Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 1]

Sebenernya, gue sempat merasa ragu dengan pendakian ke Merbabu ini. Am I gonna make it?

Pertama, bulan April adalah bulan tersibuk selama gue bekerja. Kelar kerja kantoran jam 8 pagi sampai jam 5 sore, langsung kerja freelance lagi di kost sampai tengah malam. Sabtu Minggu pun gue tetep sibuk dengan kerjaan freelance. Kalau udah sibuk begini, gue jadi males dan suka menunda-nunda pekerjaan lain. Akhirnya gue kehabisan tiket kereta, dan baru memesan tiket bus Bandung – Yogyakarta pada dua hari sebelum keberangkatan. Puji Tuhan banget masih ada satu kursi buat gue!

Kedua, Merbabu tergolong gunung tinggi, menjulang hingga lebih dari 3.100 mdpl. Sejauh ini, gue baru mendaki Gunung Prau yang masih di kisaran 2.000-an mdpl. Itu pun udah setahun yang lalu. Sempat sedikit was-was dengan kondisi fisik yang nggak bakal cukup prima untuk menyelesaikan pendakian. Apalagi, kami mendapat kabar bahwa kawasan Jogja dan Jawa Tengah diguyur hujan deras beberapa hari belakangan. Nggak kebayang deh, naik gunung dalam kondisi hujan lebat. Dingin, basah, dan rempong jadi satu.

Onion Head Emoticons 21

Ketiga (duileh, banyak banget alesannya), perlengkapan mendaki gunung gue belum sempurna. Nggak punya sleeping bag, matras, head-lamp, dan sendal gunung. Ada sih sleeping bag, tapi ketinggalan di kontrakan lama dan gue udah males ngubek-ngubek ke sana. Ada sih sendal gunung, tapi sudah koyak dua-duanya. Coba cari persewaan perlengkapan gunung di Bandung, hasilnya: ada yang udah habis, ada yang masih tersedia tapi nggak bisa nganter barangnya ke kantor gue (gue bener-bener udah nggak ada waktu sampai nggak sempet ambil barangnya sendiri di tempat persewaan).

Yes, I finally made it!

Yes, I finally made it! – Mendaftar di Basecamp Wekas, Gunung Merbabu.

Akhirnya, di hari keberangkatan, gue mengontak beberapa tempat persewaan perlengkapan gunung di Jogja. Oke, semua barang yang gue perlukan masih tersedia, tapi harus gue ambil sendiri di tempat persewaan. Baiklah, setibanya gue di Jogja nanti, gue harus diributkan dulu dengan urusan sewa menyewa perlengkapan gunung.

Itu juga kalau gue nggak ketinggalan bus.

Iya, ini kekhawatiran keempat, gue takut nggak akan punya cukup waktu untuk sampai di pool bus Bandung Express tepat waktu. Kalau udah gitu, gue cuma bisa pasrah, menerima bahwa Dia belum berkehendak membawa gue ke puncak Merbabu.

Akhirnya, pada hari Kamis tanggal 30 April 2015 sore itu, gue mendapatkan izin untuk pulang setengah jam lebih awal. Gue harus jalan kaki sekitar 20 menitan dari kantor menuju kost di kawasan Babakan Jeruk. Kebetulan lagi nggak ada yang bisa gue tebengi, jadi harus mau jalan kaki cepet-cepet. Di tengah jalan pun, gue masih harus sedikit melipir ke tempat jual beras, ambil duit di ATM, ambil backpack di tempat laundry, dan belanja makanan di minimarket. Bah!

Onion Head Emoticons 10

Sampai di kost, gue leyeh-leyeh dulu selama beberapa menit, sampai bulir-bulir keringat menguap ke udara dan kulit sudah cukup kering untuk diguyur dengan air. Eh, tapi akhirnya gue memutuskan untuk nggak mandi. Waktu udah mepet, gue menjejalkan barang-barang ke dalam backpack secepat mungkin!

Berbincang dengan Hanny, salah satu rekan pendakian di Basecamp Wekas.

Berbincang dengan Hanny, salah satu rekan pendakian di Basecamp Wekas.

Nyaris pukul  6 petang, gue gelendotan di dalam angkot St.Hall – Gunung Batu menuju pool bus Bandung Express di kawasan Jalan dr. Tjipto. Sempet stress di tengah jalan karena macetnya Simpang Pasteur yang nggak kelar-kelar. Sekitar pukul setengah tujuh, gue sampai di tempat tujuan, just in time karena bus akan berangkat saat itu juga!

