bangka belitung, Indonesia, pangkalpinang, Pantai, Travel, Wisata

Berkelana di Bangka Dalam 2 Malam 1 Hari: Wisata Pantai dan Otak-Otak Ase

Setelah mampir di Jembatan Emas Pangkalpinang, gue melanjutkan perjalanan mengunjungi Padepokan / Vihara Puri Tri Agung dan Pantai Tikus di sebelahnya, Pantai Tanjung Pesona, dan Pantai Pasir Padi sebelum akhirnya makan malam di Otak-Otak Ase dan beristirahat.

Sebelumnya, maafkan tulisan yang terlambat ini dan terpisah jeda yang cukup jauh dengan tulisan sebelumnya. Ini pun gue tulis dengan maleeesss banget. Padahal biasanya gue selalu semangat nulis cerita perjalanan, kayak bagian sebelumnya. Tapi demi sebuah kisah perjalanan yang tuntas, gue mendorong diri sendiri buat publish tulisan ini weekend ini.

 

Padepokan Puri Tri Agung

Beberapa ratus meter dari Jembatan Emas, gue agak kaget dengan medan aspal mulus yang tiba-tiba berubah menjadi jalan berkerikil kasar. Tau ‘kan jalan berkerikil itu salah satu musuh besar pengendara sepeda motor? Gue yang tadinya ngebut pun langsung menurunkan kecepatan, puji Tuhan berhasil melintasi jalur itu dengan selamat.

Karena bingung kenapa jalan rusaknya cukup panjang dan gue jadi satu-satunya pengendara di situ, gue iseng melihat lajur arah berlawanan yang dipisahkan oleh pembatas alami. Ternyata pengendara yang searah sama gue pakai lajur jalan itu, wkwkwk. Mungkin karena sudah tau kondisi lapangan, sebelum bertemu pembatas jalan mereka udah buru-buru pindah ke lajur jalan yang mulus.

Lepas dari area Jembatan Emas Pangkalpinang, medan menyempit menjadi jalanan 2 lajur yang lengang, mulus, dan memiliki kelokan tajam di beberapa titik. Ada beberapa bagian jalan yang diselimuti butiran tanah merah kering, jadi memang nggak boleh lengah di rute ini walaupun nampaknya lengang dan mulus.

Padepokan / Vihara Puri Tri Agung ini terletak di puncak bukit kecil yang menghadap ke laut. Dari jalan umum, gue melalui jalan menanjak untuk memasuki komplek vihara. Jalan berundak juga tersedia buat pejalan kaki, siapa tau kamu cuma di-drop di depan komplek hihihi. Petunjuk parkir motor sendiri nggak terlalu jelas, gue parkirkan motor di samping warung biar teduh, toh ada beberapa sepeda motor lainnya.

panorama laut cina selatan dari padepokan puri tri agung
ratusan anak tangga yang menghubungkan jalan raya dengan vihara puri tri agung
sengaja merem, silai banget meeennn!

Dinamakan Tri Agung karena tempat ibadah ini memang didedikasikan untuk seluruh umat Tri Dharma, yakni Buddhisme, Konghucu, dan Taoisme. Pagodanya sendiri berbentuk melingkar dengan tinggi hampir 30 meter. Salah satu ikon wisata Provinsi Bangka Belitung ini ternyata masih tergolong baru, baru diresmikan pada tahun 2015 setelah mulai dibangun pada tahun 2002. Ia berdiri di antara kawasan hutan lindung Bukit Rebo, dengan pelataran luas yang menghadap ke Laut Cina Selatan.

Vihara / Pagoda Puri Tri Agung ini dibangun untuk meningkatkan citra Bangka Belitung sebagai provinsi religius. Gue salut banget sama inisiatif ini. Biar bagaimanapun, Islam tetap menjadi keyakinan mayoritas di Bangka Belitung (eh iya kan? Cmiiw) namun pembangunan pagoda ini berjalan lancar, bahkan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

altar vihara puri tri agung
langit-langit pagoda puri tri agung yang cantik dengan dekorasi bunga teratai
kiri: patung Buddha di depan pagoda, kanan: Dewi Kwan Im di sudut pelataran puri tri agung

Pagoda di Padepokan / Vihari Puri Tri Dharma ini memiliki atap melingkar yang terdiri atas 3 tingkat. Patung Buddha ditempatkan di tengah halaman dengan sesajen, seolah menyambut setiap umat yang datang dengan seuntai senyum ramah. Di sudut pelataran terdapat patung Dewi Kwan Im dengan altar kecil untuk pemujaan. Di dalam pagoda, kita bisa melihat langit-langitnya yang berhiaskan lukisan bunga teratai. Selain ketiga patung utama yang diletakkan di altar, juga terdapat patung-patung Buddha dalam versi kecil yang diletakkan secara vertikal di atasnya. Sementara itu, ada lonceng besar juga di dalam vihara yang mungkin digunakan untuk ritual peribadatan.

