah perjalanan tidak ditentukan dari berapa banyak tempat yang kita datangi atau berapa lama waktu yang kita habiskan dalam perjalanan itu, namun dengan bagaimana kita menjalani perjalanan itu. Sungguh, meski tak sampai 3 hari, namun perjalanan ke Pangkalpinang, Bangka Belitung, tetap kaya warna dan kaya cerita. Tunggu kisah selanjutnya 😉

Iklan

50 tanggapan untuk “Sebuah Kisah Perjalanan Menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang”

  1. Nah saya juga pernah ditanya mengenai kelebihan bagasi oleh penumpang lain. Radar emak-emak langsung saja berdiri, ngapain Bapak ini nanya-nanya soal kelebihan bagasi? Tapi saya jawab saja baik-baik bawa bagasi saya terpakai semua, maklum Pak kalau perempuan bepergian, kalau bisa isi rumah diangkut semua…

    Memang sebaiknya kita tidak pernah menerima titipan bagasi dari orang yang tidak kita kenal. Sudah banyak banget kejadian yang tak enak di belakangan. Yang paling ngeri sih kalau ada benda-benda Terlarang. Bukan Sok sebetulnya tapi prevensi untuk kemaslahatan perjalanan kita sendiri

  2. Bandara di Indonesia memang bagus-bagus sekarang, walau kadang terasa seragam. Tapi Bandara Soekarno-Hatta itu keren lho detailing nya. Indonesia banget.

    Masalah ibu-ibu mau nitip barang, Kita berhak nolak kok. Kita ga pernah tau barangnya apa aja. Kalau narkoba gimana? Hiiy, sereeem

  3. Hahahahha..salam sama emak2 rempong tadi yaa..
    Btw, kalo ke daerah emang taksi suka nyekek..adanya transportasi online memudahkan banget…meskipun kadang harus jalan dikit keluar bandara

  4. Pertama, aku suka sedih kalau ada yang bilang bandara T1 Soetta itu macam terminal. Ya ya, di waktu-waktu tertentu emang rame banget di bagian konter check in-nya, tapi secara umum, bandara ini oke menurutku. Ruang tunggu memadai, toilet bersih. Malah sekarang ditambah rest area pula kan.

    Kedua, masih takjub dengan bandara Depati Amir. Ketiga, nah kalau bandara lama, jalan kaki dikit udah nemu angkot emang Nugie. Macam bandara Jogja-lah yang jalan kaki dikit udah bisa nyegat taksi online.

    1. Departure Hall-nya (aula check-in) itu memang kesannya sumpek sih karena langit-langitnya rendah, tapi nggak kayak terminal juga seperti katamu. Toiletnya bersih dan wangi.

      Nah berarti bener dugaanku, itu bandara lama yang deket di kota.

  5. wkwkwk jangan bandingin deh Mas Grab sama taksi biasa…. Bangkrut adanya kalo keseringan…

    Eh itu area ritel bandara suhat kok bagus gt… Kok aku blm pernah ke area situ ya? hemmm…

  6. sumpah ya, itu si emak-emak random plus maksa amat. Mau nitip ke orang yang beda jurusan, nanti kalau kopernya nyasar dia yang marah-marah ke petugas. Next time kalau ketemu orang mau nitip bagasi, jangan mau, gi. Takutnya nitipin narkoba atau barang terlarang lain, malah lo yang ketiban musibah. Say no aja langsung.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s