Keindahan Syahdu di Puncak Prau

Basecamp pendakian sangat ramai di siang hari yang cerah itu. Kami berkumpul di sisi basecamp, sementara beberapa anggota kami melakukan repacking — termasuk gue. Gue harus menahan sabar banget banget karena terganggu dengan para pendaki yang terus hilir mudik. Sori ya. Matras yang tadinya gue gulung rapat di dalam keril (karena nggak bisa diikat di luar), akhirnya dilingkarkan dengan longgar di dalam keril sehingga keril dapat menampung lebih banyak barang. Mas Adi, salah satu pentolan rombongan kami, lantas menambahkan beberapa barang bawaan kelompok ke dalam keril gue -____-

Sebelum memulai pendakian, kami dihimbau oleh salah satu penunggu basecamp untuk mematikan telepon genggam. Mengingat ini adalah bulan-bulan awal tahun, kegiatan pendakian di Gunung Prau dilarang untuk menyalakan ponsel dan benda apapun yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Hal itu disebabkan karena adanya kandungan uranium, yang jika “ketemu” dengan gelombang elektromagnetik dan saat itu tepat ada petir, maka petir akan menyambar tepat ke orang yang membawa ponsel itu.

Diawali dengan berdoa, kami akhirnya memulai kegiatan pendakian kami ke Gunung Prau ini. Ada dua jalur pendakian yang umumnya dipakai di sini, yakni jalur Patak Banteng dan jalur SMP 2 Kejajar. Jalur yang kami pilih adalah jalur Patak Banteng, yang dinilai akan membawa kami lebih cepat menuju puncak Prau. Gue sendiri bersemangat banget dengan pendakian ini. Karena apa? KARENA INI ADALAH PENDAKIAN PERTAMA GUE!!! YO-HOOOO!!!

Wan Wan Emoticons 18

Sempat terbersit kekhawatiran akan asma yang nanti kambuh di tengah perjalanan atau gunung yang tiba-tiba meletus., tapi gue lalu tepis semua kecemasan itu. Sebagai antisipasi, gue udah menyiapkan obat-obatan di dalam keril. Sementara untuk kekhawatiran akan gunung meletus, gue coba berpikir logis aja sih — gunung itu nggak tiba-tiba meletus. Ada fase-fasenya: Waspada, Siaga, sampai Awas. Kalau memang kondisinya beresiko, kegiatan pendakian juga pasti akan ditutup. Gue akhirnya memantapkan diri untuk sebuah pengalaman baru ini. Hey, you’re about to make your dream comes true!

Baru beberapa meter memasuki kawasan pemukiman, kami sudah dihadapkan dengan ratusan anak tangga curam yang menjulur ke atas. Oh, God! Sebuah awal yang menantang! Bawa-bawa keril aja udah berat. Nggak heran deh, banyak dari kami yang memilih untuk berhenti setiap berjalan beberapa meter, terduduk lemas di pinggir jalan dengan nafas terengah dan butir-butir keringat sebesar jagung yang menyembul keluar dari lubang pori-pori. Jantung gue yang tadinya berdetak kalem, kini berdegup dengan bertalu-talu seperti irama musik diskotik. Sebelum dada ini meledak, gue pun ikut menyempatkan diri untuk beristirahat setiap beberapa meter hingga degup jantung gue kembali normal.

Anak tangga berakhir, kami kemudian melalui jalan menanjak yang berbatu-batu. Hingga akhirnya, kami memasuki jalur yang sudah bebas dari perkampungan penduduk, berjalan di ruang sempit di antara semak dan pepohonan. Anak-anak tangga alami itu kembali menantang stamina kami. Ketika akhirnya dada gue mulai terasa nyeri, gue memutuskan untuk beristirahat dengan lebih lama dan membiarkan diri berada di deretan belakang.

 

Ngeksis di tengah jalan

Ngeksis di tengah jalan

Jalur pendakian ini cukup curam. Kalau kata anak-anak sih, jalur pendakian Papandayan masih jauh lebih landai dari ini. Setiap mengambil beberapa langkah, kami menyempatkan diri untuk duduk beristirahat di atas bebatuan atau tanah miring, ada juga yang hanya berdiri tertunduk sambil mengatur nafas. Kami melakukan kegiatan pendakian ini bersamaan dengan beberapa rombongan yang lain, sekitar dua atau tiga grup. Sementara itu, kami juga sering berpapasan dengan rombongan-rombongan lain yang bergerak menuruni gunung. Kami bahkan bertemu dengan sebuah grup yang bela-belain turun ke bawah lalu naik lagi ke atas demi mendapatkan beberapa botol air. Kondisi di puncak Prau memang tidak ada air, sehingga pendaki harus menyiapkan perbekalan dari bawah.