Masuk ke dalam, gue cuma bisa duduk menghela nafas di sudut bus, di atas kursi nomor 28. Terima kasih, Tuhan. Gue bisa berangkat juga ke Merbabu, meski belum memesan tiket balik. #pffft #santaibingit

 

Jumat, 1 Mei 2015

Pukul 7 pagi, gue sampai di Jogja disambut dengan cuaca yang cukup cerah. Mudah-mudahan cuaca di Merbabu nanti juga terus cerah selama pendakian. Lalu, biar nggak bertele-tele, ada baiknya gue ceritakan secara singkat apa yang terjadi kemudian dalam poin-poin berikut. #halah

  • Turun dari bus Bandung Express, jalan kaki menuju shelter TransJogja di Jl. Tentara Pelajar. Naik TransJogja, turun di Pojok Benteng Wetan, lalu sambung bus kota Jalur 15 menuju tempat persewaan alat gunung di Jl. Mangkuyudan.
  • Mondar-mandir di Jl. Mangkuyudan nyari-nyari tempat persewaan.
  • Ketemu! Own Adventure. Sewa matras, head-lamp, dan sleeping bag hingga 3 Mei dengan harga Rp 17.000,00 + jaminan kartu identitas.
  • Nunggu bus Jalur 15 tapi nggak dateng-dateng, akhirnya memilih naik becak. Pas udah naik becak, dua bus Jalur 15 lewat secara beriringan. Nyesek! Onion Head Emoticons 26
  • Tiba di Jl. Malioboro, langsung cari tempat yang jual sendal gunung, jas hujan, dan baterei untuk head-lamp. Kebayang ya, repotnya menembus keramaian Malioboro saat long weekend dengan backpack segaban dan matras yang melintang di atasnya.
  • Eh, ada buruh demo di sepanjang Jl. Malioboro laaahhh!!! Nggak ada bus yang bisa lewat, harus ngojek ke shelter TransJogja di Jl. K.H. Ahmad Dahlan.
  • Sampai di Terminal Jombor, langsung naik bus jurusan Jogja – Semarang. Tarif sampai ke Magelang adalah Rp 12.000,00.
  • Turun di Terminal Magelang, lalu buru-buru makan siang, dan akhirnya naik bus kecil jurusan Kopeng (Rp 8.000,00) bersama sekumpulan calon pendaki Merbabu lainnya.

Oke, sampai di sini, can you feel my adrenaline? Bahkan saat gue menuliskannya sekarang, jantung gue kembali berpacu mengingat momen-momen perjuangan tersebut.

Sudah lewat dari jam 1 siang saat gue sampai di depan gapura Wekas. Aji sudah menunggu di depan gapura, nongkrong dan cengar-cengir menyambut kedatangan gue yang sudah sangat terlambat! Tadinya, kami berencana berangkat bareng dari Jogja, tapi karena ada hal-hal yang harus gue selesaikan, akhirnya dia memilih untuk berangkat lebih dulu.

Dari gapura Wekas, kami ngojek menuju Basecamp Wekas dengan ongkos Rp 25.000,00. Jaraknya cukup jauh, sepeda motor harus melalui medan yang menanjak curam dan berliku tajam dengan mesin yang meraung-raung kepayahan. Teman-teman kami yang lain sudah berangkat lebih dulu dengan menyewa angkot, bahkan kabarnya sudah memulai pendakian.

Duh… maapin, guys. Tapi, gue bisa sampai dan bergabung dengan kalian juga udah mukjizat!

Resmi memulai pendakian menuju Puncak Merbabu.

Resmi memulai pendakian menuju Puncak Merbabu.

Tiba di basecamp, gue dan Aji bertemu dengan 3 anggota pendakian lain yang masih menunggu kami. Lalu, setelah beberapa menit bergumul dalam perbincangan ringan, kami pun bergerak menuju pos pendaftaran (Rp 11.500,00) dan resmi memulai pendakian menuju Puncak Merbabu.

 

Bersambung~

Fotografer: Arifin Aji Pamungkas

29 thoughts on “Perjuangan Haru Menuju Merbabu [Bagian 1]

  1. Fiuh, what a rush! Saya membayangkan bagaimana jejalan isi tasmu, Mas :hehe. Tapi berasa banget dah adrenalinnya, semua perjuangan supaya bisa kumpul dengan teman-teman terus jalan bareng menuju puncak :)). Keren banget.
    Jadi kepingin jalan juga ke suatu tempat, cuma mesti cari temannya dulu :hoho.

Like atau komentar dulu, kak. Baca tanpa komentar itu kayak ngasih harapan semu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s