Mengunjungi 8 Tempat Wisata di Dieng Dalam 2 Hari 2 Malam

Menatap Sindoro di Puncak Sikunir

Nggak biasanya alarm gue berdering sepagi itu. Jam menunjukkan pukul 3:30, gelap masih belum tersingkap, kabut masih melayang-layang lembut. Baru sekitar 2 jam gue terlelap dalam kehangatan kamar di Homestay Dahlia Syariah. Tengah malam kami baru check-in setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama 4 jam dari Purwokerto, termasuk mampir makan malam di sebuah warung Soto Sokaraja. Kami tiba di Stasiun Purwokerto jam 8 malam, berangkat dari Stasiun Kiaracondong Bandung 7 jam sebelumnya dengan kereta api Serayu.

Koh Sunhong, rekan sekamar, segera ikut terbangun. Gue lalu masuk ke kamar sebelah yang pintunya tak terkunci. Gue nyalakan lampu kamar itu dan mendapati Sanny masih tidur dengan sekujur tubuh yang sepenuhnya tersembunyi di balik selimut dari kepala hingga kaki. Walaupun tak langsung berhasil dalam usaha pertama, namun akhirnya Sanny terbangun juga. Kami bertiga sudah siap, driver kami juga sudah tiba di lobi homestay, sekitar pukul 4 pagi pun kami mulai berkendara menuju destinasi pertama hari itu, Puncak Bukit Sikunir.

Silakan duduk dan sesap kopimu. Melalui tulisan ini, gue akan mengajakmu berkeliling Dieng dari Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Batu Pandang Ratapan Angin, Telaga Warna & Pengilon, Candi Arjuno, Watu Angkruk, Telaga Menjer, dan menikmati unik nikmatnya Mie Ongklok khas Wonosobo.

Warning: Cerita di spot pertama, Puncak Bukit Sikunir, adalah bagian terpanjang di dalam tulisan ini.


Spot 1: Puncak Bukit Sikunir

Inilah yang menjadi alasan terkuat gue buat menyetujui ajakan ke Dieng dari Sanny beberapa minggu sebelumnya. Menurut gue, Puncak Bukit Sikunir adalah destinasi terbaik di Dieng yang jangan sampai dilewatkan. Pokoknya kalau gue harus memilih satu saja tempat wisata di Dieng untuk dikunjungi, gue akan memilih Sikunir. Tahun 2014 gue pernah ke Dieng bersama teman-teman komunitas. Namun karena keterbatasan waktu, kami hanya mendaki ke Gunung Prau dan berkemah selama 1 malam. Maklum, kami adalah sekumpulan fakir cuti.

Baca ceritanya di: Keindahan Syahdu di Puncak Prau

Mendekati Puncak Bukit Sikunir, perjalanan kami yang lancar menjadi tersendat. Banyaknya wisatawan yang sudah memadati kawasan ditambah perbaikan jalan yang menjadi satu-satunya akses ke Puncak Bukit Sikunir menciptakan kemacetan sepanjang beberapa ratus meter. Kami bahkan nggak bisa memarkirkan mobil di tempat parkir utamanya yang berada tepat di depan titik awal pendakian Sikunir.

Mendekati jalur pendakian ke Bukit Sikunir

Saat kembali ke tempat parkir mobil lepas jam 7 pagi

Kami harus meninggalkan mobil di tempat parkir kondisional sekaligus membayar tiket masuk seharga Rp10.000,00/orang, lalu berjalan kaki sekitar 1 km menuju akses utama Bukit Sikunir. Sebetulnya bisa naik ojek seperti yang mas Himin, driver kami, anjurkan. Namun kami sepakat untuk berjalan kaki. Jadilah kami berempat berjalan kaki melalui jalan desa yang kecil, ditampar-tampar angin Dieng yang suhunya kala itu 7°Celcius! Langit tampak bersih dari awan mendung pada Sabtu subuh pada tanggal 24 Agustus 2019 itu. Gue tersenyum memandang taburan bintang-bintang yang begitu jelas terlihat, optimis bahwa dalam usaha kali ini gue akan berhasil bertemu dengan momen terbitnya matahari.

Di sepanjang jalan kecil dari tempat parkir utama menuju undak-undakan, warung-warung makan dan kedai oleh-oleh berjajar, beberapa di antaranya bahkan mengolah makanannya begitu saja dengan terbuka. Ah, perut yang kosong ini harus susah payah menahan godaannya.

