Drama Perjalanan di Kek Lok Si Temple, Penang

SUPERTRIP #1 – SIKUNANG Part 14

Bus RapidPenang kami berjalan tersendat-sendat melalui jalanan kota Georgetown yang sempit dan penuh sesak dengan mobil-mobil pribadi para wisatawan lokal. Suasana seperti itu semakin mengukuhkan pendapat gue bahwa Penang mirip dengan Yogyakarta — sebuah daerah sarat turisme yang selalu macet setiap akhir pekan atau libur panjang karena menjadi wadah pelarian kaum urban ibukota dan kota-kota lainnya. Kami melalui beberapa tempat ikonik dalam perjalanan ini, seperti KOMTAR (Komplek Tun Abdul Razak) Tower dan Masjid Negara Penang. Ah, harusnya tadi malem gue nongkrong di KOMTAR aja, bisa berbaur dengan warga lokal dan mengamati sosial-budaya setempat, batin gue ngedumel terhadap diri sendiri.

Gue dan Aska duduk dalam keheningan, terpaut jarak dua kursi karena kami duduk di dua sisi yang berbeda. Seperti tak saling kenal. Seperti tak saling mengakui keberadaan masing-masing. Ini jelas bukan sebuah perjalanan yang gue inginkan, jauh dari bayangan gue yang memvisualisasikan sebuah perjalanan di antara sepasang anak muda yang penuh cerita atau penuh derai tawa. Gue lebih baik melakukan perjalanan seorang diri daripada terjebak dalam suasana canggung dan kaku seperti ini. Bersama, tapi sendirian. Berdua, tapi tak saling bersua.

Keluar dari kota Georgetown tidak membuat bus kemudian melaju dengan lebih jaya, tak peduli saat itu kami sedang berjalan di atas jalan tol. Kepadatan sudah tersebar hingga ke seluruh pulau. Blok-blok apartemen yang homogen, rumah-rumah susun yang agak kumuh, gedung-gedung sekolah Kristen dengan aksara Cina, adalah pemandangan yang bisa gue dapatkan dari perjalanan kali ini. Gue sempat bertanya kepada seorang warga lokal yang duduk di samping gue, memastikan kalau kami tidak kebablasan. Dia yang tidak familiar dengan nama yang gue tanyakan, baru paham setelah gue memperlihatkan gambar Kek Lok Si Temple yang ada di brosur.

Kek Lok Si Temple from distance

Kek Lok Si Temple from distance

Lebih dari satu jam kemudian, barulah kami turun dan melanjutkan perjalanan dengan sedikit berjalan kaki. Harapan gue untuk merasakan udara yang lebih sejuk kandas karena — ternyata sama aja panasnyaaaaaa!!! Kami buru-buru menepi ke bawah kanopi trotoar agar terhindar dari cuaca terik jahanam Pulau Penang, berjalan melalui sebuah pasar tradisional dengan jajaran rumah makan chinese food. Aromanya semerbak hingga membuat perut yang kosong ini meronta kesetanan.

Aska tiba-tiba berjalan cepat hingga berada beberapa meter mendahului gue, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kalau mau bareng-bareng ‘tuh jangan nanggung deh,” sembur gue, tak tahan terus diperlakukan seperti itu.

“Maksudnya?” Aska bertanya balik, tak paham. Jalannya terhenti.

“Tadi kamu tiba-tiba jalan cepet gitu aja,” jawab gue dengan agak sewot. Dasar cowok sensi!

“Panas ‘nih lho, Gi.”

“Ya ‘kan bisa kali sambil bilang, ‘Ayo buruan, Gi.’ Atau apa gitu, biar kita ini bener-bener kayak temen,” gue menumpahkan uneg-uneg gue. Aska lalu terdiam. Gue pun juga nggak ngomong lagi, sampai tiba di kuil utama Kek Lok Si di mana gue mencoba mencairkan suasana dengan beberapa kali melontarkan kalimat-kalimat basa-basi. Sebuah percakapan yang terhenti di tengah jalan. Hah.

Altar untuk sembahyang ini terletak di lantai kedua, karena lantai di bawahnya difungsikan sebagai tempat makan dan tempat berjualan. Pengunjung diminta untuk melepas alas kakinya. Di dalamnya terdapat tiga buah patung Buddha yang besar bersalutkan emas dalam posisi duduk yang agung menatap setiap pengunjung. Ratusan (atau ribuan?) patung Buddha berukuran kecil berjajar rapi hingga menutupi seluruh bagian dalam dinding bangunan.  Langit-langitnya juga menarik, dilapisi lukisan dengan motif dekoratif yang rumit.

