Berkelana di Bangka Dalam 2 Malam 1 Hari (Part 1): Jembatan Emas & Wisata Kuliner

menginap 2 malam di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

Setelah lama nggak menjejakkan kaki ke satu provinsi baru di Indonesia, tanggal 1-3 Desember 2017 lalu gue akhirnya berhasil mencetak satu milestone lagi dengan jalan-jalan tipis ke Pangkalpinang, Bangka Belitung. Sekilas, kayaknya gue punya waktu 3 hari gitu ya di Bangka. Tapi karena jadwal tiket gue berangkat dari Jakarta jam 13:40 dan tiba di Bangka jam 14:50 (belum termasuk delay sekitar 1 jam, pffft), lalu udah balik lagi ke Jakarta jam 11:20, jadi secara efektif gue cuma punya waktu 2 malam dan 1 hari buat berpetualang.

 

Yowis, rapopo, bisa menginjakkan kaki di bandara, kota, pulau, dan provinsi yang baru aja udah membuat gue bersyukur banget. Seperti trip-trip domestik sebelumnya, gue woles banget menyusun itinerari di Bangka ini. Sekedar browsing-browsing, tau ada tempat ini dan tempat itu, terus ya udah.

Baca Juga: Perjalanan Hemat ke Pangkalpinang, Bangka

Saat di Bangka, gue nggak maksain diri harus bisa membabat semua tempat yang gue pengen dalam 2 malam 1 hari itu. Aslinya mah pengen banget island hopping ke Pulau Belitung atau pulau kecil mana pun di sekitarnya, pengen ke danau kaolin bekas penambangan, tapi setelah memahami realita, gue nrimo kalo cuma bisa main-main di Pangkalpinang dan sekitarnya. Lha ternyata Pulau Bangka itu nggak sekecil yang gue kira je.


Menyewa Sepeda Motor di Pangkalpinang, Bangka

Sebelum hari keberangkatan, gue udah mengirim permintaan ke beberapa member Couchsurfing buat jadi host gue selama di Bangka. Gue juga udah share rencana perjalanan gue ini ke beberapa komunitas traveler di WhatsApp dan Facebook. Semuanya nggak membuahkan respon yang gue inginkan, padahal lumayan kan kalo ada yang bisa nganterin ke sana kemari selama di Bangka kayak pas gue di Pontianak bulan April 2017 lalu, hehehe.

 

Sesampainya di Pangkalpinang dan check-in sendirian (penting banget buat dikasihtau, Gie?) di Hotel Griya Tirta, gue bergegas menjelajah dunia maya buat menemukan persewaan sepeda motor yang masih available. Di Pangkalpinang emang udah ada Grab, tapi masalahnya gue pengen ngebolang seharian ke pantai-pantai di Sungailiat. Daripada gue kesusahan cari driver selama di sana, mending gue sewa motor aja toh?

kursi santai di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

fasilitas kamar di hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

kamar mandi hotel griya tirta pangkalpinang, bangka belitung

Setelah menghubungi Transmoka Rental Motor (081373114671) yang ternyata semua motornya udah penuh buat besok Sabtu, gue menghubungi Fahri Rental Motor (081373257275). Puji Tuhan, masih ada 1 sepeda motor Mio yang available. Ongkosnya cuma Rp80.000,00 / hari terus dianterin langsung ke hotel tanpa biaya tambahan. Yay!


Makan Malam di Mie Koba Pangkalpinang

Gue yang tadinya mau buru-buru ke Pantai Pasir Padi setelah mendarat buat ngejar sunset, ternyata menghabiskan waktu sekitar 1 jam buat muter-muter bandara, foto-foto, mondar-mandir nggak jelas, dan tawar menawar sama sopir taksi bandara. Grab nggak boleh jemput penumpang dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang, cuma boleh nganter doang. Makanya, gue mengubah rencana buat langsung check-in di hotel, mandi dan istirahat, terus makan malam aja udah.

Baca Juga: Sebuah Kisah Perjalanan Menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang

Dari hasil browsing di internet, gue dapet info kalau Jalan Balai adalah kawasan kuliner malam terkemuka di Pangkalpinang, Bangka. Dari Hotel Griya Tirta di kawasan Jalan Semabung Lama, gue naik GrabBike sejauh kurang lebih 3 kilometer menuju Jalan Balai di daerah Taman Sari. Gue udah membayangkan satu ruas jalan yang nggak terlalu lebar, ramai dengan warung pinggir jalan di kanan kirinya. Tapi kenyataannya…

Krik krik krik.