Meski masih pagi-pagi buta, namun ternyata tangga pendakian Puncak Bukit Sikunir sudah penuh oleh wisatawan. Mungkin karena saat itu hari Sabtu. Sebetulnya jalur pendakian menuju Puncak Bukit Sikunir itu pendek, namun karena kami harus berjalan cepat-cepat agar tidak ketinggalan momen, dan dasarnya kami bertiga jarang banget olahraga kardio, kami ngos-ngosan sepanjang perjalanan ke atas. Nafas gue memburu, jantung berdegup kencang, namun gue atur nafas dan langkah agar tetap bisa menapaki anak-anak tangga itu.

Sampai di puncak, ternyata berkabut dooonggg! Nyaris nggak kelihatan apa-apa selain cahaya oranye yang menembus lemah lapisan kabut. Sesekali lapisan kabut tersibak, membuat harapan kami melihat sunrise kembali mencuat. Tapi begitu sudah ancang-ancang buat foto, eh kabutnya balik lagi. Sambil menunggu lapisan kabut berangsur-angsur lenyap (Sanny tetep antusias foto-foto dengan bantuan mas Himin), gue hanya tertawa di dalam hati, Tuhan seperti mengajak bercanda. Dari dulu, gue nggak pernah berhasil menyambut sunrise saat gue sengaja berburu untuk menemuinya. Tapi saat nggak dicari, dia muncul begitu saja di garis horizon.

Disambut puncak Bukit Sikunir yang berkabut

Menunggu kabut lenyap dalam tamparan angin dingin puncak Bukit Sikunir

Rona jingga di ufuk timur dan samudera awan Bukit Sikunir

Namun dalam bungkusan kabut, puncak Bukit Sikunir tetap indah

Akhirnya, lepas dari pukul 6 pagi, lapisan kabut perlahan menguap ke udara. Puncak Gunung Sindoro yang semula samar, kini tampak jelas, menyembul gagah dari lautan awan dan gerumbul pepohonan yang mengelilinginya. Beberapa gunung lain mengintip dari belakang bahunya, petak-petak sawah mendampinginya di sisi kanan dan kiri. Momen sunrise masih belum sepenuhnya sirna, menyisakan cahaya keemasan yang mencumbu puncak-puncak gunung dan pepohonan. Ya Tuhan, gue berada di negeri atas awan yang keindahannya melampaui angan-angan!

Inilah samudera awan kedua yang berhasil gue nikmati setelah pendakian ke Gunung Cikuray, Garut, di tahun 2016.

Seperti tempat-tempat wisata populer lainnya, kami harus menunggu untuk bisa berfoto di puncak utama Bukit Sikunir. Tapi nggak apa-apa, karena surprisingly, mas Himin ini ternyata jago mengambil foto! Baik sudut maupun tekniknya, dua-duanya juara meski hanya berbekal telepon genggam. Kalau nggak percaya, tengok saja semua foto-foto yang ada guenya di dalam artikel ini. Tertarik buat hire mas Himin? KLIK DI SINI untuk mendapatkan nomor kontak mas Himin.

Kabut mulai tersingkap di puncak Bukit Sikunir

Saat puncak Bukit Sikunir sudah bebas dari kabut, indah bangeeettt!

Bertiga menghadap Sindoro di puncak Bukit Sikunir

Jadi kapan kamu ke puncak Bukit Sikunir Dieng?

Dalam perjalanan kembali ke bawah, kami berfoto di 2 spot lainnya, salah satunya menawarkan pemandangan Telaga Cebong (ya, walaupun nggak cakep-cakep amat sih). Saat udah di bawah, kami akhirnya sarapan di salah satu warung terbuka hehe. Sederhana, hanya mendoan dan kentang, tapi kenikmatannya membuat lidah bergoyang. Untuk kembali ke tempat parkir mobil kami, kali ini kami memutuskan buat naik ojek seharga Rp10.000/orang atau Rp15.000/2 orang dalam 1 ojek.

Spot lain di Bukit Sikunir

Panorama indah di spot kedua Bukit Sikunir Dieng

Panorama Telaga Cebong dari Bukit Sikunir

Lumayanlah meski agak backlight | Telaga Cebong Dieng

Setelah mandi, tidur lagi, dan makan siang, kami lalu melanjutkan petualangan di Dieng dengan destinasi kedua―Kawah Sikidang. Puji Tuhan, Homestay Dahlia Syariah ini menyediakan air panas dan lokasinya di tengah kawasan wisata Dieng, jadi gampang ke mana-mana. Untuk membaca ulasan homestay, KLIK DI SINI.