Pengunjung bisa membeli wish ribbon dan menuliskan permintaannya di selembar pita tipis, lalu memasangnya di “pohon pita” tersebut. Sisi kanan difungsikan sebagai ruang untuk berjualan macam-macam suvenir. Buat gue sih, agak aneh, tempat berjualan seperti itu berada dalam satu ruangan dengan tempat ibadah. Kalau hanya berupa satu meja pajang seperti di Buddha Tooth Relic Temple and Museum sih nggak apa-apa, tapi ini bisa memakan tempat hingga seperempat ruangan mungkin.

Puas jeprat sana jepret sini (sebenernya nggak jepret juga sih, karena gue pake kamera smartphone, #pffft), gue baru sadar ada larangan mengambil foto di dalam ruangan. Tapi dari tadi nggak ada yang menegur gue tuh, haha.

Yang paling gue suka, gue bisa menikmati pemandangan Penang dari ketinggian di sini. Obat yang mujarab untuk menyembuhkan kesedihan gue yang gagal mengunjungi Bukit Bendera atau Penang Hill.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kami lalu masuk ke bagian dalam kompleks melalui jalan setapak dan anak-anak tangga yang melelahkan. Mata gue pun dimanjakan dengan patung demi patung dan atribut keagamaan Buddha lainnya. Ada patung dewa-dewa berukuran besar yang memegang alat-alat musik, ada patung Dewi Guan Yin / Kuan Im kecil, ada patung dewa (atau dewi?) dengan banyak tangan, dan patung-patung Buddha yang berderet di sepanjang dinding.

Sampai di situ, Aska sudah kehabisan tenaga dan memilih untuk duduk-duduk beristirahat sambil menikmati secangkir kopi pangku. Gue, yang memiliki hasrat menjelajah lebih tinggi dari dia, tentu saja lebih memilih untuk melanjutkan eksplorasi hingga ke Guan Yin Temple. Sesuai dengan arahan yang diberikan papan petunjuk, gue berjalan melalui lorong yang penuh dengan penjual cinderamata hingga sampai di sebuah minimarket. Gue celingak-celinguk nyari-nyari di mana lift menuju Guan Yin Temple. Bertanya pada seorang kasir (sambil membeli sebotol air isotonik seharga 2.8 RM), gue mendapatkan pencerahan di mana inclined lift itu berada, yang rupanya memang berada di dalam minimarket ini.

Loket lift menuju Guan Yin Temple berada tersembunyi di balik rapatnya rak-rak minimarket yang berjubel produk makanan dan suvenir. Harga tiketnya 6 RM untuk pulang-pergi. Pengunjung bisa duduk di bangku yang disediakan sambil menunggu lift datang. Gue duduk agak berdesak-desakan bersama rombongan turis yang mungkin dari Cina. Beberapa pengunjung bahkan harus mengantri sambil berdiri karena bangku sudah habis, lengkap dengan kipas manual yang terus dikibas-kibaskan untuk memberikan sedikit sensasi sejuk di tengah kondisi panas dan lembab saat itu.

Inclined lift menuju Guan Yin Temple ini berbentuk trapesium terbalik dengan bagian miring ada di bagian bawah untuk menyesuaikan dengan bentuk lintasan. Meski bagian bawahnya miring, tapi bukan berarti kalau penumpang di dalam lift juga harus berdiri di atas medan miring. Lantai lift tetap memiliki permukaan yang rata. Karena dindingnya transparan, penumpang bisa melihat seperti apa medan lintasan lift yang terdiri dari sekian ratus anak tangga.

Inside the inclined lift

Inside the inclined lift

“Press one!” seru seorang petugas dari luar pintu lift. Perintahnya dilaksanakan oleh seorang pria di depan gue. Horeee, lift-nya jalaaannn! *anak kampung masuk kota*

Selang beberapa menit kemudian, kami tiba di “stasiun” tujuan. Gue berduyun-duyun keluar bersama penumpang yang lain, memberikan kesempatan kepada calon-calon penumpang yang sudah menunggu di atas untuk kembali ke bawah.

Begitu keluar, patung Guan Yin yang super besar langsung menarik perhatian gue.  Sang dewi berdiri anggun dalam balutan jubah kebesarannya di bawah naungan atap berbentuk oktagon. Para pengunjung serentak mengabadikan keagungannya ke dalam bentuk gambar digital untuk dinikmati kemudian. Tak jauh dari sang dewi, berdiri sebuah patung besar lainnya yang berukuran lebih kecil. Wujudnya seperti manusia kera dengan wajah yang menyeringai dan ekor yang melengkung panjang. Sun Go Kong kah?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain kedua patung besar tersebut, Guan Yin Temple ini juga memiliki — tentu saja — sebuah kuil. Gue hanya mengambil foto dari luar. Kuil sedang ramai dengan orang-orang yang bersembahyang dan gue enggan mengganggu kekhusyukan mereka. Terdapat patung-patung binatang di sepanjang jalan setapak menuju kuil. Di sisi lain, ada semacam bale atau gazebo yang dapat digunakan untuk beristirahat atau lari dari kejamnya matahari Penang. Gazebo tersebut terletak di tengah sebuah kolam dan memiliki atap yang bergaya khas Tiongkok.