 

Pantai Tikus, Sungailiat, Bangka Belitung

Nggak banyak yang bisa gue lakukan di Padepokan Puri Tri Agung. Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto, gue berjalan menuruni tangga untuk menuju Pantai Tikus. Ternyata panas bangeeettt.

Pantai ini gratis dan sepiiiiii. Saat itu hanya ada sekelompok remaja yang lagi santai-santai di tepi pantai. Dinamakan Pantai Tikus karena keberadaan sebuah bukit bebatuan yang kalau dilihat dari atas atau dari kejauhan tampak seperti tikus. Hm, gimana menurut kamu? Yang jelas di pantai ini ada banyak batu-batu granit besar yang jadi khas pantai-pantai di seantero Bangka Belitung.

pantai tikus di sungailiat, bangka belitung, dengan pasir putih dan batu-batu granit besar
menikmati pantai tikus di bangka yang puanase pooolll
pantai tikus di pulau bangka ini sepiii

Karena nggak tahan panas dan juga nggak ada temen (sedih banget nggak sik?), gue juga nggak lama-lama di Pantai Tikus ini. Gue bahkan nggak buka baju apalagi main air, karena panas dan nggak ada yang bisa bantu jagain barang. Lumayan euy, bawa handphone sama kamera juga soalnya. Jadi setelah cukup foto-foto, gue naik lagi ke padepokan terus mampir dulu di warung. Adek lelaaahhh, keringat bercucuran karena panas terik dan harus menapaki ratusan anak tangga.

 

Pantai Tanjung Pesona

Berbeda dengan Pantai Tikus, Pantai Tanjung Pesona adalah sebuah resor. Jadi, di dalamnya nggak cuma ada pantai, tapi juga hotel, restoran, fasilitas olahraga (banana boat dan kawan-kawannya), wahana permainan sederhana, dan banyak tempat duduk di tepi pantai. Cocok banget buat jadi tempat liburan keluarga karena semuanya ada di sini. Suasana Pantai Tanjung Pesona di Sungailiat, Bangka Belitung, ini juga jauh lebih riuh daripada Pantai Tikus. Bahkan ada beberapa kelompok besar yang nampaknya adalah rombongan outing kantor.

selamat datang di pantai tanjung pesona, bangka belitung!
fasilitas di pantai tanjung pesona, bangka belitung
perahu-perahu dan gazebo-gazebo di pantai tanjung pesona
resor pantai tanjung pesona, bangka belitung

Tiket masuk dan tariff retribusi parkir ke Pantai Tanjung Pesona adalah Rp20.000,00. Lupa gimana pembagiannya, pokoknya itu jumlah uang yang gue bayar. Lalu karena sudah waktunya makan siang, gue melipir ke salah satu restoran dan mesen — nasi goreng seafood seharga Rp45.000, sanggupnya pesen itu aja gan. Rasa dan komposisinya ya begitulah, nggak usah berharap banyak pokoknya, yang penting perut nggak kosong. Tapi lumayan udah dapet telur ceplok, udang goreng tepung, dan kerupuk. Gue juga sempet beli 1 botol air mineral dengan harga… Rp10.000,00.

panorama pantai tanjung pesona di sungailiat, bangka belitung

jembatan yang instagrammable di pantai tanjung pesona
selfie dulu di jembatan, hehe

makan siang di pantai tanjung pesona, bangka belitung

Yang menarik dari Pantai Tanjung Pesona (selain air biru toska dan batu-batu granit besar seperti pantai-pantai di Bangka Belitung pada umumnya) adalah adanya sebuah jembatan kecil yang menghubungkan resor dengan sebuah pos di laut. Lumayan buat foto-foto atau duduk-duduk santai. Gue masuk ke jembatan itu dengan memanjat batu-batu granit, naik tangga ke dalam resor, lalu melalui pintu luar, hehehe.

 

Pantai Pasir Padi

Niat hati mau eksplor pantai-pantai di Sungailiat sampai sunset, apa daya anaknya nggak tahan banget sama cuaca panas. Akhirnya gue langsung bergegas kembali ke Pangkalpinang setelah puas dengan Pantai Tanjung Pesona. Sesaat setelah keluar dari komplek resor Pantai Tanjung Pesona, ada sedikit insiden yang terjadi — starter motornya nggak bisa dipelanin.

Gue nggak tau kenapa starter motornya jadi kayak gitu, mungkin gue terlalu agresif? Sepanjang jalan, gue menggenggam starter sambil sedikit menekan rem supaya kecepatan gue tetap konstan dan nggak lepas kendali (eh, jadi kayak nama blog orang). Alhasil, gue beberapa kali diklaksonin truk karena berjalan terlalu pelan. Yaelah. Setelah beberapa lama, gue coba menurunkan kecepatan dan puji Tuhan berhasil. Sepeda motor berfungsi dengan normal seperti sedia kala!