 

Jalan Balai ini sepiiiiii banget! Udah sepi, gelap pula karena minim pencahayaan. Mana nih kawasan kuliner Jalan Balai? Ya udah lah, daripada bingung, gue minta diturunin babang GrabBike di persimpangan meski sebenernya gue juga nggak yakin. Gue lalu jalan kaki menyusuri Jalan Balai itu, and I was the only pedestrian that night! Gue sambil celingak celinguk di persimpangan selanjutnya, mencoba merumuskan apakah ada kehidupan yang lebih riuh di ujung sana.

Mendekati persimpangan dengan Jalan Jenderal Sudirman (arah kembali ke hotel), gue memutuskan buat makan malem di Mie Koba Iskandar. Kayaknya sih terkenal di Google Maps dan Foursquare, tapi kok penampakannya biasa-biasa aja. Ada beberapa pelanggan, tapi juga nggak rame-rame amat. Gue masuk dengan agak ragu, duduk di kursi plastik, lalu seorang pemuda menghampiri gue.

“Ada apa aja, bang?” tanya gue, tak lupa menambahkan sedikit logat tegas ala Sumatera (entah berhasil atau tidak, ku tak tau).

“Mie Koba aja, bang.”

Well then, I didn’t have much choice there. Menu minuman pun cuma ada air mineral sama teh botol. Padahal kayaknya makin afdol yak kalo ada menu kopi atau teh tarik khas Melayu. Nggak lama kemudian, seporsi Mie Koba mendarat di atas meja berdampingan dengan beberapa butir telur rebus di dalam sewadah mangkok. Gue icipin kuahnya perlahan, hm… rasanya manis. Warna bakminya kecokelatan, senada dengan warna kuah, dengan tekstur yang lengket dan agak kenyal. Potongan-potongan seledri dan bawang goreng ditaburkan di atasnya, tanpa ada isian lain seperti daging atau orekan telur goreng. Karena rasanya kurang lengkap tanpa menu pendamping, gue lalu mengambil sebutir telur rebus untuk dinikmati bersama mie.

mie koba iskandar di jalan balai, pangkalpinang, bangka belitung

Rasanya nggak jelek, tapi juga nggak terlalu istimewa. Dengan harga cuma Rp15.000, gue nggak ngerasa rugi juga makan malem di Mie Koba Iskandar Pangkalpinang, Bangka Belitung.


Tung Tau Toniwen

Sebelumnya, I had no idea what a Tung Tau is. Gue nggak tau apakah dia ini semacam jaringan rumah makan cepat saji, tapi gue melihat di Foursquare ada beberapa Tung Tau di Pangkalpinang ini. Salah satunya, Tung Tau Toniwen, berada cukup deket dengan lokasi gue saat itu. Karena merasa belum terlalu kenyang dan juga masih terlalu dini buat balik ke hotel, gue memutuskan buat melanjutkan petualangan (kuliner) malam itu ke Tung Tau Toniwen.

Ternyata, Toniwen itu adalah nama jalan di mana Tung Tau itu berada. Tung Tau Toniwen berada dalam satu gedung dengan Sun Hotel Pangkalpinang. Suasananya cukup rame, jauh lebih hidup daripada Mie Koba Iskandar, tapi syukurlah masih ada kursi buat seorang traveler jomblo yang sendirian. Mata gue melebar begitu baca daftar menunya. Ternyata Tung Tau itu menyediakan menu minuman dan makanan ringan ala Melayuuu, horeeeeee! Gue lalu memesan roti telur dan teh tarik panas, hihihi.

roti bakar telur dan teh tarik di tung tau toniwen

tung tau toniwen ada di sun hotel pangkalpinang, bangka belitung

Roti telurnya enak, gurih, tingkat kematangannya pas, dengan isian telur rebus yang dipotong-potong. Pokoknya gue cukup puas lah nongkrong di Tung Tau Toniwen ini, would be better kalo ada satu atau dua anak muda lokal yang menemani saat itu. Total biaya yang gue harus bayar adalah Rp32.000,00. Menurut travelearners mahal nggak?

 

Malam pertama di Pangkalpinang, Bangka, sukses gue habiskan dengan kulineran. Gue lalu balik ke hotel dengan GrabBike buat beristirahat, mempersiapkan energi untuk petualangan di hari kedua!