Energi ini mulai terkuras, semangat mulai menguap, hilang bersama udara dingin yang perlahan membelai kulit yang basah ini. Namun seakan ingin kembali mengisi ulang daya kami, alam memberikan sebuah panorama cantik yang membuat semangat itu kembali membuncah. Dari ketinggian, Telaga Warna tampak sangat mempesona, dengan lahan persawahan hijau yang berarak mengelilinginya. Warna hijau telaga terlihat sangat utuh, matang, seperti keindahan negeri dongeng yang selama ini hanya bisa terkurung dan bermain-main di dalam kepala. Satu per satu mengeluarkan kamera dan bahkan ponsel andalannya untuk mengabadikan keindahan itu, masa bodoh dengan larangan menyalakan ponsel tadi.

Telaga Warna, persawahan, dan pegunungan dilihat dari atas. Foto: bang Firman

Telaga Warna, persawahan, dan pegunungan dilihat dari atas. Foto: bang Firman

Awan putih bergumpal tebal di atas ubun-ubun, sementara kabut tipis mulai menyeruak masuk di antara dahan-dahan pepohonan. Kami sempat agak kecewa kami tidak akan bisa menikmati keindahan golden moment, matahari terbenam, dari puncak. Namun Tuhan begitu memahami keinginan anak-anak-Nya ini. Saat kami mulai mendekati puncak, awan-awan tebal itu mulai berserak menjauh, kabut perlahan lenyap dan hilang entah ke mana. Cakrawala terbuka. Semburat keperakan mulai tergores samar di antara sisa-sisa awan tipis yang masih bertahan, berkolaborasi dengan Gunung Sindoro yang sukses menyajikan pertunjukkan alam terbaik bagi kami. Gue berhenti sejenak, menikmati pemandangan yang baru pertama kali ini gue saksikan seumur hidup gue. Gue menghembuskan nafas panjang, puas.

Kami lalu melanjutkan langkah kaki kecil kami menuju puncak Prau, sementara Gunung Sindoro dengan gagah terus mengawasi perjalanan kami dari kejauhan dan Gunung Sumbing yang mengintip malu-malu dari belakang. Kami melalui jalur yang ditumbuhi dengan bunga-bungaan, semakin menambah semangat dalam kegiatan pendakian ini. Semakin lama, jantung gue pun mulai terbiasa, sudah berdetak dengan lebih tenang dan stabil meski rasa pegal mulai menggelayuti kaki ini.

Breathtaking view! Foto: bang Firman

Breathtaking view! Foto: bang Firman

Gagal berpose ganteng

Gagal berpose ganteng

with Fanny <3

with Fanny ❤

Akhirnya, setelah kurang lebih berjalan selama empat atau lima jam, kami sampai di puncak Gunung Prau, berada pada ketinggian 2.565 mdpl. Rasa sukacita itu tak bisa terbendung lagi, menghambur keluar dalam wujud seuntai senyum penuh kepuasan, nafas panjang penuh kelegaan, atau mata yang menatap langit dengan penuh keharuan. Tenda-tenda sudah didirikan oleh rombongan-rombongan pendaki yang sudah lebih dulu sampai, menempati bukit-bukit landai berumput yang mengingatkan gue dengan serial anak Teletubbies. Nggak salah deh kalau puncak Prau ini juga disebut Bukit Teletubbies 🙂

Namanya memang mungkin tidak setenar dengan nama Merapi, Merbabu, Papandayan, Rinjani, atau Kerinci. Namun, Prau layak kamu tambahkan ke dalam daftar gunung-gunung cantik di Indonesia. Dari puncaknya, terbentang sebuah pemandangan elok Gunung Sindoro, Sumbing, Telaga Warna, dan hamparan lahan persawahan yang hijau memukau. Ada sebuah keindahan syahdu yang tersimpan di atas puncak Prau, menunggu siapa yang mau datang bertamu…

11 thoughts on “Keindahan Syahdu di Puncak Prau

  1. Ceritanya jadi bersambung ini? Kalian juga bermalam di puncak bareng pendaki-pendaki yang lain? Saya menanti cerita matahari terbitnya karena matahari terbenamnya gagal dilihat, hehehe.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s