Pantai Pasir Padi berada di kawasan Air Itam, Pangkalpinang. Dengan bantuan Google Maps dan petunjuk warga sekitar, gue berhasil tiba di pantai ini. Tariff masuknya hanya Rp2.000,00 sahaja. Pasir Padi ini memang pantai murah meriah yang jadi jujugan segenap umat Pangkalpinang untuk bersantai. Dinamakan Pasir Padi karena dari kejauhan pasir pantainya tampak seperti bulir-bulir padi yang ditidurkan. Menurut kamu gimana, travelearners?

panorama pantai pasir padi di pangkalpinang, bangka belitung
gimana, kayak timbunan padi gitu nggak?
jajaran warung-warung di pantai pasir padi, pangkalpinang

Tulisan berbunyi Pantai Pasir Padi berdiri di tepi pantai. Sayang banget lokasinya nggak pas, masak di belakang tempat parkir? Jadi nggak leluasa buat foto-foto. Di sepanjang pantai, warung-warung sederhana berjajar menawarkan bangku-bangku santai untuk menikmati pantai. Menu yang dijajakan biasanya hanya minuman dan makanan kecil aja. Beberapa restoran juga ada di pantai ini. Sempet membaca berita, Pasir Padi bakal menjadi Seminyak-nya Pangkalpinang. Hm, gimana menurut kamu?

Ternyata keputusan gue buat menikmati sunset di Pantai Pasir Padi ini salah besar. Kenapa? Karena matahari terbenam di sisi yang berseberangan dengan pantai! Nyahahahaha. Alhasil gue cuma dapet semburat jingga tipis di pantai ini.

pengunjung bermain layang-layang di pantai pasir padi

sunset di pantai pasir padi, pangkalpinang
jelang petang di pasirpadi

Saat gelap menyergap, gue pun menuntaskan kunjungan di Pantai Pasir Padi. Dalam perjalanan ke pusat kota, gue disambut langit Bangka yang dipulas dengan warna jingga menyala. Ingin rasanya berhenti lalu mengabadikannya, tapi takut mengganggu lalu lintas karena jalannya hanya 2 lajur tanpa trotoar atau bahu jalan, hehehe.

 

Makan Malam di Pempek Ase

Walaupun pempek lebih identik dengan Palembang atau Sumatera Selatan, tapi banyak yang merekomendasikan gue buat makan pempek selama di Bangka. Melalui Foursquare, gue dapet beberapa rujukan tempat makan pempek yang terkenal di Pangkalpinang, salah satunya bahkan deket banget sama posisi gue saat itu di pusat kota: Pempek Ase.

Pempek Ase atau Otak-Otak Ase ada di Jalan Kampung Bintang no. 149. Di jalan ini juga terdapat beberapa tempat makan pempek atau otak-otak lainnya dan tempat berjualan oleh-oleh. Tempat makannya sih bukan tipikal tempat makan yang enak didatangi sendiri, tapi gue cuek aja dan langsung duduk di salah satu bangku. Bangku-bangku di Otak-Otak Ase terbatas, semuanya ada di area luar karena bagian dalamnya digunakan untuk kasir dan toko oleh-oleh.

Di sini, kita nggak perlu memesan hidangan tertentu kepada pelayan. Dia akan datang membawa seluruh ragam pempek dan otak-otak yang ada, masing-masing dalam satu porsi. Kita cukup memakan otak-otak atau pempek yang kita mau, sebanyak yang kita mau. Nanti, pelayan akan menghitung berapa makanan yang udah kita ambil.

otak-otak dan pempek ase di pangkalpinang

Beberapa di antaranya adalah otak-otak bakar (seperti yang udah banyak dijumpai di Pulau Jawa), otak-otak rebus (yang mirip pempek), dan otak-otak goreng yang terbuat dari kulit. Ada yang dari ikan, udang, juga cumi. Semuanya enaaakkk. Abang pelayannya dengan sabar menjelaskan masing-masing jenisnya. Cuma karena udah kelamaan dan nggak gue catet, gue udah lupa sekarang hahaha. Total biaya yang gue habiskan di sini adalah Rp65.000,00. Terus karena mereka juga jual oleh-oleh, gue pun sekalian beli oleh-oleh di sini.