Baca juga: Kepingan Surga di Kentheng Songo, Merbabu


Spot 2: Kawah Sikidang

Nah, untuk Kawah Sikidang ini harga tiket masuknya Rp15.000, tapi kombo dengan tiket masuk Candi Arjuno. Buat gue yang tinggal di Bandung, monmaap, Kawah Sikidang ini biasa-biasa aja dan nggak terlalu menarik. Malahan, Kawah Sikidang ini kesannya kotor dan nggak rapi. Semoga pengelolaan dan perawatan obyek wisata Kawah Sikidang bisa ditingkatkan supaya lebih nyaman dan menarik.

Berfoto di Kawah Sikidang Dieng

Ada satu kawah utama dan titik-titik gas belerang mengepul di sekitarnya. Ada beberapa spot foto, tapi berbayar, jadi kami agak males hehe. Cari yang gratisan aja. Dinamakan “sikidang”, karena kawah utamanya berpindah-pindah, nggak bertahan di satu titik selamanya. Aroma sulfur memang tercium, tapi masih cukup bearable. Selain atraksi kawah, ada flying fox dan ATV juga di sini. Karena kurang menarik dan nggak banyak juga yang bisa dieksplor, kami nggak berlama-lama di sini, sebentar kemudian udah move on ke destinasi berikutnya.

Baca Juga: Tips, Budget, dan Itinerary Jalan-Jalan 2 Hari 2 Malam di Dieng


Spot 3: Batu Pandang Ratapan Angin

Inilah titik di mana kita bisa menikmati keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian, selain dari lajur pendakian Gunung Prau. Harga tiket masuknya Rp15.000,00. Lokasinya persis bersebelahan dengan Dieng Plateau Theatre, tapi kami skip karena dirasa kurang menarik.

Belum sepenuhnya pulih dari pegel-pegel karena naik-turun Puncak Bukit Sikunir, eh udah harus naik tangga lagi di sini. Meski nggak setinggi dan selama yang ada di Sikunir. Ada satu spot utama gratis, satu spot foto berbayar, dan satu spot foto cadangan yang nggak secakep spot utama. Spot foto utamanya berupa bebatuan besar di ujung tebing. Untuk bisa foto di sini, kami harus mengantri dan menapaki tangga kecil dari batu. Space-nya memang nggak nyaman buat mengantri karena sempit dan nggak rata, belum dengan kondisi tangganya yang berada persis di samping gazebo. Orang yang keluar-masuk gazebo jadi bertubrukan dengan orang yang ngantri foto.

Batu Pandang Ratapan Angin, Dieng

Batu Pandang Ratapan Angin, Dieng

Spot foto di Batu Pandang Ratapan Angin yang lebih sepi, tapi berbayar

Tapi setelah sampai di puncak, perjuangannya terbayar dengan keindahan yang ditampilkan. Mas Himin bagus banget ambil fotonyaaaaaa! Bener-bener junjungan. Karena ngantri dan gue nggak mau dihujani hujatan massa, jadi nggak bisa foto lama-lama. Asal kamu tau aja nih, kaki gue gemeteran saat berfoto dengan pose berdiri sesuai arahan mas Himin.


Spot 4: Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Nah, karena penasaran dengan bagaimana penampakan Telaga Warna dari dekat, dari Batu Ratapan Angin kami “turun” menuju obyek wisata Telaga Warna. Harga tiket masuknya Rp15.000,00. Setelah masuk ke dalam, ternyata Telaga Warna itu memang paling bagus dinikmati dari ketinggian haha. Kalau nggak buru-buru, rasanya pengen ngopi-ngopi dulu di depan telaga kayak yang dilakukan sekelompok wisatawan anak muda.

Kami berjalan lurus mengikuti jalan yang disediakan, menyusuri tepian telaga, lalu berbelok ke kiri menuju jembatan. Nah, dalam perjalanan menuju jembatan, gue malah tertarik dengan padang rerumputan liar di lahan gambut. Gue lalu mengajak mereka turun, dan jadilah kami foto-foto di situ haha. Dari yang tadinya cuma kami sendiri, lalu diikuti oleh kelompok wisatawan yang lain.

Syahrono di tengah padang rumput

Spot foto dadakan di Telaga Warna!