Jembatan Emas Pangkalpinang

Hotel Griya Tirta yang gue pesan dari paket Flight + Hotel Traveloka ini emang nggak termasuk sarapan. Jadi karena gue males keluar buat sarapan, dan kayaknya juga nggak banyak tempat makan di sekitar hotel, gue pesen sarapan buat dianter ke kamar dengan biaya Rp25.000. Gue lupa apakah gue pesen nasi kuning atau nasi goreng. Pokoknya demi asas kemalasan, gue hepi-hepi aja bayar segitu, hahaha.

 

Pagi ini gue janjian sama mas Fahri supaya dia nganterin motor yang mau gue sewa ke Hotel Griya Tirta. Rupanya mas Fahri dateng saat gue lagi mandi dan sibuk foto-foto hahahaha, dia sampai ketok-ketok kamar dan telfon WhatsApp, tapi jelas nggak gue angkat. Mas Fahri-nya lalu pulang gitu aja. Lhaaahhh kamunya juga nggak konfirmasi dulu, mas.

 

Gue buru-buru bales chat-nya, minta dia balik lagi ke hotel, dan puji Tuhan dia bersedia.  Setelah melakukan pembayaran dan prosesi serah terima kunci motor, gue nganterin mas Fahri balik ke rumahnya. Katanya sih deket, tapi ternyata — hm, gue yakin itu jaraknya 3 km lebih. Jalanannya sepi sih, tapi banyak beloknyaaa. Gue sempet nyasar sekali pas mau balik ke Hotel Griya Tirta, hehehe. Oh iya, saat itu gue cuma pake celana kolor putih yang sukses tersingkap angin saat naik motor, terima kasih.

Berbekal sepeda motor matic, Google Maps, dan doa dalam nama Yesus Kristus, gue berkendara dengan percaya diri menuju Sungailiat. Jalurnya sendiri gampang banget tanpa banyak belokan. Dari Hotel Griya Tirta, gue tinggal menyusuri Jalan Depati Hamzah (sebenernya bisa lewat Jalan Ketapang, tapi gue kebablasan karena jalannya agak kecil) lalu berbelok kiri memasuki Jalan Lintas Timur Bangka. Jalan Lintas Timur ini kayak Ring Road-nya Jogja atau Jalan Soekarno-Hatta Bandung versi sepi gitulah. Jalanannya mulus terus sepiiiiii sampai gue berani ngebut, wakakakaka.

berani ngebolang sendirian di bangka kayak gue nggak?

Karena bensin tinggal beberapa strip dan gue nggak yakin di depan sana ada harapan, gue sempet memutar buat isi bensin sebesar Rp20.000,00. Jalanan yang semula terdiri atas 4 lajur bersekat pun berubah menjadi jalan 2 lajur biasa yang diapit trotoar tanah basah dan semak-semak belukar. Nggak berapa lama kemudian, gue udah sampai di Jembatan Emas Pangkalpinang, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Jembatan Emas Pangkalpinang ini menjulur sepanjang 785 meter selebar 23 meter, menghubungkan kota Pangkalpinang dengan kabupaten Bangka di atas Sungai Pangkal Balam yang bermuara ke lautan Selat Karimata. Nama “Emas” diambil dari nama Eko Maulana Ari Suroso, gubernur Bangka Belitung yang bertahta pada periode 2007-2012. Biaya pembangunannya? Hm, sekitar Rp400 miliar aja kok.

 

jembatan emas pangkalpinang, bangka belitung, dari jauh

foto jembatan emas pangkalpinang ini diambil dari tengah jalan lho!

foto panorama jembatan emas pangkalpinang, bangka belitung

Jembatan Emas Pangkalpinang ini sebenernya jadi destinasi dadakan setelah gue buka Google Maps. Jadi, setelah mempelajari rute perjalanan dari Hotel Griya Tirta ke Sungailiat, gue lihat ada jembatan ini. Gue browsing, eh ternyata keren juga. Ya udah, sekalian aja gue mampir. Dari atas jembatan, gue bisa menikmati indahnya panorama laut Selat Karimata yang berwarna biru toska, kesibukan para nelayan yang bermukim di tepi laut, dan kapal yang hilir mudik di Pelabuhan Pangkal Balam di bawah sana.