 

Karena masih ada waktu, gue pun menghubungi seorang travel blogger yang dulu pernah tinggal di Bangka — bang Citra Rahman — buat minta rekomendasi tempat ngopi. Dia menyarankan Warung Kopi Akhew yang memang legendaris dan udah terkenal di Pangkalpinang. Sayang banget, kedai kopi di sudut Jalan Balai ini malah tutup. Akhirnya gue mengarahkan si kuda besi ke Goochi, sebuah café usulan bang Citra. Nggak ada yang terlalu spesial di café ini, foto-foto pun nggak ada, jadi cerita perjalanan di Pulau Bangka, provinsi Bangka Belitung, gue cukupkan sampai di sini ya.

Esok paginya, gue langsung berangkat menuju Bandara Depati Amir setelah mandi, sarapan, berkemas, dan mengembalikan sepeda motor sewaan (mas Fahri-nya yang dateng ke hotel buat ambil sepeda motor). Dari Hotel Griya Tirta, gue naik Grab Car menuju Bandara Depati Amir. Terima kasih buat yang udah nyimak cerita perjalanan gue di Bangka. Seluruh seri dapat kalian lihat seluruhnya di SINI. Nantikan cerita-cerita perjalanan berikutnya, doakan gue ada rejeki buat traveling di sebuah negara yang baru.

Iklan

38 tanggapan untuk “Berkelana di Bangka Dalam 2 Malam 1 Hari: Wisata Pantai dan Otak-Otak Ase”

  1. Ulasan travelling Bangka di blog ini lengkap. Jadi kalau mau ke Bangka tinggal datang ke sini lalu klik klik dan mengumpulkan informasi. Terima kasih atas kesabarannya menulis yang lengkap ini Mas Nugie. Saya jadi punya referensi tentang Bangka

  2. wah, udah ada grab ya di Bangka, haseeek… kampung bintang gudangnya makanan enak di Bangka, asal jangan kesana pas imlek aja wkwkw, aku kesana dan gak banyak yg bisa didatangi

  3. Wuih aku pengen sekali ke Bangka atau Belitung tapi selalu gak jadi dan tidak jadi, ada aja halangan semoga segera ada rejeki mengunjungi tempat wisata ini mumpung saya masih di Sumatera. Btw otak otak dan pempek nya sangat menggoda sekali ya, reviewnya mengenai Bangka Belitung baik artikel ini dan sebelumnya sangat menarik loh mas

    1. Ayo ke Bangka selagi deket, Fer. Dari Jakarta aja tiketnya murah lho. Lumayan buat pelarian karena tiket jauh lebih murah daripada ke pantai-pantai Indonesia Timur hehehe.

      Trimakasih, Fer. Senang dapat menginspirasi 🙂

      1. iya benar, tapi yang memang bikin sering gak jadi adalah kalau dari tempat saya di Medan harus ke Jakarta dulu, bayangkan saja dua jam perjalanan ke Jakarta dan harganya juga gak murah murah amat. Padahal Bangka dan Medan adalah satu pulau yaitu Pulau Sumatera. Btw kemana next perjalanan nya sekali kali main ke Medan lah

  4. nasi goreng 45rb, mungkin kalo aku yg jadi kamu waktu itu, iya sanggupnya cuma itu hehhe.
    aku masih mikir ini, bulir padinya aku nggak nemu, malah kayak air yg dibelakang fotomu itu

  5. Ku nyesel, dulu 5 hari di Bangka nggak kemana-mana, cuma ke Koba, bangka Botanical Garden sama Pasir Padi aja, lainnya mager di kosan temen dan rumah sodara. Kesana pas imlek, semua kuliner pada tutup kaya lebaran ahahahaha. Ngenes.

    padahal banyak tempat seru di Bangka yak.

  6. Hi kak, menarik banget nih Bangka.
    Saya sempet ke Belitung cuma sayang engga ke Bangka. Keknya kudu balik lagi dan nyoba explore Bangka nih.

    Makasih buat artikelnya yang informatif kak, keep sharing!
    Btw sunset di Pantai Padi cantik, paling menarik buat saya.

  7. Begitu baca di judul ada kata otak-otak, aku langsung jump scroll ke bagian kuliner dulu, dong! Hahaha. Dan bener aja emang bikin ngiler, ya, kak 😀
    Mau banget ah main ke Bangka Belitung!

  8. Genit banget itu yang klaksonin…. Gak tahu apa kalo lagi khawatir terbang ke angkasa kalo lepas remnya. Ahahahaj…

    Btw bagus2 ya pemandangannya emang di sana.. Bersyukurlah ada Laskar Pelangi. Kalo enggak, gtw deh kapan itu keblow upnya..

  9. Kayaknya paling asyik di Pantai Tikus ya, gi? Kenapa bisa sesepi itu ya?
    Kalau Tanjung Pesona karena resort, jadi kurang greget gitu. Dulu gue udah beli tiket ke Bangka, eh Batavia Air nya bangkrut. Jadi masih dendam nih mau ke sana kapan2 T.T

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.