Selesai dengan padang liar, kami lanjut menyusuri jalan kecil yang mengelilingi telaga, diapit oleh pepohonan tinggi. Ada banyak “gua” dan titik-titik keramat yang kami jumpai. Gue sih nggak tertarik buat eksplor, tapi Sanny selalu melongok setiap gua yang kami jumpai.

Spot-spot foto di Telaga Warna, Dieng

Mengikuti arahan gaya dari mas Himin

Trio SNS di Telaga Warna, Dieng

Jembatan gantung di Telaga Warna Dieng

Panorama Telaga Warna Dieng dengan air berwarna hijau toska

Ada 2 spot yang menjadi lokasi foto-foto kami di area Telaga Warna dan Telaga Pengilon ini. Yang pertama adalah semacam dermaga kayu di tepi telaga, yang kedua adalah di atas jembatan gantung. Buat bisa foto di dermaga, kami juga harus antre. Setelah itu, kami buru-buru keluar sebelum Candi Arjuno tutup.


Spot 5: Candi Arjuno

Candi Arjuno adalah obyek wisata yang berada paling dekat dengan penginapan kami, Homestay Dahlia Syariah, nggak sampai 1 kilometer. Kami ke sana sore-sore, untung masih buka dan lebih dari cukup buat kami foto-foto karena memang kompleknya sendiri nggak luas. Karena sudah punya tiket masuk Kawah Sikidang, jadi kami nggak perlu membayar lagi untuk masuk ke Candi Arjuno.

Candi Arjuno, atau disebut juga Candi Arjuna, adalah salah satu dari puluhan candi yang masih bertahan di dataran tinggi Dieng. Secara administratif, candi yang berdiri di ketinggian 2.093 mdpl ini masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara. Menurut informasi dari National Geographic, Candi Arjuna adalah candi pertama yang dibangun di Pulau Jawa pada abad ke-7. Pertama kali ditemukan pada tahun 1814 dalam keadaan tenggelam di rawa, candi Hindu ini baru mulai dipugar 40 tahun kemudian. Nah, Candi Arjuna ini menjadi lokasi pelaksanaan upacara pengguntingan rambut anak-anak gimbal Dieng.

Komplek Candi Arjuna (Arjuno) Dieng

Panorama Komplek Candi Arjuna (Arjuno) Dieng yang nggak terlalu besar

Dengan Candi Arjuno, maka rampunglah petualangan kami di Dieng untuk hari pertama. Kami lalu kembali ke Homestay Dahlia Syariah, mandi, makan, dan beristirahat karena besok pagi kami mau berburu sunrise lagi di spot lain.


Spot 6: Watu Angkruk

Nah, buat yang mau sunrise-an di Dieng tapi males bangun terlalu pagi dan nggak sanggup naik ke atas Puncak Bukit Sikunir, Watu Angkruk bisa jadi alternatif. Lokasinya persis di pinggir jalan. Kayaknya masih baru banget, karena di Google Maps pun nggak ada. Meski di pinggir jalan, tapi pemandangannya tetap mempesona! Tiket masuknya juga murah. Gue lupa tepatnya berapa, tapi yang jelas di bawah Rp10.000,00.

Kami berangkat sekitar jam 5 pagi. Sama kayak pagi sebelumnya, gue yang pertama kali bangun, diikuti koh Sunhong, lalu membangunkan Sanny haha. Watu Angkruk sendiri adalah obyek wisata berupa sebuah tebing rendah yang lapang, menghadap ke arah indahnya bentang alam Dieng. Karena areanya lapang dan lebih terbuka, bukan yang terkonsentrasi di satu titik, lebih gampang buat foto-foto di sini meski tetap ada banyak pengunjung. Ada sebuah jembatan gantung yang instagrammable bangeeettt, tapi berbayar hahaha.

Pas masih jalan aja udah keliatan cakep sunrise-nya

Panorama sunrise di Watu Angkruk, Dieng

Akhirnya bisa dapet sunrise juga di Watu Angkruk, Dieng

Hasil bidikan mas Himin di Watu Angkruk Dieng

Jembatan instagrammable di Watu Angkruk Dieng

Mas Himin lalu mengajak kami untuk berfoto di atas sebuah bongkahan batu besar. Tapi karena backlight, jadi konsep fotonya siluet aja sekalian. Di sini, driver kami ini kembali menunjukkan kelihaiannya mengambil foto. Mungkin karena sudah sangat berpengalaman, mas Himin sampai hafal sudut-sudut terbaik untuk mengabadikan momen.