Jalanannya sepi bangeeeeeettt! Bener-bener sepi sampai gue bisa leluasa foto-foto di tengah jembatan tanpa takut ketabrak truk atau mengganggu lalu lintas. Sekelompok wisatawan bahkan rame-rame berpose duduk di tengah jembatan dan sama sekali bebas dari bahaya ketabrak. Di bawah jembatan juga ada Pantai Kualo dan Pantai Muara di mana beberapa warga lokal duduk menikmati piknik.

selfie di tengah jembatan emas pangkalpinang yang suepine reeekkk

menengok laut dari jembatan emas pangkalpinang

 

Jembatan Emas Pangkalpinang tampak megah dengan konstruksi tiang-tiang pancangnya yang tinggi. Di kedua sisinya terdapat lajur untuk pejalan kaki yang dibatasi dengan pagar pengaman. Kalau punya banyak waktu di Pangkalpinang, gue sarankan ke Jembatan Emas ini saat terang dan saat gelap buat menikmati keindahan lampu warna-warninya di malam hari.

Bersambung di tulisan berikutnya dengan tujuan: Pantai Tikus dan Vihara / Padepokan Puri Tri Agung, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Pasir Padi, dan Pempek Ase Pangkalpinang. Keep learning by traveling, cheers!

Iklan

44 komentar

  1. Jadi semacam warung Mie Celor 26 Ilir Palembang yang hanya jual mie celor tok ya hehe. Btw Nugie, Jembatan Emasnya benar 400 triliun? itu uang yang banyak sekali. Aku penasaran dan langsung googling, dan nemu satu situs yang bilang biaya pembangunannya 600 miliar “saja”. Coba cek lagi.

    Oh ya, walau gak jadi pake jasa Transmoka Rental Motor, kalau ada no kontaknya juga sekalian ditambahkan. Aku punya sodara di Sungai Liat, tapi kepikiran mau eksplor dengan motor sewaan kayak Nugie. Ngebayanginnya aja udah seru.

    1. Oh iya, mas. Aku salah ketik, itu maksudnya 400 miliar hehehe. Makasih koreksinya, mas. Aku sekalian tambahin juga nomor kontak TransMoka.

      Selama jalanannya nggak macet, touring itu emang seru wkwk 😀

      1. Iya bener. Apalagi kalau touringnya ke destinasi yang cakep.

      2. Sepanjang perjalanan bisa jadi destinasi dadakan, hahaha.

  2. wuih jian tenan..anda memang petualangan sejati mas bro..
    kalau saya juga berani sih bolang sendirian hahaha
    aku ke sumatra baru ke Jembatan Arasy jambi n barito..lainnya belum pernah hehe

    1. hahaha ayo ke sumatera lagi mas 😀

  3. Hotelnya punya mama teman aku.. *penting banget hehehehe, …. belum sempat tertarik ke Bangka maunya ke Belitong. Tapi, meskipun mie nya kata Nugie nggak terlalu istimewa dan nggak terlalu jelek juga, aku kok mupeng ya.
    .
    .

    1. Memang nggak istimewa tapi wajib kalo ke Bangka. Nggak ada di tempat lain soalnya 🙂

  4. Baru pertama membaca tentang mie Koba. Mungkin karena adanya cuma di Bangka barangkali ya. Bentuknya seperti mie mie godog Jawa ya, Mas?

    1. Kalo mie godhog Jawa warna bakminya kuning cerah, mbak. Lalu rasa dominannya gurih, kalo mie Koba ini manis 😀
      Kayaknya cuma ada di Bangka ya.

  5. Seluas apa sih sebenernya Bangka itu? Kalo di peta kan kayaknya kecil ya. Hahaha.
    Setiap baca tulisan soal Bangka, Mie Koba ini selalu ada. Jadi penasaran.

    1. Kayaknya hampir sama kayak DIY. Kayaknya lho.
      Haha, nanti ke Bangka cobain Mie Koba 😀

  6. Roti telurnya kok unik Gie… wkwkwkw
    CS Bangka ada 2 grup n kemaren nebeng sama salah satu cs namanya bang Acieds (Rasyid) itu dapat kontaknya dari grup fb

    1. Bang Rasyid cucok nggak? hahahaha

  7. Tian Lustiana · · Balas

    Semoga soon aku bisa ke Bangka juga, aamiin

  8. seru perjalanannya kak 🙂

    1. Trimakasih, Adlin 🙂

  9. Kangen roti isi telurnya Kopi Tung Tau. Enak dan bikin kenyang.. Bangka itu kulinernya juara ya.. Mie Koba, martabak, otak-otak, pantiaw, semua enak…