Dari Guan Yin Temple ini, terbentang sebuah pemandangan indah Pulau Penang dari ketinggian. Buat kamu yang fotografer, jangan lewatkan kesempatan untuk mengabadikan keindahan tersebut. Buat kamu yang selfie-grafer, juga jangan lupa buat foto-foto dengan menjadikan pemandangan tersebut sebagai latar, lalu di-upload ke Twitter. Eksis maksimal!

Gue memutuskan nggak berlama-lama di Guan Yin Temple atau gue akan serupa dengan kepiting rebus yang terlalu lama direbus. Gue buru-buru turun dengan inclined lift dan menemui Aska di dalam kompleks Kek Lok Si.

Eh tapi kok dia menghilang?!

Aska tidak ada di depan kuil yang menjadi tempat pertemuan terakhir kami sebelum berpisah. Gue mencari di sekeliling kuil itu, tapi dia tetap nggak ada. Gue lalu bergerak ke kuil sebelah, mencari berkeliling, namun hasilnya pun nihil. Gue bergerak cepat menuju kuil utama Kek Lok Si, naik turun tangga, melalui jalan setapak dengan langkah memburu. Sampai di kuil utama dengan nafas terengah, namun gue tetap tidak menemukannya — entah di dalam kuil, di balkon, atau di lantai bawah. Kenapa sih dia nggak bisa tetap diam di tempat semula? Atau seenggaknya mencari tempat yang mudah terlihat?

Gue berjalan kembali ke dalam kompleks dengan otot-otot kaki yang sudah nyut-nyutan dan sebuah lenguhan kesal. Kembali gue mencari-cari di sekeliling bagian dalam kompleks, lalu, di saat tebersit pikiran untuk pergi meninggalkannya begitu saja, gue mendapati dia sedang duduk di salah satu sudut di dalam kuil dewa-dewa yang memegang alat musik. Aneh. Kenapa tadi gue nggak lihat dia? Gue yakin gue tadi udah melewati bagian itu.

Tapi sudahlah, yang paling penting dia sudah ketemu dan gue nggak perlu meninggalkannya begitu saja. Sori, bukannya nggak peduli, tapi gue “capek”. Lagipula dia juga nggak peduli sama gue. Kemudian, di tengah perjalanan menuruni tangga menuju jalan raya, dia berkata dengan lirih, “Kamu kalau jalan duluan aja, nanti tersinggung lagi kayak tadi. Aku ‘tuh kalau jalan emang cepet.” Suaranya bergetar.

Gue menanggapinya dengan terkekeh geli.

“Oh, ya udah kalau gitu, santai aja,” gue berusaha kembali mencairkan suasana. “Kita ‘kan belum saling kenal, jadi wajar kalau salah paham.”

Gue lalu menjelaskan bahwa sebenarnya gue pun adalah tipe orang yang berjalan cepat. Gue sedikit menurunkan kecepatan jalan untuk mengimbanginya, karena menurut stereotip gue, cewek berjalan lebih lambat daripada cowok. Takut dia ketinggalan di belakang. She should’ve told me earlier, so I might understand her better.

“Nggak apa-apa, pasti kekejar kok,” tanggap Aska.

Ka, andai kamu ngerti, cowok itu butuh diakui. Yang membuat gue jengkel bukan masalah kamu yang berjalan mendahului aku. Bukan, bukan itu, gue sama sekali nggak ada masalah dengan itu. Yang gue permasalahkan adalah — your silence. Hei, gue ini jalan bareng sama kamu loh. Jadi jangan tiba-tiba jalan ngibrit tanpa ngomong apa-apa, seolah gue nggak ada di situ.

Tapi ya sudah, seenggaknya masalah ini membuat kami sedikit saling mengenal satu sama lain. Gue nggak akan lagi ngambek kalau dia jalan mendahului, meski tanpa berbicara sepatah kata pun. Tapi Aska malah jadi takut saat ingin berjalan mendahului, langsung ikut berhenti saat gue berhenti atau melambatkan langkah. Gue terkekeh geli dan berusaha memberikan pengertian bahwa gue sama sekali nggak masalah kalau dia mau berjalan lebih dulu.

Keinginan untuk menikmati santap sore di salah satu warung makan yang berjajar di situ harus gue korbankan karena rata-rata menyajikan menu chinese food. Karena Aska muslim, dan gue nggak mau makan terpisah, kami memutuskan untuk membeli pengganjal perut di sebuah Seven Eleven. Gue membeli mi instan gelas dan sebotol susu kedelai stroberi seharga total hanya 3.5 RM saja. Nggak kenyang sih, tapi lebih baik daripada tidak diisi sama sekali.

Iklan

17 thoughts on “Drama Perjalanan di Kek Lok Si Temple, Penang

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s