Spot 7: Naik Perahu di Telaga Menjer

Dari Watu Angkruk, kami kembali ke Homestay Dahlia Syariah lebih dulu untuk mandi, berkemas, check-out, dan sarapan. Sekitar jam 9:30, kami baru berangkat menuju destinasi ketujuh dalam perjalanan kali ini. Secara administratif, Telaga Menjer berada di wilayah desa Maron, kec. Garung, jadi memang sudah bukan di Dieng. Dari homestay kami jaraknya 16 km, membutuhkan waktu sekitar 40 menit.

Sepanjang perjalanan, gue yang duduk di kursi depan (sepanjang trip gue selalu duduk di kursi itu sih) dibuat terkesima dengan keelokan panorama Dieng! Gunung Sindoro setia membayangi dengan gagah. Petak-petak sawah dan ladang penduduk di lahan yang bergunung-gunung mengisi pandangan di sisi kiri dengan lapisan kabut yang masih berarak tipis. Yang lain pada asyik ngobrol, gue sibuk mengambil foto dan video. Ah, Dieng, ini sungguh sebuah ucapan perpisahan yang manis…

Panorama sepanjang perjalanan menuju Telaga Menjer Dieng

Jam segini aja Dieng masih berselimut kabut

Buibuk ini mau ke mana yaaa?

Lepas dari Jalan Dieng, kami masuk ke jalan desa yang berukuran lebih kecil, meliuk-liuk turun membelah hutan dan perkampungan warga. Harga tiket masuk Telaga Menjer ternyata murah, hanya Rp6.000,00. Keindahannya memang nggak terlalu istimewa, nggak kayak Telaga Warna yang menyihir kita dengan rona parasnya. Tapi suasana di sini tenang dan kita bisa naik perahu berkeliling danau dengan harga Rp15.000,00/orang asal ada 15 wisatawan yang mengisi perahu.

Perahu berderak pelan mengitari telaga dengan tenaga motor. Tak lama setelah perahu berjalan, 3 orang anak muda lalu mengisi bagian depan perahu untuk foto-foto. Untungnya mereka tau diri hahaha, nggak menyabotase spot itu sepanjang perjalanan. Begitu mereka kembali ke bangku penumpang, gue dan Sanny lalu buru-buru mengisi kekosongan.

Panorama Telaga Menjer di dekat Dieng, kab. Wonosobo

Foto dulu sebelum naik perahu di Telaga Manjer Dieng

Naik perahu di Telaga Menjer

Naik perahu di Telaga Menjer

Berpapasan dengan perahu lain di Telaga Menjer

Saat berjalan kaki kembali ke mobil, gue tergoda dengan simbah-simbah yang jualan pecel di dekat pintu masuk telaga. Gue mengajak Sanny dan koh Sunhong, dan mereka mau, jadilah kami makan pecel dulu padahal sudah diburu-buru mas Himin haha. Maap mas, anaknya memang suka impulsif. Pecelnya enak dan porsinya bikin kenyang! Padahal yang jualan udah simbah-simbah sepuh, kalau nggak salah usianya udah di atas 80 tahun. Harganya cuma Rp6.000,00 dong. Sayang banget gue nggak sempat foto karena buru-buru.


Spot 8: Mie Ongklok

Kami benar-benar sudah jauh meninggalkan Dieng, melewati kota Banjarnegara, sampai akhirnya memasuki kota Wonosobo. Namun sebelum kami ke Stasiun Purwokerto dan benar-benar menyudahi perjalanan ini, mas Himin mengajak kami berburu oleh-oleh dan makan mie ongklok, kuliner khas Wonosobo. Mie Ongklok Pak Muhadi menjadi pilihan kami setelah gagal pada opsi pertama karena terlalu penuh.

Harga seporsi mie ongklok dan sate sapi adalah Rp30.000,00. Biar lebih hemat, kami pesan 3 porsi mie ongklok dan seporsi sate sapi, jadi masing-masing orang cukup membayar Rp15.000,00 haha. Harga mie ongklok-nya doang cuma Rp8.000, jadi memang harga satenya yang mahal.

Mie Ongklok Pak Muhadi Wonosobo

Terus gimana rasanya? Manis. Buat gue yang memang orang Jawa sih nggak masalah ya. Sekilas, mie ongklok ini mirip dengan lomie di Bandung karena kuahnya yang kental. Bedanya, citarasa mie ongklok lebih manis dengan tekstur mie yang lebih ramping. Gue eneg habis makan seporsi lomie, tapi tidak dengan mie ongklok ini.