    1. Eh Pantiaw itu apa, kak? Aku belum pernah coba haha

  10. Kalo jalanannya sepi gitu, enak banget buat bawa kendaraan sendir, Gie 😀

    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

    1. Bener, kak. Kalo rame mah males juga gue, hahaha.

  11. Kalo jalanannya sepi gitu, enak banget buat bawa kendaraan sendiri, Gie 😀

    Cheers,
    Dee – heydeerahma.com

  12. Liburan tipis2 tapi tetep asik ya bro 😁
    Saya sendiri malah belum pernah ke Pangkal Pinang 😅
    Next lah kalo ngetrip lagi bakalan kesana kalo budgetnya cukup.
    Maklum, perlu modah banyak kalo dari DJJ buat kesana, hahahha 😂

    1. Iya dong. Biar tipis-tipis, harus tetep asyik hehe.
      DJJ mana tuh, bang?

  13. Aku nambah waktu makan mie koba itu. Menurutku enak sih, seger. Kuahnya ku sendokin ampe tetes terakhir, wkwkwk Btw ke Jembatan Emas kok ga sekalian ke Pantai Pasir Padi. Deket bgt pdhal

    1. Ke Pasir Padi-nya pas sore mas, itu masih ada lanjutannya 😀

  14. kimjounghuhk · · Balas

    keren keren jempol 2 dah, di tunggu ceritanya trip trip yang lain

    1. Siap bro. Pantau terus!

  15. Wuih seru juga kayaknya solo traveling ke Belitung yaaa,, cobain ah

    1. Ini Bangka, kak, hehe. Silakan dicoba 🙂

  16. Seru solo travelling sampai ke Bangka …, bisa jadi inspirasi buat yang masih punya rasa ragu ngetrip jauh2 sendirian.

    Itu jembatan emasnya sepi bangeeet,ya …
    Bisa selfie time sepuasnya disana deh 😁

    1. Bangka masih tergolong deket menurutku, hehehe. Iya sepi banget, bisa selfie sepuasnya 😀

  17. Kirain bangka hanya terkenal dengan pesona pantainya, meski gak dapat pesona pantainya tapi perjalanannya yang penting kan mas. Keren dah pengalaman tripnya.

    1. Eh pesona pantainya juga dapet mas, itu masih ada lanjutan ceritanya 😀

  18. Hotelopedia · · Balas

    Seru yak ngebolang sendirian gtu. Jadi kangen berkelana jauhan dikit seorang diri. Boleh lah ke Bangka dijadikan salah satu wishlist. Demi menambah provinsi dan budaya dalam negeri yang ingin dijelajahi.

    Informatif tapi kebayang serunya, nice! 😀

    1. Bangka murah kok, mas. Bisa 600ribuan atau 700ribuan pulang pergi dari Jakarta.

  19. […] maafkan tulisan yang terlambat ini dan terpisah jeda yang cukup jauh dengan tulisan sebelumnya. Ini pun gue tulis dengan maleeesss banget. Padahal biasanya gue selalu semangat nulis cerita […]

  20. Sebelum Ramadan kemarin, saya rencana ngetrip ke Bangka. Cuma setelah cari-cari info dan hitung-hitung biaya kalau jalan sendiri dan transportasi di sana agak susah, akhirnya saya batalin. Saya akhirnya ke Palembang dan Taiwan. Eh ternyata di Bangka bisa sewa motor yang murah ya di sana!

    1. Dari hasil aku browsing, Bangka sendirian juga tetep murah mas. Aku belum kesampaian island hoping nih 😀

  21. makasih mas teguh , telah melampirkan / merekomendasikan fahri rental motor 081373257325, sebagai penyedia rental motor dibangka ,, semoga mas teguh bisa kembali lgi kebangka, by . fahri

    1. makasih mas teguh , telah melampirkan / merekomendasikan fahri rental motor 081373257275, sebagai penyedia rental motor dibangka ,, semoga mas teguh bisa kembali lgi kebangka,blog mas teguh sngt bermanfaat bagi wisatawan yg dtg kbngka, by fahri

    2. sama-sama, mas. terima kasih sudah membantu 🙂

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Jalancerita

Tiap perjalanan punya cerita

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Hi, Tom!

A Journey Story by Iwan Tantomi

Koh Huang

Jalan-jalan Tak Sekedar Foto

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

The Spiffy Traveller

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

virustraveling.com

Pack your dream and GO!!

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Sharon Loh

Food dan Travel Blogger Indonesia

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

%d blogger menyukai ini: