#CurhatBlogger: Tentang Mengambil Foto, Video, dan Tulisan

Selamat datang di Era Plesiran Indonesia! Era di mana kaum muda kekinian berbondong-bondong menuju destinasi penunjang eksistensi hanya untuk mengambil foto diri, alias selfie. Era di mana blogger-blogger travel bermunculan, web-web travel lahir secara massal, jasa-jasa travel online datang dengan segudang penawaran serupa, dan komunitas-komunitas travel dibentuk secara bersamaan.

Mending kalau mereka memang memiliki sumber daya yang mumpuni. Masalahnya, sebagian dari mereka — web travel, online travel provider, komunitas travel — mungkin terbentuk hanya untuk memanfaatkan selera pasar. Mengikuti ke mana aliran sungai konsumen bermuara. Menawarkan jasa serupa, menyajikan konten travel yang seenaknya diambil dari karya orang lain.

Belakangan ini, beberapa rekan blogger gue mengeluhkan tentang karya-karyanya — video, foto, tulisan, tapi terutama video — yang dicomot begitu saja dan diunggah kembali di media sang pencuri. Mending kalau izin, ini ngomong saja enggak. Ibarat kamu punya kebun bunga yang udah kamu beli bibitnya mahal-mahal, kamu tanam dengan hati-hati, kamu rawat dengan cermat, lalu tiba-tiba ada orang masuk kebun dan memetik bunga-bungamu gitu aja. #KanKampret!

Iya sih, mungkin beberapa pencuri itu tetap menyebutkan tempat dia mengambil bunga yang dia petik.

“Bunganya bagus. Dapet dari mana?”

“Oh, dari taman mas Nugi yang ganteng hits sepanjang masa tiada duanya.”

Tapi, meeennn, itu nggak cukup buat kami, para blogger travel pembuat karya. Iya, mereka unggah foto atau video kami dengan menyertakan sumber (eh, ada juga lho yang nggak sertakan sumber!), tapi nggak izin dulu, nggak memberikan tautan balik (backlink), apalagi ngasih duit, kami kan jadi baper. BAWAAN PERANG!

Bangkok - Aranyaprathet train ride

Gue memang nggak banyak memberikan tanggapan atas keluhan rekan blogger itu, tapi gue bisa merasakan bagaimana jengkelnya. Gue yang tulisannya disalin mentah-mentah dan fotonya dirampok habis-habisan aja udah KZL ZBL, apalagi rekan blogger gue ini yang juga kecolongan video travel.

Salah satu konten gue yang disalin mentah-mentah: Menyusuri Jejak Pecinan dan Kampung Arab di Bandung

Maka dari itu, gue sebagai seorang travel-blogger jadi-jadian, ingin mengungkapkan sedikit curahan hati tentang fenomena perampokan karya ini. Poin-poin berikut adalah pandangan pribadi, yang diharapkan bisa menjadi representasi curahan hati blogger-blogger yang lain di seisi negeri.

 

Minta Izin Dulu Dong

Bukan, ini bukan tentang kesombongan. Bukannya angkuh, sok-sokan jadi blogger kondang atau seleb blog. Ini tentang menghargai karya orang lain yang sudah susah payah dibuat. Hari gini udah ada Facebook, Twitter, Instagram, atau minimal email deh. Jangan kayak orang susah jaman dulu yang harus nunggu berhari-hari buat dapet balasan surat pembaca. Sekarang, kamu bisa mendapatkan jawaban segera, langsung dari hape akuh!

 

Jangan Salin Seluruh Konten!

Jangan salin tulisan mentah-mentah, jangan ambil seluruh foto dalam satu artikel secara serempak, dan jangan RE-UPLOAD video! Tahu nggak sih, re-uploading is an annoying thing for content makers. Damn! Damn! Damn!

Kenapa? Karena, sayang, kalau re-upload itu, traffic dan viewers nggak akan jatuh kepada sang konten original atau saluran asal. Para maling itulah, di media-media pencuri itu, yang hanya modal koneksi internet, yang akan mendapatkannya. Bukan, ini bukan tentang haus popularitas. Ini tentang memberikan reward.

Gue, atau kami, sudah membuat foto atau video secara independen, bukan untuk tujuan komersil. Sudah mengorbankan dana, tenaga, dan masa. Dana, untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan, untuk mengunjungi tempat yang diinginkan, untuk mencukupi kebutuhan kami selama perjalanan. Tenaga, untuk mengambil foto atau video, bisa berkali-kali take atau shoot. Masa, untuk meluangkan waktu mengunjungi tempat-tempat itu dan melakukan penjelajahan itu. Nah, dengan pengorbanan seperti itu, sangat wajar dan normal bila para content makers mengharapkan jumlah engagementlike, share, komentar — di saluran original mereka. Ini bukan video komersil yang butuh diunggah kembali sebanyak-banyaknya!

Re-upload mungkin diperbolehkan oleh sang pemilik karya bila sudah mengajukan izin atau memberikan reward.

Bunga-bunga yang cantik di kompleks luar Istana.

Bunga-bunga yang cantik di kompleks luar Istana.

Untuk foto, beberapa blogger mungkin sudah pasrah bila satu dua fotonya diambil orang untuk ditempatkan di medianya. Kalau udah dibagikan di media sosial dan online sih, memang resiko dicomot itu gede banget. Makanya, belakangan gue memberikan watermark untuk beberapa foto yang culikable, yaitu foto-foto terbaik yang rawan disalahgunakan orang lain. Gue masih inget kejadian hasil foto seseorang yang diambil, diedit sedikit, lalu diikutsertakan dalam lomba, dan menang. Gue nggak mau itu terjadi. Iya kalau yang nyolong ketahuan, kalau enggak?

Naaahhh, tapi kalau ambil fotonya serempak brek dalam satu tulisan, yaaaaaa gue bakal mencak-mencak!

 

Beri Backlink

Sebagai contoh, untuk tulisan, salin sebagian, lalu pada akhir paragraf ditambahkan kalimat seperti, “Selengkapnya simak di: http://thetravelearn.com”. Pun untuk foto, tambahkan sumber dan tautan pada caption.

Gue pribadi, untuk tulisan dan foto, bila sudah diberi tautan seperti itu, nggak usah izin nggak apa-apa deh. Ndak dikira blogger rempong, udah harus izin, harus kasih backlink pulak. Asal jangan disalin mentah-mentah ya. Ngapain kamu kasih backlink kalau seluruh konten udah di-copas di saluranmu?! Makasihhh!

Fajar Gunung Cikuray

Untuk video, bisa juga nih, kamu re-upload but not in full version! Beri keterangan di bawahnya atau di dalam video seperti , “For full version, click: http://www.youtube.com”. Kayak yang ada di video-video bokep gitu deh. *penyingkapaib*

 

Bila Perlu, Beri Reward Tambahan

Apalagi kalau yang mengambil konten itu adalah sebuah web travel komersil, online travel provider, atau media massa / online terkemuka. Bisa kali, sisihkan sebagian omzet Anda untuk menghargai karya yang Anda ambil sehingga menguntungkan kedua belah pihak.

 

Biasanya, saat sudah menyadari bahwa karya kami disalahgunakan, pertama-tama kami akan berbicara baik-baik kepada sang pengambil karya ini. Oh iya, penemuan kami ini bisa terjadi secara baik-baik, maupun tidak baik-baik. Dengan baik-baik, maksudnya kami sudah diberikan tautan balik. Dengan tidak baik-baik, berarti kami menemukan pencurian itu secara tidak sengaja.

Pernah satu kali ada yang menyalin beberapa tulisan saya mentah-mentah di blog pribadinya. Iya, sudah memberikan backlink, tapi karena menurut gue dia sudah kelewat batas, gue tetap menegurnya dan meminta agar tulisan tersebut dihapus dari blognya. Pernah juga gue menemukan ada yang nyolong tulisan gue lagi karena nggak sengaja browsing! Tulisannya dimuat di sebuah media komersil terkemuka di Bandung, lalu coba gue nyinyirin di Twitter. Eh, dianya cuma bilang makasih aja dong, padahal tulisan udah disalin mentah-mentah, nggak izin, nggak dikasih backlink. #KanKampret!

Yang paling menjengkelkan adalah, udah ditegur baik-baik, eh malah malingnya nyolot, seperti yang terjadi pada rekan blogger gue ini. Iyuh banget, siapa yang salah, siapa yang marah. Lalu pada akhirnya, konten dihapus dan kami dilupakan seolah tak pernah terjadi apapun. Sakiiittt.

Gue sendiri juga heran. Kadang kami sudah memberikan sedikit “kelonggaran”, dengan memperbolehkan copas namun dengan izin lebih dulu. Tapi dasarnya mental pemalas, mental instan, tetep aja mereka nggak izin. Mau kebagian eksis, mau mendapat pengakuan, tapi nggak mau keluar modal dan akhirnya seenaknya mengambil karya orang lain dan (secara tidak langsung) mengakuinya sebagai karya buatannya.

 

“Sabar”, mungkin adalah kata yang tepat bagi kami. Kami sudah berkarya secara independen, namun malah karya kami diambil begitu saja. Tapi gue yakin, God sees. Tuhan yang akan memberikan penghargaan dan ganjaran bagi siapa yang sudah berusaha. So, dear my blogger fellows, just keep blogging and keep traveling. Never stop learning and sharing.

Mudah-mudahan melalui tulisan ini, teman-teman web travel / OTA / media yang lain dapat lebih memahami kami, para travel-blogger. Mari kita saling menghargai, menghormati, dan mendukung satu sama lain untuk kemajuan industri media dan pariwisata Indonesia. Silakan bila ada teman-teman blogger maupun non-blogger yang ingin memberikan masukan. Keep learning, keep traveling

45 thoughts on “#CurhatBlogger: Tentang Mengambil Foto, Video, dan Tulisan

  1. Kebayang sih jengkel dan keselnya kalo hasil karya kita dicomot gitu aja sama orang2 yg ga bertanggung jawab. *jadi esmosi*

    Nah bagus tuh untuk mensiaatinya kalo foto atau video mending pake watermark. Kalo gue sendiri sih masih belum perlunlah pake gitu2an. Yang nyasar ke blog gue aja jarang 😦

    Bhay.

  2. Prihatin euy dengan perkembangan ini, orang-orang ingin semua serbainstan, pengen cerita dan foto yang bagus tapi tak mau usaha, malah menjiplak dari punya orang lain, sangat tidak menghargai. Semangat ya buat para travel blogger, saya sih yakin Tuhan tidak tidur jadi mereka pasti akan dapat balasannya, sementara itu kerja keras kalian pasti akan beroleh hasil yang setimpal. Keep writing and keep traveling ya!

  3. Saya pernah nemu dua plagiat yang nyalin tulisan saya di blog mereka. Saya tegur dong, lalu dia hapus tulisannya. Walau tanpa minta maaf.

    Belum lagi foto instagram, ada juga. Lebih unik ini, saya tegur, malah saya dimaki-maki sama orangnya. Lah, yang salah siapa? LOL.

    Sebenernya ga terlalu takut kalau saya kehilangan kesempatan tertentu sih dengan pencurian karya ini. Toh, nanti pun akan ketawan. Lebih tersinggang karena ga sopan aja. *apalagi malah dimaki* hahaha.

    • THIIIISSS!!!

      Aku juga tegur orang-orang yang copas tulisan tanpa izin. Dipikirnya kalau udah kasih backlink, habis perkara. Nah sama, temen blogger gue ini juga negur yg nyolong videonya, eh malah malingnya nyolot! Gak banget lah ya.

      Betul. Gak usah takut kehilangan kesempatan. We have our way 🙂

  4. Sabar Gi 🙂 *kasih air putih biar tenang*
    Kasus terbaru ini dari mas Tekno Bolang yang videonya diunggah tanpa izin dan kredit ya?

    Susah-susah gampang sih ya kalau kasus yang seperti ini. Kadang aku kepikiran untuk membuat website yang fotonya gak bisa disave atau dicopy. Eh tapi kepikiran juga, kadang-kadang orang kalau dah mau ngambil ya pake niat, discreenshoot deh! hehehehe …

    Kalau aku sih sejauh ini belum pernah ngalamin, dan amit-amit jangan sampai deh. Tapi kalau sampai ngalamin ya semoga pelakunya dapat pelajaran yang menjerakan, sedangkan aku dapat rejeki pengganti yang lebih gedeeeee. Amin 🙂

  5. cuma satu kata “senasib” udeh berapa konten di blog saya yang dimodifikasi! Padahal udeh pake anti scape rajin lapor hansip google kalau ada yang langsung copas bahkan dibilang silahkan copas asal ada backlink. Eh, emang dasar orang sini yang pemalesan, yang ade konten dimodif doank, jadi nggak bisa lapor hansip. Biasanya yang begundal begini, web atau blognya di monitize pake iklan. Kalau udeh nggak tahu diri, gue bom click itu iklannya jadi kalau pake adsense langsung di banned accountnya.

    • NAINI! Emang dasar mental malingan, mau kita pake anti scape, udah berbaik hati perbolehkan copas dengan backlink, eh tetep aja dicolong gitu aja. Memang niatnya mereka mau itu diakui sebagai karya mereka, makanya nggak mau kasih backlink.

      Sabar ya, bang. Tetep berusaha aja, biar Tuhan yang memberikan reward dan ganjaran untuk kedua belah pihak 🙂

  6. aku pernah dalam kedua posisi, yang pertama blogger yang nyomot foto dari blog lain. di tulisanku tentang kereta ini semua gambarnya nyomot dari orang lain. dan aku nggak bisa ngasih apa-apa selain backlink. soalnya untuk izin sendiri susah, kadang mau email pemilik blog nggak mencantumkan contact person apapun bahkan update terakhir kadang udah 2-3 tahun yang lalu. jadi mungkin aku minta izin pun bakal lama dia baca.
    tapi aku juga pernah dalam posisi postingan blogku di copas abis, dia emang ngasih backlink ke blogku di paragraf terakhirnya sih. tapi kalo seluruh konten di copas abis jadinya lucu. dia nulis di https://shinta521.wordpress.com/2015/11/11/kawah-biru/

    salam mas nugi 😀

  7. Yang berkarya meradang, yang maling melenggang. Ketika ditegur salah, tidak banyak yang mengakui dan meminta maaf. Paling simpel kadang konten dihapus seolah tidak terjadi apa-apa. 😦

  8. pernah sih review saya di copas, buat jualan malah, foto2 dicopas, hingga akhirnya sekarang watermark menjadi solusi walau tidak efektif.. tetapi klao prinsip saya selama minta ijin sih oke aja 😀

    moga makin kesini makin paham orang tentang apa itu sebuah karya

  9. Nug, sakitnya tu disiniiiiii yaaaa…. saya ini juga ga tau, mau jengkel ato ketawa miris… lhaa.. ada yang ngambil tanpa bilang dan izin trus berani memajang salah satu foto jepretanku itu di web perpustakaan nasional yang buntutnya go.id gitu… coba.. apa kata dunia? Dan tentu saja abis itu ctarr membahana kemana-mana deh… wkwkwkwk… ampuuunnnn deh! udah gitu mereka salah kasih caption lagi.. apa bukan namanya pembohongan publik? wkwkwkwk…

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s