Akhirnya, tuntas sudah perjalanan kami di Dieng, Jawa Tengah. Sebelum berpisah dengan mas Himin di Stasiun Purwokerto, kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena puas banget sama servisnya mas Himin! Udah ramah, berkendara dengan aman, nggak pernah lelah memberi masukan terkait itinerari atau menjawab pertanyaan-pertanyaan kepo kami, dan tentu―berkat bidikan-bidikan fotonya yang luar biasa! Harga sewa mobil di mas Himin ini tergolong yang termurah se-Dieng lho. Makanya, recommended banget! Kami pun dengan senang hati memberi sedikit tip untuknya.

Good place, good time, good friends

 

Sebagai seorang anak yang senengnya jalan-jalan dengan gaya PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad), gue puas dengan perjalanan kami di Dieng. Gue berhasil ke Puncak Bukit Sikunir dan Telaga Warna yang memang gue jadikan agenda wajib di Dieng, lalu gue juga bisa ke 6 tempat lainnya. Cukup banget buat stok konten Instagram berminggu-minggu, hehe. Homestay-nya nyaman, driver-nya memuaskan, dan travelmate-nya menyenangkan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi insight buat kamu, sesama anak PJKA, yang nggak punya banyak waktu. Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya, keep learning by traveling~

46 komentar

  1. waaaaaa…. cantiknya sunrises-nya sukaaaaa…. PJKA itu Jumat malam ato jumat dari pagi? Hehehehe…

    1. Bisa malam atau siang, mbak. Tergantung kebutuhan 😀

  2. Charis Fuadi · · Balas

    di dieng itu memang bener-bener lengkap, satu wilayah dengan banyak tempat wisata yang keren, dari rumahku dekat tapi malah belum semuanya saya kunjungi

    1. Serius belom ke semua tempat itu, mas? Ayo ayo eksplor Dieng! 😀

  3. ariefpokto · · Balas

    Walaupun berkabut tapi tetap cantik kok sunrise ya. Jadi penasaran pengin liat Instagram Mas Himin. Jagoan motonya. Btw adegan makan pecel sama Mie ongkloknya bikin kepengen. Apalagi pakai sate.

    1. Aku malah lupa nanyain akun IG-nya. Bisa jadi dia malah nggak aktif IG atau nggak punya sama sekali, karena lebih sering motoin orang lain haha.

  4. Aaahh Dieng, sebuah tempat dingin yang masih menjadi misteri bagi kami. Masih belum sempat juga menyambangi tempat yang satu ini

    1. Lho malah belum ke sini toh? Ayo ayo eksplor Dieng 😀

      1. haha semoga di tahun ini bisaa bro

  5. Huhuhu ngiri banget, pengen liat sunrise nya juga. Tapi sanggup gak yah nanjaknya? Ini motretnya pake kamera apa mas?

    1. Cuma pake kamera hape kok, kak. Pasti bisa, karena cuma bentar kok.

  6. Nurul Sufitri · · Balas

    Menuju Puncak Sikunir ternyata butuh perjuangan juga ya mas. Macet ternyata ratusan km. Jadi mesti pasrkir mobil di situ ya dengan ada biaya 10K per kepala? Ga kebayang suhu dingin banget 7 derajat celcius sambil jalan kaki. Minum kopi dulu kali ya dan mamam pisang goreng beli di warung selama perjalanan hahahaha 🙂 AKu jadi kepengen kayak Mas Matius dalam 2 hari 2 malam mencapai 8 destinasi wisata di Dieng. Awesome! 😀

    1. Eh bukan ratusan km mbak, ratusan meter. Kalo ratusan km udah kayak macet mudik haha.Typo kali ya 😀

      Pasti bisa! Karena obyek-obyek wisata di Dieng itu berdekatan.

  7. Di tiap tempat jadi menghabiskan sekitar 1.5-2 jam ya mas? Kecuali spot2 sunrise sih ya, karena harus standby dari dini hari kan ya? 😃

    1. Iya, mbak. Kurang lebih segituan waktunya.

  8. Putu Sukartini · · Balas

    Huaaaa sumpah, lihat foto-fotonya bikin aku pengen kembali ke Dieng
    Dulu aku ke sana 3 hari 2 malam dan masih aja berasa kurang
    Apalagi sekarang ya, pasti makin cantik deh Dieng

    1. Wah, 3 hari 2 malam pasti lebih optimal ya daripada kunjunganku 🙂

  9. kirain mampir ke Prau juga bang.
    jadi kangen dieng. dulu kesini pas zaman sekolah dan belum main blog. fotonya juga entah hilang dimana. kemaren ada di ajak temen ke festival dieng. pecah banget. di tambah tulisan di blog ini jadi tambah kangen.
    sebagai mie lover, jadi penasaran sama mie ongklok nya kak. pasti sedep hawa dingin makan mie hangat2. waaaaaa…. jadi tambah pengen liburan hahahaa

    1. Aku udah ke Prau tahun 2014 lalu, Put. Waktu itu Prau masih cukup tenang, belum secendol sekarang.

      Cuuusss ke Dieng, siapa tau aku bisa join.

  10. biaya sewa mobil, driver plus merangkap guide & juru foto nya berapa mas? 🙂

    1. Nanti aku share di postingan terpisah, mas, haha

  11. Nah ini nih salah satu destinasi yang pengen abnget aku kunjungi dari dulu tapi belum kesampean hehe. Keren banget yaa bang Bukit Sikunirnya viewnya dan sejuk banget juga pasti udaranya. nanti loburan semester main ah hehe

    1. Berangkat, bro! Refreshing dari panasnya udara Jogja dan Bekasi.

  12. Empat kali ke Dieng tapi belum pernah sampai ke Sikunir. Next trip deh kayaknya.

    1. Ayo sediakan waktu ke Sikunir 😀

  13. Naik ke Sikunir cocok ga bawa bocah umur 6 tahun. Bulan Januari besok rencananya mau ngajak ponakan ke sana, tapi takutnya medannya ga cocok buat anak-anak.

    1. Cocok kak, medannya aman kok, ya paling cuma perlu sesekali digendong aja

  14. Saya pernah sekali ke Sikunir. Pelajarannya adalah gak mau lagi ke sana saat peak season. Macet banget buat naik ke atasnya hahaha. Belum explore Dieng lebih jauh. Itu abis turun dari Prau, lanjut ke Sikunir, kemudian pulang. Kapan-kapan main ke Dieng lagi, ah

    1. Jiahahaha bener banget, Dieng itu udah mainstream banget. Sabtu pagi kemarin masih cukup okelah ke Sikunir.

  15. Total jadi 11 jam ya perjalanan. Lagi cek-cek kalau ke Dieng tuh lewat mana. Pengan nyoba naik KA juga sih. Dulu banget pernah ke sana studi tour zaman mahasiswa. Naik bus kalau ga salah.
    Makin banyak ya obyek wisatanya. Ingetnya sih Telaga Warna bau belerang dan kawasan candi belum direnovasi.

    1. Dieng itu arah Wonosobo atau Banjarnegara, mbak. Kalau ada mobil mungkin better bawa mobil sendiri 😀

  16. Wkesimpulannya jangan pas weekend main ke Dieng ya.
    Saya sih nggak bisa ngetrip model begini yang terkesan terburu-buru
    Kalau alam itu enaknya dinikmati benar-benar. Ngopi di depan danau itu udah paling mantap ahaha.

    Btw, sunrisenya lebih bagus di Watu Angkruk ya dibandingkan di Sikunir kalau liat dari gambar ini

    1. Haha. Mau nggak mau, bisa nggak bisa, saya harus mau dan bisa bang karena tuntutan pekerjaan. Bang Darius ini freelance kah?

      Karena pas di Sikunir terhalang kabut bang, cuacanya lagi nggak terlalu bagus

  17. Selama ini aku cuma taunya dataran tinggi dieng, nah pas baru baru ini dengar berita ada salju juga di dieng, mulai deh cari tau tentang dieng, ternyata oh ternyata….banyak racun yang bikin kaki gatal ya mau kesana ya….. itu bukit sikunir indahnya pake banget lah….mungkin aku bisa jadi mager kalo dah ada disana 🙂

    1. Jadi di dataran tinggi Dieng itu memang banyak tempat wisata, kak. Ayo ke Dieng! 😀

  18. Ternyata aku baru tau ada istilah PJKA ( pergi Jum’at kembali Ahad ) aku banget lah itu kak…soalnya fakir cuti…. btw ternyata dieng banyak juga tempat wisata ya….. oh ya, yang jembatan gantung berapaan naiknya kak ?

    1. Ehehehe istilah PJKA itu aku temukan saat mencuridengar obrolan dua orang cowok AU di kereta.
      Sayangnya aku kurang tau kak, coba nanti ke Dieng sendiri terus tanyakan langsung 🙂

  19. Minta no hp driver ato tempat sewa mobil nya boleh?

    1. Boleh. Silakan email atau DM saya ya.

  20. Aku takut perjalanan ke Dieng nya hihi jurang gitu, tapi memang pemandangannya indah sekali ya, negeri di atas awan..pengen coba menginap di sana..

    1. Untung aku ke Dieng malem-malem 😀
      Cobain mbak staycation di Dieng, seru!

  21. Kayaknya kalo sama balita ke sana better liat sunrise di Watu Angkruk aja kali ya kak.. Pingin ngajak anak-anak ke Dieng tapi kalo naik Sikunir kok ya aku males.. Haha.. Duh, pingin banget Mie ongkloknyaaa.. Siaaps tipsnya nih beli satenya satu aja makan rame-rame, yg penting ngincipin.. 😀

    1. Betul, mbak. Watu Angkruk cocok buat berbagai usia. Haha, kalau udah ke Dieng cerita-cerita ya 😀

  22. Pernah juga ke Dieng. Abis turun dari Prau kami langsung cuss kemari. Nginap di tepi danau untuk berkemah. Lalu lanjut ke Sikunir. Siangnya lanjut ke Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Telaga Warna. Tapi tulisan yang jadi di blog hanya Sikunir dan Candi Arjuna doang. Kelupaan nulis yang lainnya.

    1. Wah pasti seru banget ya camping di tepi telaga. Aku karena nggak spesifik soal destinasi dan fokus cerita soal perjalanannya, jadi semua tempat dikemas sekaligus.

  23. […] tulisan sebelumnya, gue udah membahas 8 tempat wisata di Dieng yang gue kunjungi dalam 2 hari 2 malam. Buat yang belum baca, silakan klik buat baca. Maka di tulisan kali ini, gue akan fokus share […]

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jilbab Backpacker

Travel-Architecture-Halal Lifestyle Blog

Guru Kelana

Perjalanan sang guru di berbagai belahan dunia

Ferdi Cullen-The Microtraveller

A microtraveller is a journey local or overseas that is short, flexible, simple, cheap – yet still fun, exciting, challenging, refreshing and rewarding

Pink Traveler

Kemasi ranselmu dan pergilah melihat dunia

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

dyahpamelablog

Writing Traveling Addict

Andromeda Noholo

Yang terjadi di Andromeda

fainun.com

Family Blogger Indonesia

Daily Bible Devotion

Ps.Cahya adi Candra Blog

Lonely Traveler

Jalan-jalan, Makan dan Foto Sendirian

bardiq

Travel to see the world through my own eyes.

CERITA LIANA

Travel More, Share More

Casa Fasa

Travel & Life

Teppy and Her Other Sides

Eat well, live well, and be merry!

Mollyta Mochtar

Travel and Lifestyle Blogger Medan

Tukang Ngider

Ngider terus, terus ngider. KUY, DER!

Liza-Fathia.Com

a Lifestyle and Travel Blog

liandamarta.com

A Personal Blog of Lianda Marta

Eka Hei

Selalu ada cerita dalam setiap langkah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

Papan Pelangi

tempat berjalan dan bercerita

Peregrination

Jalan-Jalan | Kuliner | Review

Guratan Kaki

Travel Blog

Omnduut

Melangkahkan kaki ke mana angin mengarahkan

The Spiffy Traveler

Exploring Endless Paradise

Efenerr

mari berjalan, kawan

BARTZAP.COM

Travel Journals and Soliloquies

Bukanrastaman

Not lost just undiscovered

Males Mandi

wherever you go, take a bath only when necessary

Travel Blog Evi Indrawanto

Cerita Perjalanan Wisata dan Budaya

Plus Ultra

Stories and photographs from places “further beyond”.

backpackology.me

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Musafir Kehidupan

Live in this world as a wayfarer

Fahmi Anhar

Travelogue

Cerita Riyanti

... semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan...

Ceritaeka

Travel Blogger Indonesia

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Usemayjourney

Melihat, Mendengar, Memaknai

Winny Marlina

Winny Marlina– whatever you or dream can do, do it! travel

%d blogger menyukai ini: